30 January 2013

Di Balik Semburan Lumpur

8 comments :

Ah, dua pekan rasanya terlalu singkat untuk berlibur di suatu tempat yang jarang kita pijak. Terlebih jika daerah yang kita sambangi tersebut meninggalkan kesan mendalam yang akan selalu terkenang-kenang dalam memori. Detik berdetak sangat cepat, satu hari seakan bergulir beberapa jam saja. Jika dalam situasi seperti ini, saya baru menyadari bahwa alangkah ruginya kalau kita menyiakan waktu, karena waktu takkan pernah mau diperintah untuk berjalan mundur.

Sidoarjo ialah sebuah kota kecil penyangga kota metropolitan Surabaya yang juga merupakan wilayah termungil sekaligus terpadat di Provinsi Jawa Timur. Namun, menyandang status mungil dan padat penduduk bukan berarti suasana kota kecil ini kumuh, kotor, semrawut tak keruan.


Ada fenomena unik pada Sidoarjo. Barangkali anda masih mengingat tujuh tahun lalu kota ini pernah dilanda musibah yang tak lazim, yakni banjir. Bukan banjir yang disebabkan oleh air sungai yang meluap seperti di Jakarta sepekan kemarin, melainkan oleh lumpur panas dari perut bumi. Lapindo Brantas, perusahaan kontraktor yang menangani eksplorasi gas dan minyak bumi milik Grup Bakrie ini menyalahi prosedur penambangan yang seharusnya membuat casing terlebih dulu sebelum eksplorasi dilakukan. Alhasil lumpur panas menyembul dari beberapa rekahan tanah akibat human error tersebut, rekahan bertambah banyak, hingga lumpur panas itu menenggelamkan 10 pabrik, 90 hektar sawah, masjid serta ribuan rumah penduduk. Hingga kemarin, ketinggian tanggul lumpur mencapai sekitar 5-7 meter, melebihi ketinggian pohon.

Sudah tentu pada saat itu media sangat gencar memberitakan peristiwa getir ini. Selama tiga bulan berturut-turut berita-berita tentang luapan lumpur Lapindo berhasil mendoktrin masyarakat untuk menandai Sidoarjo sebagai tempat kelam untuk dikunjungi, apalagi untuk berbisinis. Media menggambarkan seolah kota ini sudah mati.

Kerupuk, yang paling khas dari Sidoarjo.

Tapi ternyata tidak. Justru sebaliknya, perkembangan kota kecil ini tumbuh pesat paska tragedi lumpur tersebut. Mal-mal dibangun di beberapa titik strategis, hotel bintang tiga Sun Hotel pun berdiri megah, aneka wisata kuliner mulai dari warung tenda, warung kopi, kafe hingga resto mulai menghiasi Sidoarjo. Perantau, pengusaha muda dari beberapa daerah berdatangan untuk mengembangkan dan merintis usahanya di Sidoarjo. Tidak heran jika sebuah baliho besar berlatar belakang Bupati Sidoarjo mencantumkan kalimat "Sidoarjo, Kota UKM terbesar di Indonesia", karena bila kita menyusuri jalan kota ini tampak berjejer pertokoan tua hingga mal modern yang sama-sama sarat pengunjung, pedagang kaki lima yang menjual beraneka ragam hasil karyanya mulai dari kuliner khas seperti kerupuk, olahan hasil bumi maupun hasil tambak (udang dan bandeng), pakaian serta aksesoris, dan sebagainya yang tampaknya tak pernah kehabisan konsumen.

Kota kecil padat penduduk ini tidak terkesan kumuh, jarang sekali saya menemukan sampah tergeletak di jalan. Selain airnya cukup bersih, sungai dan kali yang mengelilingi Sidoarjo pun mengalir deras, karena tidak terhambat oleh sampah. Bahkan saya dapat menyaksikan ikan-ikan sungai dan sebangsa udang kecil di permukaan sungai. Dapat dipastikan bahwa penduduk pribumi maupun perantau di Sidoarjo mempunyai rasa memiliki yang positif, sehingga di tengah kesibukan mereka dalam berbisnis tidak serta merta melupakan keadaan lingkungan sekitar.

