31 March 2014

Kembali Ke Nol

11 comments :

Suatu sore yang damai sehabis hujan ini, saya yang sedang sendirian di rumah tiba-tiba kepikiran satu hal yang sebenarnya gak penting-penting amat. Iya, saya emang suka kepikiran sesuatu dengan sangat mudah, apa lagi kalo mikirin kamuh... uuuhh.

Kemudian saya iseng skimming beberapa postingan blog tahun 2012 yang tak saya sangka, enak banget dibaca. Membacanya, kadang saya tertawa, jijik, muntah-muntah, hingga termenung. Betapa waktu berlalu cepet banget, sama cepatnya seperti tren musik pagi-pagi yang kini mengemuka lagi band-band pure, tanpa harus berawalan girl atau boy yang tak saya ingat satu pun segenap personilnya itu.

Saya bahkan lupa gimana caranya bisa ngeblog sesantai, sebebas, dan sejujur waktu itu. 

Saya sadar mulai awal 2013 sampai kemarin, saya keranjingan buat lebih banyak mengeluh di blog dengan intensitas yang super gawat, di mana keluh-kesah itu menyamar sebagai jalinan kalimat bersayap yang memuakkan sekaligus membingungkan, demi melamurkan kejujuran. Energi negatif berserakan menyesaki blog tersayang yang tentu saja teman-teman maupun pengunjung yang nyasar ke sini terpaksa membacanya.

Oretan gambar di atas saya bikin pada dini hari beberapa hari yang lalu, ketika siangnya mandeg melakukan apa-apa: belajar, membaca buku, berolahraga, mencuci, bersosialisasi. Makan jadi pengecualian ya. Betapa hampa malam itu, selain karena tak ada orang yang bisa dicurhati (huhuhu), ada beberapa hal yang menggelisahkan pikiran saya untuk berbuat sekecil apa pun, seperti buncahan otak frustasi yang meledak dari kawah kepala orang dalam gambar, sementara mata dan mulutnya ditutup rapat-rapat.

Saya kurang bersyukur.

Sedikit-sedikit ngeluh. Sedikit-sedikit ngeluh. Mengeluh itu racun yang membuat hari kita selalu kelam, gak ada seneng-senengnya. Kalau begini terus, bisa-bisa SBY kalah galau sama saya. Gak sopan dong andai saya ngalahin yang lebih tua.

Semangat! Semoga kata itu menjadi kartu as (padahal saya gak ngerti remi) dalam masa muda saya ke depan. Kebun harapan selayaknya ditanami bibit semangat, supaya nanti tinggal kita tuai sejumput nikmat.

Saatnya kembali ke nol. Betapapun, angka nol bukan berarti kosong. Nol beroleh ruang-ruang hampa lapak kita berekspresi, kita bebas mengisinya dengan apa saja yang kita ingini, dengan sadar dan sabar. []

Oh, ya, ngomong-ngomong, akhir-akhir ini mata saya agak buram dan berbayang. Saya khawatir header blog yang baru saya bikin asal-asalan kemarin menjadi kenyataan :(

29 March 2014

Rahasia

No comments :

Saking gandrungnya orang-orang sama rahasia, sampai-sampai password friendster mereka itu terdiri atas tujuh karakter: rahasia.

Suatu saat saya bengong, dan kepingin tahu apa yang dikerjakan teman-teman selain yang saya lihat oleh mata saya sendiri dan apa yang saya baca di socmed. Lantaran tingginya keingintahuan saya, saya pun nanya dong. Tapi jawabannya malah bikin saya makin bengong, "Kepo deh."

Saya khawatir andai mereka mengujar jawaban sama tatkala ditanya malaikat di alam kubur: Siapa tuhanmu, Siapa nabimu? Siapa saudaramu? Kemudian malaikat berang mendengar jawaban singkat yang genit itu dan menyeret manusia tersebut ke suatu tempat yang membara.

"He, mau dibawa ke mana saya?" Orang itu berteriak menahan pedih berkat hantaman gada berselimut api.

"Mau tahu aja. Kepo deh."

Dunia dan akhirat itu sama-sama bikin penasaran.

