Cepy Break


When you need to take a break

13 July 2016

Terlalu


Saat rindukan perantauan. Sebab tertakdir kembali ke kampung halaman. Tempat yang bukan hasratmu. Tidak seperti beberapa orang yang kau kenal; sekawanan sakadang kuya batok, yang enggan meninggalkan. Semenjak belia, justru kau ingin melepaskan diri, lekas pergi jauh dari kota ini. Ke mana saja. Asal bukan di sini. Cuma berhasil lebih dari enam tahun. Kemudian gelap. Sekarang, kota inilah lentera kepekatan nasibmu yang semakin lamur. Seret kau ke sini pelan-pelan. Bantu kau tata kembali harapan, titi kehidupan. Semua harus terjadi, sudah terjadi, terjadilah.

Kau mengenali kota lain lebih intim daripada kota ini. Mungkin kota mungil dan sempit lebih cocok denganmu yang payah menghafal jalan, apa lagi menghafal rumus cacing-cacing. Kota kelahiranmu terlalu sarat puja-puji. Sehingga terlalu banyak mengundang turis pemadat akhir pekan yang menyebalkan dan melelahkan. Terlalu luas. Terlalu nyaman. Terlalu ideal. Terlalu tenang. Terlalu santai. Jauh dari naluri yang menggebu. Mimpi yang tinggi. Harapan dalam. Visi melebar. Mungkin ini yang empaskanmu berada di sini. Bukan di sana.

Harapmu dahulu, kepakkan sayap selebar-lebarnya di sana. Terbang bebas seingin anganmu. Sungutmu penabur subur. Tubuhmu pamerkan pola warna indah penawan mata sesiapa memandang. Sayangnya, kau gagal jadi kupu-kupu. Tersuruk krisis anarkis. Kau tak mampu kembali jadi kepompong. Sekalipun kembali jadi ulat. Sekarang kau hanya dapat berusaha menjadi apa saja. Dan ternyata lebih sulit menjadi diri sendiri.

Kau rindukan segenap kebebalan. Jalan bolong-bolong perusak ban, pemakmur Si Lae tambal ban. Seribu angkot dengan seribu manuver. Jalan gersang tersaput polusi debu pabrik semen. Ruwet kemacetan senjakala. Hujan lebat berhias blitz semesta, biasa memotretmu yang sedang sendirian dalam gulita padam listrik di rumah yang bocor. Tumpukan buku-buku yang terlalu berat kau bawa ke sini. Seberat berat badanmu. Seberat kenangan. Yang selalu hadir setiap senja bersama layung jingga. Tanpa tata krama.

Langit Bandung sore ini terlalu mendung. Jalanan sore ini terlalu basah. Tak usahlah matamu ikut-ikutan. Semua kenangan harus berlalu. Lupakan yang terlalu.[]

Photo credit: Tinou Bao

06 July 2016

Senandika Kembali


Semula, saya berangan lebih baik lebaran tahun ini dianulir saja. Selain lantaran pada awal Ramadan saya masih pengangguran selepas enam bulan, yang tentu akan menjadi jawaban terburuk dari pertanyaan menyebalkan, namun alhamdulillah sekarang sudah bekerja apa saja yang mampu dikerjakan, sehingga harapan saya untuk hidup kembali meremang setelah sebelumnya segelap, sepengap lorong kamp konsentrasi. Sebagaimana impian, lebaran pun bukan lagi termaknai sebagai hari raya agung yang kudus dirayakan. Telah mewujud ritual yang melelahkan. Bukan pembuktian iman, melainkan pameran pencapaian.

Mulai dari puasa. Belum pernah saya dengar ayat Al Quran yang mewajibkan ibadah puasa untuk segenap umat Islam. Apa lagi memaksa kepada penganut agama selain Islam supaya ikut-ikutan tak sarapan nasi uduk pagi-pagi dan santap nasi Padang pada siang hari. Telah jelas, puasa diwajibkan bagi orang-orang yang beriman. Supaya kelak bertakwa. Puasa adalah ibadah paling sederhana yang risiko riyanya paling rendah, kecuali masih memaknai wangi kasturi bau mulut secara harfiah kemudian menebarkannya pada hidung sesama. Sehingga peluang utuhnya pahala sedikit lebih besar dari ibadah lain yang kasat mata. Tanpa harus repot-repot gordeni warteg-warteg. Cukup menjaga hati.

