29 July 2014

Menua Bahagia

6 comments :
Lebaran adalah ajang untuk menakar seberapa tuakah kita tahun ini?

Sekalipun perayaan rutin tahunan, lebaran kerap membekaskan kejadian yang kemudian menjadi kenangan yang berbeda-beda. Tahun ini saya masih menerima pertanyaan yang sama dari paman, bibi, uwa, sepupu: sudah semester berapa? Semoga lebaran tahun depan pertanyaannya tidak berubah menjadi sudah punya istri berapa?

Tanpa disadari, orangtua dan orang-orang tua pun semakin tua. Paman, bibi, uwa, semuanya berubah. Semasa kanak-kanak, saya suka menguping mereka sedang membahas ihwal perkembangan anaknya semacam pendidikan beserta seabreg prestasinya, namun kini topik obrolan mereka takkan jauh dari penyakit dan obat, dengan intonasi yang tidak bulat.

Kampung halaman saya kian berat oleh macet, banyak sekali manusia yang punya mobil sekarang, motor-motor seenaknya berseliweran seperti capung. Begitu lain dengan belasan tahun silam. Kini sawah-sawah disulap perumahan dan leretan rumah toko. Tetangga sekitar gang satu per satu berpindah ke tempat lapang yang lebih menenangkan, beberapa sudah berpulang dengan tenang. Rumah-rumah yang dijual, oleh pemilik barunya dipecah menjadi beberapa lokal, berubah menjadi kontrakan dengan penghuni-penghuni asing. Kampung kami sudah menjadi kampung orang, kampung pendatang.

Sesungguhnya ingin sekali memindahkan rumah di kampung ini beserta segenap kenangannya ke rumah yang satu lagi di kota lain. Sayang sekali, kenangan bukanlah dagangan toko online yang mudah dikirim tepat waktu melalui jasa kurir.

Mengapa waktu cepat sekali bergulir? Rasanya baru kemarin saya merajuk dan pundung di mal sebab tidak boleh memilih baju lebaran sesuai selera saya (sekarang baru sadar, selera saya alangkah menyedihkan, dulu). Serasa kemarin jemari mungil saya dituntun oleh ayah saya ke lapangan untuk salat ied, namun tadi pagi saya yang memapah beliau yang hanya bisa berjalan tertatih-tatih dan sesekali tersandung trotoar rusak. Secepat itukah?

Di sela ruap resah dan gelisah, saya berharap ini cuma mimpi kemudian akan ada suatu masa saya terbangun di kasur yang sama dengan ibu dan ayah saya. Dan saya mengompol akibat mimpi buruk itu.

*

Dan ternyata saya memang bermimpi! Saya dibangunkan oleh harum kopi ayah, dan semilir sambal goreng kentang yang sedang dihangatkan ibu. Buru-buru saya lungsur dari risbang, lantas menilik sosok bocah enam tahun di dalam cermin yang menempel di lemari. Duh, baju lebaran yang dicoba semalam rupanya saya bawa tidur semalam. Lengkap dengan sepatu semata kaki yang bisa menyala itu.

"Cepetan mandi, Py. Sebentar lagi kita berangkat salat, lapangan keburu penuh. Kan udah dibeliin sepatu yang bisa nyala, Cepy harus nurut yah."

Ah, ayah masih bisa berbicara dengan jelas. Saya senang sekali.[] 

Bandung, 1997

24 July 2014

Rokok, Prabowo, dan Masyarakat Indonesia yang Religius

12 comments :
Apakah merokok itu keren, tanya Pandji. Keren? Tidak juga. Jika merokok itu keren, mamang-mamang becak, sopir angkot, sampai kuli panggul di pasar pun merokok. Bukankah mereka tidak begitu keren? Begitu tutur Soleh lantas disambut penonton dengan derai tawa―entah tawa buatan software atau beneran.

*

Niat saya semalam untuk segera tidur lantaran kelelahan―lelah menelan social media seharian yang masih juga cerewet meski 22 Juli sudah menjadi masa lalu―dihadang oleh acara Sebelas Duabelas di Kompas TV yang dibawakan oleh Pandji Pragiwaksono. Yang bertamu kepadanya adalah Soleh Solihun, komika asal Bandung yang jenaka (setidaknya, jenaka menurut selera saya yang menyukai satir dan sarkasme). Sendirian ia diwawancarai, sebelum Poppy Sovia datang menggenapi tamunya Pandji.

