30 December 2014

Senin Terakhir di Braga Permai

2 comments :
Ketika masuk ke kafe maupun foodcourt, memindai menu satu per satu, pernahkah kepikiran seperti ini: "Aduh, lagi-lagi ayam goreng kremes paket nasi putih sebesar kepalan, nasi goreng, minumnya lagi-lagi jus jeruk, lemon tea, mentok-mentok teh botol."

Padahal rasa pecel ayam pinggir jalan jauh lebih enak daripada ayam goreng di pujasera, dengan hati damai sebab harganya lebih masuk akal. Bonus teh tawar anget lagi!

Semalam, sebelum kembali ke Bogor dari macet-macetan seharian di Bandung bersama pacar (iya, si M itu) dan sepasang pacar (ceritanya double date), saya mengajak mereka ke jalan Braga untuk mengisi perut. Pilihan saya ke Braga lantaran kebawelan mereka yang kecewa sepulang dari De Ranch, Lembang. "Gitu-gitu aja ternyata. Kalo di internet kayaknya waw banget. Untung sih banyak objek foto-foto cantik. Tapi, jauh-jauh ke Bandung, menu di foodcourtnya biasa aja, ujung-ujungnya nasi goreng, ayam kremes lagi."

Gimana, udah mirip koboy belum?

Gimana, udah mirip BenJosh belum?

Padahal perjuangan kami kurang apa lagi, teman. Dari Bogor ke Lembang, lokasi De Ranch, memakan waktu empat jam. Dan dua jam adalah waktu yang iyuwh keterlaluan untuk sekadar turun dari Lembang ke pusat kota, khususnya bagi dengkul dan mata mengantuk saya. Sesampai di Pasteur pukul 18.35, padahal dari Lembang jam empat sore, kami menepi ke mushola SPBU, sebab takutnya waktu magrib ludes disantap macet untuk sekadar mencari masjid terdekat.

Kemudian kami melintasi kolong jembatan Pasopati, menuju Braga yang, mujurnya, jalan menuju ke sana ramai lancar, masih berperikemanusiaan, tidak seanarkis ke Lembang, dan sedikit romantis berkat temaram lampu jalan dan gemerlap neonbox pun neonboard toko-toko yang tipografinya keren-keren.

Setelah jalan-jalan dan foto-foto sejenak meniru barudak gaul Bandung di trotoar Braga dan Asia Afrika, kami berjalan di atas pedestrian bermaterialkan batu alam, menengok kiri-kanan di mana banyak terdapat kafe, restoran, bar, maupun perpaduan ketiganya. Suasanya seperti di film-film berlatar Eropa tahun 1900an. Jadul pake banget, tapi artistik. Sebentar saja berjalan, tibalah kami di Braga Permai, disambut sopan pelayan berhem merah dof lengan panjang, mempersilakan kami duduk dan bertanya apakah hendak duduk di luar atau di dalam, dan kami putuskan untuk duduk di dalam sebab rugi banget secara sadar mengisap asap rokok para perokok di luar restoran, sedangkan tidak ada perokok di antara kami berempat.

Pelayan yang nampak sudah berusia matang itu cekatan menyodorkan menu berbentuk buku yang cukup tebal, di mana menu tersebut membuat kami bengong beberapa menit. Bukan, bukan karena harganya. Namun beneran bingung menafsirkan seperti apa makanan yang namanya aneh-aneh ini?


Kami khusyuk mengamati menu demi menu, bertolak belakang dengan tadi siang; menatap bosan menu biasa-biasa saja di pujasera De Ranch. Sungguh, referensi kuliner kami hanya sebatas Solaria, fast food, kafe-kafe karbitan, dan nasi goreng tentunya.

Mata saya langsung menyipit kala melihat Bitter Ballen!

Sepuluh menit berlalu, sudah seperti membaca literatur Elsevier saja kami dalam memperlakukan buku menu di restoran yang dulu bernama Maison Bogerijen itu. Complimentary snack datang, dan semula teman saya langsung mengira roti dan cheese stick di dalam keranjang beralaskan tisu itu pada akhirnya harus dibayar seperti otak-otak di pujasera mal-mal dan rumah makan di Bogor. Hmm.. menyedihkan ya keseringan makan di Bogor yang segala rupa pun ujung-ujungnya masuk bill, termasuk air putih dan teh tawar.

Complimentary snack: garlic bread and cheese stick, ditemani tiga macam saus

Alhasil habis juga

Menu pertama yang si M pesan adalah nasi putih. Harganya 6500, dan wajar, pikir saya. Tapi, percaya tidak, begitu datang, nasinya banyak banget! Satu lodor penuh! Melihat itu, si M malah gak jadi makan nasi karena kekenyangan makan sup ayam kental (entah, saya lupa nama versi Englishnya) yang dia pikir sebelumnya bisa dimakan sama nasi, tapi ternyata sup saja sudah bikin dia kenyang.

Sate Ayam

Dengan terpaksa namun ngiler, saya pesan sate ayam karena gak tega menatap nasi sebanyak itu dianggurin. Selain Chicken Satay yang dihidangkan di atas hotplate, saya sudah menggebu-gebu menikmati Bitter Ballen, menu legendaris khas Belanda yang katanya menu andalan restoran yang berdiri sejak 1923 ini.

Bitter Ballen! Legend!

Kopi Tubruk, bonus biskuit jahe

Kopi tubruknya lebih enak dari Starbucks. Air putih gratis dan bisa direfill, bahkan pelayan sendiri yang menuangkan dengan sigap begitu melihat gelas goblet kami sudah tinggal separuh. Suasananya sesuai dengan lingkungan jalan Braga: vintage. Damai, tenteram, menjaga sopan santun antara pelayan dan pelanggan, sejenak melupakan kebergegasan zaman modern yang membinasakan. Segenap kesan menyenangkan itu memperindah Senin malam terakhir di tahun 2014.

Dan terus terang saya tidak sanggup menjabarkan secara detail rasa aneka ragam menu yang kami pesan, karena semua-muanya enak-enak! Serius! Mulai dari makanan tradisional semacam Sate Ayam (Chicken Satay) pun Sup Asparagus, menu western seperti Braga Pizza dan Chicken Soup, maupun menu legendaris Bitter Ballen, semuanya saya kasih skor 9 dari 10! Sisa skor 1-nya saya zakatkan saja, takutnya Braga Permai takabur lantas malah memutuskan bikin ribuan franchise layaknya Capuccino Cincau, yang disinyalir bakal mereduksi kualitas pelayanan dan degradasi resep yang dilestarikan turun-temurun itu, sebagaimana bangunan resotoran ini yang senantiasa terjaga keaslian arsitekturnya.

Air putih dalam goblet yang refillable

Perkara harga, sangat worthed, teman. Porsi mengenyangkan, rasa menakjubkan, harga terjangkau, malah lebih murah dibanding makan di Solaria atau fastfood mainstream yang rasanya biasa aja.

Akankah berkunjung kembali ke Braga Permai? Pasti! Tapi, mungkin lain waktu saya ke sana, saya harus menenteng Kamus Inggris-Indonesia John M. Echols. Plus buku saku Grammar Oxford.[]

PS. Foto-foto makanan di Braga Permai bukannya sok-sokan pake filter ya teman. Tanpa filter. Lighting di dalam restoran ini sudah menghasilkan efek vintage kekuningan :D

Skor Braga Permai - Bandung :
Rasa : 9
Tempat : 8,5
Pelayanan : 8,5
Harga : 8
Instagramable : 9

13 December 2014

Adakah Fulus yang Tulus?

8 comments :

Sepulang dari kerja praktek hari terakhir sore kemarin, saya langsung pulang, padahal ada piutang pertemuan satu mata kuliah, namun saya memutuskan untuk skip saja. Badan pegel-pegel, kepala pusing, otak semrawut mikirin hal-hal yang gak semestinya dipikirin.

Karena bosan melewati Cibinong, saya pilih melalui Sentul dan selanjutnya menembus jalan Kandang Roda. Selain bosan, alasan saya memilih jalan lain adalah menghindari kemacetan yang bengkak sepanjang Cibinong. Namun ternyata saya keliru. Sentul juga macet.

Dengan seliweran motor dan truk sebagai sekadar bumbu, antrean mobil pribadi mengular sekitar satu kilometer sebelum persimpangan Sirkuit Sentul. Di sana memang terdapat empat gerbang tol yang otomatis setiap saat memuntahkan mobil-mobil yang dibawa oleh orang-orang sibuk eight to five. Pendek kata, sama aja macet banget lewat Sentul juga.

Di tengah kemacetan, saya pandang sekilas wajah-wajah di balik kaca mobil yang kebetulan terbuka separuh. Kebanyakan sih kusut-kusut, mungkin bahagianya sudah habis pada pagi, siang sejak lima hari kemarin. Pengendara motor pun sama. Semuanya tampak ingin buru-buru sampai rumah; salip kanan, salip kiri, hampir menyerempet bodi mobil yang dikendarai wajah-wajah kusut itu. Termasuk saya mungkin, saya pengendara motor yang ingin lekas tiduran di rumah, menikmati suasana sendiri, benar-benar sendiri, setelah seharian selama lima hari kerja harus berinteraksi dan beramah-ramah dengan para manusia pekerja.

Apa sih yang yang bikin mereka rela bermacet-macet dari rumah ke tempat kerja, dan pulangnya pun sama macetnya? Tulus hati? Memang sudah panggilan jiwa? Bukan, sepertinya. 

Duit. Fulus, bukan Tulus.

*

Hal satu ini dilema. Kita mengenal uang terlalu dini. Melihat pesawat melintas di atas tiang jemuran, kita diguyoni oleh orang-orang tua kita supaya minta dijatuhi uang kepada pesawat. Perkara disuruh-suruh pun, perlu disogok terlebih dahulu, misalnya: "Ayolah, dek, beliin terasi. Nanti kembaliannya buat kamu."

Di sekolah dasar. Supaya kita semangat belajar, kita disuguhi harapan akan masa depan oleh guru-guru kita. Rajin-rajinlah belajar, supaya kelak jadi dokter, pejabat, polisi, jenderal, insinyur, presiden bahkan. Pendek kata, biar kelak jadi orang, sabda mereka. Kalau sudah jadi orang, bakal banyak uang, kaya raya, rumah luas, mobil banyak, istri cantik, anak cucu sehat. Hidupmu pasti bahagia, anak-anak. 

Menghadapi kemacetan di Sentul, dua ingatan tersebut saling bertayangan. Banyak juga yang berhasil mengaplikasikan titah guru-guru di masa kecil mereka. Profesi petani sudah selangka profesi tukang patri (tambal) panci. Semuanya memilih bekerja di ranah-ranah yang guru masa kecil mereka sebutkan. Aneka profesi yang berpotensi menelurkan uang lebih cepat. 

Buat apa lebih cepat? Tentu harus cepat, sebab uang-uang itu untuk mencicil mobil yang mereka gunakan dari rumah (yang juga diperoleh melalui kredit) ke kantor. Untuk belanja, kosmetik, arisan istrinya. Untuk liburan ke luar kota, padahal luar kota itu sama macetnya. Biaya les dan pendidikan anak-anaknya, di mana di sekolah masing-masing, kemungkinan besar anak-anak mereka pun disuapi petuah-petuah yang sama dengan mereka: rajin-rajinlah belajar, supaya kelak jadi orang, banyak uang.

