31 March 2013

Cepy Break

17 comments :
Cepy break atau coffee break? Typo tuh, Cep!

Hehe, perkenalkan, nama baru blog saya: cepy break

Semoga setelah pergantian nama menjadi cepy break blog ini dapat menjadi sekadar tempat rihat. Bukanlah tempat meratap. Bukan pula penyebar laknat. Ibarat kedai, blog ini hanyalah tempat bersinggah, tempat manusia berihat dari kesibukan hidup yang mendera setiap helaan napasnya.

Di mana anda biasa rihat sejenak dari rutinitas? Kedai? Hotel? Mal? Kamar? Atau, tak pernah rihat?

Hebat!

Rihatlah sejenak. Resapi anugerah hidup yang tak tercandra. Dengan begitu, kita dapat betul-betul merasakan nadi yang tak lelah berdenyut, menyaksikan fajar merekah di ufuk timur, mendengarkan cericit sekawanan burung gereja yang bertengger di dahan pohon ki hujan, menghidu aroma tanah basah selepas diguyur hujan semalaman, meresapi kesantunan semesta.

Semoga pergantian nama ini tak menjadikan saya break dari dunia maya. Sebaliknya, break dari ribuan kesalahan, kemudian beranjak perlahan menuju kerendah-hatian.

27 March 2013

Tujuh Judul Lagu yang Berhubungan dengan Bulan

26 comments :
Karena aku, selalu suka sehabis, hujan di bulan Desember...
Ada yang familiar dengan penggalan lagu di atas?

Menarik. Ada beberapa lagu yang berhubungan―bertemakan―dengan bulan yang saya ketahui. Salah satunya, lagu di atas yang merupakan penggalan dari lagu Desember yang dipopulerkan oleh Efek Rumah Kaca.

Mengapa bisa begitu, ya? Apakah suatu bulan senantiasa menorehkan kenangan mendalam terhadap para penggubah lagu? Tentu saja! Jangankan penggubah lagu yang notabene seniman penuh perasaan dalam mencipta lagu. Bagi remaja belasan tahun saja, mereka sudah mengsakralkan tanggal dan bulan jadian dengan pacarnya, kan? Salah satu pihak saja lupa tanggalan, pihak lain langsung minta putus. Tragis.

Sekarang, yuk, kita sharing lagu apa saja yang berhubungan dengan nama bulan!

1. Efek Rumah Kaca - Desember


2. Linkin Park - My December


3. Gigi - 11 Januari


4. Glenn Fredly - Januari


Lagi-lagi mengambil tema bulan Januari. Seistimewa itukah bulan Januari?

5. Green Day - Wake Me Up When September Ends


6. Vina Panduwinata - September Ceria


Kuduga, Green Day terinspirasi dari Tante Vina Panduwinata. Hanya, mereka menyadurnya sehingga jadi lebih galau, tidak ceria.

7. Guns N' Roses - November Rain


Lagu wajib saya kala November tiba. Sebagai ajang menghibur diri seusai basah kuyup kehujanan sepulang kuliah setiap malam.

Demikian sajian tujuh judul lagu yang berhubungan dengan bulan versi @cepyhr. Semoga bermanfaat.

Ada judul lagu sejenis yang anda ketahui? Yuk, share di kolom komentar!

23 March 2013

Si Pekat Pemikat Ide - Kopi Liong

9 comments :

Anda sedang mengalami stres di kantor lantaran dikejar-kejar deadline tiap harinya? Kesulitan menangkap ide untuk menulis fiksi? Kehabisan kreativitas untuk merangkai artikel blog pribadi anda? Atau, galau terus-menerus karena dicuekin pacar yang main serong

Saya rasa, kopi hitam inilah obat yang mujarab untuk mengatasi kerisauan-kerisauan yang tengah anda alami sekarang. Kopi liong. Kopi hitam yang berasal dari Bogor, diproduksi di Bogor, serta tidak ada dan tidak dijual di daerah-daerah selain di daerah Bogor dan sekitarnya.

Walaupun bukan penikmat kopi sejati, namun saya ingin sekadar berpendapat perihal rasa dan taste kopi liong. Rasa kopi liong begitu berbeda bagi lidahku yang hanya terbiasa menyeruput kopi berkemasan lain yang mereknya lebih populer di benak orang lain. Memang, harganya lebih murah dibanding merek kopi sachet lain. Namun tidak begitu dengan rasanya. Begitu baru kita tuangkan air mendidih saja, aroma kopi liong sudah merebak ke mana-mana. Membuat setiap orang yang menghidu  aroma kopi ini meneguk ludah, lalu meminta untuk saya seduhkan lantaran seolah terjerat dan terhipnotis aromanya.


