30 April 2014

Surat Untuk M

11 comments :
Dear M, 

Ini bukan surat cinta. Sekadar pacakan rindu saya padamu, yang, entahlah, saya lupa kapan pertama kali mengenalmu. Namun, sebentar, saya ingat-ingat dahulu. Dengan sokongan gelegak rindu yang saya tak tahu bagaimana rupa-upayanya, barangkali kenangan masa-masa lalu terpantik lagi malam ini, manakala saya diperkenalkan huruf sebelum bersekolah oleh Mamah yang tabah (ngomong-ngomong, Mamah pun berunsur dua huruf M). Dan kata berunsur huruf M pertama yang saya dengar dan eja dan ucap adalah Mama dan Mimi. 

Langkahmu terus mengikuti saya yang meremaja saat ini. Saya terkagum dengan huruf M. Kau sewujud karcis terusan segala rupa barang dan makanan dan hal yang saya sukai. Meja. Makan. Molor. Musik. Mangga. Melon. Mentari. Mata bola pingpong. Majalah. Mi Aceh. Martabak. Mekah. Malam. Maut. Yang terakhir, tak terlalu saya sukai, jujur. 

Oh, ada juga M yang paling tak saya suka. Matematika. Tapi, saya sadar selalu ada hal yang harus saya benci di antara ribuan partikel yang saya suka selama saya masih hidup. Biarlah, barangkali M yang tak saya suka suatu saat menyukai saya. 

Versi lain dari rupamu, M, sering saya saksikan di persimpangan jalan arteri, ataupun di dalam mal tengah kota. Berlatar merah, kau kontras dengan warna kuning. Di dalamnya, ada patung badut bergincu merah. Ya, gerai makanan cepat saji, tempat yang sering pula dipakai tempat pacaran padahal saya rasa lebih cocok untuk tempat makan sendirian sebab kursi keras itu dirancang supaya kita makan tergesa-gesa. Bukan begitu, M? 

Era surat sudah tak relevan lagi di zaman yang serba cepat, memang. Namun, saya hanya ingin menulis surat ini padamu untuk kemudian diudarakan internet, supaya kau bisa membaca tulisan saya yang paling jelek, sehingga saya takkan pernah mengenal sombong. 

Yang mengejutkan, kau adalah huruf ke 13 di antara 26 huruf. Angka keramat. Angka sial. Dan sialnya, saya menyukaimu, M. Sudahlah, bagaimanapun jika angka 3 diputar 900 ke arah kiri sehingga berdempetan dengan 1, itu sudah cukup untuk membuat guratan huruf M. Setidaknya, huruf M kecil. 

Orang lain mungkin tak tahu cum tak acuh akan rahasiamu dan angka 13. Biarlah, biar kita yang tahu dan merasakan keajaiban segenapnya menjelujuri kita lamat-lamat.

Usut punya usut, makin lama saya mengenalmu—huruf M, sepertinya bentukmu lambat-laun berubah. Ujung kanan bawahmu bertautan dengan ujung kiri bawahmu, melancip simetris tepat di tengah. Jika boleh saya daulat, bentukmu sekarang, seperti bentuk hati. Bentuk hati yang cantik.[] 

P.S. Andai kamu sedang sibuk sehingga tak sempat membaca surat untukmu, cukup eja saja huruf pertama tiap-tiap paragraf. Perlahan, dalam hati.

20 April 2014

Politisasi Kampus: Soeharto dan Jomblo

12 comments :
Sabtu sore di bulan Februari, saya jalan berburu sepatu di sebuah mal. Sendirian. Buat saya sih biasa. Sedari remaja, saya sudah dibiasakan untuk mencari barang-barang pribadi sendirian, tanpa mesti dibarengin orangtua atau teman atau bodyguard merangkap debt collector. Bukan karena jomblo (tak salah juga sih), melainkan karena sudah biasa, begitulah. Sebagaimana saya terbiasa makan dengan tangan kanan, namun sesekali makan dengan tangan kiri, misalnya makan kerupuk, pun tak masalah. 

