27 April 2013

Pilihan

9 comments :
Hidup itu pilihan. Bila tak lekas memilih suatu jalan atau beberapa, sejatinya kita telah terseret menuju ambang kematian. Kematian identitas, jati diri.

Tak sengaja, saya menemukan beberapa teman-teman semasa SMP di facebook. Mereka, kawan-kawan lama itu, begitu berbeda dengan dahulu. Entah, menurutku, sih. Zaman sekarang, facebook sudah menjadi simbol eksistensi, bukan? Eksistensi manusia berbalutkan album-album foto pribadi yang diunggah ke sana, ratusan foto-foto yang di-tag kepadanya, serentetan kafe, resto, diskotek, atau destinasi rekreasi yang pernah disambangi oleh mereka (check-in), occupation status, hingga perihal relationship status.  Maka, perkiraan subjektif saya, mereka begitu berubah pada beberapa segi.

Berbeda dengan teman-teman semasa SMK (STM) yang minimal sekali setahun menyempatkan bertemu dengan mereka, jujur, saya belum pernah berjumpa lagi dengan teman-teman SMP, semenjak terakhir kali menyaksikan mereka berbalut jas serta kebaya di sebuah aula, dalam sebuah acara perpisahan kelas tiga silam. Sekali lagi, banyak perubahan yang terjadi pada teman-teman saya. Perubahan positif, maupun perubahan stagnan (sebab, bagiku, sebuah perubahan manusia tak ada yang negatif). Saya enggan mengupasnya terlalu detail di sini. Intinya, saya terharu sekaligus bahagia sekaligus pula iri, menyaksikan perubahan yang terjadi pada kehidupan teman-teman saya.

Iri itu tidak baik? Iri itu penyakit hati? Sepertinya begitu. Akan tetapi, rasa iri bisa menggugah diri pribadi terlecut ketimbang pujian setinggi langit. Iri, juga dapat menimbulkan kewaspadaan betapa pentingnya memelihara harapan dan impian, agar tak tertinggal terlampau jauh oleh teman-teman lama yang sedemikian lesat berlari memburu karier bak kujang. Supaya saya eksis? Hmm, di dunia ini, pada dasarnya setiap orang mempunyai hasrat untuk eksis. Hanya, masing-masing orang mempunyai pandangan serta metode berbeda-beda dalam mencapai dan meraih eksistensi. Saya pun.

Memang, saya bukanlah tergolong siswa populer pada masa-masa sekolah dulu. Mungkin, hingga saya berkuliah kini. Saya pemalu. Begitu malu untuk meruahkan jati diri saya yang sebenarnya kala masa-masa sekolah silam. Entah. Mungkin, lantaran tak ada wadah yang sesuai dengan hasrat dan minat saya di sekolah tersebut? Atau, jarang sekali teman-teman masa sekolah yang mempunyai visi dan misi hidup yang serupa dengan saya? Namun, tak usah khawatir. Sekarang, taraf sifat pemalu saya sudah naik kelas menjadi malu-maluin. Eh, he-he.

Sudahlah. Ah, lagian, kenapa, sih, semalam, mesti ditakdirkan nge-drag scroll tab untuk memindai sugestion friend!

22 April 2013

Karya Seni Pop

2 comments :

20 April 2013

Entah

10 comments :
Witing tresna jalaran saka kulina. Cinta tumbuh karena terbiasa. Entah, pepatah Jawa itu terus terngiang-ngiang di telinga kanan, kemudian enggan keluar melalui telinga kiri. Entah lantaran sering bergaul dengan orang Jawa. Entah terlalu sering menahan gigil akibat kehujanan setiap hari. Entah tersebab sesuatu yang entah.

Terlalu banyak intuisi, terlalu banyak visi-misi, terlalu banyak prediksi, terlalu banyak konspirasi. Hingga, tak jua menemukan secercah cahaya. Mungkin, itu yang menyebabkan sesuatu yang entah menggelayuti benak. Setiap jarum jam berdetak, setiap nadi berdenyut, setiap helaan-dengusan napas yang memburu.

Yang ditemukan, hanya secuil harapan, yang kemudian terurai menjadi seonggok bangkai. Busuk.