Yang membuat mata sipit saya melek adalah topiknya yang menarik: tentang rokok.

Jadi, imbuh Soleh, tiada sangkut-pautnya kadar kekerenan seseorang dengan sebatang kenikmatan itu apabila kita menengok latar belakang orang-orang yang merokok di sekitar kita. Jika ingin keren, belilah baju yang bagus, sepatu yang bagus, bodi yang bagus, wajah yang bagus. Hmm.. wajah.

Selanjutnya didedahlah seluk beluk tentang rokok, semisal keuntungan masif dari cukai yang dikhawatirkan tandas andai industri rokok dibatasi kemudian dikebiri. Hingga menyoal iklan rokok yang keren tapi aneh, sebab rokok sebagai produk yang hendak dijual malah tidak boleh ditampilkan dalam konten iklan tersebut. Nyatanya, copywriter tak kehabisan akal. Sampai sekarang, petualangan, solidaritas persahabatan, penelusuran jati diri, dan kejantanan prialah yang lekat dengan ingatan kita ketika menyaksikan iklan rokok. 

Tapi pasti pernah coba-coba merokok, kan? Tanya Pandji lagi. Soleh cengengesan. Pernah dong. Semasa bocah, Soleh suka mengisap puntung-puntung rokok filter sisa ayahnya. Beranjak remaja, di lingkungan sekolahnya pun ia sempat mencoba-coba aneka ragam rokok. Aku Soleh, bibirnya tidak mengecap kenikmatan yang dirasa classy oleh para perokok lain sampai kecanduan. Ada istilah sehabis makan, mulut asem tanpa merokok, padahal sehabis makan enaknya ya minum, begitu pendapat Soleh.

Apakah perbuatan merokok memang seperti termaktub pada kemasannya sekarang: merokok membunuhmu? Kali ini Pandji bertanya agak serius, dengan membeberkan fakta-fakta kematian akibat perilaku merokok di Indonesia yang meningkat tahun ini.

Soleh Solihun terdiam sejenak sambil menahan-nahan senyum. Ah, tidak juga, Pandji. Tidak semua yang mati gara-gara merokok. Beberapa publik figur meninggal setelah berolahraga. Banyak kakek tua renta yang masih menyedot rokok kretek, nenek-nenek kempot mengisap lintingan tembakau. Bahkan ayah Pandji pun meninggal karena penyakit jantung padahal bukan seorang perokok.

Lagi pula, sulit sekali mendeteksi apakah kematian seseorang tersebab oleh perilaku merokok.

"Ndji, orang Indonesia gak mungkin percaya peringatan begituan. Indonesia adalah negara beragama, mengkafirkan Atheis. Orang Indonesia itu terlalu religius. Jika ditanya begitu, jawabannya pasti: jodoh dan kematian itu urusan Tuhan. Takdir Tuhanlah yang membuat kita menikah dan mati. Bukan rokok."

Soleh pun menganjurkan supaya pemerintah tidak mencantumkan peringatan merokok membunuhmu, istrimu, anak-cucumu. Trik itu takkan mendoktrin masyarakat Indonesia yang amat religius, sebab mati itu urusan Tuhan, tegas mereka. Baiknya, cantumkan saja peringatan: 

"Merokok hanya akan menyebabkan Anda tampak seperti mamang-mamang." ―Soleh Solihun

"Ingin terlihat seperti mamang-mamang atau banci taman lawang? Merokoklah!" ―Soleh Solihun

Saya yakin peringatan itu akan perlahan mengikis jumlah perokok aktif, sebab mayoritas masyarakat Indonesia punya kadar gengsi yang lebih tinggi ketimbang kadar takut akan mati. Gengsi menerima kekalahan Pilpres, misalnya, namun tak gengsi mencacimaki dengan bertamengkan hadis-hadis dan ayat suci.

