27 November 2013

Etis dan Etos

6 comments :
Sampai siang ini, dua tahun belakangan, saya ‘menumpang-teduh’ di rumah teteh (kakak perempuan). Dan kepindahan saya dari kos-kosan di Bekasi ke rumah teteh di Bogor bersamaan dengan lahirnya putri keduanya. Ya, sekisar dua tahun lebih empat bulan. Tidak terasa ternyata. 

Saya sungguh takjub mengikuti perkembangan perempuan mungil itu semenjak ia masih bersosok bayi merah, beberapa bulan kemudian ia tertawa-tawa melihat cecak di dinding atau mendengar mainan yang menimbulkan bunyi gemerincing, mengeja diksi ‘mama’ dan ‘ayah’ dan ‘nenen’, tengkurap, ngesot ke belakang, merangkak, berdiri, jatuh dari berdiri, bangkit dari berdiri, berjalan menggapai-gapai, berjalan tertatih-tatih, berjalan santai, berlari-lari. Dan, sejak ia mampu berlari-lari, timbullah masalah. 

Saban waktu―pagi, siang, sore, bila sedang berada di rumah―kerap saya saksikan kehebohan di rumah. Pagi hari setelah ayah dan kakaknya berangkat, si kecil mengacak-acak rumah yang sudah dirapikan mamanya; menumpahkan sarapan dari mangkuknya, membanting remote tv, melempar blackberry, mencoret-coret dinding maupun melukis tangannya dengan spidol. 

Setelah kakaknya yang sudah kelas tiga SDIT pulang dari sekolah pada pukul tiga, rumah semakin ramai. Si kakak mempunyai rasa tak ingin tersaingi adiknya. Enggan mengalah dalam segala; berteriak tatkala mainan atau buku miliknya dipegang bahkan sekadar disentuh oleh si adik. Kalaupun mengalah, pasti diakhiri dengan tangisan. Mamanya menyumpah-nyumpah tabiat mereka.

Sebelum ayahnya pulang, saya harus berangkat kuliah. Dan sepulang kuliah pada pukul sepuluh malam, rumah tak lagi ramai sebab mereka sudah terlelap.

Saya iseng-iseng menerka tipe kepribadian ketiganya. Teteh saya Sanguinis-Koleris. Suaminya Melankolis-Plegmatis. Sempat mengikuti psikotes, si kakak sama dengan mamanya, yakni lebih dominan pada sisi Sanguinisnya. Tetapi, si adik lebih dominan pada Koleris, sehingga ia menjelma penguasa di rumah. Tak ayal, meledaklah kehebohan itu tiap hari. 

Bukan. Kehebohan itu bukan perkara bagi saya sebagai om mereka yang menyesaki ‘istana’ keluarga mereka. Hmm, sebentar, sepertinya pernah juga saya menggerutu dalam hati. Kejadian itu terhelat pada pertengahan tahun ini. Manakala saya sedang mengetik tugas kuliah ataupun naskah cerita, ponakan saya mengamuk saban malam, menangis-menjerit-merintih sampai-sampai air matanya tak mengalir saking lamanya durasi tangisnya. Kala itu ia sedang disapih dari ASI. Dua jam kemudian, barulah isaknya terhenti setelah ayahnya terpaksa membentak-bentak sembari melafal istigfar. 

Gara-gara itu, saya lebih memilih meninggalkan tugas kuliah dan naskah-naskah itu, dan memilih tidur saja, sebab saya paling tidak bisa berpikir dan menulis tanpa keheningan. 

Seminggu kemudian, teteh saya diopname lantaran dehidrasi yang disebabkan kelelahan bergadang; menggendong meredakan tangis si kecil, sedangkan paginya ia harus bergumul dengan kebaktian rumah tangga. Singkat kata, sampai lebaran teteh saya sembuh, sehingga ia tidak perlu berlebaran di rumah sakit. Namun usai pulang dari mudik lebaran, giliran si kecil itu yang harus menginap di hotel medis.

