Cepy Break


Kapsul Jeda

06 December 2016

Sayatan dari Depan


Aku sedang belajar memiliki dari bagaimana cara rutinitas menerima setoran delapan jam bahkan lebih dari separuh hidupku setiap hari entah sampai kapan ia berhenti begitu, andaipun kumengelak mustahil aku dapat bertahan di sini. Memiliki selalu menyakiti adalah kepercayaan yang paling iman dan mungkin aman dari kepentingan politik praktis karena mungkin kurang terklasifikasi 4P Philip Kotler layaknya iman yang lain.

Sulit sekali memiliki seseorang ketika aku ingin sekali memilikinya. Sesuatu jauh seperti dekat, seseorang tepat di sebelah bagai berlainan belahan semesta, dan berlari sendirian hanya mengundang sayatan angin, semakin cepat berlari angin dari depan kian giras menjangat kulit. Duduk diam dalam jeda menjerang kesadaran bahwa aku bukan siapa-siapa dan tak pantas dicintai siapa-siapa.

Desember adalah duka dari ragu. Suka menuju luka. Ingin kembali beku jadi angan. Sesungguhnya ingin sekali aku jujur namun kejujuran selalu gagal merangsek budaya pop. Aku selalu memulai apa-apa dari bawah tanah dan setelah berusaha mencoba keluar permukaan aku selalu cemas apabila suatu saat sudah naik ke tempat yang terang, tidak kuasa lagi kurasakan kesyahduan dan ketelanjangan di bawah seperti selama ini. Aku mendadak takut memulai sesuatu di ranah terang benderang mungkin karena sudah sejak lama aku terkungkung dalam pekat gelap, dan menganggap alam tidak gelap hanyalah maya dan kefanaannya hanya pantas dicerca bukan untuk dicinta.

Apa yang dapat seseorang lakukan dari jauh apabila segenap rasa mendekap erat kembali. Rumit untuk sekadar bayangkan kembali pelukan yang enggan melonggar dan kecupan yang lebih panas dari neraka. Semua sudah jadi teka-teki silang yang saling bersinggungan ke atas, ke bawah, menanjak dan melandai, satu huruf terlupa atau memang gagal terisi karena aku terbodohi teka-teki, hanya akan jadi selembar alas gorengan, undian hanya cukup dalam angan.

Tapi semua sudah berubah. Hanya manusia yang susah berubah. Mungkin tidak. Tidak akan.[]

Photo credit: Mister G.C.

30 November 2016

Liar

November yang semula damai berakhir liar. Saya tidak menyangka akan seperti ini takdirnya. Kembali ke sini meninggalkan sana. Ternyata jalanan macet Bandung yang bikin saya darah tinggi enam bulan ini malah mendadak ngangenin saat hendak saya tinggalin.

Ke depan saya tidak punya ekspektasi apa-apa, karena biasanya yang sudah-sudah, target-target yang saya rencanakan lebih banyak gagalnya. Sudah, jalani aja sebaik mungkin. Saya yakin saya dapat melakukan yang lebih baik dari kemarin. Lakukan yang terbaik demi saya sendiri tapi mudah-mudahan orang lain di sekitar saya pun dapat turut merasakan.[]

25 November 2016

Tinggi Lagi

160/100. Darah tinggi lagi. Sssh, gak tahu saya mesti ngapain lagi. Diet-diet yang pake jendela makan itu ternyata malah bikin berat badan naik turun secara drastis dan saya makan makin kalap saat masuk jendela. Mungkin setiap hari perut kaget dengan kelakuan saya yang gemar menimbunkan banyak makanan dalam periode yang singkat. Akhirnya Senin malam kemarin saya beneran tepar... Tidur dengan berlapis-lapis baju pun masih terasa dingin. Bangun tengah malam karena pengin kencing pun, sehabis dari kamar mandi, denyut jantung terasa cepet banget. Kepala hampa. Jalan melayang. Rasanya kayak mau mati.

Semua ini gara-gara hari Minggu kemarin saya kebanyakan makan. Segala dimakan. Padahal hari-hari sebelumnya saya ketat menjaga jam makan. Mari kita tata satu-satu. Pagi-pagi ada bala-bala haneut, kupat tahu Singaparna. Gak lama kemudian, ada tukang batagor yang emang biasanya keliling door to door. Yah tentu saja, semuanya saya sikat. Ketika sedang menyantap semua tadi, Ibu bikin nasi goreng. Begitu matang, saya embat juga.

