30 December 2015

Lekaslah Berlalu, 2015

2 comments :
"2015 akan menjadi tahun yang berat," seorang paranormal berujar di infotainment setahun yang lalu. Setahun bergulir, mengapa Tuhan lebih memilih mengabulkan hasil tenungan paranormal seleb itu ketimbang membaca resolusi di blog saya?

Berat badan yang kembali berat. Semakin berat.

Mungkin gara-gara kalap menyantap segala rupa makanan. Stres selalu membuat otak saya menyempit, sebaliknya usus merayu-rayu mulut melebar, agar pasokan pangan ditambah. Stres menghadapi cobaan, ujian, rintangan yang datang sporadis, kadang perlahan namun tetap berhasil menyayat hayat, terasa semakin berat.

Relationship yang kian erat, semakin dijalani semakin berat. Berat untuk melepaskan, berat untuk melanjutkan.

Gejolak ekonomi, ingar bingar politik, konflik sosial Indonesia dan hal-hal gak penting lain tambah mencekik leher ratusan juta rakyat. Apakah rakyat memang terlahir untuk mengunyahkan derita setiap menjelang jam makan para wakil rakyat?

Ah, 2015. Tahun yang berat.

Baru kiwari saya tak sabar tahun yang masih harus dipijak detik ini supaya lekas berlalu. Berlalulah yang jauh. Jangan kembali lagi.

Biarlah tulisan ini dibaca semua orang, termasuk orang-orang penting atau orang-orang sok penting, suka-suka kalian mendaulat saya sebagai manusia pesimistis, individualis, egosentris, sok idealis, budak introvert abis, dan sifat-sifat lain yang selalu negatif di mata dunia. Entah dunia yang mana. Dunia nyata yang faktanya lebih maya ketimbang dunia maya yang kadang terkesan apa adanya?

Semula saya cuma ingin menyederhanakan hidup. Namun nyatanya berusaha hidup sederhana itu rumit.[]

27 December 2015

Bakmi Jogja Pak Kino

6 comments :

Setiap malamnya, ada beberapa depot pengisi perut menarik yang sempat saya coba di sekitar rumah di Bogor sonoan dikit. Salah satunya Bakmi Jogja Pak Kino yang berada di pinggir jalan kecil menuju kawasan militer Pomad, Bogor.

Bertempat di bangunan sederhana yang sepintas mirip pos kamling, dari kejauhan Bakmi Jogja Pak Kino tampak selalu banyak dimampiri motor maupun mobil pribadi. Usai saya buktikan ke sana semalam, ternyata kedainya cukup luas, tersedia pula meja lesehan buat Anda yang ingin makan sambil selonjoran santai bersama keluarga tercinta.

Awal mulanya, saya sempat mencicipi mie godog yang dibawakan oleh kakak malam-malam. Rasanya enak dengan cita rasa rempah ringan khas jawa. Sensasi hangatnya dapet, seisi tubuh jadi ketularan hangat sehingga tambah bersemangat untuk... tidur. Ditambah saat itu sedang hujan gerimis, jadi suasananya klop banget dengan sepiring mie godog dalam pangkuan tangan. Saya tanya belinya dari mana, ternyata dari Bakmi Jogja Pak Kino di seputar jalan Pomad yang sering saya lewati.

Semalam saya penasaran mencoba mie gorengnya. Ternyata lebih enak, lebih mantap menendang lidah saya dengan cita rasa Jawa, berbeda dengan Bakmi Surabaya Cak Parman yang lekat dengan cita rasa Chinese Food. Saya memilih mie goreng sebab memang sejak kecil saya tidak terlalu doyan dengan mie yang direbus, termasuk mie instan pun harus yang goreng, kerap cemberut bila Mamah salah membelikan mie goreng dari warung, malah beli mie rebus ayam bawang atau rasa soto mie yang bungkusnya ijo itu.


Tekstur mienya sama dengan mie godog; besar-besar, diameternya lebih besar dari spageti. Empuk tapi tidak terlalu kenyal, sehingga saya tidak terlalu curiga akan penggunaan formalin dalam adonan mie yang saya makan. Suwiran ayam kampung yang ukuran dan komposisinya pas berpadu dalam resap bumbu mie goreng yang lebih kentara dibanding mie godog yang terpaksa mesti berbagi bumbu dengan kuahnya. Jadi lidah saya lebih fokus menikmati bumbu dalam mie tanpa harus menyeruput kuah. Sementara secara tampilan, sepintas menyerupai mie aceh. Ukuran mie yang besar-besar, bumbu yang pas, hanya saja rempahnya memang tidak sekomplit dan menusuk selayaknya mie aceh.

Bakmi Jogja Pak Kino menyediakan beberapa menu. Mie godog, yaitu mie yang digodog atau direbus, sehingga disajikan secara berkuah. Mie goreng yang rasanya menggoyang lidah. Magelangan, nasi goreng yang dicampur mie, istilah lain dari Magelangan adalah Nasi Goreng Mawut. Nasi godog, hampir sama dengan Magelangan yaitu nasi yang dicampur mie, hanya saja disajikan secara basah berkat kuah godog. Dan menu terakhir adalah nasi goreng yang dihargai Rp.12 ribu, sementara semua menu yang saya sebut sebelumnya cukup ditebus Rp. 15 ribu, kecuali Magelangan yang lebih mahal seribu rupiah.


Pada lain waktu saya menjajal Magelangan atau nasi goreng mawut itu tersebab penasaran. Semula saya duga bumbu khas andalan Pak Kino cuma cocok dengan mie, lain halnya dengan nasi. Akan tetapi setelah saya buktikan, keduanya menjelma duet maut yang berhasil menendang kemudian melumpuhkan selera lidah saya. Yang lebih penting adalah kadar kenyang Magelangan lebih besar dibanding menu mie sebab mungkin kalori nasi sedikit lebih besar dibanding mie. Puas sudah... perut saya KO. Demikianlah, saya tak sanggup lagi mengudar cita rasa bakmi Jogja lezat yang bermarkas di Pomad, Bogor ini.

Bila Anda penasaran untuk mencoba Bakmi lain atau belum pernah mencoba Bakmi selain Bakmi Jogja Pak Karso yang menurut saya overpriced serta tidak sepadan dengan porsi dan rasanya, silakan mampir ke kedai Bakmi Jogja Pak Kino. Dan jika Anda datang dari Kota Bogor, ambil kiri di pertigaan Pomad yang ada bangunan tua pabrik Tapioka itu, kemudian lurus terus hingga melewati kantor pos. Setelah itu pelan-pelan karena lokasi Bakmi Jogja ini terletak di sebelah kiri jalan tidak jauh dari kantor pos. Tepatnya di mulut perumahan entah namanya perumahan apa, yang pasti ada tulisan Ds. Cimandala di gerbang kompleks perumahan tersebut.

Harap bersabar menunggu antrean lantaran setiap malam Bakmi Jogja Pak Kino selalu dipadati pembeli. Namun jangan khawatir, sebab waktu tunggu memasak dan penyajiannya lumayan cepat meskipun dimasak di atas tungku arang yang menguar aroma khas, dan tiga pelayan termasuk pemiliknya selalu sigap melayani pembeli.[]

Skor Bakmi Jogja/Jawa Pak Kino :
Rasa : 9
Tempat : 7,5
Pelayanan : 8
Harga : 8,5
Instagramable : 7,5

20 December 2015

Menjajal Kupat Tahu Magelang - Cibinong

2 comments :

Ternyata kupat tahu bukan cuma milik Padalarang dan Singaparna. Magelang pun berhak untuk mengakui kupat tahu sebagai hidangan khas daerah mereka. Tentu dengan cita rasa yang berbeda.
Berlokasi di daerah Cibinong, tepatnya di Cikaret, rumah makan yang menyediakan kupat tahu Magelang ini sudah lama bikin saya penasaran untuk menjajalnya. Baru terlaksana pekan kemarin sepulang ngambil skripsi yang sudah selesai di-hardcover, akhirnya saya tergerak untuk mampir ke sini.


Plang rumah makan Kupat Tahu Magelang - Cibinong cukup jelas, karena berukuran agak besar, berlatar belakang warna kuning mencolok serta warna huruf merah. Setiba di sana saya disambut seorang mbak pelayan yang memang cuma ada seorang. Selain itu ada kasir yang merangkap pemilik rumah makan yakni H. Syahrizal.

Selain kupat tahu, tersedia pilihan menu mainstream semacam ayam kremes, ayam bakar, nasi goreng, dan sebagainya. Dugaan saya, rumah makan ini menyediakan beragam menu sebab belum tentu semua orang cocok dengan cita rasa kupat tahu Magelang, bahkan belum tentu setiap orang berani mencobanya. Tapi, karena saya telanjur penasaran sama kupat tahu Magelang, ngapain mesen ayam kremes.. kan di warung tenda pun ada.

Kurang lebih 15 menit kemudian, kupat tahu terhidang di meja. Tanpa diminta, pelayan sekaligus peracik kupat tahu itu sudah menambahkan potongan telur dadar. Padahal... justru ini yang kelak mengacaukan rasa kupat tahu Magelang, karena... asin euy, dan, kurang cocok aja menurut saya mah kalo kupat tahu atau ketoprak dilengkapi telur dadar. Jadi giung. Apalagi keasinan kayak kasus saya kemarin. Kalo telur rebus, sepertinya okelah. Tapi di sini gak ada pilihan telur rebus, sayang sekali.


