01 June 2014

Unconditional Love: Afeksi Tanpa Limitasi yang (Tak) Basi

14 comments :
Andai memang unconditional love itu ada dan dijual bebas secara eceran dan online dengan harga yang affordable, saya ingin membelinya beberapa untuk persediaan kalau-kalau cinta yang saya miliki kemarin-kemarin sudah usang atau bahkan kedaluarsa tiga hari saja, seperti sari roti.

Unconditional Love jika diterjemahkan bebas, beroleh arti afeksi tanpa limitasi; kasih tak berbatas. Hmm, tanpa batas. Padahal dalam hidup kita dibebat rerupa batas, supaya tidak ada perilaku penduduk yang berlebih-lebihan sehingga menyebabkan kekacauan. Batas itu lebih dipahami dalam Pendidikan Kewarganegaraan sebagai norma. Dan, ah, tak penting kita bahas itu kali ini, nilai PPKn saya jelek.

Satu-satunya unconditional love semata milik Tuhan. Dan sebagian besar orang bilang, cinta tak berbatas-tak berbalas juga datang dari ibu kita. Seperti sungai, konon kasih ibu seolah tiada batas, selalu mengalir deras, yang pada akhirnya bermuara ke surga. Ibu akan menyayangi anak-anaknya sebrengsek apa pun si anak, selama anak itu masih memanggilnya ibu, atau mungkin selama sang anak masih sadar bahwa ia bisa terlahir di sini berkat pengorbanan ibu yang berpayah-payah sembilan bulan dan setelahnya pun.

Tetapi, jika ada frasa 'selama', maka itu pertanda ada prasyarat yang mengakar malu-malu, bukan?

Ibu akan suka apabila bocah kecilnya pandai dan periang yang bisa dipamerkan ke depan sanak-saudaranya. Ibu akan bangga menyaksikan anak remajanya menjadi juara olimpiade sains nasional. Ibu akan terharu menyimak pidato kelulusan yang diutarakan oleh anaknya yang berpredikat cumlaude.

Cinta sejati selalu pamrih dan perih.

Jikapun unconditional love itu sekadar metafor dari cinta yang ruah oleh pengorbanan namun luruh berkat ketulusan, saya ingin mencintai ibu saya, dalam kondisi apa pun. Cinta itu bertambah, terutama pada saat kondisi uang bulanan menipis, dan tiba-tiba saja ibu saya menelepon, "Sabar ya, Py. Nanti siang Mamah transfer. Mamah tambahin deh."

*

Pacaran itu cuma syarat untuk menikah. Dua bulan juga cukup. Ritual utamanya adalah menikah, dan ritual-ritual setelahnya. Jodoh sudah ada yang atur. Demikian ujar F, teman saya yang lama tak pacaran, dan kini lebih menyibukkan diri bermain dan belajar-mengajar bersama anak-anak SD golongan menengah. Semoga ia bukan pedofil, kita berdoa bersama-sama.

R, teman saya yang lain memilih untuk pacaran beberapa tahun belakangan. Tetapi ketika saya curhat kepadanya (meski terdengar menggelikan, percayalah, kadang-kadang curhat antar cowok dengan cowok itu sama saja dengan curhat antar cewek dengan cewek, hanya saja minus air mata) perihal saya tak lagi "sendiri" penghujung April lalu, ia sedikit terkejut. Seraya mengucap selamat, katanya: "Let it flow aja ya. Kita sama-sama tahu lah, cinta yang real itu gak seromantis dan se-happy ending cerita-cerita FTV."

Saya sendiri punya pendapat perihal pacaran. Selama kita suka sama seseorang, jangan terburu-buru. Tunggu sejenak hingga berubah jadi cinta, kemudian berbuah imbuhan di-, barulah kita putuskan untuk me-. Jangan sampai bertepuk sebelah tangan. Sesederhana itu. Seperti tagar #bahagiaitusederhana, kadangkala kesederhanaan itu nampak sederhana, namun terdapat kompleksitas di sana. Sesederhana menanti jawab ia dua tahun lamanya dengan harapan dan rapalan, misalnya.

*

Jatuh cinta dan mencintai adalah dua penderitaan yang berbeda.
―@hurufkecil

Saya bersyukur tidak dilimpahi anugerah untuk mudah jatuh cinta. Malah saya heran, segelintir teman begitu melihat cewek sedikit bening, langsung minta nomor pin, akun twitter, dan modus-modus basi lain. Daripada begitu, lebih baik saya menjadikan perempuan itu sebagai teman. Semakin banyak teman maka banyak pula rezeki, semakin banyak modusan semakin besar peluang hati untuk tersakiti. Sakitnya tuh di sini...