Namun di negeri ini lain. Orang-orang yang tidak beriman disuruh untuk menghormati orang-orang yang (merasa) beriman. Mau berharap apa kepada orang tak beriman? Mereka masih dikasih hidup sama Allah pun syukur. Hidup mereka sudah kepalang sulit, setidaknya sulit dalam takaran amal baik. Tak usah kita perberat dosa mereka dengan menuntut mereka hormati ibadah kita. Baiknya, berpuasalah dalam hening, meski kehidupan semakin jauh dari ketenangan, demi mantapnya keimanan.

Karena rumah kami dekat dengan pasar, sejak kecil saya sudah biasa melihat pedagang-pedagang merokok bahkan dengan nikmatnya menyeruput kuah kupat tahu Padalarang pada siang bolong, padahal pikir saya dulu, semua orang dewasa pasti berpuasa, di mana pada kelas satu SD kala itu saya sedang belajar berpuasa penuh, namun ternyata orang dewasa yang kerjaannya suka menasihati supaya anaknya soleh dan sering nyuruh-nyuruh beli rokok sama terasi itu cuma begitu kelakuannya.

Lama-kelamaan saya malah senang. Baguslah, setidaknya lapak surga berpeluang lebih besar untuk dapat saya masuki kemudian mukimi kalau orang dewasa banyak yang tidak berpuasa. Menghadapi persaingan global dan Masyarakat Ekonomi ASEAN saja saya berdarah-darah dan entah bagaimana pangkal ceritanya, bagaimana nasib pecundang macam saya bila semua orang berlomba-lomba masuk surga? Haruskah periang, berhobi futsal, pandai berkomunikasi dan beradaptasi, dan punya koneksi orang dalam agar dapat lolos seleksi ke surga?

*

Mudik menurut saya adalah ritual paling penting yang penduduk Indonesia khusyuk tunaikan ketimbang puasa Ramadan. Hampir segenap orang-orang pandai dari kampung sudah hidup mapan di kota-kota besar. Yang tinggal di kampung cuma nenek-nenek dan bocah ingusan. Tentu saja orang-orang sukses harus mudik ke kampung halaman masing-masing. Setidaknya untuk informasikan bahwa mereka baik-baik saja di kota. Meski tak selamanya mereka senantiasa menggunakan metode yang baik dan terpuji sesuai titah nenek moyang untuk menggapai kesuksesan, karena dunialah yang berkehendak begini. Segunung parsel dan amplop-amplop berisi angpao lebaran teruntuk keluarga besar dan segerombol tetangga—yang bernasib tak sebaik mereka—telah cukup pancarkan mereka baik-baik saja.

Sudah tak musim mudik ke kampung halaman dengan mengendarai bus berjam-jam seperti zaman paman dan bibi saya dahulu. Kesejahteraan penduduk Indonesia sedemikian melejit. Hampir semuanya punya mobil sendiri. Sayangnya sarana penghubung antar kota dan antar daerah tidak berkembang sepesat rumah toko yang secepat kilat mengurug kebun-kebun dan hamparan sawah laksana makanan pokok mereka bukan beras. Haruskah mengubah pola pikir ke sekian kali untuk tak lagi prioritaskan kendaraan pribadi dalam cetak biru pencapaian hidup ini?

Seandainya kesejahteraan mudah ditemukan tidak di kota-kota besar saja. Atau malah kita yang keliru persepsikan standar dan sesuaikan parameter kemakmuran ini, sehingga jadilah begini. Orang-orang pandai hanya kita temukan di kota-kota besar. Mungkin office boy yang biasa Anda suruh-suruh memfotokopi notulensi meeting itu dulunya adalah langganan rangking satu di kampungnya. Dan penjaga warnet pengap bau rokok dan peju itu dulu anak kesayangan guru yang terpaksa bekerja karena tak punya peluang kerja lain, terlebih di kampungnya, selain kemauan untuk bekerja apa saja di kota.

