04 January 2014

Aroma Kopi Aroma

8 comments :

Macet. Ah, itu fenomena yang biasa di ruas-ruas jalan kota Bandung. Sekali lagi, biasa! Apa lagi hari Sabtu-Minggu. Apa lagi di jalan-jalan strategis tujuan orang Jakarta semacam Pasteur, Ir. H. Juanda alias Dago, Cihampelas, Riau, Setiabudhi menuju Lembang.

Hal yang sama terjadi di jalan menuju toko sekaligus pabrik Kopi Aroma, Jalan Banceuy, namun syukurlah tidak sebiadab kadar kemacetan jalan-jalan yang saya sebut di atas. Sepanjang jalan Banceuy lalu di sebelah kirinya yakni jalan ABC, toko elektronik, toko onderdil otomotif, toko alat-bahan pertukangan, saling berimpit-impitan.

Sekawanan motor menyalip lincah di antara mobil-mobil yang berjalan tersendat-sendat. Situasi menyebalkan pada era modern itu kontras dengan penampilan toko-toko yang hampir semuanya berpenampilan lawas. Saya seakan berada di zaman kakek, bapak saya remaja. Temboknya pun berbedak putih pasi; mengelupas di sana-sini. Namun anehnya tak ada toko yang sepi. Rezeki tidak pandang tampang, rupanya.

Setengah gusar, saya ikut-ikutan menyalip mobil seperti pengendara roda dua lain. Toko elektronik tak saya acuhkan. Omelan-omelan Kang Parkir yang sedang memandu mobil yang hendak pulang pun saya anggap nyanyian angin. Saya telanjur fokus pada destinasi saya, yakni toko yang dagangannya lain dari puluhan toko tetangganya. Jalan Banceuy No. 51.
***
Akhirnya sampai juga. Di antara toko elektronik cum gerai onderdil, kini saya sudah berdiri di depan bangunan tua. Ada tulisan besar di atasnya: “Aroma” dan “Paberik-Kopi”. Bukan, bukan tertera di atas neon board atau spanduk hasil cetak digital. Cuma semen (atau batu atau besi?) yang menyandari tembok atap.



Toko itu kecil, tidak sebesar namanya yang konon sudah masyhur sampai Eropa. Begitu masuk, saya disambut oleh alat-alat perkopian antik yang sungguh asing bagi saya, dipajang di dekat jendela khas kolonial. Kemudian etalase dan meja kaca pun menyambut, yang di baliknya menghampar biji kopi berwarna kuning kecokelatan, entah itu sebatas sampel ataukah masih dapat diolah. Dan tentunya saya disambut pelayan toko.

Pintu Depan.
Pintu Belakang yang Disponsori Kang Setir Mobil.
Berbalut celemek merah bata (atau cokelat, saya lupa), kedua pelayan itu melayani dua pembeli di depan saya. Ada pemuda yang membeli kopi robusta dan arabika masing-masing tiga bungkus bertakaran 250 gram. Ada pula ibu yang memesan arabika enam bungkus, setelah sebelumnya sempat dibabarkan oleh pelayan perihal karakter kopi jenis itu yang tak seberat robusta. Tuturnya, arabika cocok diminum saat rileks petang atau malam sebelum tidur, ringan, lain halnya dengan robusta yang dianjurkan diseruput manakala kita akan bekerja keras pada pagi hari.

Dan kini giliran saya.

“Mau kopi apa, Kang?”

Ini kali pertama saya mengunjungi toko kopi ini, sehingga sudah pasti saya terkesan gelagapan kalau saja saya tidak berpura-pura bersikap cool.

“Menunya apa aja?” dalam pikiran saya, pelayan itu bakal menyodorkan selembar menu yang mencantumkan sederetan varian kopi seperti di kafe kopi Amerika tempat ABG nongkrong itu. Tapi ternyata tidak.

“Mau robusta atau arabika?”

Oh. Saya kira..

“Emm, bedanya apa, sih, Kang?”

Dan saya pun menyimak penjelasan yang tak jauh beda dengan apa yang ia jabarkan pada ibu barusan yang sudah pulang. Imbuhnya, kadar kafein dalam arabika lebih rendah ketimbang robusta, sehingga cenderung aman bagi lambung maupun bagi penderita diabetes. Kabar baik buat saya yang asam lambungnya rentan sekali naik.

Mendengar itu, saya teringat acara televisi lokal yang sempat mendedah proses produksi kopi aroma. Konon, kopi aroma diperam terlebih dulu selama delapan tahun guna melesapkan kadar asamnya. Setelah delapan tahun, barulah biji kopi digiling kemudian sampai halus. Benar-benar halus. Penggilingannya pun dilakukan sedikit demi sedikit sesuai kebutuhan dan banyaknya penjualan, supaya kopi yang dijual tiap harinya dalam keadaan fresh, tidak bersemayam terlalu lama di dalam kemasan. Hmm, pantas saja aromanya kuat dan khas banget. Segala yang diproses bukan secara instan takkan mengecewakan, biasanya.

Entah nemu angka dari mana, yang pasti bukan dari bandar togel, secara impulsif saya memesan tiga robusta dan dua mokka arabika dalam kemasan seperempat kilogram. Lima. Kenapa harus lima? Saya juga bingung.


Kemudian pelayan itu membawakan saya sekantung kresek putih berisi lima bungkus kopi dari ruang tengah toko, di mana di situ ada enci dan perempuan belia tengah sibuk menakar dan mengemasi kopi dengan cekatan. Saya menduga keduanya adalah istri dan putri pemilik pabrik-toko kopi aroma ini (generasi kedua), yang kebetulan sedang tidak berada di toko.

Oh, ya, saya lupa tidak bertanya perihal harga satuannya, tetapi saya masih ingat harga total tiga robusta serta dua mokka arabika: Rp. 77.500. Wow, harga lima bungkus kopi berkemasan 250 gram setara dengan dua gelas kopi esperesso di kafe kopi amerika atau kafe “ke-amerika-amerikaan”.

Saya tidak berbohong, setiba di rumah, belum diseduh, aroma kopi aroma masih saja melekat di dalam ransel dan merebaki seisi rumah yang tidak besar. Dan malam ini kopi aroma jadi semacam pengharum ruangan kamar. Kelak, mungkin ada parfum yang berbahan baku dari kopi. Kopi Aroma, tentu, dari Koffie Fabriek Bandoeng! []

8 comments :

  1. Cep. Tanggung Jawab! Gw ngiler nih! Huhuhu. Pengen ngopiii!

    ReplyDelete
  2. Asyik ya bahasanya "PABERIK" trus ada lagi tuh "FABRIEK".

    Btw itu grafitinya ngganggu pemandangan banget yaaaa..

    Desain bungkusnya bagus banget. Tulisan AROMA itu juga bikin aku tambah perbendaharaan design..

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha mantep lah, bahasa buyut saya :D
      iya, kak, mana di sini lalu lintasnya emang semrawut sih. tapi untungnya tetep aja pengunjung paberik kopi ini rame :)

      Delete