30 November 2012

Kepenasaran

16 comments :
Apa perasaan anda jika atasan di tempat kerja anda membaca postingan di blog kita? Atau jangan-jangan anda pernah menulis postingan tentang atasan yang biasanya terkenal nyebelin itu? hihihi

Hal tersebut terjadi pada saya sekitar satu bulan yang lalu. Seperti biasa, malam itu saya membuka blogger.com, kemudian memeriksa comment yang masuk. Kebetulan ada beberapa comment yang masuk, namun ada satu comment yang membuat kening saya berkerut. 


Saya teringat pernah bertemu bahkan bekerja dengan nama itu. Memang, nama taufiq bukan main banyaknya di Indonesia, cenderung pasaran malah. Namun entah kenapa, batin saya merujuk kepada supervisor ketika saya bekerja di pabrik kertas dua tahun yang lalu.

Tapi setelah itu saya tak ambil pusing, "ah bukan taufiq yang itu kali, mungkin taufiq abang pangkas rambut, sukur-sukur sih taufik hidayat mantunya Agum Gumelar," pikir saya. 

Sebulan berlalu, tiba-tiba kepenasaran tentang nama itu muncul lagi kemarin pagi. Daripada ribet mikirin terus hal beginian, mending saya share di facebook dan nge-cc temen-temen kerja yang sudah resign maupun yang masih bekerja di sana. 


Dan.. jreng jreng...

Teka-teki itu terjawab sudah. Ternyata prasangka saya sebulan yang lalu benar, orang yang meninggalkan comment di postingan tersebut adalah supervisor saya dulu. Sumpah, shocked banget, malu, hahaha.

Sekarang saya sedang mengingat-ingat kembali apakah saya pernah mengunggah tulisan tentang pekerjaan dan tetek bengeknya.. Semoga tidak, seingat saya sih belum pernah. Ya, sedikit mungkin pernah, tapi tak terlalu gamblang. Itu pun sebagian besar mengenai soal teknis (mesin/sistem kontrol), bukan konfliknya.

Sekali lagi, apa perasaan anda jika mengalami hal serupa? Belum pernahkah, atau bahkan anda sering mengalaminya? Share di comment box yuk...

Nostalgia

10 comments :

Hehehe, entah kenapa malam Jumat tadi mata saya malah tergerak untuk membaca postingan lama. 

Kesannya? Huahahaha lucu banget, pengen ketawa ngakak baca-baca tulisan lama. 

Alasannya?

Pertama, banyak emoticon di sela-sela artikel. Mending kalau cuma satu dua, ini mah hampir tiap baris ada emoticon-nya hahaha. Tampaknya, dulu saya belum bisa membedakan antara menulis di blog dan menulis SMS buat pacar :p

Kedua, Setiap kalimat belum mengalir secara runut. Saya akui, hingga saat ini pun gaya tulisan saya termasuk yang kaku, apalagi bahasa yang saya pakai untuk menulis di blog ini bukanlah bahasa gaul dan nyeleneh ala Raditya Dika, Shitlicious, atau pun teteh piera :)))  

Ketiga, dalam postingan saya yang lama terlalu banyak kalimat yang tidak berbaur menjadi satu paragraf. Nah, untuk yang satu ini, karena dulu saya mengikuti cara Pandji nulis di e-book-nya, Nasional Is Me. Di e-book itu banyak kalimat-kalimat yang misah-misah, gak berbaur menjadi paragraf. Dan saya menirunya karena menurut saya keren, mirip puisi tapi non fiksi. Hehe, namun akhir-akhir ini saya lebih memilih untuk membuat suatu paragraf dengan minimal 3 kalimat, supaya tidak terlalu kaku dan lebih manusiawi hahaha.

Jika penasaran untuk terjerumus ke dalam tulisan jadul (serasa tua) saya, bisa dicek di sini:

Nostalgia 1
Nostalgia 2
Nostalgia 3
Nostalgia 4

Belajar tentu saja memerlukan proses panjang, termasuk belajar menulis. Dengan seringnya saya membaca blog anda yang keren-keren serta inspiratif, semoga saya bisa menulis lebih baik, lebih rapi, serta lebih rajin tentunya hehehe.

