Cepy Break


Dunia dalam Jeda

25 September 2016

Merayakan Makan


Dalam keseharian, saya sering menemui kegiatan makan diadakan dalam rangka merayakan keberhasilan seseorang mencapai gol demi gol dalam kariernya, keriangan atas bertambahnya usia teman dekat, hingga ritual tambahan ketika membincang urusan pekerjaan. Makan, bukan lagi sekadar menyuap-memamah-menelan sehidang santapan lezat, kemudian tersenyum puas penuh kekenyangan, namun sebagai aktivitas yang pantas untuk dirayakan.

Kenapa, ya, harus makan? Padahal masih banyak kegiatan lain yang tentu lebih berfaedah bagi orang-orang sibuk itu untuk isi dalam waktu mereka yang sempit. Mungkin, olahraga terlalu muluk untuk dihelat bersama-sama karena tidak semua orang punya bentuk tubuh yang cocok dan lingkar minimal kebuncitan perut untuk berolahraga (dan tentu saja tingkat kemalasan masing-masing orang pun berbeda). Makan, terasa lebih komunal karena rata-rata kita makan tiga kali sehari. Jadi kesempatan untuk bersepakat janji di meja makan lebih tinggi peluangnya ketimbang merencanakan pertandingan olahraga di gelanggang yang belum tentu terlaksana setiap pekan dan tak semua orang rutin melakukan.

Termasuk lobi-lobi janji-janji dan perundingan korupsi, semua berawal dari meja makan. Kencan pertama, biasanya diawali oleh ajakan untuk makan di suatu tempat yang menurut keduanya istimewa, seistimewa pertemuan dan kesan pertama yang selalu manis. Ibu dan bapak yang sama-sama sibuk membesarkan perusahaan masing-masing, tiap malam menyempatkan duduk bersama di meja makan, mendengarkan anak-anak (yang dibesarkan pembantu) bercerita tentang betapa menyenangkan suasana di sekolah. Yah, peristiwa ini memang seharusnya, bukan senyatanya. Pada realitasnya sekarang, ibu dan bapak lebih sering makan bersama rekan-rekan kerja dan klien di luar, dan lidah anak-anak terpaksa lebih akrab dengan masakan pembantu yang referensinya apa adanya, begitupun dengan selera tontonan televisi.

Sementara selera ibu dan bapak sudah terbiasakan dengan makanan di luar rumah; menu-menu apa saja yang mudah diketemukan di sekitar tempat mereka bekerja atau mengadakan pertemuan dengan kolega. Semakin deras arus urbanisasi membawa efek lain dalam bentuk keberadaan penjual makanan pada suatu kota tujuan pencari kerja. Sampai-sampai, soto Madura dan Lamongan mewujud kuliner khas setempat yang klop bagi segenap umat, sementara tidak semua orang Bandung suka soto Bandung, bahkan sekadar tahu pun tidak. Hambar, kata orang-orang yang saya kenal, sebagaimana makanan Priangan lain yang begitu-begitu saja, katanya, sama saja dengan sajian sesehari, padahal bagi saya, lebih hambar suatu hubungan yang dipaksakan kemudian didorong dilanjutkan ke jenjang entah itu.

Ngomong-ngomong perihal masakan hambar. Saya percaya, pembentukan selera lidah paling ideal adalah berasal dari olah tangan ibu sejak kita kecil. Memang, belum tentu semua ibu mahir memasak seperti Ibu Sisca Soewitomo atau sekaligus semolek Farah Quinn. Bila boleh jujur, masakan ibu saya pun tergolong hambar. Alih-alih membuka rumah makan dengan nama "Rumah Mamah", sepertinya sulit untuk memenuhi standar 'maknyus' atau 'nendang' atau 'lazies', maupun melampaui 4,5 bintang di situs-situs pengulas makanan. Makanya sejak dulu, saya agak segan untuk membawa teman-teman ke rumah lama-lama, selain karena rumah kami tidak ada halamannya, untuk parkir motor pun susah.

