31 December 2012

Dua Ribu Dua Belas

10 comments :
Hanya dalam hitungan jam kita sudah menghirup udara tahun baru, meninggalkan tahun yang dikatai orang dan sutradara film sebagai tahun terjadinya kehancuran alam semesta, karena kalender suku Maya sudah tak ada lagi penanggalan. Sempat risau juga, namun bukankah hidup-mati, awal-akhir, aksi-reaksi itu sudah menjadi sunatullah Sang Pencipta?

Banyak sekali momen-momen yang terjadi pada tahun yang juga merupakan tahun kabisat ini. Saya pikir kalau saya menuliskan seluruh momen terbaik atau #MomenKece dalam postingan ini, akan menjadi sekuel seperti sinetron Tersanjung yang endingnya tak berujung. Baiklah, saya akan memilah beberapa momen yang menurutku berkesan pada tahun 2012.

1. Blog Mulai Hidup

Inilah yang menurutku paling berkesan. Blog gratisan yang saya bikin tiga tahun lalu akhirnya saya kelola juga, walau ala kadarnya. Sepanjang tahun ini saya mulai menemukan cara ngeblog itu bagaimana, mulai dari menulis postingan, menamai blog serta deskripsinya (cepyhr doctrine.), memilih template yang optimal, lalu saling berkunjung ke blog lain. Kemudian sempat juga beberapa kali mengikuti #blogcontest, dan ahamdulillah saya merasakan juara harapan dalam sebuah kontes. Senang sekali rasanya walau hanya memperoleh juara empat.

Ngomong-ngomong blog, tentu saja saya juga merasa terhormat bisa bergabung dengan komunitas blogor. Saya merasakan hidup ini indah dalam dua dunia, dunia nyata dan dunia maya. Blogger yang semula hanya berkutat di dunia maya bisa turut terwadahi kebutuhannya di dunia nyata, bersua, berkenalan dan berbagi pengalaman bersama teman-teman baru dari berbagai jenjang usia, pendidikan dan profesi. Luar biasa, terima kasih blogor!

2. Mulai Beradaptasi dari Dunia Kerja

Seperti pernah saya umbar di sini setahun yang lalu, cukup sulit beradaptasi dari dunia kerja ke dunia kuliah. “Ah, Cep, gitu aja kok repot, lebay lu, iyuwh...” Yeee, beneran. Ataukah memang sifat saya yang sulit beradaptasi ya. Ketika masih bekerja (dalam hal ini bukan setingkat supervisor) kerap kali hanya otak kanan yang digunakan, tidak seperti sekarang, otak kirilah yang setiap hari bekerja keras. Dulu, yang saya lakukan setiap harinya adalah kerja−pulang−tidur−makan−shopping−gajian−pulang kampung. Sederhana, bukan?

Jujur, dulu saya tidak mengalami kendala keuangan, sampai-sampai ada segelintir rekan kerja yang sebetulnya salary-nya jauh lebih besar dibandingkan saya yang masih foreman, dia selalu kekurangan uang, lalu meminjam kepada saya. Hehe, sekali lagi sebesar apa pun salary anda, pasti akan selalu merasa kekurangan, tergantung pengeluaran dan gaya hidup masing-masing. Bagaimana cara mengatasi solusi keuangan yang selalu gali lubang tutup lubang setiap bulannya? Mari kita bertanya mengenai financial planner kepada mas @danirachmat.

Nah, ketika kuliah inilah saya merasakan pedihnya kekurangan uang itu bagaimana, betapa seribu rupiah pun saya cari setengah mati di kolong meja, kolong tempat tidur, kolong kandang kambing. Karena setahun ini saya hanya mengandalkan kiriman bulanan orangtua, belum bisa berusaha sendiri. Angan-angan di 2013 inginnya mencoba usaha kecil-kecilan. Tapi belum terbayang. Ada yang bisa memberi saya inspirasi usaha yang cocok untuk mahasiswa?

3. Mengikuti #kelasanggit

Apa pula itu #kelasanggit? Ada yang tahu? #kelasanggit ialah kelas menulis yang diprakarsai oleh Khrisna Pabichara, Mataharitimoer dan Erha Limanov. Sudah pada tahu mereka kan, tidak perlu saya perkenalkan para fasilitator saya itu di sini ya, hehehe.

Betul, senang rasanya pada tahun 2012 ini saya mendapat kesempatan untuk mengikuti kelas menulis selama enam bulan yang mana sekarang sudah memasuki bulan ke-2. Dalam kelas menulis yang membabarkan mengenai fiksi dan perniknya, saya mendapat asupan gizi otak kanan dari para fasilitator maupun kawan-kawan #kelasanggit yang memang sebagian besar latar belakang pendidikannya adalah sastra atau pun linguistik. Dari #kelasanggit ini saya berharap semoga saya bisa “menulis dengan baik” dan bisa lebih sering menganggit cerpen atau pun jenis prosa lain. Terima kasih #kelasanggit!

4. Menginjak Dasawarsa Ketiga, 21 Tahun 

Seperti biasanya, setiap bulan Agustus usia saya bertambah satu tahun. Tidak terasa usiaku sudah mencapai 21 tahun, usia yang seharusnya mulai membentuk pribadi yang dewasa. Usia yang seharusnya sudah mendapat penghasilan pribadi tidak bergantung dari suapan orangtua lagi. Usia yang seharusnya sudah mendapatkan kekasih #ups #keceplosan. Namun ternyata sulit, saya belum bisa melakukan semua itu. Saya masih mendapat kiriman bulanan dari orangtua, kelakuan saya masih terkadang kekanak-kanakan, egois, keras kepala dan masih banyak lagi kelakuan negatif yang mesti diperbaiki.

Harapan saya terhadap tahun depan yakni, semoga saya bisa mengoptimalkan kinerja otak kanan hingga seimbang dengan otak kiri. Bukan sekadar menggunakan otak kiri untuk memahami eksak saja, namun ilmu serta wawasan lain yang jauh menyimpang dari latar belakang saya yang menekuni engineering sejak STM pun ingin saya tekuni, sehingga dengan begitu hidup saya bisa lebih seimbang.

Yang terpenting, semoga saya bisa melakukan setiap rutinitas dengan sebaik-baiknya, tidak lagi sering melewatkan sholat subuh karena keseringan bergadang, lalu menemukan jati diri yang selama ini senantiasa saya cari supaya hidup bisa lebih baik dan lebih baik lagi. Apakah bisa? Aamiin.

24 December 2012

Aku Menyusulmu

8 comments :
Sebuah kabar menghantamku dini hari tadi selain breaking news CNN tentang luluh lantaknya gedung World Trade Center di Manhattan. Kabar yang membikin hatiku remuk. Bagaimana perasaanmu kala mendengar kabar bahwa ayahandamu pergi untuk selamanya? Yang kurasakan saat ini, senyum pun tak mampu kusunggingkan sepanjang hari, nafsu makan lenyap entah ke mana, orang sekelilingku seolah patung bagiku.

Barangkali hanya aku anak dari ayahku yang memilukan kematiannya. Kedua kakakku hanya bertengkar saja polahnya sejak malam tadi. Aku yakin sejak pertama kali bertemu di muka bumi ini mereka berdua sudah memproklamirkan diri mereka sebagai musuh abadi sepanjang hidupnya.

Aku Sandra, anak perempuan terakhir dari keluarga Hartanto. Bangku kuliah terpaksa kutanggalkan demi menopang ekonomi keluarga yang sangat mencekik, aku bekerja sebagai kasir salah satu swalayan di sudut kotaku. Memang, penghasilan yang kuperoleh takkan pernah mungkin menutupi utang keluarga kami. Utang? Baiklah, akan kuceritakan.

***

Kami hidup berempat. Ibuku sudah lebih dulu pergi, meninggalkan kami ketika kakak pertamaku terjerat kasus penyalahgunaan narkoba. Beliau terserang serangan jantung koroner. Aku tak yakin ada manusia lain seperti ibu yang tetap tabah dihantam tekanan bertubi-tubi sebelum kematiannya. Arisan yang ia gagas empat tahun silam bersama kolega-koleganya menyisakan perih dalam keluargaku. Sistem kekeluargaan dalam arisan hanyalah kedok belaka, selain itu tak lebih dari sekadar penipuan. Setumpuk rupiah digelontorkan ibu untuk menutupi tunggakan utang arisan teman-temannya. Sumber setumpuk rupiah itu tentu dari hasil mengutang, jeratan rentenir tak kuasa kami lepaskan, alih-alih lunas, utang keluarga semakin mengungkung seiring bunga rentenir yang makin menggelembung.

Kedua kakakku pria, kakak sulungku biasa dipanggil Roy, umurnya sudah sangat ideal untuk berkeluarga, namun kurasa Roy tak berhasrat sedikit pun terhadap hal satu itu. Hidupnya bagai angin, berembus tak tentu arah. Entah apa parameter hidup dirinya hingga ia tega membikin malu martabat keluarga saat dia terjerat narkoba yang secara tak langsung berhasil merenggut nyawa ibuku. Sekarang Roy sudah bebas dari jeruji, psikotropika tidak pernah dia sentuh lagi. Hari-hari Roy saat ini dia habiskan sesuai tabiat kegemarannya, berkelana entah ke mana.

Kakakku yang kedua ialah saudara kembar priaku, lahir selang dua menit lebih dulu dariku, Andra namanya. Dia begitu berbeda denganku, dia pemberontak, berbicara tak melihat lebih dulu dengan siapa dia berbicara, serampangan. Hal lumrah jika menyaksikan saudara kembarku bertengkar kala bertemu dengan Roy, kupikir mereka rival sparing sepadan. Namun sebagaimana saudara kembar ikatan batin kami sangat erat, aku dan Andra tidak pernah berselisih, pribadinya sangatlah melindungiku, termasuk melindungiku dari kegilaan Roy.

Sebebal apa pun mereka sejujurnya aku sangat menyayangi kedua kakak kandungku. Bagiku, saudara sedarah adalah sahabat sekaligus tour guide di dunia ini. Tanpa mereka aku hanyalah anak perempuan lugu tanpa pemandu yang akan tersesat jikalau pemandu itu meninggalkanku sebatang kara.

Tapi manusia mana yang tahan menyaksikan kedua saudara kita bertengkar, adu mulut, hingga kursi kayu dan beberapa gelas rela menjadi korban tiap harinya?

