30 December 2013

Pertanggungjawaban 2013

8 comments :

Cerah pagi-pagi. Terik siang-siang. Hujan petir sore-sore sampai tengah malam. Sudah penghujung Desember aja, nih. Sudah tercapaikah resolusi-resolusi yang kamu bikin setahun yang lalu? Semoga banyak yang terkabul. Kalau belum, tenang, masih ada sisa durasi sehari lagi, ceman-ceman. Serangan fajar. Kebut!

Menjelang penghujung tahun, biasanya para blogger suka memposting apa-apa (atau siapa?) yang mereka sukses capai setahun ini. Saya, sebagai pure blogger (dalam artian cuma menulis di blog itu pun kalau sempat alias enggak malas, jarang sekali kopi darat dan mengikuti seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan blogging), saya rasa tahun ini ialah tahun paling galau. Ya, bolehkan saya galau? Toh diriku ini masih muda bingits kakaaaak, jebret!

Mumet-ringannya kadar postingan saya sepanjang tahun ini sepertinya berkelindan dengan suasana dalam otak, dan hati saya. Februari lalu bapak saya dirawat lagi, syukurlah kini beliau sehat kembali walaupun tidak 100 persen seperti sedia kala. Sebelum lebaran, kakak saya diopname. Dan tepat lebarannya, kakak yang di Bekasi sakit. Pasca lebaran, ponakan saya yang diopname. Pasca lebaran haji silam ibu saya yang sakit. Pengawal Desember, ibu saya sakit lagi.

Mudah-mudahan tidak ada yang sakit menjelang penghujung 2013. Kendati muak menghirup bau rumah sakit bahkan mendengar nama rumah sakit pun menggugah saya buat melafazkan ayat kursi, saya bersyukur, saya pribadi masih dicurahi nikmat kesehatan. Terima kasih, Yang Mahamurah.

Bila menyoal kuantitas, tahun ini jumlah artikel di blog saya lumayan meriut dibanding tahun lalu. Dan jangan membicarakan kualitas! Blog saya tidak ada apa-apanya. Sesuai namanya (cepy break!) saya ngeblog di sini sekadar mengisi alias mencuri waktu luang di celah-celah kuliah. Jangan terlalu serius membaca blog saya. Ya, anggaplah seamsal menyeruput kopi di kedai pada coffee break pukul sepuluh pagi atau menghirup teh pukul tiga sore. Tidak ada tujuan, visi, misi, strategi mengerucut, sebab niatnya sekadar melepas penat, kan? Maunya sih begitu, tapi realitanya… hahaha.

Saya memulai pertanggungjawaban 2013 singkat ini dengan Indeks Prestasi. IP semester ini belum keluar, namun IP semester lalu sedikit meningkat. Tipis sekali. Nominal tepatnya, rahasia. Intinya, saya tetap menjadi mahasiswa dengan raihan prestasi paling bontot di kelas. Jangan bayangkan suasana kampus saya seperti kampus lain yang kebanyakan mahasiswanya cuek satu sama lain lantaran sama-sama merasa sudah dewasa, dan memilih fokus dengan tujuan hidup masing-masing.

Di sini jalinan pertemanannya cukup rekat. Saking lengketnya, saya malah teringat masa SMA bahkan SMP, yang acap melahirkan konflik-konflik sepele, sehingga saya cenderung malas turut terlibat lebih intim dengannya. Lucu soalnya. Ada pula yang berpangkal dari penitikberatkan nilai sebagai tujuan. Ya, nilai. Guratan angka di atas kertas. Rupanya saya lain; saya sadar, saya terlalu tua andai masih berkelakuan seperti itu. Bagi saya sekarang, apatis lebih baik daripada ikut campur secara ujug-ujug. Hidup apatis!

Tahun ini saya gagal menepati janji. Di balik ruwetnya dunia kuliah dan cerewetnya dunia online, saya mencuri hampir separuh waktu saya tahun ini untuk menulis prosa dalam halaman putih MS. Word. Sudah 11 cerpen saya tulis dengan tema beragam. Saya senang sekali. Dulu, tak pernah terpatri sedikit pun dalam hati saya niat untuk menulis cerita pendek, sebab membaca pun hampir tidak pernah!

Naskah novel, nah, itu dia janji yang saya ingkari itu. Januari mendatang, genap satu tahun saya menulis novel. Namun tidak selesai-selesai. Rupa-rupa alasannya. Yang paling sering hinggap, ya, godaan untuk membuat outline atau gagasan baru dari nol. Perbuatan itu sudah saya lakukan empat kali. Dan, awal Desember kemarin, nyaris saja saya mengacak-acak semuanya dari nol lagi. Berarti jika itu terjadi, lima kali alias setahun sudah waktu saya tersia-sia. Betapa! Ah, syukurlah kemarin saya masih kuat iman. Saya pikir-pikir lagi, saya renung-renung, saya timbang-timbang. Dan endapkan. Dan sampai sekarang pun, naskah itu belum juga saya sentuh lagi. Duh.

Mungkin masalah pelik ini nampak sepele bagi kamu, teman. “Menulis, ya nulis saja, nggak usahlah banyak gaya, pamer buku-buku yang sedang dibaca, nggak usah banyak mengumbar omong. Tuh, buktinya nggak selesai-selesai, toh?” Saya sering mendengar bisikan-bisikan dari segelintir orang. Gara-gara itu, sering pula saya patah arang, bangkit lagi, patah arang, namun kemudian kini saya remukkan arang itu lalu menggantinya dengan titanium supaya hati saya tidak seringkih arang. Sebab, seibarat komentator bola dan pemain bola, komentator justru terkesan lebih pandai bermain bola daripada pemain bolanya itu sendiri. Padahal…

Menulis tanpa membaca sama saja dengan rapat, sidang, muktamar anggota dewan. Buang-buang stamina, buang-buang waktu! Saya merasa takjub tahun ini: baru sekarang saya membaca novel, kumpulan cerpen, puisi, esai, lebih dari 40 buku. Menurut saya, ini merupakan prestasi tersendiri. Sebelumnya, ya, tengok saja 2012, saya cuma membaca lima novel. Itu pun novel Partikel Dee Lestari baru saya selesaikan pada akhir tahun 2012.

Tiada lain, ini berkat teman-teman di kelas anggit yang sudah memantik minat baca saya, sehingga saya mulai rakus membaca saat ini, mudah-mudahan sampai kelak tiada akhirnya. Bagaimana mau bikin buku kalau baca buku orang lain saja malas? Terima kasih, teman-teman.

Hmm, resolusinya mana? Sepertinya tahun depan saya harus sering menjenguk orangtua, kakak-kakak, dan keluarga. Hidup bukan milik saya sendiri. Semuanya sudah ada bagian-bagiannya, adil, dan saya bukan anak kecil lagi. Doakan saja, kabarnya, ibu dan bapak saya hendak membeli rumah di sini, di Bogor. Dengan demikian, saya bakal bisa hidup berdekatan lagi dengan mereka, sebagaimana masa kecil. Sehingga mereka tidak lagi tinggal kesepian berdua di rumah di Bandung.

Bagi saya keluarga layak jadi resolusi nomor satu. Urusan selain keluarga? Hmm, penting juga. Penting banget! Tapi, ya, biarlah mengalir seperti air. Sebab saya pikir-pikir lagi, air yang mengalir pun punya pakem. Tidak sekadar mengalir seperti orang-orang malas. Sepanjang aliran yang dialiri air itu, bukankah banyak sekali rintangan yang mustahil ia hindari?

Mengalir tidak selalu alir. Ada saat di mana air tersendat oleh sampah-sampah dari kota. Ada saat di mana air berlainan kasta: air A di comberan kampung, air B mengisi goblet-goblet yang tersaji di hotel, air C menggenangi atap yang bocor. Ada saat-saat air mencurah-deras di air terjun, sehingga ikatan atomnya berpencaran. Namun, nyatanya air bakal berikat-kelindan lagi nanti di hilir. Di laut. Bila tidak di keduanya, mungkin awan mendung bersedia menampung kebersamaan mereka. Dan hujanlah. Begitulah, sampai logika saya lelah.

Selamat tahun baru 2014. Apa resolusimu? Yuk, curahkan, catatkan, wujudkan!

11 December 2013

Mengapa Musik Dangdut Tidak Keren?

