Cepy Break


When you need to take a break

22 August 2016

Seperempat


Apa yang saya rasakan jelang pergantian hari ini? Biasa saja. Sebiasa sambut hari Senin yang terkondisi sarat kebencian itu. Pagi nanti saya harus bekerja sebagaimana biasa. Sebelum mandi dan berangkat, seperti biasa melahap 7 minutes workout terlebih dahulu, agar selalu sehat menghadapi yang sakit. Menyelesaikan yang takkan pernah selesai. Menghadapi hal biasa yang menolak dihadapi dengan biasa. Berusaha mencintai yang tiada.

Tapi memang, wahai sekte 91, hari ini saya resmi bergabung dengan kalian. Berikut saya angsurkan lembar fotokopi KTP untuk distempel dengan angka dua dan lima besar-besar, atau digunting seperempat bagian, sesuka kalian. Asal jangan kalian kasihkan ke partai berwarna orang meninggal, ya. Saya masih ingin hidup.

Bersyukur, teramat bersyukur, saya dapat mencapai seperempat ini, akhirnya. Memasuki awal tahun, saya mulai terbentur berkali-kali, demikian bulan demi bulan. Suatu hari saya sempat ragu untuk melanjutkan hidup dan mantap untuk mengakhiri saja. Manusia memang perlu terbentur untuk kemudian dapat tulus bersyukur. Krisis seperempat itu benaran ada, penelitian belasan tahun silam itu tidak lebay-lebay amat seperti yang sebelumnya saya duga. Zaman memang sudah berbeda. Masalah baru datang bermacam-macam dan kadang mengada-ada. Sayangnya sifat manusia dari dulu selalu sama. Selalu mencari yang tak ada.

Ke mana mimpi-mimpi itu melejit? Mungkin masih menggantung manis pada ketiak langit. Kenyataannya, kita harus berdiri sendiri di permukaan bumi, tak baik menggantung apa-apa pada apa dan siapa, bolehlah sesekali menjerit bila memang kepalang sakit. Rasa peduli hanya cocok untuk diritualkan masing-masing, bukan demi tuntutan saling. Saya ingin pulang, pulang ke rumah. Letaknya ada di dalam hati sendiri, yang masih terbebat sarang. Semoga lekas tersibak ruang-ruang yang terang. Semakin lapang.

Sudah. Segitu sajalah. Menulis perihal seperempat sekadar dengan seperempat niat, ya beginilah. Lebih baik energi penuhnya saya limpahkan untuk tiga perempat mendatang saja, ya. Mari kita goyang jigo; dua lima, dua lima, semoga makin istimewahhh![]

Photo credit: Booji Wooji Man

17 August 2016

Dedas Resah


Walau benci perubahan teknologi dan zaman, saya malah memaklumi perubahan seseorang. Saya rasa, orang-orang sibuk yang pikirannya penuh dengan dunianya, tampak lebih mudah mengubah sesuatu daripada dirinya sendiri, dan menuntut sekitarnya agar seperti dia. Dunia gegas berubah, seseorang laksana mustahil berubah, kesannya. Padahal realitas tidak selalu seperti itu. Saya mengakui perubahan diri seiring beceknya pengalaman-pengalaman yang ganti-mengganti menggenangi. Dan saya merasa gejala ini baik-baik saja, cukup dengan menjalaninya.

Sayang, orang-orang yang mengenal kita pada masa lalu, mendambakan diri kita yang dulu. Yang culun, lugu, mudah dirayu dan ditipu. Sekarang tiba-tiba datang, bersikap seakan paling mengenal diri kita ketimbang kita memahami diri sendiri. Padahal belum tentu mereka mengenal kita dengan baik, apa lagi berusaha mengenali. Mungkin saja dulu kita belum tahu diri ini siapa dan hendak berbuat apa, maka terus berpura-pura terasumsi baik, dan apa-apa itu baru ketemu sekarang, setelah tak lagi intens bertemu orang-orang masa lalu. Mereka lewatkan puluhan episode-episode kehidupan yang memang tak penting pula untuk mereka tunggu-tunggu dan saksikan, sebab mereka hanya ingin menonton yang baik-baik. Dan tahu sendiri peluang antara nasib baik dan nasib buruk lebih besar mana?

Kita bertambah tua, berpura-pura muda hanyalah usaha sesia-sia memasrahkan tubuh ideal pada teh hijau dan bergelas-gelas jus. Menuanya usia adalah hal yang pasti, kurang menjual untuk diperdebatkan semacam teori bahwa bumi itu datar. Dongeng keresahan lamat-lamat berubah dari penderitaan kesendirian pada malam Minggu menjadi tekanan pekerjaan yang kita tidak tahu kapan terselesaikan. Nafsu makan mulai berkurang setelah sadar bahwa sepincuk nasi padang itu terkalkulasi lumayan mahal bila dibandingkan dengan sallary yang begitulah. Melihat orang terdekat satu per satu menikah, hasrat untuk menikah kian enyah.

Tambah menyadari bahwa nasihat orangtua adalah senyawa damai menyejukkan bagai usapan kabut pagi pada wajah yang kini kian jarang menyaput. Orangtua pun semakin tua, tidak lagi mampu menggebu-gebu menceramahi anak-anaknya seperti dulu. Padahal nasihat menyebalkan pada usia saat ini sangat-sangat dibutuhkan. Mungkin karena sudah memasuki masa pensiun sebagai abdi negara, memilih pensiun pula sebagai abdi keluarga. Dan masih saja saya merasa belum siap berjalan sendiri, padahal waktu selalu menolak untuk berhenti.

