23 June 2013

Ngidam Prosumer

19 comments :
Pekan kemarin, melihat teman-teman kuliah pakai kamera DSLR. Macam-macam hasil potretannya: tentu saja, sebagian besar berupa objek manusia yang dengan pose berkacak pinggang sambil salah satu kakinya ditekuk itu lho, hehehe.

Setelah dipikir-pikir lagi, saya sangat menyayangkan. Memang, DSLR-nya baru sekelas entry level, yakni Nikon D3100. Tapi, bukankah DSLR memiliki kemampuan sekadar jeprat-jepret? Sayang sekali kalau tidak dioptimalkan.

Kalau menoleh ke belakang, jarang banget orang yang punya kamera, apalagi yang punya SLR (sebelum maraknya era Digital). Hanya kalangan terbatas seperti jurnalis atau fotografer pro yang menekuni bidang tersebut. Saat ini jauh berbeda. Komunitas fotografi, yang memudahkan untuk saling belajar dan bertukar ilmu memotret sudah bertebaran di daerah-daerah, serta senantiasa terhubung di media online di samping mereka pun rutin mengadakan kopi darat secara offline. Bahkan, sekarang anak kecil pun sudah menenteng, mengalungkan kamera ke mana-mana.

Kenapa, ya? Pasti ada konspirasi yahudi atau illuminati, nih.
Tidak bisa dimungkiri, era social media turut memengaruhi ranah fotografi. Social media saat ini yang memungkinkan setiap orang untuk berbagi momen kebahagiaan bersama keluarga, kekasih, atau bahkan hanya dia sendiri alias narsis dengan sekali sentuhan. Edit-edit sedikit dengan instagram. Klik! Bingo, momen tak terlupakan kita langsung tersebar secara instan ke awan.

Selain itu, harga kamera saat ini jauh lebih terjangkau ketimbang dulu. Ya, bagi orang lain. Bagi saya tetap berat, eh.

Eh, Malah Jadi Ngidam Prosumer

Pertamanya, sih pas lihat Mas MT, yang sering nenteng kameranya ke #kelasanggit. Penasaran, dengan polos saya tanya, itu DSLR, bukan? Doi senyum, "Bukan, ini prosumer. Tapi hasilnya lumayan, kok. Kalo jeli makenya," tuturnya.

Saat itu belum tertarik dengan kamera semi pro itu. Tapi, barusan, menarilah jemari ini buat cari info harga kamera prosumer. Kebetulan kamera Mas MT mereknya Canon. Entah tipe apa, powershot yang berapa saya kurang tahu. Tapi, di situs tempat saya cari-cari harga itu, ada yang most viewed, yaitu Fujifilm Finepix S2980. Tak menunggu lama, saya klik deh produk yang paling banyak dilihat tersebut.

Ungkapan bernada positif banyak bertebaran di kolom testimoni. Intinya, para pengguna Fujifilm Finepix S2980 cukup puas dengan kinerjanya. Bahkan ada yang mengatakan, mereka merasa lega lantaran kameranya cukup mewakili beberapa fitur DSLR (tak banyak tentunya), serta bisa digunakan dan digenggam dengan mudah oleh anaknya yang masih 6,5 tahun.

Kelegaan itu berdasar dari keprihatinannya kala menyaksikan anak sepantaran SD yang menenteng Canon 600D di mal. Mubazir, ungkapnya.
Makin menggebu, deh. Cari lagi review situs lain serta mencari hasil-hasil jepretan Fujifilm Finepix S2980. Setelah ditelusuri, ternyata banyak juga pengguna kamera prosumer Fujifilm Finepix S2980. Di kaskus pun ada forumnya, dan ada pula blog yang menampilkan hasil jepretan kamera prosumer di bawah 2 juta itu, yang ternyata not bad. Boleh dilihat di sini, di sini, atau di sini.