22 comments :
Semenjak kanak-kanak, pertanyaan ini kerap saya galaukan. Apa salahnya dengan musik dangdut? Bukankah iramanya 11, 12, 13, seperti tanggal hari ini, dengan lagu R & B maupun musik dugem ajep-ajep di bar yang kerap digandrungi anak kuliahan dan eksekutif muda sepulang ngantor sampai dini hari? Bahkan menurut saya, lagu dangdut itu mirip-mirip dengan musik Reggae yang punya penggemar fanatik nan eksklusif di Indonesia. Jika sedemikian parah serta memalukannya image musik dangdut, haruskah kita mengubah kata ‘dangdut’ menjadi kata yang terbaca dan terdengar lebih keren? 

Baiklah. Saya intip lagi masa lalu. Dulu, Bapak saya memang bukan penggemar musik dangdut. Ia lebih suka memutar lagu-lagu sunda semisal kecapi suling, pupuh, dan degung/karawitan pada radio tape tua kami di rumah. Saya ikut mendengarkan saja, sebab kawih-kawih sunda itu memang enak didengar, begitu syahdu, liriknya begitu menyayat-nyayat kalbu dan memercik genangan kenangan. Alhasil saya bersyukur, bapak saya punya selera musik yang baik. Tidak seperti bapak-bapak lain yang gila dangdut, di mana ada panggung, di situ ada bapak-bapak lain itu tengah memelototi pantat pedangdut.

Sesudah remaja hingga sekarang, saya sadar bahwa tidak punya selera musik yang spesifik. Lagu apa saja, rilis tahun berapa, siapa pun penyanyinya akan saya sukai bila memang enak didengar pada kesempatan pertama. Dan tentu saja lagu yang liriknya mewakili pemikiran dan kegundahan perasaan saya. Tapi, lagu dangdut ialah pengecualian. Jujur, saya sudah tergiring opini orang-orang yang memfatwakan bahwa lagu dangdut itu tidak keren. Selain itu, saya tidak suka dangdut sebab tidak bisa joget-joget (jika terpaksa joget, mungkin saya bakal terlihat serupa beruang kelaparan) juga tidak punya cukup uang buat nyawer pedangdut seksi itu. Well done. 

Biarkan kali ini saya berpikir objektif, tanpa menyertakan ketaksukaan saya terhadap musik dangdut. Sip. Banyak yang bilang, lirik lagu dangdut itu kampungan, sangat mencerminkan kehidupan masyarakat golongan bawah. Ya, sopir truk, pengayuh becak, pedagang asongan, dan orang-orang yang dianggap sebagian orang sebagai orang pinggiran berselera seni amat rendah. Dan, ini dia yang menurut saya unik, mereka lebih sering memutar lagu dangdut lawas ketimbang lagu-lagu dangdut modern yang dilantunkan misal oleh Ayu Tingting atau Zaskia Gotik. Entah kenapa. Saya penasaran. Dan berikut saya tukil salah satu lirik dangdut koplo yang usianya belum begitu lawas yang barusan saya googling secara acak, tanpa mengetahui bahkan mendengarkan seperti apa irama lagunya: 

Gedung Tua - Wawa Marisa 

Siapa yang mau menghuni gedung tua 
Siapa yang sudi singgah di hati ini 

Tempat keramaian kemewahan sunyi sepi 
Semuanya hampa termakan lapuknya usia… 

Siapa yang mau menghuni gedung tua… 

Reff: 

Sudah berulangkali pernah aku mencoba 
Membangun dan membina kehancuran di jiwa ini 
Kecewa dan kecewa yang selalu kurasa 
Merana dan tersiksa yang tiada akhirnya 

Hanya padamu Tuhan aku berserah diri di dalam segala cobaan

Hmm. Lirik-lirik itu kampungan? Masak, sih. Sepertinya biasa saja. Bahkan, saya rasa ada kata-kata yang menyiratkan kegelisahan seseorang secara mendalam. Misalnya saja, gedung tua itu sendiri. Saya yakin, maknanya bukan sekadar bangunan beberapa lantai yang lapuk ditinggalkan penghuninya. Bisa saja sebagai simbol hubungan asmara yang sudah usang lantaran terkerkah oleh perbedaan adat istiadat keluarga masing-masing. Atau, yah, sebenarnya ada beberapa lirik yang bisa dibedah. Anda pun dapat menafsirkan sendiri. Dari sini, saya berpendapat, lirik lagu dangdut ternyata tidak norak-norak amat sebab maknanya tidak terlalu dangkal. Tidak ada masalah dengan lirik. 

Semacam membandingkan hape, motor, mobil, boleh saya bandingkan dengan lagu lain yang dianggap keren? Supaya adil, saya hendak bandingkan Wawa Marisa dengan pemusik yang sama-sama berasal dari Indonesia, yang kabarnya sudah terkenal hingga US, bukan band indie yang sangat idealis, dan rilis pada tahun yang sama dengan lagu Gedung Tua, mmm, saya rasa sekitar tahun 2008. Superman Is Dead - Jika Kami Bersama. Semoga lagu ini memang keren. Menurut saya, sih, lumayan. 

Jika Kami Bersama - SID

Jika kami bersama, nyalakan tanda bahaya
Jika kami berpesta, hening akan terpecah
Aku, dia dan mereka memang gila memang beda
Tak perlu berpura-pura memang begini adanya

Dan kami di sini
akan terus bernyanyi

Dan jika kami bersama nyalakan tanda bahaya
Musik akan menghentak anda akan tersentak
Dan kami tahu anda bosan dijejali rasa yang sama
Kami adalah kamu, muda beda dan berbahaya

Lepaskan semua belenggu yang melingkari hidupmu
berdiri tegak menantang di sana di garis depan
aku berteriak lantang untuk jiwa yang hilang
untuk mereka yang selalu tersingkirkan
ketika tiada beban lagi untuk berlari
Ketika tiada orang yang akan peduli
Aku dan dia selalu menunggumu di sini
angkat sekali lagi

Dan kami di sini
akan terus bernyanyi...

Saya penggal liriknya sampai di sini, sebab liriknya sama dan diulang-ulang. Nah! Band beraliran grunge ini memang kerap menjalin lirik lagu yang bagus, mengena, dan juga indah. Sangat puitikal. Bahkan ada beberapa lagu mereka yang berbahasa Inggris, yang sontak meningkatkan taraf kekerenan lagu SID. Tapi, saya rasa lirik ini hampir setara dengan lagu dangdut koplo di atas. Ada perumpamaan, ada simbol. Yang berbeda, cuma taste, barangkali. Dan tokoh di dalam lirik pun berbeda; dalam lagu dangdut mayoritas mewakili manusia berusia paruh baya yang kehilangan arah kehidupan, sementara lagu-lagu SID tentu saja mewakili spirit anak muda bersudut pandang liberal.

Dan perbedaan yang sangat kentara, tentu saja image. Tidak keren, kan, jika saya mencantumkan nama Wawa Marisa pada sablonan kaus oblong. Lain halnya andai saya mengenakan kaus oblong hitam bertuliskan Superman Is Dead. Keren! Garang. Kecil kemungkinan saya bakal dianggap norak oleh teman-teman. 

Ah, sudahlah. Pada akhirnya mesti saya akui, sebuah lagu atau produk-produk hiburan apa pun bentuknya, bersifat pribadi. Sangat subjektif, privat alias gue banget. Mungkin suatu waktu saya akan menyukai lagu dangdut andai kelak saya sempat merasakan betapa lelah dan pelik dan geregetnya mengemudi truk kontainer lintas jawa menuju pelabuhan Merak, di setiap pos diadang pungutan wajib oleh DLLAJ, di setiap tikungan ditodong “pak ogah”.

Percayalah, sepanjang jalan dari Jakarta, Bogor, Bandung maupun dari kota-kota lain di Jawa hingga menyusuri pelabuhan Merak, pos-pos DLLAJ itu mungkin ratusan jumlahnya. Apa lagi tikungan? Duh! Mungkin musik dangdut yang mencerminkan pasang-surut kehidupan mereka yang lebih banyak surutnya itu. Mungkin cuma musik dangdut yang bersetia terhadap mereka.