Tak terasa sudah pukul dua belas, sehingga tayangan Sebelas Duabelas pun usai. Saya pun merebahkan diri di kasur dengan benak yang masih bertanya: mungkin itulah, mengapa di Indonesia, dengan berselimut ayat suci, partai-partai politik (partai Islam maupun bukan sama saja) gencar menebar kebencian dan keresahan ketimbang kedamaian. Begitu tinggikah kadar religius masyarakat Indonesia?[]

19 July 2014

Jendela Bus

4 comments :
Ketika sesekali sendirian di rumah, rumah memang sepi, tetangga-tetangga yang cuek itu pasti sudah pulas tidur, sebab besoknya harus bekerja lagi pagi-pagi (eh, saya lupa kalau besok hari Sabtu, tapi percayalah, di sini semua hari sama saja, mungkin semua hari bernama Sunyi). Akan tetapi tidak demikian dengan yang terjadi di dalam kepala saya. Kesendirian adalah jeda di kantor pukul 12 siang; terpaksa menunda tidur sebab riuh oleh gosip-gosip hingga omong kosong dari mulut-mulut karyawan yang sebetulnya tak penting-penting amat untuk didengarkan.

Sekarang bulan Juli. Agustus sebentar lagi. Saya ingat betul impian yang saya ejawantahkan tiga tahun lalu dalam sebuah status facebook, yang sayangnya akun facebook pertama itu sudah saya deactivate sebab sempat diretas entah oleh siapa pada November 2011. Seingat saya, begini bunyinya:

Otw perantauan dengan Primajasa jurusan Bandung - Cikarang via Cipularang. Suatu hari nanti, pasti bakal berganti bus jadi MGI Bandung - Bogor via tol Cikunir. Amin.

(dengan sedikit pembaharuan ingatan serta tanda baca alay yang telah disempurnakan)

Sore itu saya sedang duduk dengan mata menerawang jendela bus Primajasa yang kursinya hanya terisi beberapa, sebab hari itu bukanlah hari Sabtu atau Minggu, hari lazimnya orang-orang berlibur. Entah Senin atau Rabu. Saya sedang dalam perjalanan ke Bekasi guna mengejar shift tiga di mana saya harus masuk pukul 11 malam kurang 15 menit (di pabrik itu, kita harus berjalan kaki sekitar 15 menit sebab plant 3, 5, 7 lumayan jauh dari gerbang, sementara sepeda motor dilarang masuk).

Dalam duduk, saya gelisah sebab kabar yang ditunggu sekian lama belum kunjung tiba.

Saya sedang menunggu kabar lolos-tidaknya saya menerima beasiswa kuliah dari perusahaan lain, bukan perusahaan tempat saya bekerja saat itu. Mendadak saya ngebet pindah ke Bogor kemudian belajar di sana. Sudah muak dengan Bekasi yang panas. Banyak preman beraroma ludah kering. Banyak rumah makan dan mal megah namun tidak artistik sama sekali. Banyak nyamuk. Banyak berjatuhan korban sales Abate. Banyak teman kerja yang keranjingan ngutang sama saya. Banyak cowok. Sedikit cewek cantik; yang terakhir ini adalah alasan yang paling logis untuk segera pindah dari Bekasi, mumpung saya masih muda.

Sebagai abege (sudahlah setuju saja ya, waktu itu masih 19 kok), maka alih-alih berdoa kepada yang kuasa supaya lekas dikasih kabar gembira (kulit badak ada korengnya!), saya malah galau di facebook. Update status. Status yang di atas tadi. Status yang norak. Seperti biasanya.

Sesampai di depan gerbang pabrik, saya berjalan tersaruk-saruk dan terkantuk-kantuk menyusuri plant, ditemani angin malam dan hantu-hantu yang setia mengantar. Saya semakin malas bekerja. Terusik oleh impian untuk melanjutkan pendidikan. Dan agar sesegera mungkin minggat dari daerah yang panas ini. Panas segala-galanya. Sungguh impian yang agak alay, memang. Saya yakin, kenyataan orang lain jauh lebih keren daripada impian saya yang sangat sederhana.

*

Dua bulan kemudian, saya membenamkan pantat di pelukan kursi bus MGI jurusan Bandung - Bogor, via tol Cikunir. Tidak, saya tidak update status untuk merayakannya. Saya cuma ngetwit, di mana followers saya masih 5. Tiga di antaranya beravatar telur.

