29 May 2013

Jadi Kelinci Percobaan Itu Enak

22 comments :
Tadi pagi, sebangun tidur, langsung becermin. Melihat muka, rasanya pengin nyuruh Mbok setrika buat nyetrika muka saya. Sumpah, kusut banget. Kantung mata hitam, mata sayu, penampakan jerawat, brewok mulai tumbuh liar di sekitar pelipis. Apa baru nyadar aja, ya?

Beberapa hari lagi, semester empat usai. Barangkali, teman-teman sekalian heran, kenapa saya yang notabene mahasiswa masih menjalani kuliah seperti halnya proses belajar di SMA? Setiap hari kerjaannya, belajar dan belajar, tugas dan tugas. Tidak ada kegiatan semacam seminar-seminar, mampir ke perpustakaan kampus, atau riset ilmiah seperti teman saya di Bandung yang bikin saya ngiler. Padahal mindset saya dulu, kerjaannya mahasiswa itu turun ke jalan buat menuntut kebijakan pemerintah yang cemen, dan menjunjung reformasi lagi kayak 15 tahun silam. Revolusi bahkan.

Beberapa organisasi kampus sudah dibentuk, namun belum berfungsi sama sekali. Alasannya? Belum punya bangunan kampus sendiri, sehingga tidak leluasa untuk melakukan kegiatan. Ke dua, jumlah mahasiswanya masih sedikit. Alasan utama, pihak kampus belum menandatangani kesepakatan dengan kami. Miris.

Memang, kampus saya, yang kebetulan almamaternya masih embrio, sedang dan masih mencari-cari formula yang tepat untuk menggodok mahasiswanya. Saya rasakan begitu, saya merasakan perbedaan metode kuliah setiap semester demi semester. Semester satu: mata kuliah dari berbagai disiplin ilmu keteknikan disodorkan dan disuapkan dengan frontal, sampai-sampai saya mual-mual dalam mencernanya. Tapi, hingga semester empat saat ini, lumayan ada perbaikan di sana-sini, terutama pada aspek kurikulum, sehingga saya tidak perlu mengkonsumsi antimo setiap semesternya.

Sekarang ini, saya tak lebih dari kelinci percobaan pihak kampus. Tak apalah, segala hal memang ada risikonya, kan? Yang penting biaya akademik full gratis sampai wisuda kelak. Enak? Ah, enakan juga Pia Apple Pie.
Sabtu malam kemarin, ada yang nonton Advertorial di Metro TV tentang STMSI? Pada acara itu dipaparkan bahwa Semen Indonesia (reinkarnasi Semen Gresik) membuka perguruan tinggi baru di Jakarta sana. Disiplin ilmunya Manajemen, sudah terakreditasi dan punya akta pendirian.

Heran, mengapa Semen Indonesia begitu mudah dalam memperoleh akreditasi kampusnya, sedangkan nasib kami yang di sini masih kalang kabut. Ups, bukan urusan saya juga, sih, itu urusan pejabat Dikti.

STMSI bakal jadi saingan kampus saya?

Bukan sepertinya, melainkan saling melengkapi. ST Manajemen tentunya amat berbeda dengan ST Teknologi seperti kampus saya. Misalnya apa? Ya betul. Mahasiswa ST Manajemen banyak yang cantik-cantik.

15 May 2013

Tidak Tahu Apa-apa

10 comments :
Baiklah, malam ini, saya terpaksa nyampah curhatan lagi di sini. Ngomong-ngomong tentang kebiasaan atau tingkah polah, saya termasuk orang yang akan menjawab tidak tahu bila ditanya perihal sesuatu yang tidak saya ketahui. Bukan apa-apa. Daripada saya menyesatkan orang yang bertanya, lebih baik saya terlihat polos, atau bahkan terkesan tolol di hadapan mereka.

Mungkin ini terlihat seperti cari aman. Atau, terdengar klise. Atau, bahkan saya seperti pecundang. Tapi, itulah prinsip. Kita memiliki hak untuk berprinsip. Ya, dirimu, kamu, dan anda juga. Walaupun memang, seusai ditanya ihwal yang tidak saya ketahui, saya sesegera mungkin akan mencari tahu hal-hal yang ditanyakan tersebut dengan berbagai cara, sampai pada hal paling remeh sekalipun.

Ya, sampai hal paling remeh. Dulu, saya pernah dikatai sebagai orang yang kerap menyoalkan hal remeh temeh alias tidak penting itu. Reaksi saya? Tidak pernah saya timpali, tidak pernah saya sanggah. Nyengir saja. Lantaran, memang betul, kadang-kadang atau malah sering kali sesuatu yang teramat penting yang terabaikan oleh saya.

Misalnya, saat melihat sebuah kedai bakmi baru di sudut jalan raya. Kebanyakan orang mungkin akan menanyakan apakah rasanya enak atau biasa saja, murah atau mahal, bersih atau jorok, pelayanannya ramah atau judes.