Sekarang, si mungil tidak lagi mengamuk saban malam. Namun, ia dan kakaknya masih terus memelihara pertikaian. Ada-ada saja hal sepele yang mereka soalkan. Hampir setiap hari pula saya simak teteh saya dan suaminya menasihati si kakak supaya mengalah terhadap si adik, sampai-sampai saya hafal dan bosan. Terkadang nasihat itu bernada tinggi, alias memarahinya sampai si kakak pundung seharian. Ujar orangtuanya, si adik masih kecil, tidak tahu apa-apa, yang lebih gede yang mesti mengalah. Kasihan sebetulnya si kakak itu. 

Sehari-hari hidup bersama mereka, saya malah kepikiran diri saya sendiri. Saya ialah anak bontot dari lima bersaudara. Saya tidak punya adik, sehingga gagal merasakan seutuhnya ihwal peran kakak yang selalu kalah ataupun dikalahkan. Mungkin dahulu saya malah berada pada posisi si kecil yang egois dan senantiasa dimenangkan oleh mama papa. Tetapi, izinkan saya untuk berempati terhadap si kakak dengan menuliskan ini.

Hmm, mohon luruskan andai saya keliru. Saya percaya, sifat dan karakter manusia tak akan berubah dari kecil sampai dewasa. Memang, ada orang yang pernah bilang, bila tak mampu mengubah sifat atau tabiat burukmu, kau hanya akan jadi pesakitan, mustahil jadi orang sukses. Ya, itu betul. Sangat. Tapi, menurut saya, mereka-mereka yang sukses itu sekadar berhasil menambahkan topeng di wajah dan akal dan hati mereka. Semacam serigala berbulu domba. Atau tikus got bertuksedo.

Manusia dewasa mengedepankan etis dan etos. Segala tindak-tanduknya, haruslah sesuai dengan alur etika, kebiasaan, adat, agama, hingga tren, tutur manusia dewasa itu jemawa. Namun, apakah mereka selalu benar? O, saya rasa pengusaha beristri banyak itu orang dewasa. Saya rasa tetangga yang nyinyir itu orang dewasa. Saya yakin pembobol supermarket itu orang dewasa. Saya percaya yang mulia pengacara-pengacara konyol dan (maaf) tolol di acara Indonesia Lawyers Club itu orang dewasa. Dan, saya yang pemalas ini sudah terperangkap pada rentang usia manusia dewasa. Menyedihkan. 

Saya lebih memilih menyaksikan pertikaian adik imut dan kakaknya di rumah teteh yang walaupun kadang bikin senewen, toh selalu diakhiri oleh happy ending, ketimbang menonton televisi. Mereka, anak kecil itu, selalu jujur meruahkan ekspresi dan prinsip masing-masing, tanpa intrik dan kepentingan tertentu. Sungguh. Saya malah berharap, jangan sampai mereka bertingkah alim sebagaimana kami yang mengaku dewasa, padahal di balik itu, entah. 

Ponakanku, kalian sudah berperilaku sewajarnya. Orang-orang tua seperti kami yang semestinya belajar kemanusiaan dari kalian.

16 November 2013

Perihal Kritik

8 comments :
Kamu suka ketika penampilanmu dikritik teman? Atau, kamu amat bahagia saat orangtuamu menasihati dengan nada tinggi bahwa sesekali kamu harus bangun pagi-pagi? Jika kamu suka dikritik, sepertinya kamu harus lekas memeriksakan kesehatan jiwamu ke psikiater. Eit, tapi, tunggu dulu. Baca dulu postingan saya sampai tuntas, ya, hehe.

Manusiawi sebenarnya, manakala bibir kita pura-pura tersungging padahal hati kita tersinggung saat mendengarkan orang lain dan orang terdekat menasihati kita, mengkritik segala yang kita perbuat. Tapi, percayalah teman. Kritik itu membuat kita sungguh-sungguh hidup. Setidaknya bagi saya.

