Cepy Break


Kapsul Jeda

02 August 2017

Detail dalam Dunkirk


Menonton film-filmnya Nolan, hanya ada dua kemungkinan. Pertama, benci beberapa kali mendengar celotehan di belakang, "Ah, gini doang? Datar!" Atau kedua, kita hanya dapat terdiam, entah takjub, terpesona dengan kegemilangan Nolan, atau bener-bener gak ngerti abis nonton apaan. Tetapi, setelah Inception, Interstellar, saya lagi-lagi harus menjura kepada bapak jenius itu karena sukses melahirkan eksperimen selanjutnya.

Tidak ada tokoh utama. Tidak ada pahlawan. Semua hanya sedang bertahan hidup. Dan ternyata, untuk sekadar bertahan saja, sangat sulit bagi manusia mana pun. Meskipun sudah berlari, melompat, berguling, mengerahkan kekuatan ekstra berkat bertahun-tahun ditempa di medan latihan, bagaimanapun peluru tak mengenal training hours. Yang kita butuh cuma sedikit keberuntungan.

Bersama seorang serdadu lain, tokoh yang sering disorot dalam film ini (saya tidak tahu namanya sebelum saya berusaha mencari di IMDB, dan saya tidak dapat mengatakannya sebagai aktor utama karena percayalah, tidak ada yang benar-benar tersorot sebagai pahlawan di sini) berhasil menghindari tajam peluru, menyusup ke atas perahu atau kapal pengevakuasi dengan cara menggotong prajurit cedera supaya dapat mudah naik tidak peduli dia tentara Inggris atau Prancis.

Dia dan ratusan ribu serdadu lain berusaha bertahan di dermaga Dunkirk dari musuh yang tidak nampak, dari darat, laut dan udara. Ini yang saya salut dengan film ini. Lebih mencekam mana, musuh yang terkesan kuat, seram di mata kita, jelas-jelas nampak sulit dikalahkan, ataukah musuh yang kita tidak tahu di mana mereka berada, akan tetapi peluru demi peluru tiba, semakin mendekat, seakan mereka tinggal beberapa hasta dari tempat kita berlindung?

Saya lebih takut dengan musuh yang tidak nampak. Dan Nolan, saya pikir, cukup berhasil membuat saya percaya akan kehadiran musuh tersebut. Dengan scoring mencekam khasnya, situasi lokasi dan suasana hati pemain yang kelam, dan tempo yang seolah tak berujung, menggiring benak saya dari adegan yang mungkin bagi segelintir orang membosankan, namun saya menikmatinya sebab bagai turut tenggelam dalam layar lebar. Ya, ini patokan film bagus menurut saya; yang sukses membuat saya tenggelam, bagaimanapun deras-lambat alur ceritanya. 

Dunkirk bukan film terbaik Nolan. Dunkirk adalah eksperimen terbaik yang pernah diwujudkan olehnya. Detail, ya mungkin inilah kata kunci untuk Dunkirk. Saya disuguhi detail adegan, detail suasana yang mungkin ibarat Nolan sedang melukis, dia sedang mencoba aliran realisme campur romantisme namun terkadang impresionis, membuat saya memercayai apa yang terjadi, serta membuka kepenasaran saya untuk mengorek sejarah Inggris lebih detail lagi, apakah ini memang sungguh-sungguh terjadi? Atau Nolan pantas mendapat penghargaan kategori pendusta terbaik?[]

29 July 2017

Ngulik 2: Nyatanya Bukan Cuma Nyegerin


Sekali lagi Cak Lontong bikin saya gemes. Iklan Spritenya makin gila, makin aneh, tapi makin keren menurut saya. Kenapa?

Komedian satu itu populer dengan materi canda yang konon nyuruh mikir, bukan ketawa. Wajah yang hemat menebar senyum, apalagi tawa. Dan statement-statement dia sering bikin kesel, tapi setelah dipikir-pikir lagi, bener juga sih, gak ada yang salah, ada benernya juga, meski kita tetap dongkol.