Gambar dari : bit.ly/TvfHxg

24 November 2012

Lagu Jadul Yang Gak Ada Matinya

25 comments :

Masih suka mendengarkan lagu Roxette yang It Must Have Been Love? What's Going On dari 4 Non Blondes? Hey Jude dari The Beatles? Atau bahkan Tenda Biru-nya Desi Ratnasari?

Saya rasa setiap lagu mempunyai makna serta kenangan mendalam bagi masing-masing pendengarnya. Ada yang terkenang oleh liriknya, instrumennya, atau saat bersama siapa dulu dengerin lagu itu ciyeee..

Lho, setua inikah saya, anak muda kok malah suka lagu-lagu jadul? Hehe, entahlah. Saya jauh lebih suka mendengarkan lagu lama, instrumen serta liriknya lebih mengena. Mungkin saya termasuk penganut paham oldschool :p

Baiklah, kali ini saya ingin share lagu jadul yang gak ada matinya menurut saya:

1. Roxette - It Must Have Been Love


Walaupun ini termasuk lagu galau, gapapa deh ya hahaha. Intro drum khas lagu-lagu 90-an mengawali lagu ini, kemudian dilanjutkan oleh suara khas wanita dari sang vokalis Marie Fredriksson. Setelah sempat vakum karena sang vokalis mengidap kanker otak pada 2002, duo band yang berasal dari Swedia ini beberapa bulan lalu mengadakan Roxette Tour 2012. Dan, Indonesia termasuk dalam rangkaian tour mereka. Ada yang menonton Roxette 2012 Live di Jakarta Maret lalu?

2. 4 Non Blondes - What's Going On


Lagu yang juga pernah diplesetin oleh Padhyangan ini, menurut saya gak ada matinya. Kemudian, reff yang terkesan lucu bagi telinga orang Indonesia membikin What's Going On mudah diingat. "And I say, Heeii yee yee yee..."

3. Bryan Adams - Heaven


Kalau ini sih cocok untuk yang sedang falling in love hihi. Bryan Adams emang paling lihai membawakan lagu-lagu romantis, termasuk single populernya, Everything I Do.

Lagu Heaven ini pernah di-cover juga oleh DJ Sammy.

4. Kla Project - Menjemput Impian


Akhirnya ada lagu Indonesia yang nyempil di sini, hehe. Hmm, Menjemput Impian, alunan syair yang menggugah romansa, liriknya sarat dengan diksi puitis yang jarang ditemui pada band-band Indonesia zaman sekarang. Mendengarkan lagu ini serasa benar-benar kembali ke era 2000-an.

Menjemput Impian juga pernah di-cover oleh Kerispatih dengan vokalis barunya.

5. The Corrs - Only When I Sleep


Hampir semua lagu dari band yang diisi oleh cewek-cewek cantik dan satu cowok ini enak didengerin, misalnya Breathless, Runway, dan Only When I Sleep. Cek langsung deh..

6. MLTR - Sleeping Child


Hehe, menurut saya Sleeping Child ini benar-benar oldschool. Bernyanyi bersama-sama serta masih ada backing vokal, petikan gitar akustik membikin Sleeping Child easy listening bagi siapa pun.

7. The Calling -Wherever You Will Go


Gak ngebosenin, gak ada matinya. Bagi saya Wherevere You Will Go wajib ada di playlist Rhythmbox atau pun playlist di hape. Karakter suara dari Alex kuat banget, mungkin kalau boleh dibandingkan, karakter suara doi mirip Ariel NOAH, ngebass dan membumi. Sayang, The Calling sudah lama bubar. Sekarang Alex fokus di band-nya sendiri, Alex Band.

Oh iya, Wherever You Will Go juga pernah jadi original soundtrack dari serial Smallville, si Superman ABG itu.