Ah, sayangnya, tidak ada sepatu yang menurut saya cocok, baik dari segi model (kebanyakan mirip setrikaan), dan yang paling penting, adalah harga. Wah, Nike Air memang menggiurkan. Tapi, pikir-pikir dulu deh jika label harganya mengatakan: 0,85 juta. Demikianlah, saya memutuskan untuk pulang saja walaupun baru setengah jam saya jalan. 

Saya turun melalui eskalator, hendak ke basement. Tinggal dua meter lagi saya sampai lantai finis eskalator, saya melihat teman perempuan sekampus, sekelas. Ia terkejut saat saya sapa dia. Setelah itu, saya yang terkejut kala ia sontak menukas,

"Sendirian? Ih, ngapain sendirian ke mal? Apa asyiknya?"

Dengan dingin saya jawab: mencari sepatu, namun urung, sehingga memutuskan untuk pulang. Ia meledek saya lagi. Tak lama kemudian, datang lagi perempuan. Adik kelas saya. Ia bahkan lebih terkejut daripada teman sekelas saya,

"Lho, kok sendirian?"

"Iya, hehehe." Ini adalah tawa getir.

"Kasian. Udah, ikut kita aja atuh. Biar rame. Biar gak kerasa jomblonya. Ini kan Sabtu sore," dia ngikik.

Wah? Ada yang salahkah dengan jomblo? Saya bingung. Ketimbang disangka tidak ramah menyambut ia, saya menampik tawarannya dengan sepenggal basa-basi, "Lain kali aja. Takut hujan ah." Kemudian berlalu dari keduanya.

Saat berjalan kaki menuju pelataran basement, yah, saya sedikit resah: betapa hinakah status jomblo itu? Saya becermin di spion, dan tersenyum tipis ketika melihat Ben Joshua di dalamnya. Ben Joshua yang rutin makan di All You Can It lima kali sehari, selama tiga tahun. 

*** 

Di era 2.0 ini, saya bosan mendengar kata jomblo. Biang kerok yang seyogianya bertanggungjawab adalah dunia maya. Saya curiga, barangkali dunia maya memang diciptakan begitu rupa sebagai kandang paling aman namun sebetulnya fana bagi jomblo untuk berani berkoar-koar apa saja, termasuk perasaan, padahal di dunia nyata kaum macam itu sudah terkapar dipapar takdir dan getir.

Sudah banyak selebtwit yang mendadak tenar sebagai penulis profesional (maksudnya, yang mencari duit dengan menulis) gara-gara jomblo. Banyak pula jomblo yang berpura-pura sibuk padahal sekadar bersibuk mengkhayal didatangi pacar dalam mimpinya saat tidur siang di musala. Itu saya. 

Memang, jomblo semakin populer manakala tren standup comedy mengemuka, di televisi. Topik jomblo adalah favorit mereka, para komika. Terutama yang berwajah (maaf) pas-pasan, namun dikaruniai Tuhan alur logika yang ajaib. Komedi timbul dari sebuah kegelisahan. Tentu, yang paling mudah adalah mengail kegelisahan dari diri sendiri. Dari kedua premis itu, berarti, mayoritas komika yang selain berstatus sebagai mahasiswa, juga berstatus?

Jomblo.

Sebelum mereka terkenal. Kemudian pacaran. Tak lama, putus. Kala patah hati pasca putus inilah yang dimanfaatkan sebagai ajang emas mereka menelurkan setup-setup lagi. Premis-premis lagi. Punchline. Tentang jomblo. Yah, mungkin mereka terlahir untuk mengabdi kepada berhala bernama jomblo. 

Tetapi, memangnya perlu terus-menerus meratapi nasib jomblo, padahal banyak sekali baju kotor yang semestinya dicuci, rumput yang harus dicabuti, dan dan hati yang wajib disirami fluida rohani? Kalau seperti komika sih keren, dengan mengeksplorasi topik jomblo, mereka merengkuh banyak uang plus dua-tiga gebetan terlampaui. Lah, kalau seperti saya yang iseng doang? 

