15 February 2014

Guru

18 comments :
Seorang ibu muda, mungkin masih sepantaran dengan saya, masuk ke dalam angkot. Diikuti dua ibu yang lebih senior. Ketiganya mengenakan baju batik yang seragam, rok biru dongker, sepatu pantofel. Begitu angkot melaju lagi, usai sejenak menghela napas, mereka mengobrol dengan nada berapi-api sewajarnya ibu-ibu yang ngerumpi. 

“Murid sekarang bandel-bandel,” ujar ibu paling senior. 

“Ih, bener… bener,” dengan binaran mata, ibu muda mengiya, “masak ditanya kalimat sempurna aja gak tahu. Mereka kan kelas lima, harusnya udah paham lah. Apa coba jawaban mereka? ‘Oh, yang SPOK-SPOK itu, kan, Bu?’ ‘Iya, apa itu S-P-O-K?’ Eh, mereka pada diem padahal tadinya ribut. Saya langsung keluar kelas aja. Abisan kesel!” 

Oh, mereka pasti guru SD, terlebih barusan mereka naik dari seberang gerbang SD. 

“Iya tuh, harusnya guru kelas empat yang ngajarin bener-bener,” ibu senior menyebut nama guru laki-laki, yang katanya guru kelas empat itu. “Jadinya sekarang kita kan yang repot. Mesti ngajarin pelajaran kelas sebelumnya. Payah deh!” 

“Iya, heran ih, murid-murid sekarang tuh menang di cerewetnya doang. Ngelawan mulu, jadi komentator mulu! Giliran ditanya pelajaran, bengong,” ibu muda menambahkan keluhan. 

Jika hati saya punya mulut tambahan di dalamnya, mungkin sudah mendamprat, “Kalian yang gak becus mengajar!” 

*** 

Rabu sore itu, saya duduk berendengan sama bapak di angkot, di bangku paling pojok dekat jendela. Kami pulang dari RS, sehabis kontrol rutin bulanan beliau. Seperti biasa perempatan itu macet. Seyogianya, jam segitu kami sudah sampai, ini masih sekitar enam kilometer lagi baru kami bisa duduk di meja makan. 

Sesudah perempatan, ada tiga ibu-ibu naik. Dan ketiganya langsung menggosipkan kelakuan anak didiknya hari itu. Cuma ada keluhan, tidak sedikit pun tersirat rasa bangga terhadap anak didiknya. Ini aneh, sebab menurut saya mereka ibarat induk kucing yang frustasi akibat gagal menyusui anaknya, kemudian dengan kesal induk kucing itu mengunyah anak mungilnya itu, dan si mungil kembali ke dalam perut sang induk. Kanibal. 

Mereka masih terus ngerumpi, namun kurang lebih seperti itu saja esensi obrolan mereka, berputar-putar, yang bermuara pada satu simpulan: murid sekarang bandel dan bodoh dan pecicilan. Terus terang saya malu mendengarnya; ternyata guru zaman sekarang kerjaannya menyalahkan murid, bukannya mengajarkan murid. 

Saat itu saya menoleh pada bapak, dan mendapati perasaan yang sama di balik kacamatanya. Beliau tampak ingin nimbrung dengan mereka, atau bahkan menasihati mereka, namun apa daya, bapak tidak mampu berbicara dengan lancar. Andai beliau masih sehat dan masih mengajar, seperti dulu… 

Bapak pensiunan guru zaman dulu, guru jebolan SPG (Sekolah Pendidikan Guru―sudah lama sekali dibubarkan pemerintah). Konon gaji pertamanya adalah 1500 rupiah, selanjutnya naik sedikit-sedikit, namun tetaplah sedikit. Pada orde baru, gaji guru sangat dikebiri, persis seperti lagu Oemar Bakrie. Beliau baru lulus D2 (tanggung banget ya) pada 1999. Jabatan terakhir adalah kepala sekolah SD, sebelum dipurnatugaskan pada 2007. 

Saya mengenal dengan baik sosok bapak. Dulu, ia cukup keras dan tegas dalam mendidik anak, sampai sekarang pun emosinya kadangkala meluap tanpa mampu dibendung. Namun menurut kakak saya yang sempat digurui olehnya, bapak adalah sosok menyenangkan ketika di sekolah. Bapak sering mengajar dengan perumpamaan, gambar-gambar, dan bercerita di hadapan murid-muridnya―istilah sekarang mungkin: story telling, bukan sekadar metode textbook seperti guru zaman sekarang yang setiap hari job desc-nya: “Anak-anak, kerjakan soal nomor sekian halaman sekian di LKS yang kemarin kalian beli dari ibu. Yang belum beli, silakan keluar kelas. Atau pulang, dan minta uang sama orangtua buat beli LKS.” 