Demikian daftar lagu jadul yang gak ada matinya versi @cepyhr. Ada yang suka lagu jadul juga? Share yuk di kolom komentar...

gambar dari : http://bit.ly/QfX8fN

19 November 2012

Tetirah (part 3, end)

6 comments :
Selain terkenal dengan bangunan-bangunan bercita rasa tinggi, rasanya sudah tak asing kala mendengar julukan Parijs van Java yang ditujukan terhadap kota Bandung. Paris merupakan kota mode sekaligus kiblat mode seluruh dunia. Dan, tak berlebihan jika Bandung disebut sebagai kota Paris di Jawa. Malah saya pikir fashion Indonesia berkiblat ke kota satu ini.

Banyak orang lain termasuk teman saya yang bilang bahwa cewek-cewek Bandung itu cantik-cantik, ‘gareulis’. Hal ini tidak bisa saya pungkiri, mojang Bandung memang ampuh untuk membuat mata tak berkedip kala kita memandanginya. Namun, setelah dipikir-pikir, mojang Bandung itu sebenarnya tidak cantik, sama saja seperti perempuan-perempuan di daerah lain. Hanya, mereka terlihat cantik karena… mengikuti perkembangan mode.

Dari adek bayi hingga oma...

Sepanjang mata memandang, saya menyaksikan orang-orang dengan pakaian yang jarang kita lihat berjalan lalu lalang, wanita cantik dengan wedges berwarna merah serta rambut yang sepertinya rajin di-treatment, dan pria-pria necis yang sepertinya rajin merawat dirinya ke salon juga.

Saya sempat melihat seorang ibu yang menggendong adek bayi, lucu sekali. Pakaian bayi itu bukanlah terbuat dari wol seperti yang biasa kita lihat. Begitu pun dengan sepatu yang dipakai, desainnya nyentrik. Sekilas, adek bayi tersebut mirip seperti bayi di iklan-iklan luar negeri. Bagaimana dengan ibunya? Tentu saja modis juga. Dengan sneaker berwarna pink yang cantik, potongan blus dengan corak bunga yang komposisinya tepat, celana jeans yang seratnya aneh, serta kerudung modifikasi zaman sekarang, sang ibu tampak sangat anggun walaupun sudah mempunyai momongan.

Jangan tanya mengenai gaya berpakaian para mahasiswa dan mahasiswi Bandung. Saya acungkan jempol kepada mereka yang bisa dengan kreatifnya merawat dan mendandani diri dengan kocek pas-pasan ala mahasiswa. Ya iyalah cep, mereka kan orang kaya? Hmm, bisa saja. Tapi masa iya semua mahasiswa Bandung orang kaya semua? Masalahnya hampir semua mahasiswa dan mahasiswi di sini modis-modis buanget… pengen deh ngambil satu mahasiswi buat dipajang di kamar hahaha.

Yang menarik, oma-oma juga tak mau ketinggalan mode. Mereka tampil percaya diri dengan blus selutut yang bercorak atraktif, perhiasan di jari, lengan maupun di leher yang tampak mewah, serta lipstik merah merona di bibir mereka. Sekilas terdengar norak, tapi saya yakin jika anda menyaksikannya secara langsung, anda akan setuju untuk mengatakan bahwa oma ini masih terlihat cantik di tengah usianya yang tak lagi muda.

Sedari dulu, orang Bandung sangat mengapresiasi keindahan, mulai dari hal kecil seperti kemasan makanan, fashion, seni rupa, hingga bangunan-bangunan bercita rasa tinggi seperti di postingan saya sebelumnya. Bagi orang Bandung, segala hal dalam kesehariannya harus memenuhi estetika dan taste yang kuat.

Maka jangan heran kalau orang Bandung jarang yang merantau. Mereka sudah terlanjur nyaman dengan doktrin agar senantiasa memperhatikan keindahan yang ditanamkan oleh nenek moyang di kota ini. Saya yakin, tidak ada kota lain termasuk Jakarta yang mampu menyamai Bandung dalam hal apresiasi terhadap keindahan kota berserta segala isinya dan kreativitas masyarakat setempat.