*

Malam ini, tiga tahun kemudian, saya duduk mengetik curhatan ini di rumah orangtua saya di Bogor. Ah, apa lagi ini? Bukankah rumah orangtua saya di Bandung?

Terlalu banyak nikmat yang saya peroleh beberapa tahun belakangan. Kuliah, di mana occupation tersebut tidak menghasilkan sesuatu berwujud uang, nyatanya ada saja rezeki keluarga saya untuk membiayai biaya hidup saya selama kuliah, dan untungnya masalah semesteran tak perlu jadi masalah sebab gratis. Dan saya pun sedikit-sedikit bisa menyisihkan uang jajan dari honor menulis atau resensi atau apa pun bekerja serabutan. Nampaknya, Hukum Matematika tidak terlalu berpengaruh dalam hidup saya. Hal-hal yang saya jumpai kini jauh di atas ekspektasi saya dulu! Jauh!

Impian. Kini, semakin jarang orang sepantaran saya yang memercayai impian. Semuanya sudah mulai akrab dengan kenyataan. Impian, kata mereka, hanya akan menjatuhkanmu bila gagal tercapai, sakit rasanya, atau mungkin malah membuat kita mati setelah sebelumnya sakit jiwa. Yah, itu saya alami sendiri. Problema manusia 20 tahun plus-plus mirip seperti pelangi, penuh oleh warna yang menenteramkan, dengan latar belakang awan mendung yang muram.

Baiklah. Mungkin impian terdengar complicated lantaran impian kerap berwujud muluk? 

Bagi saya. Impian itu bisa sesederhana berlangganan majalah Bobo setelah menyisihkan 80% uang jajan saya semasa SD. Senorak Cepy kecil pengin naik pesawat ketika melihat Garuda melintas di atas tiang jemuran, kemudian teman-temannya tertawa gurih mengejek beberapa menit. Atau serumit impian saya supaya melihat skor timbangan badan mencapai 60 kilogram.

Banyak kisah-kisah dari orang berpengaruh yang mewasiatkan betapa pentingnya memelihara impian. Karya-karya mereka terlahir dari impian. Yang kerap disepelekan, karena memang ide-idenya gila. Ya, mereka memilih gila impian ketimbang gila jabatan. Ah, jabatan hanyalah impian bagi manusia yang sudah kehabisan impian.

Masih ragu dengan impian? Semoga masih, supaya kita tak henti mencari kemudian menemukan impian.

Tersisa dua semester lagi saya menuntaskan impian cetek ini dan beberapa impian lain yang tak kalah cetek. Secetek apa pun, impian tetaplah impian. Yang bisa dengan mudah mengantarkan kita ke kenyataan, andai kita mau berupaya dan senantiasa merapal doa. Semoga![]

11 July 2014

Quick Count dan Khotbah Jumat

2 comments :
Khotbah Jumat kali ini membuat saya tidak bisa terkantuk-kantuk di masjid seperti biasanya. 

Khotib memulai dengan cerita pengakuan John Plummer―kapten pesawat tempur Amerika―yang menyesal sebab pada masa lampau telah melakukan pengeboman di Trang Bang, 40 km dari Saigon, Vietnam, ketika perang Vietnam berkecamuk pada 1972. Ditemani pesawat tempurnya, ia melayang di atas permukiman warga yang membaur dengan hamparan sawah dan ladang. John memacu pesawatnya cukup tinggi, ia tak berani terbang pada ketinggian rendah, sebab telah mengancam di darat sana para penembak jitu Vietnam. 

Beberapa saat kemudian bom berhasil membumihanguskan perkampungan itu. Tugas John telah selesai. Anehnya, ia pulang ke barak dengan hati ketakutan, bukan penuh oleh gempita kemenangan: cemas andai bom yang ia empaskan justru menjilat orang-orang sipil tak berdosa tak berdaya.

Tiga hari kemudian, John melihat headline koran militer yang memampang foto anak perempuan tanpa busana dengan mimik menangis berlari menjauhi kepulan asap ledakan. Perasaannya hancur; dia teringat anaknya yang berusia tak terpaut jauh dengan perempuan mungil dalam foto itu. John membayangkan bagaimana tega anak seusia putrinya ia lebur dengan bom, padahal jelas-jelas apa salah perempuan usia sekitar 9 tahun itu terhadap Amerika? Padahal, sebagaimana anaknya, Kim Phuc―nama bocah itu―mungkin salah satu pengagum kartun Tom and Jerry atau Mickey Mouse, kartun ciptaan Amerika.