Sementara, nasi putih belum masuk perut. Siangnya makan apa saya lupa, yang pasti makanan berat. Keripik pisang 2 bungkus saya sikat juga. Sengaja beli es krim padahal kapan boa terakhir kali saya beli es krim. Dan malamnya saya makan bakso pedes banget, yang kuahnya tampak kentel sama lemak. Kalau ngebayangin kelakuan waktu itu sekarang, mendadak saya mual pengin muntah.

Dalam pikiran saya, nasi itu bikin gendut. Jadi gak papa makan banyak pun kalau selain nasi. Ternyata makan non-nasi secara frontal emang gak bikin gendut, tapi bikin sakit.

Yah selain dari makanan, saya yakin tensi yang tetep tinggi selama 4 bulan belakangan, atau mungkin setahun ini karena dulu pernah ditensi juga dan hasilnya lumayan tinggi, gara-gara pikiran juga sih. Setresss. Entahlah, masa depan rasanya makin suram saja kalau saya enggak cepet-cepet ngambil keputusan secara mandiri dan secara sadar tanpa embel-embel harapan palsu dan demi solidaritas bersama lagi.

Rencananya sih mulai awal Desember saya pengin mengembalikan kondisi tubuh yang sebenarnya masihlah mudaaaa agar kembali ke fitrahnya sebagai pemuda yang semangat. Sumpah susah banget kalau situasi dan kondisi yang rajin mengadang mesti dihadapi satu per satu itu masih kayak gini-gini aja kelakuannya. Semua orang dan rerupa kejadian rasa-rasanya gak ada yang bikin tenteram. Jadi inget Si Doel Anak Sekolahan.

Awal bulan saya balik lagi ke Bogor. Pengennya malah kayak murid kungfu yang bersemedi 40 hari di hutan atau air terjun hanya untuk mencari apakah arti hidup ini. Tapi boro-boro sih, saya bangun tengah malam di rumah karena kebelet pun masih baca ayat kursi pas jalan ke kamar mandi. Padahal kamar mandi cuma di sebelah kamar.

Perlahan saya mulai percaya bentuk masa depan akan tergantung pilihan saya hari ini. Sayangnya terlalu banyak pilihan tapi tidak satu pun yang ngasih sinyal berhasil sebelum itu terjadi. Semuanya terkesan sama. Seperti berjudi. Ahh, seharusnya dulu saya belajar sama mamang-mamang tukang cabutan aja, gak usah belajar aljabar linear segala. Saya terlambat 25 tahun dalam belajar berjudi. Padahal saya tidak akan pernah tahu akan hidup seberapa lama lagi.[]

06 November 2016

Pesona Humania


Memasuki masa-masa sulit awal tahun ini, saya menemukan lagu-lagu lama yang baru saya sukai. Mulanya sering mendengar Adriano Qalbi dalam Podcast-nya menyebut dan nobatkan Humania sebagai band Indonesia yang beda, keren, bahkan mendahului zamannya. Penasaran, saya pun coba mendengarkan. Ternyata setelah saya setel, kakak saya bilang, "Buset, itu mah lagu pas kamu baru lahir. Zamannya MTV baru muncul di Indo dengan VJ Jammie Aditya dan Sarah Sechan." Mungkin Humania memang mulai getarkan industri musik sekitar masa itu, periode awal 90an.

Apa yang bikin Humania itu keren? Entahlah. Saya juga bingung apa sesungguhnya yang bikin lagu-lagu Humania ini deep banget bagi saya. Padahal saya terlahir beda zaman sama duo Eki dan Heru itu, beda satu generasi. Tentu kegelisahan kami tidak sama-sama amat. Saya coba amati liriknya. Tidak ada diksi aneh-aneh dan puitik banget semacam lagu-lagunya Kla Project. Liriknya cenderung literal sehingga mudah dipahami dan diikuti, tapi jangan salah, belum tentu gampang untuk dinyanyikan sendiri, karena loncatan nada mayoritas lagu Humania rawan timbulkan fals.