Kini saya percaya bahwa apa yang kita saksikan dalam berita-berita di televisi tidak sedramatis itu. Media seolah tidak pernah kehabisan berita tentang musibah sosial, demonstrasi, tawuran massa, konflik antar suku, dan seabreg berita bombastis yang mempunyai nilai jual tinggi, menurut mereka, karena akan menaikkan rating stasiun televisi tersebut. Akibatnya, rasio antara berita negatif dan positif tidak berimbang. Media secara tidak langsung menutup mata dan telinga kita akan kabar positif di segenap pelosok nusantara. Media menutup mata dan telinga kita dari kabar mengenai adanya pusat UKM Indonesia di kota kecil di Jawa Timur, kota yang sedang beranjak dari paradigma masyarakat Indonesia yang menyimpulkan bahwa ciri khas Sidoarjo hanyalah luapan lumpur panas yang semakin meninggi dari hari ke hari.

Selat Madura
Salah besar jika kita menakar perkembangan Indonesia sebatas DKI Jakarta atau pun Bodetabek. Memang, sebagian besar perantau dari berbagai suku menggantungkan hidupnya di sana. Ada yang sukses, namun banyak pula yang stres. Maka banyak orang yang menyimpulkan bahwa jika ingin menyaksikan pasang-surut ekonomi Indonesia, berkunjunglah ke Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi. Niscaya akan tampak oleh kita pengemis yang memasang wajah memelas, pengamen yang mengamen setengah menodong, pedagang yang senantiasa mengeluh karena dagangannya tidak ada yang membeli, hingga pengangguran berdampingan kontras dengan pengusaha yang kekayaannya menggunung dan pejabat berdasi yang dengan santainya mengendarai Toyota Vellfire. Itukah potret Indonesia sebenarnya? Saya pikir anda mempunyai jawaban dengan sudut pandang tersendiri.

27 January 2013

Sisa Darah Pahlawan Dalam Monumen

6 comments :
Rerintik hujan menguyupi ubun-ubun ketika saya memijakkan kaki di salah satu tempat bersejarah di Kota Pahlawan, Surabaya Kamis siang kemarin. Awan mendung kelabu yang menyelimuti hampir seluruh langit Surabaya tidak menyurutkan niat saya untuk berkeliling menyaksikan saksi bisu perjuangan generasi Indonesia di masa lalu. Sebaliknya, awan mendung seolah refleksi dari keadaan negara yang juga kelabu, tak kunjung memutih hingga kini.

Tugu Pahlawan menjulang seolah berani menantang, seberani pendahulu kita dalam memperjuangkan kemerdekaannya hingga simbahan darah mereka mewarnai sepanjang jalanan Kota Surabaya 1945 yang bergejolak. Gedung Raad van Justitie diluluhlantakkan oleh arek-arek Suroboyo, bendera Belanda yang seenaknya dikibarkan di Hotel Yamato disobek warna birunya oleh pemuda hingga hanya menyisakan merah dan putih. Kobaran semangat yang dipantikkan oleh Bung Tomo seakan meluapkan jiwa arek-arek Suroboyo untuk melepaskan bangsa dari cengkeraman penjilat-penjilat bangsa Eropa. Merdeka ataoe mati! Allied forced go away! Once and forever, the Indonesian Republic!!

Lanjutkan perjuangan, Surabaya..














23 January 2013

Nasi Punel Khas Bangil

15 comments :

Setelah lontong balap khas Sidoarjo, mari kita mencicipi kuliner tradisional khas Jatim yang lain. Kali ini saya menyisir daerah Bangil, Pasuruan. Ternyata di wilayah tersebut terdapat kuliner khas setempat yang dinamai nasi punel. Kata "punel" sendiri berasal dari Bahasa Jawa yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti "pulen".

