Cepy Break


Kapsul Jeda

15 January 2017

Perpanjangan STNK Tahunan Bisa Dilakukan di Samsat Seluruh Jawa Barat


Bisakah memperpanjang STNK bukan di Samsat Penerbit? Bisa banget!
Asalkan STNK Anda diterbitkan di daerah yang tercakup Provinsi Jawa Barat, maka Anda dapat mengurus perpanjangan STNK di Samsat mana saja di areal Jabar, kecuali jika STNK Anda diterbitkan oleh Polda Metro Jaya alias DKI dan/atau Polda luar Jabar lain.

Iya, saya juga baru tahu hari Sabtu kemarin. Kebetulan tanggal 17 Januari adalah tanggal jatuh tempo STNK motor saya, dan karena tidak sedang berada di daerah STNK itu diterbitkan, beberapa minggu belakangan saya gelisah juga kalau sampai ditunda-tunda sampai waktu senggang benar-benar ada untuk pulang mengurusnya ke Bandung, tahun depan pun belum tentu ada. Apalagi katanya tarif pengurusan STNK naik, ini nih yang bikin makin males ngurusin.

Tapi mau gimana lagi. Daripada suatu saat ada pemeriksaan polisi saya apes ditanyai kelengkapan surat-surat, berabe dong. Meskipun saya baru tahu perihal pajak kendaraan yang mati seharusnya bukan polisi yang memvonis kita salah atau tidak, itu urusan kita dengan fiscus, tapi ya sudahlah, kita bisa apa. Disiplin dan waspada lebih baik.

Syukurlah Samsat Kab. Bogor buka pada hari Sabtu, walaupun hanya setengah hari. Pada hari Sabtu, pendaftaran antrean pertama dibuka pukul setengah sembilan dan ditutup pukul sebelas siang. Meski malas dan cuaca yang mendukung untuk semakin malas, saya memaksakan diri berangkat ke Samsat Kab. Bogor yang berlokasi di sekitar Stadion Persikabo. Setiba di sana saya langsung mencari keberadaan Customer Service.

Samsat penuh sekali ternyata, termasuk CS-nya. Mungkin karena hari Sabtu, hari kebanyakan kaum proletar libur dan tidak mungkin sempat mengurus administrasi negara macam STNK ini pada hari biasa. Dan juga saya rasa bangunan Samsat Kab. Bogor tidak terlampau luas bila saya bandingkan dengan Samsat Cimareme.
Apakah karena lebih sempit maka pelayanannya jadi lebih lama?
Oh, ternyata malah lebih cepat. Mungkin karena kapasitas tampung ruangannya lebih sedikit, maka nomor antreannya pun tidak sepanjang di Cimareme. Cuma harus kuat berdiri aja, tersebab ruangannya kecil tentu saja kursi-kursi tunggunya pun tak banyak. Tapi toh prosesnya tidak terlalu lama. Saya memasukkan formulir ke loket pendaftaran sekitar pukul sepuluh kurang, dan kurang dari satu jam kemudian saya sudah menerima STNK yang sudah diperpanjang di loket penyerahan.

Ngomong-ngomong, dari mana saya tahu informasi bahwa perpanjangan STNK tahunan bisa dilakukan di seluruh Samsat areal Jawa Barat? Tentu dari Customer Service. Sebab walau sebelumnya sudah googling di internet, saya belum menemukan artikel yang tepat dan kebanyakan kurang tegas menyampaikan informasinya (entah mungkin kebijakan Samsat yang juga berubah-ubah). Mudah-mudahan artikel blog saya kali ini membantu Anda yang sedang mencari informasi tentang perpanjangan STNK ya.

Lantas bagaimana dengan gosok rangka plus ganti pelat lima tahunan? Apakah bisa dilakukan di seluruh Samsat areal Jawa Barat? Karena usia motor saya baru tiga tahun, maka tunggu infonya dua tahun lagi ya![]

NB: Kelamaan, woy!

08 January 2017

Fase


Sampai juga saya di 2017. Pekan kedua. Gila, cepat sekali waktu berlalu. Pikiran hanya membolehkan saya berhenti dan stagnan di 2012. Tidak lebih. Selebihnya hanya berjalan tanpa sadar utuh, berharap hari esok hari lusa lebih baik namun begitu-begitu juga. Mungkin masa-masa sebelum 2012 adalah yang paling menyenangkan untuk dikenang, sedangkan 2012 sampai sekarang, ya begitulah. Tidak terlalu, atau saya yang perlahan lupa cara bersenang-senang.