Petuah untuk berbuat ikhlas itu benar adanya. Mengharap terlampau besar hanya akan datangkan kekecewaan yang sebanding. Sayang sekali saya hidup pada zaman menerima lalu memberi. Keikhlasan dapat diperjualbelikan. Segalanya tertakar dengan uang. Sayang sekali tidak semua orang berkecukupan menggudangi lembar-lembar hijau yang terkadang panas itu. Dan lagi-lagi, mereka cuma dapat menjual satu-satunya harta: keikhlasan.

Semua akan berubah. Semua harus berubah. Saatnya berinvestasi keikhlasan agar tak sering-sering berbuat ulah, menjaga ritme langkah. Dunia ini sudah lelah mengisap dosa-dosa rasywah.[]

Photo credit: Alex Kiausch

07 August 2016

Lagu-Lagu yang Cukup Nyaman Didengarkan Ketika Hidupmu Kau Rasa Kurang Bahkan Jauh dari Standarisasi Kenyamanan


Saya ingin sekali saja merasa nyaman. Rasa yang hangat terperam di dalam hati adalah cemas. Bukan rasa nyaman. Apa lagi aman. Lama, dan ke sana ke mari saya telusuri, tak kunjung menemukan. Seperti mencari jodoh yang cocok, mungkin kita cuma sedang berbodoh-bodoh memburu bayangan kita sendiri. Konsep mencari jodoh sudah mulai terkesan bodoh. Saatnya membentang jalan sendiri untuk temukan orang lain, bukan bayangan diri.

Ciptakan rasa nyaman bagaikan orang zaman dulu yang lebih suka memasak sendiri daripada membeli. Lebih sehat dan alami tanpa penyedap artifisial. Entahlah kalau nanti Unilever mulai menghidu peluang untuk mengkapitalisasi rasa nyaman. Mungkin bakal muluskan kita dalam membeli se-sachet kenyamanan yang bergelantungan rapi pada seutas kawat di warung sebelah rumah. Lama-lama ada kenyamanan berformalin; yang lebih tahan lama.

Rasa nyaman pun, mungkin, hanya dapat dibikin sendiri-sendiri, dan memang sebaiknya dikonsumsi sendiri-sendiri. Berbagi kenyamanan sering didaulat riya. Menabur kenyamanan maupun menebar kebencian sama-sama dihakimi massa. Satu-satunya media pemerataan kenyamanan yang dapat kita kompromikan mungkin hanya lewat nada-nada. Iya, nada-nada yang sama-sama kita unduh dari internet itu. Tanpa internet, apalah saya ini, mungkin sepanjang usia cuma hafal nama-nama Menteri Kabinet Pembangunan VI.

1. Oasis - Don't Look Back in Anger

Memaknai maksud lagu ini sebagai hal-hal yang sudah telanjur kita perbuat kemudian sesali, sebaiknya lupakan. Dan bersabarlah. Sering kita begitu ingin mencari tempat berlabuh yang paling nyaman dan aman. Kenyataannya, sesuatu yang tampak menakjubkan akan perlahan-lahan memudar. Jangan lihat belakang, setidaknya untuk hari ini. Besok, ucapkan lagi: jangan tengok yang sudah berlalu, lagi, setidaknya untuk hari ini. Sampai akhirnya benar-benar melupakan.

2. Prince - Purple Rain

Entahlah. Hujan ungu saya tafsir semacam kebahagiaan, tentu saja ini lekat dengan kenyamanan. Terlampau sering bersama-sama dengan seseorang tanpa pretensi apa-apa. Hanya ingin melihatnya senantiasa tertawa. Hanya ingin saksikannya selalu bermandi kebahagiaan. Lebih berminat berperan sebagai teman daripada sekadar selingan akhir pekan, meski waktu terus bergulir. Demi terjaganya keutuhan pertemanan. Demi kebahagiaan dia seorang. Padahal, siapa tahu perasaan yang paling nahas berkorban? Wow... Prince, damailah di sana.

3. Sting - Take Me to The Sunshine

Bekerja, bekerja, bekerja. Memangnya kata kerja "bekerja" ini benar-benar bekerja dalam kehidupan kita sehari-hari? Orang tergila-gila bekerja sepanjang tahun. Hasilnya, polusi udara dan polusi suara melengkapi kegilaan kota tempat mereka bekerja. Terlalu banyak bertemu orang setiap hari namun tidak punya teman untuk sekadar bertukar cerita. Lagi-lagi, pancaran kepedulian orang lain adalah kefanaan yang perlahan akan melamur. Kemudian menyadari, hanya sinar matahari yang benar-benar tulus distribusikan energi pada semesta tanpa hitung-hitungan efisiensi neraca energi.

4. The Rolling Stones - You Can't Always Get What You Want

Perempuan yang semula kita cintai, akhirnya memilih bersama orang lain pada momen resepsi pernikahan. Pekerjaan yang diidamkan sejak kecil tidak kunjung datang sebagai takdir. Pemerintah yang sedari dulu tak pernah memuaskan rakyat (padahal itu adalah satu-satunya pekerjaan mereka) walau telah berganti-ganti pimpinan dengan menjual segembol harapan. Sebab kau tak selalu diizinkan untuk peroleh apa yang kau inginkan. Mungkin yang sesungguhnya kau butuhkan, lebih butuh untuk kau inginkan mulai dari sekarang, daripada yang semula kau cita-citakan dan perjuangkan sebagai keinginan.