Tulisan ini sulit sekali saya lanjutkan, karena saya belum pernah berada pada posisi sangat kekurangan uang atau sebaliknya, setiap hari tidur berselimut uang.

Seandainya uang tak pernah diciptakan... dan sepertinya Tuhan memang tak pernah menciptakan makhluk bernama uang. Manusia yang menciptakan, mengedarkan, membelanjakan, memboroskan, memalsukan, menyelewengkan uang. Barangkali jika sudah bosan, manusia akan memusnahkan uang. Menggantinya dengan batu akik bacan.[]

05 December 2014

Lo(ve) NOx Burner

4 comments :

Menurut seorang praktisi, burner tipe ini memiliki prinsip yang agak lain. Karakteristik paling menonjol dari burner ramah NOx ini adalah momentum yang tinggi. Momentum merupakan hubungan antara massa dan kecepatan. Demi mengkreasi momentum yang tinggi, diperlukan laju aliran udara primer yang sangat tinggi sehingga terwujudlah pusaran dalam maupun eksternal antara udara primer dan udara sekunder di mulut burner.

Bagaimana cara menciptakan high momentum?

Burner tip direlokasi sekaligus dimodifikasi secara geometris, dengan cara memisahkan saluran batubara, udara aksial dan udara radial. Saluran untuk batubara berada di tengah, dikelilingi oleh saluran udara aksial dan radial dengan celah-celah aneka rupa, guna memperkecil luas penampang.

Berkat luas penampang jalur udara aksial pun radial yang lebih kecil, diperoleh kecepatan udara primer yang jauh lebih tinggi ketimbang bentuk burner tip sebelumnya, dengan debit yang sama.

*

Selain momentum tinggi berkat aerodinamika burner tip, ada poin penting lain yang berkontribusi memangkas NOx dalam proses pembakaran.

Pada burner tipe mono channel, batubara dan udara primer dicampur dalam satu saluran nozzle saja, seperti selongsong pipa, kemudian keduanya bereaksi dengan panas di dalam tungku. Bahan bakar dengan mudah berbaur dengan udara di dalam nozzle. Keduanya adalah sejoli, yang kelak akan dibangkitkan oleh panas sebagai api. Mudah dan sederhana, namun sebagai konsekuensinya, mono channel burner menyisakan emisi NOx yang tinggi.

Bandingkan dengan multi channel burner tipe Low NOx. Batubara dan udara takkan berjumpa sebelum langsung bersemuka dan bereaksi secara sempurna dengan heat di dalam tungku. Mula-mula, memang, pertemuan keduanya ditunda terlebih dulu, tidak tergesa-gesa dipertemukan. Selalu ada jeda sebelum sempurna diwujudkan takdir.

Batubara dan udara itu seperti cewek dan cowok.

Mula-mula terpisah, bahkan konon berlainan planet. Pada akhirnya, cewek dan cowok bakal saling bertemu dan bereaksi satu sama lain, pada kondisi yang tepat. Terlalap api cinta secara sempurna, berkat resirkulasi (dalam hal ini saling pengertian dan perhatian) yang baik, sehingga tidak ada produk-produk lain semacam NOx maupun O2 bebas. Emm, saya ralat, bukannya tidak ada, namun persentasenya kecil.

Kalau belum ketemu-ketemu, ada beberapa kemungkinan: (1) Luas penampang (baca: kriteria) Anda terlampau besar; (2) Masih saling menunggu (momen) di dalam saluran masing-masing, sama-sama gengsi, sama-sama belum siap untuk kembali mencintai di mana mencintai itu selalu sepaket dengan melukai; dan (3) Bersabarlah. Terkadang menunda dirasa lebih baik ketimbang tergopoh-gopoh mereaksikan hubungan terlarang. Atau, terpaksa saya pasang nomor (4) Barangkali spesifikasi kalian tidak cocok satu sama lain. Ikhlaskan, cari tipe lain.

Memang, tidak ada pembakaran yang benar-benar sempurna. Cinta juga.[]

NB: Pekan ini adalah pekan delapan jam; delapan jam saja di rumah. Numpang tidur doang. Saya kurang tidur. Betul sekali, saat ini Anda sedang membaca tulisan orang yang separuh mengigau, separuh mengantuk berat. Selamat!

12 November 2014

Merisak Igor Saykoji

6 comments :
Pagi kemarin, lupa hari apa, saya iseng buka youtube. Klik dan nonton beberapa video konser musisi indie, standup comedy yang udah pernah tayang di TV ataupun show-show yang sempat direkam youtubers oleh kamera amatir. Dua jam kemudian, saya mendadak ngantuk, tapi langsung cenghar saat melihat link video Kick Andy: Aku Di-bully, Aku Survive.

Kenal gak sama Ignatius Rosoinaya Penyami? Asing ya. Tapi saya yakin kalau saya katakan Igor Saykoji, temen-temen pasti langsung pada ngeh. Ya, itu nama aslinya Igor, yang ternyata lumayan panjang.

Saya menonton video itu sambil tertawa-tawa. Padahal isi video itu bukan mengisahkan kelucuan. Bahkan sebaliknya, kegetiran hidup Igor. Mengapa saya tertawa? Sebab saya merasa banyak kemiripan dalam hidup saya dengan apa yang diceritakan Igor: serpihan kegalauan dia gara-gara perlakuan sesamanya di masa kecil, masa remaja tanggung, hingga sekarang. Kegetiran adalah tragedi, namun dengan berangsurnya waktu, tragedi malah akan berkesan sebagai komedi.


Igor mengaku sempat patah arang semasa bersekolah di SMP. Dia bingung, dia merasa bukanlah siswa yang populer, pintar secara akademis, atau jago olahraga. Bukan siswa apa-apa. Kalau Igor bersekolah di 2014, mungkin bakal ngedumel, "Aku mah apah atuh... bola salju diterongin."

Di sekolah, ada siswa yang jago olahraga, ada yang jago akademis, ada yang jadi ketua OSIS. Tapi yang kasihan yang tengah-tengah. Gak masuk ke-mana-mana. Seperti saya.
―Igor Saykoji

Lazimnya, semenjak SMP, semua siswa berlomba-lomba untuk membuktikan diri mereka populer dan menuai pesona, supaya banyak temen, banyak penggemar, banyak pacar, dalam ekskul basket, misalnya. Padahal, batinnya, jikapun ia masuk tim basket, mungkin Igor bakal terpilih jika semua pemain cadangan sudah habis atau cedera. Itu pun tim basket cewek lawan cewek.

Alhasil, sampai SMA, Igor dikenal sebagai cowok cupu yang tertutup, suka menyendiri di pojokan kelas dengan kuping tertutup headset; ngedengerin musik. Hingga ia diejek Sayko (maaf kalau salah mengeja) oleh salah seorang teman, namun lucunya kata Sayko malah mewujud sebagai nama panggung Igor sampai sekarang―Saykoji―yang membuatnya tenar dan hidup bahagia dari karyanya.

Lucunya lagi (aneh, kisah muram kok banyak lucunya), mayoritas yang suka membully alias merisak Igor adalah cewek-cewek. Kata dia, cewek itu suka sadis dan nyelekit kalau ngomong, nyakitin hati banget, apa lagi sama cowok cupu yang gak punya daya tarik menonjol di kalangan kaum mereka.

Sampai-sampai, sempat ada suatu masa Igor menjaga jarak dari cewek, lantaran trauma dengan sikap mereka padanya. Namun demikian suatu hari ia bertemu dengan perempuan yang baik, dan perempuan itu adalah perempuan satu-satunya yang ia pacari dan ia peristri hingga memiliki buah hati. Jujur, mata saya berkaca-kaca pada scene barusan. So sweet, aih!

Risakan kepadanya berlanjut hingga ia merintis karier sebagai rapper, namun mungkin lantaran sudah terbiasa dan kebal, Igor berhasil menerabas segala aral, dengan jalan yang tak mudah, tentu.

Lantas, apa yang menjadi turning point Igor dan bagaimana cara ia mengatasi aneka ragam risakan hingga bisa pede bahkan terkenal sebagai rapper dan aktor layaknya sekarang?

Dia menjadikan kritikan sebagai inspirasinya dalam berkarya. Justru, kritik malah akan membuat kita mawas diri, sebab kita saja jarang menelanjangi sifat-sifat kita, ini malah ada orang lain yang "berbaik hati" alias kerajinan membedah, mencincang, menggoreng, kemudian menghidangkan borok-borok matang kita pada kita. Positive thinking aja, katanya. Namun, kalau kita merasa sudah berada di jalur yang benar, biarkan saja mereka berceracau.

Apa pun yang orang bilang, bukan itu yang menentukan. Justru apa yang kita bilang tentang diri kita sendiri, itu yang bisa bikin kita mengeluarkan yang terbaik. Sebab bisa jadi, apa yang kita capai, jauh lebih baik dari yang mereka katakan soal kita.
―Igor Saykoji

Salah satu karya yang lahir dari kritikan tersebut adalah lagu berjudul Jalan Panjang, yang menyiratkan bahwa tekad Igor takkan hilang kendati apa pun yang orang lain bilang tentang ia. Sebab, katanya, jalan kita masih panjang, masih panjang...[]

08 November 2014

Menunda Mandi Pagi

3 comments :
Seandainya setiap hari sensasinya seperti Sabtu ini yang bikin tubuh dan pikiran semangat sejak terjaga dari kasur beraroma ludah kering. Walaupun tetap saja menunda mandi pagi, karena sudah jadi habbit.

Ada tugas kuliah tentang pneumatik. Mengerjakan tugas itu tidak semalas mengerjakan tugas yang lain. Walaupun sudah berjam-jam sejak tadi pagi, saya terus browsing dan memahami literatur, hingga selesailah bagian saya, kecuali contoh soal yang mesti dipelajari lebih lanjut (biasanya dibaca sebelum tidur, kemudian ketiduran deh).


Kata temen sih, pnematik emang lebih gampang dari hidrolik. Gak tahu lah, kenapa bisa begitu, yang penting selesai, dan saya tidak merasa terbebani dalam mengerjakan tugas kelompok itu.

Selain tugas pneumatik, sudah menanti tugas-tugas lain yang mumet. Di antara seabreg tugas presentasi tersebut, ada yang saya nanti-nanti: tugas instrument. 

Apakah kedua hal itu renjana saya (passion)? Atau cuma perasaan saya? Ah, lupakan. Mari malam mingguan, teman.[]

27 October 2014

Petrichor in October

4 comments :
Selalu ada kejutan di bulan Oktober. Tahun ini pun demikian, dan sebentar lagi Oktober berlalu, meninggalkan banyak cerita. Namanya kejutan, tentu saja segala rupa itu datang dengan mengejutkan, secara impulsif. Memeras adrenalin sekaligus membuat saya belajar banyak dari Oktober, yang tentu perlahan akan menjadi masa lalu.