Jika anda ingin mencari pakaian dengan desain yang tidak membosankan, tidak mainstream dan harga yang tak terlampau mahal, Bandung lah kota yang wajib anda sambangi. Jika anda ingin berwisata kuliner dan wisata alam, Bandung lah surganya. Jika anda sedang mencari cewek cantik (baca: modis), tidak ada kota yang paling tepat selain Bandung. Jika anda ingin terjebak kemacetan lalu lintas, Bandung jua lah juaranya :p

Kalau memang orang Bandung menyukai keindahan, lalu mengapa saya begini-begini saja, gaul enggak, modis enggak, ganteng enggak. Saya orang mana sih, hahaha…


tamat

18 November 2012

Tetirah (part 2)

6 comments :
Salah satu hal yang membuat saya jatuh hati terhadap kota Bandung adalah bangunan-bangunan tuanya. Bangunan bergaya arsitektur peninggalan Belanda dulu masih terdapat di beberapa ruas jalanan kota Bandung. Kondisi? Ada yang terawat karena beberapa memang dihuni seseorang ataupun instansi, namun ada pula yang hampir roboh.



Foto di atas merupakan bangunan tua yang sekarang dipakai sebagai kantor (lupa namanya) milik pemprov Jabar. Kondisinya kurang terawat sih, namun hal itu tidak mengurangi orisinalitas bangunan unik ini. Jendela-jendela khas kolonial, dan atap tempo dulu yang tinggi masih menghiasinya. Begitu pula dengan pagar yang catnya sudah mengelupas. Saya harap Pemkot dapat meluangkan waktu untuk sedikit memperhatikan serta merawat bangunan-bangunan semacam ini.

Sayang, banyak rumah semacam ini yang tak sempat saya potret

Nah, rumah seperti foto di atas yang bikin saya selalu rindu akan kota Bandung, rumah gaya tropis peninggalan arsitektur kolonial yang bisa diketahui dari atapnya yang membumbung serta berjendela banyak. Rumah yang sekarang dijadikan motel tersebut kondisinya masih terawat baik dan arsitektur lamanya yang khas tetap dipertahankan. Hmm, seandainya saya punya rumah ingin rasanya merancang hunian dengan arsitektur semacam ini. Kuno, tapi elegan.

Jika ada kesempatan ke Bandung lagi, ingin rasanya memotret rumah-rumah semacam itu. Dengan kamera saku tentunya, soalnya gak mampu beli DSLR euy. Ada yang berbaik hati buat ngasih saya Nikon D3X? hihihi..

Gedung BRI Alun-alun Bandung

bersambung...

Tetirah (part 1)

6 comments :
Dengan memutuskan untuk menunda penyelesaian tugas-tugas kuliah yang menumpuk, akhirnya long weekend kemarin kesampaian juga untuk pulang ke rumah orangtua. Alhamdulillah keduanya sehat walafiat, lega rasanya masih diberi kesempatan bersua mereka lagi.

Walaupun tidak ada motor, saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan (benar-benar jalan kaki) di Bandung. Karena jomblo dan konco-konco sedang sibuk liburan juga, maka saya melakukannya hanya seorang diri. Menyedihkan memang, haha.

Ehem, sekadar pengumuman, saya bukan berasal dari kota Bandung-nya, namun dari pelosok yakni Padalarang. Terus terang saja saya masih awam tentang seluk beluk kota tujuan utama orang Jakarta kala akhir pekan ini. Terlebih lagi, dulu saya memang kuper, yang saya tahu hanya Padalarang - Cimahi saja, haha.

Maka, akhir-akhir ini ketika ada kesempatan pulang ke Bandung sering saya manfaatkan untuk mencari hal-hal unik dari kota ini. Mulai dari cuaca, kuliner, gaya hidup, perkembangan mode yang semakin ciamik saja, maupun keelokan arsitektur bangunan-bangunan tempo dulu yang masih banyak bertebaran di sini.

No Pic Hoax gan? Hehe, hanya beberapa foto yang sempat saya ambil kemarin, itu pun sebatas menggunakan kamera ponsel. Monggo dilihat :

Bandung, the sister city

Syukurlah, airnya masih bisa dibilang jernih

Perempatan Jl. Aceh

Hotel Hyatt.  Tepat di seberangnya adalah spaceshop Airplane Systm

Badjoe badjoe!!!

