30 June 2014

Puasa Pertama di Bandara

2 comments :
Saya selalu senang ketika menghirup hawa ramadan. Tukang gorengan yang biasanya saya tengok sepulang kuliah jam 11 malam belum habis, sore tadi laris manis. Makanan apa pun tampak enak. Serius. Bahkan lumpur-lumpur yang menggenangi lubang-lubang jalan raya pun seperti Toblerone curah. Tentu saja saya senang, menjelang ramadan, selalu ada orang mengucapkan selamat berpuasa pada saya, “Elu mah enak. Gendut. Lemak banyak. Gak bakalan laper pas puasa. Kalo laper, tinggal goyangin perut aja, beres.” 

Emang celengan. 

Ramadan suka membuat saya senyum-senyum sendiri. Mengingat ramadan yang lalu-lalu. Oh, bukan mengingat sebetulnya, tapi teringat. Secara impulsif, seperti rindu. Kita sama-sama tahu, rindu dan pilu itu kerap datang tanpa mengetuk pintu. Dan baiknya kita suguhi saja tamu kita itu dengan rerupa penganan masa depan yang gilang gemilang, kita harap. Pasti keduanya bakal minder duluan. 

Ramadan 2009. Adalah ramadan pertama saya jauh dari orangtua. Tak terlalu jauh, sekitar 3-4 jam dari kampung halaman. Kala itu saya harus praktek kerja (prakerin) di pabrik softdrink, berdua teman saya. Iklim daerah tempat saya prakerin panas sekali. Setiap harinya saya berbuka puasa dengan aneka softdrink sebagai tajil. Hasilnya, pertengahan ramadan saya batal puasa dua hari. Anyang-anyangan. Dan asam lambung kumat. 

Hari pertama puasa jauh dari orangtua adalah siksa. Saya sempat meneteskan air mata―kemudian lekas saya seka, gengsi―ketika menyantap kolak sebelah kosan yang tak seenak kolak ibu saya yang diolah dengan cinta. Jatuh dua tetes lagi kala mengunyah nasi warteg dengan lauk seadanya ketika sahur. Lima tahun silam itu barulah saya ikhlas mendaulat masakan ibu adalah masakan paling enak sedunia. 

Ramadan 2010. Dengan sedikit pengalaman berpuasa sendirian pada tahun sebelumnya, saya mencoba lebih tegar dan tabah berpuasa lagi di daerah panas. Saya sudah bekerja selama tiga bulan. Dan ternyata berat sekali. Sedang ada proyek pabrik baru yang kejar tayang pada bulan ramadan. Berangkat setengah tujuh pagi, pulang setengah sebelas malam. Kadang dua belas. Namun alhamdulillah puasa saya tamat, meski berat. Hasilnya, berat badan menyusut tujuh kilogram. 

2011, tahun resign, akhirnya saya bisa puasa lagi bersama orangtua. Sahur hari pertama di kosan, kemudian setelahnya saya langsung seret koper ke bus. Menuju Bandung. Ramadan yang monoton, tidak ada pengalaman yang istimewa seperti dua tahun sebelumnya. Kurang gereget. Yang istimewa sekadar lemak-lemak yang dulu luruh di pabrik kembali lagi sehabis lebaran dan mulai kuliah semester satu. 

Demikian pula dengan 2012, 2013,... dan... 

Ramadan 2014? Ada yang berbeda. Saya ditinggal seseorang pulang. M. Sebetulnya semester lalu-lalu pun ia pasti pulang, namun tahun ini rasanya aneh. Aneh banget. Semula saya tak menyangka perasaan saya bakal selebay kemarin, malam ini masih. Dan saya baru ngeh mengapa latar bandara kerap hadir dalam film-film romance luar maupun dalam negeri. Karena, berpisah di bandara itu, rasanya, yah, begitulah. Sakitnya tuh di sini... ketika menatap punggung mungilnya semakin menjauh, menjauh, dan hilang di gate 1C.

Hari puasa pertama kemarin, sepulang mengantarnya ke bandara, pikiran saya penuh olehnya. Mau mengaku kangen, tapi, emm, rasanya gengsi plus tengsin lantaran ia baru pergi beberapa jam saja dan ia toh bakal kembali setelah satu setengah bulan mendatang. Pasti. Pasti kembali... Ah, mengapa saya jadi melankolis begini? Eh, sudah sunatullah deh sepertinya. Mohon maklum, ceman-ceman. 