Sudah jadi apa sekarang? Belum, mungkin tidak akan. Saya masih laki-laki dengan segala ketakutan yang hinggap bergantian setiap sore hingga malam. Jika malam itu konten mimpi saya cukup baik, maka ketakutan segera berganti sebagai keikhlasan pada pagi hari. Sedangkan tatkala mimpi buruk, ia datangkan lebih banyak ketakutan, minta untuk diselesaikan hingga berserakan sebab tak kunjung mampu tertuntaskan.

Saya selalu menghindari tidur siang karena membenci kenangan yang sekonyong datang sebangunnya saya menjelang petang. Apalagi sore yang cerah seperti beberapa hari ini. Langit biru tanpa awan, bulan yang senyum lebih awal, dan waktu magrib yang terlambat, lewat pukul enam, sesekali filter jingga semesta turut bangkitkan suasana melankolis. Mengembalikan ruang ke masa lalu yang belum terlalu dahulu.

Sejak lima setengah tahun lalu hingga akhir 2014 saya biasa berangkat kuliah pada senja hari dan sial sekali mengapa harus senja karena senja adalah cakram penyimpan memori terawet dibanding blu-ray sekalipun, tanpa perlu mesin pemutar sudah terputar otomatis kala atmosfer mendukung, saat layung merundung.

Mengingatkan saya pada masa dahulu biasa keluar dengan seseorang dan sebelumnya saya harus melihat sekaligus meramal kondisi langit saat itu apakah cerah atau mendung karena saya hanya punya satu jas hujan dan itu pun repot membawanya. Masa-masa keluar sendirian tanpa perlu bawa uang banyak-banyak dan akhirnya celingak-celinguk di daerah asing. Tanpa memikirkan apa-apa, dengan siapa, besok bagaimana. So fearless.

Fase ini cukup menyiksa. Saya kira ombak dalam benak cukup menggolak di quarter life crisis kemarin saja, namun faktanya masih ada ataukah memang masih berlanjut dan krisis belum berakhir betul. Ruang selalu kalah cepat dari waktu dalam usaha mengkreasi impian dan harapan.

Tidak boleh seperti ini terus. Tergulung perubahan demi perubahan yang membosankan. Fase hanyalah fase. Baru satu bulan saya pindah kembali ke sini. Entah, apakah tiga bulan mendatang saya masih di sini. Tapi setidaknya harus menyusun rencana-rencana lagi. Agar lekas beranjak dari segala. Saya harus berlari agak jauh lagi setiap pekan atau malah dua kali dalam sepekan. Keluar rumah, pergi memotret, membekukan waktu yang saya yakin bakal makin gila menaklukkan ruang. Mengunggahnya di sini, dan menulis tentang potret paling berkesan hari itu.

Tapi, nanti saja ya. Ah, ya, selalu nanti, padahal waktu enggan sejenak pun berhenti.[]

Photo credit: Cameron Bowles

31 December 2016

Kilas Enam Belas

Ramalan saya gak salah-salah amat. Tahun ini ternyata emang lebih berat dari 2015. Perekonomian Indonesia makin enggak jelas. Imbasnya ke mana-mana. Ke hajat hidup orang banyak yang masih perlu subsidi tapi nyatanya subsidi bakalan bener-bener dinihilkan. Negara terus memperbaharui efisiensi anggaran tiap tahun. Masih giat korupsi aja udah sok-sokan ngikutin gaya korporasi dengan kebijakan efisiensi sana-sini.

Jangan tanya dengan hidup saya. Awal tahun yang sangat berat. Mengontrol hidup di 2016 sama beratnya dengan mengendalikan berat badan. Semangat naik turun. Harapan kembang kempis. Begitu pun isi dompet. Tidak seperti tensi darah yang konsisten naik terus dan lambung yang kembali menggolak sampai akhir tahun.


Senang sekali bisa menonton karya beliau langsung di bioskop, bukan lagi mengunduh dari internet seperti tujuh film sebelumnya karena saya yang terlambat mengetahui ada sutradara keren yang filmnya terkategori cult untuk dikoleksi bahkan dipamerkan dalam perbincangan sehari-hari.

