27 October 2013

Dalam Hening

10 comments :
Saya ingin mengawali tulisan ini dengan sekalimat di bawah header blog penyair Aan Mansyur

Saya menulis karena sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus.
Tiap orang punya kesukaan. Saya tahu, kamu suka sekali meracik strategi game online tak mengenal waktu, tak mendengar keroncongan perut, cuma mengenal perempuan dari kacamata skeptis. Saya tahu betul hasratmu terlampias saat kamu menggesek dawai biola yang menyayat-nyayat kalbu, merobek telinga manusia-manusia sekitarmu. Saya pun mafhum, mereka, orang-orang kaya itu, saban Minggu menunggangi Harley Davidson ugal-ugalan seolah jalan raya milik nenek moyang, lantaran profesi dan jabatan strategis yang disandang lambat-laun menjemukan. 

Saya suka menulis, tanpa hendak memampang alasan semacam: Saya menulis sebab ingin menggetarkan dunia berkat piawai menganggit 26 huruf, 10 angka, 11 tanda baca. Dengan begitu, kelak nama saya dikenang penduduk bumi delapan turunan. Atau, Saya ingin menjadi penulis terkenal seperti Andrea Hirata, penulis Indonesia pertama yang bisa menembus penerbit Eropa 100 tahun terakhir. Tidak, saya tidak punya alasan sehiperbolik itu. Sebab saya tidak selebay Andrea Hirata.

Namun, bila kamu meminta, baiklah, akan saya babarkan sepercik alasan perihal suka saya. 

Saya bisa menulis, manakala saya sedang melakukan satu kegiatan saja: menulis. Hanya suara jarum-jarum hujan menusuk genting-genting yang boleh saya toleransi. Musik-musik klasik maupun New Age sontak terdengar bising saat saya menulis. Ingin saya sumpal mulut anak kecil yang menangis ketika tengah malam itu saya sedang menyusun plot. 

Entah, barangkali saya dianugerahi kemampuan multitasking yang buruk, sampai-sampai, saya hanya mampu mencintai satu hal saja: keheningan. 

Menulis ialah rutinitas―atau katakanlah ritual―dalam hening, bagi saya. Mulut berpuasa omong. Telinga disungkup sementara dari pengang elegi dunia. Hidung, cukuplah menghidu aroma didih kopi pemantik ide. Kecuali Tuhan, hanya saya yang tahu fluida gagasan yang sedang saya kucurkan dari otak ke jemari di atas tuts keyboard. Seperti ibadah puasa, menulis sebagai aktualisasi kejujuran untuk diri sendiri. Bukan untuk sesiapa.

Tetapi, percayalah, hening di permukaan teramat kontras dengan riuh-rendah benak. Semenjak tubuh saya masih menguar aroma ludah kering, benak terus-menerus menghela kegelisahan yang menderas tak tahu tata krama, ruapan resah, gurat-gurat luka. Sesudah mandi? Oh, ketahuilah teman, ritual mandi sekadar meluruhkan daki, tidak melesapkan duka.

Maka, demi meredakan tsunami benak tak bersudah itu, saya putuskan menulis beberapa ratus kata setelah sebelumnya membaca tak hingga rasa dalam keheningan. Ya, sepertinya saya jatuh cinta pada hening. 

Menulis, bagi Pramoedya Ananta Toer, ialah pemberontakan. Adapun bagi pandir seperti saya, pelarian. Pelarian dari hedonisme urban yang tak kuasa saya tunaikan. Pelarian dari comelnya mulut lebar dosen flamboyan yang memaksa mahasiswa untuk melontarkan pertanyaan dan pernyataan, padahal saya benci untuk berbual tanpa saya pikir lebih dulu beberapa jenak. Pelarian dari kenyataan bahwa: derita lebih sering bertamu daripada bahagia yang pemalas.

Atau bahkan, pelarian dari ritual menulis sendiri yang kerap menguras ingatan dan kenangan dan air mata. 

Selamat Hari Blogger Nasional. Saya akan terus menulis dalam keheningan selama saya masih memercayai cinta.

22 October 2013

Perihal Suka

18 comments :

Saya suka perempuan berbola mata bundar, sebab bola mata saya tidak terlalu bundar.

Saya suka perempuan berlesung pipit, sebab dekik pipi saya sukses ditimbun lemak.

Saya suka teman saya pergi, manakala hati tengah digojlok pilu. Dengan begitu saya dapat berfokus mengetik harapan ribuan kata pada halaman putih pengolah kata dalam kamar gelap sampai pagi menjelang. Dan saya pun bisa mendengkur dari pagi hingga malam.