Sekilas, nasi punel tampak biasa saja, nasi sebesar kepalan orang dewasa berbalut serundeng yang dibungkus atau beralaskan daun, kemudian lauk pauknya kita sendiri yang memilih sesuai selera. Pilihan lauk yang biasa disajikan yaitu paru, lidah, dendeng, empal, babat lalu dipadukan dengan kacang panjang yang dipotong kecil-kecil yang dibubuhi sambal pedas menggigit. Selain itu, kita juga dapat menambah teman nasi lain seperti tempe mendol dan klomotan (daging kikil yang berbumbu). Dan, lauk tambahan yang paling diburu konsumen yakni sate kerang, hingga kabarnya jika datang terlampau siang ke warung nasi ini, kita sudah pasti akan kehabisan.

Mengenai rasa, wuuuhh.. tentu saja nikmat. Nasi pulen yang beraromakan daun pembungkus lalu bertemu dengan aneka macam lauk dan sambal tentu sangat nikmat untuk kita makan tanpa henti, kalau istilah Sunda mah "ngalimed". Tapi saya harus toleran terhadap celana jeans yang makin hari makin merana kesempitan. Maka, saya berpikir beribu-ribu kali untuk menambah porsi, dan akhirnya urung.

Sayangnya, jika anda mempunyai penyakit asam urat atau pun hipertensi bersiaplah untuk gigit jari. Pasalnya, hampir semua lauk yang dikhususkan untuk nasi punel ini terdiri dari jeroan, biang kerok penyakit-penyakit mayor itu. Tanpa jeroan? Kurang nikmat rasanya jika makan nasi punel tanpa ditemani jeroan. Atau jika anda penderita asam urat atau hipertensi namun tetap bersikukuh ingin menyantap santapan penuh jeroan ini, sejenak lupakan penyakit anda sehari itu saja. Satu hari melanggar pantangan tak apa kan, Pak Dokter? Selamat mencicipi!

bersambung? semoga...

22 January 2013

Romantisme Sebuah Museum

16 comments :

Sabtu pagi kemarin saya menyambangi salah satu museum di Jawa Timur, yang terletak di Jalan Raya Buduran (tepat di bawah jembatan layang menuju Surabaya), museum Mpu Tantular. Sebelumnya, museum yang dikenal juga dengan nama museum negeri Jawa Timur ini terletak di Jalan Pemuda Surabaya, namun dikarenakan kebutuhan serta koleksi museum yang makin banyak, maka museum Mpu Tantular dialihlokasikan ke Sidoarjo.

Kebetulan cuaca sangat terik saat itu, saya suka. Setelah saban hari meratapi awan mendung di Bogor atau pun Bandung, kini akhirnya dapat memandangi langit sebiru dan sebersih ini, walaupun hanya pagi hari saja.


Tiket masuk ke museum ini sangat terjangkau, hanya dua ribu rupiah plus parkir sepeda motor seribu. Saya pikir isi museum ini akan sebanding dengan harga tiketnya, murahan. Ternyata, di luar dugaan. Beragam koleksi cukup terawat, penjaganya pun dengan ramah menyambut kedatangan kita. Untuk ukuran museum negara, museum Mpu Tantular layak jadi contoh bagi ribuan museum milik negara di Indonesia yang sebagian besar kondisinya memrihatinkan.


Mulai dari Era Pra Sejarah Hingga Era Kolonial dan Kemerdekaan.

Koleksi museum Mpu Tantular lumayan beragam. Kita bisa menyaksikan benda-benda dari era pra sejarah, zaman kejayaan Majapahit, era kemerdekaan, hingga era industri dan teknologi. Puluhan fosil binatang maupun manusia purba, prasasti-prasasti bertebaran di kanan-kiri, kemudian arca peninggalan Majapahit tersaji dengan apik. 

Fosil kepala kerbau yang berasal dari sungai Porong sekitar 800.000 tahun silam.
Fosil tengkorak buaya yang juga berasal dari sungai Porong sekitar 800.000 tahun silam.

Beberapa arca yang familiar dalam mitologi Hindu terdapat pula di sini, seperti Durga Mahesasuramardini, Ganesa, dewa Siwa dan dewa Wisnu.






Selain itu banyak pula terdapat koleksi bersejarah dari masa kolonial, kemerdekaan, dan paska kemerdekaan.


