31 December 2012

Dua Ribu Dua Belas

10 comments :
Hanya dalam hitungan jam kita sudah menghirup udara tahun baru, meninggalkan tahun yang dikatai orang dan sutradara film sebagai tahun terjadinya kehancuran alam semesta, karena kalender suku Maya sudah tak ada lagi penanggalan. Sempat risau juga, namun bukankah hidup-mati, awal-akhir, aksi-reaksi itu sudah menjadi sunatullah Sang Pencipta?

Banyak sekali momen-momen yang terjadi pada tahun yang juga merupakan tahun kabisat ini. Saya pikir kalau saya menuliskan seluruh momen terbaik atau #MomenKece dalam postingan ini, akan menjadi sekuel seperti sinetron Tersanjung yang endingnya tak berujung. Baiklah, saya akan memilah beberapa momen yang menurutku berkesan pada tahun 2012.

1. Blog Mulai Hidup

Inilah yang menurutku paling berkesan. Blog gratisan yang saya bikin tiga tahun lalu akhirnya saya kelola juga, walau ala kadarnya. Sepanjang tahun ini saya mulai menemukan cara ngeblog itu bagaimana, mulai dari menulis postingan, menamai blog serta deskripsinya (cepyhr doctrine.), memilih template yang optimal, lalu saling berkunjung ke blog lain. Kemudian sempat juga beberapa kali mengikuti #blogcontest, dan ahamdulillah saya merasakan juara harapan dalam sebuah kontes. Senang sekali rasanya walau hanya memperoleh juara empat.

Ngomong-ngomong blog, tentu saja saya juga merasa terhormat bisa bergabung dengan komunitas blogor. Saya merasakan hidup ini indah dalam dua dunia, dunia nyata dan dunia maya. Blogger yang semula hanya berkutat di dunia maya bisa turut terwadahi kebutuhannya di dunia nyata, bersua, berkenalan dan berbagi pengalaman bersama teman-teman baru dari berbagai jenjang usia, pendidikan dan profesi. Luar biasa, terima kasih blogor!

2. Mulai Beradaptasi dari Dunia Kerja

Seperti pernah saya umbar di sini setahun yang lalu, cukup sulit beradaptasi dari dunia kerja ke dunia kuliah. “Ah, Cep, gitu aja kok repot, lebay lu, iyuwh...” Yeee, beneran. Ataukah memang sifat saya yang sulit beradaptasi ya. Ketika masih bekerja (dalam hal ini bukan setingkat supervisor) kerap kali hanya otak kanan yang digunakan, tidak seperti sekarang, otak kirilah yang setiap hari bekerja keras. Dulu, yang saya lakukan setiap harinya adalah kerja−pulang−tidur−makan−shopping−gajian−pulang kampung. Sederhana, bukan?

Jujur, dulu saya tidak mengalami kendala keuangan, sampai-sampai ada segelintir rekan kerja yang sebetulnya salary-nya jauh lebih besar dibandingkan saya yang masih foreman, dia selalu kekurangan uang, lalu meminjam kepada saya. Hehe, sekali lagi sebesar apa pun salary anda, pasti akan selalu merasa kekurangan, tergantung pengeluaran dan gaya hidup masing-masing. Bagaimana cara mengatasi solusi keuangan yang selalu gali lubang tutup lubang setiap bulannya? Mari kita bertanya mengenai financial planner kepada mas @danirachmat.

Nah, ketika kuliah inilah saya merasakan pedihnya kekurangan uang itu bagaimana, betapa seribu rupiah pun saya cari setengah mati di kolong meja, kolong tempat tidur, kolong kandang kambing. Karena setahun ini saya hanya mengandalkan kiriman bulanan orangtua, belum bisa berusaha sendiri. Angan-angan di 2013 inginnya mencoba usaha kecil-kecilan. Tapi belum terbayang. Ada yang bisa memberi saya inspirasi usaha yang cocok untuk mahasiswa?

3. Mengikuti #kelasanggit

Apa pula itu #kelasanggit? Ada yang tahu? #kelasanggit ialah kelas menulis yang diprakarsai oleh Khrisna Pabichara, Mataharitimoer dan Erha Limanov. Sudah pada tahu mereka kan, tidak perlu saya perkenalkan para fasilitator saya itu di sini ya, hehehe.