Tak dapat tersangkal, cinta, tumbuh dari keterbiasaan. Biasa saling temu, saling sapa, saling curah, saling merindu. Bahkan, saling benci. Tanpa keterbiasaan yang menuhankan "saling", cinta seolah ikan yang lupa akan tata cara berenang, lebih baik mati ketimbang sakit hati dituding yang entah-entah.

Pada akhirnya, cinta, memang tumbuh dari muasal yang entah. Sulit diterka, apa sebetulnya sesuatu yang entah itu, hingga menemukannya sendiri, lantas merengkuhnya lekat-lekat, supaya tak berubah kembali jadi entah.

Entah.

14 April 2013

Penelusuran Karier, Pertambatan Cinta: Resensi Novel Surat Dahlan

10 comments :

Judul Buku : Surat Dahlan
Penulis : Khrisna Pabichara
ISBN : 978-602-7816-25-1
Penerbit : Noura Books
Tahun Terbit : 2013
Tebal Halaman : 396
Harga : Rp 62.500

Ada yang mengatakan kepadaku bahwa penyakit pertama yang diidap para perantau adalah rindu kampung...
Setelah Prolog, penggalan catatan harian Dahlan di atas mengawali kisah hidupnya kala beranjak dewasa, di sebuah daerah tepi Mahakam, Samarinda. Dahlan telah menjadi mahasiswa Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) Samarinda sekaligus aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII). Bukan lagi sepatu yang menjadi persoalan hidupnya, tetapi penelusuran jati diri, karier, dan cinta.

Di Samarinda, Dahlan menetap bersama kakak sulungnya, Mbak Atun. Latar novel ini tergambar kuat, misalnya deskripsi rumah kayu berbentuk panggung tepat di pinggiran Karang Asam, bagian hilir Sungai Mahakam, Dermaga Mahakam Hulu, kemudian kata Sudah yang bermakna berbeda di kalangan masyarakat Bumi Etam. Hal itu seolah membetot pembaca untuk turut serta terhanyut ke dalam alur cerita. Tokoh Kadir pun muncul kembali, namun hanya sekelebat, tak terlampau dominan sebagaimana pada Sepatu Dahlan.

Mengalir

Alur mengalir dengan apik, menceritakan konflik-konflik batin Dahlan dalam melakoni kehidupannya sebagai mahasiswa di PTAI. Setiap hari, dia harus menghadapi Pak Rahim, dosen killer yang tegas perihal aturan remeh-temeh, semacam keharusan mengenakan kemeja di kampus hingga membredel majalah kampus yang Dahlan rintis bersama teman-teman kuliahnya.

Ketegangan mencapai puncak manakala Dahlan dan rekan-rekan di PII diburu oleh tentara lantaran tindakan demonstrasi di Tugu Nasional Samarinda pada tragedi Malari, di mana dia didaulat sebagai pemimpin aksi. Setelah itu, Dahlan, Syaiful, Syarifuddin dimata-matai oleh tentara. Hingga mereka dikepung, diburu, lantas Dahlan terjerembab ke jurang. Saat tersadar, ia telah berada di sebuah rumah seorang nenek, yakni Nenek Saripa.

Nenek Saripa pula yang mempertemukan Dahlan dengan dunia jurnalistik pertama kalinya, melalui Sayid Alwy, "komandan" Harian Daerah Mimbar Masyarakat. Semenjak pertemuan itu, dimulailah karier wartawan Dahlan di Mimbar Masyarakat, bertemu dengan Trio Dahlan―yang belakangan diketahui bukan bernama Dahlan―dan Syuhainie sang pengadang berita sebelum naik cetak. Perlahan, karier Dahlan melejit, gaji dan jabatannya terus meningkat, hingga ia magang―kemudian bekerja sepenuhnya―di Tempo berkat ditakdirkan oleh Sayid untuk mengikuti pelatihan jurnalistik ke Jakarta.

Pertambatan Cinta

Maryati, sahabat masa kecil Dahlan muncul pada bab-bab awal. Dia hadir sebagai tokoh peramai, mula-mula hadir sebagai pemicu konflik batin Dahlan, namun berakhir mengesankan di tengah-tengah cerita. Maryati mengungkapkan bahwa dia menyukai Dahlan, dan ingin lekas dinikahi. Dahlan senantiasa mengelak, hingga dia diinterogasi secara resmi oleh Mas Sam―suami Mbak Atun―namun Dahlan tetap bersikukuh tak ingin menikahi Maryati. Mendengar pernyataan Dahlan, Mas Sam kemudian menikahkan Maryati dengan Paijo.

