22 August 2013

Hari Kelahiran

13 comments :
Bogor, 22 Agustus 1991, 22 tahun kemudian…

Usai kedua jarum jam sama-sama berimpitan dalam angka dua belas, tengah malam yang diterangi bulan Agustus ini tanggal berapa, ya? Dua dua? Serius dua dua? 

Alhamdulillah Ya Allah. Ternyata hidup di dunia dua puluh dua tahun itu lama banget, ya. Gimana ceritanya kalau saya dikasih usia selama orang-orang zaman dulu yang hidup ribuan tahun. Baru dua puluh dua aja rasanya banyak banget dosa yang keinget udah pernah diperbuat. Entah, deh dosa-dosa yang terlupa.

Jujur aja. Saya berperasaan, semakin dewasa, diri ini malah sering dicengkam batin yang melodramatik. Padahal ketika masih kecil beranjak remaja, kalau kita nangis malah diketawain, kemudian dikata-katai “Mewek wae maneh. Siga budak leutik wae atuh.” Kini, di umur saya hari ini yang masih hangat-hangat tahi ayam menginjak angka 22, saya malah berpandangan, toh anak kecil itu jauh lebih sering tertawa terbahak-bahak daripada menangis. Justru sebaliknya. Orang dewasalah yang pikirannya njlimet dan seringkali mengakhiri permasalahan dengan mata sembap dan mulut yang membisu berhari-hari. Tidak mood bergaul, tidak mood makan, tidak mood mandi. Biasanya, sih itu efek gara-gara diputusin cewek. Atau sekadar dicuekin. Sesederhana itu.

Andai ada satu permintaan yang seratus persen bakal dikabulkan ibu peri, mungkin saya dengan cepat memohon kepadanya supaya saya menjadi anak kecil lagi. Anak kecil yang setiap hari berselisih dengan teman bermainnya, namun beberapa saat kembali haha-hihi. Anak kecil yang tak bosannya didamprat ibu lantaran kerap ogah-ogahan kalau disuruh beli terasi. Anak kecil yang selalu tahu bagaimana cara membuat hatinya riang, walaupun sore itu cuma bisa bermain monopoli, kelereng, atau sekadar petak umpet. Cuma bisa menelan ludah bila membayangkan teman-teman anak orang kaya yang anteng main Sega Megadrive di rumah gedongnya.

Well, well, well. Jelas satu permintaan gila itu mustahil terwujud. Mesin waktu cuma ada dalam serial Doraemon yang sudah melintas dua generasi itu. Atau Lorong Waktunya Zidan dan Pak Haji Dedy Mizwar. Kehidupan tidak pernah bisa digulirkan ke belakang. Kalau kata Mbah Einstein, seperti mengendarai sepeda, hidup itu harus terus-menerus dikayuh, supaya keseimbangannya terjaga. Lagi pula, siapa juga yang ingin lagi hidungnya dihiasi ingus membentuk angka sebelas serta beberapa gigi susu ompong. Malu, dong sama si ehem.

Beneran saya udah 22 tahun? Hmm, kenapa kok saya malah jadi sedih. Tidak seperti anak kecil yang bergembira sekali karena bakal mendapat segunung kado dari teman-teman dan om tante. Tidak bersuka ria layaknya orang lain yang merayakan ulang tahunnya di café, bar, atau di hotel bintang lima.

Jawabannya, malu. Boleh dibilang, seumuran saya sudah waktunya untuk berpenghasilan sendiri. Setelah itu, menabung yang banyak untuk menikah beberapa tahun lagi. Tapi ternyata saya tidak atau belum bisa seperti yang lain. Saya belum bisa seperti teman lain, yang telah bekerja mapan di lepas pantai, pulang ke darat tiap dua minggu, pacaran dan menikmati limpahan dari jerih payahnya selama dua minggu juga, usai itu kembali melaut. Saya belum bisa seperti teman lain yang sudah berpenghasilan dari berbagai pundi: dari perusahaan tempatnya bekerja, dari hasil berjualan di media online, dari bisnis multilevel marketing, dari warisan orangtuanya, dari undian berhadiah mobil lamborgini. Tuh, saya nulis merek mobil mewah aja keliru, kan?

