22 August 2014

Pidato Kenegaraan Terakhir di Bulan Agustus

10 comments :
Ketika tengah selonjoran di lantai selesai bersepeda pada Jumat 15 Agustus silam, saya mendengar suara orang berpidato yang intonasi terstrukturnya sangat familiar di breaking news Kompas TV. Bukan breaking news tentang sidang di MK seperti kemarin-kemarin, melainkan pidato kenegaraan. Bisa Anda tebak siapa yang sedang berpidato? Atau, mungkin saya keliru bertanya, siapa yang dengan sepenuh kalbu menembangkan lagu gubahannya sendiri?

Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Purnawirawan karismatik yang sudah memimpin Indonesia sejak saya SMP hingga belum lulus kuliah kini. Masih ingatkah Bapak, telah berapa kali menaik-turunkan BBM selama sepuluh tahun pemerintahan Bapak? Lain dengan Bapak yang pelupa, ingatan saya selalu segar mengingat ketika emosi saya naik turun jika BBM saya tak dibalas-balas pacar sampai saya marah-marah—seperti anak kecil yang bangkrut main monopoli—sebelum ia memelas maaf atau justru saya yang mengemis maaf sebab setelah sekian lama saya tunggu dalam diam rupanya ia tak kunjung meminta maaf dan malah leha-leha saya cuekin.

Pidato kenegaraan selalu dihelat beberapa hari jelang negara ini berulangtahun pada 17 Agustus. Ia semacam laporan protokoler sekaligus curahan hati tahunan presiden. Pidato kenegaraan tahun ini adalah pidato yang saya ragu bisa tonton lagi pada tahun depan: mungkin saja presiden selanjutnya takkan menggelar pidato tahunan, melainkan gigs tahunan dengan genre Rock diwakili Arkarna, Jazz oleh Barry Likumahua, serta Pop dilantunkan oleh Slank atau bahkan Jason Mraz di hadapan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Saya harap ada pula genre unknown, sehingga Pak SBY tak usah berkecil hati lantaran besar sekali peluang Bapak untuk diundang hadir sebagai biduan dengan lima album dalam sepuluh tahun penuh karya.

*

Omong-omong ulang tahun, sebagaimana Indonesia dan Syahrini, usia saya pun berulang dan berkurang di bulan Agustus. Kepada Bangsa Indonesia dan Princess Syahrini, mari kita bersulang dengan secangkir wedang guna merayakan zodiak kita yang sama: Leo (23 Juli – 22 Agustus), seraya mendiskusikan tentang diri kita; mengapa kita tak kunjung segagah Singa, malah justru semanja Kucing dan seemosional Anjing? Mustahil saya jawab dengan jujur, karena konon Leo itu keras kepala, ego dan gengsinya selangit.

Terlepas dari kesamaan zodiak, saya merasa alur kehidupan saya lebih dekat dengan negara ini ketimbang dengan Princess Syahrini. Pasca krisis 98, Indonesia berpayah-payah bangkit untuk kembali stabil sebagai negara berkembang yang sesaat layu pasca tragedi itu. Tahun demi tahun berlalu, reformasi pun mengakar: daun-daun kering dan parasit orde sebelumnya perlahan-lahan tersapu oleh tunas-tunas segar yang lebih berani sekaligus dianggap makhluk dari planet Nemec. Meskipun banyak dihujat politisi-politisi basi, mereka kian bertumbuh dalam ranah yang baru; two point zero era, ketika aksi dirasa jauh lebih berfaedah tinimbang sensasi.

Entahlah, apakah ini berkat kesuksesan sepuluh tahun Pak SBY, ataukah memang rakyat sudah mulai dewasa dalam berdemokrasi, sehingga rakyat mulai menanamkan ikrar “apa yang sudah saya berikan kepada negara ini?” serta mengabaikan “apa saja yang negara telah berikan kepada saya?”

Demikian pula dengan saya. Ada saja kegelisahan, kekecewaan, secuil tragedi mengenaskan, namun itu bukanlah sesuatu yang harus jadi perhatian. Kebahagiaan yang menyejukkan jauh lebih banyak, jika saya banyak-banyak bersyukur. Bahagia itu sederhana, tidak serumit upaya saya dalam menyongsong kebahagiaan belakangan ini. Saya harus banyak belajar kesederhanaan kepada daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Bukan begitu, Pak Tere Liye?

Apakah ini tulisan udar-rasa tahunan terakhir di bulan Agustus?

Saya ingin hidup seribu tahun lagi, acap kali menjadi rapalan andalan agar saya optimis beraktivitas dan merengkuh erat angan supaya tak mudah diterpa angin. Tapi, saya tertegun memaklumi bahwa ungkapan percaya diri Chairil Anwar yang paling kita kenang itu justru bermakna sebaliknya, menurut tafsir Ahyar Anwar.

Memang benar, 23 tahun saja sudah sebegini beratnya. Saya tak sanggup menghitung berapa banyak “ah”, “sialan”, “kampret” yang saya obral setiap jamnya, sebelum saya menyadari, semata Kemudahan dan Kemurahan dari-Nya-lah yang membuat saya bisa luntang-lantung seenaknya di tanah air ini—yang juga baru saja berulang tahun itu, bertemu, tertawa, menangis dengan kamu, kalian, dia, mereka, di dunia nyata yang kerap kali terkesan maya, maupun di dunia maya yang kadang terasa lebih nyata ketimbang dunia senyatanya.

Terima kasih. Tanpa kamu, kalian, dia, mereka, hidup adalah gado-gado yang hanya terdiri dari kubis layu tanpa dimeriahi aneka sayuran segar lain, gurih bumbu kacang dan sengatan cabe rawit. Oh, ya, satu lagi, kehadiran Mpok gado-gado. Saya khawatir kelewat seksi andai memaksakan mengulek sendiri. Yang seksi dan bersensasi cukuplah Princess Syahrini.[]

PS. Entah ini kabar gembira seperti ekstrak kulit manggis atau kabar membosankan semacam alasan-alasan menampik kekalahan. Ini adalah ulang tahun pertama di mana saya menyaksikan dunia dengan kacamata saya sendiri, dalam artian sesungguhnya. Header blog saya beroleh kenyataan.