Cepy Break


Kapsul Jeda

08 June 2017

Ketika Sudah Jauh Berjalan

Okay, lagi-lagi ini akan menjadi tulisan berbau nostalgia.

Sebulan ini saya merasa sangat lelah, mungkin sampai dua minggu ke depan. Kembali dikejutkan oleh tensi darah yang tinggi: 160/110. Mungkin saya memang harus sama sekali meninggalkan gorengan, mi instan, jeroan, percayalah, seharusnya gorengan berada di urutan setelah rendang sebagai makanan terenak sedunia. Kapan mau meninggalkan? Lupakan.

Sejenak, saya tersadarkan bahwa rasa lelah—atau dapat pula dikatakan sebagai kepayahan—ini muncul, mungkin, karena setelah direnungkan, saya sudah cukup jauh berjalan. Mengejar entah stimulus apa yang selalu berkecamuk di kepala, selalu berubah-ubah setiap saat, satu jam mendatang mungkin sudah lain lagi. Yang memaksa kaki saya berjalan, terus berjalan, sulit sekali untuk sekadar menepi sebab selalu dikejar-kejar mimpi yang selalu nisbi.

Waktu yang panjang belum tentu membuahkan hasil yang saya inginkan.

Pada tahun 2006 Italia juara Piala Dunia. Zidane menanduk Materazzi. Dan saat itu, saya lulus SMP, kemudian diterima dengan nilai pas-pasan di SMKN 1 Cimahi, angkatan 33. Ah, sudahlah, saya lebih suka menyebutnya sebagai STM Pembangunan Bandung. Lebih sangar, lebih gagah, lebih berwibawa.

Saya sangat meyakini bahwa sekolah itu telah 80 persen berhasil memahat karakter saya yang sekarang. Doktrin sekolah itu kurang lebih sama seperti tentara: lebih baik bermandi keringat saat latihan daripada bermandikan darah dalam peperangan. Empat tahun lamanya saya di sana, saya merasakan berbagai rasa yang komplet, yang membuat saya meyakini satu hal: tidak ada yang tidak mungkin. Periode selama empat tahun di sana serasa 2 atau 3 kali lebih lama dari seyogianya.

Sekeluarnya dari sana, saya merasa waktu cepat sekali berlalu. Kuliah? Terasa cepat sekali, beda dengan sekolah. Rutinitas, mungkin, memang tidak seperti pendidikan dasar yang melelahkan. Tahu-tahu sekarang sudah 2017, sebelas tahun berlalu. Dan saya masih belum menjadi apa-apa. Selalu kurang rasanya pencapaian yang saya peroleh. Terkadang saya bertanya, kapankah seseorang merasa dirinya sebagai apa-apa? Setelah berhasil jadi seorang Ayah? Setelah menjadi Supervisor? Menjadi Top Management? Direksi? Atau bahkan baru setelah pensiun mereka merasa dirinya berguna?

Yang saya amati, setiap langkah manusia kerap dianggap sia-sia oleh diri mereka sendiri, padahal belum tentu. Mengejar mimpi hanya mempertemukan saya dengan orang-orang yang lebih pandai, lebih rupawan, lebih komunikatif, sehingga saya selalu menjadi orang paling bodoh di antara orang-orang pandai. Dan anehnya saya selalu ketagihan berbaur dengan mereka. Banyak sekali langkah-langkah terlupakan, yang mungkin adalah sebuah nikmat yang besar, yang harus disyukuri. Dan memang apabila kita berjalan, cenderung ingin terus berjalan lebih jauh, lebih jauh lagi, dan enggan kembali ke posisi nol, sebab meski hasil yang dipetik tidak sejalan harapan, hidup harus terus berjalan ke depan.

Dan sekali lagi, mimpi. Atau kalau istilah mimpi berkesan terlalu mengawang-awang, kamu boleh menamakannya sebagai target, tapi saya tetap lebih suka menamakannya mimpi. Hal satu ini lebih sering bikin kita semua kecewa. Kenyataan selalu saja kurang dari target, lebih buruk dari target. Namun anehnya, sudah tahu kita selalu dikecewakan oleh mimpi, kita malah bermimpi hal-hal yang lain, yang lebih tinggi, lebih agung, lebih sulit digapai.

Kapan kita bersedia untuk duduk sejenak? Menengok ke belakang. Meresapi hari ini, saat ini, yang saya percayai lebih baik, jauh lebih baik dari hari-hari kemarin, bulan-bulan kemarin, tahun-tahun kemarin. Menyadari bahwa saya sudah cukup jauh berjalan. Hasil-hasil yang sudah saya peroleh sekarang, saya pikir, malah melampaui harapan-harapan, mimpi-mimpi saya pada masa lampau.

