07 January 2013

Sinkronisasi antara Tulisan dan Tindakan

13 comments :

Foto di atas merupakan foto yang saya ambil lebih dari sebulan silam ketika berada dalam bus antarkota menuju Cibinong dari Bandung. Apakah anda menemukan sesuatu yang janggal dari foto tersebut?

Apa sih sebenarnya peraturan itu? Saya pernah melakukan survei kecil-kecilan kepada beberapa teman dan kakakku, kutanyakan kepada mereka mengenai apa pentingnya arti sebuah peraturan bagi kehidupan mereka. Ternyata, seluruh jawaban mereka mengejutkan benak saya. 

Seorang teman menjawab pertanyaanku,  katanya peraturan itu sesuatu yang fleksibel, bisa diatur sekehendak kita, atau lebih tepatnya peraturan bisa dinegosiasi sekehendak si pemangku kepentingan. Kakakku menyatakan bahwa ia sudah muak serta trauma dengan peraturan, karena menurutnya peraturan hanya memihak kaum yang lebih kuat (kedudukan, jabatan, kekayaan) dan sebaliknya, menginjak-injak kaum lemah. Yang paling membuat saya terpekur, ada teman yang menjawab bahwa peraturan itu dibuat untuk dilanggar. Miris.

Sebenarnya karakter asli saya sangat menghargai sebuah peraturan. Tak peduli peraturan itu dibuat oleh siapa atau pun lembaga apa, saya cenderung respek dan patuh terhadap peraturan. Hmm, jika peraturan sangat terpaksa harus saya langgar, tentu perasaan saya merasa sangat tersiksa. Kalau boleh lebay, mungkin saya takkan bisa tidur lelap selama tiga hari tiga malam paska melanggar.

Namun sebagaimana tabiat manusia yang mempunyai jutaan peluang untuk bertindak negatif, saya juga kerap kali melanggar peraturan. Yang paling sering saya langgar yaitu, "Dilarang Membuang Sampah Sembarangan". Beberapa orang teman pernah menegur saya tempo hari, "Ih.. di blog aja ngritik pemerintah dan kebijakannya, eh kenyataannya kamu malah buang sampah sembarangan. Dasar blogger, omong doang..." Oke, kalimat tadi cukup menohok perasaan saya. Betapa saya terlalu banyak berkoar di social media atau pun di blog tentang kritikan terhadap pemerintah, DPR dan pejabat lain tapi saya sendiri jauh lebih pantas untuk dikritik. Yang paling memalukan, kritik yang dialamatkan teman saya yaitu mengenai perbuatan yang sering dianggap sepele sampai-sampai perbuatan tersebut dianggap lazim oleh hampir semua orang, termasuk saya sendiri.

Saya mengaku khilaf. Saya mengaku berdosa. Sebagai blogger yang kegiatan utamanya tentu saja menulis postingan kala waktu senggang (atau pun kala mood untuk curhat sedang tinggi-tingginya), tentu merupakan hal lumrah bagi saya atau mungkin segelintir blogger lain untuk mengungkapkan uneg-uneg serta kegeraman terhadap pihak yang tidak sreg dengan nalar kita. Karena bukankah sekarang ini merupakan era kebebasan berpendapat? Namun sepertinya sekarang ada hal yang lebih penting untuk saya tafakuri. Sebelum kita menulis sebaiknya berpikir masak-masak terlebih dahulu, apakah yang kita tulis ini memang faktual? Ataukah diri sendiri saja masih saja kerap melanggar peraturan sepele? 

Sekarang saatnya mengaplikasikan hal-hal yang pernah kita umbar di blog. Karena rasanya tak elok jika hanya berani berkoar di blog namun tidak berani mempertanggungjawabkannya dalam kehidupan nyata. Kini saya sadar, semakin banyak saya berbicara atau pun dalam konteks ini yaitu menulis postingan blog, semakin banyak pula yang memperhatikan dan mengintai. Memperhatikan sikap saya sehari-hari, mengintai gerak-gerik dan kekurangan saya, atau mungkin juga ada pihak yang bersiap melaporkan saya kepada yang berwajib. Amit-amit. 