Namun demikian, setidaknya ibu tidak akan setega mamang gorengan untuk turut melumerkan plastik minyak curah ke wajan panas tatkala menggoreng perkedel jagung. Meskipun kurang garam sebab beberapa pelanggannya hipertensi, tidak terlalu gurih karena sudah berhenti pakai vetsin belasan tahun belakangan, dan dimensi yang jauh dari kaidah proporsi, saya merasa aman mencicip lantas membekalnya bersama capcay untuk makan siang di kantor pun, dan yah, aman pula bagi keutuhan gaji yang masih jauh dari batas bawah taraf kelas menengah ini.

Saya pikir anugerah aktivitas makan adalah nikmat yang paling besar dari Yang Kuasa. Sebab apa susahnya bagi Tuhan untuk mengenyangkan jutaan perut manusia tanpa kita harus berepot-repot mengunyah dengan gigi berlubang setelah sebelumnya untuk mencari dan memperolehnya pun susah. Mungkin saya takkan pernah mencicip ajaibnya santan rendang Minang dan kuah tujuh rupa lainnya, hasil dari perjuangan memeras otak dan meredam sakit enam hari dalam seminggu. Atau manisnya sepotong kue pada kencan pertama berlatar gerimis, mustahil dapat saya kenang tanpa karunia indera satu ini. Peristiwa nikmatnya makan sudah setara dengan kemenangan yang mustahil terasa bermakna tanpa adanya pengorbanan, dan sama-sama pantas untuk dirayakan.

Di luar mulai hujan, saat yang tepat untuk makan. Kebetulan Ibu sedang memanggang ketan. Mari makan![]

Photo credit: Robin Dahling

17 September 2016

Taifun

[Kepada Barasuara]

1

Di dalam hidup ada saat untuk berhati-hati atau berhenti berlari

Kau selalu tergelisahkan dengan pertanyaan: apakah kaki lebih cocok digunakan manusia berjalan atau berlari? Sedari kecil kau tak pernah kencang berlari. Badanmu terlalu berat untuk berlari sementara sebayamu terlahir dengan genetik kurus-kurus sehingga nyaman berlari meninggalkanmu terbelakang. Ketertinggalan semakin terkondisikan oleh tidak ada kejuaraan berjalan kaki, kalau ada pun jalan cepat, sama saja adu cepat dan itu pun tidak sebergengsi kompetisi berlari.

Suatu hari kau mencoba pelarian tempatmu dapat berlari lebih kencang dari yang lain tak kuasa. Berlatih sampai raga letih meretih. Berpeluh-peluh dan berdarah-darah sampai terjatuh. Terjatuh lalu bangun lagi. Bangkit berdiri berlandas kaki yang pedih, bagaimanapun kau harus lanjut berlari agar tak mudah tersalip orang lain yang juga sama-sama mengusahakan kolam pelarian masing-masing.

Semakin kencang berlari kau kian merasa sendirian di antara banyak orang yang berlari sedikit lebih lambat atau bahkan jauh lebih lesat darimu, lampaui seyogianya. Padahal kaurasa belum mencapai apa-apa, masih bukan sesiapa, belum telurkan buah yang bagaimana-bagaimana. Gulir waktu tampak gerah dan jijik dengan masa lalu, memaksamu lebih cepat dan tambah lesat berlari menujunya: siklon taifun yang menyesatkan namun silau pukau untuk kauikuti pusarannya.

Dalam progres pelarian tanpa batas, kau berjumpa dengan lawan paling sulit tertaklukkan: dirimu sendiri, sehingga kauputuskan untuk sejenak berhenti, duduk berdua dengannya, berihat sesap kopi sepahit hidup. Kau ternyata lebih mengerikan dari iblis dan butuh iman dan kehati-hatian untuk kerkahkan batumu. Sialnya, kau lupa letak peti perkakas di mana palu ada.

2

Tawamu lepas dan tangis kau redam di dalam mimpi yang kau simpan sendiri

Petik-petik pentatonik mengutik mimpimu dalam tidur panjang pada derita malam panjang. Mimpi datang mengetuk lawang angan, yang telaten kauketik saban malam di halaman-halaman kosong tanpa gunduk-gunduk bunga dan rumpun pegagan. Hanya ada kau dan dia, yang sekarang tiada.

