12 November 2014

Merisak Igor Saykoji

6 comments :
Pagi kemarin, lupa hari apa, saya iseng buka youtube. Klik dan nonton beberapa video konser musisi indie, standup comedy yang udah pernah tayang di TV ataupun show-show yang sempat direkam youtubers oleh kamera amatir. Dua jam kemudian, saya mendadak ngantuk, tapi langsung cenghar saat melihat link video Kick Andy: Aku Di-bully, Aku Survive.

Kenal gak sama Ignatius Rosoinaya Penyami? Asing ya. Tapi saya yakin kalau saya katakan Igor Saykoji, temen-temen pasti langsung pada ngeh. Ya, itu nama aslinya Igor, yang ternyata lumayan panjang.

Saya menonton video itu sambil tertawa-tawa. Padahal isi video itu bukan mengisahkan kelucuan. Bahkan sebaliknya, kegetiran hidup Igor. Mengapa saya tertawa? Sebab saya merasa banyak kemiripan dalam hidup saya dengan apa yang diceritakan Igor: serpihan kegalauan dia gara-gara perlakuan sesamanya di masa kecil, masa remaja tanggung, hingga sekarang. Kegetiran adalah tragedi, namun dengan berangsurnya waktu, tragedi malah akan berkesan sebagai komedi.


Igor mengaku sempat patah arang semasa bersekolah di SMP. Dia bingung, dia merasa bukanlah siswa yang populer, pintar secara akademis, atau jago olahraga. Bukan siswa apa-apa. Kalau Igor bersekolah di 2014, mungkin bakal ngedumel, "Aku mah apah atuh... bola salju diterongin."

Di sekolah, ada siswa yang jago olahraga, ada yang jago akademis, ada yang jadi ketua OSIS. Tapi yang kasihan yang tengah-tengah. Gak masuk ke-mana-mana. Seperti saya.
―Igor Saykoji

Lazimnya, semenjak SMP, semua siswa berlomba-lomba untuk membuktikan diri mereka populer dan menuai pesona, supaya banyak temen, banyak penggemar, banyak pacar, dalam ekskul basket, misalnya. Padahal, batinnya, jikapun ia masuk tim basket, mungkin Igor bakal terpilih jika semua pemain cadangan sudah habis atau cedera. Itu pun tim basket cewek lawan cewek.

Alhasil, sampai SMA, Igor dikenal sebagai cowok cupu yang tertutup, suka menyendiri di pojokan kelas dengan kuping tertutup headset; ngedengerin musik. Hingga ia diejek Sayko (maaf kalau salah mengeja) oleh salah seorang teman, namun lucunya kata Sayko malah mewujud sebagai nama panggung Igor sampai sekarang―Saykoji―yang membuatnya tenar dan hidup bahagia dari karyanya.

Lucunya lagi (aneh, kisah muram kok banyak lucunya), mayoritas yang suka membully alias merisak Igor adalah cewek-cewek. Kata dia, cewek itu suka sadis dan nyelekit kalau ngomong, nyakitin hati banget, apa lagi sama cowok cupu yang gak punya daya tarik menonjol di kalangan kaum mereka.

Sampai-sampai, sempat ada suatu masa Igor menjaga jarak dari cewek, lantaran trauma dengan sikap mereka padanya. Namun demikian suatu hari ia bertemu dengan perempuan yang baik, dan perempuan itu adalah perempuan satu-satunya yang ia pacari dan ia peristri hingga memiliki buah hati. Jujur, mata saya berkaca-kaca pada scene barusan. So sweet, aih!

Risakan kepadanya berlanjut hingga ia merintis karier sebagai rapper, namun mungkin lantaran sudah terbiasa dan kebal, Igor berhasil menerabas segala aral, dengan jalan yang tak mudah, tentu.

Lantas, apa yang menjadi turning point Igor dan bagaimana cara ia mengatasi aneka ragam risakan hingga bisa pede bahkan terkenal sebagai rapper dan aktor layaknya sekarang?

Dia menjadikan kritikan sebagai inspirasinya dalam berkarya. Justru, kritik malah akan membuat kita mawas diri, sebab kita saja jarang menelanjangi sifat-sifat kita, ini malah ada orang lain yang "berbaik hati" alias kerajinan membedah, mencincang, menggoreng, kemudian menghidangkan borok-borok matang kita pada kita. Positive thinking aja, katanya. Namun, kalau kita merasa sudah berada di jalur yang benar, biarkan saja mereka berceracau.

Apa pun yang orang bilang, bukan itu yang menentukan. Justru apa yang kita bilang tentang diri kita sendiri, itu yang bisa bikin kita mengeluarkan yang terbaik. Sebab bisa jadi, apa yang kita capai, jauh lebih baik dari yang mereka katakan soal kita.
―Igor Saykoji

Salah satu karya yang lahir dari kritikan tersebut adalah lagu berjudul Jalan Panjang, yang menyiratkan bahwa tekad Igor takkan hilang kendati apa pun yang orang lain bilang tentang ia. Sebab, katanya, jalan kita masih panjang, masih panjang...[]

08 November 2014

Menunda Mandi Pagi

3 comments :
Seandainya setiap hari sensasinya seperti Sabtu ini yang bikin tubuh dan pikiran semangat sejak terjaga dari kasur beraroma ludah kering. Walaupun tetap saja menunda mandi pagi, karena sudah jadi habbit.

Ada tugas kuliah tentang pneumatik. Mengerjakan tugas itu tidak semalas mengerjakan tugas yang lain. Walaupun sudah berjam-jam sejak tadi pagi, saya terus browsing dan memahami literatur, hingga selesailah bagian saya, kecuali contoh soal yang mesti dipelajari lebih lanjut (biasanya dibaca sebelum tidur, kemudian ketiduran deh).


Kata temen sih, pnematik emang lebih gampang dari hidrolik. Gak tahu lah, kenapa bisa begitu, yang penting selesai, dan saya tidak merasa terbebani dalam mengerjakan tugas kelompok itu.

Selain tugas pneumatik, sudah menanti tugas-tugas lain yang mumet. Di antara seabreg tugas presentasi tersebut, ada yang saya nanti-nanti: tugas instrument. 

Apakah kedua hal itu renjana saya (passion)? Atau cuma perasaan saya? Ah, lupakan. Mari malam mingguan, teman.[]