Kehidupan John pasca pengeboman di Trang Bang kacau berantakan; rumah tangganya hancur hingga berujung perceraian.

Di sisi lain, konon anak perempuan itu berhasil diselamatkan, hingga sekarang ia masih hidup dan berkeluarga, berkat operasi cangkok kulit sebanyak 17 kali. Bahkan, suatu hari puluhan tahun kemudian, keduanya berjumpa dalam sebuah acara mengenang kelamnya perang Vietnam. John langsung bersimpuh meminta maaf kepadanya, yang disambut Kim Phuc dengan senyuman.

*

Ya, saya memang tersentuh dengan cerita tentang John Plummer dan Kim Phuc barusan. Namun sedikit saja terenyuhnya, sebelum menyimak uraian Khotib selanjutnya yang sungguh-sungguh bikin saya menunduk dalam renung, bukan menunduk dalam kantuk. 

Ia mengaitkan penyesalan Kapten Amerika itu dengan kecerdasan. Pesawat tempur, bom, dan keahlian untuk memfungsikannya sudah barang tentu adalah produk dari akal pikir manusia, kan? Ilmu. Kecerdasan. Riset puluhan tahun. Tapi, mengapa buah dari kecerdasan malah menyebabkan kehancuran dunia? Israel menyerang Gaza, tak bersudah. Pertempuran sesama umat Islam antara Iran―yang punya senjata nuklir―dan Suriah, yang menurut saya goblok keterlaluan. Sama-sama timur tengah, sama-sama tanah Arab. Mungkin memang, Islam bukanlah Arab. Islam milik semua umatnya, yang percaya akan kedamaian.

"Demikianlah jika kecerdasan tidak dilapisi oleh keimanan," tutur khotib lirih. 

Sememangnya kalimat barusan terdengar klise, namun demikian tingkah manusia zaman sekarang. Pemerintah harus membiayai PMDK calon dokter ratusan juta―atau kalau universitasnya bukan negeri, orangtuanyalah yang mesti membayar sebesar itu supaya anaknya menjadi dokter. Tapi setelah itu? Aborsi di mana-mana. Iklan obat herbal yang belum tentu berkhasiat dan benar-benar good meriuhi televisi. Komersialisasi kesehatan. Tadi pagi ada berita mal praktik di mana ada benang yang tertinggal di dalam perut pasien pasca operasi. Iya. Mereka dokter. Orang kaya. Orang pintar. Orang terpelajar. Bukan dukun.

Bidang hukum pun demikian. Kini, justru praktisi-praktisi hukumlah yang terlibat skandal-skandal korupsi dan sebagainya dan sebagainya. Mantan Ketua MK itu, misalnya. Padahal dia bukan orang bodoh. Sudah Doktor. Akil Mochtar. Dengar, nama beliau pun Islami banget. 

Selanjutnya. Mengapa Quick Count beroleh hasil yang berbeda-beda di antara banyak lembaga survey? Saya tahu ilmu statistik itu lumayan ruwet, saya cuma memperoleh B- pada semester dua lalu. Tapi saya sadar, mustahil hasil pengambilan dan penggorengan sampling data bisa terpaut jauh satu sama lain di antara penyurvey, setidaknya errornya takkan lebih dari 1-3 %. Kok bisa bervariasi? Padahal kan orang-orang survey sudah pasti lulus UN dari SMA IPA, gelarnya mungkin rata-rata sarjana Sains. Atau bahkan ada yang sudah Master dan Doktor. Ah, tanya saja pada uang komisi di rekening. "Cerobong dapur harus tetap mengepul, bro. Saya bosan dengerin istri marah-marah di rumah," bisik mereka.

Jleb banget jika kita sudah berbicara tentang uang. Dilematis.