Menurut blogger yang juga pakar perkopian, mas MT, ada tips tersendiri dalam menyeduh kopi liong. Pertama, air untuk menyeduh kopi liong haruslah betul-betul mendidih. Kalau airnya tidak mendidih, katanya bisa menyebabkan sakit perut. Menyebabkan asam lambung cepat naik. Mag akan kambuh, deh! Saya pun pernah mengalami hal itu. Tips kedua, setelah kita menuangkan air mendidih ke dalam cangkir yang berisi serbuk kopi, jangan dulu diaduk, supaya ampas-ampasnya turun dahulu. Jika tidak, maka ampas kopi liong akan mengambang di permukaan cangkir. Selain itu, akan menyebabkan sakit perut juga. Tips terakhir, nikmatilah taste kopi liong yang kurasa tak kalah nikmat dengan kopi-kopi bermerek lain.

Yang menarik, harga eceran kopi ini murahnya nggak ketulungan! Cuma dengan menyodorkan delapan ratus perak kepada penjaja warung terdekat, kita sudah bisa menyeduh si pekat ini. Apalagi kalau kita membelinya satu bal. Cukup menyisihkan uang 12 ribu saja untuk menebus 20 pcs kopi liong ini. Sangat pas untuk kocek mahasiswa semacam saya yang jika ingin membeli deodoran pun harus bertapa terlebih dahulu di Terusan Suez selama 13 hari 13 malam.


Dan, kala sedang buntu ide mengenai hal apa pun, setelah saya menyeduh lalu menikmati kopi liong, inspirasi seolah langsung berdatangan dan siap untuk ditangkap satu per satu. Tetapi, bukan berarti saya menuhankan kopi liong, lantas dituduh musyrik, ya. Kopi liong ini bebas ilmu santet atau pun praktik klenik-klenik semacamnya, kok! Wong salah satu pesantren di Bogor saja telah berlangganan kopi liong sejak lama, dan seolah menobatkan kopi ini sebagai kopi wajib di sana. Jadi, Insya Allah kopi liong 100 persen halal!

Bengkel Ide

Ya, kopi liong takkan menimbulkan kecanduan sebagaimana halnya rokok, ganja, apa pun. Kecuali, kecanduan rindu. Kecanduan merindukan entah siapa yang dirindukan.

20 March 2013

Nuansa Cat Baru di Blog Ini

10 comments :
Bagi anda yang pernah terjerumus mampir ke blog saya yang kontennya kerap menyesatkan ini, tentu sudah familiar dengan tampilan seperti screenshot di bawah:


Perlu anda ketahui, template tersebut bukanlah template bawaan dari google. Namun template yang saya unduh dari pihak ketiga. Mau tahu kronologi saya dalam menemukan template minimalis namun cukup fungsional itu? 

Mulanya, saya iseng mampir ke blog kang alif. Selain kontennya juga asyik-asyik, kreatif serta enak dibaca. Saya terpincut melihat template blog doi. Simpel-simpel gimana gitu.. Eye catcing! 

Setelah itu, saya berkelana untuk berburu template gratisan. Tadinya tak ada niat untuk menyamai kang alif dalam hal template. Namun, ternyata dari sekian ratus template yang disuguhkan oleh btemplates.com, hanya template yang bernama Super Clean-lah yang memikat hati dan benak saya.

Dan, Super Clean tersebut sama persis alias plek alias seperti pinang dibelah kujang dengan template milik kang alif. Wah, gimana ini? Saya bingung sekaligus nggak enak hati.

Pada akhirnya saya mengganti template lama dengan template Super Clean seperti doi. Lantas saya meminta izin kepada kang alif melalui Twitter. "Tak masalah," jawab kang alif. Oke deh, tekad saya semakin bulat untuk berganti. Setelah itu saya menambahkan gambar header dan sidebar agar tak serta-merta kembar identik dengan blognya kang alif.

Jadilah blog saya yang berpoleskan cat seperti screenshot di atas.

