25 January 2014

Seni Mengikuti Orang Lain

19 comments :

Sepertinya doa saya kemarin hampir diijabah. Matahari mulai berani nongol, tak lagi pundung. Walaupun menampakkan diri sekejap saja, namun kehadiran sang surya sangat saya rindukan, seperti kehadiran ehm… siapa ya? Ya, kalian semua, ceman-ceman. Akhirnya saya bisa mengetik postingan lagi di sore yang sebentar terang sebentar redup ini. Mudah-mudahan semangat kita tidak seperti itu.

Genap dua minggu kemarin, saya dan teman-teman kuliah melakukan kegiatan observasi lapangan di pabrik semen. Semacam apakah? Bukan, bukan studi ilmiah buat skripsi. Itu belum saatnya (dan berharap saatnya itu masih lama, tapi ternyata beberapa bulan lagi masa itu mesti datang juga). Observasi lapangan mengharuskan kami merunuti apa saja yang dikerjakan seorang karyawan selama jam kerjanya, kemudian mencatatnya. Segala kegiatan, hingga perkara remeh seperti ke kamar mandi dan merokok misalnya, juga kami catat. Sampai-sampai saya risih menunggu karyawan yang saya telaah di depan kamar mandi. Coba kalau karyawannya perempuan. Ah.

Hari pertama. Pagi itu, saya disambut sosok bapak berperangai dingin; diinterogasi segala rupa: tujuan saya mengikuti ke mana pun mereka bekerja, meminta surat tugas yang sah, dan ia menanyai apakah saya sudah punya pacar ataukah masih bujang lapuk. Iya, pertanyaan terakhir sadis banget. Untung saya masih kuat iman, Pak.

Karyawan yang saya ikuti ini punya emosi yang meledak-ledak. Suaranya terdengar cetar sekali dalam frekuensi Handie Talkie. Matanya kerap nyaris keluar saat mengomandoi anak buahnya. Perawakannya tegap, jalannya cepat, kendati ia sudah tidak bisa dibilang muda sebab kepalanya amat mengilap. Menyusuri tangga-tangga silo yang tingginya puluhan meter itu, saya kalah lincah olehnya. Tapi asyiknya, ia suka sejenak berhenti di depan alat/mesin, memberi kesempatan saya untuk bertanya hal-hal teknis. Dan tampak ia bukan orang yang pelit ilmu dan pengalaman.

Pukul 12. Ia menunda istirahat lima belas menit, sebab mesti mengawasi anak buahnya yang sedang memeras keringat, bahkan beberapa kali ia turun tangan, di depan outlet Cement Mill. Sesudah pekerjaan selesai, ia pun ke ruangannya untuk makan dan istirahat. Tentu saja saya ikut makan dan mengambil napas banyak-banyak. Saya membatin, capek juga ternyata mengikuti laku-lampah orang lain itu.

Ada yang unik dari bapak yang saya ikuti di hari pertama. Saat istirahat, ia bagai merihatkan suara lantangnya, menanggalkan jabatannya di hadapan saya. Ia mengajak saya berbincang perihal belajar yang tiada kenal usia, pentingnya menjaga kesehatan, sampai tentang jodoh. Ia pun memberi wejangan-wejangan yang sudah tak lagi asing di telinga saya, namun malah jadi lucu sebab nasihat itu bermuasal dari orang temperamental, dan orang emosian bisa sebijak motivator, ternyata. Lebih malah.

Begitulah. Hari berikutnya? Mungkin benar, yang ‘pertama’ itu kerap menjejakkan kesan paling mendalam. Hari selanjutnya, mungkin saya perlahan-lahan terbiasa melihat urat tegang seseorang yang sedang bekerja keras. Dan mungkin juga saya telanjur dikerkah rutinitas.

