Cepy Break


Kapsul Jeda

10 December 2017

Jatuh, Bangun, Coba Lagi


Siapa yang ragukan kemajuan teknologi saat ini? Zaman now rasanya agak naif apabila melakukan aktivitas tanpa bersinggungan dengan teknologi. Bayar listrik, ngapain harus mengantre di loket pembayaran bersirkulasi asap rokok, dan sepulang bayar listrik kita selalu curiga kalau-kalau si petugas loket merekayasa data lantaran ongkos listrik bulan tersebut tiba-tiba mahal.

Sekarang, seribet-ribetnya membayar listrik adalah cukup melipir ke gerai minimarket atau ATM, memanfaatkan jaringan yang terhubung dengan pusat data milik PLN, kapan saja, di mana saja. Cara yang sama dapat dilakukan saat mengisi pulsa atau paket data internet. Malahan sekarang, beli paket data internet bisa beli di toko online melalui jaringan internet.

Urusan perut pun, saat datang waktu makan, kita tak usah memasak sendiri, bahkan tidak perlu panas-panasan beli makanan ke luar. Cukup aktifkan GPS di hape kita (atau malah setelan GPS kamu selalu disetel always on), buka aplikasi kurir makanan yang secara otomatis melacak destinasi pemuas lapar terdekat dari lokasi kita leyeh-leyeh kelaparan.

Andai ada penyedia makanan bermenu sama beberapa, kita bebas membandingkan dan memilih yang menurut kita paling sesuai dalam segi rasa, harga, penampilan. Kini pelanggan betul-betul diperlakukan sebagai raja: Raja Paling Malas Sedunia.

Pernah kepikiran perilaku ini bakal menimbulkan efek samping beberapa tahun lagi?

Kerja keras mungkin nanti dianggap sebagai lelucon; sebuah kegiatan tidak efektif yang sia-sia. Menghafal adalah keahlian yang dianggap bodoh, sebab apabila lupa sesuatu hal, tinggal me-recall melalui mesin pencari. Anak-anak zaman future sontak kebingungan ketika mengetahui bahwa menunggu adalah sebuah kegiatan. "Ngapain nunggu? Yang lebih cepet banyak!" katanya.

Apakah perilaku gak mau nunggu lama ini yang bikin penemuan-penemuan terkini impact-nya tidak sesignifikan era Renaissance atau revolusi industri? Era ketika seorang saintis melakukan riset, benaran fokus sama yang ia teliti. Mereka fokus sama kemampuan dirinya sendiri sebab referensi belum terlalu melimpah, dan cara memperolehnya pun ribet, gak bisa di-googling atau menonton tutorialnya di Youtube. Eksplorasi kemampuan diri mereka lakukan sepenuh hati. Maka saya gak heran menyaksikan penemuan pada era itu dibilang sebagai karya orisinal yang belum pernah ada.

Cara kerja mereka simpel. Kalau salah, perbaiki, coba lagi. Kalau jatuh, bangun lagi, coba lagi. Sampai pada satu titik progres penemuan mereka berhasil setelah ribuan kali mencoba. Taktis. Gak pake ribet.

Keberlimpahan informasi dan referensi yang makin silau lumayan bikin kita insecure sama kemampuan diri sendiri. Belum-belum dilakukan, baru dalam bentuk rencana, sudah dibantah dan didaulat sebagai sesuatu yang ngaco, mustahil dilanjutkan. Seolah-olah, yang menurut teori begitu, maka semuanya harus begitu, hasilnya mesti begitu.

Ya, buku memang jendela dunia. Tapi dunianya siapa? Dunia penulisnya? Belum tentu mewakili sudut pandang penduduk dunia secara keseluruhan. Sisi lain dari sudut dunia itulah justru yang perlu untuk digali, bukan cuma terus-menerus menggali lubang yang sudah telanjur dalam, padahal kita belum tentu membutuhkan lubang sedalam itu.

