31 August 2013

Mitos-Mitos Orang Indonesia

12 comments :
Tanpa disadari, sedari dulu benak saya sudah disumpali oleh berbagai mitos yang datang dari orang-orang sekitar, maupun dari media semacam televisi. Saat masih bocah, misalnya, saya sering diperingatkan untuk tidak boleh menunjuk (tentunya dengan telunjuk) kuburan. Setelah dipikir-pikir, pantas saja tempat yang namanya kuburan itu sering kali sepi dan mencekam. Apabila ada orang yang mau ziarah dari luar daerah, kemudian bertanya kepada masyarakat setempat, nggak ada yang mau nunjukkin. Takut pamali.

Selain mitos berbau supranatural yang memang sudah mentradisi dalam benak orang Indonesia termasuk saya, ada mitos-mitos lain yang bikin saya geli. Semua mesin pompa air disebut Sanyo. Semua mie instan disebut Indomie. Semua pelantang suara buat demonstrasi disebut TOA. Hingga mitos bahwa hidup pada era orde baru jauh lebih sejahtera dibanding masa sekarang.

Yang paling absurd, betapa motor bermerek Honda sudah otomatis dilabeli orang Indonesia dengan jaminan mesin yang bandel, bahan bakar irit, serta tingginya harga jual kembali. Saya pernah iseng bertanya kepada orang-orang tua, mengapa mereka lebih memilih motor honda, sekalipun motor merek lain bisa jadi mempunyai spesifikasi jauh lebih baik dengan harga lebih rasional. Katanya, mereka sudah terbiasa dengan brand Honda sejak zaman orangtua mereka, lantaran Hondalah merek motor pertama yang merambah Indonesia. Lebih tepatnya, merek motor yang akrab dengan kocek dan logika orang Indonesia, ya Honda. Honda terkenal irit, mesin bandel dan tetap halus, kendati sudah digeber bertahun-tahun. Itu kata mereka, yang rata-rata kelahiran 60an ke bawah.

Kemudian saya tanya mas-mas yang saya duga belum genap berusia 30. Kenapa sampai sekarang Honda masih saja merajai pemasaran sepeda motor.

“Wah, Honda itu mesinnya bandel, to, Mas. Dari zaman bapak saya, makenya ya motor Honda. Nggak pernah mau pake merek lain.”

“Lah, tahu dari mana mesin Honda bandel. Sering otak-atik mesin?”

“Ya, nggak lah, Dek. Saya mana sempat bongkar-bongkar mesin. Seharian di kantor, Sabtu-Minggu ngajak maen anak istri ke mal. Cuma make doang.”

“Mas paranormal, ya? Kok bisa nyimpulin mesin Honda bandel.”

“Haha, Adek bisa aja. Gini, loh. Lihat aja di jalanan. Masih sering lihat Astrea Grand, Astrea Prima? Atau bahkan CB atau bebek tujuh puluh? Itu loh, motor yang dipake di film Tarix Jabrix, sama bebek kurus yang warnanya merah.”

“Hmm, bener, Mas. Sekilas saya suka melihat mereka melintas, sih. Tapi masak cuma gara-gara sering lihat, Mas bisa nyimpulin kalo mesin Honda bandel dibandingin sama merek lain.”

“Nah, itu nunjukkin kalo mesin Honda bandel! Buktinya, dari dulu ampe sekarang, motor itu masih bisa dikendarai, kan, walau udah berumur?”

“Ah, jangan-jangan itu bukan mesin asli bawannya. Itu hasil overhaul, Mas.”

“Pernah lihat Yamaha jadul, nggak? Crypton, misalnya? RX-King sih pengecualian, karena banyak yang hobi, to. Atau Kawasaki, Suzuki berkeliaran di jalan? Jarang, kan?”

“Lah, mau sering lihat bagaimana. Wong orang-orang zaman dulu tahunya motor itu ya Honda. Ya pasti 90% orang Indonesia pada beli motor merek Honda!”

Mas-mas itu terdiam sejenak. “Wah, bener juga kamu, ya. Kok, saya jadi bingung. Hmm, gini, loh. Mesin Honda itu gampang diservis sama bengkel, sekalipun bengkel pinggir jalan yang bentuknya bedeng itu. Terus, onderdil Honda itu mudah didapat. Ada yang ampe KW3 malahan. Jadinya murah. Hemat.”

“Itu juga sama. Montir-montir udah telanjur familiar sama mesin Honda, lantaran hampir semua yang mampir servis atau kebetulan mogok, pada pake merek itu. Itu mah montirnya aja yang males belajar mesin merek lain. Lagian, saya kasian sama motor saya kalo dia dikasih suku cadang KW3.”