Awal tahun ini saya menonton The Hateful Eight sendirian di studio bioskop yang sepi. Kalau tidak salah ingat, cuma ada delapan orang yang duduk di dalam studio. Mentang-mentang film ke delapan dan judulnya pun ada unsur delapan. Tidak seperti antrean padat studio sebelah yang sedang memutar film-film populer. Dan satu jam berselang makin berkurang dari delapan karena ada pasangan yang memilih exit sebelum credit title turun. Mungkin darah-darah di film hampir sama dengan warna lipstik pacarnya dan mereka enggan tercemari imaji mengerikan saat sedang intim berciuman.

Konflik yang lebih rumit dari tujuh film sebelumnya dengan scene dan lokasi minimalis, Tarantino masih mengusung kekhasannya, tentu tidak luput dari adegan menembak buah zakar yang epik itu. Katanya Tarantino cuma mau bikin 10 film seumur hidupnya. Dan karena ini film ke delapan, maka hanya tersisa dua karya beliau yang dapat kita nikmati setelah ini. Tolong, jangan sampai mati ketembak buah zakar dulu sebelum tuntas 10 film ya, Pak Tarantino.

2. Masak Sendiri

Beberapa bulan berlalu. Nasib belum berubah juga karena saya pun tidak melakukan apa-apa dan masih bingung menerima segala kenyataan saat itu. Saya memilih tinggal di rumah sendirian. Membobol tabungan untuk makan sehari-hari. Dengan tujuan mengirit agar tabungan habisnya perlahan-lahan sampai saya dapat pekerjaan, saya memutuskan memasak sendiri.

Belanja sayur ke tukang sayur. Tidak, saya masih terlalu malu untuk membeli sayur di tukang sayur yang lewat depan rumah. Saya beli sayur di kios pinggir jalan saja, dan kresek belanjaannya disamarkan ke dalam ransel sepeda. Ngirit tapi gengsi.

Hampir setiap hari saya memasak dengan membaca resep-resep simpel dari internet karena ribet sekali mempraktikkan resep dari ibu saya yang biasa menggunakan banyak rempah. Tempe orek, (masukkan daging-dagingan atau telor-teloran) asam manis, ayam teriyaki, kangkung saus tiram, sayur sop, tumis jamur, mi dan kwetiau goreng. Sepanjang bulan-bulan sarat keringat di dapur waktu itu, saya menyesal malah sering menyia-nyiakan masakan ibu saya. Ternyata masak itu susah, apalagi bila harus masak bervariasi setiap hari.


Sebenarnya niat melakukan hal satu ini sudah sering muncul sejak jauh-jauh hari sebelum 2016. Tapi saya rasa, bulan Maret (atau April atau Mei yah saya lupa) tahun ini adalah waktu yang tepat untuk menghapus semua akun media sosial. Mula-mula adalah Path, socmed yang selalu bikin anxiety berlebihan karena postingan kita dilihat oleh berapa orang pun kelihatan dan notifikasi love dari orang bikin kita euforia berlebihan. Kemudian Instagram, yah, sebelas dua belas lah dengan Path, malah lebih fana lagi. Google Plus sudah pasti karena dari awal pun gak ada seru-serunya.

Facebook sudah pasti dong karena udah gak ada juga temen yang maen di sana. Cuma akun Twitter yang masih saya aktifkan sampai sekarang. Sebenernya saya juga pengen deaktivasi Twitter, tapi kok sayang yah... banyak banget ceceran darah perjuangan enam tahun belakangan khusus untuk socmed satu ini, yah, termasuk followers yang segitu-gitu aja hahaha. Solusinya cuma saya atur jadi private account saja.

Dampak menghapus berbagai akun socmed bener-bener positif. Saya dapat kembali berpikir jernih tanpa pretensi dari siapa-siapa termasuk teman, keluarga, saudara, seleb socmed, pakar politik abal-abal. Lebih menghargai arti pertemuan offline dengan orang-orang di dunia nyata dan saya dapat bercakap-cakap dengan siapa saja tanpa beban karena saya tidak tahu apa masalah mereka yang biasanya saya ketahui ketika saya masih masif maen socmed terutama Path. Benak saya jauh lebih tenang. Hati saya lebih lapang. Lebih ikhlas menerima dunia apa adanya.

Sebenernya masih ada dua akun socmed yang susah banget dihapus: Pinterest dan My Space. Gregetan banget saya pengen ngehapus dua akun socmed itu, tapi kayaknya beneran mustahil ya soalnya mereka memproteksi diri dari deaktivasi akun. Ada cara lainkah?