Suapan pertama saya persembahkan untuk sepotong bakwan. Rasanya.. yah, seperti bakwan lah hahaa... yang untungnya gak keasinan kayak telur dadar. Lalu saya mulai berani menyeruput kuah kupat tahu yang berpadu dengan kacang tanah goreng yang tidak terlalu halus. Tanpa telur dadar supaya rasanya gak terkontaminasi dan kacau. Sepintas sih rasanya mengingatkan saya pada lontong balap. Ada manisnya, ada asemnya, ada asinnya. Gak tau, apakah memang pake petis udang juga, tapi menurut saya rasanya mirip-mirip.

Menurut hasil googling sih rempah-rempah yang terkandung dalam kuah kupat tahu Magelang terdiri dari daun sereh, lengkuas, jahe, daun salam, dan gula. Berdasar cecapan lidah, rasa yang justru paling dominan adalah... bawang putih, yang sialnya tidak terlalu saya sukai. Aromanya begitu pekat lantaran bukan bawang merah yang ditaburkan seperti lazimnya hidangan lain, melainkan taburan bawang putih goreng. Tunailah sudah kepenasaran yang harus berbalut kecewa siang itu. Mungkin lidah Sunda saya cuma cocok dengan kupat tahu Padalarang dan Singaparna. Magelang belum saatnya.

Seporsi kupat tahu khas Magelang - Cibinong yang terdiri dari kupat, tahu, bakwan, selada, taoge, kerupuk merah, dan telur dadar ini cukup ditebus Rp. 15 ribu. Masalah worthed atau tidak dengan harga segitu, barangkali selera lidah kita yang akan menentukan.[]

Skor Kupat Tahu Magelang - Cibinong :
Rasa : 7
Tempat : 7
Pelayanan : 7,5
Harga : 7
Instagramable : 7,5

17 December 2015

Abis Sidang Ngapain

6 comments :
Gak tau. Mau jogging buat ningkatin stamina, tiga hari belakangan malah hujan subuh-subuh sampai pagi pukul sembilan. Keburu siang menjadi alasan urung lari pagi. Mau jalan-jalan, gak punya duit. Apalagi backpackeran ke Thailand. Duitnya dari Hongkong. Mau hunting kuliner ke restoran yang keren-keren, bukan kelas lokal dan kaki lima, selain gak punya duit, kok sayang ya kalo cuma diabadikan pake kamera hape. Iya, belum kebeli lagi kamera yang agak bagusan. Pake kamera hape Asus ini, hasilnya banyak melahirkan noise yang bikin mata kita perih seperti foto di atas, selain memang posenya merangsang kamu untuk muntah darah.

Seperti penganggur-penganggur lainnya, sehari-hari saya habiskan di depan laptop dan televisi. Nonton kesintingan Kai Wong di DigitalRevTV dari episode lama ampe episode kemarin (iya, keinginan untuk punya kamera bagus udah akut banget). Menonton lawakan gak lucu dari sidang MKD yang udah ngeluarin tiga sekuel. Saking garingnya, malah bikin ketagihan. Kayak keripik setan. Atau memang mereka titisan setan? Nonton televisi sejak bangun tidur hingga mata perih menjelang tidur. Esoknya paginya, pusing pala barbie. Basuh muka. Setel TV lagi. Nonton lawakan garing lagi. Oh ya makan tentu saja. Tak usah saya sebut pun udah ketebak dari tubuh saya.

Gak kerasa banget sih udah mau 2016 aja. Suasana kuliah di kelas ternyata terakhir saya alami setahun silam. Mulai 2015 tidak ada kegiatan di kelas lagi, waktu saya habiskan di pabrik untuk praktik kerja dan penelitian. Tahun ini usia saya 24. Sialnya naluri mengecoh perasaan yang masih merasa sebaya ketika melintas di depan anak-anak SMA yang bikin gemes itu. Padahal anak-anak SMA sekarang sudah seusia keponakan saya. Gila... waktu itu kejam. Saat saya ingin cepat, ia lambat. Ketika ingin saya perlambat atau bahkan saya bekukan, ia terus melenggang tanpa perasaan berdosa.

Awal tahun ini saya menuliskan kata kunci "Kerja" yang ternyata tidak tercapai. Belum, jika saya senantiasa berpikir positif seperti pesan buku The Secret. Entah, jika kegalauan, keraguan merundung. Yang terakhir lebih sering muncul dalam pikiran. Sampai-sampai tensi darah tinggi.

Mungkin kata kunci tahun ini baru akan tercapai tahun depan. Mungkin. Tapi yah setidaknya skripsi sudah kelar, gak perlu lagi berpusing mengais rumus-rumus, wara-wiri revisi, gagal revisi, dan sidang pada akhirnya. Sementara tes rekruitmen kerja sudah saya lakukan. Yang dapat saya lakukan setelahnya hanya menunggu. Menunggu panggilan mereka yang harapannya abu-abu. Dan sayangnya, menunggu seakan diciptakan untuk membuat penunggu ragu. Semakin ragu. Menjelang tahun baru.[]

13 December 2015

Sate Solo Pak Rebo - Cibinong

4 comments :
Setelah ngegosipin sate Padang yang ternyata cuma kalangan tertentu aja yang menggemari, kali ini saya pengin ngobrolin sate yang lebih banyak disukai. Sate Solo. Tepatnya Rumah Makan Sate Solo Pak Rebo yang berlokasi di jalan Raya Sukahati, tidak jauh dengan McD Pemda Cibinong.

Buka mulai pukul 10 pagi hingga 10 malam, Sate Solo Pak Rebo menyediakan aneka masakan khas Jawa seperti sate, tongseng, dan nasi goreng dengan pilihan daging kambing, sapi, atau ayam yang dapat Anda pilih sesuai selera. Tersedia pula sop iga kambing dan gule kambing. Hmm.. kalo saya mah ngebayanginnya aja udah bikin kliyengan.

Dalam beberapa kali kunjungan ke sana, saya baru mencoba sate ayam dan tongseng ayamnya saja. Belum kambing karena saya khawatir tensi darah makin tinggi aja. Belum coba daging sapi juga, karena konon kalo daging sapi disate atau ditongseng bumbunya bakal kurang meresap ke dalam, sehingga rasanya kurang sedap. Tapi kayaknya di Rumah Makan Sate Solo Pak Rebo menggunakan bumbu yang serupa untuk aneka daging, termasuk sapi dan kambing, jadi saya tebak rasanya kurang lebih sama dengan rasa sate dan tongseng ayam yang sempat saya santap.


Sate ayam khas Solo mirip dengan sate ayam buatan Mamah. Sederhana, tidak mengandung banyak rempah yang kadang membuat rasanya jadi kacau. Saya suka sate macam ini, dan tidak terlalu suka sate Maranggi yang manis banget dan rasa rempah lainnya kentara juga. Demikian pula dengan siraman bumbu kacangnya. Sate Solo Pak Rebo mengusung bumbu kacang yang encer dan rasa rempah yang light untuk dicerna lidah saya, membuat lidah ini enggan berhenti menggarap suapan ayam dan nasi. Sehingga jika ke sini, saya merasa tidak cukup untuk makan sate solo sebatas dengan sepiring nasi. Harus dua piring! Kadang tiga malah hahaha..

Tongseng ayamnya pun enak, beneran. Dilengkapi dengan kol, tomat, dan cabe rawit gruntulan. Serta kuah dan rempah yang khas banget. Aroma ketumbar amat dominan dalam semangkuk tongseng ini. Dan rempah-rempah lain yang membuat makan malam kita lebih hangat pada musim penghujan ini. Daging ayamnya empuk dan bumbu terkandung pada kuah turut meresap ke dalam daging. Juara lah pokoknya!


Tempatnya luas dan bersih, buat Anda yang sudah berkeluarga pasti nyaman memboyong keluarga kecil atau besar ke sini, sebab banyak tersedia kursi-kursi jati yang siap kapan saja Anda duduki. Perihal harga cukup terjangkau. Saya kira sate-sate model rumah makan begini agak-agak mahal gimana gitu. Ternyata enggak juga. Seporsi sate ayam yang terdiri dari 10 tusuk, nasi dua piring (hihii), teh tawar, cukup saya tebus 25 ribu saja. Kadang nambah 3 ribu kalo saya ngambil sebungkus rempeyek kedele.

Rumah Makan Sate Solo Pak Rebo tampak selalu ramai oleh pengunjung, tidak peduli siang atau malam. Mungkin sudah banyak pelanggan setianya, dan sekarang tambah banyak. Termasuk saya.[]

Skor Sate Solo Pak Rebo - Cibinong :
Rasa : 8
Tempat : 8,5
Pelayanan : 8
Harga : 8
Instagramable : 7

09 December 2015

Piknik itu Pelik

4 comments :
 

Manusia itu makhluk yang rumit. Kerja eight to five Senin sampai Jumat, kadang pulang telat demi loyalitas. Memasuki akhir pekan, pengin berenang pun, mesti nyampur sama om-om, tante-tante, cabe-cabean dalam satu kolam. Kayak cendol. Macet-macetan dan menginvasi Kota Bandung yang sekarang lagi Instagramable dan Pathable banget, bikin orang Bandung asli jadi mati gaya gak bisa ke mana-mana. Tapi atas nama refreshing, kita seolah wajib menunaikannya setiap pekan, kayak salat Jumat.