Berakhirnya Oktober biasanya membuka musim baru: musim penghujan (yang tidak terlalu saya sukai). Sebelum benar-benar penghujan, cuaca akan galau lebih dulu, pancaroba namanya. Kemarin sore hujan lebat (sampai-sampai Cibinong pun banjir, entahlah Jakarta), sore ini kami bermandi matahari jingga yang masih menyengat kemudian berangsur hangat menjelang magrib. Entahlah esok, hanya penghujung Oktober yang tahu dan berhak memutuskan, sebab tukang tenung ramalan cuaca kerap berdusta.

Pancaroba melahirkan penyakit musiman. Radang, panas dalam, batuk, pilek, patah tulang, patah hati. Yang terakhir tak kenal musim sepertinya. Saya pun demikian, kepala saya cenat-cenut sejak Minggu sore, badan pegal-pegal, butuh pelukan. Selain gegara hujan, saya pun sadar terlalu banyak makan pedas sehingga perut pun menyeret kaki  ke toilet beberapa kali hari ini, sebelum berangkat kuliah. Mudah-mudahan sore ini tidak hujan yang berpotensi memperparah keadaan badan.

Namun untunglah ada yang membangkitkan semangat di tengah pancaroba, yaitu aromanya. Aroma tanah basah, yang bercampur rumput, rumpun, aspal atau apa pun yang terbasahi oleh air hujan, termasuk tahi kambing mungkin. Ada beberapa orang yang sangat tidak menyukai aroma tersebut, termasuk pacar saya, bikin pusing katanya. Ah, sepertinya lebih pusing memahami kode-kode kamu pas pedekate dulu deh. Ehm.

Sebelumnya saya hanya mengetahui aroma tanah basah, atau bau tanah atau bau hujan, mengenai istilah aroma yang hadir pada pancaroba ini. Barulah ketika menyimak linimasa pada suatu sore, mata saya menyambar istilah asing dari cuitan teman. Petrichor. Dengan diikuti kata-kata yang setidaknya memaparkan damainya aroma hujan pertama kali. Hmm.. berarti, petrichor itu aroma tanah basahkah? Iyakah? 

Saya langsung berselancar dan mengetikkan kata petrichor di google. Kemudian langsung menemukan jawaban di urutan pertama pencarian, Hmm.. ternyata ada diksi yang lebih tepat untuk mewakili aroma tanah atau rumput basah:

pet·ri·chor
ˈpeˌtrīkôr/
noun
  1. a pleasant smell that frequently accompanies the first rain after a long period of warm, dry weather.
    "other than the petrichor emanating from the rapidly drying grass, there was not a trace of evidence that it had rained at all"

Tentu teman-teman pun tahu bagaimana aroma tanah basah itu? Menurut saya, petrichor itu mendamaikan, bikin rileks pikiran, terlebih bila sedang ada di rumah. Beda perkara jika menghidunya ketika sedang menembus tirai-tirai hujan lebat di atas motor tanpa berbalut jas hujan yang terlupa. Aromanya terlalu overdosis, dan tentu saja berpeluang mengakibatkan masuk angin kemudian meriang. Baiknya, nikmati petrichor sedikit-sedikit saja, tak usah serakah.


Namun demikian, aroma petrichor, kadang bikin sesak. Seperti aroma modus; cowok yang modusin cewek orang. Tiada solusi lain, selain menutup hidung dan berselimut sambil berdoa, toh sebentar pun aromanya hilang, terisap kemarau dan kesabaran.

Selamat hari blogger nasional. Di tengah realitas tenggelamnya blog-blog senior yang hiatus disebabkan kesibukan dan terlalu mudah dan nyamannya berbagi di media sosial selain blog, alhamdulillah, saya masih bangga (ngaku-ngaku) sebagai blogger. Blogger curhat.[]

21 October 2014

Belanja Cepet tanpa Ribet

3 comments :
Masih percaya kesempurnaan?

Saya sudah tidak terlalu memercayainya, memutuskan untuk pisah ranjang dengannya.

Barusan, niat pengin belanja dengan cepet tanpa ribet, saya pilih ke minimarket. Ambil keranjang merah, pilih-pilih item sesuai list belanjaan bulan ini. Baju basah sama keringet, AC nya gak dingin. Tapi lega begitu sampai di kasir yang kosong sebab sepi masih pagi. Ternyata itu perasaan lega yang menipu. Jaringan mesin hitung di kasir sedang ada gangguan, alhasil saya mesti berdiri sepuluh (atau 15 menit sepertinya). Antrean di belakang saya sudah tak sabar bahkan beberapa ada yang urung berbelanja. 

Sore kemarin bingkai kacamata patah. Jarang saya pakai karena merasa tak ada bedanya dengan bertelanjang mata. Begitu diperiksa mata lagi, minus saya divonis nambah sedikit. Saya bikin lagi, namun beberapa jam kemudian pesanan dan perasaan saya saat diperiksa mata keliru. Lensa sebelah kanan minusnya kegedean. Saya kembali ke optik yang terletak lima menit dari rumah itu dan komplain untuk ganti lagi lensanya: kanan 0,5, kiri 0,5. Sebelumnya, kanan 1,25, kiri 0,5. Tadi pagi saya ambil. Untung gak usah nambah ongkos perbaikan. Kalaupun petugas optik bilang mesti nambah lagi, pasti saya komplain balik memperjuangkan keogahan nambah ongkos. Hehehe, pelit ya.

Ada lagi?

Hidup penuh dengan komplain. Sarat tuntutan. Harus ini. Harus itu. Begini, begitu. Sampai kita pusing mesti menuntut apa lagi supaya hidup kita sempurna.

Padahal, saya tahu. Kita di sini untuk dikasih ketidaksempurnaan. Sebab kesempurnaan yang hakiki hanya ada di sana. Di alam yang masih jadi misteri, jalan menuju ke sana adalah labirin terumit untuk dipikirkan, cukup dijalani saja supaya tidak stres dan keriput bisa ditunda sampai berpulang.

Mulai sekarang, saya resmi berteman dengan ketidaksempurnaan. Dia itu baik, baik banget, cuma suka iseng doang kadang-kadang. Hobinya ngetes apakah saya sudah sempurna? Jika saya sudah merasa sempurna, maka dia malah makin seneng ngisengin saya, sampai saya disadarkan kembali bahwa tak ada manusia sempurna. Jika ada, mungkin manusia itu terlalu sombong sebagai manusia.[]

14 October 2014

Cara Mengatasi "Damaged SD card. SD card is damaged"

12 comments :

Gimana cara mengatasi "Damaged SD card. SD card is damaged. Try to reformatting it"?

Kemarin saya empet banget. Begitu selesai transaksi file antara smartphone dengan komputer, kemudian saya turn off USB storage, saya sadar terlalu buru-buru mencabut kabel USB. Seketika ada bunyi notifikasi, dan layar smartphone menampilkan pesan sama persis dengan gambar di atas.

Ini bukan masalah pertama kali. Mungkin tiga atau keempat kalinya. Gimana tidak empet coba, mengalami empat kebengaan yang sama dalam waktu setahun. Seperti ganti sikat gigi saja.

Namun dengan kepala dingin, saya mencoba cari akal supaya tidak mengulangi kesalahan untuk yang ke sekian. Ya, banyak data-data penting dan gambar-gambar memorable yang mustahil saya ikhlaskan begitu saja dengan menekan opsi "yes, format it!"

Mau tahu caranya? Menyelamatkan data-data penting di SD card kita?

Dengan saya, pakai cara gampang saja ya. Begini, pertama, kita hanya harus menekan opsi "Tidak/Batal" atau "Cancel" jika ada pop up yang menanyai apakah anda ingin memformat SD card kita yang telah corrupt atau damaged. Seperti screenshot ini:


Sudah tekan "Cancel"? Jika sudah, non-aktifkan smartphone Anda, lepas SD card dari slot smartphone, kemudian hubungkan SD card dengan laptop atau komputer (dengan SD card adapter/converter).

Berdasar pengalaman kemarin, SD card yang divonis damaged oleh smartphone nyatanya tetap terbaca dengan baik oleh laptop saya. Sebelum laptop kita berubah pikiran (laptop itu seperti perempuan, pundungan), baiknya kita copy atau cut (sama saja) seluruh data di SD card itu ke harddisk. Setelah proses penyalinan aneka data selesai, segera format SD card, quick format saja cukup.

Jika sudah sukses terformat, copy dan kembalikan lagi seluruh data SD card (yang tadi kita copy ke harddisk), dari harddisk ke SD card. Tunggu hingga sedotan copy penuh. Bila sudah, eject dan lepas SD card dari adapternya.

Mari kita coba sisipkan kembali SD card ke smartphone, aktifkan smartphone. Perhatikan, dalam rentang sepuluh atau 15 detik, apakah smartphone kita sedang berproses memulihkan SD card? Jika ya dan notifikasi "Damaged SD card" sudah musnah, mari kita ucapkan alhamdulillah. SD card kita selamat dari bahaya laten Format!

Apakah cara ini terlalu mudah? Saya rasa ini terlalu mudah dan memang tidak ada studi atau literatur mahal dari jurnal Elsevier. Tapi, alhamdulillah, kemarin eksperimen saya berhasil dan urung mengulangi kesalahan untuk yang keempat kali memformat secara sukarela SD card yang sarat oleh kenangan itu.

Semoga berhasil!

22 September 2014

Syukur

14 comments :
Menurut saya, social media itu racun. Scroll layar dikit, terhamparlah foto temen yang lagi travelling entah di pulau/pantai/gunung/kota apa.

Setelah puas ngeces ngeliat pasir putih ataupun negeri di atas awan, scroll layar lagi, ada foto makanan enak, dan seperti kita ketahui, makanan enak itu mahal. Dengan dilengkapi apdetan check in di sebuah kafe/resto/angkringan/atau apalah namanya yang sedang hip.

Sampai tak hingga scroll, kurang lebih seperti itulah, serupa. Selain unggahan foto bareng pacar di pantai dengan bibir dimonyong-monyongin, cowok mencium pipi (bahkan bibir) cewek yang sedang berpakaian minim dan menggelinjang bahagia, kelihatannya.

Saya hampir gak pernah merasa bahagia kalo lagi megang hape, gegara alesan-alesan itu. Dan gawatnya, saya maenin hape setidaknya enam jam setiap hari. Belum termasuk curi-curi maenin hape pas kuliah.

Jadi inget jaman dulu. Bisa maen gambaran dragon ball aja seneng banget. Apa lagi kalo menang banyak, kalah aja rasanya seneng banget bisa maen sama temen.

Saya pun masih inget banget, menceploskan bola plastik ke gawang lawan yang dibatasi sepasang sandal jepit. Itu adalah gol pertama seumur-umur, soalnya saya paling gak bisa maen bola. Minder, suka dikatain “masa Del Piero gembrot” karena saya sempet dibeliin baju Juventus dengan nama punggung Del Piero sama bapak.

Tapi saat terjadinya gol perdana tersebut, kebetulan saya maen sama temen-temen yang asyik. Bukan tukang bully seperti temen satu sekolahan SD. Rasanya bahagia banget nemu temen baru yang tulus bagi bocah introvert nan gendut seperti saya.

