29 July 2014

Menua Bahagia

6 comments :
Lebaran adalah ajang untuk menakar seberapa tuakah kita tahun ini?

Sekalipun perayaan rutin tahunan, lebaran kerap membekaskan kejadian yang kemudian menjadi kenangan yang berbeda-beda. Tahun ini saya masih menerima pertanyaan yang sama dari paman, bibi, uwa, sepupu: sudah semester berapa? Semoga lebaran tahun depan pertanyaannya tidak berubah menjadi sudah punya istri berapa?

Tanpa disadari, orangtua dan orang-orang tua pun semakin tua. Paman, bibi, uwa, semuanya berubah. Semasa kanak-kanak, saya suka menguping mereka sedang membahas ihwal perkembangan anaknya semacam pendidikan beserta seabreg prestasinya, namun kini topik obrolan mereka takkan jauh dari penyakit dan obat, dengan intonasi yang tidak bulat.

Kampung halaman saya kian berat oleh macet, banyak sekali manusia yang punya mobil sekarang, motor-motor seenaknya berseliweran seperti capung. Begitu lain dengan belasan tahun silam. Kini sawah-sawah disulap perumahan dan leretan rumah toko. Tetangga sekitar gang satu per satu berpindah ke tempat lapang yang lebih menenangkan, beberapa sudah berpulang dengan tenang. Rumah-rumah yang dijual, oleh pemilik barunya dipecah menjadi beberapa lokal, berubah menjadi kontrakan dengan penghuni-penghuni asing. Kampung kami sudah menjadi kampung orang, kampung pendatang.

Sesungguhnya ingin sekali memindahkan rumah di kampung ini beserta segenap kenangannya ke rumah yang satu lagi di kota lain. Sayang sekali, kenangan bukanlah dagangan toko online yang mudah dikirim tepat waktu melalui jasa kurir.

Mengapa waktu cepat sekali bergulir? Rasanya baru kemarin saya merajuk dan pundung di mal sebab tidak boleh memilih baju lebaran sesuai selera saya (sekarang baru sadar, selera saya alangkah menyedihkan, dulu). Serasa kemarin jemari mungil saya dituntun oleh ayah saya ke lapangan untuk salat ied, namun tadi pagi saya yang memapah beliau yang hanya bisa berjalan tertatih-tatih dan sesekali tersandung trotoar rusak. Secepat itukah?

Di sela ruap resah dan gelisah, saya berharap ini cuma mimpi kemudian akan ada suatu masa saya terbangun di kasur yang sama dengan ibu dan ayah saya. Dan saya mengompol akibat mimpi buruk itu.

*

Dan ternyata saya memang bermimpi! Saya dibangunkan oleh harum kopi ayah, dan semilir sambal goreng kentang yang sedang dihangatkan ibu. Buru-buru saya lungsur dari risbang, lantas menilik sosok bocah enam tahun di dalam cermin yang menempel di lemari. Duh, baju lebaran yang dicoba semalam rupanya saya bawa tidur semalam. Lengkap dengan sepatu semata kaki yang bisa menyala itu.

"Cepetan mandi, Py. Sebentar lagi kita berangkat salat, lapangan keburu penuh. Kan udah dibeliin sepatu yang bisa nyala, Cepy harus nurut yah."

Ah, ayah masih bisa berbicara dengan jelas. Saya senang sekali.[] 

Bandung, 1997

6 comments :