27 October 2014

Petrichor in October

4 comments :
Selalu ada kejutan di bulan Oktober. Tahun ini pun demikian, dan sebentar lagi Oktober berlalu, meninggalkan banyak cerita. Namanya kejutan, tentu saja segala rupa itu datang dengan mengejutkan, secara impulsif. Memeras adrenalin sekaligus membuat saya belajar banyak dari Oktober, yang tentu perlahan akan menjadi masa lalu.

Berakhirnya Oktober biasanya membuka musim baru: musim penghujan (yang tidak terlalu saya sukai). Sebelum benar-benar penghujan, cuaca akan galau lebih dulu, pancaroba namanya. Kemarin sore hujan lebat (sampai-sampai Cibinong pun banjir, entahlah Jakarta), sore ini kami bermandi matahari jingga yang masih menyengat kemudian berangsur hangat menjelang magrib. Entahlah esok, hanya penghujung Oktober yang tahu dan berhak memutuskan, sebab tukang tenung ramalan cuaca kerap berdusta.

Pancaroba melahirkan penyakit musiman. Radang, panas dalam, batuk, pilek, patah tulang, patah hati. Yang terakhir tak kenal musim sepertinya. Saya pun demikian, kepala saya cenat-cenut sejak Minggu sore, badan pegal-pegal, butuh pelukan. Selain gegara hujan, saya pun sadar terlalu banyak makan pedas sehingga perut pun menyeret kaki  ke toilet beberapa kali hari ini, sebelum berangkat kuliah. Mudah-mudahan sore ini tidak hujan yang berpotensi memperparah keadaan badan.

Namun untunglah ada yang membangkitkan semangat di tengah pancaroba, yaitu aromanya. Aroma tanah basah, yang bercampur rumput, rumpun, aspal atau apa pun yang terbasahi oleh air hujan, termasuk tahi kambing mungkin. Ada beberapa orang yang sangat tidak menyukai aroma tersebut, termasuk pacar saya, bikin pusing katanya. Ah, sepertinya lebih pusing memahami kode-kode kamu pas pedekate dulu deh. Ehm.

Sebelumnya saya hanya mengetahui aroma tanah basah, atau bau tanah atau bau hujan, mengenai istilah aroma yang hadir pada pancaroba ini. Barulah ketika menyimak linimasa pada suatu sore, mata saya menyambar istilah asing dari cuitan teman. Petrichor. Dengan diikuti kata-kata yang setidaknya memaparkan damainya aroma hujan pertama kali. Hmm.. berarti, petrichor itu aroma tanah basahkah? Iyakah? 

Saya langsung berselancar dan mengetikkan kata petrichor di google. Kemudian langsung menemukan jawaban di urutan pertama pencarian, Hmm.. ternyata ada diksi yang lebih tepat untuk mewakili aroma tanah atau rumput basah:

pet·ri·chor
ˈpeˌtrīkôr/
noun
  1. a pleasant smell that frequently accompanies the first rain after a long period of warm, dry weather.
    "other than the petrichor emanating from the rapidly drying grass, there was not a trace of evidence that it had rained at all"

Tentu teman-teman pun tahu bagaimana aroma tanah basah itu? Menurut saya, petrichor itu mendamaikan, bikin rileks pikiran, terlebih bila sedang ada di rumah. Beda perkara jika menghidunya ketika sedang menembus tirai-tirai hujan lebat di atas motor tanpa berbalut jas hujan yang terlupa. Aromanya terlalu overdosis, dan tentu saja berpeluang mengakibatkan masuk angin kemudian meriang. Baiknya, nikmati petrichor sedikit-sedikit saja, tak usah serakah.


Namun demikian, aroma petrichor, kadang bikin sesak. Seperti aroma modus; cowok yang modusin cewek orang. Tiada solusi lain, selain menutup hidung dan berselimut sambil berdoa, toh sebentar pun aromanya hilang, terisap kemarau dan kesabaran.

Selamat hari blogger nasional. Di tengah realitas tenggelamnya blog-blog senior yang hiatus disebabkan kesibukan dan terlalu mudah dan nyamannya berbagi di media sosial selain blog, alhamdulillah, saya masih bangga (ngaku-ngaku) sebagai blogger. Blogger curhat.[]

4 comments :

  1. Replies
    1. di bekang lebih tepatnya. sebelum tanjakan itu lho :O

      Delete
  2. Selamat hari blogger. Gw kemaren dapet menikmati petrichor pas naik ojek pulang. Segeeeer banget rasanyam habis itu ujan deres..

    ReplyDelete
    Replies
    1. selamat hari blogger juga! widih, di jakarta hujan juga, mas?

      Delete