Menurut saya dia menciptakan semacam anti-teori dari komedi-komedi yang dihasilkan. Dengan gimmick tak mengharap tawa audiens di mana hal ini tentu saja merupakan goal utama siapa pun yang mengaku sebagai komedian. Dia hanya mengeluarkan untaian kalimat yang terdengar formal; "sangat korporat", lain hal dengan mayoritas komedian populer yang lekat akan kata-kata "lo tau gak sih" atau "gue sebel" dan "gue benci".

Barangkali gara-gara kelakuannyalah mengapa Sprite memilih Cak Lontong sebagai narator, dan mungkin pula, sedikit banyaknya berperan dalam perancangan skrip beberapa iklan mereka.

Termasuk salah satu dari beberapa konten iklan Sprite yang dinaratori oleh Cak Lontong ini, kebetulan baru tayang beberapa minggu. Setelah Nyatanya Nyegerin, dia lagi-lagi muncul dengan tagline Nyatanya Pas! Dan kampretnya, iklan Sprite dia jadi efektif berkat kepiawaiannya beranti-teori. Perhatikan pernyataan pertama dalam tayangan iklan tersebut:

Nyatanya SPRITE KEMASAN PAS! Pas di kantong.
Tapi ya gak pas basah juga
Geblek gak sih? Sebelum-sebelumnya saya perhatikan, belum ada perusahaan yang berani beriklan seapaadanya iklan ini. Andaikata dituangkan dalam mayoritas formula iklan-iklan selama ini, paling-paling bakal kayak gini:
Nyatanya SPRITE KEMASAN PAS! Pas di kantong.
Enak dibawa ke mana aja kalian pergi
Buruan cobain!
Yah, saya yakin 90 persen bakal menerapkan formula aman seperti premis di atas. Mari kita coba "benerin" premis selanjutnya iklan tersebut:
Pas di dompet,
tapi ya gak usah dimasukkin!
Pas di dompet, lazimnya sebagai kiasan dari harga yang terjangkau. Namun sintingnya, Cak Lontong membelokkan makna premis tersebut secara literal: Pas di dompet, jadi botolnya dimasukkin ke dompet. Gila lah, masih fresh sih formula ini sekarang, yah, setidaknya setiap premis menimbulkan senyum dari siapa pun yang menyaksikan, dan puncaknya adalah pada premis terakhir di mana aktornya tiba-tiba mandi-mandi bahagia lantas Cak Lontong bilang "gak usah lebay".

Iklan 30 detik yang terasa seperti 10 detik saja, sebab saya menikmatinya sebagai kebaruan, setidaknya kebaruan di media mainstream Indonesia. Saya yakin kalau di youtube (masih tergolong media non-mainstream untuk saat ini, menurut saya) banyak iklan yang lebih kampret idenya, namun secara demografis, iklan Sprite nyatanya memang selalu pas berkomunikasi dalam bentuk visual maupun audio visual kepada khalayak dari kalangan mana pun.[]

05 July 2017

Ngulik 1: Parodi Drama Korea dari Axis


Baik, sebelumnya saya jelaskan sedikit. Ngulik adalah kependekan dari Ngulas Iklan, opini subjektif banget dari saya mengenai iklan-iklan apa saja yang menurut saya menarik untuk diulas. Moga ke depannya saya konsisten ngulas iklan demi iklan dengan hati yang riang ya. #halah

Provider telekomunikasi Axis tak mau ketinggalan mengikuti tren korea-koreaan dalam bentuk parodi, yang sebelumnya berhasil dikreasi oleh Sprite dengan teriakan menggemaskan "Oppa!" namun nyatanya dijawab oleh Opa-opa beneran itu. Seperti biasa, karena target market Axis adalah anak sekolahan (yang budget pulsanya terbatas), pengisi iklannya pun didominasi oleh remaja berbaju warna-warni dan tingkah yang "anak muda mah bebas".