Kemudian khotib berpesan supaya meneladani lagi rasul, sebab tidak ada manusia yang patut diteladani selainnya. Betul! Saya selalu kecewa mengidolakan filsuf, penulis, musisi, seniman, hingga praktisi industri, setelah mengetahui realitas hidup dan kelakuan mereka dalam kehidupan nyata seperti apa. Cukup ambil yang baik-baik saja dari mereka, jangan terlalu mengidolakan seorang tokoh. Tidak ada manusia yang sempurna, kecuali rasul. 

Yang membuat rasul sempurna adalah adanya sifat-sifat yang melekat pada dirinya: Siddiq, Amanah, Tabligh, Fathanah. 

Siddiq berada dalam urutan pertama, artinya jujur atau selalu berkata benar. Dan urutan ke empat yakni Fathanah, yang bermakna cerdas. Ya, cerdas. 

Mungkin, gara-gara itulah Ahmad Fathanah diberangus KPK. Namanya terlalu bodoh untuk kelakuannya.

Menurut khotib, kejujuran adalah modal paling utama dalam kehidupan. Namun sekarang begitu sulit menemukan orang jujur. Ups, jangan dulu melihat orang lain deh. Kita sendiri sudah berkelakuan dan berkata jujur, belum? Jarang? Ya memang susah. Terkadang jika kita ingin berkata jujur, selalu ada orang lain yang meledek kita dengan julukan sok suci, sok tak butuh. Pada akhirnya kita pun terpaksa berada dalam zona abu-abu, sebab takut dimusuhi jika berkata jujur, takut diasingkan andai berbohong.

Kita terlalu sering kentut lantas menuduh orang lain yang kentut.

Sifat cerdas ada di urutan akhir setelah tiga sifat rasul lain. Cerdas nyatanya bukanlah segala-galanya. Lihat kabar Jakarta International School, yang guru-gurunya bule itu, yang kemarin ramai dibincangkan. Orangtua sekarang mulai kebingungan menyekolahkan anak-anaknya ke mana. Sekolah bertaraf dan bertarif internasional bukanlah jaminan untuk mencetak siswa-siswinya menjadi orang yang baik. Cerdas, yah, barangkali bisa saja. Tapi menjadi orang yang jujur dan baik, belum tentu. 

Jadi teringat omongan dosen: Semasih kuliah, boleh salah, tapi tidak boleh bohong. Setelah bekerja, boleh bohong, tidak boleh salah. Pilih mana? Seperti pilpres kemarin, pilihan hidup pun kerap menyulitkan, namun baiknya pilih saja yang cacat dan celanya lebih sedikit.

Sudahkah Anda jujur hari ini? Mudah-mudahan, saya mengetik artikel ini pun dengan jujur.[]

referensi: Khotbah Jumat dan http://nubogalalakon.wordpress.com/tag/hidup/

06 July 2014

Surat Terbuka 2049

2 comments :

Malam ini sama dengan suatu malam di bulan Juli tiga setengah dasawarsa lalu. Semasa remaja, kita biasa membincang kesunyian, dalam hangat pelukan. Kali ini aku dan kesunyian yang membincang tentang kamu. Kota ini kian sepi, ditinggal orang-orang baik, tersisa orang-orang yang sedikit picik, selicik politik. Demikian pula aku, kekasih... sepi, sepi sekali. Kau dengar dengkuran kulkas di dekat pintu samping rumahku, kan? Ya, kulkas itu pun sudah cukup tua, sepertiku.

Aku masih sering menyeduh kopi hitam―minuman dukun yang sering kau ejek itu―oleh didihan air mata. Sayangnya, setelah kuseruput, air likat itu mengalir lagi dari mataku, dan berinaian ke dalam cangkir semula. Hanya saja warnanya tak lagi hitam. Merah. Seperti darah. Atau memang darah? Entahlah. Bukan perubahan warna kopi yang kurisaukan malam ini sampai-sampai aku berpayah menulis surat untukmu, padahal sekarang kantor pos saja sudah punah semenjak dua puluh tahun lalu. 

Aku cuma ingin bertanya, masih menawankah sepasang mata bola pingpongmu? Aku bersyukur menyukaimu karena matamu, bukan mulus wajahmu: setidaknya mata takkan mengeriput seumpama kulit wajahmu yang perlahan dikerkah usia dan derita; mata adalah organ yang berdimensi sama semenjak manusia bayi hingga dikafani. Abadi. Aku suka yang abadi, seperti matamu. Tidak seperti kehadiranmu yang kadang-kadang, layaknya sekarang.