Betul, senang rasanya pada tahun 2012 ini saya mendapat kesempatan untuk mengikuti kelas menulis selama enam bulan yang mana sekarang sudah memasuki bulan ke-2. Dalam kelas menulis yang membabarkan mengenai fiksi dan perniknya, saya mendapat asupan gizi otak kanan dari para fasilitator maupun kawan-kawan #kelasanggit yang memang sebagian besar latar belakang pendidikannya adalah sastra atau pun linguistik. Dari #kelasanggit ini saya berharap semoga saya bisa “menulis dengan baik” dan bisa lebih sering menganggit cerpen atau pun jenis prosa lain. Terima kasih #kelasanggit!

4. Menginjak Dasawarsa Ketiga, 21 Tahun 

Seperti biasanya, setiap bulan Agustus usia saya bertambah satu tahun. Tidak terasa usiaku sudah mencapai 21 tahun, usia yang seharusnya mulai membentuk pribadi yang dewasa. Usia yang seharusnya sudah mendapat penghasilan pribadi tidak bergantung dari suapan orangtua lagi. Usia yang seharusnya sudah mendapatkan kekasih #ups #keceplosan. Namun ternyata sulit, saya belum bisa melakukan semua itu. Saya masih mendapat kiriman bulanan dari orangtua, kelakuan saya masih terkadang kekanak-kanakan, egois, keras kepala dan masih banyak lagi kelakuan negatif yang mesti diperbaiki.

Harapan saya terhadap tahun depan yakni, semoga saya bisa mengoptimalkan kinerja otak kanan hingga seimbang dengan otak kiri. Bukan sekadar menggunakan otak kiri untuk memahami eksak saja, namun ilmu serta wawasan lain yang jauh menyimpang dari latar belakang saya yang menekuni engineering sejak STM pun ingin saya tekuni, sehingga dengan begitu hidup saya bisa lebih seimbang.

Yang terpenting, semoga saya bisa melakukan setiap rutinitas dengan sebaik-baiknya, tidak lagi sering melewatkan sholat subuh karena keseringan bergadang, lalu menemukan jati diri yang selama ini senantiasa saya cari supaya hidup bisa lebih baik dan lebih baik lagi. Apakah bisa? Aamiin.

24 December 2012

Aku Menyusulmu

8 comments :
Sebuah kabar menghantamku dini hari tadi selain breaking news CNN tentang luluh lantaknya gedung World Trade Center di Manhattan. Kabar yang membikin hatiku remuk. Bagaimana perasaanmu kala mendengar kabar bahwa ayahandamu pergi untuk selamanya? Yang kurasakan saat ini, senyum pun tak mampu kusunggingkan sepanjang hari, nafsu makan lenyap entah ke mana, orang sekelilingku seolah patung bagiku.

Barangkali hanya aku anak dari ayahku yang memilukan kematiannya. Kedua kakakku hanya bertengkar saja polahnya sejak malam tadi. Aku yakin sejak pertama kali bertemu di muka bumi ini mereka berdua sudah memproklamirkan diri mereka sebagai musuh abadi sepanjang hidupnya.

Aku Sandra, anak perempuan terakhir dari keluarga Hartanto. Bangku kuliah terpaksa kutanggalkan demi menopang ekonomi keluarga yang sangat mencekik, aku bekerja sebagai kasir salah satu swalayan di sudut kotaku. Memang, penghasilan yang kuperoleh takkan pernah mungkin menutupi utang keluarga kami. Utang? Baiklah, akan kuceritakan.

***

Kami hidup berempat. Ibuku sudah lebih dulu pergi, meninggalkan kami ketika kakak pertamaku terjerat kasus penyalahgunaan narkoba. Beliau terserang serangan jantung koroner. Aku tak yakin ada manusia lain seperti ibu yang tetap tabah dihantam tekanan bertubi-tubi sebelum kematiannya. Arisan yang ia gagas empat tahun silam bersama kolega-koleganya menyisakan perih dalam keluargaku. Sistem kekeluargaan dalam arisan hanyalah kedok belaka, selain itu tak lebih dari sekadar penipuan. Setumpuk rupiah digelontorkan ibu untuk menutupi tunggakan utang arisan teman-temannya. Sumber setumpuk rupiah itu tentu dari hasil mengutang, jeratan rentenir tak kuasa kami lepaskan, alih-alih lunas, utang keluarga semakin mengungkung seiring bunga rentenir yang makin menggelembung.