Rencana sih mau beli jaket di spaceshop Airplane Systm, namun apa daya tak ada ukuran XL, hiks. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli t-shirt dan kaos berkerah saja. Lumayan, total harga nya cuman 148 ribu lho, lagi ada sale soalnya hehe.



Kantong plastik ramah lingkungan dari Airplane Systm

Semoga Airplane Systm membaca postingan saya ini, kali aja mereka mau meng-endorse Cepy Hr semacam Raffi Ahmad, hahahaha *mimpi di siang bolong, terus hujan petir dor dar gelap*

Pesan dari saya, jika anda ingin bertetirah ke Bandung, harap pikirkan sekali lagi. Siapkah menghadapi kemacetan yang tak terperi? Siapkah menghirup gas emisi kendaraan yang berjejalan di Bandung? Kalau saya, jujur, enggak..

Saya ingin kembali menikmati suasana Bandung belasan tahun silam yang benar-benar sejuk, jauh dari kebisingan, dan arus lalu lintas yang bebas dari kemacetan.


bersambung…

13 November 2012

Keterlaluan

19 comments :
Hmm, pengen curhat lagi ah.

Ada peristiwa yang membuat saya tertegun sekaligus terharu tadi pagi.

Sudah hampir dua bulan saya gak pulang ke rumah orangtua. Padahal, jarak dari Bogor ke Bandung mah deket, sekitar 4 jam-an juga nyampe. Entahlah, serasa ada aja penghalang yang mengurungkan niat saya untuk menjenguk mereka.

Tadi pagi, mamah nelpon saya. Nanya kabar, nanya kuliah, kesehatan, finansial, bahkan nanya gebetan haha.  Selanjutnya, tentu saja saya yang balik nanya kabar beliau.

Anak macam apa saya ini yang gak nyempetin nelpon mamah barang sebentar di tengah kesibukan dunia saya yg semu ini. Malah saya yang ditelpon mamah. Maaf mah...

Percayalah, mamah alias mamih alias emak alias mboke atau apalah istilahnya, gak pernah bosen merhatiin kita. Sekalipun udah beranjak dewasa (saya udah 21, otomatis masuk ke kategori beranjak dewasa), namun mamah masih nganggep saya seperti anak kecil usia 5 tahun. Bukan hanya saya lho, keempat kakak saya juga. Kita tahu, yang namanya kakak gak pernah mau merasa diperhatiin sama orangtuanya, selalu membantah. Secara, mereka gengsi sama saya yang notabene anak bungsu, selalu ada kecemburuan sosial. Haha, padahal mah di mata orangtua, semua anak sama aja. Sama-sama merepotkan di waktu kecil :)

Mamah memang cerewet kala kita masih kecil dulu, mungkin sampai sekarang. Sekarang kita yang harus cerewet terhadap beliau. Cerewet supaya mamah dan ayah selalu menjaga kesehatan, jangan terlalu sering mikirin kami anak-anaknya.

Sebenarnya mamah hanya ingin didengarkan, gak lebih. Jika mereka curhat kepada kita, dengarkanlah dengan setia. Udah lupa kalo kita pernah nyusahin mereka sedemikian manjanya? Gak usah membantah, saya yakin semua anak di dunia ini gak ada yang gak pernah ngerepotin orangtua terutama mamah di masa kecil. Yang bilang gak pernah nyusahin orangtua, mungkin mereka bukan manusia. Hewan aja masih punya rasa balas budi sama orangtua mereka lho, keterlaluan banget kalo manusia lupa gitu aja sama kasih sayang orangtua yang tak terperi itu.

Well, ke depannya harus nyempetin buat nelpon beliau, setidaknya seminggu dua kali. Masa iya ngealokasiin pulsa buat daftar paket BB nanggung bisa tapi buat nelpon orangtua yang jelas-jelas sayang banget sama kita engga sih.

Keterlaluan.

11 November 2012

Selera

14 comments :
Suatu pagi di sudut kota Bogor.

