30 December 2014

Senin Terakhir di Braga Permai

2 comments :
Ketika masuk ke kafe maupun foodcourt, memindai menu satu per satu, pernahkah kepikiran seperti ini: "Aduh, lagi-lagi ayam goreng kremes paket nasi putih sebesar kepalan, nasi goreng, minumnya lagi-lagi jus jeruk, lemon tea, mentok-mentok teh botol."

Padahal rasa pecel ayam pinggir jalan jauh lebih enak daripada ayam goreng di pujasera, dengan hati damai sebab harganya lebih masuk akal. Bonus teh tawar anget lagi!

Semalam, sebelum kembali ke Bogor dari macet-macetan seharian di Bandung bersama pacar (iya, si M itu) dan sepasang pacar (ceritanya double date), saya mengajak mereka ke jalan Braga untuk mengisi perut. Pilihan saya ke Braga lantaran kebawelan mereka yang kecewa sepulang dari De Ranch, Lembang. "Gitu-gitu aja ternyata. Kalo di internet kayaknya waw banget. Untung sih banyak objek foto-foto cantik. Tapi, jauh-jauh ke Bandung, menu di foodcourtnya biasa aja, ujung-ujungnya nasi goreng, ayam kremes lagi."

Gimana, udah mirip koboy belum?

Gimana, udah mirip BenJosh belum?

Padahal perjuangan kami kurang apa lagi, teman. Dari Bogor ke Lembang, lokasi De Ranch, memakan waktu empat jam. Dan dua jam adalah waktu yang iyuwh keterlaluan untuk sekadar turun dari Lembang ke pusat kota, khususnya bagi dengkul dan mata mengantuk saya. Sesampai di Pasteur pukul 18.35, padahal dari Lembang jam empat sore, kami menepi ke mushola SPBU, sebab takutnya waktu magrib ludes disantap macet untuk sekadar mencari masjid terdekat.

Kemudian kami melintasi kolong jembatan Pasopati, menuju Braga yang, mujurnya, jalan menuju ke sana ramai lancar, masih berperikemanusiaan, tidak seanarkis ke Lembang, dan sedikit romantis berkat temaram lampu jalan dan gemerlap neonbox pun neonboard toko-toko yang tipografinya keren-keren.

Setelah jalan-jalan dan foto-foto sejenak meniru barudak gaul Bandung di trotoar Braga dan Asia Afrika, kami berjalan di atas pedestrian bermaterialkan batu alam, menengok kiri-kanan di mana banyak terdapat kafe, restoran, bar, maupun perpaduan ketiganya. Suasanya seperti di film-film berlatar Eropa tahun 1900an. Jadul pake banget, tapi artistik. Sebentar saja berjalan, tibalah kami di Braga Permai, disambut sopan pelayan berhem merah dof lengan panjang, mempersilakan kami duduk dan bertanya apakah hendak duduk di luar atau di dalam, dan kami putuskan untuk duduk di dalam sebab rugi banget secara sadar mengisap asap rokok para perokok di luar restoran, sedangkan tidak ada perokok di antara kami berempat.

Pelayan yang nampak sudah berusia matang itu cekatan menyodorkan menu berbentuk buku yang cukup tebal, di mana menu tersebut membuat kami bengong beberapa menit. Bukan, bukan karena harganya. Namun beneran bingung menafsirkan seperti apa makanan yang namanya aneh-aneh ini?


Kami khusyuk mengamati menu demi menu, bertolak belakang dengan tadi siang; menatap bosan menu biasa-biasa saja di pujasera De Ranch. Sungguh, referensi kuliner kami hanya sebatas Solaria, fast food, kafe-kafe karbitan, dan nasi goreng tentunya.

Mata saya langsung menyipit kala melihat Bitter Ballen!