Tukang gorengan juga. Memang kita tahu air untuk mencuci kol, wortel, tahu, pisang itu air dari mana? Dan saya pernah lihat sendiri plastik minyak gorengnya dimasukin juga ke wajan, ikut meleleh sama minyak panas itu. Ya, kita makan gorengan dengan bonus plastik. Terima kasih, alhasil saya tahu rahasia bikin gorengan yang renyah.

Rahasia sukses dalam waktu singkat. Rahasia public speaking demi meningkatkan kemampuan persuasif. Rahasia menggaet downline secara efektif. . Begitulah rayuan-rayuan penuh rahasia dari pegiat MLM dalam broadcast message.

Ketika dicurhati teman atau kerabat yang kebanyakan isinya adalah membincangkan kejelekan-kejelekan temannya sendiri, di akhir ia membisik, "Jangan bilang siapa-siapa ya broh. Cukup kita berdua." Besoknya saya bercerita sama temennya. Sorenya saya menonton mereka berantem. Seusai berantem dengan tiada timbul pemenang dan pecundang, cuma mata bengkak dan gigi ompong yang menang, mereka pun tertatih-tatih menghampiri saya, "Jangan bilang siapa-siapa kalo kita berantem. Nanti kita traktir bakso."

Yang mau dicoblos 9 April nanti juga punya banyak banget rahasia. Potret wajah-wajah dengan senyum ramah berselubung rahasia. Dari mana muasal dana bikin spanduk, baliho, kaus, iklan di televisi,  konser dangdut dan orasi di stadion bola, adakan yang tahu? Biarlah, mungkin itu rahasia Ilahi, tak pantas kita mempertanyakan sekritis Budiman Sudjatmiko sebelum reformasi, karena sekarang pas dia udah jadi orang parlemen, ternyata sosoknya toh malah lebih misterius ketimbang tokoh yang dia cerca dahulu, dulu sekali.

Dalam bidang asmara, cewek itu suka sama cowok yang misterius. Misterius itu berarti punya rahasia yang belum tergali khalayak. Cewek itu pemuja tipe-tipe Mister Gepeng gitu. Kenapa ya, padahal kalau udah jadian, yang ada cowok yang keteteran menghadapi betapa misteriusnya cewek yang sedang cemberut. Ditanya apa aja, jawabnya. "Gapapa." Ditanya mau apa, jawabnya, "Gapapa!" Ditanya kok gapapa tapi cemberut melulu, dia jawab, "Pikir aja sendiri. Kita putus."

Mungkin, rahasia itu ada untuk rahasia sendiri. Mau tahu sebabnya? Kepo deh. Rahasia dong. []

gambar: atas kebaikan http://www.wpclipart.com/cartoon/assorted/xtra_cartoons/telling_a_secret.png

18 March 2014

Pindah Rumah Beneran

8 comments :
Jika dua tahun lalu saya sok-sokan "berpindah rumah" ala abege labil, namun nasib begini-begini saja ternyata, uhuk, awal Maret ini saya pindah rumah beneran. Tentu masih menumpang. Sejak September 2011 saya nebeng makan dan tidur di rumah teteh, sampai penghujung Februari kemarin, namun saat ini saya kembali bertengger di ketiak Mamah. 

Bagai mimpi, sepulang kuliah pada sembilan atau sepuluh malam, saya mendengar dengkur Apa (mulai sekarang, izinkan saya selanjutnya mencantumkan nama panggilan asli untuk ayah saya) dan kadang-kadang Mamah masih bangun menonton televisi dengan terkantuk-kantuk. Paginya, saya diseret dari kasur. Bila tak kunjung bangun bahkan lelap lagi, saya diomeli Mamah hingga saya ngesot-ngesot ke kamar mandi. Semua itu telah lama sekali sudah tak saya alami, bersyukur telinga ini masih bisa diciprati omelan Mamah.

Selepas menyetrika wajah, saya berjalan kaki membelikan sarapan―kalau kebetulan kawan nasi tandas semalam―buat kami bertiga. Kemudian mencabuti rumput di taman kecil, menyimbah motor, berbenah di rumah, apa saja yang bisa dibenahi. Biasanya waktu bergulir cepat sekali, sehabis asar saya berangkat kuliah. Demikian sampai malam ini. 