Lagi-lagi dia tercenung. Tapi rupanya dia malu mengakui kekalahan adu mulut dengan saya yang anak ingusan ini. “Harga jual motor Honda itu nggak jatuh kayak yang lain, Dek. Makanya pada beli motor Honda, supaya nggak rugi.”

“Saya cuma mau beli motor, Mas. Nggak niat buat jual motor.”

“Loh, siapa tahu sampeyan suatu waktu butuh duit, to? Bisa, kan jual motor, tanpa ngalamin rugi yang gede-gede amat. Dek, hidup itu nggak sepenuhnya mulus. Sampeyan mesti nyiapin investasi berbentuk barang buat masa depan, yang bisa dijual kalo kita butuh. Kalo kita kepepet.”

“Ya, ya. Saya nyerah. Ya udah. Saya jadi beli motor dagangan sampeyan, deh Mas. Saya langsung pake, ya. Nggak boleh nyanggah pernyataan orang yang lebih tua, kan? Pamali.”

Masih banyak mitos-mitos lain yang sebenarnya tidak punya bukti otentik. Bahwa kualitas mobil buatan Korea jauh lebih buruk ketimbang buatan Jepang, si jawara otomotif di negeri kita itu, sekalipun harga mobil Jepang lumayan overpriced dengan desain yang sebetulnya monoton. Bahwa onderdil otomotif pabrikan Eropa dan Amerika susah didapat, bila didapat pun mahal, ketimbang pabrikan Jepang. Padahal, banyak sekali onderdil otomotif pabrikan Jepang yang jelas-jelas KW3, bahkan ada yang dijual dengan harga orisinal, padahal palsu.

Bahwa profesi sebagai tentara, polisi, PNS, dokter, birokrat, pegawai kantoran dianggap beberapa derajat lebih tinggi tinimbang profesi pengusaha yang jelas-jelas membuka lapangan kerja bagi ribuan penduduk, atau insinyur, desainer, seniman. Bahwa mitos orde baru yang jauh lebih nyaman, aman, tenteram, sejahtera ketimbang masa kini, direpresentasikan dengan stiker-stiker yang biasa ditempel di angkot-angkot atau baliho caleg tengil: “Piye kabare? Enakan jamanku, to?”.

Padahal kini Indonesia mulai merangkak. Mungkin tidak lama lagi bakal “injak bumi”. Siapa tahu saat orde baru, Indonesia memang sudah bisa berjalan dan berlari. Sayang, bisa berjalan dan berlarinya itu lantaran dipapah terus-terusan sama orang asing. Jadinya Indonesia keenakan dan manja. Giliran dilepas papahannya, jatuh tertelungkup, deh.

Saya kerap kali telanjur memercayai suatu perkara, tanpa mencari tahu lebih dahulu muasalnya. Sekadar bukti tradisi, bukti kuantitas, bukti opini belaka yang amat relatif, hingga bukti-bukti yang sesungguhnya telah dimanipulasi pihak-pihak yang berkepentingan. Tanpa pernah orang-orang menelisik lebih dalam sebuah kebenaran. Entah takut. Entah malas.

22 August 2013

Hari Kelahiran

13 comments :
Bogor, 22 Agustus 1991, 22 tahun kemudian…

Usai kedua jarum jam sama-sama berimpitan dalam angka dua belas, tengah malam yang diterangi bulan Agustus ini tanggal berapa, ya? Dua dua? Serius dua dua? 

Alhamdulillah Ya Allah. Ternyata hidup di dunia dua puluh dua tahun itu lama banget, ya. Gimana ceritanya kalau saya dikasih usia selama orang-orang zaman dulu yang hidup ribuan tahun. Baru dua puluh dua aja rasanya banyak banget dosa yang keinget udah pernah diperbuat. Entah, deh dosa-dosa yang terlupa.

Jujur aja. Saya berperasaan, semakin dewasa, diri ini malah sering dicengkam batin yang melodramatik. Padahal ketika masih kecil beranjak remaja, kalau kita nangis malah diketawain, kemudian dikata-katai “Mewek wae maneh. Siga budak leutik wae atuh.” Kini, di umur saya hari ini yang masih hangat-hangat tahi ayam menginjak angka 22, saya malah berpandangan, toh anak kecil itu jauh lebih sering tertawa terbahak-bahak daripada menangis. Justru sebaliknya. Orang dewasalah yang pikirannya njlimet dan seringkali mengakhiri permasalahan dengan mata sembap dan mulut yang membisu berhari-hari. Tidak mood bergaul, tidak mood makan, tidak mood mandi. Biasanya, sih itu efek gara-gara diputusin cewek. Atau sekadar dicuekin. Sesederhana itu.