Remaja bergaun pink dengan dandanan ala K-Pop keluar dari sedan BMW, sambil nyanyi-nyanyi bahagia. Lari setengah nari sama cowok yang bajunya warna-warni, masing-masing megang hape dan kepalanya khusyuk nunduk, mungkin ceritanya lagi asyik Line-an, BBM-an, Whatsapp-an.

Scene selanjutnya lumayan cerdik karena bener-bener memanfaatkan isu yang lagi anget beberapa bulan lalu. Maung atau macan Cisewu yang lebih mirip kucing itu hadir dalam iklan ini! Macan lucu nan murah senyum tersebut nangkring cantik di komedi putar, warnanya ada yang oranye dan hitam. Saya yakin mayoritas pemirsa khususnya netizen setidaknya tersenyum menyaksikan scene yang diakhiri dengan adegan cewek dan cowok berkemeja polkadot yang berjalan berhadapan sambil tetap asyik dengan hape masing-masing lantaran tak khawatir kehabisan kuota lagi, mungkin.

Menjelang ending, cowok berpayung yang sok cool berpapasan dengan cewek yang heboh sendiri dengan hapenya, sampai-sampai terperosok ke galian fiber optic, lantas kemudian ditengok sama remaja-remaja berpayung di sekitarnya. Entah pada mau nolongin, entah kalau dilanjutkan mungkin malah mau nguburin orang yang sok Hitz. Katanya sih ini marodiin drakor Goblin.

Seperti sebelum-sebelumnya, iklan Axis yang secara disengaja kerap diproduksi urakan seurakan-urakannya, berhasil membuat saya atau mungkin Anda rela menontonnya sampai detik ke 30 tanpa merasa perlu meng-klik "skip ad" di kanal youtube, atau mungkin kita sengaja menunggunya muncul dalam commercial break di televisi.[]

30 June 2017

Paska Raya


Di kawasan pariwisata, bising tan-tin-tan-tin mengambang di udara berselimut polusi kendaraan aneka kota. Selain berekreasi, semua punya tujuan yang relatif sama. Pulang. Ke kampung halaman. Segelintir lain, sekadar turut memeriahkan. Ingin bersama-sama merayakan liburan pada musim lebaran. Tidak perlu ada liburan musim panas, musim dingin di sini. Liburan lebaran, saya rasa, sudah cukup mewakili aspirasi segenap rakyat, tak peduli musim rambutan atau durian, tak peduli muslim atau bukan.

Hari ke sekian lebaran, sudah tiga hari saya masuk kerja lagi. Kontras dengan lika-liku jalanan daerah wisata, jalan raya penghubung rutinitas masih lengang. Lampu merah hemat menyala, kelap-kelip oranye yang mendominasi. Sekolah-sekolah belum buka, bank-bank sedang cuti bersama. Penjual bubur ayam dan nasi kuning belum mau mangkal. Porsi nasi padang lebih sedikit dari biasa, Uda rupanya berupaya mengakali harga sembako yang masih di luar biasa.

Tiba di tempat kerja lima belas menit lebih cepat, dengan parkiran motor hanya terisi sepertiga kapasitas. Jalan pulang lebih lengang, kini gunung salak dapat saya pandang sebagai keindahan, sebelumnya luput, tatap semata terfokus pada kemacetan dan lebat hujan. Sebagian besar mengambil cuti, agar leluasa tunaikan tradisi menjelang Idulfitri. Mudik. Mulang ke udik?