Dari dunia kepengarangan, saya menyadari betapa berharganya sebuah kritik. Dulu, ada anggapan bahwa seorang pengarang belumlah sah disebut pengarang―atau sastrawan―bila belum masuk laci kritik sastra HB Jassin. Dari tangan dingin dan tulisan tajam beliaulah―yang kerap menikam hati yang dikritik―saat itu, sastra Indonesia pesat berkembang, dan menemui pembaharuan setelah sebelumnya sempat stagnan dengan gaya bahasa itu-itu saja, dan tema yang seragam antar pengarang.

Minggu sore kemarin, saya menghadiri #BincangBuku di Rumah Kata Indonesia, Bogor, menelisik novel Jurai anggitan Guntur Alam. Mendengar nama Guntur Alam mungkin tak seakrab mendengar (lagi-lagi) Andrea Hirata ataupun Ahmad Fuadi atau bahkan Raditya Dika. Tetapi namanya lumayan akrab di benak saya beberapa bulan belakangan―setelah saya memutuskan untuk rajin membaca apa saja di mana pun, sebab saya sering menemui cerita-cerita pendeknya di berbagai media yang arsipnya terdapat di internet. Saya bersyukur bisa bersuamuka dengan cerpenis muda produktif itu.

Setelah Jurai dikupas habis-habisan mulai dari penempatan catatan kaki sampai perkara stilistika oleh Om Adi, Mas Guntur pun menjawab beberapa pertanyaan hadirin. Saya melontarkan pertanyaan yang sepele, dan dijawab pula oleh pernyataan yang terdengar sederhana, namun amat menohok: rajin-rajinlah membaca, dan membuka kamus dan tesaurus.

Ada pertanyaan menarik dari peserta #BincangBuku lain. Salah satunya yakni, bagaimana cara tabah bertahan tanpa patah arang saat menulis? Mas Guntur pun menjawab panjang lebar, seolah membawa kami ke belasan tahun silam saat awal-awal perjuangan dia menembus media. Rupanya, sejak remaja, ia suka mengirimkan karyanya ke berbagai media, namun hanya satu saja yang tembus, itu pun rubrik surat pembaca, hehehe. Luar biasa menyimak kegigihannya. Sampai tiba saat Mas Guntur kuliah di Bekasi, untuk pertama kali karya fiksinya (cerpen) dimuat oleh majalah Sabili.

Perjuangannya belum bersudah. Beberapa tahun kemudian, cerpennya dimuat koran daerah. Dari situ ia merasa terpacu terus menulis, untuk kemudian berpayah-payah mengirim cerpennya ke Kompas, media yang digadang-gadang sebagai barometer cerpen koran minggu berkualitas. Singkat kata, cerpen Mas Guntur pun dimuat. Dia senang sekali. Tetapi…

Setelah cerpennya diunggah ke blog cerpenkompas, serentetan kritik menghunjam dirinya. Mulai dari kritik bernada kecaman―tanpa isi―sampai kritik yang benar-benar kritik, yang menelanjangi cerpen pertama Mas Guntur di Kompas. Akunya, ia sempat down. Bahkan ia berniat meninggalkan dunia kepengarangan.

Namun, setelah ia pikir, resapi ulang kritik-kritik itu, ia menemukan titik terang. Entah apa itu, yang jelas, ia mengonversi kritik menjadi semacam pemantik kreativitas. Dan meledaklah! Usai mentalnya sempat roboh berkat kritik-kritik kritikus sastra betulan ataupun komentator anonim yang sekadar bercuap ‘bunuh diri aja, lu!’ di blog cerpenkompas, Mas Guntur semakin mendalami teori kepengarangan, setelah sebelumnya hanya belajar secara autodidak.

