06 July 2014

Surat Terbuka 2049

2 comments :

Malam ini sama dengan suatu malam di bulan Juli tiga setengah dasawarsa lalu. Semasa remaja, kita biasa membincang kesunyian, dalam hangat pelukan. Kali ini aku dan kesunyian yang membincang tentang kamu. Kota ini kian sepi, ditinggal orang-orang baik, tersisa orang-orang yang sedikit picik, selicik politik. Demikian pula aku, kekasih... sepi, sepi sekali. Kau dengar dengkuran kulkas di dekat pintu samping rumahku, kan? Ya, kulkas itu pun sudah cukup tua, sepertiku.

Aku masih sering menyeduh kopi hitam―minuman dukun yang sering kau ejek itu―oleh didihan air mata. Sayangnya, setelah kuseruput, air likat itu mengalir lagi dari mataku, dan berinaian ke dalam cangkir semula. Hanya saja warnanya tak lagi hitam. Merah. Seperti darah. Atau memang darah? Entahlah. Bukan perubahan warna kopi yang kurisaukan malam ini sampai-sampai aku berpayah menulis surat untukmu, padahal sekarang kantor pos saja sudah punah semenjak dua puluh tahun lalu. 

Aku cuma ingin bertanya, masih menawankah sepasang mata bola pingpongmu? Aku bersyukur menyukaimu karena matamu, bukan mulus wajahmu: setidaknya mata takkan mengeriput seumpama kulit wajahmu yang perlahan dikerkah usia dan derita; mata adalah organ yang berdimensi sama semenjak manusia bayi hingga dikafani. Abadi. Aku suka yang abadi, seperti matamu. Tidak seperti kehadiranmu yang kadang-kadang, layaknya sekarang.

Tiga tahun lalu aku purna dari tugas dunia. Dua tahun lagi aku 60. Cukup tuakah, Sayang? Aku tahu, kau pasti terkikik mendengar tanyaku, sebab dulu saja kau selalu merisak mukaku sebagai muka yang tak sepadan dengan usia kala itu. Apa lagi sekarang! Sebetulnya aku malu mengutarakannya, tapi harus, supaya kau percaya. Sekarang, kau bisa becermin di kepalaku. Berat badanku naik lagi: di tahun 2049, dengan mudah aku bisa menghitung berapa langkah kakiku bergerak setiap hari. Stroke, diabetes, encok, komplikasi, aku pasrah saja menerima mereka. Jikalau bisa, aku pun ingin menunggumu sepasrah menerima kenyataan penyakit-penyakit manusia lanjut itu.

Kuharap kau masih bisa membaca surat ini. Dulu, kau selalu menolak dengan tekad matang jika kuajak ke toko buku. Membosankan, katamu, lebih baik berlama-lama di toilet. Demikianlah, alhasil aku kerap mencuri-curi waktu sendiri untuk mengincar buku-buku, tanpa kau temani. Tapi kali ini... 

Kau benar, Sayang. Manusia tak lagi butuh buku. Sekarang tak mudah mencari buku dalam bentuk "buku" seperti 35 tahun lalu. Kalaupun ada, mahal. Sepadan sepuluh gram emas. Bahan baku untuk membuat buku saja sudah hampir tak ada, Sayang, tandas. Bolehkah kita menyalahkan ketamakan presiden-presiden di masa lalu? Yang tumbuh di hutan kini adalah ribuan pohon menara provider seluler, reaktor nuklir, ratusan radar yang menakutkan, dan bahu-bahu beton raksasa. Segalanya serba elektronik; nano technology. Pun kuketik surat ini tak mengenakan 10 jemari, cukup mengangankan alur kata dan rasa, surat langsung terhidang dan mengudara. Ini 2049.

Semoga lima hari lagi, presiden yang terpilih adalah presiden yang agak baik. Orang baik sudah mati. Pilih yang agak saja, cukup.

Kekasihku. Andai saja usia bisa dikomersialisasikan. Aku ingin menjual 35 tahun. Biar, aku rela tak dibayar pun oleh si pembeli. Aku masih ingin memberikanmu boneka panda, membiarkan tubuh mungilmu menggelayut manja di bahuku ketika aku menyetir, mengajakmu naik kereta seharian sampai sudut kota orang, berburu foto selfie yang malu-malu, kadang tak tahu malu. Ah, sudah lama sekali aku tak mendengar istilah selfie. Album foto sudah terarsip apik ribuan exabyte dalam otak rekayasa manusia 2049. Cuma aku yang masih setia menyisipkan foto kertas dalam dompet. Fotomu. Foto selfie kita.

Aku ingin muda selalu. Ingin segalanya terhabis bersama denganmu. Mari, lihat kotamu yang berbeda; hujan yang turun sudah bukan semata air dan air mata. Zat asam ikut serta. Mobilku satu dari sedikit kendaraan yang masih melayang di aspal; kini lalu lintas udara jauh lebih padat. Pohon yang kita saksikan di taman sekarang adalah pohon buatan. Sesekali kita harus membeli tabung oksigen yang harganya tidak terlalu murah, jika ada suara sirene tiga kali melalui telepati. Aku jemu saksikan periutan (bukan perkembangan) kota ini seorang diri selama puluhan tahun. Sudah saatnya kau kembali. Ke sini.

Pulanglah, datanglah, kembalilah ke kotaku, kotamu, kota kita, kota di mana kita dipertemukan. Peluklah tubuhku yang renta, hingga kita sama-sama menua bahagia, kekasih. Kemudian, pada suatu dini hari, salah satu di antara kita ada yang menangis kehilangan. Harapku, yang kehilangan pun yang meninggalkan sama-sama merias bibirnya dengan senyum, dengan setia. Ya?

Kota Kita, 4 Juli 2049.

Penunggumu[]

2 comments :