27 November 2013

Etis dan Etos

6 comments :
Sampai siang ini, dua tahun belakangan, saya ‘menumpang-teduh’ di rumah teteh (kakak perempuan). Dan kepindahan saya dari kos-kosan di Bekasi ke rumah teteh di Bogor bersamaan dengan lahirnya putri keduanya. Ya, sekisar dua tahun lebih empat bulan. Tidak terasa ternyata. 

Saya sungguh takjub mengikuti perkembangan perempuan mungil itu semenjak ia masih bersosok bayi merah, beberapa bulan kemudian ia tertawa-tawa melihat cecak di dinding atau mendengar mainan yang menimbulkan bunyi gemerincing, mengeja diksi ‘mama’ dan ‘ayah’ dan ‘nenen’, tengkurap, ngesot ke belakang, merangkak, berdiri, jatuh dari berdiri, bangkit dari berdiri, berjalan menggapai-gapai, berjalan tertatih-tatih, berjalan santai, berlari-lari. Dan, sejak ia mampu berlari-lari, timbullah masalah. 

Saban waktu―pagi, siang, sore, bila sedang berada di rumah―kerap saya saksikan kehebohan di rumah. Pagi hari setelah ayah dan kakaknya berangkat, si kecil mengacak-acak rumah yang sudah dirapikan mamanya; menumpahkan sarapan dari mangkuknya, membanting remote tv, melempar blackberry, mencoret-coret dinding maupun melukis tangannya dengan spidol. 

Setelah kakaknya yang sudah kelas tiga SDIT pulang dari sekolah pada pukul tiga, rumah semakin ramai. Si kakak mempunyai rasa tak ingin tersaingi adiknya. Enggan mengalah dalam segala; berteriak tatkala mainan atau buku miliknya dipegang bahkan sekadar disentuh oleh si adik. Kalaupun mengalah, pasti diakhiri dengan tangisan. Mamanya menyumpah-nyumpah tabiat mereka.

Sebelum ayahnya pulang, saya harus berangkat kuliah. Dan sepulang kuliah pada pukul sepuluh malam, rumah tak lagi ramai sebab mereka sudah terlelap.

Saya iseng-iseng menerka tipe kepribadian ketiganya. Teteh saya Sanguinis-Koleris. Suaminya Melankolis-Plegmatis. Sempat mengikuti psikotes, si kakak sama dengan mamanya, yakni lebih dominan pada sisi Sanguinisnya. Tetapi, si adik lebih dominan pada Koleris, sehingga ia menjelma penguasa di rumah. Tak ayal, meledaklah kehebohan itu tiap hari. 

Bukan. Kehebohan itu bukan perkara bagi saya sebagai om mereka yang menyesaki ‘istana’ keluarga mereka. Hmm, sebentar, sepertinya pernah juga saya menggerutu dalam hati. Kejadian itu terhelat pada pertengahan tahun ini. Manakala saya sedang mengetik tugas kuliah ataupun naskah cerita, ponakan saya mengamuk saban malam, menangis-menjerit-merintih sampai-sampai air matanya tak mengalir saking lamanya durasi tangisnya. Kala itu ia sedang disapih dari ASI. Dua jam kemudian, barulah isaknya terhenti setelah ayahnya terpaksa membentak-bentak sembari melafal istigfar. 

Gara-gara itu, saya lebih memilih meninggalkan tugas kuliah dan naskah-naskah itu, dan memilih tidur saja, sebab saya paling tidak bisa berpikir dan menulis tanpa keheningan. 

Seminggu kemudian, teteh saya diopname lantaran dehidrasi yang disebabkan kelelahan bergadang; menggendong meredakan tangis si kecil, sedangkan paginya ia harus bergumul dengan kebaktian rumah tangga. Singkat kata, sampai lebaran teteh saya sembuh, sehingga ia tidak perlu berlebaran di rumah sakit. Namun usai pulang dari mudik lebaran, giliran si kecil itu yang harus menginap di hotel medis.

Sekarang, si mungil tidak lagi mengamuk saban malam. Namun, ia dan kakaknya masih terus memelihara pertikaian. Ada-ada saja hal sepele yang mereka soalkan. Hampir setiap hari pula saya simak teteh saya dan suaminya menasihati si kakak supaya mengalah terhadap si adik, sampai-sampai saya hafal dan bosan. Terkadang nasihat itu bernada tinggi, alias memarahinya sampai si kakak pundung seharian. Ujar orangtuanya, si adik masih kecil, tidak tahu apa-apa, yang lebih gede yang mesti mengalah. Kasihan sebetulnya si kakak itu. 

Sehari-hari hidup bersama mereka, saya malah kepikiran diri saya sendiri. Saya ialah anak bontot dari lima bersaudara. Saya tidak punya adik, sehingga gagal merasakan seutuhnya ihwal peran kakak yang selalu kalah ataupun dikalahkan. Mungkin dahulu saya malah berada pada posisi si kecil yang egois dan senantiasa dimenangkan oleh mama papa. Tetapi, izinkan saya untuk berempati terhadap si kakak dengan menuliskan ini.

Hmm, mohon luruskan andai saya keliru. Saya percaya, sifat dan karakter manusia tak akan berubah dari kecil sampai dewasa. Memang, ada orang yang pernah bilang, bila tak mampu mengubah sifat atau tabiat burukmu, kau hanya akan jadi pesakitan, mustahil jadi orang sukses. Ya, itu betul. Sangat. Tapi, menurut saya, mereka-mereka yang sukses itu sekadar berhasil menambahkan topeng di wajah dan akal dan hati mereka. Semacam serigala berbulu domba. Atau tikus got bertuksedo.

Manusia dewasa mengedepankan etis dan etos. Segala tindak-tanduknya, haruslah sesuai dengan alur etika, kebiasaan, adat, agama, hingga tren, tutur manusia dewasa itu jemawa. Namun, apakah mereka selalu benar? O, saya rasa pengusaha beristri banyak itu orang dewasa. Saya rasa tetangga yang nyinyir itu orang dewasa. Saya yakin pembobol supermarket itu orang dewasa. Saya percaya yang mulia pengacara-pengacara konyol dan (maaf) tolol di acara Indonesia Lawyers Club itu orang dewasa. Dan, saya yang pemalas ini sudah terperangkap pada rentang usia manusia dewasa. Menyedihkan. 

Saya lebih memilih menyaksikan pertikaian adik imut dan kakaknya di rumah teteh yang walaupun kadang bikin senewen, toh selalu diakhiri oleh happy ending, ketimbang menonton televisi. Mereka, anak kecil itu, selalu jujur meruahkan ekspresi dan prinsip masing-masing, tanpa intrik dan kepentingan tertentu. Sungguh. Saya malah berharap, jangan sampai mereka bertingkah alim sebagaimana kami yang mengaku dewasa, padahal di balik itu, entah. 

Ponakanku, kalian sudah berperilaku sewajarnya. Orang-orang tua seperti kami yang semestinya belajar kemanusiaan dari kalian.

16 November 2013

Perihal Kritik

8 comments :
Kamu suka ketika penampilanmu dikritik teman? Atau, kamu amat bahagia saat orangtuamu menasihati dengan nada tinggi bahwa sesekali kamu harus bangun pagi-pagi? Jika kamu suka dikritik, sepertinya kamu harus lekas memeriksakan kesehatan jiwamu ke psikiater. Eit, tapi, tunggu dulu. Baca dulu postingan saya sampai tuntas, ya, hehe.

Manusiawi sebenarnya, manakala bibir kita pura-pura tersungging padahal hati kita tersinggung saat mendengarkan orang lain dan orang terdekat menasihati kita, mengkritik segala yang kita perbuat. Tapi, percayalah teman. Kritik itu membuat kita sungguh-sungguh hidup. Setidaknya bagi saya.

Dari dunia kepengarangan, saya menyadari betapa berharganya sebuah kritik. Dulu, ada anggapan bahwa seorang pengarang belumlah sah disebut pengarang―atau sastrawan―bila belum masuk laci kritik sastra HB Jassin. Dari tangan dingin dan tulisan tajam beliaulah―yang kerap menikam hati yang dikritik―saat itu, sastra Indonesia pesat berkembang, dan menemui pembaharuan setelah sebelumnya sempat stagnan dengan gaya bahasa itu-itu saja, dan tema yang seragam antar pengarang.