Dan, menurut saya kamera itu cocok dengan kebutuhan saya yang suka iseng memotret ala kadarnya. Bukan setingkat pro, yang hidupnya berpenghasilan dari memotret yang mengharuskan untuk punya beberapa camera kit serta seabreg tipe lensa berharga selangit. Saya cuma anak muda yang tertarik memotret objek-objek yang juga tak muluk-muluk, misalnya orang-orang di pinggir jalan, awan, rumput, binatang yang mudah ditemui (bukan kecoa atau belatung juga tapi), atau menu makanan dan secangkir kopi.

Sabar, ya Fujifilm Finepix S2980. Tunggu tabungan penuh dulu, deh. Tabungan di septic tank.

13 June 2013

Rezeki Dipatok Ayam - Beraktivitas pada Pagi Hari

11 comments :
Apa bedanya sih, antara beraktivitas pada pagi hari dan sore atau malam hari?
Hmm, sebetulnya sama saja. Sama-sama mesti pake niat buat melakoninya. Bahkan, mungkin ada sebagian orang yang mempunyai mood untuk bekerja bukan pada pagi hari. Semangat dan inspirasi mereka bertebaran kala tengah malam atau pun dini hari. Pagi hari? Katanya, bawaannya mengantuk, pengin mencumbu lagi kasur sampai sore, atau besok paginya lagi.

Saya pun begitu, walau tidak sepenuhnya bisa seperti itu. Sesekali, memang, menurut saya malam hari merupakan saat yang paling tepat untuk berkontemplasi, mengkalibrasi pikiran dan hati, hingga esoknya siap untuk kembali beroperasi. Inspirasi-inspirasi pun berjatuhan begitu saja, tinggal pandai-pandai kita menadahnya.

Sayangnya, dua pekan ini, hingga awal bulan depan, saya terpaksa beraktivitas pagi hari. Kegiatan bergadang (baca: bergalau) kontan merosot drastis sebab mata terlalu lelah untuk menatap layar komputer seperti biasanya hingga pukul dua pagi. Sampai-sampai blog ini pun tak sempat saya keloni (alasan doang sih).

Antara keduanya, terdapat sisi enak dan tidaknya. Namun saya merasa terpanggil untuk mengatakan bahwa beraktivitas pada pagi hari itu enak. Mengapa?

Pertama, beraktivitas pada pagi hari itu sehat. Oh, ya? Sebab, kita seolah dipaksa untuk mandi pagi, yang disinyalir bisa meluruhkan kuman serta bakteri jauh lebih efektif ketimbang siang hari. Lalu, kita pun beruntung dapat menghirup udara pagi yang masih suci, polusi yang tersaput belum sebegitu pekat. Eh, tergantung lokasi juga. Kalau di Jakarta, mungkin ceritanya lain, hehehe.

Kemudian, kantung mata perlahan lenyap. Entah, mentang-mentang warna hitam mendominasi malam pekat, sampai-sampai kantung mata pun ikut-ikutan menghitam seperti dipoles maskara ketika sering bergadang. Setelah dua pekan ini beraktivitas di pagi hari, noda hitam di kantung mata memudar dan mengendur. Syukurlah, saya bukan penggemar presiden SBY, kok.

Bangunlah di pagi hari, supaya rezekimu tidak dipatok ayam.
Pernyataan retoris di atas sepertinya kurang relevan bila dikaitkan dengan kondisi sekarang. Tapi, bolehlah jika menggunakan sudut pandang lain. Rezeki itu bermakna luas, tak hanya sebatas materi, bukan? Bisa saja berupa nasi goreng yang dimasak ibu kita, suguhan acara-acara pagi di televisi yang menularkan semangat pagi, bahkan udara segar pagi hari yang gratis pun termasuk rezeki yang mungkin bagi segelintir orang tak ternilai harganya.

Yang senantiasa saya rindukan hingga sekarang, saya selalu suka ketika menghirup hawa pagi yang masih berselimut kabut, menghidu aroma tanah selepas guyuran hujan semalam, dan awan-awan di balik matahari yang bergumpalan seperti tengah melakukan briefing semesta sebelum silih berpencaran ke delapan penjuru mata angin.