Setelah mata saya benar-benar terbuka dan dua gelas air putih menggenangi kerongkongan, saya suka melanjut mengetik asa.

Saya suka naik kereta, sayang, tidak ada stasiun Ciluar atau stasiun Citeureup.

Saya suka kecupan dan tempias air mata Ibu, saat saya bersimpuh kepadanya pada hari raya.

Saya suka mendapati beberapa pasang mata tertuju pada saya, saat saya memapah tubuh Ibu yang tidak sanggup berjalan sendirian ke dokter.

Saya suka menonton semua film gubahan Quentin Tarantino, sebab mata saya terbeliak menguping total bujet pembuatan film Sci-Fi Steven Spielberg atau Christoper Nolan, namun plot filmnya sama saja dengan film kelas B.

Saya suka menulis perihal suka, padahal saya sedang menunda-nunda mengetik naskah fiksi yang teronggok di dalam folder bersungkup sarang laba-laba dan tempurung luka.

Saya suka fiksi-fiksi remaja, selama fiksi itu ditulis oleh remaja sendiri. Atau setidaknya, ditulis oleh penulis matang yang sempat alami beberapa kali jatuh cinta pada masa remaja, tidak seperti saya.

Saya suka dia, apakah dia suka saya?

Saya suka dia, sayang, hati saya tidak terlalu suka membiarkan saya berterus-terang di hadapannya.

Saya suka dia, tetapi bibir saya tak sanggup ungkap rasa suka kepadanya.

Saya suka mengenang detik-detik bersamanya: menyesap lembap udara malam kota ini, tak sengaja menunjuk menu yang sama di suatu kafe lalu dia memukul-mukul pundak saya, berjalan berdua di toko buku sambil mencuri-curi pandang bola matanya yang bundar dan pipinya yang menonjolkan dekik.

Sayang, kenangan diciptakan hanya untuk dikenang.

Saya suka melihatnya bahagia, padahal saya tidak suka menyaksikannya berpandang-pandangan, bergamitan jemari dengan laki-laki selain saya. Dan laki-laki itu melumat bibir dia beberapa menit dalam pelukan. Saya mengibaskan pandang dari mereka, lalu dengan lutut menggeletar berjalan pulang sambil tersenyum, membiarkan air mata berinaian malam itu.

Sesampai di kamar gelap tengah malam itu, saya suka memandangi silet menggores-gores lengan saya membentuk nama dia.

Saya suka merawat luka, selama luka itu bermuara dari rasa suka yang tak sampai kepadanya.

Saya suka novel yang berakhir menyedihkan, sebab terkadang hidup saya lebih pedih dari itu.

Saya suka dia, cukup.

Saya suka orang lain punya kesukaannya sendiri, tanpa mesti menguntit perihal suka saya, kecuali mereka ikhlas sumbang royalti 10 persen dipotong pajak.

21 October 2013

Si Baik dan Si Jahat

8 comments :

Tidak ada orang baik dan tidak ada orang jahat. Masing-masing orang punya keduanya. 
Saat tak sengaja mendengar berita di televisi―sebab saya jarang sekali menonton televisi kecuali bila ada siaran langsung pertandingan Timnas U-19―yang mengabarkan tentang suami yang ‘membunuh’ istri sirinya, saya terkesiap. Bagaimana mungkin, bapak itu dikenal para tetangga sebagai sosok berwibawa―lantaran statusnya sebagai pejabat BPK, ramah, rajin beribadah, dan tidak pernah terlibat konflik sesama tetangga. Alih-alih dikenal berkat melakukan tindakan seperti sekarang yang―mungkin―melampaui perbuatan perampok, apalagi bila dibandingkan dengan kejahatan preman cap pasar. Tetapi, nyatanya hal itu sungguh-sungguh terjadi. 

Disewanya beberapa orang pembunuh bayaran untuk melumat nyawa perempuan yang dia cintai itu di sebuah apartemen. Dan saat kejadian berlangsung dengan getir, dia masih di luar negeri, dan baru pulang saat pembunuh bayaran sudah berada di tahanan. Akhirnya, dia pun ditangkap pihak berwajib setelah mendengar kesaksian para pembunuh bayaran itu. 

Kendati mengelak dari tuduhan polisi dengan pelbagai dalih, status tersangka telah disematkan kepadanya. Dan motif rencana pembunuhan pun sedikit tersingkap: tersangka sudah lelah menyaksikan hartanya terus-menerus diperas istri sirinya. 