Pengin hiburan agak canggih, cuma ada televisi. Ketawa-ketiwi nonton Spontan uhuy. Merhatiin style rambut Ira Kusno di Liputan 6. Atau berkhayal bisa jadi Jun yang punya Om Jin, atau punya pacar Jinny oh Jinny.

Meski fasilitas minim, rasanya dulu itu tenang banget. Tenteram, meskipun teknologi jauuuhh dari sekarang.

Entah faktor usiakah? Atau memang jaman selalu berubah, dan kita terpaksa mengikuti arus hidup aja? Mungkin, seperti value of money, masa lalu selalu bernilai lebih ketimbang masa sekarang.

Ah, sepertinya mesti keluar rumah. Tanpa bawa hape. Jalan kaki, cukup bawa mata dan hati.[]

17 September 2014

Diet yang Paling Manjur

8 comments :
Diet terbaik adalah pacaran. Kau rela menahan lapar setiap hari demi menyisihkan uang bulanan untuk sekadar mengajaknya ke kafe atau bioskop atau nonton konser atau membelikannya hadiah kecil pada akhir pekan. Ketika ia tersenyum menerima pemberian kamu, laparmu sudah menjadi masa lalu ditimbun oleh rerimbun bahagia. Namun saat respons ia biasa saja atau kau lirik menu yang ia pesan di meja kafe tersisa lebih dari separuhnya, tak habis, hatimu menangis, teringat perjuangan mengabaikan lapar hari-hari kemarin demi menyenangkannya, dan rupanya ia tidak terlalu senang. Endingnya, nafsu makanmu hilang.

Tanpanya, memang kau dapat tetap beraktivitas. You can live without her. Langit masih biru dan berawan, jalanan masih padat dan macet. But your life is more colorful with her in it. Ia adalah pelangi yang hadir tak sering, hanya sesekali atau bila kau beruntung dapat mengagumi cantiknya pada suatu senja sehabis gerimis.

Bagimu, melihat ia tertawa riang sudah cukup mengenyangkan perut keroncongan. Saat melihatnya menangis, hatimu pun ingin menangis namun gagal sebab kau sadar berbeda gender dengannya. Kau harus tegar. Dan, kau harus minta maaf padanya entah siapa pun yang salah.

Diet terbaik adalah pacaran. Ketika kau mulai peduli kesehatan, dan mulai mengikuti gaya hidup bersih plus sehat kaumnya. Perlahan melupakan polah hidupmu dulu yang berantakan. Demi masa depan.[]

22 August 2014

Pidato Kenegaraan Terakhir di Bulan Agustus

10 comments :
Ketika tengah selonjoran di lantai selesai bersepeda pada Jumat 15 Agustus silam, saya mendengar suara orang berpidato yang intonasi terstrukturnya sangat familiar di breaking news Kompas TV. Bukan breaking news tentang sidang di MK seperti kemarin-kemarin, melainkan pidato kenegaraan. Bisa Anda tebak siapa yang sedang berpidato? Atau, mungkin saya keliru bertanya, siapa yang dengan sepenuh kalbu menembangkan lagu gubahannya sendiri?

Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Purnawirawan karismatik yang sudah memimpin Indonesia sejak saya SMP hingga belum lulus kuliah kini. Masih ingatkah Bapak, telah berapa kali menaik-turunkan BBM selama sepuluh tahun pemerintahan Bapak? Lain dengan Bapak yang pelupa, ingatan saya selalu segar mengingat ketika emosi saya naik turun jika BBM saya tak dibalas-balas pacar sampai saya marah-marah—seperti anak kecil yang bangkrut main monopoli—sebelum ia memelas maaf atau justru saya yang mengemis maaf sebab setelah sekian lama saya tunggu dalam diam rupanya ia tak kunjung meminta maaf dan malah leha-leha saya cuekin.

Pidato kenegaraan selalu dihelat beberapa hari jelang negara ini berulangtahun pada 17 Agustus. Ia semacam laporan protokoler sekaligus curahan hati tahunan presiden. Pidato kenegaraan tahun ini adalah pidato yang saya ragu bisa tonton lagi pada tahun depan: mungkin saja presiden selanjutnya takkan menggelar pidato tahunan, melainkan gigs tahunan dengan genre Rock diwakili Arkarna, Jazz oleh Barry Likumahua, serta Pop dilantunkan oleh Slank atau bahkan Jason Mraz di hadapan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Saya harap ada pula genre unknown, sehingga Pak SBY tak usah berkecil hati lantaran besar sekali peluang Bapak untuk diundang hadir sebagai biduan dengan lima album dalam sepuluh tahun penuh karya.

*

Omong-omong ulang tahun, sebagaimana Indonesia dan Syahrini, usia saya pun berulang dan berkurang di bulan Agustus. Kepada Bangsa Indonesia dan Princess Syahrini, mari kita bersulang dengan secangkir wedang guna merayakan zodiak kita yang sama: Leo (23 Juli – 22 Agustus), seraya mendiskusikan tentang diri kita; mengapa kita tak kunjung segagah Singa, malah justru semanja Kucing dan seemosional Anjing? Mustahil saya jawab dengan jujur, karena konon Leo itu keras kepala, ego dan gengsinya selangit.

Terlepas dari kesamaan zodiak, saya merasa alur kehidupan saya lebih dekat dengan negara ini ketimbang dengan Princess Syahrini. Pasca krisis 98, Indonesia berpayah-payah bangkit untuk kembali stabil sebagai negara berkembang yang sesaat layu pasca tragedi itu. Tahun demi tahun berlalu, reformasi pun mengakar: daun-daun kering dan parasit orde sebelumnya perlahan-lahan tersapu oleh tunas-tunas segar yang lebih berani sekaligus dianggap makhluk dari planet Nemec. Meskipun banyak dihujat politisi-politisi basi, mereka kian bertumbuh dalam ranah yang baru; two point zero era, ketika aksi dirasa jauh lebih berfaedah tinimbang sensasi.

Entahlah, apakah ini berkat kesuksesan sepuluh tahun Pak SBY, ataukah memang rakyat sudah mulai dewasa dalam berdemokrasi, sehingga rakyat mulai menanamkan ikrar “apa yang sudah saya berikan kepada negara ini?” serta mengabaikan “apa saja yang negara telah berikan kepada saya?”

Demikian pula dengan saya. Ada saja kegelisahan, kekecewaan, secuil tragedi mengenaskan, namun itu bukanlah sesuatu yang harus jadi perhatian. Kebahagiaan yang menyejukkan jauh lebih banyak, jika saya banyak-banyak bersyukur. Bahagia itu sederhana, tidak serumit upaya saya dalam menyongsong kebahagiaan belakangan ini. Saya harus banyak belajar kesederhanaan kepada daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Bukan begitu, Pak Tere Liye?

Apakah ini tulisan udar-rasa tahunan terakhir di bulan Agustus?

Saya ingin hidup seribu tahun lagi, acap kali menjadi rapalan andalan agar saya optimis beraktivitas dan merengkuh erat angan supaya tak mudah diterpa angin. Tapi, saya tertegun memaklumi bahwa ungkapan percaya diri Chairil Anwar yang paling kita kenang itu justru bermakna sebaliknya, menurut tafsir Ahyar Anwar.

Memang benar, 23 tahun saja sudah sebegini beratnya. Saya tak sanggup menghitung berapa banyak “ah”, “sialan”, “kampret” yang saya obral setiap jamnya, sebelum saya menyadari, semata Kemudahan dan Kemurahan dari-Nya-lah yang membuat saya bisa luntang-lantung seenaknya di tanah air ini—yang juga baru saja berulang tahun itu, bertemu, tertawa, menangis dengan kamu, kalian, dia, mereka, di dunia nyata yang kerap kali terkesan maya, maupun di dunia maya yang kadang terasa lebih nyata ketimbang dunia senyatanya.

Terima kasih. Tanpa kamu, kalian, dia, mereka, hidup adalah gado-gado yang hanya terdiri dari kubis layu tanpa dimeriahi aneka sayuran segar lain, gurih bumbu kacang dan sengatan cabe rawit. Oh, ya, satu lagi, kehadiran Mpok gado-gado. Saya khawatir kelewat seksi andai memaksakan mengulek sendiri. Yang seksi dan bersensasi cukuplah Princess Syahrini.[]

PS. Entah ini kabar gembira seperti ekstrak kulit manggis atau kabar membosankan semacam alasan-alasan menampik kekalahan. Ini adalah ulang tahun pertama di mana saya menyaksikan dunia dengan kacamata saya sendiri, dalam artian sesungguhnya. Header blog saya beroleh kenyataan.

29 July 2014

Menua Bahagia

6 comments :
Lebaran adalah ajang untuk menakar seberapa tuakah kita tahun ini?

Sekalipun perayaan rutin tahunan, lebaran kerap membekaskan kejadian yang kemudian menjadi kenangan yang berbeda-beda. Tahun ini saya masih menerima pertanyaan yang sama dari paman, bibi, uwa, sepupu: sudah semester berapa? Semoga lebaran tahun depan pertanyaannya tidak berubah menjadi sudah punya istri berapa?

Tanpa disadari, orangtua dan orang-orang tua pun semakin tua. Paman, bibi, uwa, semuanya berubah. Semasa kanak-kanak, saya suka menguping mereka sedang membahas ihwal perkembangan anaknya semacam pendidikan beserta seabreg prestasinya, namun kini topik obrolan mereka takkan jauh dari penyakit dan obat, dengan intonasi yang tidak bulat.

Kampung halaman saya kian berat oleh macet, banyak sekali manusia yang punya mobil sekarang, motor-motor seenaknya berseliweran seperti capung. Begitu lain dengan belasan tahun silam. Kini sawah-sawah disulap perumahan dan leretan rumah toko. Tetangga sekitar gang satu per satu berpindah ke tempat lapang yang lebih menenangkan, beberapa sudah berpulang dengan tenang. Rumah-rumah yang dijual, oleh pemilik barunya dipecah menjadi beberapa lokal, berubah menjadi kontrakan dengan penghuni-penghuni asing. Kampung kami sudah menjadi kampung orang, kampung pendatang.

Sesungguhnya ingin sekali memindahkan rumah di kampung ini beserta segenap kenangannya ke rumah yang satu lagi di kota lain. Sayang sekali, kenangan bukanlah dagangan toko online yang mudah dikirim tepat waktu melalui jasa kurir.

Mengapa waktu cepat sekali bergulir? Rasanya baru kemarin saya merajuk dan pundung di mal sebab tidak boleh memilih baju lebaran sesuai selera saya (sekarang baru sadar, selera saya alangkah menyedihkan, dulu). Serasa kemarin jemari mungil saya dituntun oleh ayah saya ke lapangan untuk salat ied, namun tadi pagi saya yang memapah beliau yang hanya bisa berjalan tertatih-tatih dan sesekali tersandung trotoar rusak. Secepat itukah?

Di sela ruap resah dan gelisah, saya berharap ini cuma mimpi kemudian akan ada suatu masa saya terbangun di kasur yang sama dengan ibu dan ayah saya. Dan saya mengompol akibat mimpi buruk itu.