Selamat liburan. Selamat lebaran. Baik-baik ya, di Kalimantan.[]

20 June 2014

Juni Ajaib

8 comments :
Saya kira selepas UAS saya bisa leha-leha dan puas main-main bertetirah ke tempat yang belum pernah saya jamah sebelumnya, dan sepanjang perjalanan takjub melihat pemandangan rumah-rumah bilik, bukit hijau dan laut biru, bukan rumah-rumah yang mencengkeram langit, sungai berair hijau dan taksi-taksi biru. Nyatanya pemandangan yang saya idamkan itu baru sebatas mewujud dalam angan dan wallpaper laptop.

Seperti biasa, sebagai kelinci percobaan, saya dan teman-teman harus manut terhadap apa yang bos akademik tugaskan kepada kami. Padahal liburan semester 6 ini cenderung singkat dibanding liburan semester genap yang sudah-sudah. Semula liburan kali ini sudah saya rencanakan untuk ber-freelance ke luar kota, ikut perusahaan konsultan kakak saya. Selain dapat honor yang lumayan bagi kocek mahasiswa irit seperti saya, ragam pengalaman pun pastinya akan saya dapat kelak di sana. Tapi... yah, sudahlah. Mungkin lain waktu. Huhu.

Iya. Keburu bulan puasa, sebab kabarnya bulan puasa mendatang perusahaan konsultan itu rihat, tak menerima order dari klien lagi hingga lebaran.

Entahlah apa sebenarnya yang dimaui bos akademik itu. Teknik Kimia, tapi disuruh belajar teknologi beton, listrik, sipil (mekanika dengan dua derajat kebebasan dan sebagainya dan sebagainya), hingga belajar welding. Bukannya tidak berminat untuk belajar hal-hal baru. Tapi sudah semester tua begini, ada rasa khawatir yang tumbuh manakala tidak fokus mengencani bidang yang spesifik, mau jadi apa saya setahun mendatang? Sarjana Teknik Gado-gado? Mending kalau sayurannya segar. Mending kalau kacangnya gurih dan likat. Mending kalau Mpok gado-gadonya itu Farah Quinn.

Tapi, yah, saya sedang berpayah melihat setengah gelas terisi, bukan meratapi setengah gelas kosong. Bersyukurlah, Py! Doakan saya ya, teman-teman.

Oh ya. Ini bukan keluhan. Saya sedang bersyukur dengan bungkus keluhan, sedikit bumbu gerutuan, dan diaduk-aduk bersama kenangan. Ah, sama saja ya?[]

01 June 2014

Unconditional Love: Afeksi Tanpa Limitasi yang (Tak) Basi

14 comments :
Andai memang unconditional love itu ada dan dijual bebas secara eceran dan online dengan harga yang affordable, saya ingin membelinya beberapa untuk persediaan kalau-kalau cinta yang saya miliki kemarin-kemarin sudah usang atau bahkan kedaluarsa tiga hari saja, seperti sari roti.

Unconditional Love jika diterjemahkan bebas, beroleh arti afeksi tanpa limitasi; kasih tak berbatas. Hmm, tanpa batas. Padahal dalam hidup kita dibebat rerupa batas, supaya tidak ada perilaku penduduk yang berlebih-lebihan sehingga menyebabkan kekacauan. Batas itu lebih dipahami dalam Pendidikan Kewarganegaraan sebagai norma. Dan, ah, tak penting kita bahas itu kali ini, nilai PPKn saya jelek.

Satu-satunya unconditional love semata milik Tuhan. Dan sebagian besar orang bilang, cinta tak berbatas-tak berbalas juga datang dari ibu kita. Seperti sungai, konon kasih ibu seolah tiada batas, selalu mengalir deras, yang pada akhirnya bermuara ke surga. Ibu akan menyayangi anak-anaknya sebrengsek apa pun si anak, selama anak itu masih memanggilnya ibu, atau mungkin selama sang anak masih sadar bahwa ia bisa terlahir di sini berkat pengorbanan ibu yang berpayah-payah sembilan bulan dan setelahnya pun.

Tetapi, jika ada frasa 'selama', maka itu pertanda ada prasyarat yang mengakar malu-malu, bukan?

Ibu akan suka apabila bocah kecilnya pandai dan periang yang bisa dipamerkan ke depan sanak-saudaranya. Ibu akan bangga menyaksikan anak remajanya menjadi juara olimpiade sains nasional. Ibu akan terharu menyimak pidato kelulusan yang diutarakan oleh anaknya yang berpredikat cumlaude.

Cinta sejati selalu pamrih dan perih.

Jikapun unconditional love itu sekadar metafor dari cinta yang ruah oleh pengorbanan namun luruh berkat ketulusan, saya ingin mencintai ibu saya, dalam kondisi apa pun. Cinta itu bertambah, terutama pada saat kondisi uang bulanan menipis, dan tiba-tiba saja ibu saya menelepon, "Sabar ya, Py. Nanti siang Mamah transfer. Mamah tambahin deh."