Begitu pula dengan Aisha, yang kemudian dinikahi oleh orang lain, lantaran tak kunjung menerima kepastian dari Dahlan. Rangkaian isi surat mereka berdua menghiasi hampir separuh novel, penuh dengan untaian kalimat indah nan puitis yang jarang ditemui pada zaman sekarang di mana kebiasaan surat-menyurat telah ditinggalkan. Setidaknya, hal itu  bisa jadi ajang nostalgia bagi orang-orang zaman dulu yang hanya mengandalkan jasa pos untuk berkomunikasi jarak jauh, atau pun wawasan bagi para pembaca muda yang tak pernah merasakan romantisnya menulis surat serta betapa berdebar-debarnya menanti surat balasan. Mungkin, hal itu pula yang menjadi pertimbangan mengapa novel ini dijuduli Surat Dahlan.

Siapakah jodoh Dahlan sebenarnya? Ternyata, rekannya di PII yang menjadi jodoh serta tambatan hati Dahlan selama-lamanya. Nafsiah Sabri. Putri seorang Danramil yang dahulu merupakan musuh Dahlan saat masih menjadi aktivis, membuat hati Dahlan kepincut. Walaupun sosok perempuan itu tomboi dan keras kepala, ternyata sifat-sifat tersebut yang membuat sosok Nafsiah begitu istimewa di benak Dahlan. Pak Sabri, mantan musuh yang tentu saja sempat bikin nyalinya ciut saat melamar Nafsiah, ternyata menyambut baik niat Dahlan. Mereka akhirnya menikah.

Menjelang akhir cerita, Dahlan berpindah domisili ke Surabaya beserta Nafsiah dan kedua buah hatinya―Rully dan Isna―lantaran dialihtugaskan ke biro Tempo Surabaya. Kesibukannya di media semakin  padat, hingga datang tawaran dari Pak Erwin untuk memimpin koran harian lokal Jawa Pos yang pada saat itu oplahnya tengah terjun bebas tersebab manajemen yang jauh dari kata profesional.

Pertemuan Dahlan beserta keluarga kecilnya dengan Bapak dan Zain di Kebon Dalem, menutup rangkaian kisah Dahlan dalam novel kedua Trilogi Sepatu Dahlan ini. Sosok Bapak Iskan yang bersahaja dan penuh inspirasi muncul di akhir novel. Dongeng yang penuh dengan wejangan-wejangan penuh hikmah pada masa Dahlan kanak-kanak puluhan tahun silam, kembali terlontar dari lisannya di hadapan Dahlan, Zain, Nafsiah, Arif, Maryati & Paijo, Imran, dan Komariyah.

Witing Tresna Jalaran Saka Kulina

Tibalah di epilog, manakala Dahlan mengirimi pesan pendek kepada Margiono―bos Rakyat Merdeka, lantas berdatangan balasan lebih dari satu. Dahlan terpingkal membaca balasan pesan pendek dari kolega dan keluarganya, kemudian menunjukannya kepada Nafsiah Sang Istri, yang menurutnya menenangkan sekaligus menyenangkan. Witing Tresna Jalaran Saka Kulina: Perasaan cinta bisa tumbuh karena sering bertemu. Pepatah Jawa itu mengakhiri Surat Dahlan, sekaligus membuka trilogi novel selanjutnya yang patut ditunggu-tunggu: Senyum Dahlan.

Secara keseluruhan, novel ini sudah bagus, apabila ditilik dari segi gaya bahasa Penulis yang kaya akan diksi,  alur yang mengalir serta pembabaran latar yang kuat, desain sampul yang relevan dengan isi dan genre novel, tebal halaman yang pas, maupun jenis serta ukuran huruf yang nyaman dibaca berlama-lama. Selain itu, saya memuji Penulis yang telah menggambarkan keromantisan santun tanpa harus vulgar. Salah satunya seperti yang tertera pada halaman 292: Kemudian, kami tertidur memeluk rindu, berpelukan hingga pagi tiba. 