Minggu sore kemarin, saya menghadiri #BincangBuku di Rumah Kata Indonesia, Bogor, menelisik novel Jurai anggitan Guntur Alam. Mendengar nama Guntur Alam mungkin tak seakrab mendengar (lagi-lagi) Andrea Hirata ataupun Ahmad Fuadi atau bahkan Raditya Dika. Tetapi namanya lumayan akrab di benak saya beberapa bulan belakangan―setelah saya memutuskan untuk rajin membaca apa saja di mana pun, sebab saya sering menemui cerita-cerita pendeknya di berbagai media yang arsipnya terdapat di internet. Saya bersyukur bisa bersuamuka dengan cerpenis muda produktif itu.

Setelah Jurai dikupas habis-habisan mulai dari penempatan catatan kaki sampai perkara stilistika oleh Om Adi, Mas Guntur pun menjawab beberapa pertanyaan hadirin. Saya melontarkan pertanyaan yang sepele, dan dijawab pula oleh pernyataan yang terdengar sederhana, namun amat menohok: rajin-rajinlah membaca, dan membuka kamus dan tesaurus.

Ada pertanyaan menarik dari peserta #BincangBuku lain. Salah satunya yakni, bagaimana cara tabah bertahan tanpa patah arang saat menulis? Mas Guntur pun menjawab panjang lebar, seolah membawa kami ke belasan tahun silam saat awal-awal perjuangan dia menembus media. Rupanya, sejak remaja, ia suka mengirimkan karyanya ke berbagai media, namun hanya satu saja yang tembus, itu pun rubrik surat pembaca, hehehe. Luar biasa menyimak kegigihannya. Sampai tiba saat Mas Guntur kuliah di Bekasi, untuk pertama kali karya fiksinya (cerpen) dimuat oleh majalah Sabili.

Perjuangannya belum bersudah. Beberapa tahun kemudian, cerpennya dimuat koran daerah. Dari situ ia merasa terpacu terus menulis, untuk kemudian berpayah-payah mengirim cerpennya ke Kompas, media yang digadang-gadang sebagai barometer cerpen koran minggu berkualitas. Singkat kata, cerpen Mas Guntur pun dimuat. Dia senang sekali. Tetapi…

Setelah cerpennya diunggah ke blog cerpenkompas, serentetan kritik menghunjam dirinya. Mulai dari kritik bernada kecaman―tanpa isi―sampai kritik yang benar-benar kritik, yang menelanjangi cerpen pertama Mas Guntur di Kompas. Akunya, ia sempat down. Bahkan ia berniat meninggalkan dunia kepengarangan.

Namun, setelah ia pikir, resapi ulang kritik-kritik itu, ia menemukan titik terang. Entah apa itu, yang jelas, ia mengonversi kritik menjadi semacam pemantik kreativitas. Dan meledaklah! Usai mentalnya sempat roboh berkat kritik-kritik kritikus sastra betulan ataupun komentator anonim yang sekadar bercuap ‘bunuh diri aja, lu!’ di blog cerpenkompas, Mas Guntur semakin mendalami teori kepengarangan, setelah sebelumnya hanya belajar secara autodidak.

Beberapa bulan kemudian, cerpennya lagi-lagi dimuat media. Tak tanggung-tanggung, cerpennya dimuat Koran Tempo, media yang redaktur sastranya lumayan killer! Seperti hujan bulan November, karyanya terus menderas menghujani berbagai media nasional, baik majalah remaja, majalah dewasa, dan koran minggu. Dan tentu saja novel Jurai dan beberapa novel remaja lain yang sudah terpampang di toko buku. Ciamik!

Ah, ya, saya juga sering sekali dikritik orang-orang sekitar saya dalam segala aspek. Namun, entah oleh karena tabiat saya yang keras kepala, mental saya jarang down. Pernah down, namun sekejap saja, sebab saya tak pernah meratapi sedemikian pilu kejatuhan mental hingga berhari-hari, berbulan-bulan lamanya. Mubazir waktu.

Saya justru memilah-milah kritik mereka: mempertahankan yang baik, memperbaiki yang buruk. Pada akhirnya, saya merasa benar-benar hidup. Sebab dengan dilontari kritik oleh orang-orang terdekat, saya bersyukur, ternyata masih ada manusia yang memedulikan hidup saya. Saya senang.

Oh, ya, kebetulan ada satu cerpen saya yang dimuat majalah. Jika ingin membaca, silakan beli Femina edisi pekan ini, 16-22 November 2013. Atau, jika keberatan membeli Femina, karena itu majalah khusus perempuan, bolehlah sekadar main-main ke toko buku ataupun ke kios koran pinggir jalan, untuk membaca majalah di tempat, dan membaca cerpen saya saja, hehehe.

Selamat menikmati hari Sabtu, teman. Siang ini gerimis dan dingin sekali. Ada kopi?

01 November 2013

Googling Aja

17 comments :
Kamis sore, saya terlibat bincangan dengan seorang teman laki-laki. Dia sering―saya paksa―jadi pembaca pertama tulisan-tulisan saya, baik naskah fiksi eksperimen maupun curhatan di blog cepy break! tercinta ini. Entahlah, berkat perannya itu, apakah dia harus bersyukur atau wajib segera tobat kembali ke jalan yang lurus, ya.

Tidak seperti obrolan sore yang biasa-biasa saja dan sering kali kering, sore itu saya terhenyak. Sekalipun dia sama sekali bukan blogger―lebih tepatnya dia belum beniat untuk menulis dan curhat colongan di blog seperti saya, sebab saya yakin andai ia mulai menulis, tulisan saya nampak seperti sampah yang tersisih oleh tulisannya―ada beberapa pernyataan keren dari mulutnya perihal blog.

“Gimana naskah lu, udah kelar belom?

Saya menggeleng lemah. Selain lemah berkat depresi lantaran naskah impian saya tak selesai-selesai, hati saya pun gemas meratapi polo shirt hitam dan celana jeans dan sepatu kets basah kuyup disimbah hujan penghujung Oktober seukuran butiran jagung dari langit kota hujan.

“Eh, gue suka tuh postingan Perihal Suka lu,” pujinya tiba-tiba, “unik.”

Mendengar pujiannya, saya berusaha memagari hidung supaya tidak mengepakkan sayap.

“Makasih,” timpal saya, tanpa memeluknya. Sebab, jujur, saya lebih suka memeluk perempuan.

Seperti biasa dalam setiap obrolan dengannya, saya memerangkap otak dan mulut dia ke dalam dunia mini saya yang absurd, tidak semua orang rela memahami alur-pikir liar benak saya. Kami saling beropini tentang hujan lebat yang kerap membangkitkan pelbagai imaji. Film indie. Cerpen dan novel sastra. Basket. Perempuan. Kompetisi film sepuluh detik. Dan blog.

Kepadanya, saya mengeluhkan tulisan di blog saya yang kian hari kian aneh. Jauh lebih aneh daripada postingan-postingan awal-awal saya ngeblog, termasuk yang Perihal Suka itu, kesah saya kepadanya.

“Rasanya, gue pengin beralih jadi blogger yang ngebahas makanan aja, deh,” pasrah saya. Ya, saya memilih beralih membahas makanan, sebab tidak mungkin cepy break! menyoal bisnis online dan motivasi dan pengembangan diri. Toh saat ini saya sendiri yang butuh kucuran motivasi, tapi bukan dari motivator.

“Jangan! Gue malah nggak suka blog semacam itu,” sanggahnya.

“Itu urusan lu.”

Sekali lagi dia menggeleng. “Gue sering kecewa membaca blog yang membahas makanan, namun ternyata isinya nggak beda jauh sama rubrik kuliner di portal berita. Tahu gitu, ya udah, mending gue googling aja, kan?” ujarnya. 

Imbuhnya lagi, “Nggak ada opini spesifik yang mengumbar lidah orang itu merasakan rasa asin, manis, atau basi. Yang ada cuma puja-puji terhadap makanan itu tanpa cela. Sedangkan gue, lebih seneng baca opini yang subjektif: apakah tempatnya cocok buat pacaran, apakah harga makanan itu terjangkau oleh kocek mahasiswa.”

Saya melongo. Dan sedikit mengiyakan pendapat teman saya itu dalam hati.

“Malah, gue lebih suka blog yang isinya curhatan kayak blog lu. Well, emang, sih. Kadang postingan lu terkesan cengeng, dan nggak laki,” risaknya.