Kedua kakakku pria, kakak sulungku biasa dipanggil Roy, umurnya sudah sangat ideal untuk berkeluarga, namun kurasa Roy tak berhasrat sedikit pun terhadap hal satu itu. Hidupnya bagai angin, berembus tak tentu arah. Entah apa parameter hidup dirinya hingga ia tega membikin malu martabat keluarga saat dia terjerat narkoba yang secara tak langsung berhasil merenggut nyawa ibuku. Sekarang Roy sudah bebas dari jeruji, psikotropika tidak pernah dia sentuh lagi. Hari-hari Roy saat ini dia habiskan sesuai tabiat kegemarannya, berkelana entah ke mana.

Kakakku yang kedua ialah saudara kembar priaku, lahir selang dua menit lebih dulu dariku, Andra namanya. Dia begitu berbeda denganku, dia pemberontak, berbicara tak melihat lebih dulu dengan siapa dia berbicara, serampangan. Hal lumrah jika menyaksikan saudara kembarku bertengkar kala bertemu dengan Roy, kupikir mereka rival sparing sepadan. Namun sebagaimana saudara kembar ikatan batin kami sangat erat, aku dan Andra tidak pernah berselisih, pribadinya sangatlah melindungiku, termasuk melindungiku dari kegilaan Roy.

Sebebal apa pun mereka sejujurnya aku sangat menyayangi kedua kakak kandungku. Bagiku, saudara sedarah adalah sahabat sekaligus tour guide di dunia ini. Tanpa mereka aku hanyalah anak perempuan lugu tanpa pemandu yang akan tersesat jikalau pemandu itu meninggalkanku sebatang kara.

Tapi manusia mana yang tahan menyaksikan kedua saudara kita bertengkar, adu mulut, hingga kursi kayu dan beberapa gelas rela menjadi korban tiap harinya?

***

Dahulu ayah terbilang sukses, sebagai pengusaha properti beliau kerap dipercaya mengemban proyek pemerintah, terutama proyek jalan raya dan jalan tol. Keterpurukan ekonomi Indonesia pada 98 meluluhlantakkan kejayaan bisnis ayahku. Usaha ayah kembali ke nol, bahkan minus, hingga BPPN merampas secara halus puing harta kami. Utang arisan ibuku yang sudah mengungkung kami setahun sebelumnya lalu terakumulasikan dengan utang mahabesar ayahku kian menjerat kehidupan kami.

Hal itu pula yang mengakibatkan ayah menderita stroke selang beberapa hari setelah harta kami diambil alih BPPN. Walaupun ayah masih hidup, tak memungkinkan bagi kami untuk berkomunikasi, hanya anggukan samar serta linangan air matalah respons yang dapat ayah berikan kepadaku. Sepanjang dua tahun selang-selang infus akrab menemani hidupnya hingga dini hari tadi ia menutup mata. Dari mana uang untuk membeli ribuan botol infus itu? Tentu, utang.

Rasanya aku ingin membenamkan perlahan belati ke jantungku, aku tak bisa seperti ibu yang tabah menghadapi tekanan yang kian mendera. Beruntung aku punya Andra. Tanpa Andra sepertinya saat ini aku akan berada di rumah sakit jiwa yang menderita stress akut. Hampir tiap malam ia menyempatkan berbicara denganku, setia mendengarkan keluhan hidupku sepulang ia bekerja. Betul, tidak seperti Roy yang hidup semaunya, Andra mempergunakan titel sarjananya dengan baik. Andra bekerja sebagai public relation di sebuah perusahaan ritel terkemuka yang terbebas dari jeratan krisis 98 di Jakarta. Andra-lah yang menggantikan peran ayah sebagai pemberi nafkah keluarga kami.

***

Siang ini orang-orang mulai berdatangan ke rumah untuk melayat ayah, mereka adalah teman, kerabat, relasi ayah ketika masih menjadi pengusaha properti, bahkan kulihat hadir pula mantan menteri pekerjaan umum pada era orde baru. Andra menyambut dengan takzim mantan orang terdekat ayah tersebut, tampak pak menteri itu menepuk-nepuk bahu Andra.