Maket kapal dagang Insulinde.

Aneka pistol zaman kolonial. Benda mengerikan malah tampak lucu jika dilihat pada zaman sekarang.

Mata uang rupiah pada era Orde Lama.

Koleksi dari Era Teknologi Industri

Sebelumnya, saya pikir museum Mpu Tantular ini hanya terdapat satu lantai saja. Namun ternyata ada satu lantai lagi, yaitu tempat untuk memajang aneka koleksi bersejarah pada era teknologi dan industri. Cukup lengkap dan tertata, bahkan ada beberapa alat yang bisa dipraktikkan secara langsung sebagaimana halnya di PP-IPTEK TMII.


Bisa gak ngeblog pake ini?

Nenek moyangnya sepeda.


Tidak terbayang betapa pegalnya mengayuh sepeda tipe ini.

Sepeda ontel merk Gazelle buatan tahun 1952.

Sepeda motor Daimler. Motor yang dulu dikendarai oleh polisi Surabaya pada zaman kolonial.

Sepeda motor Jawa.

Koleksi Bernuansa Etnik

Secara keseluruhan, menurutku yang menarik tentu saja koleksi bernuansa etnik Jawa. Ada lesung, dakon (kalau di Sunda dinamai 'congklak'), aneka macam keris, dan masih banyak lagi koleksi yang belum sempat saya potret dengan kamera saku.

Lesung, alat penumbuk padi.

Dakon

Aneka macam keris.

Batik.

Karapan sapi, kesenian tradisional dari Madura.

Bagi saya entitas sebuah museum lebih romantis ketimbang mal-mal megah. Bayangkan, dengan dua ribu perak kita sudah bisa menikmati sejarah jutaan tahun lalu, memperkaya wawasan kebangsaan. Hmm, kita harus mulai belajar untuk menghormati sejarah. Karena sejarahlah yang membuat perkembangan dunia dan negara menjadi seperti saat ini. Kalau kata Bung Karno, jangan sekali-kali melupakan sejarah.

bersambung...

20 January 2013

Lontong Balap

4 comments :

Jika mencari kudapan khas dari Sidoarjo, tentulah tidak akan jauh dari makanan yang dipadukan dengan petis udang dan terasi. Lontong balap inilah salah satunya. Makanan yang terdiri dari lontong, beberapa iris tahu, telo, satai kerang, sayur taoge berkuah. Seluruh bahan utama tersebut kemudian ditambahkan dengan petis udang dan sambal terasi.

Memang, tidak semua orang menyukai rasa dari petis. Petis yang berbahan dasar udang ini mempunyai paduan rasa manis serta amis, seperti halnya rasa udang segar. Saya sendiri tidak terlalu fanatik dengan petis, cenderung saya hindari. Tapi bolehlah jika hanya sedikit, sekadar mencoba.

Umm, rasanya enak, hanya saja saya tidak bisa menghabiskan kuahnya, karena sudah tidak tahan dengan aroma amis yang berasal dari petis. Lain kali mungkin saya akan minta masnya untuk tidak menambahkan petis ke dalam lontong balap pesananku.


Lontong balap yang saya beli di sekitar Taman Pinang Indah ini harganya Rp. 6000. Enak, terus kenyang banget sob. Saran saya, jika anda tidak menyukai petis udang, anda bisa meminta mas-masnya untuk menyisihkannya. Menurut selera saya, lebih nikmat jika hanya dicampur sambal terasi, tanpa petis.


Mau? Yuk, ke Sidoarjo. Eh, sepertinya di Bogor, Jakarta, dan kota-kota lain pun ada. Tapi, tentu lebih asyik sih langsung ke sini, hehe. Pokoknya, wajib dicicipi!

bersambung...

19 January 2013

Semalam dalam Mutiara Selatan

7 comments :

Di tengah musibah yang melanda saudara-saudaraku di Jakarta sana, saya hanya bisa mengucapkan, "Yang tabah ya, bro, sist. Semoga musibah berlalu dengan segera, dan alam dapat kembali menjadi sahabat manusia lagi, setelah kemarin sempat kita khianati dengan pembangunan kota yang sporadis, pelebaran jalan raya yang mencaplok sistem drainase-nya, dan masih banyak dosa kita terhadapnya."

