30 December 2013

Pertanggungjawaban 2013

8 comments :

Cerah pagi-pagi. Terik siang-siang. Hujan petir sore-sore sampai tengah malam. Sudah penghujung Desember aja, nih. Sudah tercapaikah resolusi-resolusi yang kamu bikin setahun yang lalu? Semoga banyak yang terkabul. Kalau belum, tenang, masih ada sisa durasi sehari lagi, ceman-ceman. Serangan fajar. Kebut!

Menjelang penghujung tahun, biasanya para blogger suka memposting apa-apa (atau siapa?) yang mereka sukses capai setahun ini. Saya, sebagai pure blogger (dalam artian cuma menulis di blog itu pun kalau sempat alias enggak malas, jarang sekali kopi darat dan mengikuti seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan blogging), saya rasa tahun ini ialah tahun paling galau. Ya, bolehkan saya galau? Toh diriku ini masih muda bingits kakaaaak, jebret!

Mumet-ringannya kadar postingan saya sepanjang tahun ini sepertinya berkelindan dengan suasana dalam otak, dan hati saya. Februari lalu bapak saya dirawat lagi, syukurlah kini beliau sehat kembali walaupun tidak 100 persen seperti sedia kala. Sebelum lebaran, kakak saya diopname. Dan tepat lebarannya, kakak yang di Bekasi sakit. Pasca lebaran, ponakan saya yang diopname. Pasca lebaran haji silam ibu saya yang sakit. Pengawal Desember, ibu saya sakit lagi.

Mudah-mudahan tidak ada yang sakit menjelang penghujung 2013. Kendati muak menghirup bau rumah sakit bahkan mendengar nama rumah sakit pun menggugah saya buat melafazkan ayat kursi, saya bersyukur, saya pribadi masih dicurahi nikmat kesehatan. Terima kasih, Yang Mahamurah.

Bila menyoal kuantitas, tahun ini jumlah artikel di blog saya lumayan meriut dibanding tahun lalu. Dan jangan membicarakan kualitas! Blog saya tidak ada apa-apanya. Sesuai namanya (cepy break!) saya ngeblog di sini sekadar mengisi alias mencuri waktu luang di celah-celah kuliah. Jangan terlalu serius membaca blog saya. Ya, anggaplah seamsal menyeruput kopi di kedai pada coffee break pukul sepuluh pagi atau menghirup teh pukul tiga sore. Tidak ada tujuan, visi, misi, strategi mengerucut, sebab niatnya sekadar melepas penat, kan? Maunya sih begitu, tapi realitanya… hahaha.

Saya memulai pertanggungjawaban 2013 singkat ini dengan Indeks Prestasi. IP semester ini belum keluar, namun IP semester lalu sedikit meningkat. Tipis sekali. Nominal tepatnya, rahasia. Intinya, saya tetap menjadi mahasiswa dengan raihan prestasi paling bontot di kelas. Jangan bayangkan suasana kampus saya seperti kampus lain yang kebanyakan mahasiswanya cuek satu sama lain lantaran sama-sama merasa sudah dewasa, dan memilih fokus dengan tujuan hidup masing-masing.

Di sini jalinan pertemanannya cukup rekat. Saking lengketnya, saya malah teringat masa SMA bahkan SMP, yang acap melahirkan konflik-konflik sepele, sehingga saya cenderung malas turut terlibat lebih intim dengannya. Lucu soalnya. Ada pula yang berpangkal dari penitikberatkan nilai sebagai tujuan. Ya, nilai. Guratan angka di atas kertas. Rupanya saya lain; saya sadar, saya terlalu tua andai masih berkelakuan seperti itu. Bagi saya sekarang, apatis lebih baik daripada ikut campur secara ujug-ujug. Hidup apatis!

Tahun ini saya gagal menepati janji. Di balik ruwetnya dunia kuliah dan cerewetnya dunia online, saya mencuri hampir separuh waktu saya tahun ini untuk menulis prosa dalam halaman putih MS. Word. Sudah 11 cerpen saya tulis dengan tema beragam. Saya senang sekali. Dulu, tak pernah terpatri sedikit pun dalam hati saya niat untuk menulis cerita pendek, sebab membaca pun hampir tidak pernah!

Naskah novel, nah, itu dia janji yang saya ingkari itu. Januari mendatang, genap satu tahun saya menulis novel. Namun tidak selesai-selesai. Rupa-rupa alasannya. Yang paling sering hinggap, ya, godaan untuk membuat outline atau gagasan baru dari nol. Perbuatan itu sudah saya lakukan empat kali. Dan, awal Desember kemarin, nyaris saja saya mengacak-acak semuanya dari nol lagi. Berarti jika itu terjadi, lima kali alias setahun sudah waktu saya tersia-sia. Betapa! Ah, syukurlah kemarin saya masih kuat iman. Saya pikir-pikir lagi, saya renung-renung, saya timbang-timbang. Dan endapkan. Dan sampai sekarang pun, naskah itu belum juga saya sentuh lagi. Duh.