5. Sting - Shape of My Heart

Segelintir orang anggap perjudian (dalam arti sebenarnya) adalah meditasi. Memang, hidup pun tumpat dengan perjudian, dalam rerupa pilihan untuk kemudian bebas kita ambil dan tentukan. Obyek berlian mungkin sebanding dengan uang dan ketenaran. Yang diperebutkan banyak orang. Namun Sting merasa itu bukan dirinya, setelah sempat ia mencoba dan berdiri di puncak sana, tentu saja. Ia merasa tidak punya banyak koleksi topeng, yang ia punya dan kenakan cuma satu: wajahnya.

6. Oasis - Stop Crying Your Heart Out

Membujuk kita agar bangun dari keterpurukan. Lupakan yang sudah terjadi dan apa-siapa telah melenggang pergi. Sebab, kata Noel Gallagher, berjuta bintang-bintang yang bersinar, perlahan pun akan mengabur jika malam berlalu dan siang menjelang lantaran memang sudah saatnya. Tenang saja, besok-besok, kita dapat menikmati pendarnya kembali. Sebelum itu, cukup lanjut menempuh hari-hari melalui jalan yang sesuai, berlandas diri.

7. Dream Theater - The Spirit Carries On

Kehidupan memang akrab dengan pertanyaan. Kenapa kita dilahirkan? Dari mana kita berasal? Apakah ada kepastian dalam hidup ini, sehingga kita tak usah lagi bertaruh memperjuangkan hal-hal yang belum tentu berhasil kita gapai pada suatu hari nanti, sehingga kita bagai berjudi setiap hari? Segenap pertanyaan barusan takkan pernah berbuah jawaban yang pasti, sebab yang pasti di dunia ini hanyalah ketidakpastian. Yang dapat kita lakukan adalah: percaya dan iman. Mengimani bahwa akan ada kehidupan pasca kematian nanti. Dan pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban tadi, lebih dari cukup untuk paparkan makna dari hidup ini.

8. Bob Dylan - Blowin' in The Wind

Mendengarkan sekaligus memahami lirik Blowin' in The Wind mudah sekali. Mungkin inilah mengapa sangat sulit penyanyi zaman sekarang menyamai kejeniusan Bob Dylan, terlebih dengan sama-sama bersuara sumbang di tengah tuntutan kesempurnaan. Pendewasaan sebagai seorang laki-laki yang mesti mulai membiasakan diri untuk menempuh jarak sejauh-jauhnya. Mendongak langit lebih sering. Mendengarkan lebih banyak suara. Memahami sekitar lebih dalam. Satu-satunya jalan pintas, hanya dengan melakukannya.[]

Photo credit: Matthew Howard

01 August 2016

Rumah yang Tak Pernah Selesai


Sosoknya taklah asing bagiku, sebab rumah kami tepat berseberangan dengan istana laki-laki itu dan istrinya meneduh. Oh, pantaskah aku menyebutnya istana? Tidak, sebab rumah mungil itu toh sudah bernama; dinamai orang-orang gara-gara penampilannya yang tak lazim. Bila boleh aku melatahkan ucap pelanggan warung kopi kami: rumah yang tak pernah selesai. Begitulah namanya. Dan memang, semenjak laki-laki itu termaktub sebagai penghuni gang ini setahun lalu, temboknya belum―tak pernah―diaci. Sebab belum diaci, tentu pula tidak berpulas cat. Rumah beratap seng karatan tanpa halaman dan pagar itu sekadar diplesteri adonan semen murahan-pasir bertekstur kasar saja, yang oleh anak kecil suka dikatainya tembok durian.

Aku tak pernah nyata berbicara dengan lelaki itu. Anggap saja sapaan selamat sore atau mengajak mengomentari mentari sore ini yang sungguh menyengat—membuat kuli-kuli memilih bersinglet ria sembari mengepulkan asap putih dari mulutnya di warung kopi milik Emak—sore ini bukanlah suatu obrolan. Lelaki itu seumuran Bapak, aku pemuda pengangguran lulusan SMA ecek-ecek. Lelaki itu konon guru honorer sekolah dasar, aku―sekali lagi―pengangguran. Lelaki itu sudah beristri yang kuduga usia sang istri terpaut lima atau bahkan sepuluh tahun dengannya, aku bujang lapuk. Namun setidaknya kuraup kesepadanan: kami sama-sama lelaki pendiam.

Rofi, demikian nama pemilik rumah yang tak pernah selesai dibangun itu. Entah nama panjangnya. Keningku mengerut ketika menguping bapak-bapak pengunjung warung kopi menggunjingkan Pak Rofi. Dari mulut berbusa mereka yang sesekali diselangi gelak tawa berselendang ejek berlarut-larut, aku prihatin mendengar semenjak dua hari silam, Pak Rofi memutuskan pergi dari rumah tak selesai-selesai itu. Konon ia pergi setelah istrinya pergi lebih dulu. Ya, sangat sinetron. Atau hidup memang lebih sinetron, entahlah.