Mungkin tersangka baru menyadari, perempuan bukanlah benda mati yang tetap bergeming sekalipun cuma kita pajang di bufet. Perempuan adalah manusia, yang butuh makan tiga kali sehari, butuh dibalut dengan baju bagus dan kosmetik mahal, dan seabreg kebutuhan sekunder atau tersier lain. Dan, bukankah perempuan itu makhluk lemah, yang sangat butuh kasih sayang. Ya, tentu, kasih sayang itu sudah termasuk perawatan ke salon untuk medikur pedikur setiap pekan, memborong tas Prada, dan pergi arisan dengan teman sosialitanya yang menghabiskan puluhan juta per bulan. 

Kali ini saya tidak sedang menyoal hedonisme perempuan, karena saya pikir itu tergantung dari bagaimana seorang laki-laki mendefinisikan kasih sayang terhadap sang terkasih, yang dicurahkan dalam berbagai bentuk. Namun, pertanyaan yang menggelayut dalam benak saya: 

Di mana sebetulnya tempat persembunyian orang-orang baik?
Jujur, setelah menyimak berita itu barang sekelebat, saya langsung teringat kepada salah satu teman SMP saya, yang saya kenal cukup baik karena dia sempat duduk sebangku dengan saya sekisar dua tahun. Dia dikenal guru-guru sebagai berandalan, yang kerap kali menorehkan namanya berkat ulahnya sendiri pada buku hitam di ruangan BP. Sedangkan oleh temannya sesama berandal, dia dikenal sebagai orang yang tak mengenal takut. Dan bagi teman perempuannya, dia dikenal sebagai ‘penculik’ karena suka membawa kabur pacar orang lain ke tempat-tempat dingin seperti Lembang dan Ciwidey, dan anehnya, perempuan itu mau dan enjoy-enjoy saja ‘diculik’ dia. Selain itu, masih banyak tindakan nekat yang dia perbuat hingga dia lulus dari SMP dengan nilai lumayan baik. 

Di balik perbuatan brutalnya, saya tetap mau duduk sebangku dengannya. Selain lantaran takut diapa-apakan olehnya―ya, walaupun saya berbadan besar, saya dikenal orang lain sebagai pengecut, saya merasa sikapnya amat berbeda manakala duduk berdua dengan saya. Dia tidak banyak bicara dengan saya yang sama-sama jarang berbicara. Belum pernah sekalipun dia mencari ulah dengan saya, karena saya pun tidak berniat menyediakan lahan untuknya berbuat ulah. Sangat berbeda dengan tindakannya kepada teman-teman lain sesama tukang cari masalah. Entahlah, sampai sekarang pun saya heran terhadap perbedaan sikapnya yang begitu jinak di hadapan saya.

Setelah benak saya menjelajah ke peristiwa di masa lalu, kali ini saya teringat teman-teman yang lain yang juga pernah mengisi masa lalu yang belum lama berlalu. Saya ditakdirkan satu grup dengan seorang rekan kerja yang slengean. Usianya sekisar 40 tahun, namun sifatnya tak ubahnya ABG yang setiap hari jatuh cinta, sebab dia dengan nada mesra menelepon perempuan-perempuan muda yang berbeda saban hari, dan saya sempat dikirimi pesan singkat oleh istrinya, menanyakan keberadaan sang suami tiga hari belakangan yang tak pulang-pulang ke rumah. Saat grup kami kebagian shift malam, pada saat mesin sedang lancar, dia sering menceritakan masa lalunya yang penuh kepahitan. Dia mantan seorang berandal pada masa mudanya. Bahkan hubungan dia dengan bapaknya sangat renggang sampai sekarang, tersebab suatu kejadian yang tak bisa saya ceritakan di sini. 

Pembawaannya yang ketus tampak kentara sekali bila bercakap-cakap dengan rekan kerja lain, dengan Supervisor dan Dept. Head sekalipun. Aksen orang seberang yang meledak-ledak, menambah sosoknya yang keras kepala. Apabila bekerja pun dia sulit untuk bekerja dengan rekan lain, di mana rekan lain itu ialah tangan kanan Supervisor yang sukunya sama. Seolah dia bekerja sekehendak sendiri, namun dia siap untuk menanggung risiko andai pekerjaannya gagal. Tetapi anehnya, solusi-solusi atas berbagai troubleshooting mesin yang tercetus dari idenya yang terdengar sepele kerap kali manjur, yang menimbulkan decak kagum dari atasannya dan desah iri dari sesama teknisi. 