Sekali lagi, yang kita temukan di dusun-dusun dan pedalaman selain lansia dan bocah bau matahari adalah orang yang kurang kuat mentalnya meski lumayan pintar—yah walau tak separipurna kecantikan, kepandaian, dan kesejahteraan Dian Sastro. Remaja putus sekolah yang kadar brengseknya nanggung, tidak sekhaffah teman brengsek yang sukses di kota. Anak yang terpaksa tinggal serumah dengan orangtua karena orangtuanya sakit keras sehingga butuh dirawat sepanjang hari, atau orang gila yang keluarganya tak lagi sanggup sekolahkan ke rumah sakit jiwa. Tak apa, sebagian besar yang hidup di kota-kota besar, sepintas jiwanya jauh lebih sakit tinimbang orang sakit jiwa sungguhan di kampung.

*

Tahun ini saya merasa lebih hidup. Betul sekali, seperti pernah saya tulis, apalah guna hidup bila semata alami kebahagiaan. Semula saya sempat membenci Tuhan. Kenapa kok rasanya keadilan terkesan malas untuk mampiri saya termasuk keluarga saya. Tiap jam temukan keanehan. Setiap hari merangkak lalui tanjakan curam, terpelanting saat turunan tajam, luput lompati renggang jurang. Setiap malam rutin hinggap keputusasaan. Hingga pagi datang menyitir-nyitir segumpal penyesalan masa lalu, berulang.

Kemudian ada satu titik balik atau kalau di Just Alvin biasa disebut “Turning Point” yang terjadi tiga bulan silam. Titik pembalik impian-impian saya. Pengelap lensa mata saya setelah sebelumnya terburami fana dunia. Titik penol jiwa raga yang tiada lagi berdaya berdiri tanpa senderan apa pun sehingga saya mantap untuk bersandar kembali kepada Allah. Bukan lagi memasrahkan harapan pada seseorang atau menyerahkan masa depan pada korporasi. Sebagai insan yang dilahirkan, manusia dibekali kertas kosong yang kelak kita isi sekehendak masing-masing. Kembali tersadarkan, mau-maunya nasib saya didikte sama korporasi yang sok kenal sok dekat sama kita sekadar dari psikotes dan uji-uji instan lainnya. Allah saja yang menciptakan saya, toh memberi berlimpah kebebasan pada saya untuk menentukan tujuan dan alur hidup meski tentu tak selamanya saya berbuat kebajikan.

Sekarang saya mulai memandang hidup dengan biasa saja. Tak gampang kepengin menyimak gadget keluaran terbaru, motor berdesain futuristik, perempuan-perempuan cantik yang memang mana mungkin sih mau sama saya. Melihat orang berkaos My Trip My Adventure atau Nesyenel Jeojrefik sudah berhasil travelling dan mengotori langit ke tujuh pun saya meliriknya biasa-biasa saja. Tidak seperti dulu. Memangnya untuk bahagia, cuma harus melakukan yang orang lain lakukan? Saya sudah sampai titik di mana hari ini mau makan dengan apa pun sudah dapat menentukan sendiri tanpa harus bingung berjam-jam dan bilang terserah. Apa lagi dalam gulirkan roda aktualisasi diri. Kurang merdeka apa hidup bebas di era reformasi, kalau kelakuan masih saja menghamba tren demi tren berkedok modernisasi yang begitu lekas berubah, namun demikian sebatas suguhkan basa-basi dan sensasi dengan nir-esensi.

Selamat hari raya Idul Fitri. Sucikan hati. Mari rayakan tanpa embel-embel jabatan korporasi.[]

Photo credit: Fredy Wijaya

02 July 2016

Cinta dan Nafsu


Sering sekali saya mendengar pendapat bahwa lagu cinta adalah lagu cemen. Lagu cengeng. Mendengarkannya bukanlah kegiatan produktif, takkan berfaedah sama sekali terhadap kemaslahatan alam marcapada. Seharusnya lagu itu tidak cinta melulu, kata Efek Rumah Kaca. Memang, lagu yang ngepop tak pernah jauh-jauh dari tema cinta-cintaan, mengisah sejoli duduk dua-duaan di taman, pulang kencan pertama berlatar tirai gerimis, menerabasnya dengan proteksi sebentang jaket menggelimuni keduanya. Diakhiri pelukan dan kecupan.

