12 February 2014

Kandang Merpati

9 comments :
Mungkin seekor merpati pun berevolusi jadi burung pipit alay bila dikandangin di sana. 

Pertengahan 2010, saya diterima kerja di pabrik kertas. Belum lulus, tapi saya dinyatakan lolos bersama belasan temen lain. Jarang ada perusahaan berani nampung siswa bau kencur ingusan sebanyak itu. Maka ibu-ibu Hubungan Industri (hubin) pun semringah, sampai-sampai rela mengantar kami dengan bus tiga perempat. Pak kepsek―yang tumben-tumbenan mengantar siswa―duduk di jok belakang sopir. Bibirnya penuh senyuman. Mungkin bersyukur banget bakal kami tinggalkan. Lain dengan ibu kantin, “Oh, jadi gituh? Kalian tega, yah sama ibu,” lirihnya sambil menggoreng pempek dengan air mata haru. “Tapi utang kalian masih utuh loh.” 

Sabtu siang itu, kami cuma dikasihtahu tentang aturan-aturan pabrik dari Bu manajer personalia. Baru hari Senin, saya dan temen-temen mulai bekerja. Alhasil malam Minggu, malam Senin, kami mesti menginap. Bu hubin nego sama Bu manajer, biar kami disediakan tempat menginap sementara. Sejenak Bu manajer tertegun. Kemudian berunding sebentar sama anak buahnya di balik pintu. Gak lama, pintu kaca terkuak lagi. Bu manajer sama anak buahnya senyum-senyum mesum. 

“Oke. Nanti kami sediakan semacam mess.” 

Saya lega mendengarnya. Ruangan meeting itu riuh oleh bisikan dan kasak-kusuk kami. Bu Manajer tersenyum penuh kemenangan. Sekilas tampangnya mirip Uli Arta tanpa adegan membelalakan mata dan zoom in-zoom out kamera. 

*** 

Sesudah zuhur, Bu hubin sama Pak kepsek pulang ke Cimahi. Di depan gang, kami berbaris melepas kepulangan mereka. Seperti adegan anak-anak bebek yang ditinggal induk ayam. Induk ayam senang sekali, anak bebek disembelih berjamaah dibikin rica-rica. 

Kami digiring masuk ke gang oleh dua anak buah Bu manajer. Seketika saya curiga, apa iya ada mess yang terletak di pelosok gang sempit macam ini. Saya melewati air―hmm, entah warna apa saya harus menyebutnya―menggenangi saluran got, enggak ngalir. Ibu-ibu yang sedang menyuapi bocah-bocah bersinglet menatap kami yang sedang berjalan kebingungan ini. 

“Cep, kita dibawa ke mana ini?” Arif, temen saya mulai gelisah, “masak lingkungan mess kok lebih kumuh dari kampung gue?” 

Saya juga gelisah banget. Kalo gak malu, mungkin saya udah kencing di depan got tadi. “Gak tau, Rif. Kita mau dijual apa ya? Padahal lemak gue kan gak enak.” 

Arif gak nyahut lagi. Tapi gelisahnya masih, mukanya makin pucat. Temen-temen lain juga ribut-ribut secara bisik-bisik supaya gak kedengeran sama dua anak buah Bu manajer di depan. Tapi saya yakin dua orang itu bukan followers Haji Bolot. 

Kami berhenti di depan rumah yang agak gede dibanding sekitarnya. Iya, rumah lain itu bentuknya petak, mungkin ini tiga petak lah. Anak buah manajer itu ngomong-ngomong sama yang punya rumah. Kemudian dia mempersilakan kami masuk. 

“Selamat istirahat ya, adik-adik. Ditunggu Senin pagi jam setengah delapan,” senyumnya manis banget, dengan latar belakang rumah yang asem. Kemudian undur diri sama yang punya rumah, setelah berbasa-basi lantaran bakal kami repoti. 

Semenit dua menit kami masih mematung di luar, baru masuk ragu-ragu setelah dipersilakan empunya rumah. Tanpa plafon, cukup dengan menengadah saya bisa menatap genteng-genteng yang ompong, ditopangi kaso-kaso lapuk. Lantai semen dengan rekahan di mana-mana. Dua buyung merah kusam berisi air, warna airnya mirip mentega cair. Gunungan cucian kusut di tengah ruangan dan di dalam kamar yang cuma ada satu. Bau-bau aneh menguar binal, semoga itu bukan jenazah teroris yang mati kebanyakan nyeruput air kuning di dalam buyung. Keringat saya mengucur di balik kemeja putih panjang, katanya kipas angin kecil di pojok itu rusak. Saya curiga, saya bukan diterima di pabrik kertas, tapi oleh rumah produksi Jika Aku Menjadi. 