*

Namanya memang gang, namun sesungguhnya permukiman padat tempatku tinggal bersama Emak dan Bapak tidak sesempit nasibku. Mobil memang mustahil muat menyusuri gang kami. Tak masalah, kami toh boro-boro punya mobil. Mobil bodong sekalipun. Yang penting sepeda dan motor masih dapat merangkak searah maupun dari arah berlawanan, walaupun mesti berganti-gantian jika kau telanjur khawatir pagar-pagar bertembok durian mencakar bodi motormu.

Dulu, aku dan beberapa kawan sering mengadu kelereng, atau bermain bola plastik tiga lawan tiga dengan gawang sepasang sandal jepit. Bermain apa saja yang tak butuh lahan luas. Tinggal aku anak yang kini menjelma bujang yang menghuni gang ini. Aku menolak dibujuk lima kawan untuk menjadi salesman di kota. Haha, bodoh sekali mereka, mau-maunya dijadikan boneka pria berkemeja necis itu, ejekku kala itu, lantaran kusangka, otak pria-pria itu taklah serapi kemeja dan sebesar tas selempangnya.

Lain haluan dengan mereka, aku justru menganggur: ya, sejatinya aku tidak lebih pintar malah kalah gigih ketimbang kawan-kawan luguku yang sedang meniti karier terjal sebagai salesman obat nyamuk. Demi mengikis keseharian menganggur yang teramat sia-sia, sebab tiada lagi pilihan lain, aku memilih ikut Emak melayani pengunjung warung kopi kami, bukan membantu Bapak berjualan rupa-rupa pakaian dalam pria-wanita-bocah-bayi di pasar. Sebagai pendiam, aku lebih senang menjadi pendengar setia; pendengar bapak-bapak yang tengah memeras penat dan ampas keringat selepas seharian jadi kuli panggul maupun tukang jagal di pasar. Ikut tersenyum miris apabila mereka saling merisak, terhanyut liris manakala salah satu dari mereka mengumbar kedongkolan lantaran siangnya ujug-ujug didamprat majikan yang frustasi kebanyakan utang.

Dalam riuh pengunjung warung kopi Emak, tiap pukul empat sore setahun belakangan mataku kerap menjerat Pak Rofi berbalut safari biru dongker menunggangi bebek tuanya. Sesudah masuk ke rumah barang lima belas menit―dugaanku ia sekejap mencicipi dan memuji masakan istrinya, laki-laki itu keluar lagi dengan kaus oblong putih bernoda, celana pendek kumal, telapak kaki telanjang. Bekerjalah ia; membancuh sesendok semen plus tiga sendok pasir plus air secukupnya dengan pacul kecil. Jadilah seember adonan. Ia menimpa tembok rumahnya dengan adonan itu sesendok demi sesendok, sampai adonannya sore itu habis. Besoknya kegiatan itu berulang, lagi dan lagi. Apa faedahnya menimpa sesuatu oleh sesuatu yang sama berulang-ulang, aku pun tak tahu. Buang-buang waktu, pikirku, namun mungkin beroleh kepuasan menurut Pak Rofi. Siapa tahu?

Sambil melakoni pekerjaan ganjilnya tiap sore, wajahnya senantiasa mengedar senyum terhadap orang-orang yang melintas, kepada pengunjung warung kopi kami. Senyum tanpa suara, tanpa basa-basi. Selain berserobok pandang dan beradu senyum, seingatku ia tak pernah berbicara apa lagi bersosialisasi dengan kami tetangganya. Hanya ayunan lengan dan tetesan peluhnya yang berbicara. Dan kami menyahutnya di belakang. Begitu heboh kami menggosipkan Pak Rofi, seheboh gosip televisi itu yang saban sore Emak tonton sambil mendecap-decap terlalap amarah.

Biasanya, seraya masuk kembali ke rumah, ia menenteng ember bekas adonan tadi. Entah tandas, ataukah masih bersisa. Dan ia tak keluar rumah sampai esok pagi pukul enam. Ia harus berangkat pagi benar untuk mengajar sebagaimana guru honorer lain yang haram terlambat jika ingin dibayar utuh hari itu.

Semenjak menghuni gang ini, Pak Rofi terus saja berkutat merenovasi rumahnya yang tak kunjung selesai. Ehm, bukan, istilah merenovasi mungkin kurang tepat. Setahuku, merenovasi itu mesti ada perubahannya, ya? Meminjam istilah yang kerap dibualkan temanku; penggiat produk obat nyamuk paling ampuh itu, pekerjaan apa pun mesti ada progres, katanya. Dari semula hendak makan pun susah, menjelma pemilik mobil mewah; seamsal mimpi-mimpi yang bos-bos mereka biasa buaikan. Bila kuibaratkan pada kelakuan Pak Rofi, progres dari rumah yang tak pernah selesai itu yah, setidaknya sebulan kemudian jadi rumah separuh selesai, dua bulan kemudian rumah itu hampir selesai. Tapi sekarang setahun berlalu, masih begitu-begitu saja. Tidak pernah selesai. Atau takkan pernah selesai?

Saat rihat malam ini usai menutup warung kopi kami, penasaran kutanyakan pada Emak perihal rumah Pak Rofi sekaligus tentang Pak Rofinya sendiri. Siapa penghuni rumah itu semula; begitukah kondisi rumah itu sejak dulu, tidak pernah benar-benar menyerupai rumah. Dari mana Pak Rofi berasal: berdasar logika cetekku, tiap-tiap orang Indonesia mesti diwarisi etnis buat dibanggakan semenjak lahir.

