29 August 2012

Kembali ke Realitas

No comments :
Tidak terasa liburan telah usai. Usai sudah hibernasi selama kurang lebih dua bulanan ini. Usai sudah bermalas-malasan di siang hari dan begadang semalam suntuknya. Hari-hari selanjutnya tentu saja masih akan terus begadang, tapi begadangnya lain, lebih 'asyik', yaitu begadang ngerjain deadline tugas :p

Well, sekarang saatnya kembali ke realitas. Melakukan aktivitas yang telah kita pilih dalam hidup kita, kembali lagi ke realitas yang takkan jauh-jauh dari realitas yang pahit dan asem. Tapi, semoga saja ketemu realitas yang manis ah, hehe.
Seperti biasa, selalu saja ada yang berbeda di bulan Agustus setiap tahunnya. Setiap bulan Agustus, umur saya bertambah (berkurang sih tepatnya), dan tidak terasa usia saya sudah mencapai 21 tahun. Kalau boleh saya menoleh (baca postingan saya setahun yang lalu disini), setahun yang lalu telah terjadi perjudian dalam hidup saya. Perjudian memilih antara 'uang', atau 'hasrat'. 

Do you know, banyak orang yang sangat terobsesi terhadap yang satu ini, uang. Orang melakukan berbagai cara untuk memperoleh uang yang banyak. Berpindah-pindah pekerjaan demi memeroleh peluang karier dan salary yang menggiurkan, berbisnis MLM yang memberikan janji dan harapan semu, bahkan dengan cara menjadi seorang rentenir. Tidak masalah mengenai cara-cara yang beragam itu, setiap orang mempunyai hak untuk mengubah nasibnya masing-masing. Tergantung perspektif masing-masing dalam memilih jalan hidupnya. Urusan dosa atau tidaknya perbuatan mereka, itu urusan mereka dengan Tuhannya.

Lalu, saya?

Hehe, banyak orang terdekat yang menyayangkan mengapa saya meninggalkan pekerjaan yang sebenarnya gak jelek-jelek amat bidangnya maupun gajinya itu. Mereka bertanya mengapa saya lebih  memilih melanjutkan pendidikan yang notabene tidak menghasilkan apapun (baca: duit), hanya menghasilkan peluh otak dan batin saja. Padahal kata mereka, nyari kerja zaman sekarang itu susahnya minta ampun. Sekalipun dapat, pekerjaan yang didapat hanya sebatas karyawan kontrak ataupun karyawan outsourcing yang sistemnya tidak berperikemanusiaan itu. Mungkin kata mereka, saya adalah orang yang tidak mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT.

Benar begitu?

Saya pikir, mindset seperti inilah akar permasalahan korupsi yang semakin menjamur saja di negeri kita. Pemikiran yang sangat sempit mengenai pencapaian dan kesuksesan. Mayoritas masyarakat menilai kesuksesan itu adalah mendapatkan uang yang banyak, kedudukan yang tinggi, dan rumah serta kendaraan mewah berserakan dimana-mana. 

Dan, saya tidak mau berpikiran seperti itu. Apa artinya uang berserakan dimana-mana kalau kita tidak bahagia. Kebahagiaan itu hanya bisa terwujud jika kita melakukan apa yang ingin kita capai, passion.

Sesungguhnya ungkapan bahwa uang itu memabukkan bukanlah mitos belaka. Hal itu benar adanya. Uang bisa membuat kepribadian seseorang berubah berpuluh-puluh derajat. Uang bisa membuat seseorang melakukan apapun demi memeroleh uang itu sendiri. Bahkan uang bisa berbalik menjadi senjata makan tuan ketika seseorang terlilit utang dari mana-mana.

Memang, hanya orang dari negeri utopia yang menyatakan bahwa kita tidak memerlukan uang dalam kehidupan ini. Di zaman modern, mustahil orang bisa hidup tanpa uang. Semua kegiatan jual beli menggunakan uang sebagai alat tukar. Kita tetap memerlukan uang.