Pada hari Minggu beberapa waktu lalu saya ke Taman Bunga sama Si M. Ceritanya melepas stres sejenak sepulang dari presentasi pra sidang sama Pembimbing di Cirebon pada pekan itu. Ketenteraman memang terasa, di sananya doang tapi, cuma tiga jam pikiran ini rileks (dan selfie berdua). Sementara sepanjang jalan menuju ke sononya wuuhh... malah bikin tambah stres. Kami mesti menempuh tiga jam perjalanan dari Citeureup, tapi itu belum apa-apa. Kalo kami terlambat berangkat setengah jam aja, bisa lebih molor lagi tuh.

Sudah rahasia umum jika kita ingin liburan ke Cisarua, Puncak dan sekitarnya, pasti macet. Akibat jumlah kendaraan menuju ke sana tidak sepadan dengan lebar jalan. Sehingga sudah pasti muncul kebijakan buka tutup jalan antara dua arah secara bergantian. Biasanya berselang satu jam, atau kalo udah parah banget, bisa gantian dua jam sekali buka tutupnya. Itu untuk kendaraan beroda empat ke atas. Kalo buat motor sih gak terlalu kepengaruh, sebab kendaraan roda dua ini masih diperbolehkan melaju dari kedua arah oleh Polisi. Tapi..

Ya.. gitu deh. Kudu waspada pisan, apalagi kalo kita melaju berlawanan arus dengan jalur yang sedang dibuka. Saya biasa cari aman memacu motor dengan lambat asal selamat, mendekati garis putih bahu jalan. Gegara ini, waktu tempuh pulang dari Cibodas ke Ciawi yang normalnya satu setengah jam siang itu, bisa lebih molor satu jam karena saya mengendarai motor secara pelan-pelan dan lumayan sering berhenti. Minggir sejenak ngasih jalan Fortuner, CR-V, bahkan bus yang gak sadar bodi ngebutnya minta dibaledog sapatu.

Tapi atas nama refreshing, kita seolah wajib menunaikannya setiap pekan, kayak salat Jumat.

Itu kalo naek motor. Gak tau deh kalo naek mobil pribadi kayak orang-orang berpelat B itu. Mungkin dua jam hanyalah waktu tunggu yang tersia-sia. Setelah dua jam, baru deh bisa nyalain mesin mobil. Itu pun nyetirnya mesti konsentrasi dan ekstra hati-hati, karena dapat dibayangkan suatu arus yang sebelumnya dipaksa berhenti, kalo mendadak dibuka sekonyong-konyong akan menderas lah, paheula-heula, khawatir jalur keburu ditutup lagi. Kayak emosi yang dipendam, sekalinya diumbar, rumah Syahrini bisa berubah jadi rumah-rumahan barbie.

Dan nyetir mobil itu bikin pegel tumit, betis, dan emosi. Saya pernah ngerasain. Apalagi berjam-jam bahkan seharian kedua tumit ini intens menginjak ketiga pedal (kalo yang transmisi manual) gegara jalanan padat diem, bukan padat merayap lagi. Padahal hari Minggu. Besok Senin mesti kerja lagi. Kerja itu capek, menguras tenaga dan pikiran. Selama kerja pikiran mendesak pengin cepet-cepet hari Jumat biar cepet weekend. Begitu hari Sabtu tiba, kita nyetir mobil lagi dari Jakarta ke Bandung, macet-macetan belasan jam. Dan hari Minggu macet-macetan lagi di Puncak. Besok Senin lagi. Dan siklus berulang.

Saya jadi bingung kalo gitu. Apakah rekreasi atau piknik yang kita tunaikan pada akhir pekan membuahkan tujuan rekreasi itu sendiri? Usai piknik, rilekskah pikiran kita? Segarkah raga kita? Bersemangatkah kita menyongsong Senin esok, hari yang selalu penuh kecencian?

Seringkali akhir pekan memerlukan effort yang lebih sinting dari hari kerja. Biasanya pada hari kerja agar seseorang hanya fokus ngurusin kerjaan, gak mikirin hal gak penting semacam kemacetan, ada supir yang sigap antar jemput ke mana pun. Sementara pada akhir pekan seseorang rela nyupir sendiri ratusan kilometer ke Bandung hingga pulang tengah malam demi rekreasi. Apakah kita bekerja lebih keras, mengerahkan segenap batas kemampuan manusia justru pada piknik akhir pekan? Bukan hari-hari setelahnya yang bernama hari kerja?

Jika ya, barangkali benar, kita memang makhluk yang rumit. Menganggap berakhir pekan dengan leyeh-leyeh di rumah terlalu sederhana.[]

06 December 2015

Bakso Muji Ferdianto - Ciluar

2 comments :

Bakso adalah makanan yang setia menampakkan diri di mana pun saya berada. Di mana ada pengkolan, di situ ada depot bakso Solo. Di mana ada ibu-ibu ngerumpi, di situ mangkal abang tukang bakso Wonogiri. Di mana ada perempatan, di situ ada warung bakso Malang. Bahkan mie ayam Bangka pun belum lengkap rasanya tanpa bakso. Saya curiga di hutan lindung Jambi pun ada tenda bakso, yang jualan Mas-Mas yang transmigrasi ke sana. Konsumennya babi rusa, anaconda, tujuh manusia harimau, Aliando Syarief. Ada apa dengan bakso?

Baiklah, teman-teman. Minggu pagi ini saya merasa perlu untuk membincang bakso. Yang dekat-dekat rumah aja ya (baca: yang murah-murah aja), sebenarnya lebih dekat dengan rumah kakak di Ciluar: Bakso Muji Ferdianto.


Saya tidak berlebihan menyebut nama kedai bakso ini dengan Bakso Muji Ferdianto. Memang demikian yang tertera pada spanduk, tembok, gerobak di lokasi kedai. Lengkap, sebagaimana nama tercantum pada akta kelahiran. Biasanya kan Mas Gembul, Mas Nur, Mas Yono dan nama Mas-Mas kalem lain. Namun nama kedai yang panjang plus potret lukisan di dinding itu toh memang selengkap rasa hidangannya.

Pertama kali saya mencicipi bakso Mas Muji ini ketika menghabiskan liburan semesteran ke rumah kakak di Ciluar semasih saya STM. Dari Bandung berangkat naik bus sendirian, turun di Baranangsiang dan lanjut naik Miniarta. Setiba di pasar Ciluar di mana saya harus naik ojek supaya sampai ke rumah kakak, saya merasa perut yang selalu lapar ini mesti diisi dahulu (biar gak malu-maluin dateng-dateng kelaparan dan kalap menyikat camilan yang disuguhkan). Selain empat jam perjalanan yang lumayan bikin puyeng. Maklum anak rumahan.

Waktu itu kedai bakso Mas Muji masih sempit (padahal pengunjungnya buanyaak) dan berlantai semen. Tidak terlalu representatif seperti lokasi sekarang yang telah pindah sekitar dua toko ke sebelah kanan dari kedai terdahulu. Usai menyantap bakso Mas Muji, saya merasa inilah bakso yang pas banget. Sebab kalo paling enak sih relatif ya, namun saya berani mendaulat bakso Muji Ferdianto adalah bakso yang paling bakso. Kenapa?

Kuah kaldunya tidak terlampau menyengat baik aroma maupun rasa. Disantap bening tanpa kecap dan sambal pun udah enak. Menurut saya Mas Muji gak nyemplungin gajih atau lemak sapi ke dalam dandang secara berlebihan seperti penjual bakso-bakso lain. Sebatas tulang sapi yang besar-besar sehingga kuahnya lebih light.

Sekilas pandang pun dalam kuah bakso yang terhidang pada mangkok tidak tampak bubble-bubble lemak yang tak pernah bersatu dengan kuah kaldu, seperti friendzone yang selalu bersama, tak bisa bersatu #pret. Lemak ini tentu bakal keliatan jelas jadi noktah-noktah bahkan lempengan-lempengan putih bila bakso kita biarkan dingin. Eneg-eneg gimana gitu.

Selain kuah dan rasa, aromanya pas menurut saya, tidak terlalu kuat aroma bawang putih yang sebagian orang tidak suka dengan aroma itu. Padahal bawang putih kan baik ya, bawang merah tuh yang jahat. Tekstur bakso Mas Muji tidak kenyal, namun mudah untuk dikerat dengan sendok dan garpu maupun langsung kita gigit (langsung ditelan bulat-bulat pun silakan, saya gak tanggung jawab tapi). Rangu mun ceuk urang Sunda mah. Krek-krek gitu. Menurut penikmat bakso, katanya jika bakso memiliki karakter seperti itu, maka proporsi antara daging dan sagu hampir seimbang, lain dengan bakso kenyal yang tentu saja persentase sagunya jauh lebih binal, daging cincangnya seiprit doang.