Tetapi, karena mimpi selalu nisbi, karena harapan selalu eksponensial, nikmat-nikmat itu luput saya sadari hari ini, saat ini, sehingga hanya perasaan lelah yang datang setiap saat, bukan rasa tabah. Tahun kemarin memang saya akui, berat sekali, namun membuat saya bersyukur sudah pernah mengalami dan melewati masa-masa sulit itu. Ketika setiap hari seperti hari-hari kosong tanpa tanggal, yang ada di dalam benak hanyalah kebencian terhadap kemampuan diri sendiri yang payah dalam menghadapi kehidupan ini.

Pertengahan tahun lalu saya menemukan harapan baru, berupa sebuah pekerjaan di Bandung, yang percayalah, jauh, sangat jauh dari mimpi-mimpi saya terdahulu. Pekerjaannya aneh, tidak sesuai background, tidak sesuai passion, alur kerjanya tidak lazim, jam kerjanya tak mengenal batas waktu. Namun saya menjalaninya dengan penuh keikhlasan, dan baru memahami bagaimana berperilaku ikhlas itu, yang ternyata nikmat untuk dijalankan, tiada lagi muncul beban-beban yang sesungguhnya tidak perlu dipandang sebagai beban.

Saat itu, berhubungan kembali dengan teman lama melalui Direct Message Twitter, satu-satunya media sosial yang tidak saya hapus. Perasaan itu kembali muncul, malu-malu. Namun pikir saya waktu itu, belum saatnya. Nanti pasti ada waktunya, entahlah, saya kok merasa yakin padahal pada masa itu hidup saya penuh dengan ketidakpastian serta keraguan.

Setengah tahun kemudian, saya kembali menghubunginya. Bersepakat bertemu di suatu tempat yang hangat, mengajaknya makan malam ditemani temaram. Berjumpa seperti sudah puluhan tahun saling mengenal. Tertawa lepas bagai punya referensi pahit-manis hidup yang sama. Bersitatap layaknya dua orang yang sudah saling percaya.

Malam ini saya menyadari, cukup jauh saya berjalan. Bersyukur masih dapat bernapas, bersyukur telah menemukan kamu. Mohon temani saya berjalan lebih jauh lagi ya, Gioveny... sampai kaki saya tak mampu lagi melangkah, sampai tidak ada lagi sudut dunia yang belum terstempeli jejak kita berdua, Cinta.[]

25 May 2017

Ekstra Puding

Enam belas hari. Cukup 16 hari. Andai lebih, saya rasa tidak akan sanggup lagi. Syukurlah, sedari kecil, kepikiran untuk jadi tentara pun tidak pernah terlintas, apa lagi bercita-cita. Saya pengen jadi orang sipil aja deh, yang bisa bebas nongkrong di mana-mana, bebas makan di mana-mana, dan bebas mengucapkan selamat pagi cukup dengan kata selamat pagi.

Keluar dari pusat pendidikan Senin siang kemarin, saya teringat ketika Brooks keluar dari penjara Shawshank. Bingung melihat peradaban. Brooks sudah puluhan tahun tidak melihat dunia luar, saya cuma dua minggu, tapi rasanya untuk menyeberang jalan pun sama susahnya sebagaimana Brooks hambir ditabrak mobil. Semua mendadak asing. Kaget saat becermin karena merasa saya jelek sekali dengan kulit wajah maupun sekujur tubuh yang gosong, kepala botak yang tumbuh malas-malas, serta mata bergayut kantung. Ingin kembali lagi? Brooks iya, tapi saya, tidak, terima kasih.

Ada satu istilah di sana yang berkesan bagi saya sampai sekarang. Ekstra puding. Istilah pengganti untuk coffee break atau jeda 15 menit sekitar pukul 10 pagi. Apakah menunya cuma puding? Tidak ada sama sekali, malahan. Yang justru sering hadir adalah getuk, kue talam, lemper, dan lontong. Puding, yang termaktub sebagai nama, tidak pernah ada.

Kenapa berkesan? Tidak tahu. Seneng aja dengernya. Tak perlulah alasan. Seperti cinta, kalau terlalu banyak alasan, mungkin kita tidak sungguh-sungguh terkesan.