Sudahlah, menyoal jomblo, saya pilih untuk menganut dogma: lebih baik sendiri tapi hati damai bisa berjalan leluasa melihat dan memilah sepatu, daripada maksa-maksain berdua tapi bertengkar melulu. Tak usahlah maksa-maksain berdua. Sebab jomblo itu keren; kayak meme truk gandeng sama lamborghini itu lho. Iya, saya sopir truknya. 

*** 

Akan tetapi, jomblo sudah menjadi komoditas politik. Dan sialnya saya telah terjebak di dalamnya.

Acap kali saya merenung sendirian malam-malam sepulang kuliah. Sudah hampir tiga tahun menjadi mahasiswa, namun saya merasa gagal sebagai mahasiswa. Dulu saya menganggap mahasiswa itu keren, bicaranya tentang masa depan negara ini, dengan intonasi berapi-api. Mahasiswa jadul galau dengan kondisi negaranya yang nampak sejahtera padahal itu sekadar pura-pura dibantu Amerika.

Adapun kerisauan mahasiswa sekarang, nyatanya, kami cuma gusar akan: tugas apa yang deadline-nya jatuh pada minggu ini, soal apa saja yang bakal keluar di UTS nanti, dengan apa kami makan hari ini. Bagi mahasiswa non jomblo: dengan siapa kami menonton di XXI malam minggu ini, di kafe mana kami bisa candle-light dinner dengan romantis. 


Semasih SD, saya pernah dengan bangga melingkarkan ikat kepala (warnanya, saya lupa; kalau tak salah, kuning. Atau merah?) bertuliskan Reformasi yang tergeletak di meja belajar kakak sulung saya, yang juga di sana menumpuk buku-buku biografi Bung Karno, Hitler, Muhammad Iqbal, komik Tintin, dan beberapa buku politik yang sampulnya tak menarik, padahal kakak saya mahasiswa MIPA yang tak jarang IP-nya cumlaude—jauh beda sama saya yang ber-IP menyedihkan dan lebih gandrung membaca buku ringan. 

Sekarang, atmosfer kampus sudah terlalu aman, terlampau nyaman. Pemerintah pun terkesan.

Beberapa hari kemarin, di twitter dan facebook (lagi-lagi dunia maya) hangat diperbincangkan ihwal pemboikotan kuliah umum Jokowi di kampus ITB. Kampus yang telah melahirkan banyak orang hebat Indonesia seperti Soekarno, kemudian... ah sudahlah, tak usah sebut alumni hebat ITB, almamater mereka sudah terlampau harum untuk kita elu-elukan. Setelah membaca kabar tersebut dan membaca tulisan lain dari dosen ITB (ini, ini dan ini), saya cuma menggeleng-gelengkan kepala, sambil menggumam, “Ternyata anak ITB gak secerdas dan sekritis yang gue anggap, dulu.” 

Sebagai mahasiswa institut terbaik di nusantara, saya rasa logika mereka jauh lebih "bersih" dari saya yang mahasiswa entah-berantah. Terlalu penurut. Post hoc, ergo propter hoc. Otak mereka seolah sukses dinetralisasi oleh rutinitas akademik, kegiatan kemahasiswaan (eh, seharusnya, kegiatan ini yang mengasah logika kritis, kan?), kegiatan bisnis online, dan yah, doktrin jomblo mungkin. 

Pada orde baru, mahasiswa diterungku di dalam kampus, hanya dibolehkan mengerjakan apa yang wajib mereka lakukan: belajar dengan patuh dan tak usah belajar politik. Tapi di era 2.0, kampus malah mewujud tempurung, dan mahasiswa sendirilah yang memperuncing tujuan orde masa lalu: belajar dengan patuh, lulus tepat waktu, bekerja di perusahaan asing sungguh-sungguh. Saya sadar itu.

Tapi, sudahlah, saya sendiri pun tergolong mahasiswa. Saya turut berempati denganmu, Kawan, sama-sama berpikiran dangkal. Mereka takut dipolitisasi Jokowi, padahal menilik perannya sebagai agen intelektual yang tumbuh dalam ranah akademis yang memelihara diskusi dan debat sebagai napasnya, mahasiswa berpeluang untuk mempolitisasi Jokowi dan capres-capres lainnya, sehingga masyarakat pun tahu siapa capres yang agak waras berkat debat-debat kampus.