Saya mendelik, dia ketawa puas.

Katanya lagi, “Walaupun cengeng, tapi, apakah pengalaman hidup atau bahkan cinta seseorang yang gue kenal bisa gue googling semudah googling makanan? Nggak, kan? Kalo gue terpaksa googling, yang ada, malah gue tersesat di website gaya hidup pria urban, lantas dipetuahi sama pria-pria metroseksual bahwa jadi pria menarik itu harus ini lah, itu lah, beli fashion item merek ini lah, harus sesekali pergi ke salon anu lah. Gue pikir pria-pria flamboyan itu lupa, kalo setiap laki-laki itu diciptakan berbeda-beda,” ketusnya, “maksud gue, beda-beda nasib dan rezekinya.”

“Tumben banget lu ngomong sebegini waras,” decak saya. “Terus, apa yang mesti gue lakuin supaya gue bisa semangat lagi buat nulis postingan dan nulis fiksi?”

“Mending baca postingan blog lama lu. Terus terang, postingan lama lu lebih mengalir, blak-blakan, dan jujur. Nggak kayak postingan sekarang yang, agak jaim, menurut gue.”

“Tapi, kan, tulisan dari hari ke hari itu turut mendewasa mengiringi usia manusia yang mengetiknya? Wajar, kan, kalo gue semakin jaim?”

“Ah, tua banget omongan lu!” sambarnya.

Saya terbahak. “Hayo, gimana?”

Mata cerdasnya nampak berpikir. Mulutnya bergerak-gerak.

“Kalo mau punya tulisan bagus, ya, nulis sesuai isi hati lu,” kata teman saya seenteng kapas, “jangan nulis apa yang hebat menurut orang lain, tapi lu sendiri malah bingung. Lu sendiri malah terbebani. Bahkan, jangan-jangan lu malah nggak ngerti tulisan yang lu ketik sendiri.”

Saya sebenarnya tertohok sekaligus takjub menyimak pernyataan teman saya yang tidak terduga-duga itu. Namun, namanya juga perbincangan sesama laki-laki, saya sekadar menyahut, “Males.”

Dan dia pun menukas, “Kampret.”

Begitulah. Kadang kala suara subjektif seorang teman jauh lebih berharga ketimbang petuah emas mencerahkan dari motivator kondang dan motivator jadi-jadian. Pendapat seorang teman tidak bisa di-googling.

27 October 2013

Dalam Hening

10 comments :
Saya ingin mengawali tulisan ini dengan sekalimat di bawah header blog penyair Aan Mansyur

Saya menulis karena sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus.
Tiap orang punya kesukaan. Saya tahu, kamu suka sekali meracik strategi game online tak mengenal waktu, tak mendengar keroncongan perut, cuma mengenal perempuan dari kacamata skeptis. Saya tahu betul hasratmu terlampias saat kamu menggesek dawai biola yang menyayat-nyayat kalbu, merobek telinga manusia-manusia sekitarmu. Saya pun mafhum, mereka, orang-orang kaya itu, saban Minggu menunggangi Harley Davidson ugal-ugalan seolah jalan raya milik nenek moyang, lantaran profesi dan jabatan strategis yang disandang lambat-laun menjemukan. 

Saya suka menulis, tanpa hendak memampang alasan semacam: Saya menulis sebab ingin menggetarkan dunia berkat piawai menganggit 26 huruf, 10 angka, 11 tanda baca. Dengan begitu, kelak nama saya dikenang penduduk bumi delapan turunan. Atau, Saya ingin menjadi penulis terkenal seperti Andrea Hirata, penulis Indonesia pertama yang bisa menembus penerbit Eropa 100 tahun terakhir. Tidak, saya tidak punya alasan sehiperbolik itu. Sebab saya tidak selebay Andrea Hirata.

Namun, bila kamu meminta, baiklah, akan saya babarkan sepercik alasan perihal suka saya. 

Saya bisa menulis, manakala saya sedang melakukan satu kegiatan saja: menulis. Hanya suara jarum-jarum hujan menusuk genting-genting yang boleh saya toleransi. Musik-musik klasik maupun New Age sontak terdengar bising saat saya menulis. Ingin saya sumpal mulut anak kecil yang menangis ketika tengah malam itu saya sedang menyusun plot. 

Entah, barangkali saya dianugerahi kemampuan multitasking yang buruk, sampai-sampai, saya hanya mampu mencintai satu hal saja: keheningan. 

Menulis ialah rutinitas―atau katakanlah ritual―dalam hening, bagi saya. Mulut berpuasa omong. Telinga disungkup sementara dari pengang elegi dunia. Hidung, cukuplah menghidu aroma didih kopi pemantik ide. Kecuali Tuhan, hanya saya yang tahu fluida gagasan yang sedang saya kucurkan dari otak ke jemari di atas tuts keyboard. Seperti ibadah puasa, menulis sebagai aktualisasi kejujuran untuk diri sendiri. Bukan untuk sesiapa.

Tetapi, percayalah, hening di permukaan teramat kontras dengan riuh-rendah benak. Semenjak tubuh saya masih menguar aroma ludah kering, benak terus-menerus menghela kegelisahan yang menderas tak tahu tata krama, ruapan resah, gurat-gurat luka. Sesudah mandi? Oh, ketahuilah teman, ritual mandi sekadar meluruhkan daki, tidak melesapkan duka.

Maka, demi meredakan tsunami benak tak bersudah itu, saya putuskan menulis beberapa ratus kata setelah sebelumnya membaca tak hingga rasa dalam keheningan. Ya, sepertinya saya jatuh cinta pada hening. 

Menulis, bagi Pramoedya Ananta Toer, ialah pemberontakan. Adapun bagi pandir seperti saya, pelarian. Pelarian dari hedonisme urban yang tak kuasa saya tunaikan. Pelarian dari comelnya mulut lebar dosen flamboyan yang memaksa mahasiswa untuk melontarkan pertanyaan dan pernyataan, padahal saya benci untuk berbual tanpa saya pikir lebih dulu beberapa jenak. Pelarian dari kenyataan bahwa: derita lebih sering bertamu daripada bahagia yang pemalas.

Atau bahkan, pelarian dari ritual menulis sendiri yang kerap menguras ingatan dan kenangan dan air mata. 

Selamat Hari Blogger Nasional. Saya akan terus menulis dalam keheningan selama saya masih memercayai cinta.

22 October 2013

Perihal Suka

18 comments :

Saya suka perempuan berbola mata bundar, sebab bola mata saya tidak terlalu bundar.

Saya suka perempuan berlesung pipit, sebab dekik pipi saya sukses ditimbun lemak.

Saya suka teman saya pergi, manakala hati tengah digojlok pilu. Dengan begitu saya dapat berfokus mengetik harapan ribuan kata pada halaman putih pengolah kata dalam kamar gelap sampai pagi menjelang. Dan saya pun bisa mendengkur dari pagi hingga malam.

Setelah mata saya benar-benar terbuka dan dua gelas air putih menggenangi kerongkongan, saya suka melanjut mengetik asa.

Saya suka naik kereta, sayang, tidak ada stasiun Ciluar atau stasiun Citeureup.

Saya suka kecupan dan tempias air mata Ibu, saat saya bersimpuh kepadanya pada hari raya.

Saya suka mendapati beberapa pasang mata tertuju pada saya, saat saya memapah tubuh Ibu yang tidak sanggup berjalan sendirian ke dokter.

Saya suka menonton semua film gubahan Quentin Tarantino, sebab mata saya terbeliak menguping total bujet pembuatan film Sci-Fi Steven Spielberg atau Christoper Nolan, namun plot filmnya sama saja dengan film kelas B.

Saya suka menulis perihal suka, padahal saya sedang menunda-nunda mengetik naskah fiksi yang teronggok di dalam folder bersungkup sarang laba-laba dan tempurung luka.

Saya suka fiksi-fiksi remaja, selama fiksi itu ditulis oleh remaja sendiri. Atau setidaknya, ditulis oleh penulis matang yang sempat alami beberapa kali jatuh cinta pada masa remaja, tidak seperti saya.

Saya suka dia, apakah dia suka saya?

Saya suka dia, sayang, hati saya tidak terlalu suka membiarkan saya berterus-terang di hadapannya.