"Bang, yang satu gak pake bihun, yang satunya pake taoge tapi gak pake tahu, terus yang satunya lagi kecapnya dikit aja ya," kata seorang ibu muda sembari menggendong anaknya yang masih berusia sekitar satu tahun.

Si abang ketoprak itu hanya mengangguk, lalu mulai meracik bumbu andalannya.

"O iya, yang pake taoge tapi gak pake tahu, pedesnya dikit ya bang. Kalo yang dua, pedesnya sedeng aja," si ibu kembali me-request yang lagi-lagi hanya dibalas anggukan oleh si abang.

Lalu ada pembeli lagi. Kali ini remaja perempuan.

"Bungkus empat ya bang. Yang satu sedeng, yang satu pedes, yang satunya pedes banget, terus yang satu lagi lontongnya dikit aja," remaja itu langsung melontarkan request-nya.

"Siap neng.. Bentar ya, bikinin buat ibu ini dulu," kata si abang sambil mesam-mesem.

"Oke deh, cepetan dikit ya bang," mata remaja itu tertuju pada smartphone yang dipegangnya lalu ngetwit, "Ciyus deh, lama beut nih si abang. #HuFtBanGeDh." Mungkin.

Kebetulan aku belum melontarkan request seperti ibu-ibu itu. Tidak seperti kepada pembeli sebelumnya, kali ini si abang sendiri yang bertanya tentang pesananku.

"Mau berapa bungkus mas?" 

Hmm, syukurlah, biasanya aku dipanggil pak. "Satu aja bang, makan sini. Pedes ya!"

"Pedes biasa apa pedes banget? Pake taoge? Pake bihun?"

Aku merenung sejenak.

"Emmm, yang nerima saya apa adanya aja bang. Saling mengerti kesibukan masing-masing, gak pundungan. Gak cantik juga gapapa, yang penting gak beda-beda jauh sama Jennifer Anniston deh," entah kenapa aku serasa sedang berada di acara Take Me Out versi di bawah pohon rindang.

Kemudian terjadi keheningan yang panjang di bawah pohon rindang itu.

07 November 2012

Kukuhnya Idealisme Insinyur pada Novel Orang-Orang Proyek

6 comments :

Bisa dibilang novel ini yang pertama kali menggugah saya untuk terus membaca novel hingga sekarang. Pada mulanya saya tertarik membaca judulnya yang dapat dibilang lebih pantas tertera sebagai salah satu judul buku manajemen industri. Namun setelah saya baca lebih lanjut, ternyata buku ini merupakan novel anggitan sastrawan Ahmad Tohari.

Orang-Orang Proyek berkisah tentang kehidupan seorang insinyur sipil yang bernama Kabul yang dipercaya memegang proyek pembangunan jembatan di pinggiran Sungai Cibawor. Latar dan penokohan yang kuat dari Ahmad Tohari pada novel ini mampu membawa imajinasi pembaca seakan hadir langsung dalam konflik-konflik yang terjadi.

Saya tertarik dengan tokoh dan penokohan yang dicipta oleh Ahmad Tohari. Seperti novel-novel sebelumnya, Ahmad Tohari sangat piawai mencipta tokoh-tokoh yang berkarakter kuat dan khas. Nyaris tidak ada tokoh yang mubadzir. Selain itu, ia jago dalam mencipta latar yang menjadi ciri khasnya, yaitu pedesaan, sehingga kita seakan berada di tempat tersebut. Begitu pula dengan konflik-konflik yang terjadi. Kedigdayaan pemerintah Orde Baru yang semena-mena mampu ditampilkan tersirat sekaligus gamblang. Golongan Lestari Menang (GLM) yang secara tidak langsung merujuk kepada partai penguasa pada zaman itu cukup mendeskripsikan betapa rakyat tidak mengerti apa pun tentang politik dan hanya bisa tunduk kepada pemerintah.