Saya rasa, ini adalah efek social media. Ada masalah sepele, nyinyir. Di socmed, perkara sepele bisa meluber sampai tayang di berita televisi sebagai trending topic. Melihat gambar yang berunsur mata satu, Jaja Miharja misal, langsung mendaulatnya terlibat konspirasi illuminati. Di socmed, persoalan ejaan aamiin dan amin atau perkara bahan jersey yang haram dipakai wanita muslim menimbulkan ribuan komentar, sementara di dunia nyata kaum Syiah tengah diusir dari beberapa daerah. Masih ingat gerakan Sejuta Facebooker bla-bla-bla-bla? Di era 2.0, kita cenderung gampang terhanyut arus. Padahal kita sama sekali tak tahu, apa saja yang ikut menderas bersama kita? Sepatu bekas? Bangkai tikus? Lele kuning? Farhat Abbas?

Saya golput kemarin, sebab harus nyoblos di kampung halaman, di Bandung. Mau pulang, rasanya tanggung ya. Libur satu hari—terlebih pada hari Rabu, sedangkan esok Kamis mesti masuk—sekadar bisa dikonversi sebagai hari pengganti untuk mengerjakan tugas kuliah. Mahasiswa sekarang—dengan sistem pendidikan yang dilematis—berhasil menjadi anak baik yang hanya berfokus memikirkan cara lulus tepat waktu dan bekerja di offshore milik asing saja. Bukan cara membangun Indonesia mengayomi segenap rakyatnya. Oh, alangkah berat rupanya amanat yang diemban mahasiswa itu.


Program NKK/BKK dahulu kala itu rupanya baru menjumpai titik terang di era 2.0, sehingga kini pemerintah dan Kostrad tak usah repot-repot menculik mahasiswa seperti 16 tahun lalu, cukup menghadiahi mereka pentas kecil dan satu mic untuk standup comedy show, serta terlebih dahulu memilah-milah komika yang sebatas bertema dan berpersona Jomblo.

Musuh kita bukan lagi Soeharto, Kawan. Yang sepatutnya kita ganyang oleh mahasiswa 2.0 adalah: doktrin Jomblo! Rezim Soeharto telah berpulang, kini doktrin Jomblo beringas menyerang.[] 

Intermeso: Di sela kuliah Rabu kemarin, dosen saya keceplosan mengakui ia suka membaca apa saja untuk memperkaya wawasannya, namun tiba-tiba dia meralatnya sendiri dengan tersipu malu, dan tak melanjutkan curhatnya lagi. Kami tertawa mesum, menganggap bahwa alasan ia meralat omongannya barusan adalah suka pula membaca bacaan yang vulgar-vulgar, seperti kami hahaha. Tapi, ternyata bukan. Ia malu oleh karena takut habitnya itu dianggap mahasiswanya sebagai dosen teknik yang tidak punya kerjaan, dan buang-buang waktu dengan membaca novel, sastra, filsafat, politik, dan lain-lain. Okay, di era 2.0, seorang dosen saja apatis. Piye? Iseh penak jamanku to?

12 April 2014

Membaca E

4 comments :

Cara Mas Bajang mengunggah cerpen eksperimennya ke dropbox, kemudian linknya ditautkan ke blog pribadinya, membuat saya bergadang malam ini. Oh, tapi tak perlu terkaget-kaget dengan imaji dan siasat beliau, sebab selain sebagai penyair, ia pun pribadi yang gigih mengelola percetakan indie miliknya di Yogyakarta.

Seperti kita ketahui, gigih adalah kunci pamungkas untuk menguak pintu ke mana saja.