Beberapa bulan kemudian, cerpennya lagi-lagi dimuat media. Tak tanggung-tanggung, cerpennya dimuat Koran Tempo, media yang redaktur sastranya lumayan killer! Seperti hujan bulan November, karyanya terus menderas menghujani berbagai media nasional, baik majalah remaja, majalah dewasa, dan koran minggu. Dan tentu saja novel Jurai dan beberapa novel remaja lain yang sudah terpampang di toko buku. Ciamik!

Ah, ya, saya juga sering sekali dikritik orang-orang sekitar saya dalam segala aspek. Namun, entah oleh karena tabiat saya yang keras kepala, mental saya jarang down. Pernah down, namun sekejap saja, sebab saya tak pernah meratapi sedemikian pilu kejatuhan mental hingga berhari-hari, berbulan-bulan lamanya. Mubazir waktu.

Saya justru memilah-milah kritik mereka: mempertahankan yang baik, memperbaiki yang buruk. Pada akhirnya, saya merasa benar-benar hidup. Sebab dengan dilontari kritik oleh orang-orang terdekat, saya bersyukur, ternyata masih ada manusia yang memedulikan hidup saya. Saya senang.

Oh, ya, kebetulan ada satu cerpen saya yang dimuat majalah. Jika ingin membaca, silakan beli Femina edisi pekan ini, 16-22 November 2013. Atau, jika keberatan membeli Femina, karena itu majalah khusus perempuan, bolehlah sekadar main-main ke toko buku ataupun ke kios koran pinggir jalan, untuk membaca majalah di tempat, dan membaca cerpen saya saja, hehehe.

Selamat menikmati hari Sabtu, teman. Siang ini gerimis dan dingin sekali. Ada kopi?

01 November 2013

Googling Aja

17 comments :
Kamis sore, saya terlibat bincangan dengan seorang teman laki-laki. Dia sering―saya paksa―jadi pembaca pertama tulisan-tulisan saya, baik naskah fiksi eksperimen maupun curhatan di blog cepy break! tercinta ini. Entahlah, berkat perannya itu, apakah dia harus bersyukur atau wajib segera tobat kembali ke jalan yang lurus, ya.

Tidak seperti obrolan sore yang biasa-biasa saja dan sering kali kering, sore itu saya terhenyak. Sekalipun dia sama sekali bukan blogger―lebih tepatnya dia belum beniat untuk menulis dan curhat colongan di blog seperti saya, sebab saya yakin andai ia mulai menulis, tulisan saya nampak seperti sampah yang tersisih oleh tulisannya―ada beberapa pernyataan keren dari mulutnya perihal blog.

“Gimana naskah lu, udah kelar belom?

Saya menggeleng lemah. Selain lemah berkat depresi lantaran naskah impian saya tak selesai-selesai, hati saya pun gemas meratapi polo shirt hitam dan celana jeans dan sepatu kets basah kuyup disimbah hujan penghujung Oktober seukuran butiran jagung dari langit kota hujan.

“Eh, gue suka tuh postingan Perihal Suka lu,” pujinya tiba-tiba, “unik.”

Mendengar pujiannya, saya berusaha memagari hidung supaya tidak mengepakkan sayap.

“Makasih,” timpal saya, tanpa memeluknya. Sebab, jujur, saya lebih suka memeluk perempuan.

Seperti biasa dalam setiap obrolan dengannya, saya memerangkap otak dan mulut dia ke dalam dunia mini saya yang absurd, tidak semua orang rela memahami alur-pikir liar benak saya. Kami saling beropini tentang hujan lebat yang kerap membangkitkan pelbagai imaji. Film indie. Cerpen dan novel sastra. Basket. Perempuan. Kompetisi film sepuluh detik. Dan blog.

Kepadanya, saya mengeluhkan tulisan di blog saya yang kian hari kian aneh. Jauh lebih aneh daripada postingan-postingan awal-awal saya ngeblog, termasuk yang Perihal Suka itu, kesah saya kepadanya.