4. Terpaksa Kembali ke Bandung

Stres lantaran kejelasan nasib tak kunjung muncul, akhirnya saya gencar melamar pekerjaan di mana saja, posisi apa saja, dan gaji berapa saja. Ternyata dapetnya malah di Bandung. Lokasi yang tidak pernah terpikirkan oleh saya untuk bekerja, karena yah, Bandung cuma nyaman sebagai tempat berwisata bukan untuk bekerja.

Ternyata benar. Bekerja di Bandung menyiksa sekali dalam hal perjalanan berangkat-pulang kerja. Macet sepanjang jalan, bukan sekadar di persimpangan! Apalagi akhir pekan! Ah, kedongkolan tiap pagi dan sore saat itu masih hangat dalam ingatan. Tapi demi pengalaman kerja pasca kuliah dan rekening bank yang harus terisi supaya tidak diblokir, saya berusaha ikhlas menjalani segala romantika itu.

Di Bandung, saya bekerja sebagai staf data entry di sebuah konsultan pajak. Pekerjaan utamanya adalah audit dan data controlling. Lucunya saya ditraining sama kelahiran 96 atau 97 ya, pokoknya dia lulusan SMA, dan masih kuliah akuntansi semester tiga. Bener-bener, kelapangdadaan saya waktu itu diuji. Diajarin ini-itu yang setelah direnungkan sih saya juga sudah paham sebelumnya, ditegur kalo salah padahal kan namanya juga baru banget belajar akuntansi setelah seumur hidup saya cuma terpapar sama ilmu engineering, sesekali diomelin karena perkara amat sepele, sama yang usianya lebih muda dan pendidikannya lebih rendah dan tingkat semangatnya masih semangat-semangatnya tapi labil itu cukup menguras adrenalin, terutama emosi dan harga diri. Sumpah, mana lagi bulan puasa.

Tapi yah, saya berusaha tidak menjadikan itu sebagai masalah dan saya menyadari bahwa dulu saat seusianya pun saya seperti itu. Sok Tahu dan Sok Benar adalah sinonim dari Anak Muda. Mungkin karena itulah Bung Karno suka dengan gairah Pemuda (dan istri muda)? Pada akhirnya, saya mampu juga, bahkan saya rasa dapat menyelesaikan pekerjaan lebih efektif dari yang mengajarkan saya, dan pada awal bulan 12, saya lepas landas dari pekerjaan di sana sesuai dengan etika dan peraturan.

5. Hipertensi

Life begins at 40. Masalah, penyakit, akan berdatangan setelah manusia menginjak usia empat puluh. Saya malah ngeduluin. Tidak lama setelah ulang tahun yang ke dua puluh lima, kepala saya puyeng banget ketika sedang bekerja, saat dalam perjalanan pulang-pergi kerja seperti mau pingsan. Setelah dicek dokter, ternyata tensi saya tinggi banget, bahkan bagi standar orangtua sekalipun, sementara saya masih merasa muda lah, masih dua lima kok.

Mungkin karena pekerjaan yang menuntut nol kesalahan (gak lucu kalo auditor salah ngaudit) dan hape mesti standby 24 jam melayani pertanyaan dari atasan dan rekan saya sampai-sampai tidur pun mimpi tentang kerjaan, dan tentu saja jarak rumah dan kantor yang jauh banget dalam segi waktu tempuh perjalanan dan kepadatan lalu lintas, kalau jarak sih seharusnya tidak tergolong seberapa jauh. Stres bikin darah tinggi.

Dua bulan kemudian, kepala saya pusing lagi, bahkan lebih parah, jantung berdetak sangat cepat saat terbangun dari tidur malam. Besoknya absen kerja lagi, dan kata dokter tensi darah saya masih belum turun juga. Sampai sekarang, saya rasa tensi darah belum normal-normal banget. Tapi setidaknya jarak tempat kerja di sini tidak sejauh saat bekerja di Bandung, dan lalu lintasnya masih waras. Kenapa sih masih pada betah di Bandung dan apa yang betul-betul dinikmati orang-orang berpelat B saat Sabtu-Minggu-Tanggal Merah-Tahun Baru dari Bandung? Fana sekali kebahagiaan kita ya.