Saya suka dia, tetapi bibir saya tak sanggup ungkap rasa suka kepadanya.

Saya suka mengenang detik-detik bersamanya: menyesap lembap udara malam kota ini, tak sengaja menunjuk menu yang sama di suatu kafe lalu dia memukul-mukul pundak saya, berjalan berdua di toko buku sambil mencuri-curi pandang bola matanya yang bundar dan pipinya yang menonjolkan dekik.

Sayang, kenangan diciptakan hanya untuk dikenang.

Saya suka melihatnya bahagia, padahal saya tidak suka menyaksikannya berpandang-pandangan, bergamitan jemari dengan laki-laki selain saya. Dan laki-laki itu melumat bibir dia beberapa menit dalam pelukan. Saya mengibaskan pandang dari mereka, lalu dengan lutut menggeletar berjalan pulang sambil tersenyum, membiarkan air mata berinaian malam itu.

Sesampai di kamar gelap tengah malam itu, saya suka memandangi silet menggores-gores lengan saya membentuk nama dia.

Saya suka merawat luka, selama luka itu bermuara dari rasa suka yang tak sampai kepadanya.

Saya suka novel yang berakhir menyedihkan, sebab terkadang hidup saya lebih pedih dari itu.

Saya suka dia, cukup.

Saya suka orang lain punya kesukaannya sendiri, tanpa mesti menguntit perihal suka saya, kecuali mereka ikhlas sumbang royalti 10 persen dipotong pajak.

21 October 2013

Si Baik dan Si Jahat

8 comments :

Tidak ada orang baik dan tidak ada orang jahat. Masing-masing orang punya keduanya. 
Saat tak sengaja mendengar berita di televisi―sebab saya jarang sekali menonton televisi kecuali bila ada siaran langsung pertandingan Timnas U-19―yang mengabarkan tentang suami yang ‘membunuh’ istri sirinya, saya terkesiap. Bagaimana mungkin, bapak itu dikenal para tetangga sebagai sosok berwibawa―lantaran statusnya sebagai pejabat BPK, ramah, rajin beribadah, dan tidak pernah terlibat konflik sesama tetangga. Alih-alih dikenal berkat melakukan tindakan seperti sekarang yang―mungkin―melampaui perbuatan perampok, apalagi bila dibandingkan dengan kejahatan preman cap pasar. Tetapi, nyatanya hal itu sungguh-sungguh terjadi. 

Disewanya beberapa orang pembunuh bayaran untuk melumat nyawa perempuan yang dia cintai itu di sebuah apartemen. Dan saat kejadian berlangsung dengan getir, dia masih di luar negeri, dan baru pulang saat pembunuh bayaran sudah berada di tahanan. Akhirnya, dia pun ditangkap pihak berwajib setelah mendengar kesaksian para pembunuh bayaran itu. 

Kendati mengelak dari tuduhan polisi dengan pelbagai dalih, status tersangka telah disematkan kepadanya. Dan motif rencana pembunuhan pun sedikit tersingkap: tersangka sudah lelah menyaksikan hartanya terus-menerus diperas istri sirinya. 

Mungkin tersangka baru menyadari, perempuan bukanlah benda mati yang tetap bergeming sekalipun cuma kita pajang di bufet. Perempuan adalah manusia, yang butuh makan tiga kali sehari, butuh dibalut dengan baju bagus dan kosmetik mahal, dan seabreg kebutuhan sekunder atau tersier lain. Dan, bukankah perempuan itu makhluk lemah, yang sangat butuh kasih sayang. Ya, tentu, kasih sayang itu sudah termasuk perawatan ke salon untuk medikur pedikur setiap pekan, memborong tas Prada, dan pergi arisan dengan teman sosialitanya yang menghabiskan puluhan juta per bulan. 

Kali ini saya tidak sedang menyoal hedonisme perempuan, karena saya pikir itu tergantung dari bagaimana seorang laki-laki mendefinisikan kasih sayang terhadap sang terkasih, yang dicurahkan dalam berbagai bentuk. Namun, pertanyaan yang menggelayut dalam benak saya: 

Di mana sebetulnya tempat persembunyian orang-orang baik?
Jujur, setelah menyimak berita itu barang sekelebat, saya langsung teringat kepada salah satu teman SMP saya, yang saya kenal cukup baik karena dia sempat duduk sebangku dengan saya sekisar dua tahun. Dia dikenal guru-guru sebagai berandalan, yang kerap kali menorehkan namanya berkat ulahnya sendiri pada buku hitam di ruangan BP. Sedangkan oleh temannya sesama berandal, dia dikenal sebagai orang yang tak mengenal takut. Dan bagi teman perempuannya, dia dikenal sebagai ‘penculik’ karena suka membawa kabur pacar orang lain ke tempat-tempat dingin seperti Lembang dan Ciwidey, dan anehnya, perempuan itu mau dan enjoy-enjoy saja ‘diculik’ dia. Selain itu, masih banyak tindakan nekat yang dia perbuat hingga dia lulus dari SMP dengan nilai lumayan baik. 

Di balik perbuatan brutalnya, saya tetap mau duduk sebangku dengannya. Selain lantaran takut diapa-apakan olehnya―ya, walaupun saya berbadan besar, saya dikenal orang lain sebagai pengecut, saya merasa sikapnya amat berbeda manakala duduk berdua dengan saya. Dia tidak banyak bicara dengan saya yang sama-sama jarang berbicara. Belum pernah sekalipun dia mencari ulah dengan saya, karena saya pun tidak berniat menyediakan lahan untuknya berbuat ulah. Sangat berbeda dengan tindakannya kepada teman-teman lain sesama tukang cari masalah. Entahlah, sampai sekarang pun saya heran terhadap perbedaan sikapnya yang begitu jinak di hadapan saya.

Setelah benak saya menjelajah ke peristiwa di masa lalu, kali ini saya teringat teman-teman yang lain yang juga pernah mengisi masa lalu yang belum lama berlalu. Saya ditakdirkan satu grup dengan seorang rekan kerja yang slengean. Usianya sekisar 40 tahun, namun sifatnya tak ubahnya ABG yang setiap hari jatuh cinta, sebab dia dengan nada mesra menelepon perempuan-perempuan muda yang berbeda saban hari, dan saya sempat dikirimi pesan singkat oleh istrinya, menanyakan keberadaan sang suami tiga hari belakangan yang tak pulang-pulang ke rumah. Saat grup kami kebagian shift malam, pada saat mesin sedang lancar, dia sering menceritakan masa lalunya yang penuh kepahitan. Dia mantan seorang berandal pada masa mudanya. Bahkan hubungan dia dengan bapaknya sangat renggang sampai sekarang, tersebab suatu kejadian yang tak bisa saya ceritakan di sini. 

Pembawaannya yang ketus tampak kentara sekali bila bercakap-cakap dengan rekan kerja lain, dengan Supervisor dan Dept. Head sekalipun. Aksen orang seberang yang meledak-ledak, menambah sosoknya yang keras kepala. Apabila bekerja pun dia sulit untuk bekerja dengan rekan lain, di mana rekan lain itu ialah tangan kanan Supervisor yang sukunya sama. Seolah dia bekerja sekehendak sendiri, namun dia siap untuk menanggung risiko andai pekerjaannya gagal. Tetapi anehnya, solusi-solusi atas berbagai troubleshooting mesin yang tercetus dari idenya yang terdengar sepele kerap kali manjur, yang menimbulkan decak kagum dari atasannya dan desah iri dari sesama teknisi. 

Bagaimana dengan sikapnya kepada saya? Dia menjelma sosok bapak yang sering memberi saya petuah bersumber dari pengalamannya sejak masa mudanya sampai hari itu. Nampak, dia tak ingin saya seperti dirinya. Dia ingin hidup saya lebih baik darinya, dengan cara menceritakan guratan-guratan hidupnya yang kelam dan nampak berantakan. Ah, seperti seorang bapak saja ternyata orang yang dianggap bengal oleh orang awam yang baru mengenalnya sekelebat.