Hanya, jangan sampai kita menafsirkan uang sebagai tujuan hidup, apalagi menuhankan uang. Ibaratnya, uang hanyalah sekedar bonus dari segala pencapaian dan cita-cita yang kita perjuangkan. Uang hanyalah titipan dari Allah SWT. yang nantinya wajib kita sirkulasikan kepada orang lain. 

Mari, kembali ke realitas..

22 August 2012

Dua Puluh Satu...

No comments :
Hari ini dua puluh satu tahun yang lalu di sebuah rumah sakit Angkatan Darat telah lahir seorang bayi yang tidak diharapkan sebelumnya. Betapa tidak, ibu dari bayi tersebut sudah menjalani KB selama ini. Ibu itu sudah merasa cukup mempunyai satu putra dan tiga putri. Terlebih usianya sudah melewati masa ideal seorang ibu untuk melahirkan. Tetapi Allah SWT. mempunyai rencana lain. Buah hati kelima sekaligus paling bontot itupun lahir, dan.. masih hidup hingga sekarang.

Bayi itu adalah aku. Aku terlahir dengan nama Cepy Agustira Prahadian. Aku hidup di tengah keluarga guru yang sederhana di sudut kabupaten Bandung. Setiap hari aku menjalani masa kecil yang sangat berwarna. Masih terbersit di memori ketika diajak ayah menonton The Lost Word di bioskop, jalan-jalan di trotoar jalanan kota Bandung yang masih asri di hari Minggu, tamasya ke gunung kapur di Cipatat dengan sepupuku, dan digendong ayah ketika mengantuk dalam perjalanan.

Masih hangat juga di ingatan ketika TK aku terserang sakit yang cukup parah. Dan akhirnya saat itu namaku diganti menjadi Cepy Hidayaturrahman. Sebabnya, menurut mitos orang-orang zaman dulu, kalau anak mereka terserang sakit yang parah, nama anak mereka harus diganti, segera. Tak apalah, semoga nama ini memang yang paling kompatibel bagi hidupku.

Waktu berlalu dengan pasti layaknya alur sebuah film melankolis, ada bahagia, ada duka, bahkan yang hambar sekalipun. Mau tidak mau semua itu aku jalani, dengan ikhlas. Satu persatu kakak-kakakku mulai berkeluarga, dan meninggalkan rumah keluarga kami. Aku serasa kesepian tanpa mereka. Tidak ada lagi tempat untuk bermanja-manja, tempat untuk berkeluh kesah, dan partner untuk berkelahi dalam berebut makanan.

Tapi kini aku pun tidak tinggal lagi di rumah orangtua. Sekarang rumah itu hanya dihuni mamah dan ayah, kembali seperti saat mereka masih menjadi pengantin baru. Yang berbeda hanya angka, angka usia mereka.

Tidak ada satupun device untuk memutar waktu layaknya mesin waktu Doraemon. Apapun mengalir natural, tergantung kita masing-masing menghadapinya. Ada orang yang menghadapi hidup dengan gembira. Ada orang yang menghadapi hidup dengan frustasi. Ada orang yang menghadapi hidup dengan emosi tiap harinya. Ada orang yang menghadapi hidup dengan bijak. Dan ada pula orang yang menghadapinya dengan setengah hati, hidup segan, mati pun tak mau.

Menurut sebagian orang, usia 20 tahun adalah gerbang usia  kedewasaan seseorang. Katanya, ketika sudah melewati usia 20 tahun mau tidak mau seseorang harus lebih dewasa dalam menghadapi problema hidup serta berpikir dengan cermat dahulu sebelum melakukan suatu hal. Well, akan aku ingat-ingat hal ini baik-baik.

Aku berharap, semoga di usia yang semakin berkurang ini aku bisa melihat mamah dan ayah senantiasa diberikan kesehatan lahir dan batin. Aku pikir PRICELESS adalah satu-satunya kata yang paling pas atas jasa-jasa mereka selama ini. Omong kosong ketika seorang anak merasa bahwa ia tidak pernah dikasihi orangtuanya. Betapa laknatnya orang yang merasa seperti itu, tak tahu diri.

John Lennon bilang, "Life begins at forty." 