Namun, beberapa hari yang lalu tebersit keinginan untuk mengganti template. Berikut penampakan polesan cat baru untuk blogku ini: 


Saya memutuskan untuk kembali kepada fitrah blogger yang menumpang di blogspot. Kembali ke template bawaan google itu sendiri! Alasannya? Hmm, lebih enak aja mengotak-atiknya, tidak berbeda jauh dengan tutorial-tutorial blogspot yang berjibun di kolom pencarian. Kadang kala kode html template buatan pihak ketiga sukar dikustomisasi sekehendak hati. Ada beberapa kode yang berbeda dengan kode standar template bawaan google, sehingga hal tersebut amat menyulitkan diri saya yang begitu awam terhadap kode html, hanya memiliki referensi cara otak-atik dari mesin pencari.

Selain agar mudah dikustomisasi, alasan lain saya berpindah kembali ke template bawaan google yakni saya, dan mungkin anda, akan lebih nyaman terhadap template bawaan .Lebih nyaman untuk berkomentar, karena terdapat tombol Reply. Kolom komentar templateku yang lama tidak terdapat tombol Reply, sehingga kurang nyaman untuk berkomentar. Beberapa kali sudah saya cari tahu supaya terdapat tombol Reply. Namun, usaha itu malah merusak estetika blog.

Dan, alasan lain yang paling klasik namun juga masuk akal ialah: Bosan

Ya, begitulah. Ada kesan positif dan negatif dalam menggunakan template pihak ketiga.

Warna dasar blog saya ini sengaja saya beri warna putih, supaya serasi apabila dipadu-padankan dengan warna apa pun. Kemudian selain putih, warna yang mendominasi di blog saya sekarang yaitu merah maroon, jingga, biru, hijau muda. Begitu pula dengan font. Saya memilah-milah font-font yang menurutku cukup enak dibaca. Font untuk konten yaitu Georgia, dan Josefin Slab untuk judul artikel. Mengenai header blog, saya membikin sendiri di photoshop. Walaupun baru bisa bermain-main dengan layer serta pen tool, namun saya puas bisa menjajal photoshop yang selama ini hanya teronggok lesu di pojok sebelah kiri desktop saya.

Doakan pula agar selekas mungkin saya membeli domain dot com.

Sobat, apakah anda menyukai template baru bawaan google yang telah separuhnya dikustomisasi oleh saya sendiri secara autodidak? Atau anda malah menyukai template saya yang lama? Ataukah ada yang mau memberi saya template gratis? Hehe, share yuk di kolom komentar!

#Update:
Sobat, akhirnya pagi ini saya bisa registrasi domain dot com di rumahweb. Well, lain kali anda bisa langsung dapat mengakses blog saya di cepyhr.com :)

Salam!

18 March 2013

TB Sjafrie Mangkuprawira - Profesor Kehidupan

10 comments :
keluarga blogor - credit: @InsideErick

Tiada kata terlambat untuk menyampaikan perasaan kehilangan, bukan?

Profesor. Dulu, di benak saya kata tersebut amat lekat dengan stigma keras, tak kenal komromi, angkuh, dingin, dan pelbagai hal negatif lainnya. Satu lagi. Musuh mahasiswa!

Kesemua mindset di atas luruh ketika saya menghadiri halal bihalal blogor pasca Idul Fitri tahun lalu. Sapaan hangat, senyum yang tersungging di bibir anda, menyambut saya dan kang akhdian pagi itu. Selepas itu, anda bertanya kepada kang akhdian perihal definisi hoax yang tengah hangat-hangatnya di dunia maya kala itu. Baru kusaksikan seseorang yang berselisih usia lumayan renggang dengan lawan bicaranya, bertanya tentang apa yang ingin ia ketahui secara mendetail. Tanpa memperlihatkan atau menunjukkan bahwa anda yang jumawa, harus lebih tahu hal-hal apa pun lantaran lebih kenyang merasakan asam-garam kehidupan daripada lawan bicara yang jauh lebih muda.

Andakah yang disebut blogfather itu? Mengapa berbeda sekali dari kesan angkuh seorang akademisi senior yang pernah saya bayangkan sebelumnya?

Ah, anda Profesor yang terlalu humble bagi saya, Prof...

Saya kagum terhadap anda, Prof! Teramat langka bagi seseorang penyandang titel profesor yang menyempatkan diri―lebih dari itu, berinteraksi aktif―untuk membagi ilmu serta pengalamannya ke khalayak online di blog pribadi anda. Bukan semata membenamkan ilmu teoretis terhadap kalangan mahasiswa yang anda ajar di kampus belaka.