“Kurang tahu. Kenapa dulu tak kau tanyakan langsung padanya?”

Kurasa Emak lupa bahwa anak sulungnya ini gengsian.

“Ah, tak sempat. Kalau aku keasyikan nanya-nanya sama Pak Rofi, siapa yang jaga warung kita?”

Emak terkekeh-kekeh. “Kau ini. Tak baik mencampuri urusan orang. Nanti kau terkaget-kaget.”

Dan aku pun langsung melengos ke kamar, demi menghindari khotbah selanjutnya dari Emak yang biasanya berdurasi tak hingga.

*

Semerbak kopi berbaur dengan amis keringat dan pengap asap rokok. Sembari menyeduh dan menuang kopi ke dalam gelas-gelas belimbing buat kuli-kuli yang duduk di depanku, aku memasang telinga lebar-lebar untuk menyimak kabar-kabar termutakhir. Tentu saja selentingan gosip tentang Pak Rofi, sebab biasanya suatu gosip takkan melesap minimal satu minggu. Sekarang baru dua hari. Barangkali ada pemutakhiran gosip ihwal motif-motif ia pergi dari rumahnya yang tak selesai-selesai, juga musabab istrinya pergi lebih dulu. Jangan tanya. Aku pun bingung, bagaimana bisa aku begitu ingin tahu urusan orang. Padahal orang itu konon sudah tak ada di rumah. Orang itu tak lagi nampak membancuhkan semen dan pasir setiap sore. Yang jelas, sekarang benakku sepenasaran menanti sinetron yang episodenya beribu-ribu itu. Ingin segera mengetahui akhir cerita. Apakah bahagia atau dipaksakan bahagia?

“Saya pernah menguping Si Rofi diomelin istrinya,” celetuk kuli panggul yang tubuhnya mengilat-ngilat oleh lelehan keringat, memulai sesi celoteh sore ini seraya menggelung-gelungkan asap rokok ke sembarang.

Mendengarnya, suasana warkop kami sontak gaduh, riuh melampaui kemarin-kemarin. Disokong letupan semangat dari dirinya maupun dari sesamanya yang kian menggelegak, kuli itu meracau deras. Dan gosipnya sungguh menggairahkanku, yang ngebet mengudak-udak misteri Pak Rofi. Biar, kusadur penuturannya dengan bahasaku, oleh karena kisahan kuli itu tidak terlalu nyaman didengar. Terlalu vulgar. Terlalu kasar. Terlalu pasar. Sebentar.

Kira-kira begini. Suatu malam beberapa hari silam, kuli itu sedang leyeh-leyeh sendirian di dalam kontrakan petaknya. Kontrakannya persis bersebelahan dengan rumah yang tak pernah selesai itu. Tembok samping yang menyekati rumah keduanya adalah tembok yang sama. Dari balik tembok ringkih itu, sebelumnya tak pernah ia mengendus aroma pertengkaran dari rumah sebelah. Namun pada malam yang tak ia ketahui pukul berapa, serta-merta ia mendengar umpatan perempuan. Seyogianya itu suara istri Pak Rofi. Selain itu tiada suara lain, tidak ada suara laki-laki. Ya, wajar, tandas si kuli, laki-laki semacam Pak Rofi pasti tengah menunduk menafakuri umpatan sang istri tanpa bernyali melontar sekata pun kala dibegitukan, meskipun usia sang istri jauh lebih muda darinya. Sebab cetusnya, terkadang laki-laki sungkan menyembulkan kelaki-lakiannya, roboh oleh cinta dan kasih.

Kemudian ia mengujar beberapa kata―kata kunci misteri Pak Rofi, menurutku―yang sempat terlontar menembus tembok. Diksi kasar kedaerahan sudah mesti ada, dan daripadanya terkuaklah asal-usul istri Pak Rofi. Namun ada satu kata yang membuat peminat gosip di warung kopi kami sore ini hening seketika: mandul. Istilah barusan menyelip di dalam bahan omelan malam itu. Si kuli mengaku mendengar bahkan mencatat dalam hati berapa kali kata itu keluar. Dasar, jadi kuli masih saja perhitungan. Pantas saja nasibnya kerap diperhitungkan cermat oleh Tuhan.

“O, Si Rofi mandul.”

“Kelihatan, sih, dari cara jalannya.”

“Pantas saja ogah gabung sama kita-kita. Tengsin dia, susah ngaceng!”

“Rofi, Rofi… Mending istri montokmu yang kabur duluan itu buat kita saja, ya? Daripada mubazir.”

Satu per satu cemoohan mereka merubungi warung kopi kami. Aku cuma ikut menertawakan perihal yang sedang ditertawakan oleh mereka, supaya dianggap bersepakat dengan mereka. Padahal tak sepenuhnya aku setuju. Entah, bagaimanapun nyatanya, aku telanjur iba terhadap Pak Rofi. Segala tentangnya terlalu putih bagiku.

“Sampai jam berapa istri si Rofi ngomel-ngomel?” salah seorang melemparkan tanya dengan mimik yang lucu. Baru kali ini aku menyaksikan para lelaki begitu antusias menggeledah perkara orang lain.