Warna suara Eki dan Heru, saya yakin, kalau sekarang mencoba peruntungan di ajang pencarian bakat, enggak bakalan lolos audisi ke Jakarta. Minim improvisasi, minim eksplorasi yang saya pikir emang gak guna dan sia-sia aja sih suara emas itu kalau lagunya "kosong" mah. Suara mereka terdengar sangat manusia, sebagaimana nama bandnya, tidak seperti suara artifisial hasil rekayasa elektronik dari band, solois, dan trio terkini. Kalau tinggi ya tinggi, lurus, tanpa diliuk-liukkan mengemis tepuk tangan. Saat berada pada not sedang, ya datar-datar saja mengikuti irama musik.

Namun barangkali karena ketelanjangannya itu, lagu-lagu Humania menimbulkan kesan mendalam, menurut saya. Mereka punya lagu-lagu yang aroma skeptisnya menyengat, sangat realistis dan seakan dekat dengan peristiwa sehari-hari di sekitar saya. Namun ada beberapa judul yang membuat saya menemukan kembali spiritualitas, esensi hidup, bahwa saya tidak punya apa-apa di sini dan bukan siapa-siapa di muka bumi ini.

Semuanya itu dikemas apik bersama aransemen yang super keren! Kadang benak kebawa melayang ke awang-awang, kadang turut menertawakan keanehan dunia bebal ini, dan tak jarang saya nangis sendirian. Sungguh, enggak salah kalau banyak yang mendaulat Humania sebagai band yang muncul terlalu cepat lampaui zaman. Menurut saya sih, tepat-tepat aja. Yang freak itu produser yang melulu mengendus pasar ketimbang mikir panjang efek berkepanjangan.

1. Jelita

Lagu yang saya sebut-sebut membuat benak saya melayang ke awang-awang. Hati yang kosong dan pikiran yang penuh mendadak bersirkulasi menyeimbangkan kapasitas ideal keduanya. Tafsiran saya, Jelita adalah lagu persembahan untuk ibu kita masing-masing, atau untuk pacar, istri, siapa pun yang terlahir sebagai wanita. Tanpa kehadiran kaum wanita, mustahil kita dilahirkan dan tumbuh dengan baik, sebab sekuat apa pun laki-laki, belum tentu setabah wanita. Tanpa ketulusan mereka, alih-alih melahirkan, memutuskan untuk menjalin pernikahan pun enggan, mungkin. Berkat kejelitaan wanita, dunia jadi lebih bernuansa.

2. Terserah

Wow! Ternyata ada lagu yang seberani dan seapaadanya "Terserah". Begitu kesan yang membekas usai mendengarkan lagu ini. Lagu yang menjadi hits song Humania saat pertama kali berkarya di sini. Mengudar kekesalan terhadap pacar yang posesif, apa-apa maunya diturutin, ke mana-mana penginnya ditemenin, kita jadi tidak punya kehidupan dan hanya punya satu kehidupan: yaitu bersama dia doang, melayani dan menunaikan segambreng keinginannya seolah kita adalah sopir dan tukang kebun dia.

Biasanya lagu cinta di sini, bahkan sampai sekarang, lagu rock sekalipun, mayoritas berkesan memuja-muja wanita, mengemis-ngemis cinta padanya. Tapi Humania tiba-tiba menggebrak dengan lirik skeptis macam itu. Konon Eki menciptakan "Terserah" saat berusia 24. Yah, mungkin usia-usia segitu kegelisahan tentang cinta bukan lagi mengeksploitasi kengenesan sendirian pada malam Minggu. Ada masanya kita merasa fucked up terhadap seisi hidup ini termasuk sama pacar yang sudah lama dipacari, sehingga daripada kondisi jiwa makin gawat, kita memutuskan untuk menjalani dan menyelesaikan masalah hidup sendiri saja. Bukan semata mencari kebebasan hakiki, karena itu takkan pernah ada. Ah ya udahlah. 

3. Ya Udah

Kalau band lain menggubah lagu bertopik sama dengan "Ya Udah", mungkin hasilnya akan jadi lagu yang super mellow dan untuk dinyanyikan penuh penghayatan. Menyoal tentang debar-debar hati laki-laki saat terpikat sosok perempuan pada pandangan pertama, ketika rekah senyumnya merampas akal sehat, namun kemudian berujung pada sikap dingin si perempuan. Tak indahkan sedikit pun hadir si laki-laki, melirik pun tidak. Mungkin karena si perempuan belum tahu laki-laki itu siapa, dia cuma melihat dari penampilan yang mungkin tidak terlalu menarik. Tapi ya udah, setelah dicuekin, si laki-laki pilih mundur saja.