“Buset. Beginian mess? Ini sih kandang merpati!” umpat Pio sembari mengempaskan travel bag. Temen lain cuma mengembuskan napas keras-keras. 

Pantesan Bu hubin sama Pak kepsek disuruh pulang duluan. Kalo ngeliat rumah yang kata Bu manajer mess itu wujudnya begini, mungkin mereka urung buru-buru pulang, dan nyuruh kami mencari kontrakan sendiri aja. 

Siang itu, kami bingung mau ngapain. TV rusak, kipas angin rusak―padahal rumah itu kayak oven, kayaknya gak ada barang yang waras di rumah itu selain satu galon air isi ulang tanpa dispenser―iya, dispensernya juga rusak―dan sehampar lantai semen dengan tikar seadanya. 

Pio beli dua kartu remi dan tiga bungkus rokok dari uang patungan, lalu kami bermain dari siang sampai tengah malam, meluruhkan waktu dan kecewa. Usai main tiga kali, saya milih rebahan aja sama Arif, pengin sekejap nenangin diri dari lelah perjalanan dan shock. Sementara segelintir temen lain masih aja merutuki rumah ini. Bahkan ada temen yang pulang lagi ke Bandung buat bawa motor dan kembali lagi Senin dua hari kemudian, tentu saja ke kontrakan yang dia cari sendiri. 

Saat kebelet pipis, saya nyelonong ke jamban yang ada dua buyung itu, terpaksa mengenyahkan keluh-kesah tentang seisi rumah dari mulut temen-temen. Lantas cebok sama air mentega itu. Iseng-iseng saya hirup: dan ternyata… ini sih bau septic tank! Jangan-jangan sumurnya dirancang bersirkulasi sama bank tinja, sangkaan saya jelek banget waktu itu. Tungkai saya terkulai lemas, namun terpaksa ngambil air wudu buat salat asar. 

*** 

Waktu seakan lambat banget. Ya, saya tahu, saya masih terlalu manja buat ikutan acara Jika Aku Menjadi. Magrib, beberapa temen saya masuk bersampir handuk sambil menenteng peralatan mandi. Wajahnya agak seger. Katanya habis mandi di jamban mess. Di sana airnya bersih dan berlimpah. Loh, jadi ada mess beneran? Ternyata memang ada, lokasinya gak jauh dari rumah itu. Aneh banget, kok perusahaan gak menampung kita di mess, kalo memang ada, toh dua hari doang. Bahkan setelah saya tahu, ‘kandang merpati’ itu disewa dua juta selama tujuh hari oleh perusahaan. Menurut saya lumayan mahal tuh, apa lagi dengan kondisi ajaib yang saya keluhkan di atas.

Tahu gitu, mending gak usah sok ramah dengan nawarin kita tempat tinggal sementara lah, toh kita pun udah gede, bisa mencari kos-kosan masing-masing. Yah, mau gak mau kandang merpati itu terpaksa saya huni, semalem doang. Minggu sorenya saya dan tiga temen nyari kosan buat berempat yang jaraknya lumayan jauh dari pabrik. Tapi gak masalah selama lingkungannya nyaman, soalnya saya kerja dan hidup di sana gak cuma satu-dua hari, kan? Tapi sekarang saya masih kepikiran sama air kuning beraroma tinja, yang sempat saya telan saat kumur-kumur wudu. []

9 comments :

  1. Miris banget bacanya Cep. Tapi gimanapun juga selamat ya! Semoga membawa kebaikan kerjaannya! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya rasa pengalaman itu berharga banget, makanya saya curahkan di blog :')

      Delete
  2. Jaman dulu belum musim hape kamera ya, kalau difotoin tempat tempatnya kayaknya lebih asyik..

    ReplyDelete
    Replies
    1. boro-boro poto-poto, kak, yang ada pengen cepet pindah hehehe -__-

      Delete
  3. kandang japati,
    aku pikir kandang munding ~~~\o/

    ReplyDelete
  4. kebayang andai jd kamu Saat itu Cepy

    ReplyDelete