Saya paham, sebagai blogger sebenarnya niat kita menulis hanya ingin menyampaikan dan memaparkan sebuah kebenaran yang dianggap utopia oleh orang-orang pragmatis. Namun tampaknya prinsip saya berubah mulai saat ini. Sekarang saatnya menyampaikan sebuah kebenaran sesuai realitas sekitar kita, sesuai tindakan kita. Jangan menulis apa yang tidak bisa dan belum kita lakukan secara sadar dalam kehidupan nyata, antara tulisan dan tindakan harus terjadi sinkronisasi yang saling mengisi.

13 comments :

  1. agak nusuk cep bacanya, jadi flashback :-w

    ReplyDelete
  2. aneh memang foto di atas ya Cepy, jadi buat apa ada papan larangan itu kalau akhirnya dilanggar dan semua nggak merasa melakukannya ?

    ReplyDelete
  3. @novy : hahaha nusuk, semacam samuraikah? :D

    ReplyDelete
  4. @mbak ely: hey, lama tak jumpa mbak :blush:
    tidak tau mbak. kadang saya suka mikir, apakah kejadian semacam ini hanya terjadi di Indo, ataukah di negara lain juga sama. di belanda seperti ini juga kah?

    ReplyDelete
  5. Nggak tahu aku ttg di Belanda, yg kutahu ya di Jerman sini , kalau di sini ada begitu ya penduduknya tertib ngikuti, soalnya ada sangsinya kalau dilanggar, rasa malu orang sini tinggi sekali, mungkin di sana nggak ada sangsinya, nggak ada hukumannya jadi orang seenaknya saja melanggar, khan nggak ada tindakan dari yg berwajib kan ? sampai kerumunan begitu semua biasa biasa saja, jadi dari pihak yang bersangkutan juga turut andil hingga byk yg melanggar begitu, mending nggak dipasang itu papan larangannya kalau cuma jadi pasangan saja , nggak ada pihak yg mengontrol

    kamu baca deh postinganku yang judulnya "kapokmu kapan? ", itu salah satu bentuk bagaimana masyarakat sini begitu tertibnya sama aturan yang ada walau nggak ada yg menjaga

    ReplyDelete
  6. karena menulis pun adalah proses untuk menyelami dan memahami diri sendiri... terus semangat blogging! :D

    ReplyDelete
  7. @mbak ely: ehhh, iya maksud saya jerman haha lupa :D
    ohh, ternyata memang hanya di indonesia ya. saya kira desas-desus mengenai patuhnya orang luar hanya cerita manis aja. ternyata memang benar ya :)
    trims infonya mbak!!!

    ReplyDelete
  8. @cerita bintang: nah, setuju gan. menulis itu sama aja kayak mengevaluasi apa yang udah dilakuin dalam hidup :)

    ReplyDelete
  9. hihihi keren dech artikelnya kakak... fotonya apalagi Indonesia banget... Semangat blogging ya kak :kishishi:

    ReplyDelete
  10. makanya ane kalo posting kebanyakan curcol gan, belom bisa bikin postingan yg bisa dipertanggungjawabkan dunia akhirat :blush:

    ReplyDelete
  11. @winaya: hehehe, makasih. lain kali mampir lagi ya gan :)

    ReplyDelete
  12. @veny: huahaha.. mendingan curcol ven. curcol kan jujur, jujur kan kagak dosa :D

    ReplyDelete
  13. heiii, setuju sama tulisan ini. apalagi statement "Sekarang saatnya menyampaikan sebuah kebenaran sesuai realitas sekitar kita, sesuai tindakan kita". Saya juga kadang mudah bikin statement seolah-olah saya paling tau, paling bener.. tapi kadang dalam kenyataan saya suka khilaf juga, ngelanggar apa yang saya tulis, nah lho..huhu..

    tapi, saya ambil aja sisi positifnya.. misalnya, setiap kali kita mo ngelakuin hal yang bertolak belakang sama apa yang kita tulis, kita bisa langsung nahan diri. jadi apa yang kita tulis itu bisa jadi semacam "kontrol diri" hehe :)

    ReplyDelete