22 September 2014

Syukur

14 comments :
Menurut saya, social media itu racun. Scroll layar dikit, terhamparlah foto temen yang lagi travelling entah di pulau/pantai/gunung/kota apa.

Setelah puas ngeces ngeliat pasir putih ataupun negeri di atas awan, scroll layar lagi, ada foto makanan enak, dan seperti kita ketahui, makanan enak itu mahal. Dengan dilengkapi apdetan check in di sebuah kafe/resto/angkringan/atau apalah namanya yang sedang hip.

Sampai tak hingga scroll, kurang lebih seperti itulah, serupa. Selain unggahan foto bareng pacar di pantai dengan bibir dimonyong-monyongin, cowok mencium pipi (bahkan bibir) cewek yang sedang berpakaian minim dan menggelinjang bahagia, kelihatannya.

Saya hampir gak pernah merasa bahagia kalo lagi megang hape, gegara alesan-alesan itu. Dan gawatnya, saya maenin hape setidaknya enam jam setiap hari. Belum termasuk curi-curi maenin hape pas kuliah.

Jadi inget jaman dulu. Bisa maen gambaran dragon ball aja seneng banget. Apa lagi kalo menang banyak, kalah aja rasanya seneng banget bisa maen sama temen.

Saya pun masih inget banget, menceploskan bola plastik ke gawang lawan yang dibatasi sepasang sandal jepit. Itu adalah gol pertama seumur-umur, soalnya saya paling gak bisa maen bola. Minder, suka dikatain “masa Del Piero gembrot” karena saya sempet dibeliin baju Juventus dengan nama punggung Del Piero sama bapak.

Tapi saat terjadinya gol perdana tersebut, kebetulan saya maen sama temen-temen yang asyik. Bukan tukang bully seperti temen satu sekolahan SD. Rasanya bahagia banget nemu temen baru yang tulus bagi bocah introvert nan gendut seperti saya.

Pengin hiburan agak canggih, cuma ada televisi. Ketawa-ketiwi nonton Spontan uhuy. Merhatiin style rambut Ira Kusno di Liputan 6. Atau berkhayal bisa jadi Jun yang punya Om Jin, atau punya pacar Jinny oh Jinny.

Meski fasilitas minim, rasanya dulu itu tenang banget. Tenteram, meskipun teknologi jauuuhh dari sekarang.

Entah faktor usiakah? Atau memang jaman selalu berubah, dan kita terpaksa mengikuti arus hidup aja? Mungkin, seperti value of money, masa lalu selalu bernilai lebih ketimbang masa sekarang.

Ah, sepertinya mesti keluar rumah. Tanpa bawa hape. Jalan kaki, cukup bawa mata dan hati.[]

17 September 2014

Diet yang Paling Manjur

8 comments :
Diet terbaik adalah pacaran. Kau rela menahan lapar setiap hari demi menyisihkan uang bulanan untuk sekadar mengajaknya ke kafe atau bioskop atau nonton konser atau membelikannya hadiah kecil pada akhir pekan. Ketika ia tersenyum menerima pemberian kamu, laparmu sudah menjadi masa lalu ditimbun oleh rerimbun bahagia. Namun saat respons ia biasa saja atau kau lirik menu yang ia pesan di meja kafe tersisa lebih dari separuhnya, tak habis, hatimu menangis, teringat perjuangan mengabaikan lapar hari-hari kemarin demi menyenangkannya, dan rupanya ia tidak terlalu senang. Endingnya, nafsu makanmu hilang.

Tanpanya, memang kau dapat tetap beraktivitas. You can live without her. Langit masih biru dan berawan, jalanan masih padat dan macet. But your life is more colorful with her in it. Ia adalah pelangi yang hadir tak sering, hanya sesekali atau bila kau beruntung dapat mengagumi cantiknya pada suatu senja sehabis gerimis.

Bagimu, melihat ia tertawa riang sudah cukup mengenyangkan perut keroncongan. Saat melihatnya menangis, hatimu pun ingin menangis namun gagal sebab kau sadar berbeda gender dengannya. Kau harus tegar. Dan, kau harus minta maaf padanya entah siapa pun yang salah.

Diet terbaik adalah pacaran. Ketika kau mulai peduli kesehatan, dan mulai mengikuti gaya hidup bersih plus sehat kaumnya. Perlahan melupakan polah hidupmu dulu yang berantakan. Demi masa depan.[]