Beberapa saat lalu saya mengonversi cerpen lawas saya ke format pdf, dengan menambahkan ilustrasi yang saya rampok dari internet. Judul pertama adalah Secangkir Espresso Kedai Ong, cerita yang dulu sempat tayang di Femina No. 45, 16-22 November 2013. Yang kedua, Mayat Keseratus. Terdengar menakutkan? Tenang, saya rasa caleg yang gila lantaran nihil suara itu lebih menyeramkan.

Menyoal genre, jujur, saya tak pernah membatasi diri dengan suatu genre tertentu, sastra semata, misalnya. Pada urutan pertama, saya suka komedi. Petualangan anak-anak. Saya juga suka romance. Realis. Surrealis. Metropop. Pop. Teenlit. Bahkan buku resep masakan pun, saya senang membaca, dan mengunyahnya.

Dengan begitu, bisa Anda tebak, tulisan-tulisan saya acak-kadut. Tiada arah dan visi yang jelas nan gagas. Baru sebatas suka saja, alam bawah sadar saya belum sekritis Bung Towel atau Binder Singh. Maka dari itu, mohon masukannya ya, ceman-ceman. Saya percaya kritik bakal sangat berarti buat saya. Kirim saja melalui surel, supaya lebih mesra gitu hehehe.

Bila Anda punya waktu senggang―serta punya rasa belas kasihan, silakan unduh e-cerpen ini:

1. Secangkir Espresso Kedai Ong >> unduh
2. Mayat Keseratus >> unduh

Terima kasih sudah mengunduh kemudian membaca cerita saya. Selamat pagi: pagi yang gerah. Besok harus kuliah.[]

06 April 2014

Cara Membeli Token Listrik PLN Prabayar Melalui ATM Mandiri

14 comments :
Pagi tadi saya dibangunkan bunyi ciak-ciak, dan dalam keadaan setengah mengigau saya langsung menduga itu suara burung, tetapi setelah kesadaran saya agak pulih, taklah mungkin itu kicau burung. Tak ada yang memelihara burung di sini, pohon-pohon di perumahan ini rata-rata masih berusia bayi, sebatas serangga yang bertenggeran di sana. Saya bangkit cuci muka, kemudian kesadaran saya sudah mengutuh serempak dengan sedengus kesal: meteran listrik sudah mencapai nilai kWH kritis. 

Saya baru menjadi pelanggan listrik prabayar selama satu bulan, dan menurut saya cukup merepotkan! Dulu kita cukup sebulan sekali ke ATM buat bayar listrik pascabayar. Kini, saya sudah dua kali―tiga kali dengan sekarang. Lho, kok bisa? Yah, persoalannya adalah, kala itu saya disuruh Mamah cuma ngisi 50 ribu.

"Percobaan dulu lah, Py. Kira-kira 50 ribu bertahan berapa hari."

Tak sampai dua minggu, bunyi ciak-ciak kedengaran lagi. Dan suara yang berkicau secara periodik itu menurut saya beda tipis sama jeritan alarm mobil di parkiran basement yang tersentuh (seulas saja) sama bocah ingusan, bikin greget pengin mecahin kacanya. Sudah saya protes Mamah, supaya beli sekalian 100 ribu, gitu, biar gak bolak-balik Indomaret saban dua minggu atau malah seminggu sekali. Tapi ya gitu deh. Tetep nyuruh beli 50 ribu doang.

Minggu pagi tadi tepat sebulan sejak kali pertama saya mengisi-ulang listrik prabayar.

Mau bagaimana lagi, saya cabut lah ke Indomaret. Terlebih dulu ngambil uang tunai di ATM bersama yang berada di dalam Indomaret. Selesai. Kemudian saya melangkah ke kasir, dengan percaya diri.

"Beli token listrik, Mbak. 100 ribu," iya, mumpung Mamah―yang suka nyuruh beli 50 ribu―gak ada di rumah, mending saya beli sekalian 100 ribu.

Tetapi sayang sekali, ceman-ceman, respon dari si Mbak tak seperti yang saya duga. "Wah, maaf, Pak," iya, saya udah tawakal banget kok suka dipanggil pak, "udah empat harian ini gak bisa nerima pembelian token. Ada gangguan nih."

"Hah, kok?"