Sepakat dengan tukilan puisi @hurufkecil, saya sadar penderitaan jatuh cinta cetek. Sekadar sakit hati di permukaan, tidak sampai ke ulu dan berkepanjangan. Begitu menemukan orang yang bisa dijatuhi cinta lagi, maka kita akan kasmaran kembali. Sakit hati. Cari lagi. Yah, begitulah.

Adapun mencintai, seperti merawat rumah sendiri: kita sapu setiap hari, rumput liar kita cabuti. Bila atap bocor lekas perbaiki. Tiap pagi, daun jendela kita kuak lebar-lebar supaya udara dalam dan luar bersirkulasi. Jika tidak demikian, perabotan rumah mudah usang dan menumpuk debu di sana-sini, menyuburkan lumut di tembok yang lembap.

Ngomong-ngomong mencintai, saya malah jadi ingat orangtua saya. Sejak saya lahir saya belum pernah melihat mereka bermesraan sebagaimana yang saya lihat di film-film romance. 

Tiga minggu silam, sepulang mereka berdua dari sini ke Bandung, saya dengar kabar mereka bertengkar. Pagi itu, meja ruang keluarga pecah oleh amarah. Ibu saya panik, dan segera salat. Sesudah salat Ibu terpekik melihat Bapak menghunuskan pisau dapur ke nadi tangan kirinya dengan gemetar.

Ibu terlambat menghidangkan sarapan.

Memang, sesudah terserang stroke dan tak bisa beraktivitas seperti dulu, Bapak mengisi hari-harinya di depan televisi menonton FTV SCTV. Tapi, setahu saya FTV selalu happy ending. Tak pernah ada adegan bunuh diri. Bapak saya mendapat ilham metode bunuh diri dari mana ya?

Saya tahu kabar itu dari kakak saya, yang kemudian segera tancap gas ke Bandung untuk menetralisir keadaan. Menengahi. Namun rupanya orangtua tidak mungkin dilerai selayaknya dua bocah yang berantem gara-gara sebutir kelereng atau sehelai layangan. Keduanya saling menyalahkan dan defensif. Kakak saya menasihati salah satu, dan salah satu itu pasti menangis. Pada akhirnya kakak saya memilih mendengarkan.

Kemudian orangtua saya diboyong ke rumah kakak saya di Bekasi, sampai hari Minggu ini keduanya masih di sana. Rabu kemarin saya menjenguk mereka. Bapak tampak sehat sebab diterapi totok di sana. Sebaliknya Ibu. Wajahnya pucat dan keriputnya semakin menggurat. Konon nafsu makannya lenyap selepas kejadian itu. Makanan selezat apa pun gagal masuk. Dua suap nasi pun sudah hebat. Ah, seandainya mindset saya seperti Ibu, mungkin saya tak usah berpayah-payah untuk diet-dietan.

Baru saja saya duduk melepas lelah di sofa rumah kakak, Ibu sudah bercerita panjang lebar. Dengan aksen air mata, tentu saja. Perihal hidup yang tak pernah mulus. Harapan-harapan yang alangkah sulit ia gapai, lirihnya. Tentang derita yang bersetia menguji sedemikian ketat.

Selepas itu Bapak yang curhat. Dengan terbata-bata. Ia mengutarakan bahwa siapa pula manusia yang mau merepotkan orang lain? Ia sebetulnya benci akan keadaan dan penyakit yang mengekangnya. Saya lekas menabah-nabah Bapak, menghiburnya oleh nasib anak-anaknya yang hebat berkat didikannya.

"Kalo begini terus, kapan Mamah menikmati hidup, Py?"

Emm, jika dipikir-pikir memang tak adil. Dulu Bapak tak sempat membahagiakan Ibu dengan limpahan materi seperti orang lain. Ia hanya fokus mengajar, rapat, mengajar, rapat, dan mengajar. Mana sempat memikirkan masa tua keduanya. Dan penghasilan guru zaman dulu biasa-biasa saja. Kadang Ibu memang suka mengeluh, namun kala itu percaya bahwa kebahagiaan itu suatu saat pasti akan datang. Sayangnya selepas Bapak pensiun, penyakit malah menderanya, mungkin seumur hidup. Siapa yang direpotkan? Tentu saja Ibu saya. Siapa yang tidak kecewa ketika harus menelan kembali harapan-harapan yang telah diperam selama puluhan tahun merenda keluarga?

"Ah, udahlah. Mungkin Mamah memang ditakdirkan mengurus orang sakit," imbuh Ibu.