Mungkin masalah pelik ini nampak sepele bagi kamu, teman. “Menulis, ya nulis saja, nggak usahlah banyak gaya, pamer buku-buku yang sedang dibaca, nggak usah banyak mengumbar omong. Tuh, buktinya nggak selesai-selesai, toh?” Saya sering mendengar bisikan-bisikan dari segelintir orang. Gara-gara itu, sering pula saya patah arang, bangkit lagi, patah arang, namun kemudian kini saya remukkan arang itu lalu menggantinya dengan titanium supaya hati saya tidak seringkih arang. Sebab, seibarat komentator bola dan pemain bola, komentator justru terkesan lebih pandai bermain bola daripada pemain bolanya itu sendiri. Padahal…

Menulis tanpa membaca sama saja dengan rapat, sidang, muktamar anggota dewan. Buang-buang stamina, buang-buang waktu! Saya merasa takjub tahun ini: baru sekarang saya membaca novel, kumpulan cerpen, puisi, esai, lebih dari 40 buku. Menurut saya, ini merupakan prestasi tersendiri. Sebelumnya, ya, tengok saja 2012, saya cuma membaca lima novel. Itu pun novel Partikel Dee Lestari baru saya selesaikan pada akhir tahun 2012.

Tiada lain, ini berkat teman-teman di kelas anggit yang sudah memantik minat baca saya, sehingga saya mulai rakus membaca saat ini, mudah-mudahan sampai kelak tiada akhirnya. Bagaimana mau bikin buku kalau baca buku orang lain saja malas? Terima kasih, teman-teman.

Hmm, resolusinya mana? Sepertinya tahun depan saya harus sering menjenguk orangtua, kakak-kakak, dan keluarga. Hidup bukan milik saya sendiri. Semuanya sudah ada bagian-bagiannya, adil, dan saya bukan anak kecil lagi. Doakan saja, kabarnya, ibu dan bapak saya hendak membeli rumah di sini, di Bogor. Dengan demikian, saya bakal bisa hidup berdekatan lagi dengan mereka, sebagaimana masa kecil. Sehingga mereka tidak lagi tinggal kesepian berdua di rumah di Bandung.

Bagi saya keluarga layak jadi resolusi nomor satu. Urusan selain keluarga? Hmm, penting juga. Penting banget! Tapi, ya, biarlah mengalir seperti air. Sebab saya pikir-pikir lagi, air yang mengalir pun punya pakem. Tidak sekadar mengalir seperti orang-orang malas. Sepanjang aliran yang dialiri air itu, bukankah banyak sekali rintangan yang mustahil ia hindari?

Mengalir tidak selalu alir. Ada saat di mana air tersendat oleh sampah-sampah dari kota. Ada saat di mana air berlainan kasta: air A di comberan kampung, air B mengisi goblet-goblet yang tersaji di hotel, air C menggenangi atap yang bocor. Ada saat-saat air mencurah-deras di air terjun, sehingga ikatan atomnya berpencaran. Namun, nyatanya air bakal berikat-kelindan lagi nanti di hilir. Di laut. Bila tidak di keduanya, mungkin awan mendung bersedia menampung kebersamaan mereka. Dan hujanlah. Begitulah, sampai logika saya lelah.

Selamat tahun baru 2014. Apa resolusimu? Yuk, curahkan, catatkan, wujudkan!

8 comments :

  1. Semoga dirimu dan semua keluarga selalu sehat di 2014 Cep. Semangat dan semoga juga novelnya segera kelar. May 2014 come and have a great year ahead! :)

    ReplyDelete
  2. sedih baca paragraf 3 semoga tahun baru selalu sehat semuanya y aCepy

    tahun baru sih pengennya mulai belajar Jogging biar bisa bareng suami tiap minggu sore lari, soalnya selama ini bisanya cuma mengekor suami pas Jogging dgn naik sepeda aku hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin.. haha, semoga tercapai mbak :D ngomong-ngomong, di antara lari sama bersepeda, yang mana yang lebih banyak bakar lemak, ya? :D

      Delete
  3. Semoga ke depannya bisa lebih baik lagi, Sob. Dan semoga senantiasa berada dalam lindungan Tuhan, amin.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin. makasih, sukses juga buatmu, sob :)

      Delete
  4. Tahun 2013 adalah tahun dimana duitnya lagi banyak2nya hahahaha.. tahun bekerja.

    tahun 2014 ini saya harap menjadi tahun santai dan istirahat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. azeekg. boleh dong traktirannya kakaaak :D

      Delete