“Entah. Saya tidak punya jam dinding, jam tangan, hape sudah saya gadaikan. Lagi pula, saya kebanyakan nenggak Cap Orang Tua malam itu. Agak linglung,” pekiknya sambil meringis, “yang paling saya ingat yah, cuma itu: mandul. Si Rofi Mandul!” setelah melafalkan kata terakhir dengan lantang, meledaklah tawa si kuli. Tawanya sungguh tak enak didengar, namun hadirin ikut terkakak-kakak puas.

Wah, alamat! Berarti sedari tadi dengan polosnya aku mencerapkan cerita sinting dari lisan orang yang sedang teler malam itu? Sialan. Sudahlah, magrib sudah melindap. Pulanglah, kalian!

*

Obrolan warung kopi sore tadi memang kurang baik andai aku teguk seutuh-utuhnya. Namun demikian, sedikitnya aku dapat memilah-milah igauan si kuli, kemudian meruntutnya sampai perkara Pak Rofi terang-benderang. Duh, kini lagakku sudah macam pengacara tukang nyinyir itu. Memalukan.

Aku memastikan seisi rumah telah terlena dalam lelap. Tanpa mengintip pun, aku menyimpulkan arwah Bapak telah melayah ke alam entah, cuma dari irama dengkurnya yang konsisten. Namun, lebih baik kupastikan Emak pun sudah pulas. Kuintip tirai kamar mereka. Aman. Keduanya tidur dalam dekap pelukan. Aku tak mau mengusik keintiman mereka.

Cermat, kutengok jam dinding. Sebentar lagi pukul 12. Ya, jangan sampai misiku melampaui setengah satu, apa lagi lebih. Biasanya pukul satu ada ronda. Kendati petugas ronda di gang ini cuma satu orang, yakni seorang duda yang ditinggal bininya ke Taiwan. Andai aku sedikit teledor, ia mesti bakal mendapatiku sedang mengubek-ubek rumah orang larut malam ini, sehingga nanti Pak RT pun tahu. Gawat.

Pintu rumahku sudah kulalui tanpa membunyikan derak, sebab selepas magrib tadi aku melumasi engselnya oleh beberapa tetes minyak jelantah. Ciamik, bukan? Kini aku sudah berdiri di antara rumah kami dan rumah Pak Rofi. Ditiupi angin malam, dingin. Hih. Lumayan juga. Aku agak merinding. Kakiku melangkahi rumah tanpa pagar dan halaman itu, tentu dengan perasaan was-was. Betapa malangnya Pak Rofi, akulah tetangga pertama yang menjejak teras rumahnya.

Mataku menerobos celah pintu. Gelap. Aku menghela gagang pintu. Gagal. Kampret. Kali ini aku mencoba mendorong. Dan berhasil. Lega. Kepekatan pun menghampar, dan bau-bau asing alangkah menusuk hidungku. Hmm, mungkin bau rumah yang lumayan lama tak dihuni, begitulah aku mencoba menabah-nabah diri. Sesudah masuk dan lebih dulu merapatkan pintu, aku baru bernyali menyalakan senter, kemudian mengedarkannya ke segala penjuru rumah Pak Rofi. Tidak ada apa-apa, sebatas perabot usang. Syukurlah. Eh, lho, bukankah aku ke sini supaya menemukan apa-apa? Baiklah, sebentar, kutitipkan dahulu rasa takutku. Sip.

Dengan mengendap-endap, aku terus menggeledah rumah ini. Wow! Sepertinya aku menginjak benda padat. Aku menunduk, senterku turut merunduk. Wah, selain tekun menembok, Pak Rofi pun rajin mencipta prakarya dari adonan tembok. Aku berjongkok, meraih benda itu dan meraba-rabanya. Tak pelak lagi, itu memang adonan abu-abu gelap, berbentuk silinder panjang, yang… Tunggu, bentuknya agak aneh. Ya, semen ini menyerupai batang silinder, namun, salah satu ujungnya beroleh tongolan seperti jamur. Hmm, aku menebak-nebak, apakah ini bentuk… roket? Bisa jadi. Ataukah, jamur? Batangnya terlalu panjang. Ataukah, hah? Pak Rofi membentuk adonan semen menyerupai benda itu? Untuk apa?

Di depanku, sorot senter masih membulat seperti bulan, aroma aneh semakin sengit. Aku memutuskan berjalan jongkok, sesekali merangkak, barangkali ada yang kutemukan lagi. Ada! Benda keras itu lagi. Bentuk sama, bahan baku sama, dimensinya bahkan persis. Ada apa ini? Mengapa bertebaran batang-batang semen di rumah yang tak pernah selesai ini? Selanjutnya, lagi-lagi kutemui benda serupa. Ada sebelas.