“Dunia bukan suguhan panggung tepat untuk kita dapat duduk manis dan tertawa selepas kita melepas kecam,” kau mengesah padanya, “relakan tawamu untukku, tukar dengan sedikit tangisku ya.”

“Tidak.” Rupanya dia menampik. “Aku malas berbagi tawa. Kau sendiri pelit bagikan bahagia. Aku ingin bahagia. Senantiasa. Ya!”

Kau tak punya pilihan selain mandiri meredam tangis, merendamnya dalam seember mimpi tersia-sia. Penghuni semesta milyaran, tapi tak satu pun rela berbagi tawa. Dan semua hanya ingin melihatmu tertawa dan bahagia. Tangis hanya cocok untuk dibenam mimpi. Mimpi, mungkin, adalah tanah pengurai segala, bukan pengabul doa.

3

Saat kau menerima dirimu dan berdamai dengan itu

Lelah berdoa membuatmu berhenti, menyesap kekosongan yang orang lebih suka menyebutnya kehampaan. Tiada peduli yang asli selain kau sendiri yang mengkreasi. Bukan dari orang lain sekalipun mereka menjual dan kau sebetulnya mampu membeli. Kau kontemplasi apa yang telah kaulakukan selama ini: kebodohan, kecerobohan, kemunafikan. Menerima orang lain, bagimu, jauh lebih mudah dari menerima dirimu sendiri. Hingga selama ini sudah berapa topeng yang kau kenakan berganti-gantian sesehari, kau lupa, entah sudah berapa kali ketahuan, kau jauh dari ingat.

Desah napas rutin bermain dengan udara gratis yang bersirkulasi tanpa butuh regulator. Apa lagi yang kau cari? Kau bersibuk telusuri yang tak ada. Menelisik sesuatu yang lebih asyik. Menerabas batas-batas. Merundung ragu. Yang terakhir adalah kesalahan. Usainya kau sadari, ragu cukup fungsional sebagai gawai lacak lokasi menuju impian fanamu. Sayang, kau lebih andalkan yakin yang rupanya hanya sebatas mungkin. “Tak semua yang kau inginkan akan mudah kau dapatkan.” Dulu kau benci dan anggap ayat ini semacam konspirasi yahudi, namun sekarang kau perlahan mengimani.

Pencarian segenap yang fana dari berjuta menggiringmu sampai pada papan petunjuk jalan yang mengarahkanmu kembali. Padahal kau sudah lelah berlari dan berlari. Jauh jarak yang sudah kau tempuh hanya menyuruhmu untuk menempuh jarak yang sama untuk pulang kembali pada dirimu sendiri.

Dalam perjalanan pulang kau bergulat dengan diri sendiri. Beberapa kali mengusahakan untuk membunuhnya supaya lekas enyah dari marcapada sebab tiada guna. Kalian saling tuding kesalahan, silih todong kelemahan yang kalian sama-sama tahu kalianlah yang sedang kalian saling caci-maki.

Berbulan-bulan perjalanan pulang, menyeretmu yang masih dalam pergumulan pertikaian ke pantai damai. Kalian berdua memang tak begitu mahir berenang, namun setidaknya kesiur damai pantai membelai batu di balik ubun-ubun hingga kalian terjerembab penat dipeluk pasir-pasir kasar. Kalian sama-sama alami kekalahan. Akankah saling mengakui dan tak menuding diri paling hebat?

4

Kau menari dengan waktu tanpa ragu yang membelenggu

Kecakapan waktu perihal mengukir keriput manusia senja, sama baiknya dengan kemampuan ia mengikis angan. Ia menggelinding cepat ketika kau tengah meneguk suka. Ia melambat saat duka sedang khusyuk merisak. Kau dambakan selasar tanpa ruang dan waktu. Sayang keduanya adalah suami istri yang harmonis.

Sesekali ruang pergi saat kau bermimpi. Hanya ada waktu bersamamu dan suatu masa kau diundang menghadiri pesta di kamar bola. Di sana hanya ada waktu, waktu, dan waktu. Ternyata banyak. Kau dapat memilih satu waktu paling cantik: yang kakinya bagus bersungkup stiletto, betisnya kurus, leher sejenjang angsa, bibir sepenuh harapan, mata seteduh pokok angsana.