*

Sejak kapan tradisi mudik diberlakukan? Tradisi yang menyenangkan, namun terkadang merepotkan. Memberatkan, bagi yang tidak punya uang. Menyedihkan, bagi yang sudah tidak punya ayah dan ibu. Mengenaskan, bagi yang sudah tidak punya kampung halaman, telah berubah menjadi kota mandiri berwawasan lingkungan (saya merasa lebih tepat dengan menyebutnya berwawasan perbankan). Menakjubkan, bagi yang justru harus bertugas di instansi masing-masing, pada hari kemenangan. Bukan, tugas bukanlah tali kekang, kita lebih suka anggapnya sebagai penghargaan dalam bentuk kepercayaan... yah, tak apa, katakanlah begitu.

Data statistik kecelakaan setiap tahun sebelum-setelah lebaran, bukan halangan bagi kita, mereka. Kematian, konon adalah takdir yang harus diterima masing-masing makhluk, semua pasti dapat giliran. Perkara waktu saja. Kebahagiaan bersama keluarga masih menjadi tujuan utama yang sontak memupus keraguan terhadap kehidupan pada masa depan serta kekhawatiran menyongsong kematian.

Tanpa urbanisasi, saya rasa, takkan ada tradisi ini. Arus perpindahan dari desa ke kota membuat banyak orang punya tempat asal dan tempat baru, sehingga selalu ada tempat untuk pulang. Dua puluh tahun mendatang, belum tentu. Orang-orang itu, termasuk saya mungkin, akan menjadi tua. Akan menjadi orangtua yang punya anak. Akankah anak-anak kita nanti berurbanisasi? Ke kota mana lagi? Bukankah Jabodetabek sudah mentok sebagai takaran kemakmuran? Atau ke luar negeri? Ah, memang mudah berpindah kewarganegaraan? Memang murah menjadi imigran?

Kesejahteraan, menimbulkan efek lain yaitu kecemasan. Jika sudah merasa makmur, kita cenderung ingin mempertahankannya sebagai keabadian yang seolah tabu diusik oleh siapa pun termasuk oleh Tuhan, mungkin. Bertahan di sana, enggan untuk melakukan perubahan, termasuk dalam bentuk perpindahan. Tentu tak mudah kelak mengizinkan anak-anak kita merantau ke kota lain yang menurut kita tidak ada yang lebih baik dari Jabodetabek dari segi jaminan kesuksesan. Mau ke mana lagi?

Tiga puluh tahun mendatang, Jabodetabek pada saat lebaran, mungkin, tetap ramai. Kita tidak butuh lagi jalan tol sepanjang apa pun sebagai penyalur hasrat pulang, sebagai penuntas rindu. Orangtua dan anak tinggal di kota yang sama. Orangtua bakal berat membiarkan anaknya meninggalkan potensi kemakmuran berupa lokasi kota strategis untuk berkarier dan menimbun investasi. Pasti. Saya rasa, tidak akan jauh-jauh dari tempat saat ini, sehingga arus mudik takkan lagi sederas sebelum-sebelumnya. Pulang bukan lagi perjuangan tahunan menahan pegal puluhan jam di darat, laut dan udara.

Sementara itu, desa-desa bergeliat mengejar nilai-nilai tertentu supaya tersebut sebagai perkotaan, namun tentu bakal berat prosesnya. Semustahil Mi Sakura yang dapat melampaui market Indomie. Namun, setidaknya, semoga desa melahirkan generasi yang betul-betul terlahir untuk membangun desa, bukan seperti saya yang meninggalkan begitu saja desa demi mengejar hasrat pribadi yang (mau bagaimana lagi) belum saya temukan padanannya di sana. Desa nanti, menyediakan semua, apa pun yang dibutuhkan penduduk tanpa harus pergi dari sana ke kota. Termasuk kemakmuran untuk semua.

Selamat lebaran untuk kemarin. Selamat memamah remah-remah liburan untuk dua hari besok. Selamat menimbun benci, menyambut suci. Sekali lagi, sampai nanti.[]

08 June 2017

Ketika Sudah Jauh Berjalan

Okay, lagi-lagi ini akan menjadi tulisan berbau nostalgia.