Mengapa begitu mudah mematahkan mimpi seseorang? Karena takut. Mereka takut. Kita semua takut. Takut jatuh, tidak bisa bangun lagi. Takut saat bangun, mendadak jatuh lagi. Takut setelah kembali mencoba, jatuh lagi dan tidak bangun-bangun.

Padahal, siapa yang menjamin bahwa kita hidup saat ini benar-benar bangun? Yakin kamu benaran bangun? Kalau kita kerap bersepakat bahwa dunia ini fana terutama saat datang kecewa, ya sudah, kenapa takut gak bisa bangun lagi? Mainkan.[]

30 November 2017

Tidak Ada Artikel November Ini

Dari awal sampai akhir, serasa tiada akhir. Semoga Desember berakhir, menutup tahun dengan lembut. Dan ya, ini memang bukan artikel, kan? Buat apa bikin kalimat pengujung bagus-bagus.[]

31 October 2017

Ngulik 4: Ramai-ramai Memuji yang Biasanya Bikin Kita Jemu


Secara keseluruhan, iklan harus simpel dan clear supaya mudah dibaca kerumunan yang lewat dalam waktu tidak lama. Bahasa iklan harus padat, ringkas, namun meaningful agar mudah dicerna. Tampak visual harus memikat pandang, mengikuti tren sekarang, misal mengadopsi style flat dengan proyeksi itu atau efek-efek kuas cat air atau cat tumpah, dengan sedikit gradasi cahaya. Apakah benar?

Bagi Gojek, belum tentu, bahkan mungkin tidak benar. Buktinya, beberapa hari lalu mereka tidak mesti berepot-repot mendandani reklame vertikal Gojek di kawasan Kuningan dengan sangat menor demi memancing calon pelanggan, mempertahankan pelanggan setia. Cukup berkanvas putih polos, bersenjatakan mungkin sekitar 200 kata yang merangkai paragraf konten iklan mereka. Sekilas tampak sama seperti pekerjaan rumah anak SMP yang baru pertama kali mencetak tugas ikhtisar pada sehelai kertas HVS sendiri.

Bersenjatakan 200-300 kata, apakah menurut Anda iklan Gojek terbaru ini terlalu berlarat-larat, menjemukan, sudah meleset dari teori marketing? Sila baca dengan santai, lantaran menurut saya bahasanya enak sekali dibaca, copy ini lebih mirip curhatan anak SMA yang berandai-andai Jakarta berkondisi terbalik, meski sudut pandang orang kedua ini (kamu) lebih cenderung tertambat kepada young adult yang baru punya anak berusia sekitar 3-4 tahun.


Perusahaan rintisan transportasi dan logistik tersebut dengan lancangnya memajang reklame yang berkesan polos tanpa make-up di kawasan strategis; strategis dalam segi lokasi dan harga pemasangan yang tinggi. Menurut Chief Marketing Officer Gojek, Piotr Jakubowski, hal ini selain untuk menghibur pengendara yang telanjur jengah bermacet-macet tiap hari, pun bertujuan guna mengetes apakah memang pamor sarana promosi fisik sudah melamur sehingga pada era saat ini untuk mengkreasi ads yang efektif dan efisien hanya mungkin berhasil disebarkan melalui media digital?

Sambutan khalayak ternyata positif. Dari mulut ke mulut, bahkan dari jempol ke jempol melalui gawai masing-masing, media cetak berupa reklame fisik itu malah secara cuma-cuma didigitalisasikan oleh para netizen melalui share demi share melalui grup Whatsapp maupun aneka media sosial. Ya, sasaran Piotr melampaui target; ia telah menciptakan iklan media cetak sekaligus media daring, namun sekadar keluar ongkos untuk melansir di media cetak saja! Tercapailah semuanya: efektif, efisien, dan keren di mata netizen dan citizen! Lantas apa lagi yang perlu diperdebatkan?