Namun tentu saja segalanya masih aneh. Saya seolah berperan sebagai tamu di rumah Mamah. Seperti menginap di rumah orang. Masih sungkan sama tetangga, sekadar mesem-mesem kala kebetulan berpapasan―tetangga baru kami kebanyakan pekerja muda yang sibuk. Jika tidak dipaksakan, malas sekali untuk berkegiatan, sampai-sampai sepeda pun belum sempat diboyong ke sini. Belum menemukan nasi goreng pinggir jalan dan ketoprak yang enak seperti di dekat rumah teteh. Untungnya masakan Mamah selalu enak.

Saya pun baru bisa mengetik malam ini, usai sepuluh hari bermukim di sini. Semalam saya berusaha membaca buku, tetapi dua menit kemudian saya dibangunkan oleh beker hape. Ternyata sudah setengah lima subuh. Minat baca dan tulis masih kerontang, atau mungkin tertinggal di rumah lama, bersama senarai inspirasi? Dan jangan tanya ihwal minat belajar cement chemistry atau teknik separasi atau perancangan pabrik kimia ya, hahaha. 

Selalu ada cerita tentang pindah. Mengepak barang-pakaian-perabot yang masih layak pakai, membuang pernik yang sebangsa jasad renik. Mengharap tempat baru beserta segenapnya lebih bersahabat, namun ternyata yang baru biasa saja; lebih segala-galanya namun rupanya satu-dua masalah timbul segalau-galaunya. Beberapa kali benak saya mengingat-ingat benda yang belum sempat dipindah. Apa pun, yang penting jangan sampai ada yang tertinggal di rumah lama.

Ehm, saya kepingin sih punya rumah yang gak beneran itu. Siapa mau ngasih? []

07 March 2014

Tersiksa Hilang

10 comments :
Saya mengetik postingan ini pada Jumat dini hari, dengan geletar jemari dan mata yang hangat. Sepanjang hari kemarin, sungguh―kali ini saya tidak hendak berlebay-lebay―saya seolah terjebak di dalam labirin dengan berjuta solusi, sementara saya sama sekali kepayahan untuk sekadar memutuskan kanan atau kiri.

Sangat amat sepele, sebenarnya. Kamis pagi, tumben, saya dapat bangun lebih pagi. Pukul lima limabelas. Salat subuh dengan tergesa-gesa, kemudian leyeh-leyeh lagi di kasur. Setelah mengudap tiga potong risoles, pukul setengah tujuh, saya menggowes sepeda, empat puluh menit lamanya. Rasa malas menang telak, biasanya saya bersepeda selama satu jam.

Pukul delapan, rumah sudah kosong. Tinggal saya sendirian. Saya menonton TV, bersantai, minum kopi, sarapan nasi goreng. Ketika kaki tengah selonjoran di sofa, hape saya berbunyi. Kakak saya menelepon. Ia ingin saya segera berangkat ke rumah orangtua untuk beres-beres perabot dan tetek bengeknya. Mulai hari itu orangtua saya resmi punya rumah tinggal di Bogor. Tapi saya masih ingin bersantai; kemudian berdalih belum mandi dan belum menjemur cucian yang hari Rabu saya cuci dan keringkan. Ia (mungkin) percaya saja.

Pukul sebelas saya baru mandi. Lima menit saja. Setelah itu berjingkat-jingkat menyeduh kopi. TV masih memendar-mendar. Kini aroma kopi sudah merebak. Saya meraih hape. Menelepon kakak saya. Ternyata ia sedang terburu-buru; hendak kontrol bulanan ke poliklinik, katanya. Saya sontak menuangkan kopi yang masih panas ke tupperware. Dan bergegas berangkat.

Dan saat itulah penyiksaan bermula; siksa kehilangan.

Di atas speaker Simbadda, di situlah saya biasa menggeletakkan kunci motor, bersebelahan dengan kunci rumah-pagar. Namun kala itu bukan saat yang biasa. Cuma ada kunci rumah-pagar, tidak ada kunci motor di sana. Saya tidak terkejut sedemikian rupa karena saya memang pelupa. Santai saja mencari-cari di tempat lain yang saya rasa masuk akal: di kompor, atas mesin cuci, jemuran di loteng, sampai ke kamar mandi. Nihil. Saya mengecek kolong tempat tidur. Kolong sofa. Semua-muanya tak luput saya telisik. Namun tetap tiada. Perasaan saya mulai meresah. Rupanya kadar lupa hari itu jauh lebih pekat, baru saya sadari.