Tiga tahun lalu aku purna dari tugas dunia. Dua tahun lagi aku 60. Cukup tuakah, Sayang? Aku tahu, kau pasti terkikik mendengar tanyaku, sebab dulu saja kau selalu merisak mukaku sebagai muka yang tak sepadan dengan usia kala itu. Apa lagi sekarang! Sebetulnya aku malu mengutarakannya, tapi harus, supaya kau percaya. Sekarang, kau bisa becermin di kepalaku. Berat badanku naik lagi: di tahun 2049, dengan mudah aku bisa menghitung berapa langkah kakiku bergerak setiap hari. Stroke, diabetes, encok, komplikasi, aku pasrah saja menerima mereka. Jikalau bisa, aku pun ingin menunggumu sepasrah menerima kenyataan penyakit-penyakit manusia lanjut itu.

Kuharap kau masih bisa membaca surat ini. Dulu, kau selalu menolak dengan tekad matang jika kuajak ke toko buku. Membosankan, katamu, lebih baik berlama-lama di toilet. Demikianlah, alhasil aku kerap mencuri-curi waktu sendiri untuk mengincar buku-buku, tanpa kau temani. Tapi kali ini... 

Kau benar, Sayang. Manusia tak lagi butuh buku. Sekarang tak mudah mencari buku dalam bentuk "buku" seperti 35 tahun lalu. Kalaupun ada, mahal. Sepadan sepuluh gram emas. Bahan baku untuk membuat buku saja sudah hampir tak ada, Sayang, tandas. Bolehkah kita menyalahkan ketamakan presiden-presiden di masa lalu? Yang tumbuh di hutan kini adalah ribuan pohon menara provider seluler, reaktor nuklir, ratusan radar yang menakutkan, dan bahu-bahu beton raksasa. Segalanya serba elektronik; nano technology. Pun kuketik surat ini tak mengenakan 10 jemari, cukup mengangankan alur kata dan rasa, surat langsung terhidang dan mengudara. Ini 2049.

Semoga lima hari lagi, presiden yang terpilih adalah presiden yang agak baik. Orang baik sudah mati. Pilih yang agak saja, cukup.

Kekasihku. Andai saja usia bisa dikomersialisasikan. Aku ingin menjual 35 tahun. Biar, aku rela tak dibayar pun oleh si pembeli. Aku masih ingin memberikanmu boneka panda, membiarkan tubuh mungilmu menggelayut manja di bahuku ketika aku menyetir, mengajakmu naik kereta seharian sampai sudut kota orang, berburu foto selfie yang malu-malu, kadang tak tahu malu. Ah, sudah lama sekali aku tak mendengar istilah selfie. Album foto sudah terarsip apik ribuan exabyte dalam otak rekayasa manusia 2049. Cuma aku yang masih setia menyisipkan foto kertas dalam dompet. Fotomu. Foto selfie kita.

Aku ingin muda selalu. Ingin segalanya terhabis bersama denganmu. Mari, lihat kotamu yang berbeda; hujan yang turun sudah bukan semata air dan air mata. Zat asam ikut serta. Mobilku satu dari sedikit kendaraan yang masih melayang di aspal; kini lalu lintas udara jauh lebih padat. Pohon yang kita saksikan di taman sekarang adalah pohon buatan. Sesekali kita harus membeli tabung oksigen yang harganya tidak terlalu murah, jika ada suara sirene tiga kali melalui telepati. Aku jemu saksikan periutan (bukan perkembangan) kota ini seorang diri selama puluhan tahun. Sudah saatnya kau kembali. Ke sini.

Pulanglah, datanglah, kembalilah ke kotaku, kotamu, kota kita, kota di mana kita dipertemukan. Peluklah tubuhku yang renta, hingga kita sama-sama menua bahagia, kekasih. Kemudian, pada suatu dini hari, salah satu di antara kita ada yang menangis kehilangan. Harapku, yang kehilangan pun yang meninggalkan sama-sama merias bibirnya dengan senyum, dengan setia. Ya?

Kota Kita, 4 Juli 2049.

Penunggumu[]