28 February 2014

Menghamba Kecepatan

6 comments :
Manusia-manusia yang tergesa seolah tersinggung manakala garis putih paling kiri jalan saya pinjam sejenak untuk lajur khayal sepeda. Tin-Tiin! Tiiiiiinn! “Anjing!” Sepasang anjing ternak bermata sayu milik tuan lapo tuak itu terkesan ogah menggonggong, mungkin mengalah pada saya yang merapal umpatan kepada sesiapa yang menjeritkan klakson barusan.

Pagi melambat ketika sepatu putih beroles tanah merah memancal pedal keluar perumahan, menyibak kampung dan rerimbun kebun singkong, membelah sibuknya jalan raya Bogor-Jakarta pada hari biasa, jauh lebih lambat ketimbang reka ulang gol kontroversial. Gigil angin lembap memeluk peluh wajah, bersicepat dengan kabut-kabut polutan dari pantat kuda-kuda besi yang melesat bergesa-gesa. 

Usai seminggu kemarin melindap, matahari mulai berfokus bersinar, namun mata saya tidak fokus melihat bokong kuda-kuda besi itu, tentu. Pemandangan di kiri kanan lebih memikat. Saya menggowes santai saja. Anak-anak SD negeri berbalut baju yang sama di lapangan rumput dengan genangan di muka gawang. Di bibir jalan, penadah rongsokan sedang menggelar terpal biru, menebar onderdil motor di atasnya. Pagi menjelang siang ini, masih ada loper koran yang merapikan berita pagi di dalam tas yang menyampiri jok belakang bebek hondanya.

*** 

Belum lama. Saya menggemari sepeda baru-baru ini. Sejak Juni tahun lalu. Demi apa? Demi mengekang perut supaya tidak merengek menambah nomor celana. Tubuh saya terlalu berat untuk berlari, dan sarapan pagi keluar lagi saat baru lima menit berenang gaya bebas di kolam berkaporit. Dalam olahraga tim, saya selalu jadi anak bawang yang lelet.

Berkat sepeda, andai ditanya oleh orang lain―terutama orang yang sangat dekat semisal kerabat―perihal hobi, maka saya takkan menjawab “menulis” sebagai hobi saya. Menulis, sekalipun sudah menelurkan banyak sahabat, kepuasan batin, dan sedikit “bonus” dalam masa muda saya, namun orang-orang sekitar saya masihlah apriori terhadap kegiatan yah, katakanlah hobi itu. Itu bukan masalah. Lagi pula saya pun menganggap menulis sebagai kegiatan yang biasa, sebiasa menyaksikan stiker Soeharto di kaca belakang angkot, selazim mengintip pasangan “entah sedang apa” di kursi pojok atas bioskop. 

Maka, saat ditanya kegemaran, akan saya jawab dengan percaya diri: bersepeda. Setidaknya, saya urung menjawab “menulis” sebagai hobi sehingga takkan didaulat autis―maaf, istilah ini saya pinjam dari salah satu mulut mereka, jemari saya cuma merekamnya, padahal sungguh, autis itu tiga kali lebih cerdas, sampai-sampai orang yang merasa normal kewalahan memahami keunikan mereka. 

Saat bersepeda saya dapat menikmati dunia yang lambat, adegan demi adegan tersaji jelas; paku-paku dan baut berebahan beralaskan aspal. Entah siapa yang merebahkan.

*** 

Saya teringat adegan minum teh ala Inggris―afternoon tea―yang menghiasi serial Lima Sekawan yang saya baca sewaktu SD. Saya merasa aneh dengan kegiatan Dick, Anne, Julian, George, Timmy yang setiap sore minum teh bersama orangtua dan paman-bibi mereka, kadangkala cuma mereka berlima. Sekiranya ada anggota keluarga yang tak hadir saat upacara minum teh di meja makan, bisa dipastikan ia sedang terlibat masalah dengan anggota keluarga lain, sehingga diwajarkan untuk absen. Bila boleh ekstrem, bagi orang Inggris, ritual minum teh mungkin seperti kewajiban salat Ashar bagi umat Islam.