Demikian contoh formula lagu jatuh cinta yang mirip satu sama lain. Namun sepertinya jauh lebih banyak lagu tentang patah hati daripada jatuh cinta, dan lagu bertema semacam ini senantiasa laku di pasaran. Pangsa pasarnya luas, mulai dari remaja belasan tahun hingga mamah-mamah muda yang baru mencecap kehidupan setelah pernikahan ternyata begitu. Padamu, padaku, untukmu, untukku, pasti selalu ada dalam lirik lagu semacam ini. Kata-kata dalam lirik lagu dominan berimbuh dengan -mu dan -ku. Seakan hidup cuma tentang mereka berdua. Begitulah kelakuan orang yang sedang gila akan cinta.

The Beatles pada awal kemunculannya pun tidak ujug-ujug merilis lagu tentang pertanyakan tujuan hidup ala Imagine anggitan John Lennon. Sebutkan yang populer saja: Michele, Let it Be, Girl, Hey Jude, dan tentu Yesterday; tentang dia yang memang diharuskan dan seharusnya pergi. Karya lain dari mereka pun selalu berbumbu asmara penuh kejujuran, dengan sudut pandang sesuai usia masing-masing personel pada periode saat itu.

Lagu yang sering disenandungkan di kafe dan hotel adalah Evergreen Love Songs. Mulai dari L-O-V-E dari Nat King Cole, Because You Loved Me dari Celine Dion, I Love You dari Saigon Kick, Beautiful Girl, Especially for You, Right Here Waiting for You, hingga lagu-lagu cinta yang sedang ngehits saat ini. Kafe, terlebih hotel, kemungkinan besar ditinggalkan pengunjung setia jika terlalu sering datangkan Siksa Kubur atau Karinding Attack.

Cinta adalah konflik universal. Tidak semua orang punya kegelisahan sama tentang kesenjangan sosial-ekonomi yang sangat timpang, atau sama-sama merenungi terlalu lesatnya teknologi yang barangkali kelak robot lebih cerdas kemudian berbalik menguasai manusia melalui artificial intelligent. Sependiam-pendiamnya seseorang, pasti pernah diam-diam menyukai seseorang. Secantik-cantiknya perempuan, mungkin lebih sering disakiti ketimbang dicintai karena kata Eka Kurniawan menjadi cantik adalah luka.

Keterikatan yang sama akan suatu hal biasanya menimbulkan kebersamaan. Namun sayang nasibnya seperti solidaritas yang sering disalahgunakan orang yang punya kepentingan; saat tujuannya tercapai ia lupakan semua jargon yang pada mulanya ia doktrinkan melalui provokasi. Sementara yang punya kepentingan di dalam ranah ini adalah produser. Mereka terus mengeksploitasi cinta pada produk-produk mereka. Beberapa lagu cinta sekarang malah gagal hasilkan getar-getar getir namun menyenangkan itu. Seperti mi instan yang menebar aroma penggugah selera namun baru dibiarkan 10 menit sudah membatu, yang tidak terlalu sehat untuk dikonsumsi setiap hari.

Entahlah saya jadi harus terpaksa dengarkan lagu-lagu sebelum tahun 2005. Era sebelum digitalisasi total, ketika media kaset masih ada yang beli meski tak banyak. Karya musisi-musisi era tersebut selalu berhasil mengobati hati yang masih basah lukanya berkat lirik matang dan aransemen dinamis dari daya dan karsa mereka. Terkadang kita tidak harus melupakan duka, bagi saya lebih menyenangkan untuk mengakrabi luka. Lama-lama tanya, duka, dan luka pulih dengan sendirinya, mengelupaskan kenangan, menyibak masa depan.

