31 July 2013

Dokter Tua

12 comments :
Menurut saya, ada sebuah kekeliruan perihal anggapan bahwa, hidup itu harus merangkak ke arah lebih baik. Lebih tajir. Lebih glamor. Lebih segala-galanya.

Di sebuah persimpangan, berdiri sebuah rumah tua. Mungkin sudah puluhan tahun dia lelah berdiri. Hanya ditambal dempul sana-sini. Dan polesan cat putih pucat.

Setiap sore, dan sebentar pada pagi hari, dua orang dokter membuka tempat praktik di situ. Dokter gigi. Dan dokter umum. Usia keduanya saya kira sudah tidak bisa dibilang belia. Bila mengamati beberapa keriput di wajah serta gaya bicaranya, mungkin angka 50 telah lewat empat-lima tahun lalu.

Ada yang menarik. Di kala pelbagai klinik 24 jam yang dipraktiki dokter-dokter muda nan tampan dan cantik bagai artis korea, begitu menjamuri kota hingga pelosok, ternyata masih ada tempat praktik semacam itu. Tempat yang bersahaja (baca: bobrok). Saking tuanya, saya pikir dinas tata kota sudah gatal mengerahkan mobil beko guna meratakan tempat itu untuk menjualnya ke pengusaha mini market.

Aneh, tuanya usia tempat praktik maupun usia dokter, tidak membuatnya kalah pamor dibanding klinik 24 jam. Setiap sore, terkadang pagi hari pun, pasien-pasien masih saja menyesaki tempat tua itu, mengantre nomor panggilan dokter gigi atau dokter umum.

Justru sebaliknya. Klinik-klinik baru yang punya segudang rekanan perusahaan asuransi yang terpampang jelas dalam reklame besar, biasa-biasa saja di mata konsumen. Paling tidak di mata saya pribadi. Teman saya bilang, daripada berobat ke situ, mending manggil tukang urut. Dalihnya, dia punya pengalaman tidak mengenakkan dengan klinik itu. Jelas-jelas dia alergi antibiotik, malah dikasih dokter tanpa keterangan. Dosis obatnya terlalu tinggi baginya. Ongkos periksanya pun.

Kalau sudah begitu, masak iya sembuh dengan sekadar memelototi bangunan klinik yang bagus dan modern itu.
Perkembangan pemasaran yang bergerak lesat, tidak dibarengi dengan kualitas. Bagaimanapun, hidup lebih baik, lebih tajir, lebih mewah, lebih glamor kurang tepat. Jangan sampai terlena oleh strategi pemasaran, kelimpahan koneksi, marketing yang sudah multilevel. Sudah saatnya kembali bergelut dengan kualitas. Dan kepercayaan nyata.

20 July 2013

Nostalgia: Novel Anak Kelompok 2&1, Anggitan Dwianto Setyawan

6 comments :

Suka membaca cerita anak? Sekarang saya merindukan membaca novel anak-anak ini di kamar di Bandung sana, sambil beberapa kali ditegur Mamah lantaran seharian itu kerjaan saya cuma membaca doang, malas disuruh ngapa-ngapain, hahaha. Entah deh nasib buku dan majalah anak-anak―beberapa di antaranya tentang Kelompok 2 dan 1―yang dulu menumpuk di rumah kabarnya sudah lama dijual dengan harga sukarela. Dikiloin. Untungnya Lima Sekawan-nya Enid Blyton masih tersimpan dengan rapi, urung dikiloin.

Yan, Ira, dan Dede. Mereka membuat novel anggitan Dwianto Setyawan sangat hidup. Bisa dibilang, saya yang sudah segede jebrog sekarang pun sedikit terpengaruh oleh karakter ketiga tokoh ini. Tokoh Yan yang cerdik, brilian―sesuai namanya―namun sering kali plin-plan. Ira, adik kandung Yan sekaligus tokoh perempuan dalam Kelompok 2 dan 1 ini teliti dalam menelaah kasus, tapi mudah terpengaruh orang lain. Lain lagi dengan Dede. Tokoh anak laki-laki berkacamata―yang juga anak orang berada―ini mudah tersulut amarah, suka bertindak serampangan, dan kerap kali menghambat proses pengungkapan kasus kriminal yang tengah mereka hadapi.

Tapi berkat kelebihan-kekurangan ketiganyalah, anggota Kelompok 2 dan 1 tidak bisa bertindak sendiri-sendiri. Mereka selalu berpikir dan melakukan analisis bersama-sama, dengan diwarnai konflik-konflik sebagai bumbu yang renyah untuk tetap dibaca oleh anak-anak.

Detektif Cilik

Ya, sebutlah Kelompok 2 dan 1 sebagai trio detektif cilik, yang sering kali membantu Letnan Dipa―polisi Reskrim setempat―mengungkap kasus kriminal seperti pencurian, perampokan, hingga penculikan di sekitar mereka. Sulit diterima secara nalar, karena anak-anak takkan mungkin memiliki analisis sedalam logika Yan, Ira dan Dede. 