Sampai sekarang masih ada saja satu-dua (mantan) muridnya yang menyambangi rumah, untuk sekadar bersilaturahmi. Di antara murid-muridnya ada yang sudah bercucu, bahkan cucunya pun sudah menikah dan punya anak lagi. Sering pula bila kebetulan kami sekeluarga ke rumah makan atau ke tempat publik lain, ketemu dan disapa oleh beberapa murid lamanya. Murid lama itu terkesan begitu menghormati bapak, bahkan lebih dari kadar hormat kami anak-anaknya. 

Setiba di rumah, saya bertanya kepadanya. Apa beliau tidak menyesal pernah jadi guru? Dan beliau pun menulis di whiteboard kecil dengan spidol. Ada air mata yang menggenang di balik kacamatanya. Beberapa menit kemudian, saya membacanya, dan dada saya menyesak. Jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, bunyi tulisan itu kira-kira: Bapak agak menyesal jadi guru, sebab gak bisa menguliahkan lima anak, cuma anak pertama yang dikuliahkan, itu pun dulu mesti ngutang sama koperasi dan BPD. Untung Cepy dapet beasiswa. Kalo enggak, hmm, bapak tambah sedih, dan nyesel banget. 

Seandainya bapak mulai jadi guru bukan pada orde baru, tapi pada masa kini di mana gaji guru lebih gede dari pegawai pabrik namun dengan beban kerja yang cenderung ringan, mungkin… saya bakal jadi anak yang jauh lebih manja. []

18 comments :

  1. sebuah kata yang mungkin tak bisa kita balas jasanya.

    ReplyDelete
  2. guru ya? disisi lain mereka yang "mendidik" kita namun sekarang ? Ada juga guru yang santai banget dalam hal mengajar -,-

    ReplyDelete
    Replies
    1. mudah-mudahan guru sekarang lebih rajin dan peka terhadap potensi muridnya ya :)

      Delete
  3. memang zaman telah berubah. Di satu sisi siswa-siswa sekarang sudah berubah (bandel, ini itu dll) di sisi lain seharusnya guru lebih bisa unutk menanganinya dengan metode baru pula.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah, saya setuju sekali. metode pun harus diperbaharui, mungkin cara yang sekarang dirasa diknas paling mutakhir, padahal bisa jadi cara jadul malah ampuh dengan budaya kita.

      Delete
  4. pasti menyenangkan kalo guru mata pelajaran ky Bapaknya Cepy
    duh jd inget kepsek aku yg baik hati :">
    smg sehat selalu buat Bapak nya dan buat anaknya yg 'sehat' banget XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. guru kelas lima sd aku meninggal beberapa bulan lalu. untung pas 2012 sempet ketemu hiks :'>
      aamiin, makasih yak

      Delete
  5. Jaman dulu aku pinter banget tuh bab bab SPOK. haha.. Ya gak salah gurunya juga loh cep. Anak jaman sekarang memang bandel bandel. Soalnya dia berkuasa. Kalau jaman dulu khan muridnya nurut. Anak jaman sekarang dihukum dikit udah ngelapor ke ortunya. Dulu jamanku kalau aku dimarahi guru, ya ortu malah mendukung gurunya, bukan aku hahaha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ciyeee guru kesayangan b. indo nih ye :D
      hmm, bener sih. emang ya anak sekarang tuh agak-agak lebih "berani" dibanding saya di masa kecil yang apa aja nurut. mungkin efek nontonin sinetron yang belom semestinya yang bahasanya kasar-kasar. coboy junior. mainannya gadget sama game online mulu. tapi, siapa itu yang ngasih akses semua itu (TV, gadget, internet)? orangtua :|

      Delete
  6. apa karena sudah beda Zaman ya ?

    ReplyDelete
  7. pertanyaannya...

    apakah mereka menjadi guru karena cita-cita mereka... ataukah karena terpaksa, ataukah karena hal lain

    seorang guru yang baik bisa terlihat dari cara mereka mengajar :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah, saya sepertanyaan sama kang chandra :)

      Delete
  8. Seharusnya guru juga memahami kalau zaman sekarang itu anak sekolah banya cobaannya. Katanya sih jadi guru itu harus banyak sabarnya, kalau enggak ya disebut guru killer..

    ReplyDelete
    Replies
    1. sabar dan cobaan. kayak gampang, tapi susah (pake banget) ya :|

      Delete