***

Dahulu ayah terbilang sukses, sebagai pengusaha properti beliau kerap dipercaya mengemban proyek pemerintah, terutama proyek jalan raya dan jalan tol. Keterpurukan ekonomi Indonesia pada 98 meluluhlantakkan kejayaan bisnis ayahku. Usaha ayah kembali ke nol, bahkan minus, hingga BPPN merampas secara halus puing harta kami. Utang arisan ibuku yang sudah mengungkung kami setahun sebelumnya lalu terakumulasikan dengan utang mahabesar ayahku kian menjerat kehidupan kami.

Hal itu pula yang mengakibatkan ayah menderita stroke selang beberapa hari setelah harta kami diambil alih BPPN. Walaupun ayah masih hidup, tak memungkinkan bagi kami untuk berkomunikasi, hanya anggukan samar serta linangan air matalah respons yang dapat ayah berikan kepadaku. Sepanjang dua tahun selang-selang infus akrab menemani hidupnya hingga dini hari tadi ia menutup mata. Dari mana uang untuk membeli ribuan botol infus itu? Tentu, utang.

Rasanya aku ingin membenamkan perlahan belati ke jantungku, aku tak bisa seperti ibu yang tabah menghadapi tekanan yang kian mendera. Beruntung aku punya Andra. Tanpa Andra sepertinya saat ini aku akan berada di rumah sakit jiwa yang menderita stress akut. Hampir tiap malam ia menyempatkan berbicara denganku, setia mendengarkan keluhan hidupku sepulang ia bekerja. Betul, tidak seperti Roy yang hidup semaunya, Andra mempergunakan titel sarjananya dengan baik. Andra bekerja sebagai public relation di sebuah perusahaan ritel terkemuka yang terbebas dari jeratan krisis 98 di Jakarta. Andra-lah yang menggantikan peran ayah sebagai pemberi nafkah keluarga kami.

***

Siang ini orang-orang mulai berdatangan ke rumah untuk melayat ayah, mereka adalah teman, kerabat, relasi ayah ketika masih menjadi pengusaha properti, bahkan kulihat hadir pula mantan menteri pekerjaan umum pada era orde baru. Andra menyambut dengan takzim mantan orang terdekat ayah tersebut, tampak pak menteri itu menepuk-nepuk bahu Andra.

Mataku berkeliaran di sekeliling mencari Roy, tak kutemukan sosok gila itu. Sebegitu gilanyakah dia sampai-sampai kematian ayahnya pun dia tak tahu? Ataukah dia tak peduli? Relung hati kecilku meyakini bahwa Roy masih mempunyai nurani, walau sepercik.

“Bangsat! Apa yang kau curi itu, bajingan!” pekikan Andra memecah suasana duka yang hening di rumah kami, diikuti suara hantaman bertubi-tubi.

Lagi-lagi! Sejenak benakku tersentak, kusaksikan dua pria yang kusayangi bergumul tepat di hadapan jenazah ayah. Aku menjerit.

Tampak Roy berusaha menangkis pukulan bertubi-tubi dari adik kandungnya, sia-sia. Dalam keadaan terhuyung dia masih kuasa memegang erat benda yang dicurinya. Akta rumah. Satu-satunya puing harta yang tersisa dari kerajaan bisnis ayah, selain itu, setumpuk utang yang berserakan di mana-mana.

“Roy, Andra, berhenti kataku! Di mana urat malu kalian letakkan di tengah suasana sendu keluarga kita? Ayah sudah pergi, tak bisakah kalian berdua membuat batin beliau tenang menghadap Penciptanya?” tangisku meledak. Namun mereka tak bergeming, baku hantam terus mereka lancarkan satu sama lain., beberapa pelayat ayahku berusaha melerai.

Batinku makin bergejolak, baru sekarang kurasakan pedih yang teramat ini, aku tak kuasa lagi bertabah-tabah terhadap siksa neraka dunia. “Aku muak dengan hidupku, kalian buatku jengah. Lebih baik aku mati, menyusul mereka,” pekikku, lirih.

Kuambil belati yang selalu kusisipkan tiap saat di saku celana belakang untuk berjaga dari kelamnya malam kala aku harus mendapat shift malam. Kupejamkan mata, kuambil ancang-ancang dari ambang tubuhku, perlahan kubenamkan mata belati dengan telapak tangan kananku, ke jantungku. Napasku terhenti, lidahku kelu bibir pun membisu, darah segar kurasakan mengalir deras dari gores hunjaman belatiku. Setelah itu gelap gulita, hanya terdengar pekikan manusia-manusia yang melayat jenazah ayah, serta laungan tangis dua pria yang teramat kusayangi.

12 December 2012

Soto Mie Bogor

15 comments :
Malam ini kita ngomongin kuliner yuk sob!! Ada yang pernah mencoba mencicipi soto mie Bogor? Atau bahkan kamu sering menyantap kuliner khas Bogor selain asinan dan taoge goreng itu?

Selama setahun lebih ini saya tinggal di Bogor, banyak kesan yang saya rasakan. Masyarakat yang terbuka terhadap pendatang, teman-teman baru yang tak tergantikan, serta kuliner yang menggugah selera. Sebuah kota atau daerah tentu mempunyai makanan khasnya masing-masing, begitu pun Bogor. Menurut saya, soto mie ini termasuk kuliner khas yang tidak ada duanya di Bogor, setelah masakan kakakku yang gratis tentunya, hihihi.

Berbahan dasar utama daging sapi serta ada pula yang menambahkan kikil, soto mie ditemani pula oleh irisan kentang dan tomat, irisan kol, beberapa potong kroket (risol), bihun, dan tentu saja mie. Kemudian ada juga pedagang yang menaburkan emping di atasnya.


Rasanya... hmm, pas di lidah, menurutku. Kuah soto yang rasanya hampir sama dengan soto Bandung berbaur dengan bahan-bahan yang kusebutkan di atas. Daging sapi yang empuk, kroket yang gurih berpadu dengan segarnya irisan tomat dan kol. Namun, akan lebih nikmat bila kita menikmatinya dalam keadaan hangat dan di kala hujan deras, dingin, lapeeerrr.


Mengenai harga tentu beragam, tergantung dari kualitas bahan utama serta bumbu racikan pedagangnya. Namun, rata-rata harganya adalah 12 ribu rupiah per porsi, sudah termasuk nasi. Jika ingin yang harganya cukup terjangkau bisa dicoba di Sentul, tepat seberang SPBU Sentul. Harganya 9 ribu rupiah, rasanya tak kalah lezat dibanding soto mie lain, sangat worth untuk kantong cekak seperti saya hehehe.

11 December 2012

Kekasih Baru

15 comments :
Kaget baca judulnya? Ngeh, sebegitunya deh, anda masih meragukan kapabilitas saya untuk mendapatkan kekasih baru? Yup, keraguan anda sangat tepat, eh...

Hehe, kekasih baru yang saya maksud itu ialah si putih langsing, enak dibawa ke mana-mana, tidak merepotkan. Siapakah dia? Sebuah notebook. Notebook yang terpaksa saya beli karena notebook yang lama sudah mengalami sakaratul maut secara mengenaskan. Mulai dari baterai doi yang ngadat minta dibelikan yang baru, kemudian hard disk yang bad sector akibat sering install ulang plus dual boot dengan ubuntu, dan masih banyak lagi keluhan si penghuni masa lalu itu.

Terus terang, kekasih lama yang saya namai "bison item manis" ini sangat sarat dengan lika-liku sejarah diriku. Tepat dua tahun yang lalu saya meminangnya ketika saya masih bekerja. Dengan uang hasil menyisihkan upah lembur dan pengiritan uang makan tiga waktu, akhirnya si bison item manis bersedia menerima pinangan saya. Kami pun hidup bahagia, selamanya.. pret!


kesuraman tampak dari raut glossy-nya yang tergores sana-sini


stiker brand salah satu sensor kontrol itu memperkuat taste keuzuran si bison item manis

Bagaimana tidak, notebook inilah yang saya pergunakan untuk menulis improvement mesin ketika saya sedang mengikuti orientasi di sana. Notebook ini yang setia menemani kesendirian saya dengan PES dan jet audio tatkala ditinggalkan resign oleh sobat-sobat saya. Notebook ini pula yang saya pergunakan untuk mengetik lamaran dan CV sebagai syarat mendaftar beasiswa kuliah, sehingga saya bisa kuliah seperti sekarang ini. Ah, terlalu banyak kenangan yang kau bikin, son! (panggilan untuk bison). Sekali pun kamu sering saya repotkan, install ulang, dual boot dengan ubuntu sehingga ingatanmu jadi kacau, namun kamu tidak pernah mengeluh, mengatakan huft pun tidak. Tapi bukankah tidak ada yang abadi selain ketidakabadian?

Saya harus beralih, tidak boleh terjebak pada masa lalu. Tidak elok rasanya jikalau masih memaksa kekasih yang lama untuk kembali ke pelukan kita, jauh lebih baik mencari tambatan baru. Maka perkenankan saya untuk memperkenalkan kekasih baru saya, si putih langsing:




Saya takkan berkomentar tentang spesifikasi notebook baru saya, biarlah, kemampuan notebook saya sesuai dengan kebutuhan saya. Bukankah yang terpenting adalah saling suka, lalu cinta? Cinta yang selalu bermula dari satu hati, satu visi, satu komitmen.

Jangan sekali pun membandingkan kekasih anda yang sekarang dengan kekasih anda di masa lampau, karena bagaimana pun mereka (pernah) punya kepiawaian khas dalam mengobok-obok batin anda, sehingga anda (pernah) jatuh cinta kepadanya dengan sudut pandang berbeda pula.

O iya, tulisan ini merupakan tulisan ke-100 di blogku!!!! *tiup lilin*

NB: selamat tertular galau, padahal artikel ini seharusnya berisi tentang spesifikasi notebooknya saja. Lha, ini jauh badai dari pokok permasalahan, hahahaha :p.

09 December 2012

Amanat

4 comments :
Sepulang kuliah seperti biasa saya membeli kudapan dan semacamnya, begitu pun dengan malam minggu tadi. Kali ini cakwe yang jadi destinasi perut keroncongan saya. Empat puluh menit perjalanan dari Citeureup, tibalah saya di persimpangan Pomad Tanah Baru, Bogor yang menjadi tempat mangkalnya si mas-mas cakwe itu. Motor saya parkir tepat di depan gerobaknya, lalu saya menghampiri si mas.

"Mas, beli 10 ya! Eh, masih ada kan?" tandas saya.