Manusia, Makhluk yang Aneh

Esok, lusa, hari-hari selanjutnya, karyawan yang saya catat kegiatannya bukan orang itu-itu lagi lantaran shift yang berotasi setiap dua hari sekali. Maka saya pun harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan orang baru, lagi dan lagi. Sedikit ribet dan mumet, sebab jujur, saya bukanlah orang yang gampang klop dengan orang, apalagi dengan orang yang baru. Biasanya, perlu waktu relatif lama untuk menghangatkan diri supaya bisa intens dengan orang baru. Namun demikian, dari situ, bercucuranlah tetes-tetes hikmah yang berhasil saya tadah, kemudian saya tenteng ke rumah sebagai kenang-kenangan untuk masa depan.

Saya heran, ternyata sekalipun jabatannya sama, karyawan yang kegiatannya saya runuti punya sikap yang berbeda-beda dalam menghadapi masalah, ya, dalam hal ini masalah atau trouble produksi. Orang berkarakter meledak-ledak, ternyata begitu lugas mengatasi masalah, sekalipun segelintir anak buahnya mungkin ada yang tidak suka dengannya gara-gara gelegar perintahnya. Itulah mengapa trouble dapat segera ia atasi, jangan-jangan trouble pun sungkan kepadanya. Namun, usai pekerjaan selesai dan operasional adem ayem, di kala senggang, ia begitu respek terhadap rekan kerja, anak buah, karyawan outsourcing, pun kepada saya. Itu menandakan ia masihlah manusia normal.

Demikian pula dengan karyawan yang periang dan peramah. Sepintas orang semacam ini terkesan mengasyikkan untuk kita jadikan teman, sebab ada saja topik yang bisa kami bincangkan selama saya mengikutinya di lapangan, hal teknis maupun non seolah sangat ia kuasai. Tapi gara-gara itu beberapa pekerjaan malah ia tunda-tunda, dan menganggap segala trouble akan selesai dengan sendirinya dalam tanda kutip dikerjakan shift berikutnya. Ia malah asyik melaporkan segala instrumen-instrumen yang abnormal kepada atasannya, seakan-akan melimpahkan aneka masalah kepada sang bos.

Lain lagi dengan karyawan pendiam dan melankolis. Kadangkala, memang, ia terlihat panik saat menghadapi masalah produksi, tidak setegar karyawan berkarakter keras ataupun selincah lidah karyawan periang. Namun, berkat kepiawaiannya mengelola emosi dan koordinasi, toh satu per satu masalah dapat ia atasi sedingin es. Anak-anak buahnya pun respek kepadanya, sekalipun hubungan mereka sebatas anak buah dan atasan, tidak sehangat karyawan yang peramah, tidak serenggang karyawan pemarah.

Saya tidak paham motif utama observasi yang CHRD mandatkan kepada kami itu untuk apa: entah guna menyelidiki dan memperoleh bukti supaya mereka bisa memindahkan, mengurangi, mengadili karyawan yang bandel di mata manajemen, saya tidak tahu cum tidak mau tahu. Namun, jika boleh saya mengutip salah satu ucapan karyawan yang saya pun sepakat:
Andai manajemen pengin tahu kinerja kami seperti apa; baik atau bobrok, silakan tengok kurva produksi yang tidak pernah mendatar apalagi menukik saban tahunnya. Kami orang lapangan, kadangkala masalah di lapangan harus diatasi secara lapangan pula, banyak yang tidak cocok diatasi secara teoretis. Ndak usahlah manajemen repot-repot mengusik kami yang sudah kenyang pengalaman lapangan ini, sampai tak terasa kami sudah sebegini tua.
Ya, semoga setelah kami suguhkan data yang menyiratkan betapa kejamnya trouble-trouble di pabrik (lapangan), tidak lantas membuat manajemen ikut-ikutan kejam kala melahirkan kebijakan-kebijakan untuk karyawannya. []

21 January 2014

Jarum Gigil

9 comments :
Konon, salah satu waktu berdoa yang niscaya diijabah Allah SWT, ialah pada saat hujan deras. Saya berdoa: semoga hujan lekas reda.