Jujur, walaupun visi hidup saya bukan semata uang, namun sering juga, sih tebertik rasa bersalah dan terutama rasa malu. Kenapa saya dilahirkan tidak untuk jadi orang yang cepat kaya seperti orang lain, yang setiap pembagian bonus perusahaan, motornya berganti jadi lebih gemuk, hingga pacarnya pun berganti pula jadi lebih molek. Hati saya pun seolah berteriak lantang, “Kamu munafik, sih, Cep. Jangan sok idealis. Hidup itu bukan cuma mengusung cita-cita, passion, eksistensi diri. Duit, bro, duit yang maha penting! Dan perempuan!”

Lekas-lekas saya enyahkan sesuatu yang meracau barusan dalam sejenak kegamangan diri.

Kemudian saya mengupah-upah diri. Sudah, sudah. Jalan hidup tiap manusia itu berbeda-beda. Toh, kepala masing-masing pun berbeda-beda juga, bukan? Harmoni itu sewajarnya menjadikan warna kehidupan lebih beragam ketimbang tujuh warna pelangi. Bukan untuk menjadi yang terbaik. Namun senantiasa memperbaiki diri sendiri, alih-alih silih menjatuhkan hak orang lain.

Ah, ya. Dengan lapang dada, namun hati yang terisak, saya menerima bahwa jatah usia saya perlahan mulai berkurang. Terima kasih, Ibu, Ayah, dan saudara-saudara sedarah. Terima kasih, segenap guru akademik maupun guru kehidupan tanpa kecuali. Terima kasih, jasa yang takkan pernah terbalas dari kawan-kawan sejak saya balita, sepermainan, tk, lomba balap karung dan lomba lari 17an, sd, lomba calistung, lomba seni lukis, lomba cerdas cermat, primagama, smp, stm, ekskul kepemimpinan, coca-cola, fajar paper, stt indocement, blogger bogor, kelas anggit, rumah kata indonesia. Dan pelukan hangat untuk anda yang dengan setia menyempatkan waktu di sela padatnya kesibukan untuk membaca racauan hati di personal blog ini yang baru saya kelola setahun belakangan. Kalian luar biasa!

Puji Syukur semata Untuk-Mu Ya Allah.

13 comments :

  1. Selamat ulang tahun Cep. Ga penting kok duit dan perempuan, yang penting bahagia. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih, mas dani. asyik dah. siaap, bakal saya camkan itu :D

      Delete
  2. met ultah ya Cepy, postinganya tepat jam oo oo nih
    emang rasanya enak ya andai bisa berlibur sejenak ke masa kecil :)

    Semoga apa Yang kamu impikan segera terkabul ya Cepy, hari ini amu makan makan di mana nih buat merayakannya ? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih, mbak ely. iya nih, ngetiknya sih dari sore. postingan terjadwal :p
      kemaren makan tiga kali aja kok, seperti biasanya hihi.
      aamiiin.. sukses juga untukmu mbak :)

      Delete
    2. wah .... kukira ada rame rame gitu ngarep ada Foto fotonya :D

      sama sama, makasih sukses jg buatmu ya bro :)

      Delete
    3. Wkwkwk ada sih mbak. Cuma makan kue rame rame di kampus :)

      Delete
    4. foo fotonya Dong *ngarep* :P

      Delete
  3. Aku pas umur 22 gak punya apa2 selain galau! hahaha..

    Kamu punya blog! Udha hebat banget!

    ReplyDelete
    Replies
    1. oalah, suka merendah begitu ah mas ndop :p
      alhamdulillah. semoga bisa konsisten dan tanggung jawab sama kewajiban serta segala hal yg saya sukai nih hehehe.
      sukses selalu buatmu mas!

      Delete
  4. Cepyyyy, *surprise!* *sok kejutan wkwk*
    Di pukul 22.22 (pas kali ya menitnya huehehe) di tanggal 220813 untuk umur yang ke 22.
    Selamat ulang dan ilang tahun yaa. Semoga cita dan cintanya terkabul :)

    Traktiran! hehe :b

    ReplyDelete
    Replies
    1. *pura-pura kaget* hahaha
      makasih isnaaa. duh, cita dan cinta ya :| diamini aja deh hahaha

      Delete
  5. "Tidak mood bergaul, tidak mood makan, tidak mood mandi. Biasanya, sih itu efek gara-gara diputusin cewek. Atau sekadar dicuekin. Sesederhana itu."

    pengalaman pribadi banget? :'3
    hahahaha
    HBD cep!

    ReplyDelete
  6. hahaha, sekarang udah move on dah ven XP
    THANKS!

    ReplyDelete