Si mas masih sibuk dengan penggorengan, kemudian dia bilang, "Hmm, masih toh mas, tapi tunggu bapak ini dulu ya. Lagian, masih ada juga yang mesen sih, 20 biji. Mau sabar nunggu ndak mas?" ujarnya dengan aksen jawa yang kentara.

Saya berpikir sejenak, "Oh, oke, gapapa deh."

Ternyata lama juga menunggu sekitar 40 cakwe yang digoreng itu. Lima belas menit saya menunggu antrean pesanan cakwe itu. Sebelumnya saya pikir tidak akan terlalu lama, karena cakwe itu termasuk makanan yang cenderung mudah untuk matang di penggorengan. Tapi tak apalah, wong saya tidak ada acara malam mingguan, "teu ngaruh". Lebih baik saya mengalihkan perhatian terhadap blackberry, membaca linimasa.

Beberapa saat kemudian ada pembeli lain, perempuan paruh baya. Dia pun memesan, "Lima belas biji ya mas!" serunya.

"Wah, kayaknya lama bu, ini masih ada yang ngantre. Bapak ini mesen 20, terus si mas yang ini mesen 10. Lagian ada yang mesen juga 20 biji, jadi ibu musti nunggu 50 lagi nih," jelas si mas cakwe itu.

"Hah, udah, yang mesen mah dilewat aja mas, yang ada di sini aja dulu, yang orangnya rela nunggu," si ibu menawar.

"Dilewat? Ndak bisa gitu dong bu, kan yang mesen sama-sama beli juga," kata si mas cakwe.

Raut muka si ibu berubah, tampak kesal. Lalu dia berkata lagi, "Yaah, si mas, masih kaku aje. Udah, gak bakal liat ini kan yang mesennya juga toh."

"Hmm, ndak bisa bu, entar kalo orang ntu tiba-tiba ke sini sekarang gimana? Kasian, masa yang mesen ntu musti nunggu lagi," tegas si mas cakwe.

Si ibu makin kesal, tapi akhirnya dia terpaksa mengerti, kemudian dia berdiri menunggu sembari melipat kedua tangannya. Namun emosinya luluh ketika pembeli 20 cakwe yang tadi dibicarakan ternyata sudah tiba di depan gerobak, lalu mengambil pesanannya.

Hati saya tersentuh kala menyaksikan percakapan itu. Si mas cakwe telah melaksanakan tugasnya dengan baik, melayani konsumen dengan setara. Bagaimana pun, konsumen yang memesan terlebih dahulu lah yang harus dilayani lebih dulu juga oleh si mas cakwe. Ini merupakan salah satu peristiwa sederhana tentang kepercayaan. Hal sederhana tentang betapa pentingnya menjaga amanat orang lain, sekali pun orang lain itu tidak menyaksikan tindakan kita secara langsung.

Hei pejabat, Bupati, Ketua PSSI, Anggota Dewan Yang Terhormat, koruptor! Sungguh hina diri kalian jika tak malu sedikit pun dengan tindakan terpuji salah satu dari banyak sekali rakyat jelata di negeri ini yang setia menjaga amanat konsumennya? Ingat, konsumen kalian adalah kami, rakyat. Rakyat jelata yang memercayakan nasibnya kepada kalian. Bersediakah kalian untuk segera sadar dari buaian kemewahan, gelimang harta, untuk kembali menapakkan sepasang kaki dan hati kalian terhadap tanah air ini?

05 December 2012

Makhluk Bernama Cinta

12 comments :
Brrr.. Bogor dingin banget sehabis diguyur hujan deras sejak tadi siang sob. By the way suasana semacam ini emang paling cocok kalo kita nyeduh kopi liong, baca linimasa yang selalu uptodate dengan kegalauan para twips. Selain itu, kayaknya cocok banget kalo malam ini kita ngomongin hal yang seringkali bikin kaum jomblo menatap nanar mukanya di depan cermin pada (maaf) malam minggu, cinta. ciyeehh..

Apa sih makhluk yang bernama cinta itu sampai-sampai bupati Garut tega menceraikan istri mudanya dalam waktu 4 hari saja? Please, bikin iri jombloers aja, ya kan mblo? hihihi. Seberapa berpengaruhkah peran cinta sampai-sampai ada orang yang berubah sikapnya ketika ketemu gebetannya, yang biasa sangar jadi kelepek kelepek rona mukanya mirip sambal goreng, yang biasanya pendiem jadi berani ngungkapin perasaannya ke si doi, yaa sekali pun cuman ngungkapin lewat tulisan blog aja sih #jleb.

Cinta bukanlah sesuatu yang bisa didefinisikan secara gamblang dan saklek. Jangan sekali kali searching definisi cinta di wikipedia ya sob. Makhluk satu ini saya yakin punya definisi beragam di benak masing-masing. Ada yang mengatakan kalo cinta itu perlu diperjuangkan layaknya kemerdekaan  Indonesia dari kumpeni. Ada yang mengatakan cinta adalah ditemukannya tulang rusuk yang hilang karena selama ini digadein buat beli netbook. Bahkan ada (banyak banget) orang yang bilang kalo cinta itu gak usah dicari, entar juga nyamperin sendiri. Hmm, ciyus? Pasrah apa udah putus asa sama kenyataan tak terperi yang tak kunjung memihak nasibmu mblo? pukpuk.

Saya gak tahu apa itu cinta, lagian saya gak punya cukup kompetensi (apa pula?) buat ngupas hal satu ini. Bicara jam terbang, oalaah.. saya cuman pilot pesawat capung. Namun sekarang saya cuman pengen ngungkapin penelaahan (bahasanya berat) sama sobat sekalian yang bersumber dari temen, sodara, sepupu, kakek nenek yang lagi pacaran.

Well, komitmen. Pasti kalian semua setuju kalo cinta itu butuh banget hal satu ini. Tanpa komitmen sepertinya cinta hanya akan jadi teh manis tanpa rasa sepet yang sebenarnya bikin nikmat. Tanpa komitmen cinta gak lebih dari kerupuk yang disimpen di toples yang kebuka, bentar juga melempem. Komitmen hadir sebagai penyeimbang si cinta itu. 

Tapi yang saya saksikan akhir-akhir ini, banyak sekali pasangan muda mudi yang gak berkomitmen. Ataukah sejak dulu? Artinya mereka ya happy happy aja, makan berduaan, jalan berduaan, ngupil berduaan. Cinta tanpa komitmen ini sebenernya worth buat dijadiin ajang percobaan, terutama buat kalian mblo.. Sekiranya salah satu pihak di tengah hubungan ada yang ngerasa gak cocok, yo wes udahan, beres.. Gak perlu musuh-musuhan, gak perlu unfollow or block akun twitter si mantan itu. Gak perlu move on move on-an kayak saya beberapa bulan yang lalu. Ketahuilah sobat, move on itu butuh keyakinan serta motivasi yang kuat melebihi perjuangan penggiat MLM yang sedang mencari anggota baru.

Kemudian, perhatian. Bohong banget kalo kalian gak pernah sms beginian sama si doi, "lagi ngapain? udah makan? udah ngerjain peer? udah mandi? udah pake baju? udah... putusin aja." Bukan cinta namanya kalo kita gak merhatiin doi, setiap saat setiap waktu setiap senin sampai jumat sabtu setengah hari minggu libur. Ya, tapi gak merhatiin doi kalo lagi ngupil juga kali sob.. wajar wajar aja.

Terakhir, kenyamanan. Nah, yang satu ini yang mesti diperhatiin, penting banget. Bolehlah kalo kita ditembak Jennifer Anniston supaya jadi pacarnya. Tapi kalo kitanya gak nyaman? Buat apa diterima coba.. Kasian kan nanti kalo Jennifer Anniston bener-bener cinta sama kita tapi pada akhirnya doi dikacangin karena kitanya gak nyaman. 

Kesimpulannya, perlukah mengejar cinta? Jadi definisi cinta itu apa dong ceeepppyyy??? Hmm, sampai kapan pun saya gak bisa jawab. Dengan berat hati (dan berat badan) saya harus mengatakan, "semua kembali kepada prinsip masing-masing." Tapi konsekuensi tanggung sendiri tentunya ya sob, kan udah dewasa, udah tahu sebab akibat, aksi reaksi, hukum Newton 0 1 2 3. Ya, seperti kita tengok di atas, ada yang lebih suka pacaran buat happy happy aja, ada yang suka pacaran sama brondong, ada yang suka berkomitmen, ada yang suka pacaran ala orang dewasa, bahkan ada juga yang suka gak pacaran alias jomblo. Eh, tapi ada yang suka aku kan? #eaaaa

30 November 2012

Kepenasaran

16 comments :
Apa perasaan anda jika atasan di tempat kerja anda membaca postingan di blog kita? Atau jangan-jangan anda pernah menulis postingan tentang atasan yang biasanya terkenal nyebelin itu? hihihi

Hal tersebut terjadi pada saya sekitar satu bulan yang lalu. Seperti biasa, malam itu saya membuka blogger.com, kemudian memeriksa comment yang masuk. Kebetulan ada beberapa comment yang masuk, namun ada satu comment yang membuat kening saya berkerut. 


Saya teringat pernah bertemu bahkan bekerja dengan nama itu. Memang, nama taufiq bukan main banyaknya di Indonesia, cenderung pasaran malah. Namun entah kenapa, batin saya merujuk kepada supervisor ketika saya bekerja di pabrik kertas dua tahun yang lalu.

Tapi setelah itu saya tak ambil pusing, "ah bukan taufiq yang itu kali, mungkin taufiq abang pangkas rambut, sukur-sukur sih taufik hidayat mantunya Agum Gumelar," pikir saya. 

Sebulan berlalu, tiba-tiba kepenasaran tentang nama itu muncul lagi kemarin pagi. Daripada ribet mikirin terus hal beginian, mending saya share di facebook dan nge-cc temen-temen kerja yang sudah resign maupun yang masih bekerja di sana. 


Dan.. jreng jreng...

Teka-teki itu terjawab sudah. Ternyata prasangka saya sebulan yang lalu benar, orang yang meninggalkan comment di postingan tersebut adalah supervisor saya dulu. Sumpah, shocked banget, malu, hahaha.

Sekarang saya sedang mengingat-ingat kembali apakah saya pernah mengunggah tulisan tentang pekerjaan dan tetek bengeknya.. Semoga tidak, seingat saya sih belum pernah. Ya, sedikit mungkin pernah, tapi tak terlalu gamblang. Itu pun sebagian besar mengenai soal teknis (mesin/sistem kontrol), bukan konfliknya.