Saya sedih membayangkan apa yang terjadi di kota yang jaraknya beberapa puluh kilometer dari sini. Melalui televisi, saya melihat kali-kali berair cokelat yang sudah pindah tempat ke permukiman. Perahu karet di mana-mana. Mobil dan motor teronggok di sembarang. Reporter yang biasa tampil cantik, kini berbalut jas hujan, tudung kepalanya dirintiki hujan. Entah, apakah kakinya disungkup high heels, sebab genangan sudah mencapai lututnya.

Di sini, di kota pengirim hujan, hujan seperti terkakak-kakak girang pada dini hari, subuh, pagi, siang, sore, petang, malam, dini hari. Begitu, sampai sekarang. Mungkin langit sedang balas menghunaji kita dengan berkubik-kubik air, setelah awal tahun kemarin ia kewalahan kita tembaki oleh kembang api dan petasan harapan. Semoga hujan lekas reda.

10 January 2014

Mendingan Sakit Hati

10 comments :

Kemarin, di jalan sepulang melepas ortu dan kakak sulung saya berangkat umrah, pipi saya sakit sekali. Cenat-cenut, kayak Sm*sh. Saya curiga mereka sedang berlenggak-lenggok centil di dalam mulut saya, sambil mencipratkan keringat pada gigi saya sehingga meninggalkan karat. Tapi ternyata bukan. Fiuh.

Lidah saya meraba-raba gigi, hmm, geraham paling bawah, paling pojok sebelah kanan, sepertinya bolong. Setelah tanya-tanya teteh google dan tanya-tanya sama teteh beneran, konon itu geraham bungsu, yang memang riskan bolong.

Dan, sensasinya itu lho, sakit gigi bikin kepala pusing, leher pegal, mata berair, sakitnya menjalar ke mana-mana, kecuali ke hati. Aw. Sebentar, saya mengusap-usap pipi dulu.

Jam segini apotek dekat rumah belum buka, mungkin sejam kemudian baru buka. Saya menunggu di rumah sembari menahan linu di tempat tidur, berharap sakit gigi ini segera minggat.

Ah, daripada sakit gigi ternyata lebih baik sakit hat.. eits, yakin lo, Cep? Iya juga sih, obat sakit gigi itu tersedia di apotek mana pun. Mau sakit gigi di mana pun saya berada, saya tinggal beli obatnya. Bagaimana dengan obat sakit hati? Cuma dia obatnya, nggak bisa dibeli. Tapi dia itu sedang di mana? Masih sama orang lain, tuh. Wah, mendingan sehat lahir batin, deh.

Jadi, saya ralat judul postingan ini ya. Sip.

Catatan: Postingan ini diketik melalui Blogger for Android. Saya curiga formatnya bakal acak-acakan, tidak ada jeda antar paragraf.

04 January 2014

Aroma Kopi Aroma

8 comments :

Macet. Ah, itu fenomena yang biasa di ruas-ruas jalan kota Bandung. Sekali lagi, biasa! Apa lagi hari Sabtu-Minggu. Apa lagi di jalan-jalan strategis tujuan orang Jakarta semacam Pasteur, Ir. H. Juanda alias Dago, Cihampelas, Riau, Setiabudhi menuju Lembang.

Hal yang sama terjadi di jalan menuju toko sekaligus pabrik Kopi Aroma, Jalan Banceuy, namun syukurlah tidak sebiadab kadar kemacetan jalan-jalan yang saya sebut di atas. Sepanjang jalan Banceuy lalu di sebelah kirinya yakni jalan ABC, toko elektronik, toko onderdil otomotif, toko alat-bahan pertukangan, saling berimpit-impitan.

