21 September 2013

Biarkan Mobil Murah Ramah Lingkungan Berkembang

12 comments :
Anak kecil pun tahu, bila lebih dari satu mobil berjalan beriringan di jalanan, sudah pasti bakal menyebabkan kemacetan. Tapi hemat saya, hal itu tidak sepenuhnya benar, tidak sepenuhnya keliru. Saya, sebagai pengendara motor sadar sejujur-jujurnya, justru motorlah yang jadi biang kerok kemacetan di daerah yang pernah saya tinggali: Bandung dan Bogor.

Pengendara motor itu egois. Tatkala macet mengadang, sekenanya saja mereka menerabas jalur sebaliknya. Sering kejadian spion mobil terlibas, si bikers melenggang adem ayem tanpa dosa. Ketika situasi jalanan aman lancar pun malah jadi dilema. Saya pernah kesulitan menyeberangi jalan pada musim mudik lebaran silam, karena begitu membeludaknya pemudik roda dua. Kala itu kerap kali saya menyumpah-nyumpahi pemudik roda dua saat mereka berkelebat selisih dua senti saja dari paha saya. Balapin sono Jupiter MX-nya di ajang Superbike! Gepeng-gepeng, dah digilas Ducati 1000cc.

Untung saya bukan pemilik motor di atas 150-250cc yang kerap arogan. Saya cuma dikasih orangtua bebek 100cc. Mencapai 70-80 km/jam pun sudah bersyukur.
Mobil? Terkecuali sopir angkot, mikrolet atau bus tiga perempat (semacam metro mini), sekoboy-koboynya pengendara mobil pribadi, mungkin bakal berpikir ulang seandainya bodi mobilnya tergores atau bempernya penyok. Terlebih sekarang banyak pengendara mobil pemula, yang belum berani ngebut. Masih malu-malu. Mereka terpaksa mengantre macet, membiarkan celah antara mobilnya dengan mobil lain dilalui zig-zag oleh si bikers yang meraja. Itu pengalaman saya meneropong jalanan Kota/Kab. Bogor dan Kota/Kab. Bandung. Saya kurang paham keadaan lalu lintas Jakarta.

Nah, bagaimana attitude pengendara mobil? Saya baru dapat menyaksikan pertarungan ego antar pengendara mobil di jalan tol Jagorawi hingga Cipularang, yang bersalip-salipan, menggadaikan nyawa sejak kilometer 0 sampai Pasir Koja atau Pasteur. Sedan 90an tak ingin kalah dengan mobil keluarga tahun muda―yang sering dirisak dengan istilah kaleng kerupuk itu. Namun, sekeluarnya mereka dari gerbang tol, saya mengacungi jempol kelegowoan pengendara mobil yang masih―atau lantaran dipaksa keadaan―mempersilakan motor-motor matik, bebek, motor laki, dan motor penghasut perempuan (baca: Kawasaki Ninja) mengimpitnya di kanan-kiri-depan-belakang.

Mobil Murah Cuma Kepentingan Politis?

Opini berikut bermuasal dari kacamata saya yang notabene “bukan pemilik mobil” dan “bukan yang pernah memiliki mobil”. Pendapat yang sangat awam, dan terkesan amat subjektif. Cuma bersumber dari surat kabar, internet, dan sedikit kenangan dari obrolan saya dengan sopir taksi bandara beberapa bulan silam.

Dua bulan belakangan Indonesia diramaikan oleh kedatangan mobil-mobil murah, yang dinamai pemerintah dengan proyek Low Cost Green Car (LCGC). Syarat-syaratnya, konsumsi BBM harus bisa mencapai 20 km/liter atau lebih. Dan harganya pun harus ditekan semurah-murahnya. Nah, inilah yang jadi soal. Bukankah, biasanya harga murah adalah simbol dari buruknya kualitas yang didapat?

Pabrikan Jepang yang sudah resmi bersepakat dengan pemerintah yakni Toyota; Agya, Daihatsu; Ayla, dan baru-baru ini Honda pun tak mau kalah dengan melansir Brio Satya. Mengenai harga, setelah saya googling, berkisar pada rentang 75-120 juta. Sedang spesifikasinya tak terpaut jauh satu sama lain. Ada harga, ada rupa. Taklah adil bila disandingkan dengan mobil-mobil non-LCGC, di mana satu-satunya keunggulan mobil LCGC ini sebatas ramah lingkungan, yang bermuasal dari efisiensi bahan bakar yang diteguk.