Sepuluh menit berlalu, sudah seperti membaca literatur Elsevier saja kami dalam memperlakukan buku menu di restoran yang dulu bernama Maison Bogerijen itu. Complimentary snack datang, dan semula teman saya langsung mengira roti dan cheese stick di dalam keranjang beralaskan tisu itu pada akhirnya harus dibayar seperti otak-otak di pujasera mal-mal dan rumah makan di Bogor. Hmm.. menyedihkan ya keseringan makan di Bogor yang segala rupa pun ujung-ujungnya masuk bill, termasuk air putih dan teh tawar.

Complimentary snack: garlic bread and cheese stick, ditemani tiga macam saus

Alhasil habis juga

Menu pertama yang si M pesan adalah nasi putih. Harganya 6500, dan wajar, pikir saya. Tapi, percaya tidak, begitu datang, nasinya banyak banget! Satu lodor penuh! Melihat itu, si M malah gak jadi makan nasi karena kekenyangan makan sup ayam kental (entah, saya lupa nama versi Englishnya) yang dia pikir sebelumnya bisa dimakan sama nasi, tapi ternyata sup saja sudah bikin dia kenyang.

Sate Ayam

Dengan terpaksa namun ngiler, saya pesan sate ayam karena gak tega menatap nasi sebanyak itu dianggurin. Selain Chicken Satay yang dihidangkan di atas hotplate, saya sudah menggebu-gebu menikmati Bitter Ballen, menu legendaris khas Belanda yang katanya menu andalan restoran yang berdiri sejak 1923 ini.

Bitter Ballen! Legend!

Kopi Tubruk, bonus biskuit jahe

Kopi tubruknya lebih enak dari Starbucks. Air putih gratis dan bisa direfill, bahkan pelayan sendiri yang menuangkan dengan sigap begitu melihat gelas goblet kami sudah tinggal separuh. Suasananya sesuai dengan lingkungan jalan Braga: vintage. Damai, tenteram, menjaga sopan santun antara pelayan dan pelanggan, sejenak melupakan kebergegasan zaman modern yang membinasakan. Segenap kesan menyenangkan itu memperindah Senin malam terakhir di tahun 2014.

Dan terus terang saya tidak sanggup menjabarkan secara detail rasa aneka ragam menu yang kami pesan, karena semua-muanya enak-enak! Serius! Mulai dari makanan tradisional semacam Sate Ayam (Chicken Satay) pun Sup Asparagus, menu western seperti Braga Pizza dan Chicken Soup, maupun menu legendaris Bitter Ballen, semuanya saya kasih skor 9 dari 10! Sisa skor 1-nya saya zakatkan saja, takutnya Braga Permai takabur lantas malah memutuskan bikin ribuan franchise layaknya Capuccino Cincau, yang disinyalir bakal mereduksi kualitas pelayanan dan degradasi resep yang dilestarikan turun-temurun itu, sebagaimana bangunan resotoran ini yang senantiasa terjaga keaslian arsitekturnya.

Air putih dalam goblet yang refillable

Perkara harga, sangat worthed, teman. Porsi mengenyangkan, rasa menakjubkan, harga terjangkau, malah lebih murah dibanding makan di Solaria atau fastfood mainstream yang rasanya biasa aja.

Akankah berkunjung kembali ke Braga Permai? Pasti! Tapi, mungkin lain waktu saya ke sana, saya harus menenteng Kamus Inggris-Indonesia John M. Echols. Plus buku saku Grammar Oxford.[]

PS. Foto-foto makanan di Braga Permai bukannya sok-sokan pake filter ya teman. Tanpa filter. Lighting di dalam restoran ini sudah menghasilkan efek vintage kekuningan :D

Skor Braga Permai - Bandung :
Rasa : 9
Tempat : 8,5
Pelayanan : 8,5
Harga : 8
Instagramable : 9

2 comments :

  1. Apalagi kalau motretnya pakai SLR pasi jauh lebih bagus yaaa..

    Btw, jadi laper beneran soalnya seharian tadi cuma makan nasi sama kecap sama ceplok saja :(

    Hmm..

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha... iya nih fotonya masih ngasal ngambil anglenya :|

      *kirim foto*

      Delete