Bila Anda penasaran sama panjangnya nama warung bakso ini, silakan melipir ke pasar Ciluar. Terletak di seberang pertigaan pasar Ciluar, Jalan Raya Bogor-Jakarta. Namun karena parkirannya cuma cukup memuat lima atau enam motor, enaknya diparkir di seberangnya aja yang ada tempat fotokopi dan tukang jahit. Di situ ada areal parkir yang lumayan lapang. Gak bakal nyasar lah, nama kedainya aja udah kurang lengkap gimana tuh. Ada foto potret Mas Muji juga di spanduknya. Mustahil ketuker sama warung bakso lain.

Selamat berhari Minggu, teman. Musim mangga hampir berakhir, menjelang musim rambutan, menjelang akhir tahun. Sudah menyiapkan agenda liburan tahun baru?[]

Skor Bakso Muji Ferdianto - Ciluar :
Rasa : 8,5
Tempat : 8
Pelayanan : 8
Harga : 9
Instagramable : 7

29 November 2015

Membelikan Sate Padang di Dustira

4 comments :

Pada doyan sate Padang, gak?

Saya rasa, sate satu ini tidak mudah digemari layaknya sate-sate lain. Jarang sekali orang sekitar yang menjawab "enak mampus!" ketika saya melontar pertanyaan di atas. Temen saya, Reza, gak suka sama sate berbumbu mengkilap itu. Si M katanya pernah nyobain sate Padang sama temen perempuan dia dulu, namun sesudahnya dia mengaku gak doyan. Termasuk Mamah, konon ngeliat bumbu kentalnya aja geli. Boro-boro pengin nyicipin.

Tidak seperti seblak yang udah jadi makanan hidup mati #pret, belum terlalu lama saya mengenal sate Padang. Pertama kali makan sate Padang karena penasaran. Saya baru mencobanya beberapa minggu kemudian setelah suatu malam di rumah sakit Dustira pada Mei 2010, A Deny, kakak sulung saya minta dibeliin sate Padang sebab dia mengaku belum makan sejak siang. Sementara perut saya udah kenyang, makan apa gitu ya, lupa. Jadi malam itu cuma beli sate Padang satu porsi buat A Deny doang.

Menghidu wangi bakaran khas sate yang sedap plus ngeliat dia makan dengan lahap, saya jadi ngiler sih. Untunglah kantuk menyelamatkan saya dari kalap. Toh badan saya lebih butuh istirahat sejenak buat jaga-jaga kalo Apa kenapa-napa. Ya, malam itu kami berdua nginep di Dustira nungguin Apa yang lagi diopname. Dan dia emang nyaris gak tidur semalaman itu. Kebangun terus bolak-balik minta ke jamban, padahal kata dokter, sementara dia gak boleh pipis ke kamar mandi karena kemaluannya udah dipasangin kateter.

Tapi dia beneran bandel pisan waktu itu, maksa-maksa kami buat memapah dia ke jamban, bongkar pasang kateter. Entah udah berapa kali saya manggil-manggil suster buat benerin jarum kateter gara-gara kelakuan Apa. Sampai kejutekan si suster bertambah karena saya dan A Deny minta tolong mulu.

Padahal malam Minggu itu saya baru banget nyampe ke Bandung (langsung ke rumah sakit, gak ke rumah dulu) dari tempat kerja di Cikarang karena hari Sabtu masih masuk setengah hari. Capek kerja. Capek di jalan. Ngantuk. Tapi pikiran saya waktu itu cuma fokus sama satu hal: Apa bisa cepet sembuh dan sehat kayak dulu lagi gak ya?

Entahlah, malam itu rasanya panjang banget. Pasti bakalan terasa lebih panjang kalo gak ada pertandingan Final Liga Champions dini hari itu. Kami menyaksikan Inter Milan mengangkat trofi UCL 2009/2010 sambil nungguin Apa, gantian nganter dia ke kamar mandi, gantian pula menasihati Apa, bahwa dia seharusnya gak boleh dulu pipis ke kamar mandi. Tapi kelakuan Apa malam tersebut emang aneh banget. Kayak rasa sate Padang menurut orang yang gak doyan.

*

Kembali ke sate Padang.

Jenis daging yang umumnya digunakan untuk membuat sate Padang adalah daging sapi, lidah sapi, dan jeroan. Tergantung yang jualan, dan tergantung hargalah pastinya. Sate Padang yang biasa saya beli di dekat rumah, menggunakan daging dan lidah sapi. Gak pake jeroan. Harganya 15 ribu seporsi. Terdiri dari 10 tusuk sate dengan irisan tipis-tipis, dan potongan lontong yang mengenyangkan.

Baca juga: Nasi Goreng Padang Cibinong

Bahan utama inilah saya pikir yang bikin banyak orang gak doyan sama sate Padang. Daging sapi aja belum tentu semua orang suka, apalagi lidah sapi. Apalagi jeroan. Mungkin kalo beli sate Padang di rumah makan semacam Restoran Sederhana, kita dapat memilih jenis daging sesuai selera dan pantangan. Tapi belum tahu pasti sih, belum pernah soalnya.


Selain bahan utama yang tidak semua orang suka. Bumbu sate Padang juga agak unik, tidak seperti sate Madura, sate Tegal, sate Solo, atau sate-sate di Bandung (gak ada sebutan khusus) yang berbumbu kacang. Sebagaimana cita rasa khas Minang, bumbu sate Padang kaya akan rempah, namun yang bikin orang gak suka adalah viskositas bumbunya (deuh, emang oli). Yang berkontribusi sama kekentalan bumbu sate Padang adalah kehadiran tepung beras dan tepung sagu. Yeah, inilah rahasia bumbu sate Padang bisa kentel kayak oli, dan membuat segelintir orang menolak untuk mencoba sekalipun.

Saya pribadi berada pada posisi netral dalam menyukai sate Padang. Enggak doyan-doyan amat, enggak pantangan-pantangan amat. Biasanya saya ngacir beli sate Padang kalo udah bosen makan lauk utama ayam, tahu, tempe, atau telur setiap harinya. Rasa sate Padang gak bisa dibandingkan sama sate-sate lain. Punya kekhasan sendiri. Sate Padang adalah menu rekreasi bagi saya, semacam pizza, yang tidak diniatkan untuk saya konsumsi setiap hari.


Oh ya. Pas nyimak twit Mas @arieparikesit. Baru ngeh kalo sebenernya di Padang sana, yang namanya sate itu macam-macam. Masing-masing daerah punya sate. Ada Sate Lokan Pariaman, Sate Pariaman, Sate Danguang Danguang Payakumbuh, dan Sate Padangpanjang. Nah, dari penampakan sate-sate yang saya perhatikan dari twit beliau, sate yang biasa saya temukan di pinggir jalan sini adalah Sate Danguang Danguang Payakumbuh. Nampak dari bumbu kental berwarna cokelat kekuningan. Selain itu, memang suka tertulis Sate Padang Asli Khas Payakumbuh pada kain tenda para pedagang sate Padang di sekitar Cibinong, dan sebagian lagi dari Pariaman. Makasih nih infonya, Mas @arieparikesit.

Jadi, sudahkah teman-teman nyicipin sate Padang malam ini?[]

25 November 2015

Menjelang Sidang

15 comments :

Tiga minggu ini hidup saya gak karuan. Meski lebih sering di rumah sesudah akhir September, pikiran ini tetep weh fokus sama sesuatu bernama skripsi. Cuma dipikirin, gak dikerjain. Alhasil begitu-begitu aja, saya ngerasa skripsi saya gak ada sempurna-sempurnanya. Ada aja yang mesti direvisi, dan kadang saya sendiri pun merevisi skripsi diri sendiri lagi dan lagi. Gak kelar-kelar deh.

Rencananya malah Senin kemarin sidang mulai dihelat. Tapi diputuskan untuk diundur menjadi mulai Jumat besok. Setidaknya sekarang skripsi saya udah dicetak empat rangkap. Tinggal memperdalam lagi teori-teori dan pokok bahasan yang hendak disidangkan. Dan tentu saja menyiapkan mental. Kadang teori-teori secanggih apa pun yang udah di luar kepala sejenak buyar kalo udah grogi dan terkencing-kencing di hadapan pembimbing dan dewan penyidang.

Ah tapi.. mikir positif aja deh. Mestinya mikir gini.. setelah melewati proses sidang, gue bakal lulus! Kerja lagi! Punya penghasilan lagi! Gak kerasa yah. Perasaan baru kemaren saya ikutan tes seleksi STT ini sama ratusan kawula muda lain di suatu aula, padahal udah hampir 5 tahun lalu. Kemudian terheran-heran, kok pemuda macam saya bisa lolos seleksi? Dan masih hidup ngelarin skripsi sampai hari ini, hari-hari genting menjelang sidang.


Perasaan baru kemaren pulang kuliah malem-malem karena sering nongkrong dulu sama temen, dan nganterin dulu Eko ke rumahnya karena dia gak ada angkot dari Sentul. Alhasil nyampe rumah jam 12 malem. Kakak saya sekeluarga udah pada tidur, hari-hari selanjutnya saya jarang nongkrong sebab gak enak sama kakak yang mengaku suka khawatir kalo saya belum kunjung pulang pada setiap malam. Jadi, bukan maksud saya menghindar dan malas untuk nongkrong, cuma ya rumah kakak yang saya tebengi dulu emang agak jauh dari kampus. Dan yah.. saya harus tahu diri lah, jangan sering-sering bikin khawatir pemilik rumah.