*

Dan ternyata saya memang bermimpi! Saya dibangunkan oleh harum kopi ayah, dan semilir sambal goreng kentang yang sedang dihangatkan ibu. Buru-buru saya lungsur dari risbang, lantas menilik sosok bocah enam tahun di dalam cermin yang menempel di lemari. Duh, baju lebaran yang dicoba semalam rupanya saya bawa tidur semalam. Lengkap dengan sepatu semata kaki yang bisa menyala itu.

"Cepetan mandi, Py. Sebentar lagi kita berangkat salat, lapangan keburu penuh. Kan udah dibeliin sepatu yang bisa nyala, Cepy harus nurut yah."

Ah, ayah masih bisa berbicara dengan jelas. Saya senang sekali.[] 

Bandung, 1997

24 July 2014

Rokok, Prabowo, dan Masyarakat Indonesia yang Religius

12 comments :
Apakah merokok itu keren, tanya Pandji. Keren? Tidak juga. Jika merokok itu keren, mamang-mamang becak, sopir angkot, sampai kuli panggul di pasar pun merokok. Bukankah mereka tidak begitu keren? Begitu tutur Soleh lantas disambut penonton dengan derai tawa―entah tawa buatan software atau beneran.

*

Niat saya semalam untuk segera tidur lantaran kelelahan―lelah menelan social media seharian yang masih juga cerewet meski 22 Juli sudah menjadi masa lalu―dihadang oleh acara Sebelas Duabelas di Kompas TV yang dibawakan oleh Pandji Pragiwaksono. Yang bertamu kepadanya adalah Soleh Solihun, komika asal Bandung yang jenaka (setidaknya, jenaka menurut selera saya yang menyukai satir dan sarkasme). Sendirian ia diwawancarai, sebelum Poppy Sovia datang menggenapi tamunya Pandji.

Yang membuat mata sipit saya melek adalah topiknya yang menarik: tentang rokok.

Jadi, imbuh Soleh, tiada sangkut-pautnya kadar kekerenan seseorang dengan sebatang kenikmatan itu apabila kita menengok latar belakang orang-orang yang merokok di sekitar kita. Jika ingin keren, belilah baju yang bagus, sepatu yang bagus, bodi yang bagus, wajah yang bagus. Hmm.. wajah.

Selanjutnya didedahlah seluk beluk tentang rokok, semisal keuntungan masif dari cukai yang dikhawatirkan tandas andai industri rokok dibatasi kemudian dikebiri. Hingga menyoal iklan rokok yang keren tapi aneh, sebab rokok sebagai produk yang hendak dijual malah tidak boleh ditampilkan dalam konten iklan tersebut. Nyatanya, copywriter tak kehabisan akal. Sampai sekarang, petualangan, solidaritas persahabatan, penelusuran jati diri, dan kejantanan prialah yang lekat dengan ingatan kita ketika menyaksikan iklan rokok. 

Tapi pasti pernah coba-coba merokok, kan? Tanya Pandji lagi. Soleh cengengesan. Pernah dong. Semasa bocah, Soleh suka mengisap puntung-puntung rokok filter sisa ayahnya. Beranjak remaja, di lingkungan sekolahnya pun ia sempat mencoba-coba aneka ragam rokok. Aku Soleh, bibirnya tidak mengecap kenikmatan yang dirasa classy oleh para perokok lain sampai kecanduan. Ada istilah sehabis makan, mulut asem tanpa merokok, padahal sehabis makan enaknya ya minum, begitu pendapat Soleh.

Apakah perbuatan merokok memang seperti termaktub pada kemasannya sekarang: merokok membunuhmu? Kali ini Pandji bertanya agak serius, dengan membeberkan fakta-fakta kematian akibat perilaku merokok di Indonesia yang meningkat tahun ini.

Soleh Solihun terdiam sejenak sambil menahan-nahan senyum. Ah, tidak juga, Pandji. Tidak semua yang mati gara-gara merokok. Beberapa publik figur meninggal setelah berolahraga. Banyak kakek tua renta yang masih menyedot rokok kretek, nenek-nenek kempot mengisap lintingan tembakau. Bahkan ayah Pandji pun meninggal karena penyakit jantung padahal bukan seorang perokok.

Lagi pula, sulit sekali mendeteksi apakah kematian seseorang tersebab oleh perilaku merokok.

"Ndji, orang Indonesia gak mungkin percaya peringatan begituan. Indonesia adalah negara beragama, mengkafirkan Atheis. Orang Indonesia itu terlalu religius. Jika ditanya begitu, jawabannya pasti: jodoh dan kematian itu urusan Tuhan. Takdir Tuhanlah yang membuat kita menikah dan mati. Bukan rokok."

Soleh pun menganjurkan supaya pemerintah tidak mencantumkan peringatan merokok membunuhmu, istrimu, anak-cucumu. Trik itu takkan mendoktrin masyarakat Indonesia yang amat religius, sebab mati itu urusan Tuhan, tegas mereka. Baiknya, cantumkan saja peringatan: 

"Merokok hanya akan menyebabkan Anda tampak seperti mamang-mamang." ―Soleh Solihun

"Ingin terlihat seperti mamang-mamang atau banci taman lawang? Merokoklah!" ―Soleh Solihun

Saya yakin peringatan itu akan perlahan mengikis jumlah perokok aktif, sebab mayoritas masyarakat Indonesia punya kadar gengsi yang lebih tinggi ketimbang kadar takut akan mati. Gengsi menerima kekalahan Pilpres, misalnya, namun tak gengsi mencacimaki dengan bertamengkan hadis-hadis dan ayat suci.

Tak terasa sudah pukul dua belas, sehingga tayangan Sebelas Duabelas pun usai. Saya pun merebahkan diri di kasur dengan benak yang masih bertanya: mungkin itulah, mengapa di Indonesia, dengan berselimut ayat suci, partai-partai politik (partai Islam maupun bukan sama saja) gencar menebar kebencian dan keresahan ketimbang kedamaian. Begitu tinggikah kadar religius masyarakat Indonesia?[]

19 July 2014

Jendela Bus

4 comments :
Ketika sesekali sendirian di rumah, rumah memang sepi, tetangga-tetangga yang cuek itu pasti sudah pulas tidur, sebab besoknya harus bekerja lagi pagi-pagi (eh, saya lupa kalau besok hari Sabtu, tapi percayalah, di sini semua hari sama saja, mungkin semua hari bernama Sunyi). Akan tetapi tidak demikian dengan yang terjadi di dalam kepala saya. Kesendirian adalah jeda di kantor pukul 12 siang; terpaksa menunda tidur sebab riuh oleh gosip-gosip hingga omong kosong dari mulut-mulut karyawan yang sebetulnya tak penting-penting amat untuk didengarkan.

Sekarang bulan Juli. Agustus sebentar lagi. Saya ingat betul impian yang saya ejawantahkan tiga tahun lalu dalam sebuah status facebook, yang sayangnya akun facebook pertama itu sudah saya deactivate sebab sempat diretas entah oleh siapa pada November 2011. Seingat saya, begini bunyinya:

Otw perantauan dengan Primajasa jurusan Bandung - Cikarang via Cipularang. Suatu hari nanti, pasti bakal berganti bus jadi MGI Bandung - Bogor via tol Cikunir. Amin.

(dengan sedikit pembaharuan ingatan serta tanda baca alay yang telah disempurnakan)

Sore itu saya sedang duduk dengan mata menerawang jendela bus Primajasa yang kursinya hanya terisi beberapa, sebab hari itu bukanlah hari Sabtu atau Minggu, hari lazimnya orang-orang berlibur. Entah Senin atau Rabu. Saya sedang dalam perjalanan ke Bekasi guna mengejar shift tiga di mana saya harus masuk pukul 11 malam kurang 15 menit (di pabrik itu, kita harus berjalan kaki sekitar 15 menit sebab plant 3, 5, 7 lumayan jauh dari gerbang, sementara sepeda motor dilarang masuk).

Dalam duduk, saya gelisah sebab kabar yang ditunggu sekian lama belum kunjung tiba.

Saya sedang menunggu kabar lolos-tidaknya saya menerima beasiswa kuliah dari perusahaan lain, bukan perusahaan tempat saya bekerja saat itu. Mendadak saya ngebet pindah ke Bogor kemudian belajar di sana. Sudah muak dengan Bekasi yang panas. Banyak preman beraroma ludah kering. Banyak rumah makan dan mal megah namun tidak artistik sama sekali. Banyak nyamuk. Banyak berjatuhan korban sales Abate. Banyak teman kerja yang keranjingan ngutang sama saya. Banyak cowok. Sedikit cewek cantik; yang terakhir ini adalah alasan yang paling logis untuk segera pindah dari Bekasi, mumpung saya masih muda.

Sebagai abege (sudahlah setuju saja ya, waktu itu masih 19 kok), maka alih-alih berdoa kepada yang kuasa supaya lekas dikasih kabar gembira (kulit badak ada korengnya!), saya malah galau di facebook. Update status. Status yang di atas tadi. Status yang norak. Seperti biasanya.

Sesampai di depan gerbang pabrik, saya berjalan tersaruk-saruk dan terkantuk-kantuk menyusuri plant, ditemani angin malam dan hantu-hantu yang setia mengantar. Saya semakin malas bekerja. Terusik oleh impian untuk melanjutkan pendidikan. Dan agar sesegera mungkin minggat dari daerah yang panas ini. Panas segala-galanya. Sungguh impian yang agak alay, memang. Saya yakin, kenyataan orang lain jauh lebih keren daripada impian saya yang sangat sederhana.

*

Dua bulan kemudian, saya membenamkan pantat di pelukan kursi bus MGI jurusan Bandung - Bogor, via tol Cikunir. Tidak, saya tidak update status untuk merayakannya. Saya cuma ngetwit, di mana followers saya masih 5. Tiga di antaranya beravatar telur.

*

Malam ini, tiga tahun kemudian, saya duduk mengetik curhatan ini di rumah orangtua saya di Bogor. Ah, apa lagi ini? Bukankah rumah orangtua saya di Bandung?

Terlalu banyak nikmat yang saya peroleh beberapa tahun belakangan. Kuliah, di mana occupation tersebut tidak menghasilkan sesuatu berwujud uang, nyatanya ada saja rezeki keluarga saya untuk membiayai biaya hidup saya selama kuliah, dan untungnya masalah semesteran tak perlu jadi masalah sebab gratis. Dan saya pun sedikit-sedikit bisa menyisihkan uang jajan dari honor menulis atau resensi atau apa pun bekerja serabutan. Nampaknya, Hukum Matematika tidak terlalu berpengaruh dalam hidup saya. Hal-hal yang saya jumpai kini jauh di atas ekspektasi saya dulu! Jauh!

Impian. Kini, semakin jarang orang sepantaran saya yang memercayai impian. Semuanya sudah mulai akrab dengan kenyataan. Impian, kata mereka, hanya akan menjatuhkanmu bila gagal tercapai, sakit rasanya, atau mungkin malah membuat kita mati setelah sebelumnya sakit jiwa. Yah, itu saya alami sendiri. Problema manusia 20 tahun plus-plus mirip seperti pelangi, penuh oleh warna yang menenteramkan, dengan latar belakang awan mendung yang muram.

Baiklah. Mungkin impian terdengar complicated lantaran impian kerap berwujud muluk? 