Sekali lagi, apa perasaan anda jika mengalami hal serupa? Belum pernahkah, atau bahkan anda sering mengalaminya? Share di comment box yuk...

Nostalgia

10 comments :

Hehehe, entah kenapa malam Jumat tadi mata saya malah tergerak untuk membaca postingan lama. 

Kesannya? Huahahaha lucu banget, pengen ketawa ngakak baca-baca tulisan lama. 

Alasannya?

Pertama, banyak emoticon di sela-sela artikel. Mending kalau cuma satu dua, ini mah hampir tiap baris ada emoticon-nya hahaha. Tampaknya, dulu saya belum bisa membedakan antara menulis di blog dan menulis SMS buat pacar :p

Kedua, Setiap kalimat belum mengalir secara runut. Saya akui, hingga saat ini pun gaya tulisan saya termasuk yang kaku, apalagi bahasa yang saya pakai untuk menulis di blog ini bukanlah bahasa gaul dan nyeleneh ala Raditya Dika, Shitlicious, atau pun teteh piera :)))  

Ketiga, dalam postingan saya yang lama terlalu banyak kalimat yang tidak berbaur menjadi satu paragraf. Nah, untuk yang satu ini, karena dulu saya mengikuti cara Pandji nulis di e-book-nya, Nasional Is Me. Di e-book itu banyak kalimat-kalimat yang misah-misah, gak berbaur menjadi paragraf. Dan saya menirunya karena menurut saya keren, mirip puisi tapi non fiksi. Hehe, namun akhir-akhir ini saya lebih memilih untuk membuat suatu paragraf dengan minimal 3 kalimat, supaya tidak terlalu kaku dan lebih manusiawi hahaha.

Jika penasaran untuk terjerumus ke dalam tulisan jadul (serasa tua) saya, bisa dicek di sini:

Nostalgia 1
Nostalgia 2
Nostalgia 3
Nostalgia 4

Belajar tentu saja memerlukan proses panjang, termasuk belajar menulis. Dengan seringnya saya membaca blog anda yang keren-keren serta inspiratif, semoga saya bisa menulis lebih baik, lebih rapi, serta lebih rajin tentunya hehehe.

Gambar dari : bit.ly/TvfHxg

24 November 2012

Lagu Jadul Yang Gak Ada Matinya

25 comments :

Masih suka mendengarkan lagu Roxette yang It Must Have Been Love? What's Going On dari 4 Non Blondes? Hey Jude dari The Beatles? Atau bahkan Tenda Biru-nya Desi Ratnasari?

Saya rasa setiap lagu mempunyai makna serta kenangan mendalam bagi masing-masing pendengarnya. Ada yang terkenang oleh liriknya, instrumennya, atau saat bersama siapa dulu dengerin lagu itu ciyeee..

Lho, setua inikah saya, anak muda kok malah suka lagu-lagu jadul? Hehe, entahlah. Saya jauh lebih suka mendengarkan lagu lama, instrumen serta liriknya lebih mengena. Mungkin saya termasuk penganut paham oldschool :p

Baiklah, kali ini saya ingin share lagu jadul yang gak ada matinya menurut saya:

1. Roxette - It Must Have Been Love


Walaupun ini termasuk lagu galau, gapapa deh ya hahaha. Intro drum khas lagu-lagu 90-an mengawali lagu ini, kemudian dilanjutkan oleh suara khas wanita dari sang vokalis Marie Fredriksson. Setelah sempat vakum karena sang vokalis mengidap kanker otak pada 2002, duo band yang berasal dari Swedia ini beberapa bulan lalu mengadakan Roxette Tour 2012. Dan, Indonesia termasuk dalam rangkaian tour mereka. Ada yang menonton Roxette 2012 Live di Jakarta Maret lalu?

2. 4 Non Blondes - What's Going On


Lagu yang juga pernah diplesetin oleh Padhyangan ini, menurut saya gak ada matinya. Kemudian, reff yang terkesan lucu bagi telinga orang Indonesia membikin What's Going On mudah diingat. "And I say, Heeii yee yee yee..."

3. Bryan Adams - Heaven


Kalau ini sih cocok untuk yang sedang falling in love hihi. Bryan Adams emang paling lihai membawakan lagu-lagu romantis, termasuk single populernya, Everything I Do.

Lagu Heaven ini pernah di-cover juga oleh DJ Sammy.

4. Kla Project - Menjemput Impian


Akhirnya ada lagu Indonesia yang nyempil di sini, hehe. Hmm, Menjemput Impian, alunan syair yang menggugah romansa, liriknya sarat dengan diksi puitis yang jarang ditemui pada band-band Indonesia zaman sekarang. Mendengarkan lagu ini serasa benar-benar kembali ke era 2000-an.

Menjemput Impian juga pernah di-cover oleh Kerispatih dengan vokalis barunya.

5. The Corrs - Only When I Sleep


Hampir semua lagu dari band yang diisi oleh cewek-cewek cantik dan satu cowok ini enak didengerin, misalnya Breathless, Runway, dan Only When I Sleep. Cek langsung deh..

6. MLTR - Sleeping Child


Hehe, menurut saya Sleeping Child ini benar-benar oldschool. Bernyanyi bersama-sama serta masih ada backing vokal, petikan gitar akustik membikin Sleeping Child easy listening bagi siapa pun.

7. The Calling -Wherever You Will Go


Gak ngebosenin, gak ada matinya. Bagi saya Wherevere You Will Go wajib ada di playlist Rhythmbox atau pun playlist di hape. Karakter suara dari Alex kuat banget, mungkin kalau boleh dibandingkan, karakter suara doi mirip Ariel NOAH, ngebass dan membumi. Sayang, The Calling sudah lama bubar. Sekarang Alex fokus di band-nya sendiri, Alex Band.

Oh iya, Wherever You Will Go juga pernah jadi original soundtrack dari serial Smallville, si Superman ABG itu.

Demikian daftar lagu jadul yang gak ada matinya versi @cepyhr. Ada yang suka lagu jadul juga? Share yuk di kolom komentar...

gambar dari : http://bit.ly/QfX8fN

19 November 2012

Tetirah (part 3, end)

6 comments :
Selain terkenal dengan bangunan-bangunan bercita rasa tinggi, rasanya sudah tak asing kala mendengar julukan Parijs van Java yang ditujukan terhadap kota Bandung. Paris merupakan kota mode sekaligus kiblat mode seluruh dunia. Dan, tak berlebihan jika Bandung disebut sebagai kota Paris di Jawa. Malah saya pikir fashion Indonesia berkiblat ke kota satu ini.

Banyak orang lain termasuk teman saya yang bilang bahwa cewek-cewek Bandung itu cantik-cantik, ‘gareulis’. Hal ini tidak bisa saya pungkiri, mojang Bandung memang ampuh untuk membuat mata tak berkedip kala kita memandanginya. Namun, setelah dipikir-pikir, mojang Bandung itu sebenarnya tidak cantik, sama saja seperti perempuan-perempuan di daerah lain. Hanya, mereka terlihat cantik karena… mengikuti perkembangan mode.

Dari adek bayi hingga oma...

Sepanjang mata memandang, saya menyaksikan orang-orang dengan pakaian yang jarang kita lihat berjalan lalu lalang, wanita cantik dengan wedges berwarna merah serta rambut yang sepertinya rajin di-treatment, dan pria-pria necis yang sepertinya rajin merawat dirinya ke salon juga.

Saya sempat melihat seorang ibu yang menggendong adek bayi, lucu sekali. Pakaian bayi itu bukanlah terbuat dari wol seperti yang biasa kita lihat. Begitu pun dengan sepatu yang dipakai, desainnya nyentrik. Sekilas, adek bayi tersebut mirip seperti bayi di iklan-iklan luar negeri. Bagaimana dengan ibunya? Tentu saja modis juga. Dengan sneaker berwarna pink yang cantik, potongan blus dengan corak bunga yang komposisinya tepat, celana jeans yang seratnya aneh, serta kerudung modifikasi zaman sekarang, sang ibu tampak sangat anggun walaupun sudah mempunyai momongan.

Jangan tanya mengenai gaya berpakaian para mahasiswa dan mahasiswi Bandung. Saya acungkan jempol kepada mereka yang bisa dengan kreatifnya merawat dan mendandani diri dengan kocek pas-pasan ala mahasiswa. Ya iyalah cep, mereka kan orang kaya? Hmm, bisa saja. Tapi masa iya semua mahasiswa Bandung orang kaya semua? Masalahnya hampir semua mahasiswa dan mahasiswi di sini modis-modis buanget… pengen deh ngambil satu mahasiswi buat dipajang di kamar hahaha.

Yang menarik, oma-oma juga tak mau ketinggalan mode. Mereka tampil percaya diri dengan blus selutut yang bercorak atraktif, perhiasan di jari, lengan maupun di leher yang tampak mewah, serta lipstik merah merona di bibir mereka. Sekilas terdengar norak, tapi saya yakin jika anda menyaksikannya secara langsung, anda akan setuju untuk mengatakan bahwa oma ini masih terlihat cantik di tengah usianya yang tak lagi muda.

Sedari dulu, orang Bandung sangat mengapresiasi keindahan, mulai dari hal kecil seperti kemasan makanan, fashion, seni rupa, hingga bangunan-bangunan bercita rasa tinggi seperti di postingan saya sebelumnya. Bagi orang Bandung, segala hal dalam kesehariannya harus memenuhi estetika dan taste yang kuat.

Maka jangan heran kalau orang Bandung jarang yang merantau. Mereka sudah terlanjur nyaman dengan doktrin agar senantiasa memperhatikan keindahan yang ditanamkan oleh nenek moyang di kota ini. Saya yakin, tidak ada kota lain termasuk Jakarta yang mampu menyamai Bandung dalam hal apresiasi terhadap keindahan kota berserta segala isinya dan kreativitas masyarakat setempat.