Pertama, Kabul. Ir. Kabul merupakan tokoh utama yang juga merupakan mantan aktivis kampus yang sangat idealis menentang kecurangan pemerintah. Ahmad Tohari menempatkan Kabul sebagai cerminan kaum intelektual saat Orde Baru berkuasa. Kabul bersifat idealis, berpikiran lurus namun tetap rendah hati terhadap semua orang. Tatkala atasannya maupun pejabat sekitar Sungai Cibawor merecoki proyek yang diemban Kabul, ia tetap bersikukuh dengan prinsip yang ia pegang kuat sejak masih menjadi mahasiswa. Namun, lama-kelamaan Kabul tak kuasa menahan gejolak idealismenya yang seakan ditelanjangi para penguasa Orde Baru. Pada akhirnya, Ir. Kabul mengundurkan diri sebagai pimpinan proyek pembangunan jembatan tersebut.

Kedua, Wati. Sekretaris proyek yang dipimpin oleh Kabul ini hadir memberi warna tersendiri. Sosok gadis desa yang cantik, anggun namun hatinya meleleh jika bertemu Kabul dapat digambarkan oleh Ahmad Tohari dengan unik. Kebiasaannya merengut jika dicuekin oleh Kabul membuat saya tersenyum. Bisa dibilang sosok Wati merupakan tokoh pencair suasana tatkala konflik-konflik menyerang Kabul. Yang saya cermati, Ahmad Tohari mampu mencipta tokoh wanita ini dengan apik dan tidak berlebihan.

Ketiga, Pak Tarya. Novel ini diawali dengan suasana Sungai Cibawor sehabis tiga hari yang lalu dilanda banjir besar. Dan di tepian Sungai itu terdapat Pak Tarya yang sedang memancing tanpa tujuan. Kehadiran tokoh Pak Tarya pada Orang-Orang Proyek semacam malaikat bagi tokoh utama. Sosoknya yang sederhana, nyeleneh namun di sisi lain sangat cerdas dan peka terhadap situasi politik saat itu sangat unik. Kabul yang emosinya masih labil banyak mendapat wejangan-wejangan tersirat dari Pak Tarya. Tapi seringkali Pak Tarya muncul pada waktu yang terlambat, sehingga membuat pembaca geregetan menyaksikan konflik batin yang kerap kali terjadi pada Kabul.

Keempat, Basar. Sahabat Kabul sesama aktivis kala masih menjadi mahasiswa ini muncul sebagai Kepala Desa sekitar Sungai Cibawor. Dorongan orangtua yang berhasrat menyalonkan dirinya menjadi Kades ia terima dengan penuh keterpaksaan. Jiwa mantan aktivis yang sepaham dengan Kabul ironis dengan kedudukan dirinya sebagai kaki tangan pemerintah Orde Baru. Proyek pembangunan jembatan banyak direcoki pemerintah. Tentu saja Basar yang merupakan pejabat pemerintah paling rendah sangat kelimpungan. Ia hanya dapat berdiskusi dengan Kabul yang sama-sama bimbang menghadapi kenyataan yang tak sesuai impian yang mereka cita-citakan pada saat menjadi aktivis dulu. Namun, akhirnya kebimbangan kedua sahabat itu mampu dicairkan oleh tokoh Pak Tarya.

Kelima, Dalkijo. Picik! Inilah kata yang pantas saya sematkan kepada tokoh ini. Dalkijo mewakili sosok insinyur pragmatis yang sudah terdoktrin oleh gelimang kemewahan ala birokrat. Ciri khasnya memakai kaca mata hitam branded, jaket kulit dan motor Harley Davidson memperkuat karakter piciknya. Beberapa kali ia berseteru tentang betapa pentingnya pemenuhan kualitas material jembatan dengan Kabul. Namun pada akhirnya Kabul yang mengalah. Di akhir cerita Dalkijo memaksakan kehendaknya memakai material-material bekas demi mengejar jadwal peringatan acara HUT GLM yang semakin mepet. Tentu saja Kabul sangat mengecam keputusan Dalkijo tersebut, dan ia mengundurkan diri sebagai penanggung jawab proyek jembatan Cibawor.