Apa saja yang mereka bincangkan saat minum teh? Obrolan ringan, biasanya masing-masing orang bergantian mengudar apa yang dikerjakan pada pagi hingga siang hari itu. Oh, ya, setting yang biasa ada dalam buku Lima Sekawan itu yakni masa-masa liburan sekolah. Rupanya saat liburan pun mereka selalu berkegiatan yang kerap sarat petualangan itu. Namun pada sorenya―antara 15.00-17.00―mereka tetap meluangkan waktu buat minum teh bersama-sama keluarga, pada empat musim.

Entah, apakah ritual minum teh masih ditunaikan oleh orang Inggris di tahun 2014, sebab latar cerita Lima Sekawan itu berkisar pada 40-50an. Namun rupanya masyarakat Jepang pun punya kebiasaan minum teh saban sore, sampai sekarang. Selain memelihara tradisi turun-temurun, konon dengan melakukan kebiasaan minum teh, orang Jepang berlatih kesabaran dan sopan santun. Selain itu, guna menenangkan pikiran. Semacam relaksasi. Hmm, padahal image mereka begitu kental dengan ketergesa-gesaan, saya pikir.

***

Digiring zaman yang serba gegas ini, kadang-kadang kita lupa untuk berpikir sejenak sebelum berbicara. Lelaku berbicara sudah merasuki aneka media, bukan sekadar mulut ke mulut. Setengah enam pagi, jemari bangun lebih duluan ketimbang mata, sekadar untuk ngetwit: Thanks God It’s Friday, bukan lagi ramai-ramai operasi semut “Jumat Bersih” atau senam SKJ di lapangan desa. Lagi pula, lapangan desa sudah berganti impitan rumah pendatang.

Mi instan kalah instan oleh layanan pesan instan Whatsapp. Ribuan pesan tiap hari membanjir dari salah satu grup. Sungguh, saya selalu kalah cepat oleh mereka. Saya baru berpikir, jempol-jempol mereka sudah sengit beradu argumen tentang agama dan kebebasan hak pribadi. Padahal, dalam chat, saya ingin mengobrol seringan taipan berbicara tentang kemiskinan, bukan tentang ide bombastis dan mendebatkan pepatah usang. Lantaran setumpuk buku lebih baik tata bahasa serta jelas alurnya, maka saya menutup kitab Whatsapp, kemudian tenggelam dalam buaian pengarang, perlahan-lahan.

Harap saya, jangan mencontoh leletnya hidup saya, sebab Anda bakal jauh tertinggal oleh orang lain. Anda akan menangis merenungi pencapaian rival Anda berada di atas, tinggi sekali. Anda akan sangat malu dalam balutan iri dan pilu. Hanya satu yang pasti akan Anda peroleh dari kelambatan: kesunyian. Kesunyian yang mencipta ruang, bukan kesepian yang mengembar-ngembarkan uang.

Mudah-mudahan, Anda tidak tergesa-gesa kala membaca gerutuan ini. []

15 February 2014

Guru

18 comments :
Seorang ibu muda, mungkin masih sepantaran dengan saya, masuk ke dalam angkot. Diikuti dua ibu yang lebih senior. Ketiganya mengenakan baju batik yang seragam, rok biru dongker, sepatu pantofel. Begitu angkot melaju lagi, usai sejenak menghela napas, mereka mengobrol dengan nada berapi-api sewajarnya ibu-ibu yang ngerumpi. 

“Murid sekarang bandel-bandel,” ujar ibu paling senior. 

“Ih, bener… bener,” dengan binaran mata, ibu muda mengiya, “masak ditanya kalimat sempurna aja gak tahu. Mereka kan kelas lima, harusnya udah paham lah. Apa coba jawaban mereka? ‘Oh, yang SPOK-SPOK itu, kan, Bu?’ ‘Iya, apa itu S-P-O-K?’ Eh, mereka pada diem padahal tadinya ribut. Saya langsung keluar kelas aja. Abisan kesel!” 

Oh, mereka pasti guru SD, terlebih barusan mereka naik dari seberang gerbang SD. 

“Iya tuh, harusnya guru kelas empat yang ngajarin bener-bener,” ibu senior menyebut nama guru laki-laki, yang katanya guru kelas empat itu. “Jadinya sekarang kita kan yang repot. Mesti ngajarin pelajaran kelas sebelumnya. Payah deh!” 