Bagi saya. Impian itu bisa sesederhana berlangganan majalah Bobo setelah menyisihkan 80% uang jajan saya semasa SD. Senorak Cepy kecil pengin naik pesawat ketika melihat Garuda melintas di atas tiang jemuran, kemudian teman-temannya tertawa gurih mengejek beberapa menit. Atau serumit impian saya supaya melihat skor timbangan badan mencapai 60 kilogram.

Banyak kisah-kisah dari orang berpengaruh yang mewasiatkan betapa pentingnya memelihara impian. Karya-karya mereka terlahir dari impian. Yang kerap disepelekan, karena memang ide-idenya gila. Ya, mereka memilih gila impian ketimbang gila jabatan. Ah, jabatan hanyalah impian bagi manusia yang sudah kehabisan impian.

Masih ragu dengan impian? Semoga masih, supaya kita tak henti mencari kemudian menemukan impian.

Tersisa dua semester lagi saya menuntaskan impian cetek ini dan beberapa impian lain yang tak kalah cetek. Secetek apa pun, impian tetaplah impian. Yang bisa dengan mudah mengantarkan kita ke kenyataan, andai kita mau berupaya dan senantiasa merapal doa. Semoga![]

11 July 2014

Quick Count dan Khotbah Jumat

2 comments :
Khotbah Jumat kali ini membuat saya tidak bisa terkantuk-kantuk di masjid seperti biasanya. 

Khotib memulai dengan cerita pengakuan John Plummer―kapten pesawat tempur Amerika―yang menyesal sebab pada masa lampau telah melakukan pengeboman di Trang Bang, 40 km dari Saigon, Vietnam, ketika perang Vietnam berkecamuk pada 1972. Ditemani pesawat tempurnya, ia melayang di atas permukiman warga yang membaur dengan hamparan sawah dan ladang. John memacu pesawatnya cukup tinggi, ia tak berani terbang pada ketinggian rendah, sebab telah mengancam di darat sana para penembak jitu Vietnam. 

Beberapa saat kemudian bom berhasil membumihanguskan perkampungan itu. Tugas John telah selesai. Anehnya, ia pulang ke barak dengan hati ketakutan, bukan penuh oleh gempita kemenangan: cemas andai bom yang ia empaskan justru menjilat orang-orang sipil tak berdosa tak berdaya.

Tiga hari kemudian, John melihat headline koran militer yang memampang foto anak perempuan tanpa busana dengan mimik menangis berlari menjauhi kepulan asap ledakan. Perasaannya hancur; dia teringat anaknya yang berusia tak terpaut jauh dengan perempuan mungil dalam foto itu. John membayangkan bagaimana tega anak seusia putrinya ia lebur dengan bom, padahal jelas-jelas apa salah perempuan usia sekitar 9 tahun itu terhadap Amerika? Padahal, sebagaimana anaknya, Kim Phuc―nama bocah itu―mungkin salah satu pengagum kartun Tom and Jerry atau Mickey Mouse, kartun ciptaan Amerika.

Kehidupan John pasca pengeboman di Trang Bang kacau berantakan; rumah tangganya hancur hingga berujung perceraian.

Di sisi lain, konon anak perempuan itu berhasil diselamatkan, hingga sekarang ia masih hidup dan berkeluarga, berkat operasi cangkok kulit sebanyak 17 kali. Bahkan, suatu hari puluhan tahun kemudian, keduanya berjumpa dalam sebuah acara mengenang kelamnya perang Vietnam. John langsung bersimpuh meminta maaf kepadanya, yang disambut Kim Phuc dengan senyuman.

*

Ya, saya memang tersentuh dengan cerita tentang John Plummer dan Kim Phuc barusan. Namun sedikit saja terenyuhnya, sebelum menyimak uraian Khotib selanjutnya yang sungguh-sungguh bikin saya menunduk dalam renung, bukan menunduk dalam kantuk. 

Ia mengaitkan penyesalan Kapten Amerika itu dengan kecerdasan. Pesawat tempur, bom, dan keahlian untuk memfungsikannya sudah barang tentu adalah produk dari akal pikir manusia, kan? Ilmu. Kecerdasan. Riset puluhan tahun. Tapi, mengapa buah dari kecerdasan malah menyebabkan kehancuran dunia? Israel menyerang Gaza, tak bersudah. Pertempuran sesama umat Islam antara Iran―yang punya senjata nuklir―dan Suriah, yang menurut saya goblok keterlaluan. Sama-sama timur tengah, sama-sama tanah Arab. Mungkin memang, Islam bukanlah Arab. Islam milik semua umatnya, yang percaya akan kedamaian.

"Demikianlah jika kecerdasan tidak dilapisi oleh keimanan," tutur khotib lirih. 

Sememangnya kalimat barusan terdengar klise, namun demikian tingkah manusia zaman sekarang. Pemerintah harus membiayai PMDK calon dokter ratusan juta―atau kalau universitasnya bukan negeri, orangtuanyalah yang mesti membayar sebesar itu supaya anaknya menjadi dokter. Tapi setelah itu? Aborsi di mana-mana. Iklan obat herbal yang belum tentu berkhasiat dan benar-benar good meriuhi televisi. Komersialisasi kesehatan. Tadi pagi ada berita mal praktik di mana ada benang yang tertinggal di dalam perut pasien pasca operasi. Iya. Mereka dokter. Orang kaya. Orang pintar. Orang terpelajar. Bukan dukun.

Bidang hukum pun demikian. Kini, justru praktisi-praktisi hukumlah yang terlibat skandal-skandal korupsi dan sebagainya dan sebagainya. Mantan Ketua MK itu, misalnya. Padahal dia bukan orang bodoh. Sudah Doktor. Akil Mochtar. Dengar, nama beliau pun Islami banget. 

Selanjutnya. Mengapa Quick Count beroleh hasil yang berbeda-beda di antara banyak lembaga survey? Saya tahu ilmu statistik itu lumayan ruwet, saya cuma memperoleh B- pada semester dua lalu. Tapi saya sadar, mustahil hasil pengambilan dan penggorengan sampling data bisa terpaut jauh satu sama lain di antara penyurvey, setidaknya errornya takkan lebih dari 1-3 %. Kok bisa bervariasi? Padahal kan orang-orang survey sudah pasti lulus UN dari SMA IPA, gelarnya mungkin rata-rata sarjana Sains. Atau bahkan ada yang sudah Master dan Doktor. Ah, tanya saja pada uang komisi di rekening. "Cerobong dapur harus tetap mengepul, bro. Saya bosan dengerin istri marah-marah di rumah," bisik mereka.

Jleb banget jika kita sudah berbicara tentang uang. Dilematis.

Kemudian khotib berpesan supaya meneladani lagi rasul, sebab tidak ada manusia yang patut diteladani selainnya. Betul! Saya selalu kecewa mengidolakan filsuf, penulis, musisi, seniman, hingga praktisi industri, setelah mengetahui realitas hidup dan kelakuan mereka dalam kehidupan nyata seperti apa. Cukup ambil yang baik-baik saja dari mereka, jangan terlalu mengidolakan seorang tokoh. Tidak ada manusia yang sempurna, kecuali rasul. 

Yang membuat rasul sempurna adalah adanya sifat-sifat yang melekat pada dirinya: Siddiq, Amanah, Tabligh, Fathanah. 

Siddiq berada dalam urutan pertama, artinya jujur atau selalu berkata benar. Dan urutan ke empat yakni Fathanah, yang bermakna cerdas. Ya, cerdas. 

Mungkin, gara-gara itulah Ahmad Fathanah diberangus KPK. Namanya terlalu bodoh untuk kelakuannya.

Menurut khotib, kejujuran adalah modal paling utama dalam kehidupan. Namun sekarang begitu sulit menemukan orang jujur. Ups, jangan dulu melihat orang lain deh. Kita sendiri sudah berkelakuan dan berkata jujur, belum? Jarang? Ya memang susah. Terkadang jika kita ingin berkata jujur, selalu ada orang lain yang meledek kita dengan julukan sok suci, sok tak butuh. Pada akhirnya kita pun terpaksa berada dalam zona abu-abu, sebab takut dimusuhi jika berkata jujur, takut diasingkan andai berbohong.

Kita terlalu sering kentut lantas menuduh orang lain yang kentut.

Sifat cerdas ada di urutan akhir setelah tiga sifat rasul lain. Cerdas nyatanya bukanlah segala-galanya. Lihat kabar Jakarta International School, yang guru-gurunya bule itu, yang kemarin ramai dibincangkan. Orangtua sekarang mulai kebingungan menyekolahkan anak-anaknya ke mana. Sekolah bertaraf dan bertarif internasional bukanlah jaminan untuk mencetak siswa-siswinya menjadi orang yang baik. Cerdas, yah, barangkali bisa saja. Tapi menjadi orang yang jujur dan baik, belum tentu. 

Jadi teringat omongan dosen: Semasih kuliah, boleh salah, tapi tidak boleh bohong. Setelah bekerja, boleh bohong, tidak boleh salah. Pilih mana? Seperti pilpres kemarin, pilihan hidup pun kerap menyulitkan, namun baiknya pilih saja yang cacat dan celanya lebih sedikit.

Sudahkah Anda jujur hari ini? Mudah-mudahan, saya mengetik artikel ini pun dengan jujur.[]

referensi: Khotbah Jumat dan http://nubogalalakon.wordpress.com/tag/hidup/

06 July 2014

Surat Terbuka 2049

2 comments :

Malam ini sama dengan suatu malam di bulan Juli tiga setengah dasawarsa lalu. Semasa remaja, kita biasa membincang kesunyian, dalam hangat pelukan. Kali ini aku dan kesunyian yang membincang tentang kamu. Kota ini kian sepi, ditinggal orang-orang baik, tersisa orang-orang yang sedikit picik, selicik politik. Demikian pula aku, kekasih... sepi, sepi sekali. Kau dengar dengkuran kulkas di dekat pintu samping rumahku, kan? Ya, kulkas itu pun sudah cukup tua, sepertiku.

Aku masih sering menyeduh kopi hitam―minuman dukun yang sering kau ejek itu―oleh didihan air mata. Sayangnya, setelah kuseruput, air likat itu mengalir lagi dari mataku, dan berinaian ke dalam cangkir semula. Hanya saja warnanya tak lagi hitam. Merah. Seperti darah. Atau memang darah? Entahlah. Bukan perubahan warna kopi yang kurisaukan malam ini sampai-sampai aku berpayah menulis surat untukmu, padahal sekarang kantor pos saja sudah punah semenjak dua puluh tahun lalu. 

Aku cuma ingin bertanya, masih menawankah sepasang mata bola pingpongmu? Aku bersyukur menyukaimu karena matamu, bukan mulus wajahmu: setidaknya mata takkan mengeriput seumpama kulit wajahmu yang perlahan dikerkah usia dan derita; mata adalah organ yang berdimensi sama semenjak manusia bayi hingga dikafani. Abadi. Aku suka yang abadi, seperti matamu. Tidak seperti kehadiranmu yang kadang-kadang, layaknya sekarang.