Bagaimana dengan sikapnya kepada saya? Dia menjelma sosok bapak yang sering memberi saya petuah bersumber dari pengalamannya sejak masa mudanya sampai hari itu. Nampak, dia tak ingin saya seperti dirinya. Dia ingin hidup saya lebih baik darinya, dengan cara menceritakan guratan-guratan hidupnya yang kelam dan nampak berantakan. Ah, seperti seorang bapak saja ternyata orang yang dianggap bengal oleh orang awam yang baru mengenalnya sekelebat.

Saya resapi lagi kedua sosok itu, lalu saya bandingkan dengan beberapa teman yang sekarang sudah sukses di bidangnya. Ya, bisa saja dari segi penghasilan, kedua teman yang saya ceritakan di atas bak bumi dengan langit bila disandingkan dengan teman lain yang sudah hidup mapan sebagai pegawai negeri, perwira lulusan AKMIL Magelang, polisi, pegawai pajak, hingga pengusaha MLM. Namun, setelah saya ingat-ingat, teman-teman saya yang sudah mapan itu belum pernah bersinggungan dengan hidup saya, tak pernah berkonflik dengan mereka, sampai-sampai tak sepercik pun kebaikan yang pernah mereka curahkan kepada saya. Atau bahkan kini, mereka ialah tukang menipu orang-orang lugu agar terjerumus ke dalam bisnis MLM, atau menjelma jadi calo berseragam di pelayanan SIM Polres, atau menyelundupkan persenan dari pajak? Wallahuallam.

Setelah becermin pada masa lalu dan merenungi masa kini, akhirnya sedikit saya temukan jawaban pertanyaan saya di awal postingan ini. Orang baik tidak sedang bersembunyi. Orang baik nyata-nyata duduk bersama saya, bekerja bersama saya, membantu membuangkan sampah dapur kakak saya dengan truk kuning beraroma busuk ke TPA. Namun saya percaya, orang jahat sedang menari-nari di atas penderitaan saya, menyesali kebahagiaan saya. Bukan tidak mungkin orang baik dan orang jahat itu berbaur dalam satu jasad yang sama, yang setiap hari kita kenal dengan petugas kelurahan, rekan kerja, tetangga, atau bahkan sahabat. Mungkin.

Semoga istri siri pejabat BPK itu hidup tenang, dan menemukan lagi suami siri baik hati, yang bersedia membelikannya gaun satin, tas ELLE, dan bulu mata anti badai di alam sana.

12 October 2013

Tiga Bocah

2 comments :
Seperempat jam lagi, zuhur menyambut. Masjid Kompleks Anyelir yang terletak berseberangan dengan Kampung Cikolot tampak lengang. Aku bergegas memasuki rumah Sang Pencipta, langkahku terhenti di saf ke tiga, menunaikan salat sunat. Seusai salat, aku mengempaskan pantatku di atas hamparan karpet hijau bersablon lukisan Masjid, bersila. Kutengok suasana sekeliling Masjid. Kiri, kanan, depan, belakang, teras Masjid. Sepi. Kusaksikan hanya ada beberapa bapak tua yang kuduga telah dipurnabaktikan dari instansi tempat mereka mengabdi dahulu, pedagang bakso keliling, petani-petani singkong, kuli bangunan yang menyempatkan rihat sejenak dari pekerjaan mereka demi menghadap Tuhannya Jumat siang ini.

Dan tiga bocah di hadapanku.
***
Aku menyukai bocah. Makhluk lincah, lucu, menggemaskan. Namun kesukaanku sontak berubah benci tatkala Jumat tiba. Tiap Jumat siang, mereka bak anjing yang terlepas dari cengkeraman rantai tuannya, bersua dengan kolega-koleganya untuk menggoda, merisak, mengepung kucing-kucing kampung, lantas terpecahlah kembali peperangan klasik dua makhluk yang gengsinya tetap terpelihara semenjak zaman kerajaan hingga zaman edan kini.

Heran. Orangtua tak juga acuh terhadap ulah anak-anak mereka. Kudengar selentingan kabar dari tetangga sebelah, berulangkali Ketua DKM menasihati orangtua para bocah, menandangi rumah mereka satu per satu. “Saya sibuk, Pak Ridwan. Tak sempat! Boro-boro ngurus anak. Sepulang bekerja, lalu memijakkan kaki di beranda rumah, putra saya telah tertidur pulas di kamarnya. Esok pagi, kala dia bangun dan bersiap-siap bersekolah, saya sudah berada di dalam komuterline,” begitu jawaban usang yang acap kali terlontar dari mulut mereka, kala Pak Ridwan―ketua DKM yang didaulat paksa oleh warga, lantaran hampir semua warga enggan mengemban amanah jemaah Masjid Kompleks Anyelir―menyambangi kediaman orangtua para bocah agar rela mendidik dengan telaten dan menghardik dengan tega, bila Si Bocah teguh membandel.