Tapi, aku pikir, "If we prepare something for the forthcoming from now, why not?" 

Bandung, 22 Agustus 2012

16 August 2012

Cinta Yang Sebenarnya

No comments :
Lebaran sebentar lagi sob, udah pada mudik belum? Hehe, saya udah nih, sejak pekan kemaren nyampe ke tempat lahir beta. Kebetulan liburan semesterannya lumayan panjang, nembus sampe bulan Ramadhan dan lebaran tentunya. Halah, dulu ngebet pengen liburan, eh pas udah libur pengennya kuliah, jenuh euy, ga ada kegiatan. Yap, rencana bulan Ramadhan yang pernah saya tulis di postingan beberapa pekan lalu gagal. Katanya letter of intentnya belum disetujui pihak perusahaan BUMN itu. Hmm… memang bukan rejeki saya mungkin.

Bersyukur banget bisa ngalamin mudik lagi, kayak orang-orang. Alhamdulilah orangtua saya masih lengkap, patut disyukuri melihat banyak teman saya yang sudah ditinggalkan salah satu bahkan kedua orangtuanya. Hehe, emang sih saya sering membantah omongan mereka, jarang menuruti nasihat mereka, dan keras kepala tentunya. Hmm... hampura mah, pa.
Ngomong-ngomong orangtua, ternyata banyak hal unik yang bikin ketawa atau malah bikin sedih mengenai mereka. Hehe, postingan ini bakal dipenuhi curhatan saya nih, kalian siap-siap untuk jenuh deh sob :D

Mulai dari mamah. Mamah adalah sosok yang gak akan pernah tergantikan perannya. Tidak ada orang lain yang bisa mengkudeta mamah dalam kehidupan saya. Beliau orangnya perhatian banget sama anak-anaknya. Tapi, saking perhatiannya, beliau sering stress sendiri. Padahal gak bagus juga mengingat tidak ada siapa-siapa lagi yang tinggal di rumah selain mamah dan ayah. Tidak ada anak-anak yang siap siaga 24 jam mengantar beliau ke dokter kalo asmanya kambuh. Lalu, mamah juga tipe orang yang suka sekali ngobrol, bertolak belakang dengan saya yang 'dingin'. Kalo saya pulang kampung sebulan sekali, adaaa aja bahan obrolan baru yang beliau ceritakan. Dan, seperti biasa.. di lingkungan manapun, saya adalah pendengar setia. I just say, "mmhhh", "ooohhh", "hah, masa iya?", dan "....."

Lalu, ayah. Ayah merupakan inspirator bagi hidup saya. Ayah adalah sosok yang tegas tapi di lain waktu merupakan pribadi yang humoris. Beliau juga orangnya keras kepala (sama seperti saya), tapi seringkali juga mengalah demi kami keluarganya. Tapi, sejak terserang stroke dua tahun yang lalu, kepribadian beliau banyak berubah. Ayah yang dahulu pekerjaannya bertemu dengan anak didiknya, rapat, pertemuan, - for you know, beliau seorang pensiunan guru - maupun rapat di RW, sekarang beliau menjadi orang yang minderan. Ayah yang dulu dikenal sebagai sosok yang hangat dan bijaksana di lingkungannya, sekarang keluar rumah pun jarang. Entah kenapa beliau bisa berubah. Tapi, menurut saya sih, orang yang pernah terserang stroke, pasti akan ada efek samping yang cenderung permanen menyerang pasien tersebut. Kalo kebetulan sedang mengambil obat ayah ke rumah sakit, saya sering melihat banyak pasien stroke yang lumpuh - menggunakan kursi roda - kemudian pasien yang bibirnya bergerak setiap jeda waktu tertentu. Mungkin mereka pasien stroke yang mengalami penyerangan pada bagian fisik dan organ (sori salah, saya gak belajar biologi waktu STM, hehe). Nah, yang terjadi pada ayah, sepertinya stroke menyerang bagian syarafnya. Maka gejala-gejalanya adalah mudah sekali marah, sering menangis mendadak, percaya diri yang menurun, dan lain-lain. Hmm.. mungkin kita lah yang mesti memaklumi kondisi beliau saat ini, bukan mensesalinya.