Tunggu sebentar, irit bahan bakar? Seberapa irit? Mereka mengklaim bisa menjangkau 20 km/liter, bahkan lebih. Dengan catatan, katanya ini yang patut dicamkan, pemilik mobil LCGC selalu menggunakan bahan bakar dengan kandungan oktan 92. Ya, Pertamax. Cuma BBM non subsidi yang boleh ditenggak oleh mobil LCGC yang disubsidi. Jika kesepakatan ini dilanggar, misal dengan tetap mengisi Premium, maka gugurlah garansi mobil murah. Kedengarannya aneh.

Ya, ini proyek mobil murah. Dalam tanda kutip, murah menurut siapa? Rakyat jelata seperti saya sepertinya bakal berpikir ulang untuk beli mobil semurah apa pun. Orang seperti saya akan berpikir ulang untuk menganggarkan dana cukup luang setiap hari setiap bulan karena mobil LCGC harus menggunakan Pertamax. Atau, barangkali kalau saya terpaksa beli mobil, saya akan memilih mobil Jepang bekas yang melimpah onderdil KW-nya dan masih bisa minum Premium, karena saya masih singel, belum bekerja, sehingga kocek takkan terkuras dalam-dalam kala merawat roda empat. Itu kalau terpaksa.

Tetapi, bila terpaksa saya bijak, saya pikir biarkanlah mobil murah berkembang. Sekontroversial apa pun keputusan, pasti ada sisi baiknya kendati sedikit. Mungkin di masa mendatang pengendara motor bakal memarkir roda duanya, dan beralih ke mobil murah ramah lingkungan. Saya harap di situ dia belajar dari nol tentang hakikat antre, belajar sabar menghadapi kemacetan. Sehingga motor yang menyalip sudah berkurang lantaran hijrahnya sebagian dari mereka ke roda empat murah. Setelah mobil murah semakin berkembang dan volumenya tidak bisa dibendung, di masa mendatang pemerintah insaf sambil meratapi jalanan yang penuh mobil pribadi, kemudian terpaksa memungut lagi serpihan-serpihan proyek transportasi massal masa lalu yang tak bersudah.

Ah, seperti makan keju dalam mimpi apabila detik ini saya menggembar-gemborkan betapa penting serta mustajabnya restrukturisasi transportasi massal di Jakarta dan kota-kota penyangga dalam mengatasi kemacetan, yang sebatas wacana penuh keraguan dan intrik. Kalau memang Jakarta sudah kadung benci terhadap momok bertopeng kemacetan, lekas serahkan saja tahta ibukota kepada Palangkaraya, yang tampaknya sudah bergeliat mematut-matut diri. Barangkali kelak anak-anak kita akan bertamasya ke Dunia Fantasi, Planetarium, Monumen Nasional Palangkaraya-Kalimantan Selatan. Atau Pekan Raya Palangkaraya. Mungkin di masa mendatang barisan mahasiswa dan buruh harus mengkalkulasi uang transport masak-masak, tatkala mereka hendak demonstrasi ke gedung DPR/MPR yang juga telah hijrah ke Palangkaraya.

Ya, menjelang pengujung 2013, di ambang tahun pemilu, tampaknya saya mesti menikmati dahulu solusi ecek-ecek terkait kemacetan: menyaksikan pengendara motor yang ugal-ugalan, ramai-ramai menggandrungi mobil murah. Makan singkong betulan dahulu. Dan berdoalah supaya lekas benar-benar melahap sebongkah keju, kelak.

10 September 2013

Memperbaiki Nasib, Mengubah Takdir

12 comments :
Mulanya saya enggan menuliskan hal ini di blog. Takut diejek, takut dipesimisi, takut dianggap pengikut tren. Dan takut-takut yang lain. Tapi sepertinya saya mesti tanggung jawab dengan apa yang saya lakukan seminggu belakangan. Dan dengan menuliskannyalah, saya bisa berkomitmen menjalani. Sampai berhasil, semoga.