Tiga bocah di hadapanku mulai bertingkah. Saling bersombong-sombong kebisaan masing-masing, silih berbantahan kebisaan kawannya. Bapak di sebelah kiri mereka menoleh kepada ketiganya. Lantas tersenyum simpul, menepuk-nepuk pundak tiga bocah di hadapanku.

Sejahil, selicik, sebengis koruptor pun, tingkah-langkah tiga bocah di hadapanku terkesan lucu bagi orang lain. Lucu bagi Bapak sebelah kiri tiga bocah di hadapanku.

Tetapi lucu bagi bogemku.
***
Azan zuhur berkumandang Jumat siang ini. Bilal mengumandangkan azan dengan khusyuk. Sesekali jemaah-jemaah Masjid membalas lafal kumandang azan. Aku pun.

Terkecuali tiga bocah di hadapanku.

Bocah mana peduli terhadap merdunya kumandang azan.
***
Aku terperangah. Tiga bocah di hadapanku mulai berulah. Bocah pertama: Bersila dengan manis seraya sesekali terpingkal-pingkal menyaksikan ulah dua bocah di sebelahnya. Bocah ke dua dan ke tiga: silih ganti mengolok-olok, saling mencubit satu sama lain, dan berujung baku-hantam. Ocehan ketiganya sukses membangkitkan urat syarafku. Tiga bocah di hadapanku kontan mengurai siklus berkesinambungan. Siklus penggerecok kekhusyukan salat Jumat di Masjid Kompleks Anyelir.

“Kamu di situ, Kakak di sini!”

“Ogaah! Aku penginnya duduk barengan!”

“Aku juga!”

“Kalian berdua! Sempit, tahu! Mundur, mundur!” umpat bocah yang mendaulat dirinya “Kakak” itu.

Dua bocah yang kuduga sebaya, berusia sekisar dua-tiga tahun lebih muda ketimbang usia bocah pertama, menggeleng mantap. Bersamaan, seraya meleletkan lidah, menyeringai. Si Kakak mendengus. Ia beringsut kembali ke tempatnya bersila semula.

Kedua bocah lain menguntitnya lagi. Bersila berdesakan bertiga. Sontak Si Kakak berteriak lantang, “Kubilang, kalian berdua di situ saja!” umpatnya.

Lagi-lagi disahut oleh kedua bocah dengan gelengan kepala dan leletan lidah. Raut muka Si Kakak tampak kesal. Ia beringsut kembali ke depan. Lagi. Dua bocah mengikuti tingkah-laku si Kakak. Tiga bocah di hadapanku berulangkali mengingsutkan pantat dari depan ke belakang, dari belakang ke depan. Begitu seterusnya, bak pemimpin yang plintat-plintut dalam mengambil keputusan menyangkut rakyatnya.

Bapak yang berada di sebelah kiri tiga bocah di hadapanku, terjaga dari kantuknya. Ia tak lagi mengulum senyum simpul. Tampak, ia terganggu oleh ulah ketiganya. Bola matanya mendelik sinis terhadap mereka. Dahinya berkerut-kerut. Namun ia tak berani bersuara, hanya kuasa menatap tajam ketiga bocah sembari menempelkan telunjuk kanan di ujung bibirnya.

Ditatap tajam bapak sebelah, tiga bocah di hadapanku bergeming. Sepuluh detik. Detik ke 11, mereka kembali pada kodratnya. Memeriahkan kegaduhan di tengah kekudusan hari Jumat.

Nafsuku meletup-letup. Ingin kucaci, kuumpat―lalu kupatahkan batang leher―tiga bocah di hadapanku. Apa daya, dahulu Rasul tak sempat memberikan sunah untuk mencecar atau menghardik atau menempeleng bocah bandel kala khotbah Jumat. Padahal, beliau melarang umatnya bercakap-cakap saat khotbah Jumat.

Sunah yang timpang.