Jika anda ingin mencari pakaian dengan desain yang tidak membosankan, tidak mainstream dan harga yang tak terlampau mahal, Bandung lah kota yang wajib anda sambangi. Jika anda ingin berwisata kuliner dan wisata alam, Bandung lah surganya. Jika anda sedang mencari cewek cantik (baca: modis), tidak ada kota yang paling tepat selain Bandung. Jika anda ingin terjebak kemacetan lalu lintas, Bandung jua lah juaranya :p

Kalau memang orang Bandung menyukai keindahan, lalu mengapa saya begini-begini saja, gaul enggak, modis enggak, ganteng enggak. Saya orang mana sih, hahaha…


tamat

18 November 2012

Tetirah (part 2)

6 comments :
Salah satu hal yang membuat saya jatuh hati terhadap kota Bandung adalah bangunan-bangunan tuanya. Bangunan bergaya arsitektur peninggalan Belanda dulu masih terdapat di beberapa ruas jalanan kota Bandung. Kondisi? Ada yang terawat karena beberapa memang dihuni seseorang ataupun instansi, namun ada pula yang hampir roboh.



Foto di atas merupakan bangunan tua yang sekarang dipakai sebagai kantor (lupa namanya) milik pemprov Jabar. Kondisinya kurang terawat sih, namun hal itu tidak mengurangi orisinalitas bangunan unik ini. Jendela-jendela khas kolonial, dan atap tempo dulu yang tinggi masih menghiasinya. Begitu pula dengan pagar yang catnya sudah mengelupas. Saya harap Pemkot dapat meluangkan waktu untuk sedikit memperhatikan serta merawat bangunan-bangunan semacam ini.

Sayang, banyak rumah semacam ini yang tak sempat saya potret

Nah, rumah seperti foto di atas yang bikin saya selalu rindu akan kota Bandung, rumah gaya tropis peninggalan arsitektur kolonial yang bisa diketahui dari atapnya yang membumbung serta berjendela banyak. Rumah yang sekarang dijadikan motel tersebut kondisinya masih terawat baik dan arsitektur lamanya yang khas tetap dipertahankan. Hmm, seandainya saya punya rumah ingin rasanya merancang hunian dengan arsitektur semacam ini. Kuno, tapi elegan.

Jika ada kesempatan ke Bandung lagi, ingin rasanya memotret rumah-rumah semacam itu. Dengan kamera saku tentunya, soalnya gak mampu beli DSLR euy. Ada yang berbaik hati buat ngasih saya Nikon D3X? hihihi..

Gedung BRI Alun-alun Bandung

bersambung...

Tetirah (part 1)

6 comments :
Dengan memutuskan untuk menunda penyelesaian tugas-tugas kuliah yang menumpuk, akhirnya long weekend kemarin kesampaian juga untuk pulang ke rumah orangtua. Alhamdulillah keduanya sehat walafiat, lega rasanya masih diberi kesempatan bersua mereka lagi.

Walaupun tidak ada motor, saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan (benar-benar jalan kaki) di Bandung. Karena jomblo dan konco-konco sedang sibuk liburan juga, maka saya melakukannya hanya seorang diri. Menyedihkan memang, haha.

Ehem, sekadar pengumuman, saya bukan berasal dari kota Bandung-nya, namun dari pelosok yakni Padalarang. Terus terang saja saya masih awam tentang seluk beluk kota tujuan utama orang Jakarta kala akhir pekan ini. Terlebih lagi, dulu saya memang kuper, yang saya tahu hanya Padalarang - Cimahi saja, haha.

Maka, akhir-akhir ini ketika ada kesempatan pulang ke Bandung sering saya manfaatkan untuk mencari hal-hal unik dari kota ini. Mulai dari cuaca, kuliner, gaya hidup, perkembangan mode yang semakin ciamik saja, maupun keelokan arsitektur bangunan-bangunan tempo dulu yang masih banyak bertebaran di sini.

No Pic Hoax gan? Hehe, hanya beberapa foto yang sempat saya ambil kemarin, itu pun sebatas menggunakan kamera ponsel. Monggo dilihat :

Bandung, the sister city

Syukurlah, airnya masih bisa dibilang jernih

Perempatan Jl. Aceh

Hotel Hyatt.  Tepat di seberangnya adalah spaceshop Airplane Systm

Badjoe badjoe!!!

Rencana sih mau beli jaket di spaceshop Airplane Systm, namun apa daya tak ada ukuran XL, hiks. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli t-shirt dan kaos berkerah saja. Lumayan, total harga nya cuman 148 ribu lho, lagi ada sale soalnya hehe.



Kantong plastik ramah lingkungan dari Airplane Systm

Semoga Airplane Systm membaca postingan saya ini, kali aja mereka mau meng-endorse Cepy Hr semacam Raffi Ahmad, hahahaha *mimpi di siang bolong, terus hujan petir dor dar gelap*

Pesan dari saya, jika anda ingin bertetirah ke Bandung, harap pikirkan sekali lagi. Siapkah menghadapi kemacetan yang tak terperi? Siapkah menghirup gas emisi kendaraan yang berjejalan di Bandung? Kalau saya, jujur, enggak..

Saya ingin kembali menikmati suasana Bandung belasan tahun silam yang benar-benar sejuk, jauh dari kebisingan, dan arus lalu lintas yang bebas dari kemacetan.


bersambung…

13 November 2012

Keterlaluan

19 comments :
Hmm, pengen curhat lagi ah.

Ada peristiwa yang membuat saya tertegun sekaligus terharu tadi pagi.

Sudah hampir dua bulan saya gak pulang ke rumah orangtua. Padahal, jarak dari Bogor ke Bandung mah deket, sekitar 4 jam-an juga nyampe. Entahlah, serasa ada aja penghalang yang mengurungkan niat saya untuk menjenguk mereka.

Tadi pagi, mamah nelpon saya. Nanya kabar, nanya kuliah, kesehatan, finansial, bahkan nanya gebetan haha.  Selanjutnya, tentu saja saya yang balik nanya kabar beliau.

Anak macam apa saya ini yang gak nyempetin nelpon mamah barang sebentar di tengah kesibukan dunia saya yg semu ini. Malah saya yang ditelpon mamah. Maaf mah...

Percayalah, mamah alias mamih alias emak alias mboke atau apalah istilahnya, gak pernah bosen merhatiin kita. Sekalipun udah beranjak dewasa (saya udah 21, otomatis masuk ke kategori beranjak dewasa), namun mamah masih nganggep saya seperti anak kecil usia 5 tahun. Bukan hanya saya lho, keempat kakak saya juga. Kita tahu, yang namanya kakak gak pernah mau merasa diperhatiin sama orangtuanya, selalu membantah. Secara, mereka gengsi sama saya yang notabene anak bungsu, selalu ada kecemburuan sosial. Haha, padahal mah di mata orangtua, semua anak sama aja. Sama-sama merepotkan di waktu kecil :)

Mamah memang cerewet kala kita masih kecil dulu, mungkin sampai sekarang. Sekarang kita yang harus cerewet terhadap beliau. Cerewet supaya mamah dan ayah selalu menjaga kesehatan, jangan terlalu sering mikirin kami anak-anaknya.

Sebenarnya mamah hanya ingin didengarkan, gak lebih. Jika mereka curhat kepada kita, dengarkanlah dengan setia. Udah lupa kalo kita pernah nyusahin mereka sedemikian manjanya? Gak usah membantah, saya yakin semua anak di dunia ini gak ada yang gak pernah ngerepotin orangtua terutama mamah di masa kecil. Yang bilang gak pernah nyusahin orangtua, mungkin mereka bukan manusia. Hewan aja masih punya rasa balas budi sama orangtua mereka lho, keterlaluan banget kalo manusia lupa gitu aja sama kasih sayang orangtua yang tak terperi itu.

Well, ke depannya harus nyempetin buat nelpon beliau, setidaknya seminggu dua kali. Masa iya ngealokasiin pulsa buat daftar paket BB nanggung bisa tapi buat nelpon orangtua yang jelas-jelas sayang banget sama kita engga sih.

Keterlaluan.

11 November 2012

Selera

14 comments :
Suatu pagi di sudut kota Bogor.

"Bang, yang satu gak pake bihun, yang satunya pake taoge tapi gak pake tahu, terus yang satunya lagi kecapnya dikit aja ya," kata seorang ibu muda sembari menggendong anaknya yang masih berusia sekitar satu tahun.

Si abang ketoprak itu hanya mengangguk, lalu mulai meracik bumbu andalannya.

"O iya, yang pake taoge tapi gak pake tahu, pedesnya dikit ya bang. Kalo yang dua, pedesnya sedeng aja," si ibu kembali me-request yang lagi-lagi hanya dibalas anggukan oleh si abang.

Lalu ada pembeli lagi. Kali ini remaja perempuan.

"Bungkus empat ya bang. Yang satu sedeng, yang satu pedes, yang satunya pedes banget, terus yang satu lagi lontongnya dikit aja," remaja itu langsung melontarkan request-nya.

"Siap neng.. Bentar ya, bikinin buat ibu ini dulu," kata si abang sambil mesam-mesem.

"Oke deh, cepetan dikit ya bang," mata remaja itu tertuju pada smartphone yang dipegangnya lalu ngetwit, "Ciyus deh, lama beut nih si abang. #HuFtBanGeDh." Mungkin.

Kebetulan aku belum melontarkan request seperti ibu-ibu itu. Tidak seperti kepada pembeli sebelumnya, kali ini si abang sendiri yang bertanya tentang pesananku.

"Mau berapa bungkus mas?" 

Hmm, syukurlah, biasanya aku dipanggil pak. "Satu aja bang, makan sini. Pedes ya!"

"Pedes biasa apa pedes banget? Pake taoge? Pake bihun?"

Aku merenung sejenak.

"Emmm, yang nerima saya apa adanya aja bang. Saling mengerti kesibukan masing-masing, gak pundungan. Gak cantik juga gapapa, yang penting gak beda-beda jauh sama Jennifer Anniston deh," entah kenapa aku serasa sedang berada di acara Take Me Out versi di bawah pohon rindang.

Kemudian terjadi keheningan yang panjang di bawah pohon rindang itu.

07 November 2012

Kukuhnya Idealisme Insinyur pada Novel Orang-Orang Proyek

6 comments :

Bisa dibilang novel ini yang pertama kali menggugah saya untuk terus membaca novel hingga sekarang. Pada mulanya saya tertarik membaca judulnya yang dapat dibilang lebih pantas tertera sebagai salah satu judul buku manajemen industri. Namun setelah saya baca lebih lanjut, ternyata buku ini merupakan novel anggitan sastrawan Ahmad Tohari.

Orang-Orang Proyek berkisah tentang kehidupan seorang insinyur sipil yang bernama Kabul yang dipercaya memegang proyek pembangunan jembatan di pinggiran Sungai Cibawor. Latar dan penokohan yang kuat dari Ahmad Tohari pada novel ini mampu membawa imajinasi pembaca seakan hadir langsung dalam konflik-konflik yang terjadi.