Nyampe rumah tengah malam, setel televisi. Nonton Radio Show TV One. Ngosongin pikiran dongkol dengan melodi-melodi musisi indie, melampiaskan kesal dan sesal gak berhasil ngerjain soal kuis atau UTS/UAS, atau malah hari itu abis nerima hasil UTS/UAS yang ancur seancur-ancurnya. Mata kuliah semester-semester awal dulu SMA banget. Banyak yang gak saya pelajari di STM dulu (emang pas STM pun dasarnya gak pernah belajar dan prestasi saya gitu-gitu aja sih hahaha). Jadi serasa belajar dari nol, tertatih-tatih, sementara teman-teman lain yang kebanyakan lulusan fresh graduate lari sekencang-kencangnya kayak kesurupan. Ketinggalan lah saya. Stres. Pacar belum punya. Bingung, mau curhat sama siapa waktu itu?

Saya cuma bisa cerita sama sepiring nasi goreng dan secangkir kopi. Sambil makan nasi goreng atau kwetiau goreng langganan, saya nonton Radio Show ampe jam 2 dini hari. Terus lanjut internetan. Saya belum ngeblog kayak sekarang, cuma twitteran. Untungnya masa-masa itu twitter lagi rame-ramenya. Banyak twips yang masih kreatif dan tulus, tanpa ngetwit bayaran yang isi twitnya sama berulang-ulang. Selain ngetwit, saya suka otak-atik laptop menjadi dual boot Linux. Semua distro Linux saya jajal. Sampai hardisk saya badsector. Abis itu beli laptop baru, dan maen aman aja, gak pernah otak-atik lagi, selain ngerjain tugas, ngeblog, dan nulis cerpen.

Dan sekarang, menjelang sidang, menjelang penghujung tahun 2015, alhamdulillah saya masih hidup. Tambah gendut. Sebentar lagi lulus. Sebentar lagi jadi insinyur. Cita-cita saya sejak kecil. Senantiasa bersyukur, meskipun prosesnya tidak dan takkan mudah, saya dapat menghadapi ujian demi ujian yang selalu terjal untuk dilalui dengan IQ apa adanya. Semoga saya dapat menjalani sidang besok dengan tabah tanpa godaan penyidang yang over kritis *baca ayat kursi*[]

22 November 2015

Bakmi Surabaya Cak Parman - Cibinong

8 comments :

Kuliner malam Cibinong sebenarnya gak beda jauh dengan daerah lain. Didominasi oleh nasi goreng, mie goreng, dan teman-temannya, serta apa lagi kalau bukan tenda demi tenda pecel (atau pecak, yang bener apa ya bro?) lele & ayam. Saking banyaknya, sekarang agak susah nyari yang enak, apalagi yang paling enak. Butuh trial and error icip-icip dari satu tenda ke tenda lain. Kayak praktikum di lab aja ya.

Di Cibinong, tepatnya jalan Sukahati, ada kedai Bakmi yang menurut saya enak, yakni Bakmi Surabaya Cak Parman. Dimiliki oleh Bapak Ibnu Parmanto sejak lama, sejak Cibinong masih gersang, belum ada mal-mal sehingga macet banget kayak sekarang. Dan belum ada saya juga yang masih di Bandung dan baru empat tahunan ini bermukim di Bogor (please, gak penting banget sih, Cep).

Kedai ini menyediakan aneka hidangan yang sudah familiar di sekitar kita, semacam nasi goreng, mie goreng, mie rebus, kwetiau, dan capcay. Selain menu sejuta umat tadi, tersedia pula lomie dan nasi siram, yang saya belum tahu seperti apa sih tampak dan rasa makanan tersebut, dan apa bedanya mie pada menu lomie dengan mie biasa. Setelah googling sih kayaknya enak. Nanti saya coba deh lain waktu.

Mampir ke kedai Cak Parman, biasanya saya pesan kwetiau goreng, makanan favorit saya. Kadang pake seafood, kadang polos (telur dan sayur saja), tapi tentu lebih menggoda kwetiau seafood dong. Seafood-nya terdiri dari cumi dan udang dengan takaran cukup, tidak terlalu banyak pun terlalu sedikit.

Menu kwetiau maupun menu sekelompoknya yakni nasi goreng, mie goreng/rebus dengan dilengkapi seafood perlu ditebus 20 ribu rupiah, sedangkan yang polos cukup 12 ribu saja. Selain polos dan seafood, tersedia pilihan lain yaitu daging kambing.

Menurut saya Bakmi Surabaya Cak Parman cenderung berkiblat pada chinese food. Ditilik dari cara memasak para koki yang cekatan serta kadang ada atraksi itu loh, atraksi api yang tiba-tiba muncul dari wajan, dan wajannya juga khas dapur chinese food; wajan hitam tipis mengkilap.

Selain itu, rasanya pun emang chinese food banget, yang terkenal mengusung bumbu minimalis, tidak terlalu banyak rempah. Sebagian teman malah bilang taste semacam ini tergolong hambar. Tidak seperti bakmi jawa atau jogja yang kerasa banget rempahnya sehingga sensasi manis, asin, dan gurih kentara banget di lidah. Sok tau banget yah saya hahaha..


Lokasi kedai Bakmi Cak Parman, bila teman-teman datang dari arah Cikaret, maka perlambat kendaraan Anda ketika sudah mendekati perempatan McD Pemda. Letak kedai Bakmi Cak Parman kurang lebih 300 meter sebelum perempatan itu, berada di sebelah kiri jalan bila Anda berangkat dari Cikaret.[]

Skor Bakmi Surabaya Cak Parman - Cibinong :
Rasa : 8,5
Tempat : 7
Pelayanan : 7
Harga : 8
Instagramable : 7,5

18 November 2015

Dibuang Sayang

11 comments :

Dari seisi rumah kamu, adakah terselip barang yang udah rusak, namun masih tersimpan di pojokan? Barang yang udah ada gantinya, dan pengganti itu lebih bagus, tapi barang lama yang udah ngebangke justru masih setia dalam tumpukan?

Urusan buang-membuang barang kerap jadi urusan yang enggak sepele. Di rumah orangtua saya di Bandung, masih ngebugbrug barang-barang setengah sampah semacam buku paket sama LKS jaman SD yang udah gak kepake, bundelan kertas bekas proposal Agustusan, sampai surat cinta kakak saya. Surat? Iya. Jadul banget, kan? Masih dikoleksi aja tuh sampai 2015.

Suatu pagi Mamah nelpon tentang itu. “Gak papa kan, Py, kalo buku-buku, baju-baju jumbo big size bau apek kamu yang numpuk di lorong ini Mamah buang aja?” katanya di udara.

“Ya gak papa lah, Mah. Kenapa gak dari dulu aja sih?” dasar anak kurang ajar. “Udah gak kepake lagi kan buku LKS PPKn, buku pintar membuat sabun dan sampo mah.”

“Ya kali aja gitu, masih ada yang bisa dibaca. Kalo baju gimana? Ada yang kira-kira masih bagus buat dipake?”

“Gak mungkin, Mah. Mamah tahu sendiri. Aku tumbuh besar. Besar sekali.”

“Ya udah. Entar Mamah buang aja baju-baju sama buku-buku kamu itu. Pengen beres nih di rumah. Dari jaman dulu meni sumpek weh. Hareurin. Sareukseuk. Ieu sih, gara-garanya banyak banget di sini barang barudak yang gak kepake. Padahal udah rarusak kayaknya mah. Udah pada jelek. Mau dibuang, takut kalian nanyain sama Mamah. Tanggung jawab yeuh.”

Saya cuma iya-iyain aja.

“Sama itu tuh. Tapi..” terdengar gumaman Mamah di seberang sana, “gimana ngomongnya sama dia ya? Malu. Takut istrinya tau. Bisa ribut nanti.”

“Apaan?”

“Ini.. surat-surat cinta kakakmu. Masih numpuk aja di sini. Gak diperenin! Gimana kalo ketauan istrinya? Mamah entar yang berabe,” cemas Mamah.

“Haduh.. repot juga sih kalo udah menyangkut cinta mah. Ah tapi ya udah, bakar aja kali, Mah. Kayaknya gak mungkin banget lah dia nanyain begituan sekarang. Sibuk kerja kan dia mah biasa juga, mustahil keingetan sama surat cinta jaman dia abegeh.”

“Harusnya tuh ya, kalian kayak Mamah dong. Surat-surat cinta dari Apa aja masih Mamah simpen baik-baik loh, abadi gitu, kan? Gak ada orang lain yang boleh baca, selain Mamah,” Mamah ngikik sendirian. “Surat cinta itu jangan ditinggalin begitu aja dong. Apalagi di rumah orangtua, terus ketemu sama Mamah, terus ya kepaksa dong Mamah baca. Heuh…” Mamah mengimbuh, “jadi weh bikin Mamah kangen surat-suratan lagi sama Apa.”

“Deuuuh.. Gadis Sampul 70an. Socmed-an susuratan.”

Mamah ketawa ngakak. “Iya, kasian ya kamu, gak ngalamin surat-suratan.”

“Jaman sekarang sih mending bikin surat terbuka di blog aja, Mah. Bisa dibaca oleh seluruh dunia. Lumayan kan bisa berbagi rangkaian kalimat indah (pamer). Bisa beramal pula dalam bentuk copy-paste sama jomblo-jomblo laen buat ngungkapin perasaan yang sebelumnya dipendam malu-malu sama kecengannya.”