Ada, rupanya. Segelintir warganet mengatakan bahwa Gojek menyontek iklan di luar negeri yang menggunakan cara serupa dalam mempromosikan produk mereka. Seperti biasa, netizen selalu bersikap politically correct. Apakah meniru sebuah cara adalah salah? Padahal netizen tersebut berkoar-koar dimediai oleh HP Xiaomi yang 90% menjiplak iPhone luar dalam, dan laptop mereka masih pakai Windows bajakan. Seharusnya mereka bermediasosial menggunakan pisang saja yang terang-terang pure orisinal ciptaan Tuhan tanpa campur tangan riset & marketing, kalau mereka ingin konsisten sebagai pemuja keaslian.

Jadi, menurut saya, sangat tidak penting kalaupun Gojek menjiplak atau sebatas terinspirasi dari karya iklan lain. Apabila sasaran atau objektif tim Marketing Gojek tepat bahkan melampaui target, maka tugas mereka sudah selesai. Selanjutnya, kembali berkreasi. Good job!

Namun demikian, metode advertising anti-teori semacam ini sebaiknya tidak usahlah menjadi tren. Saya tidak akan sanggup membaca iklan Meikarta dengan copy sepanjang ini dipasang di Cirebon, atau sepanjang jalan raya lintas Jawa, kalaupun dipaksakan nanti diklaksonin terus diserempet bus Luragung lantaran melaju lambat-lambat. Anda ingin pindah ke Meikarta? Mari kembali ke kenyataan. Makin pusing keingetan cicilan-cicilan? Asikin aja.[]

13 October 2017

Ngulik 3: Candu Menyapu Beranda Maya

Beberapa hari lalu istri ngasih tahu ada iklan baru di Net TV. Saya pikir iklan baru yang ia sebut masih seputar acara-acara Net seperti biasa, sebab memang sedikit produk yang berani beriklan di stasiun televisi macam Net yang segmentasinya niche banget. Setelah saya tonton, ternyata semacam iklan layanan masyarakat. Tapi, namanya Net, tentu mereka tidak mengelaborasi iklan gerakan moral semembosankan bikinan instansi-instansi pemerintah. Iklannya bagus.


Berdurasi satu menit, iklan tersebut secara mangkus mengajak kita untuk mengisi waktu lebih bijak. Agar kepala tidak melulu menunduki sabak bercahaya. Agar kerja jempol tidak cuma scroll-scroll. Mengajak kita agar mulai berkarya, bukan terus-terusan membaca-menyimak-menonton yang fana.

Saya sendiri masih belum mengerti mengapa kita semua harus terhubung sedekat ini. Lapisan sosial A mau tidak mau harus terhubung dengan aneka ragam strata, yang sebelumnya tersekati oleh terbatasnya kepemilikan alat atau media komunikasi karena harganya belum memungkinkan dikonsumsi sebagai kebutuhan primer. Saat ini, alat komunikasi sangat murah, kian murah, secara demografis sudah dapat dijangkau segala kalangan sebagai kebutuhan pokok. Dan fitur yang menjadi alasan kuat kita membeli smartphone adalah aplikasi media sosial.

Meski punya banyak dampak positif, akibat socmed yang seolah selalu menampilkan keindahan dan kesempurnaan adalah kewajiban, semua orang jadi insecure, susah banget untuk bersyukur. Bertemu teman-teman lama yang sebelumnya adalah kebahagiaan, kini setelah tersedia beranda maya, malah jadi sebel karena merasa hidup kita tidak sebahagia mereka. Sanak keluarga makin leluasa untuk pamer pencapaian diri maupun anaknya berkat mudahnya menyebar pesan di grup Whatsapp keluarga. Semua merasa punya panggung; tapi semua tidak punya penonton, hanya ingin ditonton.

Remaja desa yang orangtuanya seorang petani, setelah "tercerahkan" oleh unggahan-unggahan di aneka kanal media sosial idolanya, jadi makin enggan untuk meneruskan profesi si ayah. Dia malah kepengen jadi influencer lantaran tergiur penghasilan ratusan juta cukup dengan ngetwit atau mengunggah video pendek di instagram. Tidak seperti ayah atau kakeknya yang hidupnya habis di sawah, berpayah-payah dari pagi sampai petang dibakar matahari sesehari, hasil panen setahun hanya sebanding dengan Raisa ngetwit sekali plus satu foto selfie dengan produk yang dia endorse.

