20 April 2014

Politisasi Kampus: Soeharto dan Jomblo

12 comments :
Sabtu sore di bulan Februari, saya jalan berburu sepatu di sebuah mal. Sendirian. Buat saya sih biasa. Sedari remaja, saya sudah dibiasakan untuk mencari barang-barang pribadi sendirian, tanpa mesti dibarengin orangtua atau teman atau bodyguard merangkap debt collector. Bukan karena jomblo (tak salah juga sih), melainkan karena sudah biasa, begitulah. Sebagaimana saya terbiasa makan dengan tangan kanan, namun sesekali makan dengan tangan kiri, misalnya makan kerupuk, pun tak masalah. 

Ah, sayangnya, tidak ada sepatu yang menurut saya cocok, baik dari segi model (kebanyakan mirip setrikaan), dan yang paling penting, adalah harga. Wah, Nike Air memang menggiurkan. Tapi, pikir-pikir dulu deh jika label harganya mengatakan: 0,85 juta. Demikianlah, saya memutuskan untuk pulang saja walaupun baru setengah jam saya jalan. 

Saya turun melalui eskalator, hendak ke basement. Tinggal dua meter lagi saya sampai lantai finis eskalator, saya melihat teman perempuan sekampus, sekelas. Ia terkejut saat saya sapa dia. Setelah itu, saya yang terkejut kala ia sontak menukas,

"Sendirian? Ih, ngapain sendirian ke mal? Apa asyiknya?"

Dengan dingin saya jawab: mencari sepatu, namun urung, sehingga memutuskan untuk pulang. Ia meledek saya lagi. Tak lama kemudian, datang lagi perempuan. Adik kelas saya. Ia bahkan lebih terkejut daripada teman sekelas saya,

"Lho, kok sendirian?"

"Iya, hehehe." Ini adalah tawa getir.

"Kasian. Udah, ikut kita aja atuh. Biar rame. Biar gak kerasa jomblonya. Ini kan Sabtu sore," dia ngikik.

Wah? Ada yang salahkah dengan jomblo? Saya bingung. Ketimbang disangka tidak ramah menyambut ia, saya menampik tawarannya dengan sepenggal basa-basi, "Lain kali aja. Takut hujan ah." Kemudian berlalu dari keduanya.

Saat berjalan kaki menuju pelataran basement, yah, saya sedikit resah: betapa hinakah status jomblo itu? Saya becermin di spion, dan tersenyum tipis ketika melihat Ben Joshua di dalamnya. Ben Joshua yang rutin makan di All You Can It lima kali sehari, selama tiga tahun. 

*** 

Di era 2.0 ini, saya bosan mendengar kata jomblo. Biang kerok yang seyogianya bertanggungjawab adalah dunia maya. Saya curiga, barangkali dunia maya memang diciptakan begitu rupa sebagai kandang paling aman namun sebetulnya fana bagi jomblo untuk berani berkoar-koar apa saja, termasuk perasaan, padahal di dunia nyata kaum macam itu sudah terkapar dipapar takdir dan getir.

Sudah banyak selebtwit yang mendadak tenar sebagai penulis profesional (maksudnya, yang mencari duit dengan menulis) gara-gara jomblo. Banyak pula jomblo yang berpura-pura sibuk padahal sekadar bersibuk mengkhayal didatangi pacar dalam mimpinya saat tidur siang di musala. Itu saya. 

Memang, jomblo semakin populer manakala tren standup comedy mengemuka, di televisi. Topik jomblo adalah favorit mereka, para komika. Terutama yang berwajah (maaf) pas-pasan, namun dikaruniai Tuhan alur logika yang ajaib. Komedi timbul dari sebuah kegelisahan. Tentu, yang paling mudah adalah mengail kegelisahan dari diri sendiri. Dari kedua premis itu, berarti, mayoritas komika yang selain berstatus sebagai mahasiswa, juga berstatus?

Jomblo.

Sebelum mereka terkenal. Kemudian pacaran. Tak lama, putus. Kala patah hati pasca putus inilah yang dimanfaatkan sebagai ajang emas mereka menelurkan setup-setup lagi. Premis-premis lagi. Punchline. Tentang jomblo. Yah, mungkin mereka terlahir untuk mengabdi kepada berhala bernama jomblo. 

Tetapi, memangnya perlu terus-menerus meratapi nasib jomblo, padahal banyak sekali baju kotor yang semestinya dicuci, rumput yang harus dicabuti, dan dan hati yang wajib disirami fluida rohani? Kalau seperti komika sih keren, dengan mengeksplorasi topik jomblo, mereka merengkuh banyak uang plus dua-tiga gebetan terlampaui. Lah, kalau seperti saya yang iseng doang? 