Jantungku tak lagi tenang berdebar. Segala pradugaku berputar-putar. Sinar senterku berdenyar, menyorot batang segenggaman dari adonan tembok itu. Aku terus merangkak, tanganku menggapai-gapai lantai. Sinar senter mencengkam sebuah batang, mirip batang barusan. Aku menyambarnya. Agak keras, kenyal, dan jauh lebih empuk tinimbang sebelas batang semen yang kujumpai tadi. Kukuasakan diri melangkahkan jongkokku, selangkah. Berlumur cahaya senter, terdapat wajah pasi yang bergeming. Lho, Pak Rofi? Bukankah ia sudah pergi dari rumah yang tak selesai-selesai ini? Sontak kutelisik sekujur tubuhnya; dada, perut, bawah perut. Astaga! Kenapa, kenapa itunya tidak ada? Kenapa di situ rata, cuma ada rona merah luka, serupa bekas keran yang patah atau dipatahkan? Aku ingin, aku ingin, lekas siuman dari pingsan. Sudah pukul satukah? Petugas ronda, kaukah itu? Bangunkan aku![]

Bogor, November 2013

Photo credit: Dave Redden

24 July 2016

Pembantu


Saya bersyukur belum pernah sama sekali bercita-cita menjadi pengusaha, entrepreneur, wirausahawan muda tulang punggung (sesungguhnya iga panggang jauh lebih nikmat, demi Tuhan!) ekonomi bangsa, atau apalah istilahnya. Seingat saya, pada 2009/2010an hingga sekarang, pada berbagai media santer sekali ajakan ihwal kejarlah passion atau renjana Anda; hasrat cinta yang menggebu-gebu untuk tak sabar dilakukan setiap saat tanpa pandang waktu bagai buang air besar. Yang sayangnya dimaknai terlalu dini, ah sebut dengan gamblang saja, terlalu dangkal oleh pemirsa Indonesia; negara yang selalu berkembang, dan tak kunjung berbuah ini.

Mayoritas masyarakat tafsirkan kejarlah renjana Anda dengan keluarlah dari pekerjaan dan jadilah pengusaha muda yang sukses! Sebulan berlalu, seseorang berbinar-binar dengan kebebasan tanpa ikatan dari sejuta aturan korporasi. Tiap pagi dapat ongkang-ongkang kaki di depan televisi, menyesap kopi, ditemani anak-istri. Tiga bulan mulai ada sedikit keuntungan dari usaha kecil-kecilannya. Setengah tahun mulai timbul kecurigaan dengan perkembangan usaha yang stagnan. Setahun berlalu ia bingung sendiri dengan kerugian yang datang tiba-tiba. Hingga uang untuk sekadar makan sehari-hari pun tidak ada. Ia baru sadar, usaha untuk menjadi pengusaha berlipat-lipat lebih keras daripada kerja keras sebagai pekerja delapan jam saban hari. Di balik rugi, cemas ia menanti reaksi anak-istri dan keluarga istri.

Saya adalah orang yang percaya, tidak semua orang berbakat untuk menjadi pengusaha. Memang bakat tidak terlahir begitu saja bersama DNA layaknya warna kulit dan tingkat kesipitan mata. Namun saya percaya, bakat terkonstruksi dari watak dan sifat setiap individu, kebiasaan yang dibangun oleh keluarga, dan budaya lingkungan yang menaungi seseorang sejak ia dilahirkan. Bila terbiasa melihat ayahnya berangkat pagi dan pulang pagi demi pasien-pasiennya, maka secara alamiah pikiran dan angannya mulai terarah ke jalan yang sama, dan lagi pula, cuma yang orangtuanya dokter jugalah yang tahu dan bakal rela menggelontorkan dana pendidikan sebanyak itu demi masa depan. Begitu pula bagi yang punya orangtua berprofesi sebagai pedagang, pengusaha, eh, sama sajakah dua profesi ini?

Bukan, saya bukannya masih berpikiran kolot seperti yang biasa pakar-pakar itu mentah lontarkan kepada pegawai negeri sipil dan budak korporasi. Saya realistis saja karena tidak ingin membebani negara berkembang ini dengan jutaan anak muda yang sebetulnya sudah tidak terlalu muda itu berstatus pengangguran terdidik. Saya khawatir generasi saya berpikiran terlampau maju padahal elemen-elemen di sekitarnya sama sekali belum mendukungnya untuk menjadi apa yang ia ingini, sehingga pada akhirnya mereka hidup sebatas di relung alam pikirannya sendiri, bahkan membuat surga dan neraka sendiri-sendiri.

Baiknya, ikuti aturan main di lingkungan masing-masing, dan peramlah cita-cita kita untuk dilansir kelak andai keadaan telah dirasa tepat, dan ini yang penting: pastikan dapur masing-masing sudah terjaga kepulannya setiap hari. Sampai kapan pun hasrat di perut selalu merasa lebih berperan vital ketimbang angan di benak.

*

Teringat perbincangan dengan ibu saya pada suatu hari. Entah apa pemantik topik obrolan, sehingga menyerempet pada cerita beliau tentang ayahnya atau kakek saya yang sempat berdagang di Jakarta, padahal yang saya kenal, dahulu Kakek berprofesi sebagai pegawai pabrik kertas. Saya pun tergugah untuk menggali lebih dalam masa lalunya. Sebab waktu itu sedang hangat-hangatnya pengusaha muda bermunculan, termasuk generasi sebaya saya.

Namun saya kecewa dan sedih. Sebab Ibu bilang, Kakek gagal berdagang. Memang apa yang dijual oleh Kakek? Beras, katanya. Saya tertawa prihatin. Jauh-jauh ke Jakarta, meninggalkan pekerjaan sebagai pegawai yang sudah pasti penghasilannya setiap bulan, cuma untuk jualan beras keliling dengan mengendarai sepeda. Tidak laku pula. Andai saya hidup pada masa itu, belum tentu mau senekat Kakek yang padahal saya pikir, dulu tahun 50an belum ada sabda pakar renjana yang mendorong kita agar tergesa keluar kerja. Toh cuma ada ikrar ganyang Malaysia.