“Gak ngerti kamu ngomong apaan ah. Jadi gimana, dibuang aja nih semuanya?”

“Iya, Mamah,” jawab saya dengan nada seperti anak kecil, “oh, sekalian aja tuh komputer sama printer jaman abad pertengahan tolong dibuang juga.”

Betul sekali, teman-teman. Komputer saya semasa SMP; processornya Pentium 3 generasi pertama, RAM 128MB, harddisk bad sector (udah diganti dua kali tetep kena kena bad sector lagi), CD-Drive Lite On yang berisik dan kadang macet, power supply 3 kali ganti kemudian rusak lagi, masih aja disimpen. Tiap hari kebulnya dilapin Mamah kayak barang antik.

Begitu juga dengan printer Canon Pixma IP1000. Tuh, 1000 broh. Sekarang udah 2800an. Kurang jadul apa coba? Beberapa waktu lalu sempet saya cek, kali aja masih waras. Namun ternyata head-nya udah kena! Head! Resmilah sudah, riwayat IP1000 yang berakhir sampai di situ-situ aja.

“Hmm.. iya gimana nanti. Makanya ke sini dong. Bantuin Mamah beberes. Capek yeuh…”

“Hadeuh.. bukan apa-apa, Mah. Takut ada info penting mendadak dari kampus,“ kilah saya. Padahal perjalanan pulang-pergi itu melelahkan dan… emang gak punya ongkos. Gak tega sih kalo mesti bilang gitu.

*

Entah kenapa, selalu timbul perasaan sayang apabila hendak membuang barang yang sudah tidak terpakai. Sayang ah, masih bisa dipake. Masih bagus lah. Ada beberapa komponen yang mahal kalo dijual. Banyak sejarahnya. Gak bakal ada yang jual tipe itu lagi. Masih bisa dikasihin sama yang butuh, tapi malah gak disumbangin-sumbangin. Dan alasan sayang-sayang lain.

Padahal, daripada menuh-menuhin rumah yang udah penuh, kenapa gak kita buang aja? Apalagi numpuknya bukan di rumah kita, melainkan di rumah orangtua seperti kasus saya, misal. Kasihan. Rumah orangtua saya gak besar. Ditambah perabotan yang berat-berat dan makan tempat, karena emang perabotan jadul, belum lagi barang-barang anak-anaknya yang gak kepake, malah “dititipin gratis” di situ.

Kalo kata Mamah, bukan apa-apa. Kalo emang dirasa penting dan masih bernilai guna, ia takut barang kami-kami ini lapuk karena udara di Bandung sana tuh lembap. Selain itu ia khawatir tumpukan itu malah jadi sarang uler. Soalnya, pekarangan belakang rumah kami langsung ketemu sawah. Cuman terpisah oleh benteng sedada. Udah gak aneh ngeliat ular item wara –wiri di rumput bawah jemuran. Kemaren aja ponakan saya pas lagi nyuci sepatu di pancuran belakang rumah, tiba-tiba dipatuk sama ular sendok yang mucul dari parit menuju sawah. Lantaran dia kaget pas ngeliat uler, terus ulernya keinjek, dan udah deh, ulernya melakukan mekanisme pembelaan diri. Mudah-mudahan gak kenapa-napa.

Kalo di Jepang, konon lebih murah ngebuang mobil atau benda elektronik rusak daripada mereparasinya. Karena reparasi itu butuh keahlian, butuh waktu, butuh uang, dan upah tenaga kerja di sana emang gak semurah di Asia Tenggara. Sementara membuang… yah, susah juga sih jaman sekarang. Orang Jakarta aja mesti ngebuang sampahnya jauh-jauh ke Bekasi, dan mau gak mau lewat Bogor, kan? Hihihi…

Sama seperti perasaan. Sekiranya gak perlu dipikirin, kenapa masih aja kepikiran ya.. hmm. Perasaan negatif mending dibuang. Emosi juga. Iri, dengki, dan kawan-kawan. Buang jauh-jauh deh. Gak penting. Hidup udah sumpek, ditambah kesumpekannya sama prasangka jelek. Kalo diloakin pun gak yakin bakal ada yang beli. Buangnya toh gratis, gak kayak penduduk Jakarta yang mesti sewa kontraktor independen buat ngebuangin sampah mereka.

Sekiranya udah jadi masa lalu, kenapa masih belum move on? Masih sayang? Masih cinta? Kenangannya sungguh indah untuk dilupakan? Sudahlah, kan udah ada yang baru. Yang kualitasnya lebih baik. Kalo pun yang dulu masih bagus, kenapa gak kita ikhlaskan sama yang lain, yang lebih membutuhkan?

Ah, jadi terketuk buat buka usaha loakan.[]

15 November 2015

Cinta di Musim Seblak

6 comments :
Ada jajanan aneh yang sekarang rame banget di sini. Namanya seblak. Pernah liat yang jualan seblak gak? Atau malah udah sering bikin sendiri di rumah?

Sebagai orang Bandung, saya udah gak aneh dan udah lama kenal sama seblak. Sebenarnya ada dua macam seblak: kering dan basah. Yang kering banyak tuh dijual di warung-warung, gak beda jauhlah rasanya sama kerupuk pedas jenis lain, selain terdapat aroma kencurnya. Sementara seblak basah, baru populer belakangan ini.

Dulu biasanya saya bikin seblak basah sendiri. Kadang rame-rame patungan kerupuk plus bumbu sama temen atau saudara. Dulu mah gak ada yang jualan seblak seperti sekarang, belum musim. Ngeliat kerupuk mentah nganggur di dapur Mamah, bawaannya pengen nyeblak alias dibikin seblak aja tuh kerupuk.


Bumbu rempah untuk bikin seblak itu sederhana: cukup ada bawang merah, bawang putih, kencur dan garam atau penyedap favorit teman-teman, kita udah bisa bikin seblak. Oh iya, cabe rawitnya ketinggalan, padahal justru ini yang penting. Gak ada cabe rawit no worry, cabe merah pun enak kok jadi amunisi pedas seblak. Malah bagus kalo pake cabe merah, seblaknya lebih berwarna. Kalo seblak gak pedes, rasanya kayak Bogor tanpa hujan *brb salat istiqa*


Selagi menunggu kerupuk-kerupuk rampasan dapur Mamah mekar dalam rendaman air panas, bumbu-bumbu tadi diulek hingga halus. Baru deh ditumis ke dalam minyak panas sampai aromanya keluar. Setelah wangi, tambahkan air matang secukupnya, tunggu sampai air + bumbu itu mendidih. Abis itu cemplungin tuh kerupuk-kerupuk mentah yang udah lembek tadi, kemudian setel kompor pada kondisi api kecil supaya bumbu meresap rata ke sekujur kerupuk.

Dulu pas masih sekolah sekitar 2007an sering banget saya nyeblak. Bisa seminggu dua kali, belum kalo ada temen yang ngajakin pesta seblak (padahal waktu itu orang-orang lagi rame pesta blogger). Sekarang mah agak males bikin sendiri. Dan lantaran udah banyak yang jual, jadi kalo lagi kepengen seblak, mending tinggal beli di sekitar komplek.

Untung ada tukang seblak deket komplek rumah yang rasanya lumayan enak dan lebih murah dari tukang seblak lain. Di tukang seblak ini, dengan 6 ribu perak saya udah dapet seblak yang dilengkapi sayur sawi dan kol, makaroni, bakso, telur, dan komposisi bumbu yang pas! Sementara takaran pedas disesuaikan kondisi lambung, hiks..

Tapi gak semua lidah cocok sama seblak loh. Temen saya, Eko, pernah saya ajak jajan seblak 3 ribu perak di suatu perkampungan. Awalnya Eko memperhatikan dengan takjub mamang-mamang seblak yang lagi ngaduk-ngaduk bumbu di wajan. Setelah seblak matang, kami makan bareng-bareng. Saya makan dengan tenang. Sementara itu...

"Apaan nih, Cep? Kok lembek-lembek gini?" Si Eko kaget melihat penampilan seblak yang buyatak, sesekali memicingkan mata mengamati seblak yang ia ciduk ragu-ragu dari stryofoam.

"Enak loh, Ko! Seriusan," dasar saya emang penggila seblak, melihat penampilan seblak se-buyatak apa pun, justru malah makin nafsu buat ngabisin, dan beli lagi.

Eko makan perlahan-lahan, tidak selahap biasanya ia makan kudapan lain. "Emm.. agak asin juga ya, Cep. Pantesan murah ye, cuma tiga rebu tadi." Tapi ujung-ujungnya seblak abis dilumat Eko. Mungkin karena malu sama saya kalo gak dimakan sampe abis walau dia gak doyan.

Emang bener sih, ada seblak yang biasa aja, ada yang lumayan, yang kemahalan tapi gak enak pun banyak tuh. Kalo yang Si Eko sama saya makan tempo hari itu adalah seblak yang konsumennya anak-anak SD. Asal gurih doang, selera anak SD ya gitu deh.

Sementara beberapa pedagang seblak kekinian yang banyak beredar belakangan ini di Bogor, kisaran harganya antara 6 ribu hingga 12 ribuan. Jadi gak beda jauh kan sama harga mie rebus atau kwetiau, well saya asumsikan kualitas bahan dan bumbunya agak mendingan dibanding seblak 3 ribu perak tadi.