Mataku berkeliaran di sekeliling mencari Roy, tak kutemukan sosok gila itu. Sebegitu gilanyakah dia sampai-sampai kematian ayahnya pun dia tak tahu? Ataukah dia tak peduli? Relung hati kecilku meyakini bahwa Roy masih mempunyai nurani, walau sepercik.

“Bangsat! Apa yang kau curi itu, bajingan!” pekikan Andra memecah suasana duka yang hening di rumah kami, diikuti suara hantaman bertubi-tubi.

Lagi-lagi! Sejenak benakku tersentak, kusaksikan dua pria yang kusayangi bergumul tepat di hadapan jenazah ayah. Aku menjerit.

Tampak Roy berusaha menangkis pukulan bertubi-tubi dari adik kandungnya, sia-sia. Dalam keadaan terhuyung dia masih kuasa memegang erat benda yang dicurinya. Akta rumah. Satu-satunya puing harta yang tersisa dari kerajaan bisnis ayah, selain itu, setumpuk utang yang berserakan di mana-mana.

“Roy, Andra, berhenti kataku! Di mana urat malu kalian letakkan di tengah suasana sendu keluarga kita? Ayah sudah pergi, tak bisakah kalian berdua membuat batin beliau tenang menghadap Penciptanya?” tangisku meledak. Namun mereka tak bergeming, baku hantam terus mereka lancarkan satu sama lain., beberapa pelayat ayahku berusaha melerai.

Batinku makin bergejolak, baru sekarang kurasakan pedih yang teramat ini, aku tak kuasa lagi bertabah-tabah terhadap siksa neraka dunia. “Aku muak dengan hidupku, kalian buatku jengah. Lebih baik aku mati, menyusul mereka,” pekikku, lirih.

Kuambil belati yang selalu kusisipkan tiap saat di saku celana belakang untuk berjaga dari kelamnya malam kala aku harus mendapat shift malam. Kupejamkan mata, kuambil ancang-ancang dari ambang tubuhku, perlahan kubenamkan mata belati dengan telapak tangan kananku, ke jantungku. Napasku terhenti, lidahku kelu bibir pun membisu, darah segar kurasakan mengalir deras dari gores hunjaman belatiku. Setelah itu gelap gulita, hanya terdengar pekikan manusia-manusia yang melayat jenazah ayah, serta laungan tangis dua pria yang teramat kusayangi.

12 December 2012

Soto Mie Bogor

15 comments :
Malam ini kita ngomongin kuliner yuk sob!! Ada yang pernah mencoba mencicipi soto mie Bogor? Atau bahkan kamu sering menyantap kuliner khas Bogor selain asinan dan taoge goreng itu?

Selama setahun lebih ini saya tinggal di Bogor, banyak kesan yang saya rasakan. Masyarakat yang terbuka terhadap pendatang, teman-teman baru yang tak tergantikan, serta kuliner yang menggugah selera. Sebuah kota atau daerah tentu mempunyai makanan khasnya masing-masing, begitu pun Bogor. Menurut saya, soto mie ini termasuk kuliner khas yang tidak ada duanya di Bogor, setelah masakan kakakku yang gratis tentunya, hihihi.

Berbahan dasar utama daging sapi serta ada pula yang menambahkan kikil, soto mie ditemani pula oleh irisan kentang dan tomat, irisan kol, beberapa potong kroket (risol), bihun, dan tentu saja mie. Kemudian ada juga pedagang yang menaburkan emping di atasnya.


Rasanya... hmm, pas di lidah, menurutku. Kuah soto yang rasanya hampir sama dengan soto Bandung berbaur dengan bahan-bahan yang kusebutkan di atas. Daging sapi yang empuk, kroket yang gurih berpadu dengan segarnya irisan tomat dan kol. Namun, akan lebih nikmat bila kita menikmatinya dalam keadaan hangat dan di kala hujan deras, dingin, lapeeerrr.


Mengenai harga tentu beragam, tergantung dari kualitas bahan utama serta bumbu racikan pedagangnya. Namun, rata-rata harganya adalah 12 ribu rupiah per porsi, sudah termasuk nasi. Jika ingin yang harganya cukup terjangkau bisa dicoba di Sentul, tepat seberang SPBU Sentul. Harganya 9 ribu rupiah, rasanya tak kalah lezat dibanding soto mie lain, sangat worth untuk kantong cekak seperti saya hehehe.