“Iya, heran ih, murid-murid sekarang tuh menang di cerewetnya doang. Ngelawan mulu, jadi komentator mulu! Giliran ditanya pelajaran, bengong,” ibu muda menambahkan keluhan. 

Jika hati saya punya mulut tambahan di dalamnya, mungkin sudah mendamprat, “Kalian yang gak becus mengajar!” 

*** 

Rabu sore itu, saya duduk berendengan sama bapak di angkot, di bangku paling pojok dekat jendela. Kami pulang dari RS, sehabis kontrol rutin bulanan beliau. Seperti biasa perempatan itu macet. Seyogianya, jam segitu kami sudah sampai, ini masih sekitar enam kilometer lagi baru kami bisa duduk di meja makan. 

Sesudah perempatan, ada tiga ibu-ibu naik. Dan ketiganya langsung menggosipkan kelakuan anak didiknya hari itu. Cuma ada keluhan, tidak sedikit pun tersirat rasa bangga terhadap anak didiknya. Ini aneh, sebab menurut saya mereka ibarat induk kucing yang frustasi akibat gagal menyusui anaknya, kemudian dengan kesal induk kucing itu mengunyah anak mungilnya itu, dan si mungil kembali ke dalam perut sang induk. Kanibal. 

Mereka masih terus ngerumpi, namun kurang lebih seperti itu saja esensi obrolan mereka, berputar-putar, yang bermuara pada satu simpulan: murid sekarang bandel dan bodoh dan pecicilan. Terus terang saya malu mendengarnya; ternyata guru zaman sekarang kerjaannya menyalahkan murid, bukannya mengajarkan murid. 

Saat itu saya menoleh pada bapak, dan mendapati perasaan yang sama di balik kacamatanya. Beliau tampak ingin nimbrung dengan mereka, atau bahkan menasihati mereka, namun apa daya, bapak tidak mampu berbicara dengan lancar. Andai beliau masih sehat dan masih mengajar, seperti dulu… 

Bapak pensiunan guru zaman dulu, guru jebolan SPG (Sekolah Pendidikan Guru―sudah lama sekali dibubarkan pemerintah). Konon gaji pertamanya adalah 1500 rupiah, selanjutnya naik sedikit-sedikit, namun tetaplah sedikit. Pada orde baru, gaji guru sangat dikebiri, persis seperti lagu Oemar Bakrie. Beliau baru lulus D2 (tanggung banget ya) pada 1999. Jabatan terakhir adalah kepala sekolah SD, sebelum dipurnatugaskan pada 2007. 

Saya mengenal dengan baik sosok bapak. Dulu, ia cukup keras dan tegas dalam mendidik anak, sampai sekarang pun emosinya kadangkala meluap tanpa mampu dibendung. Namun menurut kakak saya yang sempat digurui olehnya, bapak adalah sosok menyenangkan ketika di sekolah. Bapak sering mengajar dengan perumpamaan, gambar-gambar, dan bercerita di hadapan murid-muridnya―istilah sekarang mungkin: story telling, bukan sekadar metode textbook seperti guru zaman sekarang yang setiap hari job desc-nya: “Anak-anak, kerjakan soal nomor sekian halaman sekian di LKS yang kemarin kalian beli dari ibu. Yang belum beli, silakan keluar kelas. Atau pulang, dan minta uang sama orangtua buat beli LKS.” 

Sampai sekarang masih ada saja satu-dua (mantan) muridnya yang menyambangi rumah, untuk sekadar bersilaturahmi. Di antara murid-muridnya ada yang sudah bercucu, bahkan cucunya pun sudah menikah dan punya anak lagi. Sering pula bila kebetulan kami sekeluarga ke rumah makan atau ke tempat publik lain, ketemu dan disapa oleh beberapa murid lamanya. Murid lama itu terkesan begitu menghormati bapak, bahkan lebih dari kadar hormat kami anak-anaknya. 

Setiba di rumah, saya bertanya kepadanya. Apa beliau tidak menyesal pernah jadi guru? Dan beliau pun menulis di whiteboard kecil dengan spidol. Ada air mata yang menggenang di balik kacamatanya. Beberapa menit kemudian, saya membacanya, dan dada saya menyesak. Jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, bunyi tulisan itu kira-kira: Bapak agak menyesal jadi guru, sebab gak bisa menguliahkan lima anak, cuma anak pertama yang dikuliahkan, itu pun dulu mesti ngutang sama koperasi dan BPD. Untung Cepy dapet beasiswa. Kalo enggak, hmm, bapak tambah sedih, dan nyesel banget. 