Bukan itu, saya rasa, amanat yang Pak Dwianto Setyawan maksudkan. Bukan agar seluruh anak-anak Indonesia jadi polisi. Melainkan supaya anak-anak Indonesia tidak mudah dibohongi, dibodohi orang lain. Atau, supaya keseharian anak-anak Indonesia tidak sekadar bermain dan merengek belaka, melainkan cepat tanggap dan peka terhadap peristiwa sosial di sekitar mereka. Cukup utopia.

Hal yang menarik bagi saya yakni latarnya: antara 80-90an. Saya pun belum lahir. Membaca novel ini seperti menoleh ke masa lampau, apa saja kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak pada masa itu. Sarapan pagi sekeluarga sembari menyimak berita di radio, bermain halma, bersepeda sore-sore, lari pagi setiap Minggu, merupakan kegiatan anak-anak yang sering diceritakan dalam novel ini. Tampaknya, dulu, Sponge Bob Square Pants atau pun Sailormoon enggan kalau ditayangkan di TVRI, hahaha.

Hal menarik lain, ternyata sedari dulu pun orang jahat selalu ada. Atau setidaknya, yang berniat jahat. Saya pikir, saya harus memaklumi keadaan sekarang yang semakin kalut ini. Memindai media online, muncullah berita tawuran, pencurian, penculikan, pencucian uang, perampokan ATM, bentrok antar ormas. Berita korupsi dan prostitusi sudah sangat biasa. Dengan pasrah, saya pun percaya apa yang dikatakan Gede Prama,

Jangan terlalu membenci orang jahat karena, ia ada di semua zaman. Sama dengan dubur yang selalu ada di setiap tubuh manusia.
Saya rasa, pantaslah Kelompok 2 dan 1 atau pun judul cerita anak lain karya Dwianto Setyawan bila disandingkan dengan cerita anak anggitan pengarang luar negeri, semacam Alfred Hitchcock, Enid Blyton, Meg Cabot, hingga James Patterson. Cerita beliau yang membekas hingga saya beranjak dewasa, latar tempat dan waktu yang kuat, serta karakter-karakter tokoh di dalamya yang sangat memengaruhi karakter diri saya pribadi.

Saya percaya ihwal apa yang dikatakan oleh James Patterson, pengarang produktif yang sangat peduli terhadap anak-anak,

Betapa pentingnya membaca kepada siapapun, terutama anak-anak dan remaja. Membaca punya kekuatan mengubah seorang anak menjadi warga negara dan warga dunia yang lebih baik. Dan kualitas hidup seseorang turut ditentukan oleh buku-buku yang mereka baca pada masa kanak-kanak.
Apa kabarnya, Pak Dwianto Setyawan? Semoga Tuhan senantiasa memberkahi anda.

15 July 2013

Makna Pokok Nomor Satu

10 comments :
Ada hal baru yang saya temukan saat membaca cerpen Kereta Tidur, dalam buku kumpulan cerpen Avianti Armand dengan judul sama.

Kereta bergoyang-goyang. Mereka kembali duduk bersisian di bawah pokok sakura―menatap ke atas. Rumpun-rumpun semu merah muda itu seolah meledak, memenuhi cecabang dan ranting-ranting hitam.
Selama ini, dalam benak saya, kata pokok mempunyai makna: yang mendasari sesuatu. Baik itu pikiran, bahasan, inti sari, atau bahkan makanan pokok.

Ternyata di sini lain. Kata pokok diikuti dengan kata sakura. Saya kontan menghubungkan kedua kata itu. Logika saya mengatakan: pokok berarti pohon, lantaran diikuti dengan kata sakura. 

Penasaran makin menggebu, saya buka aplikasi KBBI offline di ponsel, maupun di laptop. Ternyata begini penjelasan kamus:

po·kok n 1 segala tumbuhan yg berbatang keras dan besar; pokok kayu: -- beringin; 2 batang kayu dr pangkal ke atas; pokok kayu: pd -- pohon karet itu terdapat banyak torehan; 3 uang yg dipakai sbg induk dl berniaga; modal: -- perusahaan itu lima juta; 4 harga pembelian: kain ini dijual di bawah harga --; 5 lantaran; sebab: itulah yg menjadi -- perselisihan; 6 asas; dasar; inti sari: -- pikiran; pd -- nya, dasarnya; 7 pusat (yg menjadi titik perhatian dsb); -- pembicaraannya ialah masalah remaja; 8 tergantung; terserah: jadi atau tidak, -- nya kpd tuan; 9 ki yg terutama; yg sangat penting: makanan --; pelaku --; perkara --; soal --; syarat --; -- nya asal menang, yg terutama ialah menang;
Saya merasa baru bangun dari tidur seumur hidup. Saya baru tahu arti pokok yang sebenarnya! Memalukan.