“Rasanya, gue pengin beralih jadi blogger yang ngebahas makanan aja, deh,” pasrah saya. Ya, saya memilih beralih membahas makanan, sebab tidak mungkin cepy break! menyoal bisnis online dan motivasi dan pengembangan diri. Toh saat ini saya sendiri yang butuh kucuran motivasi, tapi bukan dari motivator.

“Jangan! Gue malah nggak suka blog semacam itu,” sanggahnya.

“Itu urusan lu.”

Sekali lagi dia menggeleng. “Gue sering kecewa membaca blog yang membahas makanan, namun ternyata isinya nggak beda jauh sama rubrik kuliner di portal berita. Tahu gitu, ya udah, mending gue googling aja, kan?” ujarnya. 

Imbuhnya lagi, “Nggak ada opini spesifik yang mengumbar lidah orang itu merasakan rasa asin, manis, atau basi. Yang ada cuma puja-puji terhadap makanan itu tanpa cela. Sedangkan gue, lebih seneng baca opini yang subjektif: apakah tempatnya cocok buat pacaran, apakah harga makanan itu terjangkau oleh kocek mahasiswa.”

Saya melongo. Dan sedikit mengiyakan pendapat teman saya itu dalam hati.

“Malah, gue lebih suka blog yang isinya curhatan kayak blog lu. Well, emang, sih. Kadang postingan lu terkesan cengeng, dan nggak laki,” risaknya.

Saya mendelik, dia ketawa puas.

Katanya lagi, “Walaupun cengeng, tapi, apakah pengalaman hidup atau bahkan cinta seseorang yang gue kenal bisa gue googling semudah googling makanan? Nggak, kan? Kalo gue terpaksa googling, yang ada, malah gue tersesat di website gaya hidup pria urban, lantas dipetuahi sama pria-pria metroseksual bahwa jadi pria menarik itu harus ini lah, itu lah, beli fashion item merek ini lah, harus sesekali pergi ke salon anu lah. Gue pikir pria-pria flamboyan itu lupa, kalo setiap laki-laki itu diciptakan berbeda-beda,” ketusnya, “maksud gue, beda-beda nasib dan rezekinya.”

“Tumben banget lu ngomong sebegini waras,” decak saya. “Terus, apa yang mesti gue lakuin supaya gue bisa semangat lagi buat nulis postingan dan nulis fiksi?”

“Mending baca postingan blog lama lu. Terus terang, postingan lama lu lebih mengalir, blak-blakan, dan jujur. Nggak kayak postingan sekarang yang, agak jaim, menurut gue.”

“Tapi, kan, tulisan dari hari ke hari itu turut mendewasa mengiringi usia manusia yang mengetiknya? Wajar, kan, kalo gue semakin jaim?”

“Ah, tua banget omongan lu!” sambarnya.

Saya terbahak. “Hayo, gimana?”

Mata cerdasnya nampak berpikir. Mulutnya bergerak-gerak.

“Kalo mau punya tulisan bagus, ya, nulis sesuai isi hati lu,” kata teman saya seenteng kapas, “jangan nulis apa yang hebat menurut orang lain, tapi lu sendiri malah bingung. Lu sendiri malah terbebani. Bahkan, jangan-jangan lu malah nggak ngerti tulisan yang lu ketik sendiri.”

Saya sebenarnya tertohok sekaligus takjub menyimak pernyataan teman saya yang tidak terduga-duga itu. Namun, namanya juga perbincangan sesama laki-laki, saya sekadar menyahut, “Males.”

Dan dia pun menukas, “Kampret.”

Begitulah. Kadang kala suara subjektif seorang teman jauh lebih berharga ketimbang petuah emas mencerahkan dari motivator kondang dan motivator jadi-jadian. Pendapat seorang teman tidak bisa di-googling.