Seandainya bapak mulai jadi guru bukan pada orde baru, tapi pada masa kini di mana gaji guru lebih gede dari pegawai pabrik namun dengan beban kerja yang cenderung ringan, mungkin… saya bakal jadi anak yang jauh lebih manja. []

12 February 2014

Kandang Merpati

9 comments :
Mungkin seekor merpati pun berevolusi jadi burung pipit alay bila dikandangin di sana. 

Pertengahan 2010, saya diterima kerja di pabrik kertas. Belum lulus, tapi saya dinyatakan lolos bersama belasan temen lain. Jarang ada perusahaan berani nampung siswa bau kencur ingusan sebanyak itu. Maka ibu-ibu Hubungan Industri (hubin) pun semringah, sampai-sampai rela mengantar kami dengan bus tiga perempat. Pak kepsek―yang tumben-tumbenan mengantar siswa―duduk di jok belakang sopir. Bibirnya penuh senyuman. Mungkin bersyukur banget bakal kami tinggalkan. Lain dengan ibu kantin, “Oh, jadi gituh? Kalian tega, yah sama ibu,” lirihnya sambil menggoreng pempek dengan air mata haru. “Tapi utang kalian masih utuh loh.” 

Sabtu siang itu, kami cuma dikasihtahu tentang aturan-aturan pabrik dari Bu manajer personalia. Baru hari Senin, saya dan temen-temen mulai bekerja. Alhasil malam Minggu, malam Senin, kami mesti menginap. Bu hubin nego sama Bu manajer, biar kami disediakan tempat menginap sementara. Sejenak Bu manajer tertegun. Kemudian berunding sebentar sama anak buahnya di balik pintu. Gak lama, pintu kaca terkuak lagi. Bu manajer sama anak buahnya senyum-senyum mesum. 

“Oke. Nanti kami sediakan semacam mess.” 

Saya lega mendengarnya. Ruangan meeting itu riuh oleh bisikan dan kasak-kusuk kami. Bu Manajer tersenyum penuh kemenangan. Sekilas tampangnya mirip Uli Arta tanpa adegan membelalakan mata dan zoom in-zoom out kamera. 

*** 

Sesudah zuhur, Bu hubin sama Pak kepsek pulang ke Cimahi. Di depan gang, kami berbaris melepas kepulangan mereka. Seperti adegan anak-anak bebek yang ditinggal induk ayam. Induk ayam senang sekali, anak bebek disembelih berjamaah dibikin rica-rica. 

Kami digiring masuk ke gang oleh dua anak buah Bu manajer. Seketika saya curiga, apa iya ada mess yang terletak di pelosok gang sempit macam ini. Saya melewati air―hmm, entah warna apa saya harus menyebutnya―menggenangi saluran got, enggak ngalir. Ibu-ibu yang sedang menyuapi bocah-bocah bersinglet menatap kami yang sedang berjalan kebingungan ini. 

“Cep, kita dibawa ke mana ini?” Arif, temen saya mulai gelisah, “masak lingkungan mess kok lebih kumuh dari kampung gue?” 

Saya juga gelisah banget. Kalo gak malu, mungkin saya udah kencing di depan got tadi. “Gak tau, Rif. Kita mau dijual apa ya? Padahal lemak gue kan gak enak.” 

Arif gak nyahut lagi. Tapi gelisahnya masih, mukanya makin pucat. Temen-temen lain juga ribut-ribut secara bisik-bisik supaya gak kedengeran sama dua anak buah Bu manajer di depan. Tapi saya yakin dua orang itu bukan followers Haji Bolot. 

Kami berhenti di depan rumah yang agak gede dibanding sekitarnya. Iya, rumah lain itu bentuknya petak, mungkin ini tiga petak lah. Anak buah manajer itu ngomong-ngomong sama yang punya rumah. Kemudian dia mempersilakan kami masuk. 

“Selamat istirahat ya, adik-adik. Ditunggu Senin pagi jam setengah delapan,” senyumnya manis banget, dengan latar belakang rumah yang asem. Kemudian undur diri sama yang punya rumah, setelah berbasa-basi lantaran bakal kami repoti. 