Di sela dosa-dosa yang telah kulakukan selama 20 tahun aku mensesaki bumi, kali ini aku berjuang menahan nafsu yang bila tak kubendung akan menabur dosaku semakin menggunung. Aku enggan menyia-nyiakan pahala menggiurkan setiap Jumat siang yang katanya sebanding tiga ekor unta itu. Aku kukuh pada sunah Rasul. Mematung. Menundukkan muka. Menyangga dagu. Pura-pura tak acuh terhadap ocehan, jeritan, umpatan tiga bocah di hadapanku yang seolah beradu nyaring dengan suara Khatib yang tengah berapi-api lewat pelantang, menyampaikan perihal pentingnya mendidik buah hati secara islami di tengah era globalisasi.

Jangan sampai tiga bocah di hadapanku menumpuk dosaku semakin menggunung siang ini!
***
Khatib mengakhiri khotbah pertama. Sejurus kemudian, ia kembali berdiri, menuntaskan khotbahnya. Masih berkisar pada topik yang sama: Mendidik buah hati secara islami di tengah era globalisasi.

“Buk!”

Sekonyong-konyong terdengar pekikan melengking. Rupanya bermuasal dari mulut bocah ke dua. Lantas ia membalas pukulan kawan yang seketika jadi lawan itu. Kawannya meringis, namun tak menangis. Ia membalas, lebih keras. Seketika kudengar bunyi tulang iga yang beradu dengan sekepal tangan mungil. Bocah ke dua merintih. Kini diikuti ledakan tangisnya. Sejurus kemudian, ia menghampiri kakaknya. Meminta pembelaan.

“Kenapa kamu memukul adikku, heh?” bentak Si Kakak seraya merangkul, menjauhkan, melindungi adiknya dari telatah bocah ke tiga.

“Adikmu banyak omong! Aku dikatainya bodoh!”

“Bohong! Kamu yang mengataiku bego!” pekik bocah ke dua sambil terisak.

“Kamu memukulku pertama kali!”

“Kamu memukulku keras sekali!”

“Kalian sama saja!” sungut Si Kakak sambil tetap merangkul adiknya lekat-lekat.

Aku celingukan. Apakah orang sekelilingku sama sepertiku, terganggu oleh ulah biadab ketiga bocah ingusan ini? Sepintas kusaksikan, beberapa orang tengah tertidur menyangga dagu. Kepalanya menganggut-anggut, kopiah beledu hitam yang mereka kenakan tampak menceng, saking pulasnya mereka terlelap di tengah khotbah Jumat.

Tingkah sebagian lainnya serupa denganku. Menatap jengkel terhadap sosok tiga bocah di hadapanku, namun tak kuasa bersuara. Berbisik-bisik pun tidak, demi meneladani sunah Rasul.

Kusaksikan Khatib menatap tiga bocah di hadapanku. Kupikir ia akan memaki, lantas mengusir tiga bocah itu. Tidak. Lisannya tetap mensyiarkan betapa pentingnya mendidik buah hati sesuai ajaran islam di tengah era globalisasi kepada para jemaah Masjid Kompleks Anyelir.

Apa faedahnya isi khotbah idealmu yang begitu kontras dengan realitas di hadapanku, di depan pelupuk matamu, Ustaz!
***
Khotbah Jumat usai. Ikamah berkumandang. Para jemaah serempak bangkit dari duduk silanya. Beberapa lelaki setengah baya yang sedari khotbah tadi terkantuk-kantuk―mendengkur―terkesiap. Sontak mereka turut berdiri, menyeka kedua matanya dengan punggung tangan masing-masing.

Si Kakak melonggarkan rangkulannya terhadap bocah ke dua. Rupanya isak tangis Si Adik surut. Bahkan, mulai akur lagi dengan bocah ke tiga, kembali saling merisak.

Menyaksikan lelaki-lelaki dewasa sekelilingnya berdiri, ketiganya turut bangkit. Di depan mereka, masih ada lapak kosong-melompong. Namun tampaknya mereka tak ingin bercerai. Tiga bocah di hadapanku berdiri berjejer berimpitan. Bapak di sebelah kanan, lelaki setengah umur di sebelah kiri ketiganya masih tak kuasa bersuara untuk menasihati tiga bocah di hadapanku.

Meratapi pemandangan menjengkelkan di hadapanku setengah jam terakhir, gejolak batinku semakin menggelegak, meluap hingga ubun-ubun. Tetapi, sepertinya nafsuku masih dapat termentahkan oleh kukuhnya niatku mengikuti sunah Rasul, untuk tak melontarkan sepenggal kalimat pun hingga salat Jumat usai.