Cinta adalah senyawa adiluhung yang tidak bisa terdistraksi apa-apa selain oleh produser. Dan kita pun mesti berbaik sangka pada produser yang di tengah kejam peralihan teknologi masih setia mengikuti keinginan masyarakat dengan segala risiko rugi dan caci, tidak seperti yang mengaku wakil namun kami tak merasa terwakili. Sampai kapan pun cinta adalah produk yang akan selalu laku, meski kita sama-sama malu-malu mengonsumsinya. Cinta bukan tercipta untuk aman dibincangkan ramai-ramai. Namun tertransaksi diam-diam di dalam kamar gelap bagai candu, sabu, nafsu.[]

Photo credit: Cepy HR

19 June 2016

Romantika


Apakah cuma saya yang syok tatap kemajuan? Gelisah menunggu perubahan selanjutnya?

Sekarang, jarak 40 kilometer saja mesti ditempuh dua setengah jam. Setengah jam lagi menyamai rute Bandung-Bogor. Padahal, kalau dirasa-rasa, kecepatan 40 kilometer per jam tergolong kecepatan yang banci, kata teman-teman saya. Tapi buktinya, satu jam pun tidak kesampaian jarak segitu. Jadi siapa yang lebih pantas kita risak banci? Partai Tai?

Hampir semua orang punya mobil. Motor lebih dari dua. Tapi garasi cuma cukup satu sepeda. Entah apa daya atau tanpa upaya. Mungkin cuma saya yang bercita-cita untuk bekerja naik angkutan umum. Tapi memang ada angkutan umum yang sampai ke depan rumah di pelosok kampung? Memang ada angkutan umum yang benar-benar tepat waktu? Tanpa ngetem? Tanpa berputar-putar lebih dulu menyesuaikan trayek masing-masing, melainkan melaju langsung ke jalur konvensional? Dunia akhir-akhir ini menuntut ketepatan, sementara kondisi sarat kecacatan.

Membuktikan perubahan yang terlalu cepat tidak selalu bagus. Tidak usah lekas beli mobil baru, Tuan-Tuan yang budiman. Tidak usah terburu upgrade motor dengan bodi yang lebih bongsor, ganti pacar yang lebih bohay, Akang-Akang lulusan STM yang baru bereuforia kerja di minyak, yang baru tahu foya-foya itu bagaimana caranya. Merekalah yang semestinya berubah lebih cepat. Si pembuat jalan yang lebih suka merencanakan liburan dan mengikis anggaran daripada merancang perbaikan jalan. Si pembuat keputusan. Si pelipat pajak. Si kampret yang suka ngokos jambu sebagian, sisa kerkahannya membusuk mubazir.

Tak usah tergesa-gesa untuk berubah. Bukan karena proses perubahan yang selalu menyakitkan. Namun jauh lebih pedih andai setelah berpayah berubah, sejelalat, kita ingin mengubah diri kembali seperti yang dulu. Tidak ada opsi Ctrl+Z dalam hidup ini. Lanjut saja sampai hang, bad sector, game over. Saatnya melipat laptop masing-masing.[]

Photo credit: Ian D. Keating

11 June 2016

Malas Berpikir


Pada zaman ketika seantero dunia serempak menyibak tirai pengetahuan lebar-lebar, kita malah menutup diri sejak dalam pikiran. Terlalu banyak berpikir, bagi segelintir orang berponsel iPhone yang sebangun pagi menyesap kopi di Starbucks sambil menyembah Macbook, hanyalah kesia-siaan. Memang, berpikir taklah seproduktif menjaring klien sebanyak-banyaknya berkat bualan sehambur-hamburnya. Sejak dahulu pun pemikir lebih sering dicap gila, tidak seperti penguasa yang dipuja.

Saya setuju dengan tulisan Pak Hasanudin Abdurakhman dari kanal Qureta. Saat ini, kita bagai dilarang untuk berpikir, bahkan untuk sekadar memikirkan hidup masing-masing. Perkara paling fundamental seperti mencintai saja, kita seakan wajib untuk menelan secara instan kata-kata mutiara dari lembar-lembar meme motivator atau menyimak tutorial menikung pacar orang dari youtuber pengaku pakar asmara? Bukankah kita punya otak sendiri untuk mengetahui metode mencintai yang paling cocok dengan tampang, pendidikan, pengalaman, dan kocek masing-masing? Jangan dulu suruh kami untuk menyelami teori penciptaan Alam Semesta, masalah cinta yang paling privat saja terbukti belum paripurna.