Keenam, Mak Sumeh. Tokoh Mak Sumeh hadir sebagai tokoh yang nyinyir (kalau istilah masa kini: kepo) dan membuat pembaca geregetan. Pemilik warung di sekitar lokasi proyek ini begitu dominan melengkapi seluruh rangkaian isi novel. Kekaguman Wati kepada Kabul berulangkali dituturkan Mak Sumeh dengan polos dan blak-blakan. Namun Kabul tak menggubrisnya walaupun ia sempat juga kesal akan kenyinyiran Mak Sumeh. Di sisi lain Mak Sumeh mewakili wong cilik yang jeli memanfaatkan peluang usaha di sebuah tempat yang ramai, dalam hal ini lokasi proyek jembatan Cibawor.

Ketujuh, Tante Ana. Sekali lagi Ahmad Tohari begitu cerdas mencipta tokoh yang berkarakter kuat dan khas. Tokoh Tante Ana maupun Mak Sumeh hadir membawa corak yang membuat konflik-konflik pada Orang-Orang Proyek mencair. Alunan kecrek dan suaranya yang berat kelaki-lakian begitu menghibur para pekerja proyek. Tante Ana mampu hadir sebagai penghibur kaum jelata yang haus akan hiburan. Terkadang ia rela mengamen tanpa dibayar recehan sekalipun oleh orang-orang proyek. Tante Ana merupakan anomali dari wong cilik yang begitu sukarela berbagi kebahagiaan dengan sesama. Tentu saja hal ini bertolak belakang dengan Dalkijo yang hidup mapan dan bergelimang kemewahan itu.

Walaupun tidak sedalam karya fenomenalnya, Ronggeng Dukuh Paruk, namun saya pikir Orang-Orang Proyek tetap memperlihatkan keberpihakan Ahmad Tohari terhadap orang kecil. Sudah barang tentu tokoh Kabul merupakan cerminan dari kegelisahan Ahmad Tohari terhadap para birokrat Orde Baru yang semena-mena. Novel ini sangat cocok dibaca oleh semua kalangan, terutama para mahasiswa yang harus senantiasa memperjuangkan idealismenya dan menolak menyerah terhadap kemunafikan di negeri ini.

05 November 2012

Postingan Akhir Pekan

8 comments :
Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya ungkapkan di blog ini. Namun, karena kesibukan dan kendala teknis yang sangat membabi buta (baca: malas), lebih baik saya tunda saja hingga tenggat waktu yang tak terhingga, haha.

Hmm, baru kali ini saya mengalami hal-hal campur aduk seperti pekan kemarin. Rumah yang saya tebengi masih direnovasi, hujan tidak berhenti sepanjang hari tak mengenal waktu, ditambah lagi nilai UTS salah satu matkul ancur banget. Brrrr...

Untunglah di akhir pekan ada kegiatan yang dapat menghapus sejenak kengenesan tadi. Malam minggu kemarin (jomblo biasa menyebutnya dengan sabtu malam) ada acara bareng Blogor. Blogor bersama dengan Pesantren Daarul Uluum mengadakan nobar film dokumenter #linimassa2 bikinan @internetsehat. Mengenai isi dari film #linimassa2 tersebut, nanti akan saya tulis pada kesempatan yang lain. Kenapa? Karena ada hadiah review-nya juga lho, lumayan. Well, daripada asal-asalan posting mending nyari wangsit dulu deh hehehe.

Dan pada malam itu juga untuk pertama kalinya saya bertemu dengan yang namanya dea. Hehe, berawal dari kolom komentar artikel kang harris yang ini, kemudian berkenalan lebih lanjut di linimasa twitter, dan akhirnya saya bisa bertemu di dunia nyata, hehehe. Mungkin inilah salah satu keasyikan ngeblog, kita bisa bertemu dengan orang yang sama sekali belum kita kenali. Nice to meet you dea, jangan kapok kehujanan tengah malam lagi ya, hahaha.

Semoga pekan depan lebih bersahabat buat saya. Rumah yang kembali normal, cuaca tidak labil lagi, tetap sehat lahir batin, serta kondisi finansial yang segera pulih secepatnya, hehe. 

Oh iya, terima kasih kepada kang MT yang telah sudi memberi saya buku tentang seluk beluk internet. Insya Allah akan saya baca kok, tapi gak tahu kapan :D

Selamat menyambut awal pekan sob, see you..