6. Kembali ke Bogor

Awal Desember saya kembali ke Bogor. Dipanggil lagi sama perusahaan yang dulu sudah menguliahkan saya. Kala itu perasaan saya masih campur aduk mungkin karena sudah kepalang sering merasakan kepahitan dan kepedihan, jadi segala rupa di mata saya tidak ada yang sungguh-sungguh putih suci. Setiap hal pasti punya sisi gelap dan terang. Bukan hitam atau putih, tapi gradasi dari hitam menuju putih. Berharap Tujuh Belas menyenangkan. Biasanya yang mengandung unsur tujuh-tujuhnya itu pertanda baik. Apakah menikah pun pasnya di usia 27? Ah, lupakan.[]

23 December 2016

Berdoa Berdua

Senja di sini adalah pameran otomotif tanpa booth dengan kontes klakson di setiap persimpangan. Sinar lampu rem lebih semarak dari jingga keemasan yang suka dicuri para penikmat kesepian menggunakan tustel pembeku waktu. Jalan bolong sesekali melahap ban pengendara yang terbodohi sibuk. Tak ada pilihan selain merelakan.

Penyiar radio mengulang lelucon kemarin, kemarin, kemarinnya lagi, menghibur khalayak yang kembali mengulang kebosanan setiap sore menuju rumah, mungkin menghibur, satu-satunya pekerjaan yang merindukan konvensional.

Aku sedang ingin pulang berdua. Aku pernah mencoba berusaha berdua namun bertahun-tahun yang dapat kulakukan hanya berdoa agar tak lagi berdua. Manusia tidak pernah sungguh menikmati kesendirian, hanya saja karena lebih dari sendiri tidak menyelesaikan apa-apa, maka kebanyakan tidak melakukan apa-apa agar lekas menggandakan.

Mencipta peduli lahirkan pamrih untuk dipedulikan. Berkorban demi terima pengorbanan. Menjaga rahasia supaya rahasia terlihat sebagai wajar sepintas lalu. Mencinta agar dicinta. Siapa yang seharusnya lebih dahulu memberi?

Terbangun sebelum subuh tanpa dering beker mudah sekali apabila dunia mulai terasa penuh untuk dipikir dan dipedulikan. Kesempitan menyeret kamarmu yang semula terdampar berantakan di kepalaku mulai pindah ke bibir orang lain. Tapi mengapa kau serampangan membawa pula hatiku ke sana? Aku ingin baik-baik sendirian.[]

12 December 2016

Tanggal Merah


Selayaknya biasa setiap aku keluar rumah, kemacetan selalu setia menyambut pagi, kurang lebih sama seperti istriku yang senantiasa setia padaku yang sudah begini. Untuk berjalan saja susah. Harus pakai kursi roda yang didorong istriku. Sekarang, di dalam sedan ini, aku duduk di sebelah kiri, bukan di sebelah kanan untuk menyetir. Istriku yang berada di sana. Meski ia pun sudah tak lagi muda. Mengapa di dunia ini harus ada akumulasi usia yang mendiskriminasi tua dan muda? Ah, lupakan, kali ini aku tak ingin terlihat lebih perempuan dari istriku.

“Pagi ini macet sekali, Siska. Kamu lelah? Semalam kamu kurang tidur.”

Istriku fokus menyetir. Seingatku belum lama ia dapat menyetir, seusia penyakitku saja. Ia memaksakan diri untuk dapat menyetir sedan tua ini, jika tidak, aku sulit ke mana-mana. Naik angkot, repot sekali, sebab ke mana pun, aku memboyong kursi roda. Menunggu anak, betapa jauh tempat mereka bermukim dan bekerja, padahal bila diukur, tidak jauh-jauh amat karena pesawat dan kereta sudah murah dan nyaman. Sudah tua, menakar jalan ke mana pun terasa jauh bagiku. Tak lagi dapat pergi jauh seperti dulu. Lagi pula kata istriku, waktu mereka terlalu penuh untuk kami.

“Begini-begini saja. Sama seperti bulan-bulan sebelumnya, Kang.”

Aku tersenyum. Cuma ini yang dapat tulus kuberikan kepadanya sekarang untuk menebus ketotalannya pada segenap hidupku. Kugenggam tangannya, meremas jemarinya yang memeluk kemudi. Masih lembut seperti dulu, cuma sedikit keriput, yang sering orang lain seusiaku persoalkan. Beruntung tangan sebelah kanan belum mati rasa seperti sepasang kaki dan keseluruhan tangan kiriku, sehingga masih dapat kurasakan kasih yang mengalir di balik urat-urat punggung tangan Siska yang terhubung dengan organ kecil di dalam dadanya.

