25 February 2013

Bom Waktu

9 comments :
Beberapa hari yang lalu, di facebook, ada status dari rekan kerja senior tempat saya bekerja dulu. Status itu menyatakan bahwa dia telah resign dari perusahaan. Sebelum bekerja di perusahaan itu, dia berkuliah D3 di salah satu universitas di Jakarta, dan perusahaan itu merupakan tempat pertama ia berkarier sejak 2004.

Kontan kenangan masa lalu bekelebatan di benak saya. Sedari dulu, perusahaan tersebut memang kerap ditinggalkan resign oleh karyawan-karyawannya, terutama karyawan baru yang masih fresh graduate. Padahal, cukup banyak lulusan dari universitas terkemuka semacam UI dan UGM yang masuk ke situ. Saya heran, mengapa perusahaan begitu mudahnya melepas dan dilepas oleh calon-calon profesional andal kelak. Tidak ada penawaran ulang, tawaran kenaikan salary, atau pun dukungan secara personal dari pihak Personalia. 

Suatu hari, ketika saya masih bekerja sebagai teknisi junior (lulusan STM ya memang harus merintis dari nol), saya pernah berbincang santai dengan rekan-rekan kerja yang berusia jauh lebih tua. Mereka rata-rata telah bekerja lebih dari 15 tahun di sana. Berbagai pengalaman senantiasa mereka ceritakan kepada saya, terutama mengenai pahit-manis-asam kehidupan mereka selama ini. Keluh kesah hampir setiap hari mereka umbar kepada saya. Mereka mengeluh, betapa tersiksanya mereka bekerja di sana. Kesejahteraan karyawan yang mengkhawatirkan, gaji yang mencekik, tak sesuai dengan pekerjaan yang memang sifatnya cukup berat, hingga masalah jaminan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Sepatu safety sangat sulit untuk pihak perusahaan berikan kepada para karyawan, kecuali karyawan setingkat Supervisor. Alat APD lainnya pun. Saya jadi teringat, betapa dulu saya harus membeli earplug sendiri, masker, hingga sepatu safety pun terpaksa saya beli sendiri. Selain itu, tidak diberikannya seragam yang ergonomis untuk para karyawan, selain kaos kerja. Setahu saya, wearpack merupakan keniscayaan bagi seorang karyawan pabrik, demi keamanan dan kenyamanannya dalam bekerja di lapangan.

Kemudian, saya iseng bertanya kepada senior saya, mengapa mereka tetap bertahan bekerja di situ di tengah keluh kesah yang senantiasa mereka muntahkan tiap harinya. Jawabannya, mereka telah berada di zona aman. Saya tahu, mayoritas pendidikan terakhir mereka yakni lulusan STM. Akan sulit berpindah perusahaan jika mereka hanya menyodorkan ijazah STM, sedangkan rata-rata usia mereka telah mencapai 40 tahun ke atas. Selain itu, tentu saja mereka telah mempunyai tanggungan. Bagaimana nasib anak dan istri mereka jika mereka tiba-tiba mengundurkan diri, sedangkan belum tentu mereka mempunyai "majikan" baru secepat kilat. Alhasil, hingga kini, mereka hanya pasrah menanti kebijakan perusahaan yang menurut saya masih belum mampu menyejahterakan karyawannya secara menyeluruh.

Pertanyaannya, dengan perkembangan perusahaan tersebut yang semakin mengalami peningkatan pesat dari segi finansial dan kapasitas produksi, apakah perusahaan tersebut belum memikirkan untuk segera melakukan peremajaan manajemen dan budaya kerja mereka? Semakin besar aset sebuah perusahaan, maka semakin kompleks permasalahan yang akan timbul kelak. Dan, para karyawan, kaum profesional merupakan aset utama mereka. Tanpa mereka, apalah artinya sebuah mesin canggih yang bernapaskan sistem kontrol paling mutakhir saat ini jika tak ada yang mampu mengoperasikan serta merawatnya. Apa artinya proyek plant baru setiap tahun jika tak ada sosok-sosok berpengalaman serta berkomitmen tinggi terhadap perusahaan? Apakah cukup dengan gonta-ganti karyawan dan para engineer lulusan fresh graduate saja? Jika terus menerus seperti itu, kita seolah menunggu bom waktu yang kelak akan meledakkan kerajaan mereka berkeping-keping. Kembali ke nol.

Semoga perusahaan semacam ini mulai memikirkan betapa pentingnya peran SDM pada kelangsungan kerajaan bisnis mereka.

9 comments :

  1. Lah ternyata masalahnya dari perusahaannya, kirain dari karyawan baru nya yang fresh graduate gitu. Soalnya kebanyakan rekan saya yang sudah dapet kerja sepikannya, 'iseng nyoba aja dulu, kalo ga cocok ya keluar', secara tiap perusahaan dikasih cv --a

    ReplyDelete
  2. @miftah: kalo ini perusahaannya yang emang agak kurang euy :-E
    emang sih, apalagi jaman sekarang, kerja ya cocok-cocokan

    ReplyDelete
  3. SDM memang faktor penting dalam hal ini a Cepy :)

    ReplyDelete
  4. wah jd pengen cerita2 lebih jauh tentang perusahaan yg semacam ini..
    punya pengalaman soalnya hehehe

    ReplyDelete
  5. @veny: ayoooo... umbar aja di blog :D

    ReplyDelete
  6. nanti gue bisa dituntut dong :-?

    ReplyDelete