Kecuali, terdapat beberapa kesalahan ketik yang saya temukan, seperti pada halaman 23: di buka yang seharusnya dibuka, kemudian pada halaman 218: menumbuhsumburkan, dan halaman 276: ketakukan. Barangkali cacat nila setitik ini dapat lekas dikoreksi pada cetakan berikutnya oleh pihak penerbit, demi menghindari kesalahpahaman ihwal pernik Bahasa Indonesia di masa mendatang. Terlepas daripada itu, novel inspiratif yang sarat akan pesan-pesan moral dan sosial, wejangan-wejangan tanpa berkesan menggurui ini telah mendekati istilah sempurna, layak dibaca oleh semua kalangan dan usia.

04 April 2013

Sudut Pandang

28 comments :

Masih suka hujan-hujanan? Masih suka bersorak gembira kala menyaksikan awan mendung, lantas berhamburan keluar rumah untuk bermain air bersama sahabat, masing-masing membuat perahu kertas yang akan dipacu di selokan?

Dulu, saya suka hujan. Sekarang, benci. Bukan apa-apa. Saya adalah salah satu dari sekian juta pengendara motor, yang tak mempunyai atap layaknya mobil bila hujan. Kontan, sekalipun sudah berbalut mantel hujan, itu tak menjamin tubuh saya terbebas dari kuyup. Terlebih bila hujan sangat deras. Setiba di rumah, baju yang saya kenakan bisa diperas layaknya cucian, seluruh badan menggigil. Setelah itu, masuk angin, demam, pilek.

Kekecewaan akan hujan berlaku pula bagi pedagang es cendol. Saya bisa merasakan kekecewaan mereka kala menyaksikan pedagang es cendol memarkir gerobaknya dengan gontai, berteduh dan berjongkok lesu meratapi rinai hujan di depan sebuah toko yang rolling door-nya tertutup. 

Kasihan.

Sebaliknya, hujan malah memberi kebahagiaan bagi segelintir orang. Pedagang payung atau jas hujan, misalnya. Mereka memperoleh pendapatan finansial yang melonjak kala musim penghujan tiba. Atau, belasan anak kecil yang menawarkan jasa ojek payung di Terminal Baranang Siang. Atau, pedagang wedang jahe dan bajigur, yang kebanjiran pelanggan karena dagangan mereka sungguh cocok dengan kondisi dingin tatkala hujan. Atau, Pemda dan Dinas PU. Kuduga, setiap hujan mengguyur kota atau daerahnya, mereka bahagia dan berpesta-pora lantaran dalam waktu dekat akan segera mendapatkan proyek baru perbaikan jalan raya yang rusak akibat terkikis oleh derasnya hujan yang turun seenaknya. Mungkin.

Selain itu, bagi penduduk luar Jawa yang jangka waktu kemaraunya lebih panjang, hujan merupakan sesuatu yang amat dinanti-nanti seperti seorang Ibu yang tengah menanti kelahiran buah hatinya.

Meresapi hal-hal di atas, saya termenung. Dalam hidupnya, manusia dihadapkan pada beberapa pilihan. Pilihan itu yang pada akhirnya akan melahirkan beragam sudut pandang. Ada yang suka hujan, ada yang benci hujan. Ada yang terpaksa bekerja keras di kala hujan, demi tuntutan urgent work order. Ada pula yang bermalas-malasan ketika hujan, di tengah keputusasaan pedagang es cendol yang berjalan pulang mendorong gerobaknya, karena dagangannya tak mungkin dijajakan dalam cuaca dingin.


Saya rasa, tak masalah apabila setiap manusia berseberangan pendapat, beradu argumen, lantaran itu merupakan hakikat manusia yang beradab. Tanpa adanya perbedaan, sudut pandang atau apa pun, manusia takkan pernah berkembang. Tetap hidup. Namun, sebenarnya mati suri.

Ibarat perangkat lunak, mungkin manusia harus menyempatkan diri untuk meng-upgrade firmware-nya dengan versi paling mutakhir secara berkala, supaya tak mengundang bugs terhadap Operating System yang diterapkan pada perangkatnya.

Dan, tentu saja solusinya hanya dua. Menghormati perbedaan. Menghargai sudut pandang.