Khatib yang kali ini merangkap sebagai Imam melafalkan takbir. Salat Jumat dimulai.
***
Barangkali, aku tergolong hamba yang amalan salatnya selalu ditampik oleh Allah. Kala salat, anganku senantiasa melayah ke mana-mana. Seolah sepasang bola mataku fokus terhadap Allah, padahal entah! Cuping hidung yang masih mampu menghidu aroma ikan mas yang tengah digoreng tetangga, sepasang telingaku yang masih berfungsi dengan baik dalam mengirimkan sinyal ke otak, lalu otak dengan sigap menyampaikan sinyal itu ke mulutku, sehingga tawaku tergelak tatkala mendengar godaan atau gurauan temanku.

Begitu pun sekarang.

Bak film, tiga bocah―yang masih berada setengah meter di hadapanku―begitu jelas mempertunjukkan detik demi detik tindak-tanduk biadabnya di pelupuk mataku. Bocah ke dua merentangkan kedua kaki hingga mempersempit lapak salat ketiganya. Bocah ke tiga tak ingin mengalah, menginjak kaki bocah ke dua sepenuh daya. Bocah ke dua menjerit, lalu membalas injakan rivalnya itu.

Si Kakak bergeming. Walaupun saat khotbah dia turut memeriahkan kegaduhan bersama dua juniornya, tampaknya ia paham ihwal kesakralan ibadah salat.

Di sela sepasang telinga yang tengah menyimak serta mulutku yang tengah komat-kamit mengikuti bacaan Imam, tebersit niat busuk di pikiranku. Ya, kesabaranku surut, namun berusaha kutahan emosiku hingga salat usai. Seusai salat, aku akan memberi sedikit pelajaran kepada tiga bocah di hadapanku.

Dan sedikit bogem kasih sayang.
***
Rakaat ke dua. Kuduga, salat Jumat yang kutunaikan kali ini sia-sia berlumur dosa. Bila tak malu, ingin rasanya aku mengakhiri salat, meninggalkan Masjid Kompleks Anyelir, lantas melabrak, memaki orangtua tiga bocah di hadapanku.

Telatah tiga bocah di hadapanku semakin nista. Bocah ke dua kembali merentangkan kaki melampaui bahunya. Bocah ke tiga pasrah. Sejenak, ia tak melawan. Beberapa jenak, bocah ke tiga menyenggol sepenuh daya bahu bocah ke dua, hingga bocah ke dua dan Si Kakak tersungkur. Jeritan bocah ke dua melengking. Ia bangkit dari jatuhnya, balas menyenggol bocah ke tiga. Aku memuji kedewasaan Si Kakak kala salat: ia bangkit, melanjutkan salat, fokus mengikuti gerakan Imam. Tak acuh dengan kelakuan adik dan kawannya.

Kuduga, bocah ke dua ialah bocah terculas dari segala bocah yang pernah kutemui. Dia acap kali memulai perselisihan, tetapi tak terima bila dibalas.

Ya, bocah ke dua, kurasa, calon seorang birokrat negeri yang mumpuni, kelak.
***
Imam mengucapkan salam. Aku turut menengokkan salam ke kanan, ke kiri. Salat Jumat usai. Puluhan penggalan kalimat cacianku telah bersesakan di ujung mulut: seluruhnya tak sabar untuk kumuntahkan kepada tiga bocah di hadapanku. Seperti bison yang kelaparan di tengah gersangnya padang ilalang, kemudian menemukan seekor rusa, napasku memburu. Tak sabar menelanjangi mangsa tengil di hadapanku.

Beberapa sentimeter, telunjukku hampir meraih daun telinga Si Kakak, ketika bocah tertua itu menyambar, meraih, mencium tanganku dengan takzim. Mencium tanganku, layaknya penghargaan seorang anak saleh terhadap orangtuanya. Dua bocah lain mengikuti tingkah seniornya. Mencium tanganku, mencium tangan bapak di sebelah kiri, mencium tangan lelaki setengah baya di sebelah kanan, mencium tangan bapak tua di depan mereka. Mencium tangan seluruh jemaah salat Jumat di Masjid Kompleks Anyelir.

Ciluar, 29 Maret 2013
Cepy HR

05 October 2013

Radang itu Tidak Enak dan Tidak Baik

8 comments :
Semalam, tidur saya tersiksa sekali. Tubuh menahan gigil, namun suhunya menghangat. Entah tepatnya berapa, karena saya tidak punya termometer, cuma punya meteran lingkar perut.