Apakah Kakek terus berdagang? Cerita Ibu berlanjut. Ya, kakek saya belum menyerah. Beliau lanjut berdagang di Jakarta. Hanya saja bukan berjualan beras keliling. Melainkan petromaks! Ya, petromaks! Sontak tawa saya lebih meledak saat mendengar barang yang sempat diperjuangkan Kakek dahulu. Jualan lampu petromaks zaman dahulu ibarat jualan cobek pada saat ini. Barangnya terlalu awet dan lama sekali terjadi siklus perputaran uang masuk dan uang keluar, dan bukankah siklus ini yang menjadi napas para pengusaha?

Meskipun memang, dulu masih jarang daerah yang teraliri listrik, petromaks bukanlah barang yang dibeli orang setiap hari. Bahkan beras lebih masuk akal untuk diperdagangkan, saya pikir, ketimbang petromaks. Sebab saya tahu, orang zaman dahulu, tak mudah membeli barang baru meski sudah rusak dan diperbaiki berkali-kali, semisal televisi dan pesawat radio. Mau berharap apa kepada orang anti-konsumsi macam generasi mereka? Mereka generasi penggemar Soekarno, bukan generasi Pokemon Go.

Kakek menyerah dan pulang ke Bandung. Kembali diterima bekerja sebagai pegawai pabrik kertas hingga beliau pensiun. Kembali diterima bekerja di perusahaan yang sama sehabis gagal menjajal usaha, adalah hal yang mustahil terjadi pada masa sekarang; masa di mana lebih mudah mencari pengemis daripada mencari pekerjaan.

Saya pun mengerti bahwa tidak semua kakek harus bernasib seperti Liem Sioe Liong. Namun saya toh tetap terkenang dengan kebaikan dan kewibawaan Kakek. Sosok beliau yang hangat dan teguh adalah inspirasi saya dalam membangun fondasi karakter diri di ambang krisis seperempat abad ini. Meski sejak 2001 saya sudah tak pernah dan tak mungkin dapat menjumpai beliau lagi.

Selain bekerja, bertani, berkebun, dan menggambar kartun, ibu saya bilang, Kakek adalah kiper yang diandalkan kolega-koleganya. Jala-jala gawang tim yang beliau bela dipastikan terbebas dari sentuhan bola dalam setiap pertandingan bila Kakek berdiri di sana. Dan ternyata keahlian sebagai kiper andal, menurun kepada beberapa putra bahkan cucunya yang juga selalu dipercaya menjadi juru selamat dalam emban amanat rekan-rekan satu tim masing-masing.

Alih-alih menjadi kiper, saya tak pernah becus bermain sepakbola. Namun perlahan saya meyakini, mungkin, keluarga kami terlahir sebagai yang dipercaya untuk menjaga amanat di barisan paling belakang. Bukan berperan sebagai pengacak-acak daerah orang lain di barisan terdepan guna mereka, mengkreasi, dan menuntaskan peluang, atau penyisir dan penyusup pertahanan lawan di kiri-kanan medan. Baiklah. Saya ingin dikenal sebagai Peter Schmeichel yang dikenang. Bukan akhir karier Michael Owen (atau Lionel Messi, sesuka Anda jika telah meyakini) yang malang.

*

Baru dua bulan menangani keuangan dan pajak perusahaan-perusahaan skala kecil, penolakan diri sendiri untuk menjadi pengusaha semakin kuat. Melalui data-data yang saya kelola, tergambarkan bahwa seorang pengusaha harus rela mengeluarkan modal tanpa tahu lima tahun kemudian uangnya akan kembali atau malah semakin minus, selain dari prediksi-prediksi konsultan yang itu pun kondisional, kembali tergantung kepada insting sang pengusaha.

Ia mesti ikhlas tatap aset-aset berharga yang susah payah dikoleksi berpuluh tahun, sekejap terseleweng oleh pegawainya. Berkewajiban membayar dan mengurus pajak setiap bulan kepada pemerintah yang entah guna dimanfaatkan jadi apa pula oleh korps republik ini, tanpa mereka mau tahu apakah badan usaha bersangkutan sedang untung atau rugi atau malah menjelang kolaps.

Tanpa mental setangguh titanium dan relasi seluas samudera, saya pikir impian untuk menjadi pengusaha cuma setara dengan impian jadi atlet bulutangkis. Yang kita pandang dengan penuh kagum cuma kesuksesan mereka dalam mencapai titel-titel kejuaraan dunia di layar kaca. Di balik tirai arena, sejauh apa yang kita mafhum perihal perjuangan mereka sejak usia tujuh tahun berpeluh-peluh di lapangan, mengorbankan masa muda penuh warna, masa dewasa berjuta dera, dan masa tua yang belum tentu berbahagia.

Yang seringkali orang lupakan, seorang pengusaha yang hebat biasanya adalah mantan profesional yang hebat pula. Lantaran hasratnya lebih besar dari visi dan misi perusahaan, maka ia memutuskan untuk wujudkan impiannya secara mandiri. Bukan tidak atau kurang baik buah karya mereka dahulu, namun wadah mereka bekerja terlalu mungil sebagai tempat mengusahakan daya, karsa, dan selera mereka. Jadi, sudahkah menjadi pembantu korporasi yang baik? Tak ada salahnya, coba lagi Senin depan...[]

Photo credit: 70023venus2009