Semenit dua menit kami masih mematung di luar, baru masuk ragu-ragu setelah dipersilakan empunya rumah. Tanpa plafon, cukup dengan menengadah saya bisa menatap genteng-genteng yang ompong, ditopangi kaso-kaso lapuk. Lantai semen dengan rekahan di mana-mana. Dua buyung merah kusam berisi air, warna airnya mirip mentega cair. Gunungan cucian kusut di tengah ruangan dan di dalam kamar yang cuma ada satu. Bau-bau aneh menguar binal, semoga itu bukan jenazah teroris yang mati kebanyakan nyeruput air kuning di dalam buyung. Keringat saya mengucur di balik kemeja putih panjang, katanya kipas angin kecil di pojok itu rusak. Saya curiga, saya bukan diterima di pabrik kertas, tapi oleh rumah produksi Jika Aku Menjadi. 

“Buset. Beginian mess? Ini sih kandang merpati!” umpat Pio sembari mengempaskan travel bag. Temen lain cuma mengembuskan napas keras-keras. 

Pantesan Bu hubin sama Pak kepsek disuruh pulang duluan. Kalo ngeliat rumah yang kata Bu manajer mess itu wujudnya begini, mungkin mereka urung buru-buru pulang, dan nyuruh kami mencari kontrakan sendiri aja. 

Siang itu, kami bingung mau ngapain. TV rusak, kipas angin rusak―padahal rumah itu kayak oven, kayaknya gak ada barang yang waras di rumah itu selain satu galon air isi ulang tanpa dispenser―iya, dispensernya juga rusak―dan sehampar lantai semen dengan tikar seadanya. 

Pio beli dua kartu remi dan tiga bungkus rokok dari uang patungan, lalu kami bermain dari siang sampai tengah malam, meluruhkan waktu dan kecewa. Usai main tiga kali, saya milih rebahan aja sama Arif, pengin sekejap nenangin diri dari lelah perjalanan dan shock. Sementara segelintir temen lain masih aja merutuki rumah ini. Bahkan ada temen yang pulang lagi ke Bandung buat bawa motor dan kembali lagi Senin dua hari kemudian, tentu saja ke kontrakan yang dia cari sendiri. 

Saat kebelet pipis, saya nyelonong ke jamban yang ada dua buyung itu, terpaksa mengenyahkan keluh-kesah tentang seisi rumah dari mulut temen-temen. Lantas cebok sama air mentega itu. Iseng-iseng saya hirup: dan ternyata… ini sih bau septic tank! Jangan-jangan sumurnya dirancang bersirkulasi sama bank tinja, sangkaan saya jelek banget waktu itu. Tungkai saya terkulai lemas, namun terpaksa ngambil air wudu buat salat asar. 

*** 

Waktu seakan lambat banget. Ya, saya tahu, saya masih terlalu manja buat ikutan acara Jika Aku Menjadi. Magrib, beberapa temen saya masuk bersampir handuk sambil menenteng peralatan mandi. Wajahnya agak seger. Katanya habis mandi di jamban mess. Di sana airnya bersih dan berlimpah. Loh, jadi ada mess beneran? Ternyata memang ada, lokasinya gak jauh dari rumah itu. Aneh banget, kok perusahaan gak menampung kita di mess, kalo memang ada, toh dua hari doang. Bahkan setelah saya tahu, ‘kandang merpati’ itu disewa dua juta selama tujuh hari oleh perusahaan. Menurut saya lumayan mahal tuh, apa lagi dengan kondisi ajaib yang saya keluhkan di atas.

Tahu gitu, mending gak usah sok ramah dengan nawarin kita tempat tinggal sementara lah, toh kita pun udah gede, bisa mencari kos-kosan masing-masing. Yah, mau gak mau kandang merpati itu terpaksa saya huni, semalem doang. Minggu sorenya saya dan tiga temen nyari kosan buat berempat yang jaraknya lumayan jauh dari pabrik. Tapi gak masalah selama lingkungannya nyaman, soalnya saya kerja dan hidup di sana gak cuma satu-dua hari, kan? Tapi sekarang saya masih kepikiran sama air kuning beraroma tinja, yang sempat saya telan saat kumur-kumur wudu. []