Sekawanan motor menyalip lincah di antara mobil-mobil yang berjalan tersendat-sendat. Situasi menyebalkan pada era modern itu kontras dengan penampilan toko-toko yang hampir semuanya berpenampilan lawas. Saya seakan berada di zaman kakek, bapak saya remaja. Temboknya pun berbedak putih pasi; mengelupas di sana-sini. Namun anehnya tak ada toko yang sepi. Rezeki tidak pandang tampang, rupanya.

Setengah gusar, saya ikut-ikutan menyalip mobil seperti pengendara roda dua lain. Toko elektronik tak saya acuhkan. Omelan-omelan Kang Parkir yang sedang memandu mobil yang hendak pulang pun saya anggap nyanyian angin. Saya telanjur fokus pada destinasi saya, yakni toko yang dagangannya lain dari puluhan toko tetangganya. Jalan Banceuy No. 51.
***
Akhirnya sampai juga. Di antara toko elektronik cum gerai onderdil, kini saya sudah berdiri di depan bangunan tua. Ada tulisan besar di atasnya: “Aroma” dan “Paberik-Kopi”. Bukan, bukan tertera di atas neon board atau spanduk hasil cetak digital. Cuma semen (atau batu atau besi?) yang menyandari tembok atap.



Toko itu kecil, tidak sebesar namanya yang konon sudah masyhur sampai Eropa. Begitu masuk, saya disambut oleh alat-alat perkopian antik yang sungguh asing bagi saya, dipajang di dekat jendela khas kolonial. Kemudian etalase dan meja kaca pun menyambut, yang di baliknya menghampar biji kopi berwarna kuning kecokelatan, entah itu sebatas sampel ataukah masih dapat diolah. Dan tentunya saya disambut pelayan toko.

Pintu Depan.
Pintu Belakang yang Disponsori Kang Setir Mobil.
Berbalut celemek merah bata (atau cokelat, saya lupa), kedua pelayan itu melayani dua pembeli di depan saya. Ada pemuda yang membeli kopi robusta dan arabika masing-masing tiga bungkus bertakaran 250 gram. Ada pula ibu yang memesan arabika enam bungkus, setelah sebelumnya sempat dibabarkan oleh pelayan perihal karakter kopi jenis itu yang tak seberat robusta. Tuturnya, arabika cocok diminum saat rileks petang atau malam sebelum tidur, ringan, lain halnya dengan robusta yang dianjurkan diseruput manakala kita akan bekerja keras pada pagi hari.

Dan kini giliran saya.

“Mau kopi apa, Kang?”

Ini kali pertama saya mengunjungi toko kopi ini, sehingga sudah pasti saya terkesan gelagapan kalau saja saya tidak berpura-pura bersikap cool.

“Menunya apa aja?” dalam pikiran saya, pelayan itu bakal menyodorkan selembar menu yang mencantumkan sederetan varian kopi seperti di kafe kopi Amerika tempat ABG nongkrong itu. Tapi ternyata tidak.

“Mau robusta atau arabika?”

Oh. Saya kira..

“Emm, bedanya apa, sih, Kang?”

Dan saya pun menyimak penjelasan yang tak jauh beda dengan apa yang ia jabarkan pada ibu barusan yang sudah pulang. Imbuhnya, kadar kafein dalam arabika lebih rendah ketimbang robusta, sehingga cenderung aman bagi lambung maupun bagi penderita diabetes. Kabar baik buat saya yang asam lambungnya rentan sekali naik.

Mendengar itu, saya teringat acara televisi lokal yang sempat mendedah proses produksi kopi aroma. Konon, kopi aroma diperam terlebih dulu selama delapan tahun guna melesapkan kadar asamnya. Setelah delapan tahun, barulah biji kopi digiling kemudian sampai halus. Benar-benar halus. Penggilingannya pun dilakukan sedikit demi sedikit sesuai kebutuhan dan banyaknya penjualan, supaya kopi yang dijual tiap harinya dalam keadaan fresh, tidak bersemayam terlalu lama di dalam kemasan. Hmm, pantas saja aromanya kuat dan khas banget. Segala yang diproses bukan secara instan takkan mengecewakan, biasanya.