Ngomong-ngomong tentang asal-usul seblak. Kata Teh Lita, kakak saya yang jago meracik seblak paling enak sedunia (karena banyak, tinggal makan, dan... gratis), makanan unik ini bermula dari ketidaksengajaan perilaku masyarakat Priangan. Orang-orang di pelosok sana mendapati toplesnya masih teronggok kerupuk di dalamnya beserta remah-remah yang kadung melempem.

Alhasil supaya gak mubazir, dicemplungin aja deh ke air rebusan yang udah ada bumbunya, maka jadilah seblak. Dulu saya juga kadang suka nyampurin kerupuk melempem dari toples sama kerupuk mentah yang memang sengaja diseblak. Ceritanya mau bikin seblak yang khaffah sesuai sunnah perintis seblak.

Jadi, dulu bikin seblak itu kita tidak dengan sengaja pake kerupuk mentah kemudian dilembekin, namun kerupuk yang udah layu dibikin makin lembek hahaha. Kasusnya mungkin sama kayak getuk goreng khas Banyumas. Dulu awalnya getuk yang menyisa di rumah, daripada gak kemakan dan haseum mending digoreng. Sekarang orang Banyumas sengaja bikin getuk segar untuk digoreng dalam kuantitas yang masif lantaran ternyata banyak orang yang doyan getuk goreng.

Kalo kata Kang Epen, kakak ipar saya, pedagang seblak itu gak menghargai tukang kerupuk. Udah susah-susah mereka ngejemur kerupuk berhari-hari, eh malah dilembekin lagi sama mamang seblak. Jadi pada KZL kan para perajin kerupuk! Tinggal menanti Asosiasi Perajin Kerupuk melayangkan petisi "Ganyang Seblak" di change.org.

Bagi saya seblak bukan seseorang seperti Briptu Norman yang sedemikian cepatnya ia populer, tapi lekas pula melempemnya, atau sesuatu macam batu akik yang... pada ke mana nih tukang gosok batu? Sehabis lebaran kok pada ngilang? Padahal baru dikasih blue safir nih (sombong, sebesar biji saga doang padahal).

Mungkin seblak akan melengkapi kakaknya yakni kwetiau atau mie rebus dengan komposisi bahan dan bumbu yang lebih sederhana. Meskipun melempem adalah sifat lahiriah kerupuk, tetapi dengan dijadikan seblak barangkali pamor kerupuk bisa naik kelas, tidak sekadar camilan tambahan. Buktinya, kemarin saya lihat seblak udah jadi judul FTV: Seblak Cinte apa gitu... atau malah Cinta di Musim Seblak hahaha..

Denger-denger sekarang juga udah ada seblak instan dan.. melatahi hukum pergaulan 3.0, seblak instan itu sudah dijual secara online. Teman-teman pada suka seblak juga gak? Atau malah kayak Eko, yang menyerah pada percobaan pertama?[]

11 November 2015

Tips Menulis untuk Pemula

15 comments :
Agak rancu sebenarnya judul di atas. Adakah seorang pemula dalam kegiatan menulis? Ada sih: balita berusia empat tahun. Karena semulai bersekolah, sesuai kurikulum dasar, kita pasti diajari alfabet, huruf hijaiyah, kemudian membaca―belum tahap merangkai―kalimat sederhana dengan cara mengeja. “Ini Budi”. “Ibu pergi ke pasar”. “Bapak membaca koran”. "Tono dan Tini kawin lari". Dan sebagainya.


Namun entah gara-gara budaya kita yang lebih menekankan budaya lisan, sehingga suatu sore lampau, berjam-jam saya kebingungan ketika sedang menulis artikel pertama di blog ini beberapa abad lalu. Padahal kita sudah diajari merangkai kalimat sejak sekolah dasar. Jadi semestinya, hari ini saya tinggal merem saat hendak menulis kalimat sederhana semacam: “Perut saya lapar ketika sedang menulis artikel blog.” Jadilah! Tapi, sesudahnya, malah timbul gangguan lain dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan.

Apa aja tuh?

Misalnya, udah bagus belum sih tulisan gue? Curhat banget gak sih tulisan gue? Tulisan gue nyinggung orang lain gak sih? Udah nyastra belom sih tulisan eyke? Atau, ah gak jadi nulis deh, entar dibully temen malah.

Kali ini, berdasar pengalaman yang belum seberapa, saya mencoba jawab pertanyaan-pertanyaan itu dalam dua sub judul: menulis untuk media resmi dan menulis artikel blog. Mari mulai dengan…

Menulis untuk Media Resmi

1. Baik menulis untuk media resmi maupun di blog personal, dalam proses pengerjaannya sama-sama dilakoni secara serius, kadang malah serius bingits. Bibir manyun, kening mengerut, padahal kita sedang menulis komedi yang lucu abis, misalnya. Namun, mula-mula kita hanya perlu menumpahkan segenap isi otak kanan ke dalam halaman kosong di hadapan kita. Struktur kalimat yang melompat-lompat―kadang-kadang kayang atau sikap lilin―serta tanda baca yang kacau kita abaikan terlebih dahulu. Inilah prinsip menulis buruk. First draft is shit. Tidak ada tulisan pertama yang bagus.


Gak papa kita nyampah tulisan, asal gak dibuang sembarangan. Tulisan kita akan bagus bila kita mengedit habis-habisan setelahnya menggunakan otak kiri yang punya daya analitis. Mencincang alur dan unsur lain sehingga menjadi cerita menarik tetapi tetap masuk akal. Tulisan yang bagus dari para penulis favorit yang pernah kamu baca, terkadang telah mengalami puluhan kali editan, belum termasuk penyuntingan kru editor penerbit. Jadi mulai sekarang, ruahkan ide dan imajinasimu tanpa batas, barulah sesudahnya kita mengiris, meracik, hingga menyajikan tulisan mentah tersebut sedemikian rupa supaya nanti matang dan lezat untuk dinikmati pembaca.

Orang yang tidak pernah melakukan kesalahan biasanya tidak menghasilkan apa-apa.
―Edward John Phelps (1822 – 1900)

2. Sebelum benar-benar menulis, sebaiknya lakukan riset kecil-kecilan mengenai topik yang akan kita jadikan bahan tulisan. Misal, kita pengin nulis cerpen tentang hujan, maka kita perlu menelaah tentang hujan. Apakah kamu suka hujan? Sukakah kamu pada aroma petrichor yang timbul berkat reaksi antara tanah kering kemarau dengan jarum-jarum hujan? Pada bulan apa sih biasanya hujan mulai intens turun? Gimana suasana hujan itu menurutmu, damai atau galaukah? Adakah kenangan masa silam yang memerangkap ingatanmu kala hujan melanda? Siapa orang yang selalu kamu ingat ketika kehujanan malam-malam di jalanan sepi? Di manakah kamu biasanya berteduh menanti hujan reda?

Dan banyak pertanyaan lain yang perlu kamu jawab guna memperkokoh tulisanmu, hingga kelak mengakar dalam benak pembacamu.


Selain itu, riset kecil-kecilan ini dapat menopang kelogisan tulisan kamu. Jangan sampai ada orang yang berpikiran: Emang ada hujan pada bulan Agustus? Di Bogor mana ada hujan yang bikin damai, yang ada bikin pohon tumbang keleusss! Emang halte bus di sektor itu bisa dipakai berteduh ya, kan sekarang udah digusur jadi ruko? Atau, perasaan gak ada pohon-pohon rimbun deh di daerah sana, kok dia neduh di bawah pohon sih?

Sederhananya begitu. Jadinya malah gak sederhana, ya… hmm.

3. Good artist copy, great artist steal. Pastilah quote Picasso ini udah ngelotok di kepala kamu. Menurut saya sih ada benernya juga. Cerpen saya yang ini, terinspirasi dari cerpen Bernard Batubara yang benang merahnya sama, yaitu lelaki yang diam-diam mengamati seorang perempuan tak dikenal di dalam kafe. Tetapi, hasilnya jadi lain, saya sendiri juga bingung. Kok bisa ya?

Mungkin, karena saya tidak plek meng-copypaste cerpen dia seutuhnya menjadi cerpen saya. Saya cuma membedah struktur dan setting cerita dia, kemudian mengadaptasinya ke dalam cerita saya. Selanjutnya justru saya punya ilham konflik cerpen sendiri dan ending yang berlainan dengan cerita BenzBara. Dan juga terus terang, gaya menulis kami pun berbeda satu sama lain. Saya jauh lebih jelek hahaha..

Antara meniru konsep cerita dan plagiasi ialah dua hal yang berbeda. Meniru adalah menganalisis bagaimana tata cara berlatih Lionel Messi dan rahasia sukses ia sehingga dapat meraih Ballon D’Or sebanyak empat kali. Sedangkan plagiasi semacam mengamputasi kaki Cristiano Ronaldo kemudian kamu tempelkan pakai lakban pada pangkal pahamu, dengan harapan kamu menjadi pencetak gol tersubur di Eropa. Atau bahkan sekujur tubuh Ronaldo kamu begal untuk dirasuki oleh jiwamu sepenuhnya.