Saya resapi lagi kedua sosok itu, lalu saya bandingkan dengan beberapa teman yang sekarang sudah sukses di bidangnya. Ya, bisa saja dari segi penghasilan, kedua teman yang saya ceritakan di atas bak bumi dengan langit bila disandingkan dengan teman lain yang sudah hidup mapan sebagai pegawai negeri, perwira lulusan AKMIL Magelang, polisi, pegawai pajak, hingga pengusaha MLM. Namun, setelah saya ingat-ingat, teman-teman saya yang sudah mapan itu belum pernah bersinggungan dengan hidup saya, tak pernah berkonflik dengan mereka, sampai-sampai tak sepercik pun kebaikan yang pernah mereka curahkan kepada saya. Atau bahkan kini, mereka ialah tukang menipu orang-orang lugu agar terjerumus ke dalam bisnis MLM, atau menjelma jadi calo berseragam di pelayanan SIM Polres, atau menyelundupkan persenan dari pajak? Wallahuallam.

Setelah becermin pada masa lalu dan merenungi masa kini, akhirnya sedikit saya temukan jawaban pertanyaan saya di awal postingan ini. Orang baik tidak sedang bersembunyi. Orang baik nyata-nyata duduk bersama saya, bekerja bersama saya, membantu membuangkan sampah dapur kakak saya dengan truk kuning beraroma busuk ke TPA. Namun saya percaya, orang jahat sedang menari-nari di atas penderitaan saya, menyesali kebahagiaan saya. Bukan tidak mungkin orang baik dan orang jahat itu berbaur dalam satu jasad yang sama, yang setiap hari kita kenal dengan petugas kelurahan, rekan kerja, tetangga, atau bahkan sahabat. Mungkin.

Semoga istri siri pejabat BPK itu hidup tenang, dan menemukan lagi suami siri baik hati, yang bersedia membelikannya gaun satin, tas ELLE, dan bulu mata anti badai di alam sana.

12 October 2013

Tiga Bocah

2 comments :
Seperempat jam lagi, zuhur menyambut. Masjid Kompleks Anyelir yang terletak berseberangan dengan Kampung Cikolot tampak lengang. Aku bergegas memasuki rumah Sang Pencipta, langkahku terhenti di saf ke tiga, menunaikan salat sunat. Seusai salat, aku mengempaskan pantatku di atas hamparan karpet hijau bersablon lukisan Masjid, bersila. Kutengok suasana sekeliling Masjid. Kiri, kanan, depan, belakang, teras Masjid. Sepi. Kusaksikan hanya ada beberapa bapak tua yang kuduga telah dipurnabaktikan dari instansi tempat mereka mengabdi dahulu, pedagang bakso keliling, petani-petani singkong, kuli bangunan yang menyempatkan rihat sejenak dari pekerjaan mereka demi menghadap Tuhannya Jumat siang ini.

Dan tiga bocah di hadapanku.
***
Aku menyukai bocah. Makhluk lincah, lucu, menggemaskan. Namun kesukaanku sontak berubah benci tatkala Jumat tiba. Tiap Jumat siang, mereka bak anjing yang terlepas dari cengkeraman rantai tuannya, bersua dengan kolega-koleganya untuk menggoda, merisak, mengepung kucing-kucing kampung, lantas terpecahlah kembali peperangan klasik dua makhluk yang gengsinya tetap terpelihara semenjak zaman kerajaan hingga zaman edan kini.

Heran. Orangtua tak juga acuh terhadap ulah anak-anak mereka. Kudengar selentingan kabar dari tetangga sebelah, berulangkali Ketua DKM menasihati orangtua para bocah, menandangi rumah mereka satu per satu. “Saya sibuk, Pak Ridwan. Tak sempat! Boro-boro ngurus anak. Sepulang bekerja, lalu memijakkan kaki di beranda rumah, putra saya telah tertidur pulas di kamarnya. Esok pagi, kala dia bangun dan bersiap-siap bersekolah, saya sudah berada di dalam komuterline,” begitu jawaban usang yang acap kali terlontar dari mulut mereka, kala Pak Ridwan―ketua DKM yang didaulat paksa oleh warga, lantaran hampir semua warga enggan mengemban amanah jemaah Masjid Kompleks Anyelir―menyambangi kediaman orangtua para bocah agar rela mendidik dengan telaten dan menghardik dengan tega, bila Si Bocah teguh membandel.

Tiga bocah di hadapanku mulai bertingkah. Saling bersombong-sombong kebisaan masing-masing, silih berbantahan kebisaan kawannya. Bapak di sebelah kiri mereka menoleh kepada ketiganya. Lantas tersenyum simpul, menepuk-nepuk pundak tiga bocah di hadapanku.

Sejahil, selicik, sebengis koruptor pun, tingkah-langkah tiga bocah di hadapanku terkesan lucu bagi orang lain. Lucu bagi Bapak sebelah kiri tiga bocah di hadapanku.

Tetapi lucu bagi bogemku.
***
Azan zuhur berkumandang Jumat siang ini. Bilal mengumandangkan azan dengan khusyuk. Sesekali jemaah-jemaah Masjid membalas lafal kumandang azan. Aku pun.

Terkecuali tiga bocah di hadapanku.

Bocah mana peduli terhadap merdunya kumandang azan.
***
Aku terperangah. Tiga bocah di hadapanku mulai berulah. Bocah pertama: Bersila dengan manis seraya sesekali terpingkal-pingkal menyaksikan ulah dua bocah di sebelahnya. Bocah ke dua dan ke tiga: silih ganti mengolok-olok, saling mencubit satu sama lain, dan berujung baku-hantam. Ocehan ketiganya sukses membangkitkan urat syarafku. Tiga bocah di hadapanku kontan mengurai siklus berkesinambungan. Siklus penggerecok kekhusyukan salat Jumat di Masjid Kompleks Anyelir.

“Kamu di situ, Kakak di sini!”

“Ogaah! Aku penginnya duduk barengan!”

“Aku juga!”

“Kalian berdua! Sempit, tahu! Mundur, mundur!” umpat bocah yang mendaulat dirinya “Kakak” itu.

Dua bocah yang kuduga sebaya, berusia sekisar dua-tiga tahun lebih muda ketimbang usia bocah pertama, menggeleng mantap. Bersamaan, seraya meleletkan lidah, menyeringai. Si Kakak mendengus. Ia beringsut kembali ke tempatnya bersila semula.

Kedua bocah lain menguntitnya lagi. Bersila berdesakan bertiga. Sontak Si Kakak berteriak lantang, “Kubilang, kalian berdua di situ saja!” umpatnya.

Lagi-lagi disahut oleh kedua bocah dengan gelengan kepala dan leletan lidah. Raut muka Si Kakak tampak kesal. Ia beringsut kembali ke depan. Lagi. Dua bocah mengikuti tingkah-laku si Kakak. Tiga bocah di hadapanku berulangkali mengingsutkan pantat dari depan ke belakang, dari belakang ke depan. Begitu seterusnya, bak pemimpin yang plintat-plintut dalam mengambil keputusan menyangkut rakyatnya.

Bapak yang berada di sebelah kiri tiga bocah di hadapanku, terjaga dari kantuknya. Ia tak lagi mengulum senyum simpul. Tampak, ia terganggu oleh ulah ketiganya. Bola matanya mendelik sinis terhadap mereka. Dahinya berkerut-kerut. Namun ia tak berani bersuara, hanya kuasa menatap tajam ketiga bocah sembari menempelkan telunjuk kanan di ujung bibirnya.

Ditatap tajam bapak sebelah, tiga bocah di hadapanku bergeming. Sepuluh detik. Detik ke 11, mereka kembali pada kodratnya. Memeriahkan kegaduhan di tengah kekudusan hari Jumat.

Nafsuku meletup-letup. Ingin kucaci, kuumpat―lalu kupatahkan batang leher―tiga bocah di hadapanku. Apa daya, dahulu Rasul tak sempat memberikan sunah untuk mencecar atau menghardik atau menempeleng bocah bandel kala khotbah Jumat. Padahal, beliau melarang umatnya bercakap-cakap saat khotbah Jumat.

Sunah yang timpang.

Di sela dosa-dosa yang telah kulakukan selama 20 tahun aku mensesaki bumi, kali ini aku berjuang menahan nafsu yang bila tak kubendung akan menabur dosaku semakin menggunung. Aku enggan menyia-nyiakan pahala menggiurkan setiap Jumat siang yang katanya sebanding tiga ekor unta itu. Aku kukuh pada sunah Rasul. Mematung. Menundukkan muka. Menyangga dagu. Pura-pura tak acuh terhadap ocehan, jeritan, umpatan tiga bocah di hadapanku yang seolah beradu nyaring dengan suara Khatib yang tengah berapi-api lewat pelantang, menyampaikan perihal pentingnya mendidik buah hati secara islami di tengah era globalisasi.