Entah nemu angka dari mana, yang pasti bukan dari bandar togel, secara impulsif saya memesan tiga robusta dan dua mokka arabika dalam kemasan seperempat kilogram. Lima. Kenapa harus lima? Saya juga bingung.


Kemudian pelayan itu membawakan saya sekantung kresek putih berisi lima bungkus kopi dari ruang tengah toko, di mana di situ ada enci dan perempuan belia tengah sibuk menakar dan mengemasi kopi dengan cekatan. Saya menduga keduanya adalah istri dan putri pemilik pabrik-toko kopi aroma ini (generasi kedua), yang kebetulan sedang tidak berada di toko.

Oh, ya, saya lupa tidak bertanya perihal harga satuannya, tetapi saya masih ingat harga total tiga robusta serta dua mokka arabika: Rp. 77.500. Wow, harga lima bungkus kopi berkemasan 250 gram setara dengan dua gelas kopi esperesso di kafe kopi amerika atau kafe “ke-amerika-amerikaan”.

Saya tidak berbohong, setiba di rumah, belum diseduh, aroma kopi aroma masih saja melekat di dalam ransel dan merebaki seisi rumah yang tidak besar. Dan malam ini kopi aroma jadi semacam pengharum ruangan kamar. Kelak, mungkin ada parfum yang berbahan baku dari kopi. Kopi Aroma, tentu, dari Koffie Fabriek Bandoeng! []

03 January 2014

Tips Memperpanjang STNK Motor di Samsat

8 comments :

Gimana sih cara memperpanjang STNK motor satu tahun di Samsat Cimahi-Cimareme? KTP pemilik. STNK. Adapun BPKB, tidak usah dibawa, kecuali jika anda hendak “gosok” pelat nomor saban lima tahun. Bila cuma perpanjang, sudah, dua itu saja amunisi yang mesti kita persiapkan dari rumah. 

Kalau kita sudah tiba di gedung Samsat, langsung saja melipir ke Kang fotokopi yang ada di belakang gedung. Di situ Kang fotokopinya udah profesional, nggak bakalan keliru menyebalkan seperti Mbak fotokopi di Citeureup yang sempat bikin saya senewen semalaman waktu itu. Sebagaimana seorang profesional bidang lain, tarif Kang fotokopi ini lumayan mahal, sih: tiga ribu rupiah, sudah termasuk dengan sehelai map. 
*** 
Enam tahun. Lumayan tua juga usia Revo 100cc saya. Dengan demikian, lima kali sudah saya berpengalaman memperpanjang STNK nya. Pertama kali, saya ditemani bapak. Perpanjangan kedua, ditemani paman. Ketiga juga. Keempat juga. Entahlah, saya tidak pernah percaya diri kala pergi seorang diri untuk bersinggungan dengan urusan administrasi negara. Trauma. 

2014 tepat dengan perpanjangan yang kelima. Baru pagi tadi saya sedikit nekat memercayakan diri ini buat mengurus perpanjangan STNK sendiri, karena hari Jumat sekarang adalah hari (kerja) terakhir saya berada di sini, Senin pagi mesti cabut lagi ke Bogor. Tidak takut dirayu calo? Idih. Kebetulan penampilan saya takkan mudah menarik hati calo (bila ada): rambut cepak, muka sangar, mata nyalang. Bukan, saya bukan debt collector. Cuma mirip, perutnya. 