*

Pacaran itu cuma syarat untuk menikah. Dua bulan juga cukup. Ritual utamanya adalah menikah, dan ritual-ritual setelahnya. Jodoh sudah ada yang atur. Demikian ujar F, teman saya yang lama tak pacaran, dan kini lebih menyibukkan diri bermain dan belajar-mengajar bersama anak-anak SD golongan menengah. Semoga ia bukan pedofil, kita berdoa bersama-sama.

R, teman saya yang lain memilih untuk pacaran beberapa tahun belakangan. Tetapi ketika saya curhat kepadanya (meski terdengar menggelikan, percayalah, kadang-kadang curhat antar cowok dengan cowok itu sama saja dengan curhat antar cewek dengan cewek, hanya saja minus air mata) perihal saya tak lagi "sendiri" penghujung April lalu, ia sedikit terkejut. Seraya mengucap selamat, katanya: "Let it flow aja ya. Kita sama-sama tahu lah, cinta yang real itu gak seromantis dan se-happy ending cerita-cerita FTV."

Saya sendiri punya pendapat perihal pacaran. Selama kita suka sama seseorang, jangan terburu-buru. Tunggu sejenak hingga berubah jadi cinta, kemudian berbuah imbuhan di-, barulah kita putuskan untuk me-. Jangan sampai bertepuk sebelah tangan. Sesederhana itu. Seperti tagar #bahagiaitusederhana, kadangkala kesederhanaan itu nampak sederhana, namun terdapat kompleksitas di sana. Sesederhana menanti jawab ia dua tahun lamanya dengan harapan dan rapalan, misalnya.

*

Jatuh cinta dan mencintai adalah dua penderitaan yang berbeda.
―@hurufkecil

Saya bersyukur tidak dilimpahi anugerah untuk mudah jatuh cinta. Malah saya heran, segelintir teman begitu melihat cewek sedikit bening, langsung minta nomor pin, akun twitter, dan modus-modus basi lain. Daripada begitu, lebih baik saya menjadikan perempuan itu sebagai teman. Semakin banyak teman maka banyak pula rezeki, semakin banyak modusan semakin besar peluang hati untuk tersakiti. Sakitnya tuh di sini...

Sepakat dengan tukilan puisi @hurufkecil, saya sadar penderitaan jatuh cinta cetek. Sekadar sakit hati di permukaan, tidak sampai ke ulu dan berkepanjangan. Begitu menemukan orang yang bisa dijatuhi cinta lagi, maka kita akan kasmaran kembali. Sakit hati. Cari lagi. Yah, begitulah.

Adapun mencintai, seperti merawat rumah sendiri: kita sapu setiap hari, rumput liar kita cabuti. Bila atap bocor lekas perbaiki. Tiap pagi, daun jendela kita kuak lebar-lebar supaya udara dalam dan luar bersirkulasi. Jika tidak demikian, perabotan rumah mudah usang dan menumpuk debu di sana-sini, menyuburkan lumut di tembok yang lembap.

Ngomong-ngomong mencintai, saya malah jadi ingat orangtua saya. Sejak saya lahir saya belum pernah melihat mereka bermesraan sebagaimana yang saya lihat di film-film romance. 

Tiga minggu silam, sepulang mereka berdua dari sini ke Bandung, saya dengar kabar mereka bertengkar. Pagi itu, meja ruang keluarga pecah oleh amarah. Ibu saya panik, dan segera salat. Sesudah salat Ibu terpekik melihat Bapak menghunuskan pisau dapur ke nadi tangan kirinya dengan gemetar.

Ibu terlambat menghidangkan sarapan.

Memang, sesudah terserang stroke dan tak bisa beraktivitas seperti dulu, Bapak mengisi hari-harinya di depan televisi menonton FTV SCTV. Tapi, setahu saya FTV selalu happy ending. Tak pernah ada adegan bunuh diri. Bapak saya mendapat ilham metode bunuh diri dari mana ya?

Saya tahu kabar itu dari kakak saya, yang kemudian segera tancap gas ke Bandung untuk menetralisir keadaan. Menengahi. Namun rupanya orangtua tidak mungkin dilerai selayaknya dua bocah yang berantem gara-gara sebutir kelereng atau sehelai layangan. Keduanya saling menyalahkan dan defensif. Kakak saya menasihati salah satu, dan salah satu itu pasti menangis. Pada akhirnya kakak saya memilih mendengarkan.