Saya tertarik dengan tokoh dan penokohan yang dicipta oleh Ahmad Tohari. Seperti novel-novel sebelumnya, Ahmad Tohari sangat piawai mencipta tokoh-tokoh yang berkarakter kuat dan khas. Nyaris tidak ada tokoh yang mubadzir. Selain itu, ia jago dalam mencipta latar yang menjadi ciri khasnya, yaitu pedesaan, sehingga kita seakan berada di tempat tersebut. Begitu pula dengan konflik-konflik yang terjadi. Kedigdayaan pemerintah Orde Baru yang semena-mena mampu ditampilkan tersirat sekaligus gamblang. Golongan Lestari Menang (GLM) yang secara tidak langsung merujuk kepada partai penguasa pada zaman itu cukup mendeskripsikan betapa rakyat tidak mengerti apa pun tentang politik dan hanya bisa tunduk kepada pemerintah.

Pertama, Kabul. Ir. Kabul merupakan tokoh utama yang juga merupakan mantan aktivis kampus yang sangat idealis menentang kecurangan pemerintah. Ahmad Tohari menempatkan Kabul sebagai cerminan kaum intelektual saat Orde Baru berkuasa. Kabul bersifat idealis, berpikiran lurus namun tetap rendah hati terhadap semua orang. Tatkala atasannya maupun pejabat sekitar Sungai Cibawor merecoki proyek yang diemban Kabul, ia tetap bersikukuh dengan prinsip yang ia pegang kuat sejak masih menjadi mahasiswa. Namun, lama-kelamaan Kabul tak kuasa menahan gejolak idealismenya yang seakan ditelanjangi para penguasa Orde Baru. Pada akhirnya, Ir. Kabul mengundurkan diri sebagai pimpinan proyek pembangunan jembatan tersebut.

Kedua, Wati. Sekretaris proyek yang dipimpin oleh Kabul ini hadir memberi warna tersendiri. Sosok gadis desa yang cantik, anggun namun hatinya meleleh jika bertemu Kabul dapat digambarkan oleh Ahmad Tohari dengan unik. Kebiasaannya merengut jika dicuekin oleh Kabul membuat saya tersenyum. Bisa dibilang sosok Wati merupakan tokoh pencair suasana tatkala konflik-konflik menyerang Kabul. Yang saya cermati, Ahmad Tohari mampu mencipta tokoh wanita ini dengan apik dan tidak berlebihan.

Ketiga, Pak Tarya. Novel ini diawali dengan suasana Sungai Cibawor sehabis tiga hari yang lalu dilanda banjir besar. Dan di tepian Sungai itu terdapat Pak Tarya yang sedang memancing tanpa tujuan. Kehadiran tokoh Pak Tarya pada Orang-Orang Proyek semacam malaikat bagi tokoh utama. Sosoknya yang sederhana, nyeleneh namun di sisi lain sangat cerdas dan peka terhadap situasi politik saat itu sangat unik. Kabul yang emosinya masih labil banyak mendapat wejangan-wejangan tersirat dari Pak Tarya. Tapi seringkali Pak Tarya muncul pada waktu yang terlambat, sehingga membuat pembaca geregetan menyaksikan konflik batin yang kerap kali terjadi pada Kabul.

Keempat, Basar. Sahabat Kabul sesama aktivis kala masih menjadi mahasiswa ini muncul sebagai Kepala Desa sekitar Sungai Cibawor. Dorongan orangtua yang berhasrat menyalonkan dirinya menjadi Kades ia terima dengan penuh keterpaksaan. Jiwa mantan aktivis yang sepaham dengan Kabul ironis dengan kedudukan dirinya sebagai kaki tangan pemerintah Orde Baru. Proyek pembangunan jembatan banyak direcoki pemerintah. Tentu saja Basar yang merupakan pejabat pemerintah paling rendah sangat kelimpungan. Ia hanya dapat berdiskusi dengan Kabul yang sama-sama bimbang menghadapi kenyataan yang tak sesuai impian yang mereka cita-citakan pada saat menjadi aktivis dulu. Namun, akhirnya kebimbangan kedua sahabat itu mampu dicairkan oleh tokoh Pak Tarya.

Kelima, Dalkijo. Picik! Inilah kata yang pantas saya sematkan kepada tokoh ini. Dalkijo mewakili sosok insinyur pragmatis yang sudah terdoktrin oleh gelimang kemewahan ala birokrat. Ciri khasnya memakai kaca mata hitam branded, jaket kulit dan motor Harley Davidson memperkuat karakter piciknya. Beberapa kali ia berseteru tentang betapa pentingnya pemenuhan kualitas material jembatan dengan Kabul. Namun pada akhirnya Kabul yang mengalah. Di akhir cerita Dalkijo memaksakan kehendaknya memakai material-material bekas demi mengejar jadwal peringatan acara HUT GLM yang semakin mepet. Tentu saja Kabul sangat mengecam keputusan Dalkijo tersebut, dan ia mengundurkan diri sebagai penanggung jawab proyek jembatan Cibawor.

Keenam, Mak Sumeh. Tokoh Mak Sumeh hadir sebagai tokoh yang nyinyir (kalau istilah masa kini: kepo) dan membuat pembaca geregetan. Pemilik warung di sekitar lokasi proyek ini begitu dominan melengkapi seluruh rangkaian isi novel. Kekaguman Wati kepada Kabul berulangkali dituturkan Mak Sumeh dengan polos dan blak-blakan. Namun Kabul tak menggubrisnya walaupun ia sempat juga kesal akan kenyinyiran Mak Sumeh. Di sisi lain Mak Sumeh mewakili wong cilik yang jeli memanfaatkan peluang usaha di sebuah tempat yang ramai, dalam hal ini lokasi proyek jembatan Cibawor.

Ketujuh, Tante Ana. Sekali lagi Ahmad Tohari begitu cerdas mencipta tokoh yang berkarakter kuat dan khas. Tokoh Tante Ana maupun Mak Sumeh hadir membawa corak yang membuat konflik-konflik pada Orang-Orang Proyek mencair. Alunan kecrek dan suaranya yang berat kelaki-lakian begitu menghibur para pekerja proyek. Tante Ana mampu hadir sebagai penghibur kaum jelata yang haus akan hiburan. Terkadang ia rela mengamen tanpa dibayar recehan sekalipun oleh orang-orang proyek. Tante Ana merupakan anomali dari wong cilik yang begitu sukarela berbagi kebahagiaan dengan sesama. Tentu saja hal ini bertolak belakang dengan Dalkijo yang hidup mapan dan bergelimang kemewahan itu.

Walaupun tidak sedalam karya fenomenalnya, Ronggeng Dukuh Paruk, namun saya pikir Orang-Orang Proyek tetap memperlihatkan keberpihakan Ahmad Tohari terhadap orang kecil. Sudah barang tentu tokoh Kabul merupakan cerminan dari kegelisahan Ahmad Tohari terhadap para birokrat Orde Baru yang semena-mena. Novel ini sangat cocok dibaca oleh semua kalangan, terutama para mahasiswa yang harus senantiasa memperjuangkan idealismenya dan menolak menyerah terhadap kemunafikan di negeri ini.

05 November 2012

Postingan Akhir Pekan

8 comments :
Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya ungkapkan di blog ini. Namun, karena kesibukan dan kendala teknis yang sangat membabi buta (baca: malas), lebih baik saya tunda saja hingga tenggat waktu yang tak terhingga, haha.

Hmm, baru kali ini saya mengalami hal-hal campur aduk seperti pekan kemarin. Rumah yang saya tebengi masih direnovasi, hujan tidak berhenti sepanjang hari tak mengenal waktu, ditambah lagi nilai UTS salah satu matkul ancur banget. Brrrr...

Untunglah di akhir pekan ada kegiatan yang dapat menghapus sejenak kengenesan tadi. Malam minggu kemarin (jomblo biasa menyebutnya dengan sabtu malam) ada acara bareng Blogor. Blogor bersama dengan Pesantren Daarul Uluum mengadakan nobar film dokumenter #linimassa2 bikinan @internetsehat. Mengenai isi dari film #linimassa2 tersebut, nanti akan saya tulis pada kesempatan yang lain. Kenapa? Karena ada hadiah review-nya juga lho, lumayan. Well, daripada asal-asalan posting mending nyari wangsit dulu deh hehehe.

Dan pada malam itu juga untuk pertama kalinya saya bertemu dengan yang namanya dea. Hehe, berawal dari kolom komentar artikel kang harris yang ini, kemudian berkenalan lebih lanjut di linimasa twitter, dan akhirnya saya bisa bertemu di dunia nyata, hehehe. Mungkin inilah salah satu keasyikan ngeblog, kita bisa bertemu dengan orang yang sama sekali belum kita kenali. Nice to meet you dea, jangan kapok kehujanan tengah malam lagi ya, hahaha.

Semoga pekan depan lebih bersahabat buat saya. Rumah yang kembali normal, cuaca tidak labil lagi, tetap sehat lahir batin, serta kondisi finansial yang segera pulih secepatnya, hehe. 

Oh iya, terima kasih kepada kang MT yang telah sudi memberi saya buku tentang seluk beluk internet. Insya Allah akan saya baca kok, tapi gak tahu kapan :D

Selamat menyambut awal pekan sob, see you..

28 October 2012

Nona

14 comments :
Siapa yang mampu menduga akan kehadiran seseorang yang sangat istimewa dalam hidup kita. Semuanya datang begitu saja. Namun, justru ketika kita mati-matian mencari ke sana-sini hasilnya malah nihil. Mungkin sesuatu yang istimewa itu bukan untuk dicari, namun datang menghampiri.

Masih takjub dengan peristiwa kemarin, dan hari ini. Sudah setahun lebih kita saling mengenal, aku pikir tak ada apa-apa diantara kita. Memang, logika dan pikiran seringkali kalah oleh perasaan. Inilah yang aku dan dia rasakan, sekarang.

Well, just take it easy nona manis...

281012

25 October 2012

Tired but Happy - part 2, end

12 comments :
Dari dulu saya sangat ingin mengikuti kelas menulis, khususnya fiksi. Kebetulan beberapa bulan yang lalu, saya juga sempat mengikuti workshop singkat Mbak Asma Nadia di Cibinong. Setelah workshop tersebut, rasanya saya ingin belajar tentang kepenulisan lebih dalam lagi.