Andai ada satu permintaan yang seratus persen bakal dikabulkan ibu peri, mungkin saya dengan cepat memohon kepadanya supaya saya menjadi anak kecil lagi. Anak kecil yang setiap hari berselisih dengan teman bermainnya, namun beberapa saat kembali haha-hihi. Anak kecil yang tak bosannya didamprat ibu lantaran kerap ogah-ogahan kalau disuruh beli terasi. Anak kecil yang selalu tahu bagaimana cara membuat hatinya riang, walaupun sore itu cuma bisa bermain monopoli, kelereng, atau sekadar petak umpet. Cuma bisa menelan ludah bila membayangkan teman-teman anak orang kaya yang anteng main Sega Megadrive di rumah gedongnya.

Well, well, well. Jelas satu permintaan gila itu mustahil terwujud. Mesin waktu cuma ada dalam serial Doraemon yang sudah melintas dua generasi itu. Atau Lorong Waktunya Zidan dan Pak Haji Dedy Mizwar. Kehidupan tidak pernah bisa digulirkan ke belakang. Kalau kata Mbah Einstein, seperti mengendarai sepeda, hidup itu harus terus-menerus dikayuh, supaya keseimbangannya terjaga. Lagi pula, siapa juga yang ingin lagi hidungnya dihiasi ingus membentuk angka sebelas serta beberapa gigi susu ompong. Malu, dong sama si ehem.

Beneran saya udah 22 tahun? Hmm, kenapa kok saya malah jadi sedih. Tidak seperti anak kecil yang bergembira sekali karena bakal mendapat segunung kado dari teman-teman dan om tante. Tidak bersuka ria layaknya orang lain yang merayakan ulang tahunnya di café, bar, atau di hotel bintang lima.

Jawabannya, malu. Boleh dibilang, seumuran saya sudah waktunya untuk berpenghasilan sendiri. Setelah itu, menabung yang banyak untuk menikah beberapa tahun lagi. Tapi ternyata saya tidak atau belum bisa seperti yang lain. Saya belum bisa seperti teman lain, yang telah bekerja mapan di lepas pantai, pulang ke darat tiap dua minggu, pacaran dan menikmati limpahan dari jerih payahnya selama dua minggu juga, usai itu kembali melaut. Saya belum bisa seperti teman lain yang sudah berpenghasilan dari berbagai pundi: dari perusahaan tempatnya bekerja, dari hasil berjualan di media online, dari bisnis multilevel marketing, dari warisan orangtuanya, dari undian berhadiah mobil lamborgini. Tuh, saya nulis merek mobil mewah aja keliru, kan?

Jujur, walaupun visi hidup saya bukan semata uang, namun sering juga, sih tebertik rasa bersalah dan terutama rasa malu. Kenapa saya dilahirkan tidak untuk jadi orang yang cepat kaya seperti orang lain, yang setiap pembagian bonus perusahaan, motornya berganti jadi lebih gemuk, hingga pacarnya pun berganti pula jadi lebih molek. Hati saya pun seolah berteriak lantang, “Kamu munafik, sih, Cep. Jangan sok idealis. Hidup itu bukan cuma mengusung cita-cita, passion, eksistensi diri. Duit, bro, duit yang maha penting! Dan perempuan!”

Lekas-lekas saya enyahkan sesuatu yang meracau barusan dalam sejenak kegamangan diri.

Kemudian saya mengupah-upah diri. Sudah, sudah. Jalan hidup tiap manusia itu berbeda-beda. Toh, kepala masing-masing pun berbeda-beda juga, bukan? Harmoni itu sewajarnya menjadikan warna kehidupan lebih beragam ketimbang tujuh warna pelangi. Bukan untuk menjadi yang terbaik. Namun senantiasa memperbaiki diri sendiri, alih-alih silih menjatuhkan hak orang lain.

Ah, ya. Dengan lapang dada, namun hati yang terisak, saya menerima bahwa jatah usia saya perlahan mulai berkurang. Terima kasih, Ibu, Ayah, dan saudara-saudara sedarah. Terima kasih, segenap guru akademik maupun guru kehidupan tanpa kecuali. Terima kasih, jasa yang takkan pernah terbalas dari kawan-kawan sejak saya balita, sepermainan, tk, lomba balap karung dan lomba lari 17an, sd, lomba calistung, lomba seni lukis, lomba cerdas cermat, primagama, smp, stm, ekskul kepemimpinan, coca-cola, fajar paper, stt indocement, blogger bogor, kelas anggit, rumah kata indonesia. Dan pelukan hangat untuk anda yang dengan setia menyempatkan waktu di sela padatnya kesibukan untuk membaca racauan hati di personal blog ini yang baru saya kelola setahun belakangan. Kalian luar biasa!

Puji Syukur semata Untuk-Mu Ya Allah.

08 August 2013

Hari Raya

10 comments :

Hari raya sejatinya milik Tuhan, yang dirayakan oleh manusia dengan beragam cara. Sesuai dengan kesungguhan niat dan kemampuan. Hari ini, tibalah hari raya umat muslim yang kedua terbesar, setelah Idul Adha, akan tetapi di Indonesia merupakan hari raya yang dirayakan paling meriah: Idul Fitri.