Ceman-ceman sudah tahu OCD, bukan? Metode diet revolusioner yang diperkenalkan oleh mentalis sekaligus pembawa acara Hitam Putih itu. Saking revolusionernya, banyak pro dan kontra yang menyeruak, terutama di ranah maya. Seorang trainer fitnes mengatakan, "What a crazy diet! Hanya orang malas yang mengikuti OCD, guys!" cuitnya kepada followersnya. Cuitan tersebut mendatangkan mention-mention dari pengikut OCD. Kebanyakan dari mereka menyanggah, "Ya, saya memang malas. Hanya orang rajin serajin-rajinnya yang mau makan dada ayam rebus tanpa bumbu, nasi merah, dan suplemen amino bahkan steroid setiap hari."

Jujur, mulai Oktober 2011 saya sempat memulai fitnes di gym yang letaknya lumayan dekat dari rumah. Hari pertama, saya mencoba tidak meminta anjuran dari trainer dulu. Saya cuma berlari di atas treadmill, selama satu jam. Kalau tidak salah, kalori habis sebanyak 500.

Hari ke dua. Saya diminta untuk angkat beban berbagai alat yang berserakan di situ. Entahlah, nama alat-alatnya itu apa saya kurang tahu. Dan tidak mau tahu. Yang saya mau tahu, saya ingin tahu seberapa lama berat badan saya menyusut hingga mencapai ideal.

Begitu seterusnya, dengan diselingi oleh treadmill, setiap dua hari sekali saya melakukan aktivitas (yang saya pikir sia-sia) sampai saya bosan tiga bulan kemudian. Kebetulan sejak awal mengikuti fitnes, saya belum pernah menimbang berat badan. Tepat tiga bulan, saya beranikan diri memijakkan kedua kaki di atas timbangan badan yang menurut saya amat menyeramkan itu. Dan, ternyata berat badan saya tidak turun sama sekali. Sama sekali tidak menyusut.

Saya bingung, mau menyalahkan sang trainer yang kurang pengetahuan, yang cuma berpatokan terhadap mitos-mitos penurunan berat badan atau fatloss, atau menyalahkan diri sendiri yang salah melakukan metode "diet sehat" itu. Saya masih menjalani fitnes di situ sampai bulan April 2012. Dan ternyata berat badan saya tidak kunjung turun. Malah cenderung naik! Padahal badan seberat saya tidak boleh naik lagi, entah itu otot atau apalah namanya.

Di balik itu, tugas-tugas kuliah menderas tanpa henti. Ujian tengah semester, akhir semester mendera. Waktu 24 jam seolah takkan cukup bila saya membaginya dengan latihan di gym selama tiga jam. Belum istirahatnya. Belum sisa-sisa keletihannya, yang membuat saya tidak konsen saat kuliah. Belum mengatur pola makan yang harus enam kali sehari itu, katanya. Buset. Saya paling malas membawa makanan dari rumah ke luar. Padahal waktu itu saya jarang di rumah. Masak iya saya mesti beli makanan di luar, yang lagi-lagi menurut pakar nutrisi, makanan di luar itu jauh dari sehat.

Serba salah. Percaya diri seakan menjauh seiring dengan berat badan yang kian membengkak. Ejekan, yang mungkin niat si pengejek itu sekadar gurauan, semenjak saya kanak-kanak, ternyata masih saja mengitari kehidupan sehari-hari. Saya pikir, orang yang pernah gemuk adalah orang yang benar-benar tabah. Namun namanya juga manusia, setabah apa pun, pasti ada saat-saat di mana saya dan orang-orang gemuk lain merenungi nasib. Ingin rasanya mengubah takdir gemuk, yang menurut orangtua saya, "Udah, gapapa gemuk, yang penting sehat." Ingin rasanya membeli celana jeans ukuran 29 atau 30, atau kaos oblong dengan ukuran M seperti teman-teman saya. Dan ingin rasanya menyumpal mulut-mulut para pengejek mulai dari bocah ingusan sampai bapak-bapak tua yang seolah setiap hari terpaksa saya tenggak kendati pahit. Ya, pahit rasanya. Kenyataan memang selalu pahit.

Sampai setahun lebih kemudian, saya mengetahui ada metode diet dari Deddy Corbuzier itu. Sudah seminggu ini saya menjalani, dengan jendela makan 8 jam. Saya timbang badan. Oh, saya senang sekali. Tujuh hari saja, dengan jendela makan 8 jam dengan diselingi oleh olahraga teratur, bisa menyusutkan berat sebanyak 4 kilogram. Mudah-mudahan yang lenyap itu benar-benar lemak. Doakan saya, ceman-ceman :)