11 December 2012

Kekasih Baru

15 comments :
Kaget baca judulnya? Ngeh, sebegitunya deh, anda masih meragukan kapabilitas saya untuk mendapatkan kekasih baru? Yup, keraguan anda sangat tepat, eh...

Hehe, kekasih baru yang saya maksud itu ialah si putih langsing, enak dibawa ke mana-mana, tidak merepotkan. Siapakah dia? Sebuah notebook. Notebook yang terpaksa saya beli karena notebook yang lama sudah mengalami sakaratul maut secara mengenaskan. Mulai dari baterai doi yang ngadat minta dibelikan yang baru, kemudian hard disk yang bad sector akibat sering install ulang plus dual boot dengan ubuntu, dan masih banyak lagi keluhan si penghuni masa lalu itu.

Terus terang, kekasih lama yang saya namai "bison item manis" ini sangat sarat dengan lika-liku sejarah diriku. Tepat dua tahun yang lalu saya meminangnya ketika saya masih bekerja. Dengan uang hasil menyisihkan upah lembur dan pengiritan uang makan tiga waktu, akhirnya si bison item manis bersedia menerima pinangan saya. Kami pun hidup bahagia, selamanya.. pret!


kesuraman tampak dari raut glossy-nya yang tergores sana-sini


stiker brand salah satu sensor kontrol itu memperkuat taste keuzuran si bison item manis

Bagaimana tidak, notebook inilah yang saya pergunakan untuk menulis improvement mesin ketika saya sedang mengikuti orientasi di sana. Notebook ini yang setia menemani kesendirian saya dengan PES dan jet audio tatkala ditinggalkan resign oleh sobat-sobat saya. Notebook ini pula yang saya pergunakan untuk mengetik lamaran dan CV sebagai syarat mendaftar beasiswa kuliah, sehingga saya bisa kuliah seperti sekarang ini. Ah, terlalu banyak kenangan yang kau bikin, son! (panggilan untuk bison). Sekali pun kamu sering saya repotkan, install ulang, dual boot dengan ubuntu sehingga ingatanmu jadi kacau, namun kamu tidak pernah mengeluh, mengatakan huft pun tidak. Tapi bukankah tidak ada yang abadi selain ketidakabadian?

Saya harus beralih, tidak boleh terjebak pada masa lalu. Tidak elok rasanya jikalau masih memaksa kekasih yang lama untuk kembali ke pelukan kita, jauh lebih baik mencari tambatan baru. Maka perkenankan saya untuk memperkenalkan kekasih baru saya, si putih langsing:




Saya takkan berkomentar tentang spesifikasi notebook baru saya, biarlah, kemampuan notebook saya sesuai dengan kebutuhan saya. Bukankah yang terpenting adalah saling suka, lalu cinta? Cinta yang selalu bermula dari satu hati, satu visi, satu komitmen.

Jangan sekali pun membandingkan kekasih anda yang sekarang dengan kekasih anda di masa lampau, karena bagaimana pun mereka (pernah) punya kepiawaian khas dalam mengobok-obok batin anda, sehingga anda (pernah) jatuh cinta kepadanya dengan sudut pandang berbeda pula.

O iya, tulisan ini merupakan tulisan ke-100 di blogku!!!! *tiup lilin*

NB: selamat tertular galau, padahal artikel ini seharusnya berisi tentang spesifikasi notebooknya saja. Lha, ini jauh badai dari pokok permasalahan, hahahaha :p.

09 December 2012

Amanat

4 comments :
Sepulang kuliah seperti biasa saya membeli kudapan dan semacamnya, begitu pun dengan malam minggu tadi. Kali ini cakwe yang jadi destinasi perut keroncongan saya. Empat puluh menit perjalanan dari Citeureup, tibalah saya di persimpangan Pomad Tanah Baru, Bogor yang menjadi tempat mangkalnya si mas-mas cakwe itu. Motor saya parkir tepat di depan gerobaknya, lalu saya menghampiri si mas.

"Mas, beli 10 ya! Eh, masih ada kan?" tandas saya.

Si mas masih sibuk dengan penggorengan, kemudian dia bilang, "Hmm, masih toh mas, tapi tunggu bapak ini dulu ya. Lagian, masih ada juga yang mesen sih, 20 biji. Mau sabar nunggu ndak mas?" ujarnya dengan aksen jawa yang kentara.