Tiga tahun lalu aku purna dari tugas dunia. Dua tahun lagi aku 60. Cukup tuakah, Sayang? Aku tahu, kau pasti terkikik mendengar tanyaku, sebab dulu saja kau selalu merisak mukaku sebagai muka yang tak sepadan dengan usia kala itu. Apa lagi sekarang! Sebetulnya aku malu mengutarakannya, tapi harus, supaya kau percaya. Sekarang, kau bisa becermin di kepalaku. Berat badanku naik lagi: di tahun 2049, dengan mudah aku bisa menghitung berapa langkah kakiku bergerak setiap hari. Stroke, diabetes, encok, komplikasi, aku pasrah saja menerima mereka. Jikalau bisa, aku pun ingin menunggumu sepasrah menerima kenyataan penyakit-penyakit manusia lanjut itu.

Kuharap kau masih bisa membaca surat ini. Dulu, kau selalu menolak dengan tekad matang jika kuajak ke toko buku. Membosankan, katamu, lebih baik berlama-lama di toilet. Demikianlah, alhasil aku kerap mencuri-curi waktu sendiri untuk mengincar buku-buku, tanpa kau temani. Tapi kali ini... 

Kau benar, Sayang. Manusia tak lagi butuh buku. Sekarang tak mudah mencari buku dalam bentuk "buku" seperti 35 tahun lalu. Kalaupun ada, mahal. Sepadan sepuluh gram emas. Bahan baku untuk membuat buku saja sudah hampir tak ada, Sayang, tandas. Bolehkah kita menyalahkan ketamakan presiden-presiden di masa lalu? Yang tumbuh di hutan kini adalah ribuan pohon menara provider seluler, reaktor nuklir, ratusan radar yang menakutkan, dan bahu-bahu beton raksasa. Segalanya serba elektronik; nano technology. Pun kuketik surat ini tak mengenakan 10 jemari, cukup mengangankan alur kata dan rasa, surat langsung terhidang dan mengudara. Ini 2049.

Semoga lima hari lagi, presiden yang terpilih adalah presiden yang agak baik. Orang baik sudah mati. Pilih yang agak saja, cukup.

Kekasihku. Andai saja usia bisa dikomersialisasikan. Aku ingin menjual 35 tahun. Biar, aku rela tak dibayar pun oleh si pembeli. Aku masih ingin memberikanmu boneka panda, membiarkan tubuh mungilmu menggelayut manja di bahuku ketika aku menyetir, mengajakmu naik kereta seharian sampai sudut kota orang, berburu foto selfie yang malu-malu, kadang tak tahu malu. Ah, sudah lama sekali aku tak mendengar istilah selfie. Album foto sudah terarsip apik ribuan exabyte dalam otak rekayasa manusia 2049. Cuma aku yang masih setia menyisipkan foto kertas dalam dompet. Fotomu. Foto selfie kita.

Aku ingin muda selalu. Ingin segalanya terhabis bersama denganmu. Mari, lihat kotamu yang berbeda; hujan yang turun sudah bukan semata air dan air mata. Zat asam ikut serta. Mobilku satu dari sedikit kendaraan yang masih melayang di aspal; kini lalu lintas udara jauh lebih padat. Pohon yang kita saksikan di taman sekarang adalah pohon buatan. Sesekali kita harus membeli tabung oksigen yang harganya tidak terlalu murah, jika ada suara sirene tiga kali melalui telepati. Aku jemu saksikan periutan (bukan perkembangan) kota ini seorang diri selama puluhan tahun. Sudah saatnya kau kembali. Ke sini.

Pulanglah, datanglah, kembalilah ke kotaku, kotamu, kota kita, kota di mana kita dipertemukan. Peluklah tubuhku yang renta, hingga kita sama-sama menua bahagia, kekasih. Kemudian, pada suatu dini hari, salah satu di antara kita ada yang menangis kehilangan. Harapku, yang kehilangan pun yang meninggalkan sama-sama merias bibirnya dengan senyum, dengan setia. Ya?

Kota Kita, 4 Juli 2049.

Penunggumu[]

30 June 2014

Puasa Pertama di Bandara

2 comments :
Saya selalu senang ketika menghirup hawa ramadan. Tukang gorengan yang biasanya saya tengok sepulang kuliah jam 11 malam belum habis, sore tadi laris manis. Makanan apa pun tampak enak. Serius. Bahkan lumpur-lumpur yang menggenangi lubang-lubang jalan raya pun seperti Toblerone curah. Tentu saja saya senang, menjelang ramadan, selalu ada orang mengucapkan selamat berpuasa pada saya, “Elu mah enak. Gendut. Lemak banyak. Gak bakalan laper pas puasa. Kalo laper, tinggal goyangin perut aja, beres.” 

Emang celengan. 

Ramadan suka membuat saya senyum-senyum sendiri. Mengingat ramadan yang lalu-lalu. Oh, bukan mengingat sebetulnya, tapi teringat. Secara impulsif, seperti rindu. Kita sama-sama tahu, rindu dan pilu itu kerap datang tanpa mengetuk pintu. Dan baiknya kita suguhi saja tamu kita itu dengan rerupa penganan masa depan yang gilang gemilang, kita harap. Pasti keduanya bakal minder duluan. 

Ramadan 2009. Adalah ramadan pertama saya jauh dari orangtua. Tak terlalu jauh, sekitar 3-4 jam dari kampung halaman. Kala itu saya harus praktek kerja (prakerin) di pabrik softdrink, berdua teman saya. Iklim daerah tempat saya prakerin panas sekali. Setiap harinya saya berbuka puasa dengan aneka softdrink sebagai tajil. Hasilnya, pertengahan ramadan saya batal puasa dua hari. Anyang-anyangan. Dan asam lambung kumat. 

Hari pertama puasa jauh dari orangtua adalah siksa. Saya sempat meneteskan air mata―kemudian lekas saya seka, gengsi―ketika menyantap kolak sebelah kosan yang tak seenak kolak ibu saya yang diolah dengan cinta. Jatuh dua tetes lagi kala mengunyah nasi warteg dengan lauk seadanya ketika sahur. Lima tahun silam itu barulah saya ikhlas mendaulat masakan ibu adalah masakan paling enak sedunia. 

Ramadan 2010. Dengan sedikit pengalaman berpuasa sendirian pada tahun sebelumnya, saya mencoba lebih tegar dan tabah berpuasa lagi di daerah panas. Saya sudah bekerja selama tiga bulan. Dan ternyata berat sekali. Sedang ada proyek pabrik baru yang kejar tayang pada bulan ramadan. Berangkat setengah tujuh pagi, pulang setengah sebelas malam. Kadang dua belas. Namun alhamdulillah puasa saya tamat, meski berat. Hasilnya, berat badan menyusut tujuh kilogram. 

2011, tahun resign, akhirnya saya bisa puasa lagi bersama orangtua. Sahur hari pertama di kosan, kemudian setelahnya saya langsung seret koper ke bus. Menuju Bandung. Ramadan yang monoton, tidak ada pengalaman yang istimewa seperti dua tahun sebelumnya. Kurang gereget. Yang istimewa sekadar lemak-lemak yang dulu luruh di pabrik kembali lagi sehabis lebaran dan mulai kuliah semester satu. 

Demikian pula dengan 2012, 2013,... dan... 

Ramadan 2014? Ada yang berbeda. Saya ditinggal seseorang pulang. M. Sebetulnya semester lalu-lalu pun ia pasti pulang, namun tahun ini rasanya aneh. Aneh banget. Semula saya tak menyangka perasaan saya bakal selebay kemarin, malam ini masih. Dan saya baru ngeh mengapa latar bandara kerap hadir dalam film-film romance luar maupun dalam negeri. Karena, berpisah di bandara itu, rasanya, yah, begitulah. Sakitnya tuh di sini... ketika menatap punggung mungilnya semakin menjauh, menjauh, dan hilang di gate 1C.

Hari puasa pertama kemarin, sepulang mengantarnya ke bandara, pikiran saya penuh olehnya. Mau mengaku kangen, tapi, emm, rasanya gengsi plus tengsin lantaran ia baru pergi beberapa jam saja dan ia toh bakal kembali setelah satu setengah bulan mendatang. Pasti. Pasti kembali... Ah, mengapa saya jadi melankolis begini? Eh, sudah sunatullah deh sepertinya. Mohon maklum, ceman-ceman. 

Selamat liburan. Selamat lebaran. Baik-baik ya, di Kalimantan.[]

20 June 2014

Juni Ajaib

8 comments :
Saya kira selepas UAS saya bisa leha-leha dan puas main-main bertetirah ke tempat yang belum pernah saya jamah sebelumnya, dan sepanjang perjalanan takjub melihat pemandangan rumah-rumah bilik, bukit hijau dan laut biru, bukan rumah-rumah yang mencengkeram langit, sungai berair hijau dan taksi-taksi biru. Nyatanya pemandangan yang saya idamkan itu baru sebatas mewujud dalam angan dan wallpaper laptop.

Seperti biasa, sebagai kelinci percobaan, saya dan teman-teman harus manut terhadap apa yang bos akademik tugaskan kepada kami. Padahal liburan semester 6 ini cenderung singkat dibanding liburan semester genap yang sudah-sudah. Semula liburan kali ini sudah saya rencanakan untuk ber-freelance ke luar kota, ikut perusahaan konsultan kakak saya. Selain dapat honor yang lumayan bagi kocek mahasiswa irit seperti saya, ragam pengalaman pun pastinya akan saya dapat kelak di sana. Tapi... yah, sudahlah. Mungkin lain waktu. Huhu.

Iya. Keburu bulan puasa, sebab kabarnya bulan puasa mendatang perusahaan konsultan itu rihat, tak menerima order dari klien lagi hingga lebaran.

Entahlah apa sebenarnya yang dimaui bos akademik itu. Teknik Kimia, tapi disuruh belajar teknologi beton, listrik, sipil (mekanika dengan dua derajat kebebasan dan sebagainya dan sebagainya), hingga belajar welding. Bukannya tidak berminat untuk belajar hal-hal baru. Tapi sudah semester tua begini, ada rasa khawatir yang tumbuh manakala tidak fokus mengencani bidang yang spesifik, mau jadi apa saya setahun mendatang? Sarjana Teknik Gado-gado? Mending kalau sayurannya segar. Mending kalau kacangnya gurih dan likat. Mending kalau Mpok gado-gadonya itu Farah Quinn.

Tapi, yah, saya sedang berpayah melihat setengah gelas terisi, bukan meratapi setengah gelas kosong. Bersyukurlah, Py! Doakan saya ya, teman-teman.

Oh ya. Ini bukan keluhan. Saya sedang bersyukur dengan bungkus keluhan, sedikit bumbu gerutuan, dan diaduk-aduk bersama kenangan. Ah, sama saja ya?[]

01 June 2014

Unconditional Love: Afeksi Tanpa Limitasi yang (Tak) Basi

14 comments :
Andai memang unconditional love itu ada dan dijual bebas secara eceran dan online dengan harga yang affordable, saya ingin membelinya beberapa untuk persediaan kalau-kalau cinta yang saya miliki kemarin-kemarin sudah usang atau bahkan kedaluarsa tiga hari saja, seperti sari roti.