Setiap kali saya pulang ke rumah orangtua sekali sebulan, sering saya dibuat geleng-geleng kepala, heran. Heran melihat ayah yang sepanjang hari nongkrong di depan televisi. Heran melihat mamah yang sepanjang hari berkutat di dapuuuurrr terus. Mereka seperti asyik dalam dunia dan sangkarnya masing-masing. Kemudian, sering juga mereka terlibat perkelahian kata-kata, miss komunikasi. Emang sih, dari dulu juga mereka kadang-kadang melakukan hal konyol itu. Tapi, sejak ayah sakit, sepertinya mereka jauh lebih sering terlibat pertengkaran kecil. Mula-mula saya ikut campur, kadang-kadang saya berada di pihak ayah, dan terkadang di pihak mamah. Tapi ternyata itu tidak membantu. Mereka teteeuupp saja begitu, gak berubah juga, gak ada yang mau ngalah.

Terkadang saya menyalahkan keadaan, kenapa saya dilahirkan sebagai anak bungsu. Memang sih anak bungsu itu sering dimanja, baik oleh orangtua maupun oleh kakak-kakaknya. Tapi ternyata malah banyak pahitnya sob. Anak bungsu itu harus siap menghadapi orangtua yang usianya mulai lanjut, mulai terserang penyakit demi penyakit, dan jiwa orangtua yang tidak semuda dulu lagi. Lalu, ketidakharmonisan hubungan kakak-kakak, ada kakak yang bermasalah dengan kakak yang ini lah, dengan kakak yang anu lah, ya gitu deh.

Sebenarnya anak bungsu banyak belajar dari keadaan yang pahit sekalipun. Anak bungsu banyak belajar dari kondisi fisik maupun jiwa orangtuanya yang mulai memasuki usia lanjut, tentunya banyak berubah dibanding dulu. Anak bungsu banyak belajar dari kakak-kakaknya yang mempunyai sifat, ego, dan karakter berbeda-beda. Anak bungsu banyak belajar dari kekurangan kakak-kakaknya. Saking seringnya belajar semua itu, sampai-sampai jadi tidak sempat untuk belajar kuliah, hehe #alibi.

Yap.. tapi sekarang kekecewaan saya berubah 180 derajat. Saya malah bersyukur menjadi anak bungsu yang kata orang manja itu. Karena dilahirkan sebagai anak bungsu, saya banyak belajar.

Kemudian, saya sudah memaklumi pertengkaran kecil maupun besar yang kerap kali terjadi pada kehidupan orangtua saya. Itu sih urusan hati, gak bisa diintervensi. Sepertinya Allah SWT. menciptakan cinta itu bukan untuk mencintai yang manusia cintai aja, tapi untuk mencintai juga yang manusia benci. Bahkan ada sebuah quote, "If you make a girl laugh, she likes you, but if you make her cry, she loves you." Kalo quote itu dicerna, kemudian direlevansikan dengan kehidupan nyata, sepertinya memang begitu. Orangtua saya misalnya. Mereka memang sering bertengkar, dan tak jarang menimbulkan banjir air mata. Tapi, mereka sudah maklum dengan hal itu, karena mereka sudah terlanjur jatuh cinta satu sama lain. Mereka mampu bertahan dalam tali pernikahan selama 41 tahun lamanya. Selama 41 tahun itu tentu saja bukan hanya cinta yang mewarnai hidup mereka, malah saya pikir hidup mereka lebih banyak pahit daripada manis. Tapi, mereka mempunyai obat penawar pahit itu. Penawar itu adalah komitmen, rasa saling memiliki, dan tentu saja, cinta. 

Cinta tanpa komitmen hanyalah bualan belaka.

Dan, komitmen tanpa cinta hanyalah hubungan profesional layaknya karyawan sebuah perusahaan, tidak ada rasa saling memiliki sama sekali. Jarang ada tangisan, tetapi sekalinya ada, langsung CUT. Jarang ada pertengkaran, tapi sekalinya ada langsung di-PHK. Kalo komitmen sudah hancur, hancurlah sudah hubungan seseorang, layaknya perusahaan yang gulung tikar

Itulah cinta yang sebenarnya. Pahit, tapi kepahitan itulah yang membuat cinta menjadi manis.