Sebulan ini saya merasa sangat lelah, mungkin sampai dua minggu ke depan. Kembali dikejutkan oleh tensi darah yang tinggi: 160/110. Mungkin saya memang harus sama sekali meninggalkan gorengan, mi instan, jeroan, percayalah, seharusnya gorengan berada di urutan setelah rendang sebagai makanan terenak sedunia. Kapan mau meninggalkan? Lupakan.

Sejenak, saya tersadarkan bahwa rasa lelah—atau dapat pula dikatakan sebagai kepayahan—ini muncul, mungkin, karena setelah direnungkan, saya sudah cukup jauh berjalan. Mengejar entah stimulus apa yang selalu berkecamuk di kepala, selalu berubah-ubah setiap saat, satu jam mendatang mungkin sudah lain lagi. Yang memaksa kaki saya berjalan, terus berjalan, sulit sekali untuk sekadar menepi sebab selalu dikejar-kejar mimpi yang selalu nisbi.

Waktu yang panjang belum tentu membuahkan hasil yang saya inginkan.

Pada tahun 2006 Italia juara Piala Dunia. Zidane menanduk Materazzi. Dan saat itu, saya lulus SMP, kemudian diterima dengan nilai pas-pasan di SMKN 1 Cimahi, angkatan 33. Ah, sudahlah, saya lebih suka menyebutnya sebagai STM Pembangunan Bandung. Lebih sangar, lebih gagah, lebih berwibawa.

Saya sangat meyakini bahwa sekolah itu telah 80 persen berhasil memahat karakter saya yang sekarang. Doktrin sekolah itu kurang lebih sama seperti tentara: lebih baik bermandi keringat saat latihan daripada bermandikan darah dalam peperangan. Empat tahun lamanya saya di sana, saya merasakan berbagai rasa yang komplet, yang membuat saya meyakini satu hal: tidak ada yang tidak mungkin. Periode selama empat tahun di sana serasa 2 atau 3 kali lebih lama dari seyogianya.

Sekeluarnya dari sana, saya merasa waktu cepat sekali berlalu. Kuliah? Terasa cepat sekali, beda dengan sekolah. Rutinitas, mungkin, memang tidak seperti pendidikan dasar yang melelahkan. Tahu-tahu sekarang sudah 2017, sebelas tahun berlalu. Dan saya masih belum menjadi apa-apa. Selalu kurang rasanya pencapaian yang saya peroleh. Terkadang saya bertanya, kapankah seseorang merasa dirinya sebagai apa-apa? Setelah berhasil jadi seorang Ayah? Setelah menjadi Supervisor? Menjadi Top Management? Direksi? Atau bahkan baru setelah pensiun mereka merasa dirinya berguna?

Yang saya amati, setiap langkah manusia kerap dianggap sia-sia oleh diri mereka sendiri, padahal belum tentu. Mengejar mimpi hanya mempertemukan saya dengan orang-orang yang lebih pandai, lebih rupawan, lebih komunikatif, sehingga saya selalu menjadi orang paling bodoh di antara orang-orang pandai. Dan anehnya saya selalu ketagihan berbaur dengan mereka. Banyak sekali langkah-langkah terlupakan, yang mungkin adalah sebuah nikmat yang besar, yang harus disyukuri. Dan memang apabila kita berjalan, cenderung ingin terus berjalan lebih jauh, lebih jauh lagi, dan enggan kembali ke posisi nol, sebab meski hasil yang dipetik tidak sejalan harapan, hidup harus terus berjalan ke depan.

Dan sekali lagi, mimpi. Atau kalau istilah mimpi berkesan terlalu mengawang-awang, kamu boleh menamakannya sebagai target, tapi saya tetap lebih suka menamakannya mimpi. Hal satu ini lebih sering bikin kita semua kecewa. Kenyataan selalu saja kurang dari target, lebih buruk dari target. Namun anehnya, sudah tahu kita selalu dikecewakan oleh mimpi, kita malah bermimpi hal-hal yang lain, yang lebih tinggi, lebih agung, lebih sulit digapai.