Menurut Pak Hasanudin, orang-orang dibekap di bawah dogma, berpikir bisa dianggap menentang Tuhan. Padahal kitab suci bukan gudang sains, alam adalah sumber sains sejati yang terhampar untuk manusia telaah, hingga peroleh jawaban dari segayut pertanyaan yang menggelisahkan. Agama kita bikin-bikin sebagai kerangkeng kebebasan untuk berpikir. Padahal seharusnya kita membuat agar ia saling melengkapi dengan sains, saling mendukung satu sama lain, bukan lantas membelahnya dengan sekat gamis dan cadar saja. Agama dan sains adalah saudara. Keduanya harus sering-sering bersilaturahmi meski memang kerap berselisih.

Dan itulah yang dipraktikkan oleh ilmuwan-ilmuwan terdahulu, termasuk ilmuwan Islam seperti Ibnu Sina dan Al-Ghazali. Padahal dulu belum ada Google untuk menjelajahi referensi jurnal internasional. Belum ada Microsoft Word untuk mengetik karya-karya mereka. Belum ada simulasi pengolah variabel-variabel fisik. Mengapa peradaban mereka lebih pesat dari umat Islam kekinian yang hanya berkutat dalam perkara menggordeni warteg, membakar buku-buku, dan mengharamkan golput?

*

Peradaban Barat yang kerap kita kafirkan, mesti kita akui, adalah peradaban paling komplet beberapa abad belakangan. Sudah, kita akui saja. Memang senjata yang teroris todongkan pada batok kepala sandera bule itu bukan produk dari negara yang mereka kecam sebagai kafir? Mulai dari ilmuwan sampai sastrawan, Eropa punya stok melimpah beserta buah ide yang berpengaruh. Dan berapa banyak orang yang bilang ogah nonton sepakbola kecuali klub-klub Liga Eropa yang main? Ranah sepakbola saja, Eropa punya jajaran seniman dan filsuf di lapangan yang mahir menyihir massa, menerabas lintas ras dan budaya. Sementara kita, cuma punya politisi sepakbola.

Maka tidak usah terlampau bangga rendang ternobat sebagai makanan terlezat versi majalah apalah. Atau anak bangsa yang jadi animator di studio Marvel atau ilmuwan penggagas teknologi 4G di perusahaan IT Jepang. Memandang mereka sebagai citizen, memang pantaslah kita bangga kepada mereka yang mampu lolos dari kolam butek pendidikan negara dunia ketiga untuk menembus industri negara maju. Itu tidak mudah, sungguh, salut.

Namun sebagai country, Indonesia masih bukan apa-apa di mata dunia. Masih sebatas pasar basah, surga mereka berjualan sampah-sampah. Yang kesusu membangga-banggakan diri berlebihan pada dunia padahal jauh panggang dari apa-apa. Sudah, kita akui saja masih tertinggal. Mawas diri itu lebih baik. Kecuali kalau kita segera membiasakan budaya berpikir seperti Eropa—dan tentu kemakmuran mesti terpenuhi terlebih dahulu, bukan sebaliknya; memaksakan revolusi—barangkali harapan sedikit terbuka. Cobalah…

Terima kasih Qureta yang mengadakan rubrik Sainstek secara mendalam yang sekarang jarang ditemui di media lain, sebab masyarakat keburu khawatir terdaulat kafir akibat membaca pemikiran-pemikiran termutakhir. Syukurlah masih ada profesional dan dosen pasca sarjana yang rela meluangkan waktu guna menulis artikel-artikel sains populer. Jangan biarkan semua lahan kepenulisan daring direnggut gerombolan remaja haha-hihi penghuni sevel saja. Syukurlah profesional dan akademisi masih rela turun gunung menghangatkan nalar kami, tidak melulu mengeringkan pantai demi proyek reklamasi yang basah… basah.[]

Photo credit: Boris Schrier