04 August 2012

Radio Show Menjadi Live Music Show

4 comments :


Kalau sobat suka begadang dan nonton tv, mungkin ada yang suka menonton acara di tvOne yang memang tayang di jam free alias bukan jam primetime. Nama acara tersebut adalah Radio Show, sebuah talk show yang diselingi live music dan dipandu oleh penyiar radio senior Sys N.S. dan Sandy PAS band. Hingga malam ini ketika saya mengetik postingan ini, acara Radio Show memang masih tayang, TAPI...

Pertama kali saya nonton Radio Show, kebetulan saat itu bintang tamu yang hadir adalah Sheila On 7 (cuplikan videonya bisa dilihat disini). Malam itu sepulang dari kuliah - FYI saya berkuliah pada sore hingga malam hari - seperti biasa saya leyeh-leyeh dulu di ruangan tengah sambil nyari channel yang asyik di tv. Tidak sengaja nemu yang aneh di tvOne. Aneh, karena biasanya acara tvOne tidak jauh dari acara berbau news dan politik. Tapi, malam itu ada SO7 di tvOne. Haha, amazing!! *lebay* Jadilah saya bernostalgia ke masa-masa SD ketika band asal Yogyakarta tersebut sedang booming-boomingnya.

Kesan pertama nonton Radio Show, saya sangat terhibur oleh acara tersebut, apalagi waktunya sangat tepat ketika pikiran saya penat sepulang kuliah. Mulai dari hostnya, om Sys N.S. seorang penyiar senior yang tidak usah kita ragukan lagi kapasitas beliau sebagai host. Sebagai penyiar senior, beliau tidak menampakkan 'ketuaannya'. Wawancara dengan narasumber dari berbagai usia dan latar belakang mengalir lancar dengan diselingi humor cerdas dari mulutnya yang tidak mengurangi esensi dari talk show tersebut. Sehingga, walaupun acara tersebut ditayangkan live di malam hari, Radio Show jauh dari kesan menimbulkan kantuk.

Nah, kemudian ini yang saya suka. Mungkin karena nama acara itu yang memang mengambil konsep Radio yang 'di-TV-kan', maka persentase antara live music dan talk show itu fifty-fifty. Jadi, sehabis bintang tamu tampil, otomatis ada wawancara dengan bintang tamu tersebut. Jujur saja, ini lumayan bermanfaat bagi saya yang awam terhadap musik. Saya bisa lebih tahu lebih jauh perjalanan karier mereka, idealisme mereka, dan arti musik bagi mereka. 

Kemudian, musisi yang diundang memang bukan musisi yang saat ini sedang dan baru populer. Bahkan bisa dibilang musisi yang tampil adalah musisi yang jarang kelihatan di acara musik pagi-pagi, hehe. Superman Is Dead, Efek Rumah Kaca, The S.I.G.I.T, The Upstairs, HOMOGENIC adalah musisi ber-genre non mainstream yang pernah tampil di Radio Show. Selain itu, terkadang Radio Show jadi semacam ajang nostalgia. Musisi keren zaman dulu seperti Mus Mujiono, Oppi Andaresta, Fariz R.M, pernah diundang ke acara itu. Inilah salah satu kekuatan dari acara Radio Show, menampilkan sesuatu yang beda. 

Dulu, selain musisi, bintang tamu yang diundang biasanya seniman (selain musisi), sutradara, bahkan pejabat pemerintahan. Dahlan Iskan pernah hadir di acara ini. Andi Mallarangeng pun pernah diundang. Tidak heran namanya Radio Show, karena konsepnya memang sesuai dengan namanya. Topik politik, olahraga, teknologi, dan tentu saja musik semuanya berbaur dengan apik pada acara ini. 