Berawal dari tweet kang @mataharitimoer, mulai tanggal 28 Oktober 2012 besok akan dibuka Kelas Anggit Narasoma (KAN). Kelas menulis ini diprakarsai oleh penulis Khrisna Pabichara yang merupakan penulis novel "Sepatu Dahlan", Erha Limanov dan Mataharitimoer.

Sebenarnya saya minder, mengingat belum satu pun cerpen ataupun karya sastra sejenisnya yang pernah saya anggit. Terlebih, banyak peserta yang memang kesehariannya adalah sebagai penulis ataupun pekerja kreatif lain. Kalau saya? Hehe, hanya mahasiswa teknik yang suka bergalau di blog :D

Entah energi dari mana yang menyerang saya beberapa hari lalu. Saya nekat mengikuti tes seleksi KAN melalui surel. Banyak pertanyaan mengenai wawasan kita mengenai karya sastra seperti novel dan cerpen. Selain itu juga, terdapat pertanyaan mengenai motivasi dan tujuan kita mengikuti KAN ini. Oke, selesai... kirim..

Peserta yang lolos seleksi baru diumumkan kemarin pukul 14.00. Dan ternyata... Alhamdulillah saya lolos seleksi KAN :')


Hmm, masih belum percaya kalau mulai Ahad besok bisa belajar menulis dari penulis-penulis sekaliber Daeng Khrisna Pabichara, Mataharitimoer dan Erha Limanov. Alhamdulillah...

Ternyata di balik kesulitan itu banyak hal-hal yang tak kita duga sebelumnya. Ada kesulitan di balik kesulitan, ada kemudahan di balik kesulitan, dan yang sekarang terjadi pada diri saya adalah ada anugerah di balik kesulitan.

-end-

Tired but Happy - part 1

6 comments :
Karena di balik kesulitan itu terdapat hal-hal yang tak terduga.
Tidak ada kata yang dapat mendeskripsikan perasaan saya pekan ini. Pekan UTS yang sangat menguras energi dan pikiran. Mata kuliah full eksak seperti Kimia Analitik, Termodinamika, Mekanika Fluida, Proses Industri Semen, Transfer Phenomena ibarat peluru yang menghujam bertubi-tubi dari senapan M-16.

Ditambah lagi, rumah kakak tempat saya menebeng sekarang sedang direnovasi, karena atapnya rapuh. Maklum rumah BTN, Bangunan Tidak Normal, hehe. Kuda-kudanya dimakan rayap. Apa boleh buat, nantinya harus diganti dengan baja ringan. Terpaksa deh kami harus mengungsi. Sekarang, sekalinya saya menemukan bangunan yang ada atapnya ya langsung tidur, gelandangan kece.. hihi.

Di tengah kelelahan dan ketidaknyamanan itu ada beberapa kabar yang menyejukkan pikiran ini. Hehe, alhamdulillah saya mendapat juara 4 kontes blog #AkudanPLN yang diadakan oleh BLOGdetik dan PLN. Jika berkenan, klik di sini untuk membaca artikel kontes blog yang saya tulis sebulan lalu. Nah, berikut screenshot pengumuman pemenangnya.


Terus terang saya baru pertama kali mengikuti kontes blog. Diawali dengan dorongan semangat dari komunitas Blogger Bogor (Blogor) yang banyak dari anggotanya merupakan langganan juara kontes blog. Bahkan pada kopdar sebulan yang lalu, kang banyumurti dan kang erick sempat berkelakar, "Blogger kok beli gadget.." Menurut mereka, Blogger tidak perlu beli gadget, cukup mengikuti berbagai kontes blog saja supaya mendapat gadget yang diidam-idamkan. Hehe, Blogger kok pelit sih :p

Semoga ini menjadi dorongan penyemangat bagi saya untuk terus berkarya (boleh gak kalo Blogger disamakan kayak Penulis?) dan menulis lebih baik lagi. Semangaattt!!

Terima kasih BLOGdetik dan PLN yang sudah mengadakan kontes blog #AkudanPLN ini dengan lancar dan fair. Terima kasih juga sudah memilih saya sebagai salah satu pemenang walaupun blog saya bukan dari BLOGdetik. Yang terpenting, semoga harapan-harapan ribuan Blogger yang berpartisipasi dalam kontes kemarin dapat diwujudkan PLN, segera.


bersambung...

20 October 2012

Konversi Gorengan Ke Buah-Buahan

24 comments :
Kalau bicara konversi, biasanya kata ini sering diterapkan pada bidang IPTEK ataupun bidang ilmu eksak lain. Tapi sekarang saya ingin menerapkannya ke makanan yang kalau boleh dibilang makanan kebangsaan saya.

Bagi saya, mengonsumsi gorengan itu sudah jadi candu, sangat sulit bagi saya untuk menghindari makanan biasanya terdiri dari bakwan, tahu isi, kroket (risol), pisang molen dan banyak lagi. Kalau boleh memilih, lebih baik menjauhi gebetan ataupun mantan daripada menjauhi gorengan. Berlebihan memang sih, banget.

Sejak kecil, saya doyan banget sama makanan yang membuat kecanduan seumur hidup ini. Kebetulan orangtua saya juga penggemar gorengan kelas berat. Sepertinya, dulu kami membeli gorengan hampir setiap hari. Jumlahnya? Kalau tidak salah sih saya biasa makan sekitar 5 gorengan setiap pagi. Sore hari beda urusan ya, kadang-kadang kami membeli lagi gorengan untuk camilan malam, hahaha.
Kebiasaan ini berlanjut hingga sekarang dan tidak tinggal di rumah orangtua lagi. Tidak tahu kenapa, setiap kali melihat abang-abang gorengan di pinggir jalan, gorengan buatannya itu seakan melambai-lambai manja sehingga hati saya luluh juga.

Saya tidak mungkin menutup mata terhadap fakta yang menunjukkan bahwa gorengan merupakan camilan yang berkolesterol tinggi. Gorengan mengandung lemak trans (trans fat) yang tinggi. Hmm, dari namanya saja sudah "fat", tentu saja membuat tubuh kita "fat" juga. 

Akhir-akhir ini saya mulai menyadari bahwa harus ada perubahan pola makan dalam kehidupan saya. Mumpung masih muda (umurnya, mukanya sih engga), lebih baik mencegah hal-hal yang tidak diinginkan ke depannya, bukan?

Move On ke Buah-Buahan

Jujur, saya jarang banget makan buah-buahan. Kenapa? Sekilas, harga buah-buahan sedikit lebih mahal daripada gorengan. Misalnya, satu kilogram mangga sekitar 10 ribu, sedangkan kalau 10 ribu itu dibelikan gorengan, wahhh, bisa dapet banyak tuh. Haha, kuantitas masih menjadi pertimbangan saya untuk membeli camilan. Maklum, mahasiswa berdompet cekak :p
Namun, setelah dihitung-hitung lebih lanjut, ternyata sama saja. Bahkan jika melihat kandungan gizi yang terkandung pada hampir semua jenis buah-buahan, gorengan sepertinya ibarat makanan sampah yang memiliki gizi yang sangat rendah. Lemak trans yang tinggi tersebut menimbulkan obesitas jika dikonsumsi dalam jumlah banyak. Terus terang, saya merinding kalau mendengar kata obesitas. Mau sebesar apa lagi ukuran body dan baju saya yang sudah XL ini?

Terlebih lagi gorengan-gorengan yang dijual di pinggir jalan.  Sayuran yang digunakan banyak yang tidak segar, sehingga mengurangi kandungan gizi yang seharusnya tinggi pada sayuran. Selain itu, minyak yang dipakai sudah lebih dari 3 kali penyaringan yang bisa menyebabkan kanker. Bahkan ada abang-abang yang usil menggunakan minyak goreng bekas restoran fast food. Yang lebih mengerikan, ada juga oknum yang menambahkan plastik supaya gorengan terlihat mengilap, padat dan tidak lembek.

Bandingkan dengan buah-buahan. Memang, harganya sedikit lebih mahal, tapi kandungan gizinya jauh lebih tinggi daripada gorengan. Hampir semua buah-buahan bebas dari kolesterol. Kalaupun ada, itu adalah kolesterol yang bermanfaat bagi tubuh seperti pada alpukat. Buah juga mengandung banyak serat yang melancarkan pencernaan, mencegah ambeien dan kanker kolon. Kemudian, buah juga mengandung zat antioksidan yang mencegah penuaan dini karena zat ini berfungsi untuk menetralisir radikal bebas dari polusi, sinar matahari berlebihan maupun asap rokok. Hehe, ternyata buah sangat bermanfaat untuk mengembalikan muka muda saya ini.

Banyak sekali manfaat yang terkandung dalam buah-buahan. Tapi kita juga harus senantiasa waspada dalam memilih buah-buahan. Seperti kita ketahui, ada beberapa oknum penjual usil yang menyuntikkan pemanis buatan maupun pewarna tekstil ke buah-buahan ini. Bukan manfaat yang diperoleh tubuh, malah sebaliknya.

Lha, terus kita makan apa dong kalau hampir semua makanan serta camilan tidak terlepas dari zat kimia berbahaya? Ya, menurut saya sih kita jangan terlalu sering menonton Reportase Investigasi Trans TV deh. Bagaimanapun, tidak semua pedagang bertindak mengerikan seperti hal-hal di atas. Masih banyak pedagang yang jujur kok.

Cara yang paling mudah, tentu saja lebih baik kita berdoa supaya setiap makanan yang kita konsumsi itu aman, hehe. Yuk ah, move on ke buah-buahan!

gambar dan referensi : lapar.com, majalahkesehatan.com

12 October 2012

Penyidik Jujur

2 comments :
"Pur, gimana, semuanya beres?" seseorang bercengkerama di bawah keteduhan pohon  sawo bersama sahabatnya, berdua.

"Oalah, beres dong Pak Wirawan. Seluruh media sudah kita hubungi untuk meliput konferensi pers besok," Purnomo terkekeh.

"Hahaha kau memang ulet kalo soal beginian Pur. Habislah si penyidik jujur itu," Wirawan tergelak.

"Eh Pak, tapi saya masih ragu. Apakah masyarakat bakal mempercayai begitu saja kabar yang sebenarnya hoax ini? Menurut saya sih ini terlalu dibuat-buat, terlihat jelas kejanggalannya."

Wirawan terdiam sebentar. "Hmm, justru masyarakat kita ini tipe yang mudah percaya kabar yang janggal dan sensasional. Saya kira tidak masalah. Lagian siapa peduli masyarakat, kita kan hanya butuh simpati dari Pak Presiden saja."