Eh, ternyata suatu hari, si perempuan malah balik suka sama dia. Mungkin karena sudah tahu latar belakang laki-laki itu, jadi tak lagi memandang ia sebelah mata, justru membeliak ingin segera ditembak. Tapi karena si laki-laki telanjur mundur dengan sikap bodo amat dan sudah kadung tahu bahwa perempuan itu mencintainya pun dengan syarat, dia pun tidak merasa perlu untuk menyukai perempuan itu sebagaimana awal mula ia penasaran memandangnya.

4. Persembahan

Nyanyian dibuka paduan suara anak kecil pada bait pertama, kemudian bait selanjutnya disambung vokal Eki, lantas seterusnya bernyanyi bersama-sama. Mengungkap rasa syukur atas nikmat kemerdekaan pada Yang Kuasa. Lagu "Persembahan" mungkin memang persembahan istimewa Eki dan Heru teruntuk negerinya yang sedang berulangtahun kala itu. Lagu yang cukup menggetarkan sedari awal sampai akhir, dan salah satu lagu Humania yang membuat saya sadar untuk apa dilahirkan. Konon ada fans Humania yang pindah agama berkat lagu "Persembahan".

5. Kuasa

Sejujurnya saya cenderung selalu berusaha agar tidak mudah tenggelam dalam suasana haru, dalam bentuk apa pun, termasuk rasa haru yang terbangun oleh lagu. Tapi ketika lagu "Kuasa" terputar, air mata saya mendadak banyak menetes. Begitu saja, padahal biasanya tak segampangan itu. Sampai akhir lagu saya masih tergenang kenang tentang segala rupa yang pernah saya lakukan sebelum hari itu. Dan Humania bagai tidak ada usaha sedikit pun untuk melebih-lebihkan rasa sadar dirinya pada Sang Pencipta. Mengalir saja, sebagaimana lagu mereka lainnya. Tanpa pretensi.

Sebab setelah diputar berulang-ulang dan saya coba telaah liriknya, tidak ada yang spesial. Tidak ada bedanya dengan lagu-lagu religi lain, bahkan jika dibanding lagu rohani yang bener-bener rohani, tentu eksposisi tentang pengakuan dosa-dosa makhluk pada Tuhan jauh lebih detail lagu rohani ketimbang ini. Suara vokal perempuan (pada lagu ini Eki tidak menyanyikan lagunya sendiri) yang teknik vokalnya tidak sewow Raisa namun begitu cocok lengkapi dan warnai aransemen dan makna lagu, sungguh menyayat hati dan mengundang penyesalan pada masa lalu hadir kembali saat ini dan seolah bilang, "Sudah, keputusan yang diambil pada masa lalu tak usah lagi disesali."

Sampai hari ini, saya masih suka menunggu-nunggu giliran lagu ini terputar dalam playlist saya saat bekerja atau pun sesampai di rumah. Jika lagu "Jelita" selalu bikin benak saya mengambang di awang-awang, selanjutnya pada lain waktu "Kuasa" berhasil memapah arwah saya sehingga seakan dekat sekali dengan yang di Atas.[]

Photo credit: Neli O. Filipe

02 November 2016

Manjakan Lidah Anda di Kota Malang

Kota Malang memiliki udara yang lebih sejuk dibanding kota lainnya di wilayah Jawa Timur. Kota ini juga sering kali dijadikan tujuan wisata, baik oleh warga Jawa Timur maupun masyarakat dari daerah lain. Suasana Kota Malang yang asri dan memiliki banyak bangunan bergaya kolonial memang menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan.

Sarana dan prasarana di Kota Malang sudah tersedia cukup baik, termasuk hotel berbintang yang banyak tersedia di kota ini. Apalagi saat ini informasi dan akses pemesanan hotel dan transportasi semakin mudah dengan adanya jaringan internet. Salah satu caranya ialah mengunjungi situs Traveloka.

Anda bisa mempertimbangkan untuk memilih salah satu hotel bintang 4, Savana Hotel Malang yang beralamat di Jalan Letjen Sutoyo No. 32-34 Rempal Celakat Klojen, Malang. Hotel ini cukup strategis dan memiliki jarak cukup dekat dengan tempat wisata lainnya.