“Lepaskan. Aku sedang fokus menyetir. Aku tak mau lagi mengganti rugi pada anak sekolahan yang kebetulan terjatuh di samping kita. Padahal dia yang menyerempet mobil kita yang tak menyisakan ruang cukup luang dengan trotoar.”

Kubelai rambutnya. “Kalau rambutmu tidak ikut menyetir, kan?” Sudah putih semua. Tapi masih tebal dan lebat. Sementara kepalaku sudah selayaknya helm yang terguguri helai-helai daun cemara, sehingga setiap keluar rumah kusungkupi saja dengan songkok hitam. “Kamu cantik sekali, Siska.”

Istriku tak acuhkan. Mungkin sudah tahu kelanjutannya.

“Bagaimana kalau mampir dulu ke tenda lontong Padang itu, Siska. Pasti enak sekali. Sudah lama aku tidak makan enak. Setiap hari, kamu memasak untukku terlalu jahat, Siska. Tiga kali sehari, aku makan seperti makan dengan kapur berkuah.”

“Tidak.”

“Ayolah. Sesekali aku ingin menyantap makanan manusia.”

“Sekali tidak tetap tidak boleh!”

Seperti bulan-bulan sebelumnya, aku gagal merayu istriku untuk mampir makan dalam perjalanan ke rumah sakit. Membuang bosan, aku memutar tuas di pintu supaya kaca jendela saparuh terbuka. “Matikan saja AC-nya, ya.”

“Sejak kapan AC mobil kita dingin, Kang? Tak ada pengaruh mau jendela dibuka atau ditutup. Buka saja jendelanya kalau mau.”

Aku bersyukur kepalaku masih mampu menoleh ke kiri dan kanan. Sehingga sekarang dapat kupandangi toko-toko tua di kawasan pecinan yang sedang kami susuri. Dulu aku biasa berjalan-jalan di sana bersama istriku beli kain aneka corak untuk ia bikin menjadi baju anak-anak dan kadang-kadang bajuku. Mengudap croissant yang enak di kedai Soe Yun yang menjual pula susu murni dan kue-kue basah yang enak-enak. Akhir-akhir ini aku terlalu sering membayangkan yang sedap-sedap, padahal mustahil dapat kukudap. Kalau saja aku dapat pergi sendiri tanpa istriku.

Sedan tua kami melaju semampunya. Pelan merangkak, lintasi jalan-jalan kota ini yang semakin padat. Apalagi pagi dan sore. Sekalinya keluar rumah, aku harus berangkat pada pagi hari. Dan lebih sial lagi bila jadwal kontrol bertepatan dengan hari Senin yang sarat kebencian, seperti hari ini. Ikut bermacet-macet bersama para pekerja keras itu, yang berdasar pengalamanku, belum tentu bekerja sekeras rintangan perjalanan menuju kantor, energinya sudah terkuras di jalan. Dan tahu-tahu sudah tua.

“Kapan Diko pulang?”

“Tidak tahu. Tanya saja langsung padanya.”

“Arum? Windu?

“Kubilang, tanyakan langsung pada mereka. Aku sudah bosan mendengar alasan mengapa mereka betah-betah amat di sana. Sudah kaya raya barangkali. Tak tahu mereka alangkah repotnya mengantre di rumah sakit dengan kartu asuransi kesehatanmu yang sudah jadi milik publik ini. Semua orang bebas sakit kapan saja, sekarang. Makanya tambah penuh saja rumah sakit rujukanmu ini, Kang.” Kudengar kembali lagu keluh yang kerap mengalun dari mulut istriku. “Dan mengantre gaji pensiunanmu yang tidak seberapa itu di kantor pos. Turut berjubel bersama orang-orang yang mengaku miskin yang sedang menagih bantuan tunai bulanan.”

“Tidak seberapa, katamu?”

Istriku diam saja.

“Masih syukur segitu juga pemerintah masih peduli sama kita, Siska.” Aku lupa kapan terakhir kali marah-marah pada istriku. Sekarang Siska lebih galak daripadaku. Namun kini, sepertinya aku jauh lebih bawel dari dia.