Purnomo mengambil sebatang rokok yang ia selipkan di kupingnya. Sayang, ia tak punya korek. Purnomo hanya memilin-milin rokok itu. "Ya, betul itu. Tapi bagaimanapun kita butuh dukungan masyarakat juga Pak. Apalagi di zaman sekarang ini, hampir setiap trending topic twitter dijadikan headline news di TV. Zaman sekarang masyarakat kita sudah jauh lebih cerdas, semuanya melek teknologi serta haus informasi," Purnomo masih mencari koreknya yang sebenarnya memang ia tak punya.

Siang itu sebenarnya sangat terik, tapi Wirawan menarik ritsleting mantel wolnya hingga leher. "Heh, sudah kubilang jangan khawatirkan masyarakat. Selama kabar sensasional serta bukti palsunya terlihat meyakinkan serta bukti-bukti palsu itu sudah kita kemas dengan rapi, pede aja Pur. Kau tahu sendiri, rekan sejawat kita hampir semuanya pernah menangani kasus hoax, dan akhirnya sukses menyeret orang yang kita incar yang sebenarnya tidak bersalah sedikitpun ke jeruji besi," kali ini Wirawan berapi-api.

Purnomo menoleh, kemudian tersenyum. "Hmm, okelah kalo begitu Pak Wirawan, saya percaya sekarang. Apalagi ternyata ada yang bersedia jadi saksi penembakan pemilik sarang burung walet tersebut, seorang korban palsu. Makin mulus saja nih rencana kita, hehehe, " Purnomo tersenyum penuh kemenangan.

"Nah, gitu dong. Saya yakin si penyidik jujur itu akan segera menyesali perbuatannya yang seenaknya saja membunuh karier mantan teman-teman sejawatnya dulu. Rasakan kau penyidik jujur, hahaha," Wirawan tertawa sangat keras.

Tiba-tiba lelaki berjas putih berjalan mendekat ke arah mereka, kemudian menyapa, "Selamat siang bapak-bapak, hari ini sangat cerah ya? Hmm, ngomong-ngomong sudah puas mengasonya? Sekarang lebih baik kita kembali ke kamar kalian yuk, di luar terlalu terik untuk kalian," dokter jiwa itu kemudian membimbing Wirawan dan Purnomo masuk ke kamar mereka masing-masing.

07 October 2012

Sehari Penuh di Jakarta

17 comments :

Hari sabtu kemarin saya beserta 19 teman kuliah berkunjung ke ibukota negara, Jakarta. Mau ngapain, mau demo kasus KPK vs POLRI? Hehe, bukan. Sejak tanggal 6 hingga 8 Oktober 2012, TNI-AD mengadakan pameran Alutsista TNI-AD yang kebetulan bertempat di Monumen Nasional (Monas). Kapan lagi kita bisa lebih dekat dengan bapak-bapak tentara yang berotot kawat tulang besi itu, sehingga sayang sekali kalau event langka itu kami lewatkan begitu saja.

Darma yang pertama kali tahu tentang event ini. Secara, ia penggemar berat militer dan seluk beluknya, sampai-sampai ia mengoleksi baju, celana, bahkan mungkin celana dalam ala army, hehe. Terlebih Darma juga penggemar gim-gim semacam counter strike, battle field, crysis, dan entahlah saya tidak tahu lagi. Tentu saja ia ingin melihat lebih dekat senjata-senjata dan aksesorisnya yang biasa hanya ia lihat dan mainkan di gim-gim perang itu. Dan saya pikir event ini sangat menggugah adrenalinnya.

Stasiun Bogor

Stasiun Bogor.
Transportasi andalan warga Jakarta-Bogor.
Sebagian besar teman memutuskan untuk berkumpul di stasiun Bojong Gede. Namun karena tempat tinggal saya lebih dekat dengan stasiun Bogor, saya memilih untuk berangkat dari stasiun Bogor saja. Kebetulan ada tiga teman lain yang berangkat dari sana. Syukurlah, saya tidak benar-benar sendirian, hehe.

KRL commuterline yang kami tumpangi berangkat pukul 10.15. Di dalam KRL, saya sempat khawatir kalau-kalau KRL ini anjlok juga seperti kejadian di Cilebut tiga hari yang lalu. Haha, berlebihan memang, tapi syukurlah kami selamat sampai tujuan. Kami tiba di stasiun Juanda sekitar pukul 12 siang.
Stasiun Juanda.

Tiba di Monas

Kata Eko sih lokasi Monas itu tidak jauh dari stasiun Juanda. Maka kami berempat memutuskan untuk berjalan kaki dari Juanda, dan memang letak Monas tidak terlampau jauh. Kemudian trotoar yang kami lewati cukup nyaman untuk dilewati pejalan kaki, walaupun memang ada beberapa pedagang kaki lima yang berjualan di sana. Namun keberadaan mereka tidak sampai mengganggu lalu lintas sekitar.
Monumen Nasional yang takkan pernah kehilangan wibawanya.
Megah...

Setiba di lokasi kami berempat mencari teman-teman lain yang berangkat dari Bojong Gede. Namun ternyata mereka salah naik KRL. Seharusnya yang mereka tumpangi yaitu KRL tujuan Jakarta Kota, sedangkan mereka naik KRL ekonomi tujuan Tanah Abang. Alhasil mereka terpaksa turun di stasiun Manggarai untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan busway. 

Sambil menunggu mereka, kami berempat melakukan aktivitas yang memang jadi tujuan utama kami, yakni berfoto ria, hahaha. Kami mengunjungi stan demi stan pameran Alutsista ini, dan kamera saku tidak lepas dari genggaman saya. Jika berkenan melihat kenarsisan kami, silakan lihat foto-foto yang kami potret kemarin :D








Foto-foto di atas hanya foto kami berempat, karena kami baru bertemu dengan teman-teman yang lain secara lengkap sekitar pukul setengah dua. Selain itu, baterai kamera saku saya tiba-tiba lemah, dan mati. Nasib.. maaf ya teman-teman yang lain, hehe.

Dan Darma pun akhirnya menyaksikan langsung benda-benda yang ia kagumi itu. Bahkan ia sempat untuk memegang serta berfoto dengan sniper rifle. Nih, lihat saja :

Keren euy, mirip tentara, tentara kondangan (baca : hansip)

Kami berkeliling di pameran hingga pukul empat sore. Setelah itu kami memutuskan untuk mampir ke kota tua, sekalian bermalam minggu hehehe. Namun sebelumnya kami sholat ashar terlebih dahulu di Istiqlal. 
Masjid kebanggaan Indonesia.
Baru sadar, tepat di seberang Istiqlal adalah Gereja Katedral. Indahnya kebhinekaan.

Kota Tua

Setelah sholat ashar kami melanjutkan perjalanan ke kota tua dengan menggunakan busway. Hehe, ini pertama kalinya saya naik busway lho *norak*. Empat puluh menit kemudian kami akhirnya tiba di kota tua. Yang dituju pertama kali tentu saja penjual makanan, karena kami semua belum sempat makan siang. Kebiasaan banget emang, mahasiswa mah makan siang sama makan malam dirapelin melulu :p

Sebelumnya saya pikir Kota Tua itu mirip seperti jalan Braga di Bandung, sepi, tenteram dan suasana vintage nya sangat kental. Ternyata prediksi saya keliru. Di Kota Tua banyak sekali bertebaran para pedagang mulai dari pedagang makanan seperti nasi goreng, soto ayam dan otak-otak hingga pedagang pernak-pernik seperti kalung, tas, pakaian bahkan tukang ramal tarot pun ada disini. Hmm, mana bisa saya merasakan serta menikmati kekunoan Kota Tua ini, mau berjalan kaki saja sempit. Alhasil tidak ada foto yang sempat saya ambil. Eh, sebentar, ternyata ada satu foto yang sempat saya ambil, ini dia :
Hehe, Amin berpose di atas batu. Keren lah miiin :D

Ternyata ada yang berulang tahun di hari itu. Muliyani (kaka) berulang tahun yang ke-19. Diiringi petikan gitar yang dimainkan oleh pengamen Kota Tua, kami sama-sama menyanyikan "Selamat Ulang Tahun" nya Jamrud. Setelah itu ada acara tiup korek, bukannya tiup lilin. Haha, enak bener ya jadi si kaka, serasa diulang tahunkan. Lho, bukannya kaka emang ulang tahun? *mikir*

Saatnya Kembali ke Kota Hujan...

Tidak terasa sudah pukul setengah delapan malam. Kami memutuskan untuk pulang ke Bogor, karena takut kemalaman. Kami berjalan kaki ke stasiun Jakarta Kota. Alhamdulilah ternyata masih ada jadwal commuterline tujuan Bogor.

Berjalan kaki menuju Stasiun Jakarta Kota.
Akhirnya sampai Jakarta Kota. Saatnya kembali ke Bogor...
Jakarta memang tidak pernah kehabisan daya tariknya. Tak heran banyak sekali pendatang dari luar daerah yang mengadu nasib di ibukota negara ini. Jakarta adalah kota yang gemerlap, penuh dengan kemegahan dan apapun sesuatu yang kita cari tersedia di sini.

Jakarta pula yang menarik wisatawan asing untuk menyambangi kota itu. Kota yang sarat dengan sejarah perjuangan Indonesia, serta warisan budaya yang ironisnya saat ini semakin tergerus oleh gaya hidup modern. 

Tapi saya tetap cinta Bogor. Saya pikir Bogor adalah kota yang balance. Cuaca, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Lapangan pekerjaan, cukup banyak walaupun tidak sebanyak di Jakarta. Tempat wisata, hmmm, bertebaran di mana-mana mulai dari wisata belanja seperti FO hingga wisata alam seperti Puncak dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Kuliner, tengok saja blog pak banyumurti.net, kuliner kota Bogor sangat melimpah, banyak sekali ragamnya. Jodoh, hahaha no comment, saya jomblo soalnya :p

Ibarat kue, mungkin Bogor adalah kue yang tidak menggunakan pemanis buatan, tidak gosong dan tidak pula lembek dan tidak terlalu banyak menggunakan soda kue, pas. Apabila anda menemukan kota yang seperti kue itu, saya yakin itulah kota Bogor.

@cepyhr, lahir di Bandung.

Gambar : dokumentasi pribadi (taken by Casio EX-Z16, three photos taken by Blackberry 9105), foto Darma memegang sniper saya rampok paksa dari facebook Darma.

Enjoy Jakarta!!!