Tapi semuanya perlahan berubah pada pertengahan Maret 2012, ketika Sys N.S. tidak hadir pada beberapa episode dengan alasan 'katanya' anak beliau dirawat di rumah sakit. Tapi, kemudian om Sys tidak pernah nongol lagi di acara yang diorbitkannya itu, hingga sekarang. Alhasil acara itu hanya dipandu oleh Sandy, kadang-kadang ditemani Buluk Superglad. Agak janggal sih ngeliat Sandy dan Buluk jadi host tanpa om Sys N.S. Karena saya pikir otaknya Radio Show ya si om 'muke gile' ini. Tanpa beliau Radio Show seolah kehilangan rohnya. Persentase talk show mulai berkurang, sebaliknya dengan persentase live music yang bertambah. Lalu, pada saat talk show pun saya pikir Sandy kurang interaktif. Berbeda dengan Sys N.S yang senantiasa nyambung dengan narasumber dari berbagai usia dan latar belakangnya masing-masing. 

Tidak ada yang mengetahui dengan pasti penyebab Sys N.S. hengkang dari Radio Show. Ada yang bilang om Sys N.S. kecewa dengan perubahan konsep dari radio menjadi live music. Hmm.. ini juga yang saya tidak setuju. Kalau konsepnya berubah dari radio menjadi live music, Radio Show tak ubahnya acara musik pagi-pagi itu dong, sami mawon atuh akang!! Tidak ada keunikan lagi pada acara ini. Tapi kemudian mulai jelas alasan Sys N.S. mengundurkan diri. Berikut adalah potongan twit dari Sys N.S. yang saya temukan di kaskus, dan ternyata memang benar bahwa perubahan konseplah yang menjadi alasan om muke gile ini menghilang. 


Setelah om Sys menghilang, saya malas menonton acara itu lagi. Konsepnya benar-benar berubah 180 derajat sob. Konsep radio yang menggunakan lokasi tertutup misalnya di kafe-kafe, perlahan ditinggalkan. Sekarang acaranya diadakan di outdoor, jadi semacam live music dini hari. Konsep radio yang membagi rata porsi antara live music dan talkshow jadi berantakan. Talk show bahkan nyaris jauh dari kata menarik, karena hostnya yang kurang interaktif. Memang, sekarang ada Anita Mae si perempuan cantik yang jadi host pendamping. Tapi apakah itu penting? So What..

Persoalan yang sangat membuat saya kecewa adalah mengenai musisi yang diundang pihak Radio Show. Sejak om Sys resign, sengaja atau tidak, sebagian besar musisi yang diundang pihak Radio Show adalah musisi yang ber-genre rock, underground, metal, dan musik cadas lainnya. Saya pikir karena latar belakang Sandy sebagai musisi ber-genre cadas, maka yang diundang pun tak jauh-jauh dari genre yang ia tekuni. Bukannya saya tidak suka musik cadas, saya suka musik cadas. Tapi, bukankah musik itu mempunyai banyak macam genre? Jazz, blues, elektro, british pop, dan masih banyak genre yang bisa digali dan musisi terkait yang bisa diundang. Tapi mengapa yang tampil hanya musisi cadas? Bukankah genre lain pun mempunyai kans yang sama untuk bisa tampil di Radio Show?

Saya harap Radio Show sadar akan kekeliruannya yang cenderung mengutamakan musik cadas. Bagaimanapun bukan hanya musisi ber-genre cadas saja yang pantas untuk diundang. Masih banyak sekali musisi ber-genre lain yang belum sempat tampil di Radio Show. Kemudian, sekali-kali undang juga musisi mainstream, supaya bisa saling bertemu dan bertukar pikiran dengan musisi non mainstream. Mungkin saja dengan cara bertukar pikiran antara musisi yang berbeda kutub tersebut, musisi mainstream yang cenderung hanya mengikuti arus pasar itu jadi lebih termotivasi untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi. Ini baru keren...

Sukur-sukur (walopun mustahil sih) om Sys N.S. bisa comeback dan mengembalikan lagi konsep Radio Show yang menurut saya sudah berantakan tersebut.