Kapan kita bersedia untuk duduk sejenak? Menengok ke belakang. Meresapi hari ini, saat ini, yang saya percayai lebih baik, jauh lebih baik dari hari-hari kemarin, bulan-bulan kemarin, tahun-tahun kemarin. Menyadari bahwa saya sudah cukup jauh berjalan. Hasil-hasil yang sudah saya peroleh sekarang, saya pikir, malah melampaui harapan-harapan, mimpi-mimpi saya pada masa lampau.

Tetapi, karena mimpi selalu nisbi, karena harapan selalu eksponensial, nikmat-nikmat itu luput saya sadari hari ini, saat ini, sehingga hanya perasaan lelah yang datang setiap saat, bukan rasa tabah. Tahun kemarin memang saya akui, berat sekali, namun membuat saya bersyukur sudah pernah mengalami dan melewati masa-masa sulit itu. Ketika setiap hari seperti hari-hari kosong tanpa tanggal, yang ada di dalam benak hanyalah kebencian terhadap kemampuan diri sendiri yang payah dalam menghadapi kehidupan ini.

Pertengahan tahun lalu saya menemukan harapan baru, berupa sebuah pekerjaan di Bandung, yang percayalah, jauh, sangat jauh dari mimpi-mimpi saya terdahulu. Pekerjaannya aneh, tidak sesuai background, tidak sesuai passion, alur kerjanya tidak lazim, jam kerjanya tak mengenal batas waktu. Namun saya menjalaninya dengan penuh keikhlasan, dan baru memahami bagaimana berperilaku ikhlas itu, yang ternyata nikmat untuk dijalankan, tiada lagi muncul beban-beban yang sesungguhnya tidak perlu dipandang sebagai beban.

Saat itu, berhubungan kembali dengan teman lama melalui Direct Message Twitter, satu-satunya media sosial yang tidak saya hapus. Perasaan itu kembali muncul, malu-malu. Namun pikir saya waktu itu, belum saatnya. Nanti pasti ada waktunya, entahlah, saya kok merasa yakin padahal pada masa itu hidup saya penuh dengan ketidakpastian serta keraguan.

Setengah tahun kemudian, saya kembali menghubunginya. Bersepakat bertemu di suatu tempat yang hangat, mengajaknya makan malam ditemani temaram. Berjumpa seperti sudah puluhan tahun saling mengenal. Tertawa lepas bagai punya referensi pahit-manis hidup yang sama. Bersitatap layaknya dua orang yang sudah saling percaya.

Malam ini saya menyadari, cukup jauh saya berjalan. Bersyukur masih dapat bernapas, bersyukur telah menemukan kamu. Mohon temani saya berjalan lebih jauh lagi ya, Gioveny... sampai kaki saya tak mampu lagi melangkah, sampai tidak ada lagi sudut dunia yang belum terstempeli jejak kita berdua, Cinta.[]

25 May 2017

Ekstra Puding

Enam belas hari. Cukup 16 hari. Andai lebih, saya rasa tidak akan sanggup lagi. Syukurlah, sedari kecil, kepikiran untuk jadi tentara pun tidak pernah terlintas, apa lagi bercita-cita. Saya pengen jadi orang sipil aja deh, yang bisa bebas nongkrong di mana-mana, bebas makan di mana-mana, dan bebas mengucapkan selamat pagi cukup dengan kata selamat pagi.

Keluar dari pusat pendidikan Senin siang kemarin, saya teringat ketika Brooks keluar dari penjara Shawshank. Bingung melihat peradaban. Brooks sudah puluhan tahun tidak melihat dunia luar, saya cuma dua minggu, tapi rasanya untuk menyeberang jalan pun sama susahnya sebagaimana Brooks hambir ditabrak mobil. Semua mendadak asing. Kaget saat becermin karena merasa saya jelek sekali dengan kulit wajah maupun sekujur tubuh yang gosong, kepala botak yang tumbuh malas-malas, serta mata bergayut kantung. Ingin kembali lagi? Brooks iya, tapi saya, tidak, terima kasih.