Berkat kemajuan teknologi, gap informasi semakin tipis, namun demikian gap kemakmuran justru makin tebel karena persaingan bisnis yang gila-gilaan gara-gara... lagi-lagi teknologi. Kepengen ini. Kepengen itu. Pengen jadi ini. Pengen jadi itu. Padahal kita sama dia itu jauh beda nasibnya. Tapi karena otak kita terpapar arus informasi terlalu deras, jadi gak fokus sebenarnya kita mau ngapain... apa sih yang sungguh-sungguh kita butuhkan. Otak terlalu cepat mengolah keinginan demi keinginan, dan tubuh kita tidak kuasa mengkonversinya menjadi output, yah, katakanlah karya.

Semua angan hanya berbuah angan, bahkan menguap dan tergantikan oleh angan-angan yang baru, persis seperti recent updates atau instastories yang dalam kurun waktu 24 jam secara otomatis terhapus. Dan update-an instastories kecil kemungkinan dinominasikan di Piala Citra atau Oscar, jadi saya tidak menganggap itu sebagai karya yang dapat diapresiasi. Entahlah nanti kalau generasi ini sudah dewasa dan jadi decision maker nanti, mungkin bersocmed malah jadi kewajiban tiap-tiap warga negara dan terdapat sanksi apabila dilanggar.

Net TV mungkin berusaha menjelaskan kepada warganet, cukup bayangkan membuka beranda media sosialmu seperti membuang hajat; sebentar saja, tak usah berlama-lama, dan kalau sudah selesai, jangan lupa cebok.[]

30 September 2017

Kenapa Nikah Dibikin Susah?


Karena kalau semudah update instastories pake efek boomerang, pasti pada kepengin lagi dan lagi.

*

Gak kerasa, besok udah genap seminggu saya gak tinggal sendiri di rumah. Rumah yang sebelumnya sepi, suara yang biasa menemani saya cuma dengkuran kulkas sesekali, atau alarm meteran listrik rumah tetangga yang lama tak ditinggali. Serasa mimpi sepulang kerja, nyala lampu dan meja makan yang sebelumnya kosong sudah menyambut. Siapa lagi yang menyambut? Tentu saja dia.

Mulai awal September, enggak tahu kenapa, aktivitas malah makin padet, malem-malem di rumah masih aja mantengin kerjaan. Sabtu dan Minggu berasa hari biasa. Boro-boro sempet olahraga, yang ada makan makin banyak. Mungkin godaan menjelang hari pernikahan. Kata temen-temen dan kakak-kakak sih, wajah saya saat di pelaminan tampak lelah, diarahkan pose senyum sama tukang foto pun susah. Ya, bener sih, capek. Capeknya serasa diakumulasi dan puncaknya hari itu. Capek tapi seneng. Banget.

Seperti yang sudah saya duga, sampai akhir September masih padet aja. Kasihan sebenernya sama dia, gak bisa ngajak dia bervakansi beberapa hari ke luar kota, apa lagi menginap berdua ke luar pulau perawan. Kita langsung berkegiatan normal gitu aja tanpa bersantai-santai dan bersenang-senang berdua, sejenak lari dari riuh rutinitas. Tapi yah, mungkin beginilah realitas.

Sebelumnya saya gak berharap apa-apa darinya, sebab saya merasa, dia adalah harapan saya seutuhnya. Tapi, hari pertama aja, dia udah nyempetin masak. Enak pula. Oke, mungkin ini karena hari pertama, pikir saya. Tapi besoknya dia masak lagi yang rasanya lebih enak. Besoknya lagi dan lagi, entahlah, bagaimana nasib perut saya tiga bulan ke depan.

Apakah itu saja? Terlalu banyak dan saya tidak mampu menuliskannya di sini satu per satu.