Selama masih begitu, jangan heran kalau esensi Radio Show sama saja dengan acara musik pagi-pagi. Nothing special, just cuci-cuci jemur-jemur.

P.S. : Tulisan ini hanya opini pribadi saya. Jika diantara sobat ada yang tidak setuju, saya tetap menghargai kalian sob :)

01 August 2012

Keren Sih, Tapi Dulu...

4 comments :
Ada-ada saja gaya hidup masyarakat Indonesia setiap periodenya. Saat ini, bisa kita saksikan masyarakat sedang terhanyut dalam euforia smartphone, apapun itu vendornya, seperti handset ber-OS Android, Blackberry, bahkan gadget yang cukup prestisius yaitu iPhone serta produk Apple inc. lainnya. Tidak peduli paket internetnya diisi atau tidak, yang penting (terlihat) mampu membeli smartphone keren, bukan begitu sob?

Di bidang peralaskakian, ada CROCS yang merajai tren di kalangan kaum urban sekarang. Kita putar ingatan kembali ke beberapa tahun yang lalu dimana pernah ada SALE produk tersebut di Jakarta. Dan, ternyata sekalipun sudah diskon, harga sandal 'keren' itu tetap saja mahal di kantong orang biasa (termasuk saya apalagi saya). Tapi kenapa SALE produk itu tetap ramai, bahkan diberitakan hampir rusuh karena saling berjubel? Namanya juga ngejar gengsi, alias kepuasan semu. Perbuatan apapun dilakukan untuk mengejar gengsi....
Fenomena ini bukan terjadi saat ini saja. Dulu, sekitar pertengahan 90-an hingga 2003-an pun masyarakat kita sudah melek dengan tren gaya hidup urban seperti gadget, walaupun masih kalah ekstrim sih euforianya dibanding saat ini. Pada era tersebut, ada beberapa gadget yang cukup digandrungi masyarakat urban. Yuk, kita simak sekaligus nostalgia sama-sama :

1. Pager


Barangkali orang yang kelahiran 95 keatas jarang atau bahkan belum pernah mendengar nama gadget ini. Kakak saya dulu sempat punya gadget ini, jadi beruntung saya sempat melihatnya dengan mata kepala sendiri, hehe. Pager ini alat komunikasi untuk mengirim pesan sangat singkat, lebih singkat dari SMS. Sistemnya masih menggunakan sinyal radio. Lalu, pesan singkat yang kita kirim akan diterima terlebih dahulu oleh seorang operator, yang selanjutnya operator akan meneruskan pesan kita ini kepada orang yang kita maksud. Kalo dipikir-pikir, risih juga ya harus lebih dulu mengirim pesan ke operator. Gimana kalo kita lagi berantem sama pacar, terus ada omongan kotor dan kawan-kawannya. Hiyy.. Jangan harap bisa ngetwit #nomention via Ubersocial di pager.

Sekarang, gadget ini memang sudah kalah populer dibanding ponsel, bahkan bisa dibilang punah. Tapi, kabarnya pager masih tetap digunakan oleh kalangan yang bekerja pada situasi darurat, seperti dokter dan regu penyelamat (tim SAR). Mereka masih menggunakan pager karena sistemnya masih menggunakan sinyal radio (sinyal satu arah), dapat dipastikan pager ini tetap beroperasi di mana saja mereka berada. Di pedalaman saat mengevakuasi korban bencana, di daerah yang masih belum ada menara pemancar, penggunaan pager masih oke. Berbeda dengan ponsel yang mengandalkan sinyal GSM ataupun CDMA yang terbatas oleh jangkauan menara pemancar operator. Jadi, pager belum sepenuhnya punah sob..

2. Nokia 6600


Jika kita hidup di tahun 2003-2005 rasanya kurang afdol kalo gak punya temen, sodara, dan anggota keluarga yang memiliki ponsel ini. Yeah... Nokia 6600 sangat fenomenal pada saat itu. Berbagai kalangan, tua muda, bos ataupun pegawai biasa, bahkan anak sekolah banyak sekali yang menjatuhkan pilihan ponselnya kepada ponsel yang mempunyai bodi bongsor ini. Sampai-sampai Nokia 6600 dijuluki ponsel sejuta umat, mengalahkan kemasyuran almarhum KH. Zainuddin M.Z. 