Ada satu istilah di sana yang berkesan bagi saya sampai sekarang. Ekstra puding. Istilah pengganti untuk coffee break atau jeda 15 menit sekitar pukul 10 pagi. Apakah menunya cuma puding? Tidak ada sama sekali, malahan. Yang justru sering hadir adalah getuk, kue talam, lemper, dan lontong. Puding, yang termaktub sebagai nama, tidak pernah ada.

Kenapa berkesan? Tidak tahu. Seneng aja dengernya. Tak perlulah alasan. Seperti cinta, kalau terlalu banyak alasan, mungkin kita tidak sungguh-sungguh terkesan.

Ekstra puding. Puding, makanan yang setengah padat, setengah cair. Lembek. Tapi membuat segar siapa pun yang memakannya. Manis. Dingin. Mudah ambyar, tapi tak apalah karena puding bukan rakyat yang konon harus senantiasa bersatu. Toh lengket-lengket juga kalau ditambah fla susu.

Memang, makan apa pun di sana, tidak ada yang bikin enak. Sangat tidak dianjurkan untuk direview Food Blogger. Pagi, siang, sore, semua menu dapur yang aroma seisi ruangannya bikin mual harus dimakan tergesa-gesa karena katanya di sana bukan warteg atau restoran. Selain ke diskotek, FPI harusnya sidak juga ke sana karena cara mereka makan tidak sesuai sunah rasul yang menganjurkan mengunyah 33 kali sebelum ditelan. Silakan kalau berani.

Apalah itu, barangkali setiap hari kita butuh kekuatan tambahan pada waktu tertentu. Tenaga ekstra. Dalam jeda yang tentu takkan pernah lama sebab waktu tergolong sebagai sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, mungkin. Dalam suasana ketergesa-gesaan, seolah-olah sepuluh menit kemudian mau kiamat saja. Supaya kembali semangat menghadapi apa pun, kita tak pernah tahu. Supaya kembali menjelma air yang hendak diapa-apakan pun tetap bergeming.

Apa merek pemutih wajah yang cepat mengembalikan wajah rupawan?[]

04 May 2017

Hujan Magrib


Pelet-pelet likuid mengetuk kaca pengemudi, menampar
helm pengendara, menenun peluh hasil memeras
seharian demi tuntutan entah siapa menuntut, tidak jelas,
tapi semua merasa harus tunaikan tuntas.
Masih banyak yang merasa perlu bekerja keras.

Ingin lekas sampai rumah adalah kemewahan ketika
lampu langit mati menyalakan pompa awan-awan hitam
gendut menjelang pukul lima dan tidak ada yang
tahu kapan ia berhenti. Semua ingin
pulang tepat waktu, sudah cukup bahagia.
Kesuksesan tak pernah tepat waktu.

Tenda bubur ayam ramai, tenda pecel lele semarak.
Tidur tenang ibu-ibu penjual tahu granat, pisang cokelat, seblak keparat,
sudah cukup lelah menggaruk inovasi apa lagi untuk
memuaskan pelanggan yang tidak lebih setia dari penyintas politik.

Jas hujan bocor, aspal licin, lubang menyamar, menyita
stok waspada yang sudah habis seharian. Tidak ada yang luar biasa;
luar biasa hanya milik pebisnis asuransi dan penjaja mimpi.

Merakit perahu kertas saat hujan, mengapungkannya
ke parit. Sabar menunggunya mengambang jauh.
Atau keburu lapuk oleh hujan tanpa sempat melajukan harapan.
Butuh lebih dari sekadar harapan untuk terus berjalan.[]