Ekstra puding. Puding, makanan yang setengah padat, setengah cair. Lembek. Tapi membuat segar siapa pun yang memakannya. Manis. Dingin. Mudah ambyar, tapi tak apalah karena puding bukan rakyat yang konon harus senantiasa bersatu. Toh lengket-lengket juga kalau ditambah fla susu.

Memang, makan apa pun di sana, tidak ada yang bikin enak. Sangat tidak dianjurkan untuk direview Food Blogger. Pagi, siang, sore, semua menu dapur yang aroma seisi ruangannya bikin mual harus dimakan tergesa-gesa karena katanya di sana bukan warteg atau restoran. Selain ke diskotek, FPI harusnya sidak juga ke sana karena cara mereka makan tidak sesuai sunah rasul yang menganjurkan mengunyah 33 kali sebelum ditelan. Silakan kalau berani.

Apalah itu, barangkali setiap hari kita butuh kekuatan tambahan pada waktu tertentu. Tenaga ekstra. Dalam jeda yang tentu takkan pernah lama sebab waktu tergolong sebagai sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, mungkin. Dalam suasana ketergesa-gesaan, seolah-olah sepuluh menit kemudian mau kiamat saja. Supaya kembali semangat menghadapi apa pun, kita tak pernah tahu. Supaya kembali menjelma air yang hendak diapa-apakan pun tetap bergeming.

Apa merek pemutih wajah yang cepat mengembalikan wajah rupawan?[]

04 May 2017

Hujan Magrib


Pelet-pelet likuid mengetuk kaca pengemudi, menampar
helm pengendara, menenun peluh hasil memeras
seharian demi tuntutan entah siapa menuntut, tidak jelas,
tapi semua merasa harus tunaikan tuntas.
Masih banyak yang merasa perlu bekerja keras.

Ingin lekas sampai rumah adalah kemewahan ketika
lampu langit mati menyalakan pompa awan-awan hitam
gendut menjelang pukul lima dan tidak ada yang
tahu kapan ia berhenti. Semua ingin
pulang tepat waktu, sudah cukup bahagia.
Kesuksesan tak pernah tepat waktu.

Tenda bubur ayam ramai, tenda pecel lele semarak.
Tidur tenang ibu-ibu penjual tahu granat, pisang cokelat, seblak keparat,
sudah cukup lelah menggaruk inovasi apa lagi untuk
memuaskan pelanggan yang tidak lebih setia dari penyintas politik.

Jas hujan bocor, aspal licin, lubang menyamar, menyita
stok waspada yang sudah habis seharian. Tidak ada yang luar biasa;
luar biasa hanya milik pebisnis asuransi dan penjaja mimpi.

Merakit perahu kertas saat hujan, mengapungkannya
ke parit. Sabar menunggunya mengambang jauh.
Atau keburu lapuk oleh hujan tanpa sempat melajukan harapan.
Butuh lebih dari sekadar harapan untuk terus berjalan.[]

29 April 2017

Memutar Ulang Lagu, Menonton Lagi Film yang Sama

Adakah yang lebih membosankan dari memutar ulang lagu yang sama? Adakah aktivitas yang lebih sangkil dari menonton film yang sama hingga tiga setengah tahun mendatang?

Motif sudah tidak di situ. Semangat hilang dalam benam bagai intan berlian, membuat semakin jauh jarak yang memang lebih jauh. Tapi semua tetap dipaksakan seperti mendonasikan celana nomor 29 kepada anggota DPR yang subur makmur; sia-sia dan dibuang pada akhirnya, barangkali.

Cuplikan film jenaka, apabila sudah dipertontonkan puluhan kali ke khalayak, hanya berkhasiat sebagai obat insomnia. Lelap, lelap, sampai tiga setengah tahun mendatang, kalau bisa, saya ingin melakukannya, kalau perlu saya ingin membelinya, kalau tak mampu saya akan mengkreditnya secara syariah.

Demi apa semua ini saya lakukan. Sepuluh tahun adalah waktu yang cukup lama untuk bereksperimen ciptakan apel rasa rambutan, kepala berambut brokoli, waktu yang tepat untuk perbaharui data sensus penduduk. Waktu yang terlalu lama untuk sekadar memetik gelar. Waktu yang sangat lama untuk menunggu kesuksesan sekejap terhampar.[]

25 April 2017

Keluyuran Akhir Bulan 2: Sepedaan Lagi


Sebagaimana menjaga berat badan supaya gak naik atau turun, emang susah menjaga konsistensi itu ya. Rencana awal tahun ini mau berkomitmen bikin postingan Keluyuran Akhir Bulan setiap bulan pada akhir bulan, tapi sekarang sudah akhir bulan April, dan yang kesampaian nyatanya cuma satu aja yaitu pada akhir Januari.