Saya putuskan untuk mengendarai motor kakak―yang untungnya, mereka bertiga menggunakan mobil. Sepanjang perjalanan, tentu saja kegundahan menggelayuti pokok-pokok lupa. Alangkah sebal dengan penyakit saya yang akut ini, jauh lebih akut daripada gejala asam lambung sekalipun. Dalam hati saya menyadari telah sering teledor manakala menaruh sesuatu. Tapi, ah, itu terlalu dini. Saya masih perlu konfirmasi sama kakak saya, sebab selain saya yang menghuni, tentunya, ada ia, suami, dan dua putrinya.

Setiba di rumah orangtua yang kondisinya masih acak-acakan, saya mendapati kakak saya sudah pergi belanja perabot yang belum sempat dibeli. Ah, gagal menginterogasi mereka, padahal hati ini sudah bergolak penasaran. Apa boleh buat, saya di situ saja, merapikan sebagian buku ke rak yang baru sebagian saya boyong dari rumah kakak ke sini. Kemudian makan. Kemudian memasang gantungan baju dengan susah payah. Kemudian menguras Unilever Pure it. Kemudian bengong menatap televisi yang masih di dalam kardus; rak dan antenanya belum ada.

Saya pulang pukul tiga, sebab harus siap-siap kuliah. Tentu, saya pulang ke rumah kakak lagi. Saya masih penasaran ingin mengudak-udak, mengobrak-abrik kamar saya, yang ditengarai sebagai goa bersembunyi kunci motor itu. Hasilnya? Ya, Anda benar.

Pada saat kehilangan, barulah saya sadar akan pentingnya sesuatu. Seandainya ada mesin waktu.

*** 

Hujan. Deras sekali. Kilat berkilatan menerangi tembok, dua kata memantik kalut saya: mati listrik. Biasanya kampus mati listrik bila hujannya sebadai ini. Syukurlah, sebab dengan begitu, takkan ada kuliah hari ini. Ada dua subjek pada hari kamis. Saya mengecek Whatsapp. Ternyata benar. Di kampus mati listrik. Teman-teman mengusulkan supaya libur saja. Ketua kelas sepakat. Namun nyatanya dosen subjek pertama kukuh ingin mengajar. Saya ingin sekali berteriak kepadanya, berilah kesempatan pada saya supaya menemukan kunci yang hilang, Pak! Tapi saya tidak punya nomor teleponnya. Andai punya pun, mustahil saya segahar, sebernyali begitu.

Berangkatlah saya ke kampus. Hujan deras masih. Saya pakai motor kakak lagi. Mau bagaimana lagi. Dingin sekali. Mendidih hati saya. Pikiran tidak ke mana-mana, tidak ikut ke kampus, cuma fokus ke atas speaker. Kunci, adakah kau sedang berusaha meluruhkan dosa-dosa saya? Jika ya, saya mesti berterimakasih padamu. Namun, tolonglah, saya ingin ketemu empat mata. Saya kangen.

Masih saja hujan. Jalan raya antara Sentul dan Citeureup, saya rasa lebih cocok untuk perahu. Batu-batu besar berserakan. Lubang sebesar kubangan kerbau menjelma genangan. Motor matic milik kakak meringkik kepayahan. Dan. Sekonyong-konyong laju motor memberat, pantat saya bergetar. Ban belakang bocor. Tak hingga topan badai! Astagfirullah…

Saya mendorong seratus meter, dan bernapas lega kala menatap plang tambal ban. Abang tambal ban membongkarnya. Katanya, ban dalam sobek. Sudah saya duga; itu jawaban retoris yang menandakan saya harus membeli ban dalam baru. Saya mengintip dompet. Oh, betapa, cuma ada selembar I Gusti Ngurah Rai di dalamnya. Harga ban dalam Swallow 45ribu. Setelah penggantian ban selesai, saya berangkat lagi, mampir dahulu di ATM. Saya khawatir kali lain ban depannya yang bocor. Atau bahkan van beltnya. Saya ogah lagi-lagi ditiban kesialan yang sejatinya berhulu dari satu hal: hilang. Remeh sekali.

