26 June 2011

Budaya Ngutang

2 comments :
Judulnya aneh ya, ngutang kok jadi budaya. Budaya kok jelek banget sih? Well, ini berdasarkan pengalaman pribadi saya.

Setiap kali saya kenal dengan orang baru, lalu agak dekat (belum terlalu dekat), entah mengapa hal-hal berikut ini kerap kali terjadi.

Pertama orang itu mengajak pulang bareng, sekalian ingin tahu kost-an saya katanya. Lalu beberapa waktu kemudian dia mulai berani untuk membicarakan hal pribadinya, seperti masalah istrinya yang masuk rumah sakit, ibunya meninggal (belakangan saya ketahui kalau ibunya sudah meninggal 5 tahun yang lalu, masya Allah, teganya mengkomersilkan ibunya ?

... dan bermacam alasan yang ekstrim lainnya.

Yah, karena saya orangnya ga tegaan ;), saya kasihlah orang itu uang sejumlah yang dia butuhkan, tepatnya yang dia inginkan, pffft. Setelah itu dia berjanji akan mengembalikan uangnya tanggal sekian bulan sekian. Oke lah,, saya percaya saja.

Dan... hari yang dijanjikan pun tiba.

Pagi itu saya siap menunggu (saya ga berani nagih, takut menyinggung euy, kecuali kalo keterlaluan) si peminjam mengembalikan utangnya.

Nah, akhirnya dia datang menghampiri saya.

Saya langsung memasang muka penuh harap padanya.

Eh, ternyata perkataannya bukan seperti yang saya harapkan.

Dia malah mengungkapkan masalah yang lain lagi, bapaknya ikut sakit lah, adiknya belum bayar sekolah lah, "waaaa.... alibi-alibi ini sudah cukup basi cuy,,'utangers' yang lain sering banget pake alasan ini, cari alibi lain napa yang lebih canggih,," umpat saya dalam hati.

Ya sudahlah, kalau sudah begini biasanya uang itu saya ridhakan saja, karena tahun depan pun jika ditagih pasti jawabannya bertele-tele seperti itu.

Rejeki mah Allah kan yang ngatur :)

Anyway, di negara kita tercinta ini, INDONESIA, sekelumit kisah diatas mungkin kerap kali terjadi pada sebagian orang, mungkin anda sendiri?

Ngutang sudah dianggap aktivitas yang wajar, bahkan mungkin sudah dianggap budaya, yap, BAD HABIT.

Padahal kalo kita pikir lebih jauh, penghasilan utangers (keren juga yah) ga terlampau jauh (bahkan mungkin dia lebih besar), jabatannya udah lumayan strategis.

Kurang apalagi coba?

Nah, ini dia yang paling menonjol.

"GAYA HIDUP"

Ya, gaya hidup merupakan penyebab utama orang ngutang.

Misalnya.

Lihat saja pusat-pusat perbelanjaan pada tanggal-tanggal muda :)

Ramainya minta ampuuuunn.

Mau makan di salah satu restoran fastfood, yang notabene harganya bisa membuat dompet kita menangis (apalagi dompet saya, kabur duluan dia :P), panjang antriannya membuat kita berpikir, ini ngantri beli fastfood, apa makanan gratis (apa ngantri BLT yah).

Lalu konter hape pun kebanjiran pembeli, tak tanggung-tanggung, bebe yang harganya bisa buat beli motor seken ini udah terjual lebih dari selusin!!

Buseet dah, kayak kacang goreng aja.

Lalu kalo saya iseng mampir liat-liat barang elektronik di BEC, salah satu stand kamera penuh banget. Ada yang beli digicam biasa, bahkan seorang mahasiswa bau kencur yang kelihatannnya ga punya kemampuan fotografi sama sekali (Lagi musim foto profile FB yang memotret diri sendiri pake DSLR), membeli DSLR Nikon D90 yang harganya bisa buat DP rumah itu.

Ya, sekali lagi, GAYA HIDUP.

Saya hanya bisa mengelus dada.

Tetapi lihatlah seminggu kemudian, memasuki tanggung bulan. Orang-orang tipe itu mulai gelisah, baru beberapa hari menerima gaji sudah hampir habis uangnya.

Mau gimana lagi, mereka mulai mencari mangsa.

Orang yang tadi beli DSLR itu pinjam uang ke temannya yang bersahaja, orang biasa-biasa.

Harusnya dia malu ya, beli yang ga karuan, mending kalo kameranya bisa digunain buat bisnis pra wedding gitu, ini mah cuman buat gaya doang di facebook, foto profile dengan memotret diri sendiri dengan DSLR, apa mungkin dia ga tau istilah ISO, Aperture, Viewfinder, dll :D

hahahaha..

Orang bersahaja itu dengan ikhlasnya meminjamkan kepadanya uang.

Pembeli DSLR itu tersipu malu campur senang :D

Yah, kalo flashback ke belakang kita jadi ingat jaman-jamannya Orde Baru berkuasa.

Utang-utang dari luar negeri seperti Bank Dunia, IMF, Amerika Serikat, Jepang, dan negara penguasa lainnya sungguh teramat banyak.

Sangat banyak.

Bahkan ada seorang tokoh ekonomi yang menganalogikan jika kita jejerkan uang pecahan 100ribuan seluas pulau jawa, itulah utang negeri kita :D

Masya Allah, banyak sekali ya..

Ya, dari atasnya saja sudah begitu, maka, tidak aneh bawahnya juga serupa lah kelakuannya.

Tetapi, budaya ini sebenarnya bisa dirubah, asalkan seseorang mau mengubah gaya hidupnya.

Sesuaikanlah pengeluaran dengan penghasilan yang kita dapat, jangan sebaliknya, kita terus kejar pengeluaran atau nafsu belanja kita.

Sampai mati pun keinginan/nafsu manusia tidak akan tercukupi, apabila kita tidak banyak-banyak bersyukur.

Hindari untuk membeli barang-barang yang tidak relevan dengan keperluan kita, ya misalnya Nikon D90 tadi itu.

Kecuali jika dengan membeli itu kita membuka usaha fotografi, ini baru cerdas.

Pergunakan skala prioritas, uang makan dan bensin sebulan harus kita anggarkan, setidaknya kan kalau kita benar-benar kekurangan uang ga sampai ga makan kan? tul ga?

Uang kost juga (bagi yang tinggal di kost seperti saya) harus jauh-jauh hari kita persiapkan, emang mau diusir ibu kost?

Tengsin dong, masa mentang-mentang nenteng Nikon harus ngegelandang, obsesi jadi backpacker yah?

Well, marilah kita hidup hemat.

Hemat bukan berarti pelit loh. Infak terus jalan, ngasih buat ortu walaupun sekedarnya harus lah, makan juga bergizi. Hemat ga da ruginya kok, beneran.

Mari sama-sama kita tumpas bad habit negeri ini, yaitu ngutang dengan cara hidup hemat, bersahaja, dan menabung untuk dunia dan akhirat.

GO HEMAT ...

2 comments :

  1. yah itulah indonesia sob...
    udah budaya ngaret, ngutang, pinter ngibul...
    huh..
    mw jadi apa nih Indonesia tercinta kedepannya... :(

    ReplyDelete
  2. @eko : yoi sob, kejujuran harus dibiasakan.

    jangan sampe kejujuran jadi dianggap hal yang aneh, di lain sisi, ketidakjujuran menjadi makanan sehari-hari bangsa kita :(

    mulai dari generasi kita, harus mulai ada gebrakan revolusioner :)

    susah, tapi pasti bisa...

    ReplyDelete