Kalau boleh beralasan, yah, mulai pertengahan Februari kemarin hari libur saya cuma Minggu, karena, ehem, setiap Sabtu mesti kuliah ke Cimanggis (jangan tanya kenapa saya kuliah lagi, kok kuliah gak kelar-kelar, masih kuliah S1 aja) jadi duduk manis dan tiduran cantik seharian di rumah merupakan sebuah kemewahan, sehingga boro-boro keluyuran atuh. Belum nilai UTS ancur karena emang gak ada effort belajar, belum hujan sepanjang hari, dan lain sebagainya yang bikin mood naik turun, belum uang bulanan minus. Yah gapapalah, siapa pula yang setia nungguin postingan ini sih?

Mumpung kemarin Minggu dan Senin libur, saya akhirnya bisa napas sejenak dari yang aneh-aneh. Sepedaan lagi setelah sekian lama! Dimulai dari Jumat tanggal 14 yang juga tanggal merah, dan akhirnya kemarin bisa leluasa sepedaan ngegosongin kulit dua hari berturut-turut.

Beberapa bulan ini saya kurang olahraga. Entahlah karena apa. Jadinya makin gendut. Celana mulai wanti-wanti di tengah kesesakan. Gak pede liat wajah sendiri di depan cermin. Muka saya biasanya kalau agak lama berhenti olahraga jadi muncul jerawat, dan teksturnya jadi kering, kerutannya makin jelas. Gak enak dipandang, bahkan oleh diri sendiri. Keringat bagi saya adalah facial gratisan yang bikin muka tampak kinclong tanpa oplas. Dan biasanya pula, kalau berhenti olahraga saya suka jatuh sakit, gampang tertular virus. Itu terjadi beberapa minggu yang lalu, menyiksa banget.

Sepedaan lagi, mulai dari jarak yang deket yaitu ke rumah kakak di Ciluar, tempat saya nebeng hidup beberapa tahun lalu. Sekalian ngemis sarapan, sekalian minta dibekelin makan siang (masih aja gak tahu malu). Jarak ke sana kurang lebih 20 kilometer lah pulang-pergi. Lumayan untuk pemanasan betis (dan pantat, tentu saja) lagi setelah setahun lebih gak bersepeda.


Kemudian hari Minggu kemarin saya ke Sempur. Dengan pedenya, kirain batas kawasan Car Free Day di sana masih seperti dulu, yaitu setelah rumah sakit Salak sampai lapangan Sempur. Eh, sekarang cuma di sekitar Air Mancur sampai sebelum RS. Salak toh. Banyak tukang jualan pula yang bikin jalan kayak cendol. Di situ saya terpaksa menuntun sepeda, khawatir menabrak anak kecil yang hampir semua memakai dan main sepatu roda.

Kenapa ya? Usulan Pak Presiden lagikah? Sekalian aja ibukotanya pindahin ke Bogor.

Setelah RS. Salak, CFD gak berlaku lagi. Kendaraan bermotor boleh melintas bebas. Lalu lintas tidak terlalu padat sebab mungkin masih pagi. Sekarang trotoar dilengkapi jalur khusus sepeda yang... useless. Terlalu sempit dan sering dipakai orang jogging atau berjalan dengan anjing, apanya yang jalur sepeda? Mau tak mau tetep gowes di jalan aspal. Bodo amat diklaksonin mobil-mobil pelat B juga dah, Safety First!

Dan baru sadar bahwa lapangan Sempur sudah selesai direnovasi. Berubah nama jadi Taman Ekspresi. Rumput-rumputnya tampak seperti karpet atau memang karpet sintetis ya semacam di Alun-Alun Bandung, entahlah, saya belum sempat mencicipi, karena percayalah, suasana terlalu ramai dan bingung nyimpen sepeda di mana. Lebih ramai daripada dulu. Tapi sedikit lebih rapi dan tertib.

Tidak lama-lama nongkrong sendirian di situ, cuma rihat sejenak, mencuri udara banyak-banyak untuk bekal jalan pulang yang lebih terik, tapi kerja betis relatif lebih ringan sebab jalur pulang ke rumah cenderung menurun. Sampai rumah, saya serasa gak punya pantat. Setelah tiga-lima kali sepedaan lagi nanti mungkin tubuh bakal kembali terbiasakan.

Semoga Keluyuran Akhir Bulan 3 tidak seasal-asalan ini ya...[]