Jangan sampai tiga bocah di hadapanku menumpuk dosaku semakin menggunung siang ini!
***
Khatib mengakhiri khotbah pertama. Sejurus kemudian, ia kembali berdiri, menuntaskan khotbahnya. Masih berkisar pada topik yang sama: Mendidik buah hati secara islami di tengah era globalisasi.

“Buk!”

Sekonyong-konyong terdengar pekikan melengking. Rupanya bermuasal dari mulut bocah ke dua. Lantas ia membalas pukulan kawan yang seketika jadi lawan itu. Kawannya meringis, namun tak menangis. Ia membalas, lebih keras. Seketika kudengar bunyi tulang iga yang beradu dengan sekepal tangan mungil. Bocah ke dua merintih. Kini diikuti ledakan tangisnya. Sejurus kemudian, ia menghampiri kakaknya. Meminta pembelaan.

“Kenapa kamu memukul adikku, heh?” bentak Si Kakak seraya merangkul, menjauhkan, melindungi adiknya dari telatah bocah ke tiga.

“Adikmu banyak omong! Aku dikatainya bodoh!”

“Bohong! Kamu yang mengataiku bego!” pekik bocah ke dua sambil terisak.

“Kamu memukulku pertama kali!”

“Kamu memukulku keras sekali!”

“Kalian sama saja!” sungut Si Kakak sambil tetap merangkul adiknya lekat-lekat.

Aku celingukan. Apakah orang sekelilingku sama sepertiku, terganggu oleh ulah biadab ketiga bocah ingusan ini? Sepintas kusaksikan, beberapa orang tengah tertidur menyangga dagu. Kepalanya menganggut-anggut, kopiah beledu hitam yang mereka kenakan tampak menceng, saking pulasnya mereka terlelap di tengah khotbah Jumat.

Tingkah sebagian lainnya serupa denganku. Menatap jengkel terhadap sosok tiga bocah di hadapanku, namun tak kuasa bersuara. Berbisik-bisik pun tidak, demi meneladani sunah Rasul.

Kusaksikan Khatib menatap tiga bocah di hadapanku. Kupikir ia akan memaki, lantas mengusir tiga bocah itu. Tidak. Lisannya tetap mensyiarkan betapa pentingnya mendidik buah hati sesuai ajaran islam di tengah era globalisasi kepada para jemaah Masjid Kompleks Anyelir.

Apa faedahnya isi khotbah idealmu yang begitu kontras dengan realitas di hadapanku, di depan pelupuk matamu, Ustaz!
***
Khotbah Jumat usai. Ikamah berkumandang. Para jemaah serempak bangkit dari duduk silanya. Beberapa lelaki setengah baya yang sedari khotbah tadi terkantuk-kantuk―mendengkur―terkesiap. Sontak mereka turut berdiri, menyeka kedua matanya dengan punggung tangan masing-masing.

Si Kakak melonggarkan rangkulannya terhadap bocah ke dua. Rupanya isak tangis Si Adik surut. Bahkan, mulai akur lagi dengan bocah ke tiga, kembali saling merisak.

Menyaksikan lelaki-lelaki dewasa sekelilingnya berdiri, ketiganya turut bangkit. Di depan mereka, masih ada lapak kosong-melompong. Namun tampaknya mereka tak ingin bercerai. Tiga bocah di hadapanku berdiri berjejer berimpitan. Bapak di sebelah kanan, lelaki setengah umur di sebelah kiri ketiganya masih tak kuasa bersuara untuk menasihati tiga bocah di hadapanku.

Meratapi pemandangan menjengkelkan di hadapanku setengah jam terakhir, gejolak batinku semakin menggelegak, meluap hingga ubun-ubun. Tetapi, sepertinya nafsuku masih dapat termentahkan oleh kukuhnya niatku mengikuti sunah Rasul, untuk tak melontarkan sepenggal kalimat pun hingga salat Jumat usai.

Khatib yang kali ini merangkap sebagai Imam melafalkan takbir. Salat Jumat dimulai.
***
Barangkali, aku tergolong hamba yang amalan salatnya selalu ditampik oleh Allah. Kala salat, anganku senantiasa melayah ke mana-mana. Seolah sepasang bola mataku fokus terhadap Allah, padahal entah! Cuping hidung yang masih mampu menghidu aroma ikan mas yang tengah digoreng tetangga, sepasang telingaku yang masih berfungsi dengan baik dalam mengirimkan sinyal ke otak, lalu otak dengan sigap menyampaikan sinyal itu ke mulutku, sehingga tawaku tergelak tatkala mendengar godaan atau gurauan temanku.

Begitu pun sekarang.

Bak film, tiga bocah―yang masih berada setengah meter di hadapanku―begitu jelas mempertunjukkan detik demi detik tindak-tanduk biadabnya di pelupuk mataku. Bocah ke dua merentangkan kedua kaki hingga mempersempit lapak salat ketiganya. Bocah ke tiga tak ingin mengalah, menginjak kaki bocah ke dua sepenuh daya. Bocah ke dua menjerit, lalu membalas injakan rivalnya itu.

Si Kakak bergeming. Walaupun saat khotbah dia turut memeriahkan kegaduhan bersama dua juniornya, tampaknya ia paham ihwal kesakralan ibadah salat.

Di sela sepasang telinga yang tengah menyimak serta mulutku yang tengah komat-kamit mengikuti bacaan Imam, tebersit niat busuk di pikiranku. Ya, kesabaranku surut, namun berusaha kutahan emosiku hingga salat usai. Seusai salat, aku akan memberi sedikit pelajaran kepada tiga bocah di hadapanku.

Dan sedikit bogem kasih sayang.
***
Rakaat ke dua. Kuduga, salat Jumat yang kutunaikan kali ini sia-sia berlumur dosa. Bila tak malu, ingin rasanya aku mengakhiri salat, meninggalkan Masjid Kompleks Anyelir, lantas melabrak, memaki orangtua tiga bocah di hadapanku.

Telatah tiga bocah di hadapanku semakin nista. Bocah ke dua kembali merentangkan kaki melampaui bahunya. Bocah ke tiga pasrah. Sejenak, ia tak melawan. Beberapa jenak, bocah ke tiga menyenggol sepenuh daya bahu bocah ke dua, hingga bocah ke dua dan Si Kakak tersungkur. Jeritan bocah ke dua melengking. Ia bangkit dari jatuhnya, balas menyenggol bocah ke tiga. Aku memuji kedewasaan Si Kakak kala salat: ia bangkit, melanjutkan salat, fokus mengikuti gerakan Imam. Tak acuh dengan kelakuan adik dan kawannya.

Kuduga, bocah ke dua ialah bocah terculas dari segala bocah yang pernah kutemui. Dia acap kali memulai perselisihan, tetapi tak terima bila dibalas.

Ya, bocah ke dua, kurasa, calon seorang birokrat negeri yang mumpuni, kelak.
***
Imam mengucapkan salam. Aku turut menengokkan salam ke kanan, ke kiri. Salat Jumat usai. Puluhan penggalan kalimat cacianku telah bersesakan di ujung mulut: seluruhnya tak sabar untuk kumuntahkan kepada tiga bocah di hadapanku. Seperti bison yang kelaparan di tengah gersangnya padang ilalang, kemudian menemukan seekor rusa, napasku memburu. Tak sabar menelanjangi mangsa tengil di hadapanku.

Beberapa sentimeter, telunjukku hampir meraih daun telinga Si Kakak, ketika bocah tertua itu menyambar, meraih, mencium tanganku dengan takzim. Mencium tanganku, layaknya penghargaan seorang anak saleh terhadap orangtuanya. Dua bocah lain mengikuti tingkah seniornya. Mencium tanganku, mencium tangan bapak di sebelah kiri, mencium tangan lelaki setengah baya di sebelah kanan, mencium tangan bapak tua di depan mereka. Mencium tangan seluruh jemaah salat Jumat di Masjid Kompleks Anyelir.

Ciluar, 29 Maret 2013
Cepy HR