Bapak cuma termenung dan matanya berkaca-kaca. Saya terdiam sejenak dan mencari-cari apa yang seharusnya saya sampaikan supaya tak menyinggung perasaan keduanya. Dan melintas sekalimat dalam bukunya Daeng Khrisna:

Karena cinta tak pernah mengenal kata selesai.
―@1bichara

"Mah, Pa. Pengin hidup seperti apa lagi? Anak-anak udah pada mandiri, paling cuma Cepy yang masih nempel sama Mamah Apa. Sekarang mah harusnya saling menyayangi aja."

Ya memang kalimat yang meluncur klise banget. Tapi kalimat klise lumayan ampuh untuk tidak menyinggung salah satu pihak. Saya enggan menyakiti perasaan orangtua.

"Mamah sayang gak sama Apa? Gak mau kan kalo dipisahin misalnya Apa di Sidoarjo, Mamah di Bogor?"

"Ya sayanglah!" ketus Ibu, "lagian, kalo kami dipisahin, nanti malah gak enak kan sama orang lain. Mamah masih mampu kok ngurus Apa. Mamah masih punya tanggung jawab!"

Dalam hati saya tertawa menyaksikan rasa sayang yang malu-malu dikubur gengsi dalam hati Ibu saya.

"Kalo emang gitu, bagus deh. Mulai sekarang, gak usah banyak mikir segala rupa. Mamah tinggal fokus mengurus Apa. Apa juga harus sayang sama Mamah. Kalian masih ditakdirkan berdua. Orang-orang lain, ada yang udah gak beruntung, Mah, Pa... masa tuanya sendirian, kesepian." 

Sebagai anak bontot, saya sadar betapa sok tahu dan sok bijaknya saya di hari Rabu itu. Tapi, demi orangtua, apa sih yang enggak?

*

Kamis pagi saya berkemas pulang ke Bogor. Sebelum berpeluh membelah jalan alternatif Setu, saya terlebih dulu melahap sarapan sembari mengecek chat BBM:

Kapan kamu pulang? Hati-hati ya, sayang.
―M 

Sebetulnya saya gusar membayangkan apakah puluhan tahun mendatang―misal, yah, misal―ia masih semesra itu. Tetapi, mungkin benar, cinta tak pernah mengenal kata selesai. Sebelum benar-benar usai, baiknya dinikmati saja sebelum the end dan credit title mengambang di layar hitam hingga layar kembali putih sesirnanya sorot proyektor.[]

P.S. Sebetulnya saya ingin sekali ngepost perihal capres dan cawapres dan partai-partai yang pecah kongsi dan lahirlah ragam koalisi. Tapi, tinggal kita plesetkan sedikit: Unconditional Coalition is Bullshit.

14 comments :

  1. yg sabar ya cep buat Mamah jeung Apa..
    btw, nice post. keren. memang, kejujuran itu mahal harganya #gaknyambung

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin.. mudah-mudahan broh :)
      hahaha kau ni

      Delete
  2. ujian datang disaat usia bertambah
    mikir hidup sudah sulit
    ditambahin mikir berat badan
    baiknya berat badan dilupakan saja
    btw semoga kekuatan selalu dilimpahkan buat keluarganya Ben Josh wannabe

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha betul betul
      lagian sekarang diet terpaksa, ven, sendirian di rumah soalnya. kudu hemat :'>
      aamiin hahaha.. tengkyu Milea wannabe :D

      Delete
  3. Wuiii .... ini bisa dijadikan beberapa die postingan nih Cepy, banyak poin poin di dalamnya soalnya :)

    Cinta sejati selalu pamrih dan perih? aku tak setuju dgn pendapat ini nih, tapi ya opini org emang nggak selalu hrs sama ya, syah syah saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hah, seriusan, mbak? :'D
      hehe, itu cuma anomali. sebetulnya saya mengatakan sebaliknya :)

      Delete
  4. Gaya penulisanmu ini bagus buat mendongeng. Coba sekali2 kamu rekaman video sambil membaca tulisnamu ini dengan penuh penghayatan. Keknya bakalan asyik buat ditonton..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah, senang sekali diapresiasi seorang artist :'D
      okelah... akan saya coba ah.. di soundcloud hahaaha

      Delete
  5. Saya sepakat sekali bila ada yan gbilang cinta paling tulus di dunia ini adlah cinta Ibu pada anak-anaknya :)

    ReplyDelete
  6. itu inisial R siapa ya cep, kalo inisial F sama M sih tau :p #salahfokus

    tulisannya bagus cep! ya kadang melihat problematika seperti itu juga, mungkin kalo udah berpuluhtahun bersama bukan cuma sekedar cinta anak muda yg mudah pudar :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha hayoh siapa hayoh.. ini juga siapa hayoh pake anonymous segala #purapuragatau

      terima kasih, kakak. bener banget. saya boro boro bisa kayak gitu. masih pemula :D

      Delete