Unconditional Love jika diterjemahkan bebas, beroleh arti afeksi tanpa limitasi; kasih tak berbatas. Hmm, tanpa batas. Padahal dalam hidup kita dibebat rerupa batas, supaya tidak ada perilaku penduduk yang berlebih-lebihan sehingga menyebabkan kekacauan. Batas itu lebih dipahami dalam Pendidikan Kewarganegaraan sebagai norma. Dan, ah, tak penting kita bahas itu kali ini, nilai PPKn saya jelek.

Satu-satunya unconditional love semata milik Tuhan. Dan sebagian besar orang bilang, cinta tak berbatas-tak berbalas juga datang dari ibu kita. Seperti sungai, konon kasih ibu seolah tiada batas, selalu mengalir deras, yang pada akhirnya bermuara ke surga. Ibu akan menyayangi anak-anaknya sebrengsek apa pun si anak, selama anak itu masih memanggilnya ibu, atau mungkin selama sang anak masih sadar bahwa ia bisa terlahir di sini berkat pengorbanan ibu yang berpayah-payah sembilan bulan dan setelahnya pun.

Tetapi, jika ada frasa 'selama', maka itu pertanda ada prasyarat yang mengakar malu-malu, bukan?

Ibu akan suka apabila bocah kecilnya pandai dan periang yang bisa dipamerkan ke depan sanak-saudaranya. Ibu akan bangga menyaksikan anak remajanya menjadi juara olimpiade sains nasional. Ibu akan terharu menyimak pidato kelulusan yang diutarakan oleh anaknya yang berpredikat cumlaude.

Cinta sejati selalu pamrih dan perih.

Jikapun unconditional love itu sekadar metafor dari cinta yang ruah oleh pengorbanan namun luruh berkat ketulusan, saya ingin mencintai ibu saya, dalam kondisi apa pun. Cinta itu bertambah, terutama pada saat kondisi uang bulanan menipis, dan tiba-tiba saja ibu saya menelepon, "Sabar ya, Py. Nanti siang Mamah transfer. Mamah tambahin deh."

*

Pacaran itu cuma syarat untuk menikah. Dua bulan juga cukup. Ritual utamanya adalah menikah, dan ritual-ritual setelahnya. Jodoh sudah ada yang atur. Demikian ujar F, teman saya yang lama tak pacaran, dan kini lebih menyibukkan diri bermain dan belajar-mengajar bersama anak-anak SD golongan menengah. Semoga ia bukan pedofil, kita berdoa bersama-sama.

R, teman saya yang lain memilih untuk pacaran beberapa tahun belakangan. Tetapi ketika saya curhat kepadanya (meski terdengar menggelikan, percayalah, kadang-kadang curhat antar cowok dengan cowok itu sama saja dengan curhat antar cewek dengan cewek, hanya saja minus air mata) perihal saya tak lagi "sendiri" penghujung April lalu, ia sedikit terkejut. Seraya mengucap selamat, katanya: "Let it flow aja ya. Kita sama-sama tahu lah, cinta yang real itu gak seromantis dan se-happy ending cerita-cerita FTV."

Saya sendiri punya pendapat perihal pacaran. Selama kita suka sama seseorang, jangan terburu-buru. Tunggu sejenak hingga berubah jadi cinta, kemudian berbuah imbuhan di-, barulah kita putuskan untuk me-. Jangan sampai bertepuk sebelah tangan. Sesederhana itu. Seperti tagar #bahagiaitusederhana, kadangkala kesederhanaan itu nampak sederhana, namun terdapat kompleksitas di sana. Sesederhana menanti jawab ia dua tahun lamanya dengan harapan dan rapalan, misalnya.

*

Jatuh cinta dan mencintai adalah dua penderitaan yang berbeda.
―@hurufkecil

Saya bersyukur tidak dilimpahi anugerah untuk mudah jatuh cinta. Malah saya heran, segelintir teman begitu melihat cewek sedikit bening, langsung minta nomor pin, akun twitter, dan modus-modus basi lain. Daripada begitu, lebih baik saya menjadikan perempuan itu sebagai teman. Semakin banyak teman maka banyak pula rezeki, semakin banyak modusan semakin besar peluang hati untuk tersakiti. Sakitnya tuh di sini...

Sepakat dengan tukilan puisi @hurufkecil, saya sadar penderitaan jatuh cinta cetek. Sekadar sakit hati di permukaan, tidak sampai ke ulu dan berkepanjangan. Begitu menemukan orang yang bisa dijatuhi cinta lagi, maka kita akan kasmaran kembali. Sakit hati. Cari lagi. Yah, begitulah.

Adapun mencintai, seperti merawat rumah sendiri: kita sapu setiap hari, rumput liar kita cabuti. Bila atap bocor lekas perbaiki. Tiap pagi, daun jendela kita kuak lebar-lebar supaya udara dalam dan luar bersirkulasi. Jika tidak demikian, perabotan rumah mudah usang dan menumpuk debu di sana-sini, menyuburkan lumut di tembok yang lembap.

Ngomong-ngomong mencintai, saya malah jadi ingat orangtua saya. Sejak saya lahir saya belum pernah melihat mereka bermesraan sebagaimana yang saya lihat di film-film romance. 

Tiga minggu silam, sepulang mereka berdua dari sini ke Bandung, saya dengar kabar mereka bertengkar. Pagi itu, meja ruang keluarga pecah oleh amarah. Ibu saya panik, dan segera salat. Sesudah salat Ibu terpekik melihat Bapak menghunuskan pisau dapur ke nadi tangan kirinya dengan gemetar.

Ibu terlambat menghidangkan sarapan.

Memang, sesudah terserang stroke dan tak bisa beraktivitas seperti dulu, Bapak mengisi hari-harinya di depan televisi menonton FTV SCTV. Tapi, setahu saya FTV selalu happy ending. Tak pernah ada adegan bunuh diri. Bapak saya mendapat ilham metode bunuh diri dari mana ya?

Saya tahu kabar itu dari kakak saya, yang kemudian segera tancap gas ke Bandung untuk menetralisir keadaan. Menengahi. Namun rupanya orangtua tidak mungkin dilerai selayaknya dua bocah yang berantem gara-gara sebutir kelereng atau sehelai layangan. Keduanya saling menyalahkan dan defensif. Kakak saya menasihati salah satu, dan salah satu itu pasti menangis. Pada akhirnya kakak saya memilih mendengarkan.

Kemudian orangtua saya diboyong ke rumah kakak saya di Bekasi, sampai hari Minggu ini keduanya masih di sana. Rabu kemarin saya menjenguk mereka. Bapak tampak sehat sebab diterapi totok di sana. Sebaliknya Ibu. Wajahnya pucat dan keriputnya semakin menggurat. Konon nafsu makannya lenyap selepas kejadian itu. Makanan selezat apa pun gagal masuk. Dua suap nasi pun sudah hebat. Ah, seandainya mindset saya seperti Ibu, mungkin saya tak usah berpayah-payah untuk diet-dietan.

Baru saja saya duduk melepas lelah di sofa rumah kakak, Ibu sudah bercerita panjang lebar. Dengan aksen air mata, tentu saja. Perihal hidup yang tak pernah mulus. Harapan-harapan yang alangkah sulit ia gapai, lirihnya. Tentang derita yang bersetia menguji sedemikian ketat.

Selepas itu Bapak yang curhat. Dengan terbata-bata. Ia mengutarakan bahwa siapa pula manusia yang mau merepotkan orang lain? Ia sebetulnya benci akan keadaan dan penyakit yang mengekangnya. Saya lekas menabah-nabah Bapak, menghiburnya oleh nasib anak-anaknya yang hebat berkat didikannya.

"Kalo begini terus, kapan Mamah menikmati hidup, Py?"

Emm, jika dipikir-pikir memang tak adil. Dulu Bapak tak sempat membahagiakan Ibu dengan limpahan materi seperti orang lain. Ia hanya fokus mengajar, rapat, mengajar, rapat, dan mengajar. Mana sempat memikirkan masa tua keduanya. Dan penghasilan guru zaman dulu biasa-biasa saja. Kadang Ibu memang suka mengeluh, namun kala itu percaya bahwa kebahagiaan itu suatu saat pasti akan datang. Sayangnya selepas Bapak pensiun, penyakit malah menderanya, mungkin seumur hidup. Siapa yang direpotkan? Tentu saja Ibu saya. Siapa yang tidak kecewa ketika harus menelan kembali harapan-harapan yang telah diperam selama puluhan tahun merenda keluarga?

"Ah, udahlah. Mungkin Mamah memang ditakdirkan mengurus orang sakit," imbuh Ibu.

Bapak cuma termenung dan matanya berkaca-kaca. Saya terdiam sejenak dan mencari-cari apa yang seharusnya saya sampaikan supaya tak menyinggung perasaan keduanya. Dan melintas sekalimat dalam bukunya Daeng Khrisna:

Karena cinta tak pernah mengenal kata selesai.
―@1bichara

"Mah, Pa. Pengin hidup seperti apa lagi? Anak-anak udah pada mandiri, paling cuma Cepy yang masih nempel sama Mamah Apa. Sekarang mah harusnya saling menyayangi aja."

Ya memang kalimat yang meluncur klise banget. Tapi kalimat klise lumayan ampuh untuk tidak menyinggung salah satu pihak. Saya enggan menyakiti perasaan orangtua.

"Mamah sayang gak sama Apa? Gak mau kan kalo dipisahin misalnya Apa di Sidoarjo, Mamah di Bogor?"

"Ya sayanglah!" ketus Ibu, "lagian, kalo kami dipisahin, nanti malah gak enak kan sama orang lain. Mamah masih mampu kok ngurus Apa. Mamah masih punya tanggung jawab!"

Dalam hati saya tertawa menyaksikan rasa sayang yang malu-malu dikubur gengsi dalam hati Ibu saya.

"Kalo emang gitu, bagus deh. Mulai sekarang, gak usah banyak mikir segala rupa. Mamah tinggal fokus mengurus Apa. Apa juga harus sayang sama Mamah. Kalian masih ditakdirkan berdua. Orang-orang lain, ada yang udah gak beruntung, Mah, Pa... masa tuanya sendirian, kesepian." 

Sebagai anak bontot, saya sadar betapa sok tahu dan sok bijaknya saya di hari Rabu itu. Tapi, demi orangtua, apa sih yang enggak?

*

Kamis pagi saya berkemas pulang ke Bogor. Sebelum berpeluh membelah jalan alternatif Setu, saya terlebih dulu melahap sarapan sembari mengecek chat BBM:

Kapan kamu pulang? Hati-hati ya, sayang.
―M 

Sebetulnya saya gusar membayangkan apakah puluhan tahun mendatang―misal, yah, misal―ia masih semesra itu. Tetapi, mungkin benar, cinta tak pernah mengenal kata selesai. Sebelum benar-benar usai, baiknya dinikmati saja sebelum the end dan credit title mengambang di layar hitam hingga layar kembali putih sesirnanya sorot proyektor.[]

P.S. Sebetulnya saya ingin sekali ngepost perihal capres dan cawapres dan partai-partai yang pecah kongsi dan lahirlah ragam koalisi. Tapi, tinggal kita plesetkan sedikit: Unconditional Coalition is Bullshit.