Seperti ke mana pun, perjalananmu menuju kamar bola ditemani ragu. Kekasihmu? Tidak tahu. Ia bukan sesiapa tapi selalu ada sejak kau jatuh ke semesta. Sesekali ia mendekap sambil mencumbu, namun lebih sering membelenggu. Meski kau risih tapi ia seperti setan yang tiba-tiba ada tanpa kau sempat merapal doa. Sampai tiba di lawang kencana kamar bola, ia menghilang seperti angan. Yang kaujumpai di dalam hanya ada waktu, yang kelak satu paling menawan di antara waktu menari bersamamu.

“Ragu pencemburu ya,” tukasmu dalam hangat dekap waktu. “Padahal aku siapanya dia, sih? Tahu gitu, aku selingkuh saja denganmu dari dulu, waktuku sayang.”

“Emmh. Yah. Biar dia kencan dengan ruang saja. Dia cukup KDRT. Aku tak sanggup lagi mengisi ruang sepenuh waktu. Aku juga pengin punya waktu luang!”[]

09 September 2016

Kenangan yang Terpaksa Diganti dan Mustahil Kembali Lagi Tetapi Mungkin Memang Seharusnya Demikian Sayangnya Selalu Berat untuk Merelakan


Tidak puas meninggalkan jejak penyakit yang mulai aneh-aneh, tapak-tapak penghujung Agustus pun menginjak-injak masa lalu saya. Hard Disk Drive laptop rusak.

Mulanya, Selasa pagi akhir Agustus, terdengar bunyi klok-klok sesaat setelah saya menyalakan laptop untuk segera bekerja. Tampilan layar masih begitu-begitu saja, pertanda BIOS masih belum terangkat oleh boot. Lebih dari tiga kali dimatipaksa melalui tombol power, akhirnya OS berhasil booting. Namun dasar saya si penasaran dan tukang coba-coba alias si raja tega, saya shut down lagi laptop, ingin mengujinya apakah masih begitu. Ternyata masih. Bunyi klok-klok dan OS gagal booting, sebelum tiga-empat kali dimatipaksa sebagaimana sebelumnya.

Sesampai di rumah saya semakin gelisah ratapi nasib laptop saya. Masihkah dapat diselamatkan data-data yang telah saya kumpulkan dan kreasi lima tahun belakangan yang lebih berharga daripada harga dua juta sembilan ratus sembilan puluh ribu rupiah pada bulan Desember 2012. Hasil akhir adalah laptop saya tidak sanggup untuk booting, meski sudah lebih 20 kali saya pencet-pencet tombol power (iya, kelakuan biadab ini pula mungkin yang menambah kegagalan booting si putih untuk selamanya). Untungnya seluruh data pekerjaan sudah disalin ke flashdisk. Selebihnya: menguap seperti uang gajian.

HDD laptop rusak. Ah, cerita lama.

*

Akhir 2012 pun laptop pertama sebelum laptop ini mengalami hal yang sama. Gagal booting. Bahkan lebih parah, kalaupun berhasil booting, namun kemudian mati mendadak tanpa bilang punten. Analisis saya sama, paling-paling HDD-nya rusak entah bad sector entah memang terdapat ketidaksesuaian pemutar mekanisnya atau malah mainboard-nya yang telanjur kena. Hanya waktu itu saya langsung beli laptop baru ketimbang mereparasinya seperti sekarang, sebab saya masih kurang percaya dengan penyedia jasa servis apa pun di Bogor. Malas berurusan dengan penjual jasa di sana yang lebih sering bilang tidak bisa dan tidak ada.

Sementara sekarang, karena pekerjaan menjadikan laptop bagi saya seibarat cangkul bagi petani (sebetulnya sih emang gak punya duit lah, boro-boro bisa beli Macbook impian), ya sudah esok harinya terpaksa izin absen sehari demi mereparasi laptop ke salah satu gerai servis khusus laptop di Jaya Plaza Ahmad Yani, Bandung. Gejalanya langsung ketahuan: HDD-nya tidak dapat diselamatkan dan harus diganti dengan yang baru.