“Aku juga pengin kayak orang lain,” dambanya. “Menikmati masa tua yang bahagia di desa perkebunan yang tenteram. Itu angan generasi kita, bukan? Setiap hari kita dapat memetik sendiri mangga, stroberi, anggur. Mau ayam tinggal tangkap dan sembelih. Mau ikan gurami tinggal menjala dari kolam. Beras melimpah. Listrik dan internet, ah tidak penting itu buat kita sekarang, bukan? Kita cuma butuh tempat untuk berdua. Bukan untuk dibagikan kepada dunia.”

“Di mana letak desa seperti itu, Siska? Seingatku, sejak aku masih bekerja sepuluh tahun lalu, tanah-tanah subur di daerah atas sana sudah banyak yang dipagari besi tinggi-tinggi, kemudian ditulisi nama orang kaya dari kota lain. Takkan lama kurasa, bakal disulap jadi kluster-kluster rumah singgah yang harganya terbeli hanya oleh mereka-mereka juga.”

“Kenapa kita tidak ikut beli saja, Kang. Tak usah luas-luas. Lima ratus meter kurasa cukup untuk tempat kita menunggu mati.”

“Kalau ada yang mampu kubeli, kutebus besok pagi.”

“Dulu kau kurang gesit seperti teman-temanmu yang dekat dengan pengusaha dan penguasa. Kau kan orang pajak, mudah saja bukan untuk menjilat mereka. Sedikit saja. Sedikit, kalau dari banyak orang kan jadi banyak.”

“Sudahlah, Siska. Dahulu aku bekerja dengan baik saja, pada hari ini aku stroke, semakin parah. Bagaimana andai aku bekerja lebih agresif dari yang lain?”

“Yah, bekerja jujur saja, kau nyatanya bernasib lebih payah dari rekan-rekanmu yang kau sebut bekerja berlebih-lebihan itu. Kudengar Pak Arus sudah punya perusahaan peternakan sapi yang lumayan besar sekarang di daerah atas.”

“Aku tak ingin apa-apa lagi. Rasanya sebentar lagi mati. Mungkin, mati lebih baik bagiku, sekarang. Beberapa kali aku sempat meminta kematian datang.”

“Aku juga. Sudah lelah rasanya di sini. Kurasa, di alam sana lebih baik.”

“Belum tentu juga, Siska.”

“Entahlah. Pokoknya aku lelah.”

“Lelah karena aku? Aku minta maaf,” sudah keberapa juta kali kata ini kuujar padanya, pada waktu kapan dan tempat mana pun.

“Sudahlah. Delapan tahun sudah cukup membuatku lebih kuat,” Siska mengerem sedan kami sebelum garis putih. Motor-motor dan angkot di belakang kami mengklaksoni, menyalip dan berhenti melampaui belang-belang zebra cross. Istriku memang terlalu patuh pada garis putih. Pada apa pun. Biarkan sajalah.

Sekisar dua kilometer lagi kami sampai di rumah sakit rujukanku yang kusambangi setiap bulan. Namun alangkah rapatnya saf-saf kendaraan ini, termasuk sedan kami. Motor-motor lebih beringas dari biasanya. Bukan tidak tahu, namun kurasa istriku sudah kadung bosan dengan capung-capung Jepang yang kerap mencakar bodi mobil di kanan maupun kiri, terlebih pada mulut bodi kanan-kiri dekat lampu besar.

“Kubilang tadi, Senin ini lebih macet dari biasanya, Siska.”

“Ah! Kau selalu berlebih-lebihan menilai keadaan, Kang, semacam mengira-ngira penyakitmu. Sama saja. Sejak kapan jalanan kota kita kosong melompong seperti gorong-gorong? Kota ini tak pernah berhenti bernapas, pada akhir pekan pun.”

Kujulurkan kepala ke luar mobil. Mengamati satu per satu kendaraan. Banyak sekali mobil bagus. Dan nomor pelatnya pun bagus-bagus setelah lebih saksama kuperhatikan. Motor tentu saja lebih banyak. Kusetel lagu lama yang mengalun dari radio tape, memutar nada-nada serak dari pita kaset. Sudah tak ada lagu baru dalam bentuk kaset dan aku sudah malas memperbaharui seperangkat sistem audio mobil tua kami.

Kurasa, dengan cara berjalan kaki, akan lebih cepat daripada mengendarai mobil untuk melenggang sejauh dua kilometer ini. Pedagang-pedagang yang dulu berjualan di trotoar memang sudah dimusnahkan walikota, cerai-berai berpindah ke beberapa daerah pinggiran dan perbatasan kota. Tapi kenyataannya masih sama saja macetnya.