Saya berpikir sejenak, "Oh, oke, gapapa deh."

Ternyata lama juga menunggu sekitar 40 cakwe yang digoreng itu. Lima belas menit saya menunggu antrean pesanan cakwe itu. Sebelumnya saya pikir tidak akan terlalu lama, karena cakwe itu termasuk makanan yang cenderung mudah untuk matang di penggorengan. Tapi tak apalah, wong saya tidak ada acara malam mingguan, "teu ngaruh". Lebih baik saya mengalihkan perhatian terhadap blackberry, membaca linimasa.

Beberapa saat kemudian ada pembeli lain, perempuan paruh baya. Dia pun memesan, "Lima belas biji ya mas!" serunya.

"Wah, kayaknya lama bu, ini masih ada yang ngantre. Bapak ini mesen 20, terus si mas yang ini mesen 10. Lagian ada yang mesen juga 20 biji, jadi ibu musti nunggu 50 lagi nih," jelas si mas cakwe itu.

"Hah, udah, yang mesen mah dilewat aja mas, yang ada di sini aja dulu, yang orangnya rela nunggu," si ibu menawar.

"Dilewat? Ndak bisa gitu dong bu, kan yang mesen sama-sama beli juga," kata si mas cakwe.

Raut muka si ibu berubah, tampak kesal. Lalu dia berkata lagi, "Yaah, si mas, masih kaku aje. Udah, gak bakal liat ini kan yang mesennya juga toh."

"Hmm, ndak bisa bu, entar kalo orang ntu tiba-tiba ke sini sekarang gimana? Kasian, masa yang mesen ntu musti nunggu lagi," tegas si mas cakwe.

Si ibu makin kesal, tapi akhirnya dia terpaksa mengerti, kemudian dia berdiri menunggu sembari melipat kedua tangannya. Namun emosinya luluh ketika pembeli 20 cakwe yang tadi dibicarakan ternyata sudah tiba di depan gerobak, lalu mengambil pesanannya.

Hati saya tersentuh kala menyaksikan percakapan itu. Si mas cakwe telah melaksanakan tugasnya dengan baik, melayani konsumen dengan setara. Bagaimana pun, konsumen yang memesan terlebih dahulu lah yang harus dilayani lebih dulu juga oleh si mas cakwe. Ini merupakan salah satu peristiwa sederhana tentang kepercayaan. Hal sederhana tentang betapa pentingnya menjaga amanat orang lain, sekali pun orang lain itu tidak menyaksikan tindakan kita secara langsung.

Hei pejabat, Bupati, Ketua PSSI, Anggota Dewan Yang Terhormat, koruptor! Sungguh hina diri kalian jika tak malu sedikit pun dengan tindakan terpuji salah satu dari banyak sekali rakyat jelata di negeri ini yang setia menjaga amanat konsumennya? Ingat, konsumen kalian adalah kami, rakyat. Rakyat jelata yang memercayakan nasibnya kepada kalian. Bersediakah kalian untuk segera sadar dari buaian kemewahan, gelimang harta, untuk kembali menapakkan sepasang kaki dan hati kalian terhadap tanah air ini?

05 December 2012

Makhluk Bernama Cinta

12 comments :
Brrr.. Bogor dingin banget sehabis diguyur hujan deras sejak tadi siang sob. By the way suasana semacam ini emang paling cocok kalo kita nyeduh kopi liong, baca linimasa yang selalu uptodate dengan kegalauan para twips. Selain itu, kayaknya cocok banget kalo malam ini kita ngomongin hal yang seringkali bikin kaum jomblo menatap nanar mukanya di depan cermin pada (maaf) malam minggu, cinta. ciyeehh..

Apa sih makhluk yang bernama cinta itu sampai-sampai bupati Garut tega menceraikan istri mudanya dalam waktu 4 hari saja? Please, bikin iri jombloers aja, ya kan mblo? hihihi. Seberapa berpengaruhkah peran cinta sampai-sampai ada orang yang berubah sikapnya ketika ketemu gebetannya, yang biasa sangar jadi kelepek kelepek rona mukanya mirip sambal goreng, yang biasanya pendiem jadi berani ngungkapin perasaannya ke si doi, yaa sekali pun cuman ngungkapin lewat tulisan blog aja sih #jleb.