Daripada melulu membahas banjir, terlebih saya sama sekali bukan ahli lingkungan, lebih baik malam ini kita simak wilayah Indonesia bagian timur. Tunggu dulu, bukan berarti tidak peduli dengan saudara saya yang tertimpa musibah lho. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa Indonesia itu bukan hanya Jakarta. Jadi, biarkan media-media mainstream mengupas berita aktualnya dengan perkembangan banjir Jakarta sejak dini hari hingga tengah malam, sedangkan saya memamerkan kenarsisan liburannya. #gakpentingbanget.

Ke Bandung, Surabaya

Karena saya berangkat dari rumah orangtua, tentu saja rute yang saya telusuri singkatnya Bandung - Surabaya Gubeng. Tapi, karena Sidoarjo lebih dekat dengan Wonokromo, maka saya memutuskan untuk turun di stasiun Wonokromo.

Nah, kereta yang saya kendarai yakni Mutiara Selatan, kereta kelas bisnis. Harganya cukup terjangkau, tempat duduk walau tidak mewah namun tetap ergonomis, kemudian lama perjalanannya pun tak terlampau jauh dibanding kereta eksekutif Turangga. Inilah sekilas eksterior dan interior dari gerbong Mutiara Selatan:


Kereta berangkat dari Bandung pukul 17.00. Dapat dipastikan bahwa saya hanya bisa menikmati pemandangan sekitar rel selama satu jam saja, hingga Magrib.


Setelah itu yang terlihat cuma hitam. Gelap. Gulita. Kamu. #eh.

Begitulah suasana dalam kereta, selama 14 jam perjalanan hanya terdengar suara penjaja makanan resmi PT. KAI yang tidak henti berulang-ulang meneriakkan, "nasi goreng, nasi rames, mie rebus, teh manis, kopi, selimut, bantal, handuk basah", dan suara bising decitan roda baja yang bergesekan dengan rel. Untunglah ini bukan kali pertama mengendarai Mutiara Selatan, toh sekitar jam sembilan malam saya sudah bisa terlelap tidur. Sesekali bangun, tapi tidur lagi, hihi. #kebo #modeon

Akhirnya saya terjaga sekitar pukul lima pagi. Saat itu, saya sudah bisa menyaksikan suasana pagi di Jawa Timur, seberkas sinar matahari mulai muncul di ufuk timur. Di wilayah Jombang yang rimbun oleh ladang tebu, terdapat beberapa orang bapak yang menggowes sepeda ontel, siswa-siswi sekolah yang saling boncengan dengan sepeda kumbang dan ada juga yang boncengan dengan sepeda motor Astrea Grand. Kaum ibu pun tak ingin kalah, mereka menggowes sepeda kumbang yang terdapat keranjang di depannya, sepertinya mau ke pasar untuk berbelanja. Di sela-sela mereka terdapat pula Kijang tahun 2000 yang melintas tak terlalu cepat. Mereka semua berkendara beriringan sepagi itu. Sungguh pemandangan yang langka bagi saya. Takjub.


Kemudian setelah Jombang, yaitu di Mojokerto dan Krian saya menyaksikan sekumpulan burung kuntul yang beterbangan, lalu hinggap di hamparan sawah yang sedang dibajak. Jujur, baru kali ini saya melihat rupa dari burung kuntul. Di Jawa Barat, keberadaan burung kuntul hampir dipastikan punah. Salut untuk para petani Jawa Timur yang masih memperhatikan keberlangsungan ekosistem lahan pertaniannya.

Tidak terasa, akhirnya pukul 06.45 Mutiara Selatan tiba di Stasiun Wonokromo. Saya turun dengan menggendong ransel dan menjinjing travel bag, me-recharge hape sebentar lalu mampir ke kamar kecil untuk mencuci muka. Setelah itu saya melanjutkan perjalanan ke Sidoarjo dengan menggunakan taksi.

bersambung...