Selama ini, rupanya kata pokok sering kali saya pahami sebagai arti nomor 6. Alih-alih mengetahui bahwa pokok sama dengan pohon berbatang keras. Atau, sebagai uang dan modal dalam berniaga. Bahasa Indonesia macam apa yang saya pelajari waktu sekolah dulu?

Rupanya saya harus banyak-banyak membaca buku dan mengurangi membaca portal berita online.

11 July 2013

Feedly, Pengganti Google Reader yang Mumpuni

8 comments :

Bagi anda pegawai kantoran, di kala senggang, selain mencari makanan atau minuman segar, pasti ingin mencari sesuatu yang segar. Salah satunya dengan berselancar internet dengan komputer atau pun smartphone. Namun, sepertinya sangat tidak efektif bila kita hanya berselancar tak menentu, yang bakal berimbas pada wasting time belaka. Ya, break time pun bisa bermanfaat bila kita mau, jika bukan sekadar memindai linimasa Twitter dan Facebook. Terkecuali kalau memang pekerjaan menuntut anda untuk terhubung tiap saat dengan socmed.


RSS Reader ialah pilihan tepat buat mengumpulkan artikel-artikel terbaru dari situs-situs favorit anda. Seperti koran atau majalah, setiap harinya (bahkan setiap saat) kita bakal dikirim link preview dari situs-situs tersebut. Istilah kerennya, aggregator. Sebetulnya, cukup banyak penyedia aggregator ini, namun mayoritas orang cenderung memilih Google Reader.


Sayangnya, layanan Google Reader ditutup awal Juli kemarin. Alasan pertama, kian hari, pengguna aktifnya kian menurun. Selain itu, kabarnya, tiap tahun Google memang kerap melakukan tradisi "bersih-bersih" layanan yang menurut mereka tidak efektif, atau "tidak menghasilkan". Hehe, apa pun ujung-ujungnya money oriented, ya.

Untungnya ada Feedly, layanan RSS Reader lain yang tidak ikut-ikutan tutup. Dia malah menggantikan total peran Google Reader, bahkan dengan fasilitas yang lebih lengkap serta tampilan simpel yang nyaman dipandang mata dan easy to use. Anda dapat memilih kategori, serta menambahkan konten tersebut untuk berlangganan. Selesai. Tapi, berkecewalah buat anda yang masih ABG, sebab di sini tidak ada kategori "galau", "telat move on" atau "sabtu malam ku sendiri".


Bila tak sabar mencoba layanan ini, silakan meluncur ke cloud.feedly.com. Mau langsung Sign Up? Jika anda sudah mempunyai akun Google, tak usah Sign Up. Klik Login, maka Feedly bakal mengintegrasikan dirinya terhadap akun Google yang kita punyai. Mudah, bukan?


Selain di web, layanan Feedly tersedia pula secara gratis pada perangkat iOS dan Android. Langsung unduh saja. Blackberry? Mungkin belum waktunya, atau tidak ada waktu bagi pengembang buat melansir aplikasi buat Blackberry. Kasihan.

Oh ya, dengan Feedly ini, anda boleh juga, lho berlangganan cepyhr.com, hehehe...

04 July 2013

Podo Wae

22 comments :

Saat mengobrol santai bersama orang-orang proyek, terlontar dua kalimat berima dari mulut mereka seiring derai tawa berhamburan. Saya cuma tersenyum kecut.

Tali rafia tali sepatu. Sama-sama mafia harus bersatu.
Tagline mereka mengejutkan bagi saya, namun biasa-biasa saja, mungkin, apabila pada akhirnya saya menyadari bahwa negeri ini Indonesia, bung! Bukan kasus dengan skala besar di Senayan sana saja yang terhidu KPK saja ternyata, tetapi swasta pun podo wae! Timbul kekhawatiran dalam hati kecil saya, sudah punahkah manusia-manusia yang tidak buta akan harta, jabatan, dan wanita? Atau, saya sendiri pun secara tak langung sudah terdoktrin paham pragmatis ini: "Udah, ambil! Masih kaku aja."

Namun ada mendingnya. Proyek swasta sekadar mencemari kepercayaan project owner dan mengorbankan peluh dan otot kuli-kulinya. Sedangkan proyek pemerintah telah menodai kepercayaan rakyat, menghamburkan uang rakyat, makan dan minum dari air mata rakyat yang menangis kelaparan.
Uh, miris bila menghadapi fakta kongkalikong yang begitu mencolok mata, serta kemalangan orang-orang kecil yang terpaksa bekerja kasar demi menjaga dapur tetap mengepul.


Selamat datang Selasa depan. Selamat datang bulan suci Ramadan. Selamat datang otak kanan yang penuh kreativitas dan imajinasi, yang mulai pekan depan bakal bekerja lebih giat. Selamat datang tubuh yang ideal! (selamat datang yang ini bak mimpi di siang bolong).