Yang membuat saya berdecak, anda rajin mengelola blog secara berkala. Hampir dua kali seminggu. Pada halal bihalal setahun lalu, anda sempat menyemangati, menyentil blogger senior―hingga blogger pemula seperti saya pun―supaya kembali lagi kepada fitrah seorang blogger. Kembali menulis artikel di blog pribadi masing-masing.

Jujur, belum ada kenangan pribadi secara langsung, mengingat masa perkenalan saya yang terlampau singkat dengan anda. Namun, ada secarik kenangan yang membuat saya tercenung dini hari ini. Anda pernah menyempatkan diri membaca dua artikel di blog saya, lalu meninggalkan jejak komentar di sana :

Tanggapan Pak Sjafrie terhadap artikel tentang PLN

Tanggapan Pak Sjafrie terhadap artikel tentang perlunya melirik kembali sektor pertanian

Padahal, konten artikel yang saya tulis itu sekadar cuap-cuap alias kesoktahuan belaka. Amat jauh dari kata sempurna, boleh dibilang dua artikel itu hanyalah curhatan tengah malam. Terlebih, kala itu saya masih mahasiswa semester tiga! Mungkin, oleh sebagian orang yang telah bertitel setara dengan anda Pak Sjafrie, tulisan saya semacam itu takkan diindahkan. Lebih dari itu, jika bukan anda yang membaca, alih-alih berkunjung ke blog saya, berniat mengeklik link saya di aggregator pun tidak.

Ya, karena anda Prof. Sjafrie..

Prof.. rihatlah dengan tenang di sana..

Sesungguhnya anda belum meninggalkan kami seutuhnya. Hanya jasad dan roh anda yang telah pergi. Letupan semangat untuk terus belajar hal-hal apa pun di dunia ini, nasihat-nasihat tanpa kesan menggurui, hingga lelucon segar yang pernah terlontar dari lisan anda akan senantiasa kami kenang, rindukan, hingga kami masih yakin bahwa anda belum pergi, Prof!

Anda akan selalu hidup di tengah-tengah kami, keluarga blogor.

Selamat beristirahat, Profesor Kehidupan...

15 March 2013

Tempat Lahir Beta

24 comments :
Dari daerah manakah anda berasal? Masih dekat dengan tempat berdomisili saat ini, ataukah sebaliknya?

Saya sendiri berasal dari Padalarang, sebuah kecamatan yang terletak di Bandung bagian barat. Sejak beberapa tahun lalu, kampung halaman saya ini telah memisahkan diri dari Kabupaten Bandung, dan melebur menjadi Kabupaten Bandung Barat.

Seberapa jauh jarak Padalarang dari pusat kota?

Kalau tidak salah, sekitar 18 kilometer, barulah saya bisa memijakkan kaki di kota Bandung. Hmm, jika dikonversikan dengan waktu perjalanan, mungkin sekitar 45 menit. Itu pun kalau lalu lintas lancar seperti belasan tahun lalu. Sekarang, jika saya ada sesuatu kepentingan yang mengharuskan berangkat ke kota Bandung, butuh waktu sekitar satu jam setengah dengan menumpangi bus kota. Kalau apes, bisa lebih dari dua jam. Apalagi kala akhir pekan.

Macet!

Banyak sekali perubahan yang terjadi di tempat kelahiranku ini. Setidaknya sejak benak saya mulai bisa menikmati secara sadar suasana kota pada tahun 1995. Kala itu, belum banyak bangunan-bangunan yang berdiri di sana. Namun, sekarang makin menjamur ruko-ruko, supermarket semacam Ramayana ataupun mini market dan grosir modern lain.

Hal tersebut menimbulkan efek positif dan negatif. Positifnya, warga Padalarang tak usah jauh-jauh berangkat ke kota (Bandung) untuk berbelanja sandang dan pangan, karena telah banyak toko dan supermarket yang menyediakan kebutuhan mereka itu. Namun, efek negatifnya ini yang bikin sesak napas. Kemacetan semakin mengular sejak dari gerbang tol Padalarang hingga simpang Tagog, sekitar 5-8 kilometer. Hiperboliknya, kalau kita berjalan kaki pun macet!

Kurang lebih seperti inilah situasi Padalarang saat ini.

Simpang Tagog. Tak pernah lekang dari kemacetan.