Sudahlah, menyoal jomblo, saya pilih untuk menganut dogma: lebih baik sendiri tapi hati damai bisa berjalan leluasa melihat dan memilah sepatu, daripada maksa-maksain berdua tapi bertengkar melulu. Tak usahlah maksa-maksain berdua. Sebab jomblo itu keren; kayak meme truk gandeng sama lamborghini itu lho. Iya, saya sopir truknya. 

*** 

Akan tetapi, jomblo sudah menjadi komoditas politik. Dan sialnya saya telah terjebak di dalamnya.

Acap kali saya merenung sendirian malam-malam sepulang kuliah. Sudah hampir tiga tahun menjadi mahasiswa, namun saya merasa gagal sebagai mahasiswa. Dulu saya menganggap mahasiswa itu keren, bicaranya tentang masa depan negara ini, dengan intonasi berapi-api. Mahasiswa jadul galau dengan kondisi negaranya yang nampak sejahtera padahal itu sekadar pura-pura dibantu Amerika.

Adapun kerisauan mahasiswa sekarang, nyatanya, kami cuma gusar akan: tugas apa yang deadline-nya jatuh pada minggu ini, soal apa saja yang bakal keluar di UTS nanti, dengan apa kami makan hari ini. Bagi mahasiswa non jomblo: dengan siapa kami menonton di XXI malam minggu ini, di kafe mana kami bisa candle-light dinner dengan romantis. 


Semasih SD, saya pernah dengan bangga melingkarkan ikat kepala (warnanya, saya lupa; kalau tak salah, kuning. Atau merah?) bertuliskan Reformasi yang tergeletak di meja belajar kakak sulung saya, yang juga di sana menumpuk buku-buku biografi Bung Karno, Hitler, Muhammad Iqbal, komik Tintin, dan beberapa buku politik yang sampulnya tak menarik, padahal kakak saya mahasiswa MIPA yang tak jarang IP-nya cumlaude—jauh beda sama saya yang ber-IP menyedihkan dan lebih gandrung membaca buku ringan. 

Sekarang, atmosfer kampus sudah terlalu aman, terlampau nyaman. Pemerintah pun terkesan.

Beberapa hari kemarin, di twitter dan facebook (lagi-lagi dunia maya) hangat diperbincangkan ihwal pemboikotan kuliah umum Jokowi di kampus ITB. Kampus yang telah melahirkan banyak orang hebat Indonesia seperti Soekarno, kemudian... ah sudahlah, tak usah sebut alumni hebat ITB, almamater mereka sudah terlampau harum untuk kita elu-elukan. Setelah membaca kabar tersebut dan membaca tulisan lain dari dosen ITB (ini, ini dan ini), saya cuma menggeleng-gelengkan kepala, sambil menggumam, “Ternyata anak ITB gak secerdas dan sekritis yang gue anggap, dulu.” 

Sebagai mahasiswa institut terbaik di nusantara, saya rasa logika mereka jauh lebih "bersih" dari saya yang mahasiswa entah-berantah. Terlalu penurut. Post hoc, ergo propter hoc. Otak mereka seolah sukses dinetralisasi oleh rutinitas akademik, kegiatan kemahasiswaan (eh, seharusnya, kegiatan ini yang mengasah logika kritis, kan?), kegiatan bisnis online, dan yah, doktrin jomblo mungkin. 

Pada orde baru, mahasiswa diterungku di dalam kampus, hanya dibolehkan mengerjakan apa yang wajib mereka lakukan: belajar dengan patuh dan tak usah belajar politik. Tapi di era 2.0, kampus malah mewujud tempurung, dan mahasiswa sendirilah yang memperuncing tujuan orde masa lalu: belajar dengan patuh, lulus tepat waktu, bekerja di perusahaan asing sungguh-sungguh. Saya sadar itu.

Tapi, sudahlah, saya sendiri pun tergolong mahasiswa. Saya turut berempati denganmu, Kawan, sama-sama berpikiran dangkal. Mereka takut dipolitisasi Jokowi, padahal menilik perannya sebagai agen intelektual yang tumbuh dalam ranah akademis yang memelihara diskusi dan debat sebagai napasnya, mahasiswa berpeluang untuk mempolitisasi Jokowi dan capres-capres lainnya, sehingga masyarakat pun tahu siapa capres yang agak waras berkat debat-debat kampus.