"Gak tahu, Pak. Gangguannya dari PLN-nya sih."

Saya sudah berhalusinasi akan mendengar bunyi ciak-ciak dari meteran di rumah sepanjang hari dan otomatis besok listrik mati total.

Tanpa mengucapkan terima kasih, saya mengendarai motor lagi, tak jauh, ke sebelahnya, Alfamart. Mungkin inilah mengapa Alfamart dan Indomaret didesain bersebelahan: supaya kalo barang atau jasa yang tidak ada di Indomaret, kita cukup berpalingmuka ke Alfamart dua meter di sebelahnya. Pun sebaliknya.

Namun ternyata sama saja. Alfamart sama-sama sedang gangguan, dan sama-sama gangguannya bermuasal dari pihak PLN langsung.

Saya memutuskan untuk pulang. Dan ciak-ciak itu setia berceciak. Saya baru dua kali beli token, dan keduanya beli di Indomaret, belum tahu di mana lagi token listrik biasa dijual selain di minimarket. Dan seingat saya, ada orang―saya lupa siapa dia―pernah bilang, dia suka bayar listrik via ATM. Saya pikir, listrik prabayar pun tentunya bisa dibeli di ATM.

Setelah melamun, saya menyandarkan nasib kepada Google, mencari link yang berunsur: Apakah ATM Mandiri bisa melayani penjualan token? Rupanya saya langsung diarahkan ke blog seseorang, bahkan ke website resmi PLN. Di situ dijelaskan tata caranya, dan sebagainya, dan sebagainya. Tanpa menimbang-nimbang lagi saya melesat ke ATM Mandiri yang jaraknya jauh enggak, deket juga enggak.

Sesampai di ATM, saya lanjut memencet perintah demi perintah―tak membaca lagi tata cara di blog itu. Kemudian saya memasukkan nomor ID pelanggan yang 12 digit, tetapi saya cuma memasukkan 11 digit―sesuai yang tertera di kartu―lantas menginput nominal yang saya ingini: 100 ribu. Next! Next! Kok mesin ini malah menyuruh saya memasukkan nomor pelanggan lagi? Saya masukkan lagi yang 11 digit itu. Next, next. Eh, malah disuruh masukin lagi. Aahh, saya geram, segera membatalkan transaksi tersebut―sebab sudah ada tiga orang yang mengantre, tak enak hati.

Di luar ruangan ATM, saya melamun dan bunyi ciak-ciak terus menghantui. Syukurlah saya bawa hape, dan langsung googling perbedaan nomor ID pelanggan dan nomor meter listrik―sebagaimana dua pilihan yang muncul di layar mesin ATM dan tadi saya memilih ID pelanggan. Rupanya, kedua nomor itu memang berlainan. Secara spesifiknya itu tak terlalu penting, namun yang paling nyata dan vulgar adalah, nomor ID pelanggan terdiri dari 12 digit, sedangkan nomor meter listrik terdiri dari 11 digit! Dan yang tertera di kartu―yang saya peroleh dari pemilik rumah yang lama―terdiri atas 11 digit. Berarti, itu nomor...? Ya, nomor meter listrik. Dasar, Cepot, kurang tidur ya.

Betul pemirsah, nomor di atas adalah nomor meter listrik. Bukan nomor ID pelanggan.
Lagi-lagi saya mengantre dan menahan kesabaran untuk segera mempraktikkan. Setiba di hadapan mesin ATM lalu memencet perintah seperti tadi, segera saya pilih nomor meter listrik, bukan nomor ID pelanggan. Saya masukkan 11 digit yang ada di kartu yang pas mengisi kolom yang disediakan, kemudian menginput nominal 100ribu. Dan... berhasil.


Seketika nyanyian ciak-ciak menyebalkan menyirna kendatipun saya belum sampai di rumah untuk menginput nomor token yang banyaknya minta dikresekin itu. Syukurlah.

Terima kasih, Google. Untuk PLN―yang masih belum juga rujuk sama Indomaret dan Alfamart empat hari belakangan ini―tidak terima kasih ah, ngeselin. []