Dalam keadaan waras, saya tidak akan bertanya semua hal di atas. Bila memang penasaran, saya akan mengunjungi kedai itu secara langsung. Lantas, biasanya mata saya jelalatan melirik interior kedai, menelisik meja makannya, mangkok, sendok & garpu, hingga memandangi penampilan dan mimik muka para pelayan kedai dalam melayani setiap pelanggannya.

Dan, saya pun lebih suka bercakap-cakap dengan pedagang atau pelayannya tentang masalah cuaca, bola, politik, hingga bertanya asal-usul daerahnya, ketimbang menanyakan kepada mereka mengapa bakmi ini begitu menggoyang lidah saking lezatnya, apa visi misi kedai mereka sehingga memutuskan untuk membuka cabangnya di sudut jalan raya ini, atau apa saja rahasia sukses manajemen kedai sehingga bisa membuka cabang di berbagai kota.

Lantaran, urusan lidah dan perut mah, kembali ke selera masing-masing.

Sekian curhatan malam ini. Selamat menyongsong UAS, kawan!

04 May 2013

Rumitnya Napak Tilas Cinta: Ulasan Novel The Zahir

8 comments :

Judul : The Zahir
Penulis : Paulo Coelho
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (2006), edisi Bahasa Indonesia
Jumlah halaman : 440

Paulo Coelho? Sudah sering saya temukan nama pengarang asal Amerika Latin itu di rak-rak novel terjemahan di toko buku, tetapi baru kali ini saya berani menyentuh salah satu karyanya: The Zahir. Seusai membaca, saya memutuskan untuk menambahkan Paulo Coelho ke deretan pengarang yang seluruh karyanya wajib dikoleksi.

Sejak awal cerita, konflik langsung mengemuka. Si penutur Aku yang mempunyai istri bernama Esther, kerap terlibat perdebatan dan pertengkaran: bercerai, rujuk lagi, bercerai lagi, hingga Esther menemukan acomodador; memutuskan untuk meninggalkan suaminya dengan dalih menunaikan tugas sebagai wartawan perang di Afganistan.

Selama hidup tanpa Esther, ada Marie―aktris film―yang menemaninya. Namun, tetap saja, bukan Marie atau wanita di bar atau wanita penggoda lain yang merupakan Zahir baginya selain Esther.

Napak tilas cinta. Begitu saya simpulkan misi utama The Zahir. Sesuai judulnya, Zahir―yang menurut penggalan cerpen Borgez yaitu sesuatu yang memenuhi pikiran kita hingga kita tak diberi kesempatan memikirkan hal lain―tokoh Aku napak tilas, mengikuti jejak istrinya selama ini. Tibalah ia di Prancis, restoran Armenia, menemukan Mikhail dengan perkumpulan sektenya. Begitulah hari-hari berikutnya, sang suami mencari-cari Zahir melalui mulut-mulut anggota sekte restoran Armenia yang setiap Kamis malam saling bercerita masa lalu, hingga dua tahun berlalu.

Berkat Mikhail pula, setelah dua tahun, tokoh Aku bertekad untuk menyongsong istrinya. Keberadaan Esther bukanlah di Afganistan sebagai wartawan perang, melainkan di Kazakhstan, negara terbelakang pecahan Soviet yang tingkat radioaktivitasnya teramat tinggi akibat pengembangan teknologi nuklir.

Entah suatu kesengajaan, tokoh Aku begitu mirip dengan sang pengarang sendiri: berprofesi sebagai penulis yang karya-karyanya selalu masuk kategori bestseller, sehingga secara tersirat melimpah ruah rangkaian kalimat tentang bagaimana keseharian hidup seorang pengarang terkenal, problematika menghadapi pembaca, wartawan, hingga menanggapi kritikus sastra dengan santai dalam novel ini.

Dari situ, saya bisa memetik banyak sekali wawasan kepengarangan: “Sebagian besar penulis lebih mementingkan gaya daripada isi; mereka berusaha tampil orisinal tapi malah jadi menjemukan…” (hal. 51).

Atau “…semua yang tertulis di bukuku adalah bagian dari jiwaku…” (hal. 166).

Hingga, cara si tokoh menghadapi kritikus sastra: “…aku dicintai para pembacaku dan dibenci kritikus (yang memujaku sampai aku menjual 100.000 buku, tapi sejak saat itu aku bukan lagi ‘jenius yang disalahpahami’)…” (hal. 56)

Pada akhirnya, novel ini menyuguhkan penelusuran cinta yang rumit dan panjang, namun tetap bisa diramu dengan manis sehingga enak dibaca. Hanya saja, untaian dialog panjang-panjang yang banyak bertebaran dalam Zahir ini begitu membuat pikiran lekas penat untuk membaca secara cepat; butuh beberapa kali menarik napas, berpikir resap-resap, kemudian barulah paham makna serta pesan moral yang ternyata begitu dalam. []