Di kampus, saya ditanyai mengapa ban saya bisa bocor. Motor saya memakai ban tubeless, motor matic kakak saya ban biasa. Saya bosan menjawab tanya mereka. Sehingga terlontar jawaban yang tersistem secara default: “Gue pake matic,” dengan sedikit penekanan. Mereka diam.

Kuliah katanya sampai sepuluh kurang seperempat. Oh, pikiran saya masih saja teringat kunci. Kunci. Kunci. Seperti commercial break yang berkali-kali tayang. Saya yang biasa mengantuk di kelas, Kamis malam itu sama sekali tidak. Bukan karena subjek kuliah yang dibawakan dosen sebegitu memikat hasrat. Tapi karena, kunci.

Saya pulang sendirian\, bingung hendak ke rumah orangtua atau ke rumah kakak. Saya putuskan pulang ke rumah kakak, sebab motornya pasti hendak dipakai kerja esok paginya (Jumat). Alangkah kecewanya saya ketika mendapati rumah kakak yang gelap gulita, serupa kondisi yang saya tinggalkan sebelum kuliah. Tiada mobil yang terparkir di carport. Saya benar-benar ingin menangis.

Dengan lunglai, saya membuka gembok pagar, digenapi lelah seharian. Saya masuk ke kamar mandi. Menyantap nasi goreng pinggir jalan. Menyalakan TV. Namun, tetap saja benda mungil itu berkelebatan.

Mau tak mau, demi mengentaskan kepenasaran seharian, saya obrak-abrik lagi kamar. Dapur. Kursi. Namun tetap saja tiada. Lagi, saya melakukan lagi beberapa kali perbuatan yang sudah saya pikir sia-sia itu. Dan ternyata memang sia-sia.

Saya menenangkan diri sejenak, dan langsung menelepon kakak saya. Ternyata yang menerima telepon malah Mamah. Beliau bilang kakak saya belum pulang sebab harus tiba-tiba mengurusi pompa air yang rusak. Waduh! Anda bisa menghitung bertubi-tubi ketaksempurnaan sepanjang Kamis kemarin?

Kata Mamah, kakak saya pulang subuh nanti. Beliau ingin saya ke sana pagi-pagi. Tanpa sadar, air mata saya meleleh. Saya bicara padanya, kunci yang saya cari sejak pagi belum ketemu-ketemu juga. Ia tiba-tiba nampak gelisah, kedengaran dari ubah nada suaranya. Ia menyuruh saya supaya saya mencarinya lagi, sampai ketemu. Ia takut kunci saya diambil orang lain yang tak dikenal. Ia mengancam. Saya ingin membanting hape, namun akhirnya saya menutup panggilan.

Saya mencarinya lagi. Di kasur. Di bawah seprai. Dengan bantuan aplikasi senter dari hape seadanya. Hati saya mendidih lagi. Saya menyalakan lampu teras depan dan keluar. Ingin menghirup udara bebas, biarlah diembus jahat angin malam pun. Pukul setengah dua belas.

Saya merenung di teras. Sepi. Tidak ada orang. Tapi gejolak kehilangan lebih angker daripada mitos malam Jumat. Saya mengelus-elus bodi motor saya. Dalam hati saya menangis, lalu menoleh ke motor kakak saya. Kemudian saya iseng merogoh lubang bagasi mini yang terletak di bawah setang. Saya meraba-raba, oh, nampaknya logam. Saya berhasil menggenggamnya. Dan. Oh, bahu saya langsung naik-turun, mata saya pedih. Itu kunci motor saya, ternyata sedari tadi saya bawa pergi ke sana kemari kunci itu. Kunci! Oh!!!!

Masa bodoh siapa yang menaruh kunci itu. Kakak saya atau suaminya putrinya yang kecil yang masih dua tahun itu? Atau bahkan saya sendiri, ya, saya sendirilah yang semestinya saya salahkan! Tiada selintas pikir, saya langsung mengambil air wudu. Kemudian salat Isya sambil sesenggukan, sendirian, di malam Jumat. Setelah itu, langsung mengetik postingan ini. Berharap siksa kehilangan takkan menghinggap lagi dalam keseharian saya. Kehilangan benda sekecil kunci sekalipun seemikian gundah gulana risau galau, bagaimana jadinya bila saya kehilangan kelurga, kehilangan teman? Ah, saya sayang kalian semua, teman-teman.