Tidak tahu, siapa yang merasa paling beruntung menjadi kita, saya atau dia. Saya. Ya, tentu saya.[]

08 September 2017

Maklumat


You got a fast car
Is it fast enough so we can fly away?
We gotta make a decision
Leave tonight or live and die this way

—Tracy Chapman

Semingguan lagi saya akan menikah.

Pikiran dan perasaan saya diaduk-aduk persiapan pernikahan, kerjaan, presentasi, masuk kuliah (kuliah lagi dan lagi dan lagi), berat badan. Yang satu barusan mesti saya bold. Saya makin gendut. Pararusing lah aing, rarungsing. Rasanya, ngaca aja tengsin. Apalagi kalau tampak samping dan baju dimasukin.

Gendut adalah topik abadi di blog ini, dan mungkin gendut adalah alasan saya menulis. Kalau saya gak gendut tentu saja saya lebih milih jadi mojang jajaka. Lagi pula, saya rasa berat badan adalah topik yang seharusnya menjadi pop di Indonesia, seviral meme pernikahan Raisa. Udah makin banyak kok orang-orang gendut di sini, sebanyak yang patah hati kemarin.

Baiklah, kita bahas dulu tentang berat badan. Akhir-akhir ini berat badan saya gampang naik dan gampang turun. Seperti yoyo. Mungkin karena saya gak konsisten dan banyak alasan. Start diet ini, stop, start diet metode itu, sakit, stop, coba-coba puasa sekalian diet, makannya jadi kalap, tapi enggak stop sih kalau yang satu ini.

Olahraga makin jarang lantaran bangun pagi telat mulu, maklumlah sering bergadang. Ini juga kayaknya yang bikin siklus keseharian kacau padahal tahun lalu udah lumayan teratur. Bergadang juga sebenernya gak jelas berbuat apa. Cuma tiduran di sofa sambil nonton tv, eh tau-tau udah setengah satu, dan besok harus bangun pagi. Boro-boro baca buku Murakami lagi. Gak produktif sama sekali.

Efeknya saya makin gampang capek. Jalan dikit, keringetan dan kesemutan. Nyetandarin motor, narik napas dan benerin kuda-kuda dulu. Sekalinya jogging satu jam, engkel kiri keseleo. Nunggu engkel sembuh seminggu, ternyata berat badan naik dua kali lipat dari turunnya. Mau jadi apalah.

Gak bakal habis-habis ngomongin itu. Kembali ke maklumat awal.

Sebenernya masih percaya gak percaya bakal punya istri tahun ini. Seperti mimpi saja minggu depan bakal nikah. Nikah sama seseorang yang sejak lima tahun lalu ketemu di kolom komentar blog ini. Seseorang yang waktu itu diam-diam saya segani dan merasa mustahil akan dan dapat bersamanya. Seperti sebuah kebetulan tapi saya percaya ini adalah sebuah suratan (dengan sedikit kenekatan hehe).

Yang pasti, saya harus belajar segalanya sih. Sampai kapan, entahlah, katanya sih sampai tua pun kita harus terus belajar dari apa yang terjadi dahulu, kemarin, sekarang, dan nanti. Katanya juga sih, orang-orang di sekitar kita mencontohkan hal-hal baik dan hal-hal buruk, semata sebagai cermin buat kita. Memang dan pasti tidak mudah. Kalau sendiri-sendiri pasti berat, harus berdua. Saya yakin nanti kita masih bisa menikmati indahnya bulan purnama berdua, meskipun pada akhir bulan. Sambil berdoa kelak bulan hanya berawal dan tidak berakhir. Seperti kita?[]

22 August 2017

Bet and Get


Apa yang terjadi setelah 26 tahun? Terlewatkan begitu saja bersama pekerjaan sampai pukul tiga pagi. Mungkin ini yang namanya dewasa, atau ya pasti kamu lebih suka mengatakannya tua. Ah, tapi memang dari dulu juga begitu-begitu juga sih. Apa yang perlu saya gelisahkan dengan ulang tahun tanpa perayaan. Saat ini, yang pantas dirayakan cuma keheningan.