“Ke mana tukang bubur ayam yang saking kentalnya, ia balik mangkuknya pun tidak tumpah itu pindah, ya? Dulu sembari berangkat bekerja, kita sering mampir sarapan di sana.”

“Mengapa tanya padaku? Pindah ke pinggiran barangkali.”

“Sepulang dari rumah sakit, bagaimana kalau kita mencari lokasi baru tukang bubur itu, Siska?”

“Sudah keburu siang, Kang. Pukul dua tidak ada bubur ayam.”

Apa lagi jenis makanan yang dapat kuajukan melalui proposal rayuan pada istriku. Banyak sekali tentu saja. Soto babat, gudeg, bakmi, rawon, sate kambing, gulai kambing, iga panggang…

“Tumben, parkiran sepi sekali, Kang.”

Kami sudah sampai di rumah sakit. Istriku tak sepayah biasanya ketika memarkirkan sedan kami karena hanya ada dua mobil di areal parkir yang tak seberapa luas ini. Selanjutnya, giliran menunaikan ritual untukku. Mengeluarkan kursi roda dari bagasi, lantas membimbingku berpindah duduk dari kursi mobil ke kursi roda. Ya, sejauh ini, istriku adalah perempuan yang paling kuat.

Kami meluncur menuju bangunan yang tampak menonjol dengan ornamen kaca, material ringan, dan warna-warna terang dibanding bangunan rumah sakit sekitarnya yang tampak tua dengan bedak-bedak kusam pada temboknya, untuk mengambil nomor antrean dari mesin yang ada di sana. Namun sepi sekali, sesepi parkiran barusan. Tidak ada orang di dalam sangkar khusus pelayanan asuransi kesehatan publik itu. Pintu masuknya pun dalam keadaan terkunci.

“Mengapa dikunci?” tanyaku.

“Biar kutanyakan pada satpam di sana.”

Istriku meluncurkan kursiku ke pos satpam.

“Pintu di sana mengapa dikunci, Dek?”

“Hari ini libur, Bu.”

“Libur apa? Sekarang kan hari Senin?”

“Tanggal merah. Saya tidak begitu paham ada peringatan hari apa. Yang pasti, hari ini tanggal merah.”

Mungkin kami terlalu tua untuk memperhatikan kalender seteliti dulu semasih bekerja, mengamati warna tanggal demi tanggal dan memicingkan mata untuk selidiki aksara-aksara kecil keterangan hari peringatan tertentu, lantas membulati tanggal tersebut dengan spidol. Siska mendorongku kembali ke pelataran parkir. Memindahkan tempat dudukku, melipat kursi roda, dan sedikit mengumpat saat tangannya kembali menggenggam kemudi.

“Sudahlah. Kita jalan-jalan sebentar sebelum pulang. Ya?”

“Yah. Jangan lama-lama. Aku belum memasak.”

“Sekalian kita makan. Kamu pasti lelah setiba di rumah. Lagi pula kau kurang istirahat semalam,” bujukanku memang membosankan, tapi semoga kali ini ampuh.

Istriku merengut. “Sudah telanjur. Baiklah. Aku kalah.”

Kami berencana pergi sebentar ke salah satu taman dari puluhan taman kota yang sudah cukup nyaman untuk dikunjungi setelah pemugaran. Mungkin tanggal merah menyuruh kami sejenak bernapas di luar, usai melulu terbekap di dalam rumah yang semakin pengap untuk kami mukimi berdua.

Taman yang kami sambangi ramai sekali. Kuamati di parkiran, banyak pelat-pelat luar kota yang tertambat di sana. Setelah melakukan ritual seperti biasanya, istriku mendorong kursiku menuju sudut yang setidaknya tidak terlampau ramai oleh manusia. Hanya ada bangku beton dipayungi teduh pohon-pohon tua.

“Tanggal merah setelah hari Minggu begini, mengapa tak ada yang menengok kita, Siska? Mengapa orang asing yang rajin ke kota ini dibanding anak-anak kita?”

“Kubilang, tanyakan langsung pada mereka. Jangan lagi-lagi menanyakanku tentang yang sudah-sudah! Aku lelah!”

Kali ini, aku bungkam saja. Khawatir Siska berubah pikiran perihal kesepakatan makan enak di luar sepulang dari sini.[]

Bandung, Oktober 2016

Photo credit: Normal's Overrated