Cuplikan-cuplikan mimpi aneh bin absurd terus bertayang, bikin jantung saya tak mengenal santai dan kaus saya kuyup oleh keringat jagung. Dan kala dini hari saya terjaga, tenggorok terasa gatal kala meneguk ludah. Ya, lambat laun rasa gatal itu berubah jadi rasa perih.

Kata kakak saya, sih, gejala semacam itu namanya radang. Penyakit tersebab virus yang menyerang tenggorok, setelah itu demam pun ikut-ikutan eksis. Makan apa pun terasa hambar, kadang-kadang malah keluar lagi.

Dan anehnya, virus ini kerap menyerang saya setiap pertengahan semester, beberapa hari menjelang Mid-Test. Orang lain sibuk belajar, saya malah menggelepar. Centil memang, si radang itu.

Ngomong-ngomong radang, ternyata radang itu mempunyai dua makna:

ra·dang [1], me·ra·dang a marah sekali; geram; jengkel sekali: dng ~ dia pergi meninggalkan kami;
me·ra·dang·kan v marah sekali (geram) kpd;
pe·ra·dang n pemarah
ra·dang [2] n penyakit kerusakan jaringan tubuh yg ditandai oleh demam dan pembengkakan (jika sudah lanjut disertai keluar getah bening, darah, nanah): -- paru-paru;
-- ambing Tern peradangan pd ambing, umumnya disebabkan oleh kuman; mastitis; radang susu;
-- busuk bergas Tern koreng pd kaki, baik di luar maupun di bawah kulit yg disebabkan oleh kuman Clostridium;
-- limpa Dok penyakit akut disebabkan oleh Bacillus anthracis, menular, dapat menyerang hewan dan manusia;
-- otak penyakit radang pd otak;
-- susu radang ambing;
-- tenggorok penyakit radang pd tenggorok, ditandai warna merah dan rasa gatal pd tenggorok, kadang-kadang disertai rasa demam;
-- teracak Tern radang pd telapak kaki sapi atau domba yg ditandai dng pincang, panas, dan bengkak di atas kuku, serta terdapat nanah di bawah kuku;
-- tulang penyakit tulang kronis dng ciri menebalnya tulang panjang dan deformasi tulang pipih; ostitis;
me·ra·dang v menjadi bengkak dan keluar getah bening (darah, rajah) disertai demam: luka pd kakinya ~;
pe·ra·dang·an n proses menjadi radang; proses meradang; reaksi jaringan tubuh thd penyakit (cedera) yg ditandai oleh suhu badan naik (bengkak )
Ya, adalah makna radang ke dua yang saya idap pagi ini sejak kemarin. Radang yang tidak enak. Dan kita sukar berkelit darinya, bila virus telanjur menggerogoti antibodi. Solusinya, ya, hubungi apotek atau dokter terdekat. Atau, dengan curhat di blog seperti saya kali ini.

Radang yang pertama, sebetulnya masih bisa dihindari. Tapi kita malah keenakan melakukannya. Tersulut emosi sedikit, langsung meradang. Pacar lupa sms―Lagi ngapain, say? atau Hati-hati di jalan, say. Miss you :*―langsung meradang. Sehabis itu, langsung diputusin. Sensi amat, ya, kayak Hitler.

Kenapa, ya, justru hal-hal yang tidak baik itu selalu enak.

Tapi bagi saya, tidak ada yang lebih enak daripada sehat.

03 October 2013

Lidah Lebih Tajam daripada Sebilah Pedang

8 comments :
Mengapa lidah digadang-gadang lebih tajam ketimbang sebilah samurai?

Seorang anak minggat dari rumahnya lantaran selalu dihardik "duit lagi, duit lagi" kala pulang ke orangtuanya, padahal semula ia berniat silaturahmi.

Si cowok tidak lagi tampak bergairah usai si cewek memutuskan untuk mengakhiri pertalian hati.

Perceraian berawal dari ruapan uneg-uneg yg lama dipendam salah satu pihak.

Perseteruan kakak dan adik terus dipelihara, terpantik oleh fitnah yang menderas dari tetangga, di mana tetangga itu amat bergempita menyaksikan orang lain merawat kesalahpahaman.

Aparat hukum terjerat kasus korupsi bermula dari laporan intelijen serta dari mulut teman terdekat yang disulap jadi saksi.

Suatu negara luluh-lantak sebab seorang prajurit perang yang tertawan negara lawan dipaksa membeberkan rahasia negaranya.

Presiden tidak pernah tidak galau karena setiap hari kebobrokannya ditelanjangi news anchor tv berita.

Seharusnya ada profesi pawang lidah.