Memasuki pertengahan tahun, menengok diri saya sekarang, seperti mendengarkan kembali rapalan doa-doa yang dahulu sempat saya panjatkan kepada Yang Maha Baik. Saya sangat bersyukur dapat melewati masa-masa sulit, meskipun tentu tidak mudah. Tanpa pernah demikian, mungkin saya tidak dapat mengetahui kekuatan saya, apa yang dapat dan tidak mungkin saya kerjakan, apa-apa saja yang mustahil saya angankan. Dan baru tersadar, kekuatan saya cuma satu: nekat. Bet and get.

Semula saya terlalu meyakini bahwa kerja keras bakal telurkan hasil maksimal. Tapi ternyata dikerjakan sampai botak pun, kalau memang kita tidak punya "rasa" di situ dan ditambah dengan takdir yang tak berkehendak, hasilnya nol. Bahkan minus, seminus-minusnya. Menyenangkan apabila sejak awal kita sudah tahu kekuatan masing-masing, tetapi itu mustahil. Gagal berkali-kali adalah subjek kuliah abadi.

Kini saya lebih percaya, hidup adalah bertaruh. Mulai dari memilih sekolah di mana (ini ternyata lumayan ngefek banyak sama masa depan), melamar kerja ke perusahaan mana, melamar cinta ke siapa. Fase demi fase, saya bagai memasang taruhan yang menurut saya paling cocok, menguntungkan atau tidak itu bagi saya sih relatif. Takkan lagi kecewa apabila meleset, sebab sudah menyadari bahwa itu sudah kehendak terbaik-Nya, dan tidak terlalu bahagia apabila tembus lantaran bisa jadi hal demikian sewujud jebakan-Nya dalam bentuk ujian. Kenyamanan belum tentu aman.

Seseorang, ada yang masih memercayai bahwa pedoman hidup nomor satu adalah planning. Katanya, segala hal harus direncanakan agar jangan sampai kapal kita karam. Ah, saya pikir, planning adalah sebuah keharusan dan dilakukan setiap hari, serutin makan, minum, mandi. Kita harusnya sudah melampaui itu. Beyond limit. Seperti menyanyi, apabila seseorang ingin jadi penyanyi hebat, tidak cukup dengan berbekal suara merdu saja. Nah, saya pikir, si pemuja rencana masihlah setara dengan penyanyi yang sekadar suaranya bagus. Enak didengar, tapi tak menyampaikan insight dan manfaat apa-apa.

Bagi saya, consciousness melampaui planning; hal yang sering orang-orang sembah itu. Tetapi memang, bertaruh secara sadar mengharuskan kita konsekuen terhadap segala hal yang terjadi kelak. Komit dengan taruhan-taruhan yang kita pasang, tak usah menggerutu kalau tak sesuai angan. Siapa yang tahu kalau para penjudi-penjudi itu justru lebih mengimani Tuhannya sebab lebih memasrahkan hartanya daripada kita yang akhir-akhir ini semakin percaya dengan nominal-nominal investasi dapat abadi dimiliki?

26 tahun, jika saya seorang atlet sepakbola (atau atlet olahraga apa pun), nilai jual saya di bursa transfer dapat melonjak tajam sebab mulai menemukan kematangan, setidaknya sampai usia 30, atau justru merosot perlahan akibat terlena dengan kenyamanan personal. Entahlah, saya tak sanggup memposisikan saya di mana, yang pasti saya masih ingin menghabiskan jatah gagal.

Apakah bet and get adalah tagline yang cenderung berkesan optimis? Jika kamu masih mengartikannya begitu, mungkin tempat main kamu kurang jauh. Atau kamu adalah fresh graduate yang langsung dapet kerjaan enak tanpa pernah merasakan kartu ATM ditelan mesin dan gorengan adalah menu makan besar kamu sesehari. Kamu gak perlu lah baca tulisan di atas. Instastories kamu telat update tuh.[]

Photo credit: Utku Yaman