Ngomong-ngomong, saya lahir pada hari Kamis. []

03 March 2014

Tujuh Lagu Tentang Pulang

6 comments :
Benarkah kita begitu merindukan pulang? Saya bertanya seperti itu sebab menemukan tujuh lagu yang punya unsur kata "pulang". Subjek yang pulang bisa siapa saja: kita sendiri yang pulang, atau menunggu kepulangan orang lain yang disayang―dan yang pernah disayang. Ya, termasuk kepulangan mantan ke pangkuan kita. Sebentar, izinkan saya berdeham―kemudian bermuntah kenangan.

Mungkin, manusia―diwakili oleh penggubah lagu―menyadari bahwa ia diciptakan Allah SWT untuk pulang kemudian berpulang ke hadiratNya, sehingga stok lagu tentang pulang lumayan melimpah. Supaya kita ingat. Tidak lupa diri. Ugh, lagi-lagi sok filosofis. Sebentar ya, saya gundukkan dulu lagu-lagu tentang pulang dari kanal YouTube. Oke, selesai. Berikut!

1. Firasat - Marcell


...
cepat pulang
cepat kembali jangan pergi lagi
...

Eh, emang Kak Marcell bisex gitu? *mendadak gosip*

2. Kamu Harus Pulang - Slank


...
kamu harus cepat pulang
jangan terlambat sampai di rumah
kamu harus cepat pulang
...

3. Yogyakarta - Kla Project


Ah, meski suka dianggap "berselera tua", lagu legendaris ini selalu menimbulkan sensasi berbeda setiap saya dengarkan. Membuat saya ingin... ingin pulang, ditemani harapan.

pulang ke kotamu
ada setangkup haru dalam rindu
masih seperti dulu
...

4. Semalam di Malaysia - D'lloyd


aku pulang
dari rantau
bertahun-tahun di negeri orang
oh...

Setelah menyebut Malaysia, mari kita mengambil air wudu.

5. Gelang Sipaku Gelang - Lagu daerah Sumatera Barat

gelang sipaku gelang
gelang sirama-rama
mari pulang, marilah pulang
marilah pulang, bersama-sama
...

Mendengarkan lagu Gelang Sipaku Gelang, saya bersyukur dulu pernah jadi anak kecil yang bahagia sekalipun tanpa godaan bidadari dari surga Coboy Junior. Eh, si Bastian keluar ya?

6. Hati yang Luka - Betharia Sonata



Lagu tentang pulang paling galau, sejauh ini. Menurut saya Someone Like You juga kalah, sebab video klip Hati yang Luka ini sadis dan menyayat hati euy hehehe.

...
pulangkan saja
aku pada ibuku
atau ayahku
dulu
...

7. Bang Toyib - dipopulerkan oleh... ah, oleh entah siapa penyanyi aslinya, yang pasti lagu ini sudah jadi lagu kebangsaan ibu-ibu korban PHP.



Oh, maaf tadi saya keliru. Saya ralat, lagu tentang pulang paling galau adalah: Bang Toyib. Tiga kali puasa dan tiga kali lebaran, Sang Abang tak pulang-pulang. Kasihan, mungkin cangkang ketupat yang susah payah dibikin Nyonya Toyib tiga tahun yang lalu sudah jadi pohon kelapa lagi. Gamis lebaran Nyonya Toyib sudah tidak baru lagi, atau jangan-jangan dia sekarang gak pake baju? Bang Toyib, kapan pulang? Jangan-jangan kau sudah berpulang? Tidak! Nyonya Toyib, sebelum pingsan, ehem, pake dulu bajunya ya, baju baru tiga tahun lalu juga masih bagus kok. Daripada...

...
tiga kali puasa
tiga kali lebaran
abang tak pulang-pulang
sepucuk surat tak datang
...

Buat istrinya Bang Toyib, mudah-mudahan sepucuk twit #nomention dari @BangToyibAsli kunjung menghampiri. Cek DM! []