Oleh karena waktu liburan yang makin menipis, sekalipun jatuh tempo STNK nya masih belasan hari lagi, yaitu pada 16 Januari, saya kira lebih cepat itu lebih baik. Iya, kan? Iya aja deh. Tapi, jangan cepat-cepat nikah, ya. Saya dulu! 
*** 
Prosedur Perpanjangan STNK Roda Dua

Saya memutuskan untuk menuliskan tata cara ini di blog guna merekam ingatan. Kerap saya lupa manakala setiap tahunnya hendak memperpanjang STNK. Percayalah, penyakit menahun yang menghantui saya adalah mudah melupakan hal-hal penting. Dan terutama, pada pengalaman kelima tadi pagi, ada urutan prosedur yang (sedikit) berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Namun berkat itu imbas penyakit lupa saya tak begitu berpengaruh. Nanti saya ceritakan sedikit perbedaan itu. 

Sehabis memfotokopi dua amunisi di atas dan telah terlampir di dalam map, sebaiknya kita berjalan dengan langkah biasa aja kala memasuki gedung Samsat. Jangan tergesa-gesa, nanti dianggap KPK. Jangan terlalu santai, nanti ditengarai sebagai PNS yang mangkir. Dan setiba di ambang pintu, tidak usah mengetuk pintu kemudian melepas sandal. Dengan pede, saya menuju loket paling kiri. Saya baca tulisan di atasnya. Loket 1: Khusus Manula dan Ibu Hamil. Saya tertegun. Astaga, mungkinkah saya positif hamil seperti dakwaan teman-teman saya?!! 

Nah, tahun-tahun yang lalu, biasanya saya langsung menghampiri Loket Pendaftaran yang dulu terletak paling kiri itu, kemudian menyerahkan map berisi STNK asli, KTP asli, beserta fotokopinya ke situ. Tapi ternyata. Saya melongo. Melihat saya kebingungan, syukurlah, seorang bapak, dengan tutur ramah, memberitahu saya untuk lebih dulu menyerahkan map itu ke Loket Pajak Progresif yang terletak di sebelah kanan gerbang depan. Barulah saya lega. Saya tidak hamil.

Saya memberikan map ke loket itu, lantas petugas memasukkan data dari STNK dan KTP. Tak lama berselang, ia mengangsurkannya lagi, kini sudah disertai semacam struk. Entahlah, saya tidak berhasrat untuk membaca struk itu. Intinya, petugas itu menyuruh saya untuk menyerahkan map dan struk itu ke Loket 2: Pendaftaran, untuk mengambil formulir. Setelah saya isi lengkap dan teliti (sekarang formulirnya berukuran kecil, formnya tidak terlalu banyak dan ribet seperti dulu), kemudian saya menyerahkan map yang kini sudah dilengkapi formulir ke Loket 3: Pengesahan Ulang 1 tahun R2. 

Walaupun berdiri berdesak-desakan oleh karena kursi tunggu seluruhnya diisi, namun proses di situ berlangsung tertib. Selang 10 menit, saya sudah dipanggil oleh petugas di Loket 3. Ia memberi saya nomor antrean 1-158 dan menyuruh saya guna menunggu panggilan dari Loket 4: Pembayaran. Adapun nomor antrean terakhir yang dipanggil, baru nomor 100an.


Lumayan lama, tapi tidak sampai empat puluh menit, nomor antrean saya dilafalkan pemanggil elektronik layaknya di bank, karena memang Loket 4 pun dipetugasi oleh pihak bank. Petugas perempuan pun menyebutkan nominal pembayaran pajak. Rp. 196.000 untuk Revo 100 cc. Wah, naik 20 ribu, euy. Kemudian petugas itu menyodorkan lagi nomor antrean tadi. Oh, nomor antreannya agak beda; sudah dinilai petugas. Dapat nilai sepuluh (emangnya anak SD).

Lunas! Saya tinggal menunggu penyerahan STNK baru oleh Loket 5: Penyerahan STNK. Tak sampai lima menit, nomor antrean dan nama bapak saya dipanggil. Alhamdulillah, tuntas.
Kang calo Samsat, mending anda banting setir jadi calo jodoh. Pahalanya melimpah!