Kumandang azan magrib satu Syawal menandakan berakhirnya bulan suci. Gerbang hari kemenangan terkuak lebar-lebar. Suka cita terlihat dari berbagai penjuru. Di sentra penjualan ponsel, anak kecil yang tamat puasa sebulan penuh, dibelikan ayahnya tablet. Sepulangnya, dia disuruh berjanji supaya berpuasa lagi pada ramadan tahun depan. Sedikit merengut, namun tak ayal jawaban iya pun terlontar dari mulut mungil sang anak. Walaupun dengan tambahan kata deh.

Resto megah, isinya anak-anak muda yang berkecukupan, merayakannya dengan berkumpul bersama kawan lama. Bercengkerama dengan seabreg bincangan. Tidaklah perlu anda ketahui, karena anda juga punya kawan, bukan? Ya, seperti itulah mereka berbincang. Layaknya anda bertemu kawan, usai bertahun-tahun lamanya tidak bertemu. Menyaksikan kondisi masing-masing mereka yang amat jauh berbeda dibanding masa-masa sekolah dulu. Perut tambun, pipi tembam, motor besar. Gelambiran lemak berlipat-lipat, seiring dengan isi kocek yang turut berlipat.

Semalam rasanya takkan cukup untuk menghabiskan waktu bersama kawan lama. Mereka silih mengenal sejak bukan apa-apa, hingga sekarang pun, yang ternyata masih bukan apa-apa. Tetap saja manusia. Namun, tetap pada kodratnya. Seorang manusia, yang mustahil hidup seorang diri. Tanpa peran serta manusia-manusia lain.

Magrib merangkak ke malam. Tabuhan beduk―benda apa pun yang bisa ditabuh―bertalu-talu. Lantunan takbir menggema di segenap penjuru, menggetarkan hati manusia yang masih punya nurani dan rasa malu terhadap Tuhannya. Berselang dengan itu, hadir pula teriakan petasan. Kembang api, yang biasa disulut pada tahun baru, berlesatan ke langit dengan saputan awan mendung.

Sementara jutaan rupiah uang milik manusia berkecukupan dibakar api berujud kembang ledakan, satu ruas jalan ramai sekali. Ribuan ragam manusia berseliweran. Atau bisa dibilang, berdesak-desakan. Polisi pun baru kali ini dicintai rakyatnya. Hingga tengah malam, dini hari menjelang, pengayom masyarakat itu setia mengawal lalu lintas. Entah, tanpa peran pak polisi, mungkin jalan raya bukan lagi tempat berlintasan kendaraan bermotor. Sudah berubah menjadi pedestrian kumuh seperti di India sana.

Semua umat bersukacita. Hari raya, bukan milik kamu, anda, atau tuan atau nyonya. Hari raya itu milik kusir delman. Milik penyandang stroke yang terlelap, menyimpan semangat untuk menunaikan salat ied di lapangan pagi esok. Sopir truk sampah, yang ketika melintas, semua orang menutupi hidungnya dan tak bosan-bosannya mengatakan “bau” berulang-ulang. Pedagang baju obralan; penyedia sandang orang marjinal. Polisi lalu lintas dan Saka Bhayangkara pengawal arus mudik. Milik kita semua.

Idul Fitri 1434 H. Ternyata semesta telah ribuan tahun menjura pada manusia. Manusia bahkan lupa untuk sekadar menyapa Yang Maha Menciptakan. Manusia sering malu untuk menyadari, Tuhan cuma tertawa melihat kebodohan salah satu makhluk dari tak terhingga makhluk ciptaan-Nya. Manusia, disentil beberapa jenak saja sudah mengaduh ampun-ampunan, penuh penyesalan. Lebih baik lupakan sejenak pekerjaan anda. Lupakan sejenak acara diskusi politik ngalor-ngidul, tuan. Lupakan sejenak praktik kongkalikong anda, tuan. Lupakan sejenak jual beli riba. Lupakan sejenak gemerlap dunia yang terlampau fana untuk disembah. Sebetulnya Tuhan hanya butuh sejenak.

Bagaimanapun, tak satu pun pakaian yang suci dari noda. Setitik noda pun. Persoalannya, akankah kita diberi kesempatan membilas setiap saat? Akankah kita terus-menerus memperoleh deterjen pembersih noda yang ampuh? Sebelum terlambat, kiriman maaf kepada orang terkasih maupun orang terzalimi wajib disegerakan. Tangan-tangan berjabatan, bahu-bahu berangkulan. Pintu kalbu terkuak. Kemudian angin menyelusupi celahnya. Angin itu bernama: persaudaraan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, saudaraku..