Ya, di simpang tiga inilah biangnya kemacetan. Sebenarnya, sedari dulu pun, sebelum tahun 2000, simpang Tagog ini telah akrab dengan kemacetan. Penyebabnya adalah terdapat pasar tradisional yang berada di belokan sebelah kanan simpang ini. Selain itu, masih terdapat delman dan ojek yang sering melawan arus satu arah, sehingga memperparah keadaan.

Logikanya, jika sedari dulu saja sudah macet, sekarang bagaimana dong? Hehehe, coba sendiri saja deh, sekali-sekali mampir ke sini, yuk!

Toko Kurnia dan Toko Karya. Dua toko kelontong legendaris yang terletak bersebelahan, namun masing-masing mempunyai pelanggan setia.

Itu dia dua toko kelontong legendaris di Padalarang. Keduanya sama-sama berdarah Tionghoa, dan sama-sama menjual barang yang hampir sama. Namun, kedua toko tersebut tak pernah kehilangan pelanggan hingga kini. Masing-masing telah mempunyai pelanggan setia, di tengah menjamurnya mini market dan supermarket modern.

Uniknya, belum pernah kudengar kabar perselisihan yang terjadi pada kedua pemilik toko yang bertetangga itu. Salut!

Delman di tengah perseliweran mobil dan motor, menuju Pasar Padalarang.

Sebenarnya kendaraan inilah yang menyebabkan kemacetan kian parah. Delman dan ojek. Kedua kendaraan itu sering kali melawan arus satu arah. Padahal, sudah tahu macet. Sudah sempat beberapa kali ditertibkan oleh polisi linmas, namun mereka tetap membandel. Dasar, endonesa.

Padalarang Tempo Doeloe


Perlu anda ketahui, foto di atas merupakan foto yang saya temukan di web museum Tropen Belanda. Foto tersebut berlokasi di tempat kelahiranku sekitar tahun 1915 (kalau tak keliru). Tampak seorang Bapak sedang beristirahat di depan dua kerbau gembalaannya. Dan, memang, menurut Ayahku, dahulu daerah ini banyak sekali hewan bongsor berwarna kelabu ini. Bahkan, beberapa tempat diabadikan dalam sebuah nama yang menunjukkan bahwa dahulunya daerah itu adalah lokasi peristirahatan kerbau-kerbau.

Maka, hingga kini aku mengenal daerah bernama Pos Wetan, Pos Kidul, Pos Kulon, dan Tagog. Pos-pos ini maksudnya adalah pos peristirahatan sekawanan kerbau gembalaan. Dan, Tagog mempunyai makna Panagogan, yakni tempat dikandangkannya sang kerbau.

Unik sekali.

Foto udara yang memotret pabrik kertas Padalarang.

Nah, pada web museum Tropen itu juga saya menemukan foto yang menggambarkan pabrik kertas Padalarang peninggalan Belanda. Dulu namanya Papier Fabriek. Suasananya masih sangat natural. Petak-petak sawah mengelilingi pabrik, serta jalanan yang teramat lengang.

Dan, saya bangga mempunyai kakek (almarhum) yang dahulu bekerja berpuluh-puluh tahun hingga beliau pensiun di pabrik kertas itu. Menurut beliau, kertas yang diproduksi di PN Kertas (Sekarang PT. Kertas Padalarang Persero) berasal dari sekam padi. Tidak seperti kertas-kertas sekarang yang berasal dari kayu mahal dan campuran pulp itu. Maka, lingkungan pabrik amat kumuh karena sekam-sekam yang menggunung. Ular-ular sawah hingga ular berbisa kabarnya sangat umum beliau temui di lingkungan pabrik. 

Ironisnya, gaji para karyawan PN Kertas sangat mengkhawatirkan, tidak sesuai dengan pekerjaannya yang termasuk berat dan "nguli". Hmm, ternyata sedari dulu pun manajemen yang berdarah pribumi dan berstatus perusahaan milik negara tak pernah berniat untuk menyejahterahkan para karyawannya, ya...

Suasana dalam pabrik saat masih dikuasai oleh Belanda.

Eh, ternyata saya sempat ditakdirkan merasakan betapa menderitanya bekerja di pabrik kertas seperti beliau. Ya, pabrik kertas di daerah lain yang lebih modern tentunya, bukan Papier Fabriek ini.

Terima kasih untuk web museum Tropen Belanda yang telah bersedia menjadi mesin waktu bagi saya...