Saya rasa, ini adalah efek social media. Ada masalah sepele, nyinyir. Di socmed, perkara sepele bisa meluber sampai tayang di berita televisi sebagai trending topic. Melihat gambar yang berunsur mata satu, Jaja Miharja misal, langsung mendaulatnya terlibat konspirasi illuminati. Di socmed, persoalan ejaan aamiin dan amin atau perkara bahan jersey yang haram dipakai wanita muslim menimbulkan ribuan komentar, sementara di dunia nyata kaum Syiah tengah diusir dari beberapa daerah. Masih ingat gerakan Sejuta Facebooker bla-bla-bla-bla? Di era 2.0, kita cenderung gampang terhanyut arus. Padahal kita sama sekali tak tahu, apa saja yang ikut menderas bersama kita? Sepatu bekas? Bangkai tikus? Lele kuning? Farhat Abbas?

Saya golput kemarin, sebab harus nyoblos di kampung halaman, di Bandung. Mau pulang, rasanya tanggung ya. Libur satu hari—terlebih pada hari Rabu, sedangkan esok Kamis mesti masuk—sekadar bisa dikonversi sebagai hari pengganti untuk mengerjakan tugas kuliah. Mahasiswa sekarang—dengan sistem pendidikan yang dilematis—berhasil menjadi anak baik yang hanya berfokus memikirkan cara lulus tepat waktu dan bekerja di offshore milik asing saja. Bukan cara membangun Indonesia mengayomi segenap rakyatnya. Oh, alangkah berat rupanya amanat yang diemban mahasiswa itu.


Program NKK/BKK dahulu kala itu rupanya baru menjumpai titik terang di era 2.0, sehingga kini pemerintah dan Kostrad tak usah repot-repot menculik mahasiswa seperti 16 tahun lalu, cukup menghadiahi mereka pentas kecil dan satu mic untuk standup comedy show, serta terlebih dahulu memilah-milah komika yang sebatas bertema dan berpersona Jomblo.

Musuh kita bukan lagi Soeharto, Kawan. Yang sepatutnya kita ganyang oleh mahasiswa 2.0 adalah: doktrin Jomblo! Rezim Soeharto telah berpulang, kini doktrin Jomblo beringas menyerang.[] 

Intermeso: Di sela kuliah Rabu kemarin, dosen saya keceplosan mengakui ia suka membaca apa saja untuk memperkaya wawasannya, namun tiba-tiba dia meralatnya sendiri dengan tersipu malu, dan tak melanjutkan curhatnya lagi. Kami tertawa mesum, menganggap bahwa alasan ia meralat omongannya barusan adalah suka pula membaca bacaan yang vulgar-vulgar, seperti kami hahaha. Tapi, ternyata bukan. Ia malu oleh karena takut habitnya itu dianggap mahasiswanya sebagai dosen teknik yang tidak punya kerjaan, dan buang-buang waktu dengan membaca novel, sastra, filsafat, politik, dan lain-lain. Okay, di era 2.0, seorang dosen saja apatis. Piye? Iseh penak jamanku to?

12 comments :

  1. iseh penak jamane sopo maksud'e?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kritis.. kalo dikasih tugas banyak sama dosen, kalo soal kuis, uts atau uas lebih susah dari yang pernah diajarin

      Delete
  2. Wah, kampusku --Fakultas Filsafat- yg dulu terkenal kritis pun sekarang konon sudah melemah daya kritisnya. Ini saya dengar dari teman-teman yg masih kuliah di sana alias belum lulus....

    Ya gimana ya, mungkin bagi mereka budaya pop jauh lebih menyenangkan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. heh? serius, dit? duh, kalo filsafatnya aja udah gak kritis, pantesaaaann...
      ah, tapi beda zaman, beda masalah dan solusinya. sepertinya memang tak elok ya membandingkan masa kini dengan masa lalu hehehe

      Delete
  3. "Saya becermin di spion, dan tersenyum tipis ketika melihat Ben Joshua di dalamnya. Ben Joshua yang rutin makan di All You Can It lima kali sehari, selama tiga tahun."

    Ben Josh? Oh My...
    mau dong makan di all you can eat bareng ben josh hihihi *wink* #salahfokus

    lebih terhormat jomblo, daripada berpasangan rasa jomblo #ihik

    ReplyDelete
  4. ayo donk mahasiswa tunjukan lagi aksimuu hehe

    ReplyDelete
  5. Wah ini jomblo dan non-jomblo kan tidak perlu didikotomikan. Pada kenyataannya jomblo itu kemerdekaan, sementara non-jomblo itu menyerahkan diri untuk dijajah. Hehehe.

    ReplyDelete