Tidak ada pilihan lain, saya mengiyakan satu-satunya solusi. Menunggu tukang servis membongkar hard disk lama dan membersihkan seisi laptop termasuk mengakali kipas prosesor supaya terus berputar konstan dengan kecepatan maksimal karena laptop beroperasi langsung dari sumber arus bolak-balik tanpa baterai, pekerjaan yang sebelumnya tidak kepikiran untuk dilakukan sendiri.

"Hard disk lamanya bisa dibenerin gak, Kang? Sayang euy, banyak kenangannya."

"Bisa. Tapi lama dan mahal. Minimal seminggu, biayanya sejuta lima ratus lebih lah. Itu pun belum tentu berhasil. Kalaupun berhasil, belum tentu semua sektor hard disk selamat, A."

"Sejuta lima ratus? Emang harga hard disk 320 GB baru berapa?"

"Tiga ratus lima puluh."

"Oh, gila, benerin hard disk lama hampir setara lima kali beli hard disk baru?"

"Begitulah, A. Tapi kebanyakan sih pada nyerah atau saya yang udah gak sanggup. Tuh liat, tumpukan hard disk rusak orang-orang di dalam etalase."

Di balik etalase sebelah kiri saya yang tukang servis tuduhkan, memang saling tumpuk aneka hard disk berbagai kapasitas dan merek. Tindih-menindih. Cenderung berantakan, seperti tidak ada harganya bahkan bagai tidak pernah alami masa-masa berharga. Kata tukang servis, banyak yang merelakan hard disk lamanya di sana. Tidak dibawa pulang. Mungkin karena tak ada gunanya membawa pulang dan menyimpan hard disk yang sudah mustahil diakses. Yah, merelakan sesuatu atau seseorang kenyataannya memang menyakitkan. Tapi harus dan mau bagaimana lagi. Barangkali hard disk baru akan lebih baik... setidaknya lebih awet.[]

04 September 2016

Sabotase Notifikasi Tinggi


Sabtu malam seminggu yang lalu, saya memaksakan pergi ke dokter sebab sudah tak sanggup menahan rasa sakit di telapak tangan kiri. Walaupun sempat ingin mati, sejujurnya saya tidak berani-berani amat hadapi hidup setelah mati. Jadi, saya periksakan saja kesehatan saya supaya dapat kembali bekerja dengan nyaman sentosa, meski taraf kemakmuran ini masihlah jauh, setidaknya dunia ini selalu menarik untuk ditunggu kelucuannya.

Terdapat tonjolan di telapak tangan kiri. Jika dipencet rasanya sakit. Kurang lebih seperti rasa yang ditinggalkan tisikan jarum donor darah: dua tiga hari kemudian pegal dan kebas seperti ada yang mengganjal, pernah merasakan? Nah, semacam itu: pegal, sakit, mengganjal, ketiga sensasi ini mengganggu aktivitas saya yang lumayan menguras emosi dan iman selama empat hari, dan hari ke empat saya menyerah.

Sebelum masuk bilik periksa, lengan saya dikepit sabuk tensi oleh perawat. Dahinya berkerut saat matanya mengeker jarum tensi. Sekali lagi ia mengulang pengukuran, sebelum beritahukan bahwa tensi saya 160/100. Tinggi sekali, katanya. Pusing tidak, tanya dia. Saya tidak merasa pusing waktu itu. Biasa-biasa saja. Cuma tonjolan di telapak tangan kiri yang sakit. Kepala tidak. Hati, sedikit. Tapi itu tidak penting.

Semasuknya bilik periksa, dokter memindai ulang tekanan darah saya oleh alat tensi digital, lebih akurat tentu saja. Hasilnya: 180/110. Saya mendadak lunglai. Aneh. Tekanan darah setinggi itu, orang-orang termasuk orangtua saya biasanya mengalami gejala pusing luar biasa dan lekas dilarikan ke UGD. Tapi, saya kok tidak merasakan gejala itu. Saya duga ada kabel yang putus pada sistem syaraf sehingga gagalkan transmisi notifikasi tinggi tekanan darah ke otak. Butuh solder dan sedikit timah untuk kembalikan fungsi semula, barangkali.