Seberkas Asa

Harapan saya terhadap tempat kelahiranku ini tak muluk-muluk. Saya hanya ingin agar pihak-pihak berwenang mempertahankan kekhasan daerah ini serta merawatnya baik-baik. Seperti pabrik kertas legendaris itu yang kini hanya merupakan perusahaan BUMN tingkat kacangan di mata pemerintah. Jangan sampai pabrik bersejarah ini tergusur oleh mal-mal yang mungkin di masa mendatang akan didirikan di sini.

Dan, semoga kemacetan segera ditanggulangi selekas mungkin. Pembangunan jalan layang (fly over) merupakan keniscayaan di Padalarang saat ini. Kabarnya sih sudah dilakukan perencanaan oleh pemerintah tata kota dan sedang ditelaah oleh pihak investor. Ya, semoga rencana tersebut berjalan dengan mulus, sehingga mobil-mobil dan motor yang kian berseliweran di sini takkan berjalan secara merangkak seperti sekarang.

Bagaimana dengan kondisi daerah anda saat ini? Adakah hal-hal yang menarik tentang daerah asal anda? Share yuk di kotak komentar!

11 March 2013

Pengin Kurus

2 comments :

Sedemikian pesatnya perkembangan berat badan saya nggak bisa dibiarkan lagi. Kaus oblong, polo shirt, celana-celana jeans, celana katun yang saya punyai udah pada teriak kesempitan. Sesak. Sampai-sampai, saya nggak berani mengukur lingkar pinggang atau pun lingkar bokong. Nimbang berat badan pun harus nyiapin mental dulu. Takut shock. Lalu terkapar pingsan.

Bukan tanpa usaha. Berbagai metode penurunan berat badan sudah saya lalui. Dulu, pernah hampir delapan bulan gabung ke fitness center, lalu berhenti dan beli dua dumbell buat olahraga di rumah. Tapi, entah. Apakah niat saya yang masih setengah hati, atau metode yang saya lakoni kala itu keliru. Semua usaha yang saya lalui belum menghasilkan dampak berarti, alih-alih tubuh berubah jadi kayak Taylor Lautner. 

Justru sebaliknya. Tambah mekar!

Semalam, saya iseng googling mengenai itu. Terjerumuslah saya ke web yang memaparkan tentang manfaat jalan kaki. Di sana banyak memaparkan berbagai manfaat kegiatan yang kita anggap sepele itu. Bila dilakukan secara rutin dan teratur, jalan kaki bisa menurunkan berat badan. Selain itu, yang terpenting, jantung jadi lebih sehat.

Saya jadi teringat waktu masih bekerja tiga tahun lalu. Kebetulan plant tempat saya bekerja agak jauh dari gerbang pabrik. Jadi, saya dipaksa untuk jalan kaki kira-kira satu setengah kilometer. Pulang pergi berarti tiga kilometer tuh. Belum lagi saat bekerja, kalau ada trouble mesin. Ya, harus bolak-balik jalan kaki, naik turun tangga, ngebenerin komponen yang mengalami trouble selama delapan jam kerja tiap harinya. Belum kalau lembur. Bisa kerja nyampe 12 jam tuh.

Secara alamiah dan terpaksa, dulu saya melakukan olahraga setiap harinya.

Berkat olahraga terpaksa itu, berat badan saya pernah menyusut hingga belasan kilogram. Namun, setelah berhenti bekerja lalu berkuliah hingga sekarang, lemak-lemak yang dulu lenyap kembali lagi ke perut, bokong, paha, lengan. Pipi juga. Semuanya deh.

Selain itu, saya juga tak sengaja mampir ke link tentang diet golongan darah. Kebetulan, golongan darah saya A. Menurut berbagai sumber (kontennya hampir sama, saling copas mungkin ya), golongan darah A sebisa mungkin menghindari daging merah. Ya, contohnya daging sapi, kerbau, kambing, dan hewan berkaki empat lain. Golongan darah A harus memperbanyak mengonsumsi sayuran dan buah-buahan. Protein pun kalau bisa yang nabati, kayak tahu dan tempe. Sekalipun ayam, harus tanpa kulit, bagian dadanya saja.

Well.... apa yang kita lakukan sehari-hari sebenarnya merupakan olahraga. Sederhana saja. Tapi, kemalasan dan pelbagai alasan merupakan penghambat utama.

Sebelum terpaksa beli karung goni untuk dikenakan saking nggak ada baju yang pas, ikhtiar harus lekas dilakoni lagi.


gambar dari sini 

04 March 2013

Cibitung

9 comments :