Kemudian orangtua saya diboyong ke rumah kakak saya di Bekasi, sampai hari Minggu ini keduanya masih di sana. Rabu kemarin saya menjenguk mereka. Bapak tampak sehat sebab diterapi totok di sana. Sebaliknya Ibu. Wajahnya pucat dan keriputnya semakin menggurat. Konon nafsu makannya lenyap selepas kejadian itu. Makanan selezat apa pun gagal masuk. Dua suap nasi pun sudah hebat. Ah, seandainya mindset saya seperti Ibu, mungkin saya tak usah berpayah-payah untuk diet-dietan.

Baru saja saya duduk melepas lelah di sofa rumah kakak, Ibu sudah bercerita panjang lebar. Dengan aksen air mata, tentu saja. Perihal hidup yang tak pernah mulus. Harapan-harapan yang alangkah sulit ia gapai, lirihnya. Tentang derita yang bersetia menguji sedemikian ketat.

Selepas itu Bapak yang curhat. Dengan terbata-bata. Ia mengutarakan bahwa siapa pula manusia yang mau merepotkan orang lain? Ia sebetulnya benci akan keadaan dan penyakit yang mengekangnya. Saya lekas menabah-nabah Bapak, menghiburnya oleh nasib anak-anaknya yang hebat berkat didikannya.

"Kalo begini terus, kapan Mamah menikmati hidup, Py?"

Emm, jika dipikir-pikir memang tak adil. Dulu Bapak tak sempat membahagiakan Ibu dengan limpahan materi seperti orang lain. Ia hanya fokus mengajar, rapat, mengajar, rapat, dan mengajar. Mana sempat memikirkan masa tua keduanya. Dan penghasilan guru zaman dulu biasa-biasa saja. Kadang Ibu memang suka mengeluh, namun kala itu percaya bahwa kebahagiaan itu suatu saat pasti akan datang. Sayangnya selepas Bapak pensiun, penyakit malah menderanya, mungkin seumur hidup. Siapa yang direpotkan? Tentu saja Ibu saya. Siapa yang tidak kecewa ketika harus menelan kembali harapan-harapan yang telah diperam selama puluhan tahun merenda keluarga?

"Ah, udahlah. Mungkin Mamah memang ditakdirkan mengurus orang sakit," imbuh Ibu.

Bapak cuma termenung dan matanya berkaca-kaca. Saya terdiam sejenak dan mencari-cari apa yang seharusnya saya sampaikan supaya tak menyinggung perasaan keduanya. Dan melintas sekalimat dalam bukunya Daeng Khrisna:

Karena cinta tak pernah mengenal kata selesai.
―@1bichara

"Mah, Pa. Pengin hidup seperti apa lagi? Anak-anak udah pada mandiri, paling cuma Cepy yang masih nempel sama Mamah Apa. Sekarang mah harusnya saling menyayangi aja."

Ya memang kalimat yang meluncur klise banget. Tapi kalimat klise lumayan ampuh untuk tidak menyinggung salah satu pihak. Saya enggan menyakiti perasaan orangtua.

"Mamah sayang gak sama Apa? Gak mau kan kalo dipisahin misalnya Apa di Sidoarjo, Mamah di Bogor?"

"Ya sayanglah!" ketus Ibu, "lagian, kalo kami dipisahin, nanti malah gak enak kan sama orang lain. Mamah masih mampu kok ngurus Apa. Mamah masih punya tanggung jawab!"

Dalam hati saya tertawa menyaksikan rasa sayang yang malu-malu dikubur gengsi dalam hati Ibu saya.

"Kalo emang gitu, bagus deh. Mulai sekarang, gak usah banyak mikir segala rupa. Mamah tinggal fokus mengurus Apa. Apa juga harus sayang sama Mamah. Kalian masih ditakdirkan berdua. Orang-orang lain, ada yang udah gak beruntung, Mah, Pa... masa tuanya sendirian, kesepian." 

Sebagai anak bontot, saya sadar betapa sok tahu dan sok bijaknya saya di hari Rabu itu. Tapi, demi orangtua, apa sih yang enggak?

*

Kamis pagi saya berkemas pulang ke Bogor. Sebelum berpeluh membelah jalan alternatif Setu, saya terlebih dulu melahap sarapan sembari mengecek chat BBM:

Kapan kamu pulang? Hati-hati ya, sayang.
―M 

Sebetulnya saya gusar membayangkan apakah puluhan tahun mendatang―misal, yah, misal―ia masih semesra itu. Tetapi, mungkin benar, cinta tak pernah mengenal kata selesai. Sebelum benar-benar usai, baiknya dinikmati saja sebelum the end dan credit title mengambang di layar hitam hingga layar kembali putih sesirnanya sorot proyektor.[]

P.S. Sebetulnya saya ingin sekali ngepost perihal capres dan cawapres dan partai-partai yang pecah kongsi dan lahirlah ragam koalisi. Tapi, tinggal kita plesetkan sedikit: Unconditional Coalition is Bullshit.