04 April 2013

Sudut Pandang

28 comments :

Masih suka hujan-hujanan? Masih suka bersorak gembira kala menyaksikan awan mendung, lantas berhamburan keluar rumah untuk bermain air bersama sahabat, masing-masing membuat perahu kertas yang akan dipacu di selokan?

Dulu, saya suka hujan. Sekarang, benci. Bukan apa-apa. Saya adalah salah satu dari sekian juta pengendara motor, yang tak mempunyai atap layaknya mobil bila hujan. Kontan, sekalipun sudah berbalut mantel hujan, itu tak menjamin tubuh saya terbebas dari kuyup. Terlebih bila hujan sangat deras. Setiba di rumah, baju yang saya kenakan bisa diperas layaknya cucian, seluruh badan menggigil. Setelah itu, masuk angin, demam, pilek.

Kekecewaan akan hujan berlaku pula bagi pedagang es cendol. Saya bisa merasakan kekecewaan mereka kala menyaksikan pedagang es cendol memarkir gerobaknya dengan gontai, berteduh dan berjongkok lesu meratapi rinai hujan di depan sebuah toko yang rolling door-nya tertutup. 

Kasihan.

Sebaliknya, hujan malah memberi kebahagiaan bagi segelintir orang. Pedagang payung atau jas hujan, misalnya. Mereka memperoleh pendapatan finansial yang melonjak kala musim penghujan tiba. Atau, belasan anak kecil yang menawarkan jasa ojek payung di Terminal Baranang Siang. Atau, pedagang wedang jahe dan bajigur, yang kebanjiran pelanggan karena dagangan mereka sungguh cocok dengan kondisi dingin tatkala hujan. Atau, Pemda dan Dinas PU. Kuduga, setiap hujan mengguyur kota atau daerahnya, mereka bahagia dan berpesta-pora lantaran dalam waktu dekat akan segera mendapatkan proyek baru perbaikan jalan raya yang rusak akibat terkikis oleh derasnya hujan yang turun seenaknya. Mungkin.

Selain itu, bagi penduduk luar Jawa yang jangka waktu kemaraunya lebih panjang, hujan merupakan sesuatu yang amat dinanti-nanti seperti seorang Ibu yang tengah menanti kelahiran buah hatinya.

Meresapi hal-hal di atas, saya termenung. Dalam hidupnya, manusia dihadapkan pada beberapa pilihan. Pilihan itu yang pada akhirnya akan melahirkan beragam sudut pandang. Ada yang suka hujan, ada yang benci hujan. Ada yang terpaksa bekerja keras di kala hujan, demi tuntutan urgent work order. Ada pula yang bermalas-malasan ketika hujan, di tengah keputusasaan pedagang es cendol yang berjalan pulang mendorong gerobaknya, karena dagangannya tak mungkin dijajakan dalam cuaca dingin.


Saya rasa, tak masalah apabila setiap manusia berseberangan pendapat, beradu argumen, lantaran itu merupakan hakikat manusia yang beradab. Tanpa adanya perbedaan, sudut pandang atau apa pun, manusia takkan pernah berkembang. Tetap hidup. Namun, sebenarnya mati suri.

Ibarat perangkat lunak, mungkin manusia harus menyempatkan diri untuk meng-upgrade firmware-nya dengan versi paling mutakhir secara berkala, supaya tak mengundang bugs terhadap Operating System yang diterapkan pada perangkatnya.

Dan, tentu saja solusinya hanya dua. Menghormati perbedaan. Menghargai sudut pandang.

28 comments :

  1. beuuh aya urang bogor wkwkw..
    ya mau gimana-gimana juga hujan pemberian Allah.. ditarima bae lah :D
    keujanan ya resiko coba mun punya mobil moal keujanan xixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi betul betul, jadi malu :thumbup
      hatur nuhun kang, sudah berkenan mampir :)
      salam!

      Delete
    2. saya juga dulu th 2008-2011 di bogor tapi setelah nikah dan istri hamil saya mudik ke cirebon :) salam kenal lur..

      Delete
    3. ohh.. gitu.. kapan-kapan mampir sini atuh, kang :thumbup
      salam kenal juga buat keluarga di cirebon, kang papz :)

      Delete
  2. Setuju banget! *duh ini komen eike gak oke banget sih*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hey una.. akhirnya ketemu juga di sini :D

      Delete
    2. Hihihi iya, di tempat Mbak Ely aku udah kabur duluan euy. :D

      Delete
    3. jiah, iya.. next time gabung lagi, kan? :D

      Delete
  3. ya semuanya tergantung bagaimana sudut pandang kita, terima kasih artikelnya bagus :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh, ada kang chandra :)
      hehe, iya, perbedaan itu sesuatu yang mudah diucapkan, sulit untuk dilakukan :mewek
      trims udah mampir kang :)

      Delete
  4. hujan pembawa berkah ya Cepy :)

    oh ya, Untje = Una , yg kmrn sempat kamu sapa di Cafe Single tapi dia sdh kabur :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe, iya, tapi jangan sering-sering deh.. keujanan mulu nih kalo naek motor.. risiko :capedeh
      sipp.. udah kenalan kok :D

      Delete
  5. wadeww .. si Cepy msh sibuk nih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah, engga. biasa lah, lagi masak mie instan :D

      Delete
    2. mie instan mah bukan masak bro, cuma memanaskan saja hihihi *dilemparklepon*

      Delete
  6. hujan kalo ada petirnya aku jadi libur siaran hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah.. gak jadi kejar setoran dong, han.. :ngakak
      hey honeylizious, thanks udah mampir ke sini :D

      Delete
  7. beli dong jas ujan yang mahalan dikit biar gak tumpeh tumpeh airnya. haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. buat beli indomie goreng aja gue mesti nnyari recehan, bay.. :nohope

      Delete
  8. sebagai orang yg suka dibonceng, saya lebih setuju pas hujan berteduh dan ditraktir makanan hangat =9
    hahahahaha pfffttt

    ReplyDelete
  9. Saya suka hujan, tapi kalau terlalu deras takut juga... kasihan daerah2 yg kebanjiran...

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama mbak zizy.. di bogor malah petirnya yang bikin senewen :nohope

      Delete
  10. Saya juga kadang tidak suka hujan, namun kadang kala saya merindukan hujan...

    jadi hujan ga hujan kudu dinikmati sembari bersykur... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hmm, itu udah pasti. harus bersyukur, wan :)

      Delete
  11. saya juga suka hujan... kalo lagi tidur di rumah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. walaahh.. kalo gitu mah suka ane juga, Za.... :capedeh

      Delete