Seiring dengan waktu dan persaingan industri ponsel yang makin sengit dewasa ini, bukan hanya Nokia 6600 saja yang kalah pamor, pabrikan Nokia secara umum pun sudah tidak mampu membendung popularitas Samsung dengan tipe Galaxy nya, RIM dengan Blacberry nya, dan Apple iPhone.

Hehe, dunia emang bener-bener berputar sob..

3. PDA



Jujur, dulu ketika pertama kali melihat gadget ini kalimat yang keluar dari mulut saya adalah, "Wuiihh, keren. Hapenya bisa dicolok-colok sama paku, layarnya gueedeee lagi!!" *norak maksimal*

PDA merupakan singkatan dari Personal Digital Assistent. Dari namanya bisa kita simpulkan bahwa gadget ini berfungsi untuk mengasisteni manusia dalam bekerja, misalnya dalam membuka dokumen word, power point, dan program office lainnya. Selain itu tentu saja PDA digunakan untuk membuka halaman internet serta untuk mengirim e-mail dan chat. Palm dan Windows Mobile adalah sistem operasi yang banyak diterapkan pada PDA.

Sayangnya, harga PDA tidak sebanding dengan fitur dan kinerjanya. Kemudian, jarang sekali PDA yang mempunyai fitur untuk melakukan panggilan (phone). Kalaupun ada, harganya sangat mahal, orang akan berpikir berkali-kali sebelum membeli PDA tersebut. Akhirnya, orang-orang lebih memilih untuk langsung membeli notebook daripada PDA ini. Pada zamannya, PDA hanya dipakai oleh orang-orang yang pekerjaannya benar-benar mobile dan memang sangat membutuhkan, seperti manager perusahaan, pengusaha, sutradara, pengacara, dan sebagainya.

Nah, kemudian mulai muncul smartphone. Smartphone ini menyempurnakan kinerja, fitur dari PDA, termasuk dalam segi harga. Harga smartphone mulai beragam, ada yang low-end, mid-end, dan high-end, sehingga bisa dikonsumsi oleh berbagai kalangan. Akibatnya, smartphone mulai bergeser fungsinya dari yang mengurusi hal-hal yang serius menjadi lebih banyak menerapkan entertainment. Blackberry dan Android adalah contoh paling nyata saat ini. Bukan hanya eksekutif muda ataupun pengacara yang menggunakan smartphone tersebut. Hehe, anak kecil lima tahun pun sudah biasa main Angry Birds di iPad sob...

Relevansi dengan Kondisi Saat ini

Setelah kita lihat beberapa gadget yang pernah berjaya di masa lalu, kita bisa mengaitkannya dengan kondisi saat ini. 

Blacberry, Android, iPhone boleh saja ngetren di Indonesia sekarang. Kalau nanti? Belum tentu.

CROCS boleh saja kelihatan keren dipakai saat ini. Kalau nanti? Hehe, mungkin saja di masa mendatang orang akan menertawakan model sandal CROCS yang memang nyentrik ini.

Intinya, belilah barang ataupun gadget yang benar-benar kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Tidak ada habisnya jika kita terus menerus mengikuti tren. Karena tren itu sifatnya hanya sesaat bukan? Kecuali jika kita memang sangat membutuhkan barang tersebut, ini lain ceritanya. 

Belajarlah dari masa lalu ketika Nokia 6600 itu ramai-ramai dibeli setiap orang. Sekarang? Alih-alih masih dipakai, saya yakin kalaupun ponsel itu masih ada, mereka tidak akan menyimpan bangkai ponsel sejuta umat tersebut lama-lama. Tidak masalah kalau dulu mereka sudah memaksimalkan kinerja Nokia 6600 tersebut karena kebutuhan. Kalau tidak? Berarti mereka hanya menuruti nafsu serta keinginan belaka...

Belilah apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Memang barang itu keren. Iya keren, sekarang. Kalau nanti, belum tentu...