Dokter bilang gejala sakit di telapak tangan ini bukan berasal dari bisul. Saya pikir juga demikian, toh tonjolan ini tidak berwarna selayaknya bisul yang merah. Namun disebabkan keseharian saya mengendarai motor kopling 55 kilometer pulang pergi setiap hari, dan macet sepanjang jalan, bukan cuma di persimpangan. Dan penyebab tensi tinggi, selain faktor genetik saya yang sungguh jelek, tentu karena kebanyakan makan mi instan, batagor Isan hampir tiap pulang kerja, dan santapan gurih lainnya. Bekerja sebagai kuli data beberapa bulan belakangan memang merangsang selera makan yang maksimal; kalau tidak manis sekali, ya gurih paripurna. Kehambaran cuma kesia-siaan.

Pemuda 25 tahun. Ubanan. Sarjana Kimia tidak terpakai. Bekerja serabutan. Tensi darah 180/110. Indeks Massa Tubuh demikianlah adanya. Masihkah negara ini sandarkan harapan perubahan kepada pemuda? Bukankah yang tua-tua di sana masih ingin terus berbahagia? Ah, baiknya minum obat dulu. Tidur siang. Mimpi yang panjang. Kecup rindu: nasi padang.[]

22 August 2016

Seperempat


Apa yang saya rasakan jelang pergantian hari ini? Biasa saja. Sebiasa sambut hari Senin yang terkondisi sarat kebencian itu. Pagi nanti saya harus bekerja sebagaimana biasa. Sebelum mandi dan berangkat, seperti biasa melahap 7 minutes workout terlebih dahulu, agar selalu sehat menghadapi yang sakit. Menyelesaikan yang takkan pernah selesai. Menghadapi hal biasa yang menolak dihadapi dengan biasa. Berusaha mencintai yang tiada.

Tapi memang, wahai sekte 91, hari ini saya resmi bergabung dengan kalian. Berikut saya angsurkan lembar fotokopi KTP untuk distempel dengan angka dua dan lima besar-besar, atau digunting seperempat bagian, sesuka kalian. Asal jangan kalian kasihkan ke partai berwarna orang meninggal, ya. Saya masih ingin hidup.

Bersyukur, teramat bersyukur, saya dapat mencapai seperempat ini, akhirnya. Memasuki awal tahun, saya mulai terbentur berkali-kali, demikian bulan demi bulan. Suatu hari saya sempat ragu untuk melanjutkan hidup dan mantap untuk mengakhiri saja. Manusia memang perlu terbentur untuk kemudian dapat tulus bersyukur. Krisis seperempat itu benaran ada, penelitian belasan tahun silam itu tidak lebay-lebay amat seperti yang sebelumnya saya duga. Zaman memang sudah berbeda. Masalah baru datang bermacam-macam dan kadang mengada-ada. Sayangnya sifat manusia dari dulu selalu sama. Selalu mencari yang tak ada.

Ke mana mimpi-mimpi itu melejit? Mungkin masih menggantung manis pada ketiak langit. Kenyataannya, kita harus berdiri sendiri di permukaan bumi, tak baik menggantung apa-apa pada apa dan siapa, bolehlah sesekali menjerit bila memang kepalang sakit. Rasa peduli hanya cocok untuk diritualkan masing-masing, bukan demi tuntutan saling. Saya ingin pulang, pulang ke rumah. Letaknya ada di dalam hati sendiri, yang masih terbebat sarang. Semoga lekas tersibak ruang-ruang yang terang. Semakin lapang.

Sudah. Segitu sajalah. Menulis perihal seperempat sekadar dengan seperempat niat, ya beginilah. Lebih baik energi penuhnya saya limpahkan untuk tiga perempat mendatang saja, ya. Mari kita goyang jigo; dua lima, dua lima, semoga makin istimewahhh![]

Photo credit: Booji Wooji Man