Google.co.id

Daya tarik Kota Malang cukup beragam, mulai dari tempat-tempat wisata alam, sejarah, dan wahana permainan seperti olah raga paralayang, Danau Sempu atau Museum Angkut. Selain itu ada juga wisata kuliner yang bisa menjadi salah satu alasan Anda untuk berkunjung ke kota yang dikenal sebagai kota budaya ini. 

Beberapa destinasi wisata kuliner di Kota Malang di antaranya:

1. Orem-Orem

Orem-orem ialah salah satu makanan khas Kota Malang dengan cita rasa pedas. Di dalamnya berisi potongan ketupat, ayam, irisan tempe, tauge, kemudian disiram kuah santan yang kental. Untuk menjaga rasanya yang khas, biasanya kuah orem-orem dimasak menggunakan arang. Makanan ini disajikan dengan tempe goreng atau mendol.

Mendol ialah sejenis makanan khas Kota Malang yang dibentuk lonjong.

Resepenak99.blogspot.com

2. Cwie Mie Malang 

Makanan ini tidak berbeda jauh dengan mie ayam pada umumnya, namun tetap memiliki perbedaan yang khas. Sayuran yang digunakan sebagai bahan utamanya ialah selada, ditambah potongan ayam yang dibuat lebih halus. Makanan ini disajikan dengan taburan seledri dan bawang goreng. Rasanya memang lebih asin dari mie ayam kebanyakan. Kekhasan cwie Malang ini adalah disajikan di atas pangsit yang dibentuk menyerupai mangkok.

Resepmakananindonesia.blogspot.com

3. Nasi Goreng Mawut 

Nasi goreng mawut khas Kota Malang sesungguhnya tak berbeda dengan nasi goreng lainnya. Uniknya nasi goreng ini memiliki campuran seperti mie, sayuran, dan aneka toping lainnya. Hingga tampaklah sajiannya semerawut, maka akhirnya dikenal dengan nasi goreng mawut. Bumbu khas nasi goreng ini ditambah saos dan kecap, sehingga memiliki cita rasa yang khas.

Nasi goreng mawut banyak ditemukan di Kota Malang, salah satu yang cukup terkenal adalah Depot Nasi Mawut Pak Iwan. Lokasinya berada di Jalan Aris Munandar Kota Malang. Di warung makan tersebut juga terdapat menu andalan lainnya yang bercitarasa chinese food.

4. Rawon

Rawon adalah jenis makanan berkuah seperti soto, namun dengan kuah hitam yang berasal dari kluwak. Makanan ini dicampur irisan daging sapi dan bumbu-bumbu khas indonesia hingga rasanya dan aromanya terasa kuat. Salah satu menu Rawon terkenal yang banyak direkomendasikan wisatawan ialah Depot Rawon Nguling yang legendaris. Tempat ini berada di Jalan Zaenal Arifin No. 62 Malang.

Pinterest.com

5. Baso Malang dan Baso Bakar 

Makanan ini memang jadi ciri khas Kota Malang, meskipun saat ini bisa ditemukan hampir di semua kota di Indonesia. Namun tidak ada salahnya jika Anda mencoba menyantap baso Malang di tempat asalnya.

Baso bakar sama halnya dengan jenis baso yang lainnya, hanya dimasak dengan cara dilumuri bumbu bercampur kecap lalu kemudian dibakar. Kedua menu ini bisa Anda dapatkan di Rumah makan Baso Malang Presiden, salah satu kedai baso yang banyak direkomendasikan.

Jika ingin mencicipi baso Malang Presiden Anda bisa datang ke Jalan Baranghari No.5. Dan bila Anda penasaran ingin mencicipi baso bakar, Anda bisa mengunjungi Warung baso bakar Pak Man di Jalan Diponegoro No. 19 A Malang.

6. Wedang Angsle

Jika tadi yang dibahas makanan utama, kini saatnya makanan manis yang bisa dijadikan menu selingan. Wedang Angsle rasanya manis, hampir menyerupai wedang ronde. Topingnya berisi putu mayang, kacang hijau, bubur mutiara, tape singkong dan ketan yang sudah dikukus. Kemudian campuran tersebut disiram dengan kuah santan yang hangat.

Wedang Angsle paling nikmat disantap kala malam hari saat udara dingin Kota Malang mulai menyerang.

Beberapa info dan referensi kuliner di Kota Malang ini telah Anda dapatkan, so, segera rencanakan perjalanan Anda mulai saat ini, karena liburan akhir tahun yang dinanti tinggal menghitung hari.[]