Cinta bukanlah sesuatu yang bisa didefinisikan secara gamblang dan saklek. Jangan sekali kali searching definisi cinta di wikipedia ya sob. Makhluk satu ini saya yakin punya definisi beragam di benak masing-masing. Ada yang mengatakan kalo cinta itu perlu diperjuangkan layaknya kemerdekaan  Indonesia dari kumpeni. Ada yang mengatakan cinta adalah ditemukannya tulang rusuk yang hilang karena selama ini digadein buat beli netbook. Bahkan ada (banyak banget) orang yang bilang kalo cinta itu gak usah dicari, entar juga nyamperin sendiri. Hmm, ciyus? Pasrah apa udah putus asa sama kenyataan tak terperi yang tak kunjung memihak nasibmu mblo? pukpuk.

Saya gak tahu apa itu cinta, lagian saya gak punya cukup kompetensi (apa pula?) buat ngupas hal satu ini. Bicara jam terbang, oalaah.. saya cuman pilot pesawat capung. Namun sekarang saya cuman pengen ngungkapin penelaahan (bahasanya berat) sama sobat sekalian yang bersumber dari temen, sodara, sepupu, kakek nenek yang lagi pacaran.

Well, komitmen. Pasti kalian semua setuju kalo cinta itu butuh banget hal satu ini. Tanpa komitmen sepertinya cinta hanya akan jadi teh manis tanpa rasa sepet yang sebenarnya bikin nikmat. Tanpa komitmen cinta gak lebih dari kerupuk yang disimpen di toples yang kebuka, bentar juga melempem. Komitmen hadir sebagai penyeimbang si cinta itu. 

Tapi yang saya saksikan akhir-akhir ini, banyak sekali pasangan muda mudi yang gak berkomitmen. Ataukah sejak dulu? Artinya mereka ya happy happy aja, makan berduaan, jalan berduaan, ngupil berduaan. Cinta tanpa komitmen ini sebenernya worth buat dijadiin ajang percobaan, terutama buat kalian mblo.. Sekiranya salah satu pihak di tengah hubungan ada yang ngerasa gak cocok, yo wes udahan, beres.. Gak perlu musuh-musuhan, gak perlu unfollow or block akun twitter si mantan itu. Gak perlu move on move on-an kayak saya beberapa bulan yang lalu. Ketahuilah sobat, move on itu butuh keyakinan serta motivasi yang kuat melebihi perjuangan penggiat MLM yang sedang mencari anggota baru.

Kemudian, perhatian. Bohong banget kalo kalian gak pernah sms beginian sama si doi, "lagi ngapain? udah makan? udah ngerjain peer? udah mandi? udah pake baju? udah... putusin aja." Bukan cinta namanya kalo kita gak merhatiin doi, setiap saat setiap waktu setiap senin sampai jumat sabtu setengah hari minggu libur. Ya, tapi gak merhatiin doi kalo lagi ngupil juga kali sob.. wajar wajar aja.

Terakhir, kenyamanan. Nah, yang satu ini yang mesti diperhatiin, penting banget. Bolehlah kalo kita ditembak Jennifer Anniston supaya jadi pacarnya. Tapi kalo kitanya gak nyaman? Buat apa diterima coba.. Kasian kan nanti kalo Jennifer Anniston bener-bener cinta sama kita tapi pada akhirnya doi dikacangin karena kitanya gak nyaman. 

Kesimpulannya, perlukah mengejar cinta? Jadi definisi cinta itu apa dong ceeepppyyy??? Hmm, sampai kapan pun saya gak bisa jawab. Dengan berat hati (dan berat badan) saya harus mengatakan, "semua kembali kepada prinsip masing-masing." Tapi konsekuensi tanggung sendiri tentunya ya sob, kan udah dewasa, udah tahu sebab akibat, aksi reaksi, hukum Newton 0 1 2 3. Ya, seperti kita tengok di atas, ada yang lebih suka pacaran buat happy happy aja, ada yang suka pacaran sama brondong, ada yang suka berkomitmen, ada yang suka pacaran ala orang dewasa, bahkan ada juga yang suka gak pacaran alias jomblo. Eh, tapi ada yang suka aku kan? #eaaaa