4. Jaring ide dari sekitarmu. Sebagai pemula, gak usah muluk-muluk pengin ngambil topik yang berat-berat, seberat berat badan saya. Telusuri gagasan yang paling dekat dengan kehidupanmu sehari-hari. Menye-menye juga gak papa, selama kamu menuliskan sesuai fakta dan perasaanmu, tidak terlalu dibuat-buat. Saya percaya, selama ini kita pernah mengalami peristiwa demi peristiwa bahagia, sarat tawa, penuh duka dalam kehidupan masing-masing, dan itu adalah harta karun yang potensial untuk difiksikan!

Setidaknya riset dari pengalaman diri sendiri lebih mudah dan hasilnya lebih meyakinkan ketimbang mencomot pengalaman orang lain yang belum sungguh-sungguh kita alami secara langsung. Rogoh ide dari pengalaman hidupmu, lengkapi dengan detail-detail pendukung ceritamu supaya lebih terfragmen sempurna dan pembaca mudah mencerna tulisanmu.

Cerpen saya yang lain, terlahir dari kisah nyata. Saya timba pengalaman itu, saya tuangkan ke halaman pengolah kata dalam beberapa jam saja. Tentu setelahnya saya taburi dengan bumbu-bumbu fiksi supaya lebih gurih dibaca. Pada kenyataannya sih... tetap hambar hahaha..

5. Perbanyaklah membaca. Saya masukkan poin terakhir, sebab jujur, membaca sangat penting bagi kita yang pengin menulis dengan baik. Bagi saya, membaca dan menulis seperti sepasang kekasih yang saling melengkapi. Kasarnya, seseorang tidak dapat mencium bibirnya sendiri. Tetap butuh partner. Demikian pula dengan membaca dan menulis, selayaknya sejoli, kendati sesekali cekcok satu sama lain, tetapi mereka ditakdirkan untuk saling membutuhkan. Pincang andai hidup sendiri-sendiri.

Buku-buku, film, lagu, maupun referensi dalam bentuk media lain adalah pupuk bagi tulisan-tulisanmu supaya lebih bergizi. Cara paling mudah yaitu dengan meresensi karya Penulis yang kamu sukai. Seperti yang pernah saya lakukan tiga tahunan lalu: Orang-Orang Proyek (Ahmad Tohari), The Zahir (Paulo Coelho), Surat Dahlan (Khrisna Pabichara), dan karya penulis lain yang sebatas saya telanjangi dengan coretan pensil dan sapuan stabilo.

Anjuran guru menulis saya, Daeng Khrisna, kita perlu membaca novel atau cerpen lebih dari satu kali. Pembacaan pertama untuk menikmati cerita apa adanya tanpa harus mikir terlalu kritis. Dan kesempatan kedua guna menandai kalimat-kalimat yang menurut kita sakit jiwa alias kok bisa ya Si Penulis kepikiran nulis beginian!

Selain itu tentu saja guna membedah plot cerita yang dikreasi penulis favorit kita, alhasil kita peroleh banyak formula-formula untuk kita praktikkan pada suatu kesempatan menulis nanti. Sehingga kelak mewujud cerita yang segar dan kekinian dari otak, jemari, dan hati kita, tidak justru berbuah cerita klise yang mudah ditebak.

Menulis Artikel Blog


Untuk sub judul kedua sekaligus terakhir ini, saya memercayakan tips-tipsnya datang dari teman-teman blogger yang kece-kece, baik hati dan rajin menabung. Saya persilakan teman-teman untuk berbagi pengalaman dan tips, gimana sih rahasia teman-teman dalam menciptakan postingan blog yang enak dibaca dan sarat makna pada kolom komentar di bawah.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk teman-teman. Tabik![]

08 November 2015

Makan Soto Banjar di Bogor

6 comments :

Adakah teman-teman yang berasal dari Banjar namun sekarang bermukim di Bogor? Sebagai perantau, pasti kangen dong sama makanan khas kampung halaman. Di Bogor terdapat rumah makan yang khusus menyediakan masakan khas daerah Kalimantan Selatan. Waroeng Bumi Khatulistiwa adalah nama rumah makan tersebut yang berlokasi di ruas Jalan Pajajaran No. 28A, Kota Bogor, bersebelahan dengan Kedai Bakmi Jogja Pak Karso.

Lebih dari setahun silam saya pertama kali mencoba soto khas Banjar. Waktu itu baru jadian beberapa bulan sama Nona M. Suatu sore dia mengajak saya ke sini, ceritanya mencoba mengenalkan makanan khas daerah kelahirannya pada saya. Sebagai pemilik lidah yang menjunjung toleransi antar suku seluruh dunia (alias segala disikat), saya menjajal kuliner seberang ini dengan senang hati. Eh, sampai sekarang malah ketagihan, sudah lebih dari empat kali kami makan di situ.

Menu andalan Waroeng Bumi Khatulistiwa adalah soto Banjar. Selain soto, terdapat menu khas lain seperti sate ayam, sate itik, ayam & bebek bakar. Ada pula menu yang hanya tersedia pada Sabtu-Minggu di antaranya nasi kuning, ketupat kandangan, gabus masak habang, lengkap dengan varian yang bisa Anda pilih sesuai selera.

Selama ini saya baru mencoba sotonya saja. Soto Banjar terdiri dari suwiran ayam kampung, bihun, sepasi telur rebus, perkedel, dan taburan seledri, dilengkapi beberapa kupasan jeruk limau untuk memperkaya rasa. Rasa soto Banjar di lidah sulit digambarkan (miskin imajinasi aja sih), pokoknya maknyus deh. Dibandingkan dengan soto lain yang lebih familiar di sekitar kita semacam soto lamongan atau madura, tentu berbeda cita rasa, meskipun secara penampilan nyaris serupa.

Secara umum, rasanya nikmat dan kaya rempah. Timbul rasa hangat dalam dada, kemudian mengalir ke sekujur tubuh, usai menyeruput kuah demi kuah soto, suwir demi suwir ayam, bihun, perkedel, yang dilumat bersamaan dengan lontong kenyal. Hingga tak terasa mangkuk di hadapan sudah licin, kuah soto yang sebelumnya memenuhi mangkuk telah surut saya seruput.


Semangkuk soto Banjar + lontong atau nasi cukup ditebus dengan harga 24 ribu. Menurut selera saya, soto Banjar lebih tepat dan nikmat disantap bersama lontong. Jangan lupa kucuri soto dengan kecap, sambal khas Banjar, perasan jeruk limau, dan.. tentu saja bersama Amplang, kerupuk ikan yang tak pernah absen saya cicipi setiap kali mampir ke Waroeng Bumi Khatulistiwa. Sebungkus amplang harganya 12 ribu, lumayan mahal untuk sekelas kerupuk, berat di ongkir sepertinya.



Rumah makan soto Banjar di Bogor ini buka setiap hari mulai pukul 9 pagi hingga 10 malam. Bagi teman-teman warga kota Bogor yang sudah terbiasa dengan soto mie atau soto kuning khas Bogor, soto Banjar ini patut Anda jajal bersama keluarga atau teman. Atau.. bersama pacar yang asli orang Banjar #eaaa.[]

Skor Soto Banjar Waroeng Bumi Khatulistiwa :
Rasa : 8,5
Tempat : 8
Pelayanan : 8
Harga : 7
Instagramable : 8,5

04 November 2015

Life Hacks untuk Orang Gemuk

14 comments :
 

Tulisan ini sangat kredibel karena bersumber dari pengalaman seseorang yang bertubuh gemuk atau gendut atau gembrot selama 24 tahun lamanya. Saya sendiri. Jadi, saya tidak sedang menyebarkan kegaduhan, kan? Apakah tulisan saya tergolong pasal yang termaktub dalam SE Hate Speech, Pak Polisi? Dalam SE Hate Speech gak ada kan pasal membully diri sendiri?

Percayalah, tips-tips diet di kanal aneka media online yang justru iklannyalah yang menyebar kegaduhan, inti kontennya hampir sama satu sama lain. Sama-sama menyuruh orang gemuk untuk hidup susah dengan ratusan pantangan makanan. Udah saya coba belum satu pun yang berhasil optimal. Jadi gak usah terlalu percaya begituan. Percayalah sama Allah.

Hanya ada dua pilihan bagi orang gemuk: tetap tabah memboyong karung lemak ke mana-mana lengkap dengan ejekan dari orang kurus, atau berjuang keras melangsingkan badan seumur hidup. Tidak ada yang enak. Meskipun dua tahunan ini saya sudah melaksanakan diet dan hasilnya pun lumayan (lumayan miris), namun pada kesempatan kali ini saya ingin memfokuskan pada pemulihan percaya diri orang gemuk, sebab saya telaah selama ini, kebanyakan orang gemuk itu minderan.

Hanya ada dua pilihan bagi orang gemuk: tetap tabah memboyong karung lemak ke mana-mana lengkap dengan ejekan dari orang kurus, atau berjuang keras melangsingkan badan seumur hidup. Tidak ada yang enak.

Sikap minder ini bukan tanpa alasan. Di balik pilihan mengasingkan diri orang-orang gemuk, ada banyak musabab yang logis untuk diterima hati nurani.. tentu saja nurani orang gemuk sendiri sih hahaha. Sudahlah tak usah dibahas, sebab nantinya kadar curhat ini akan semakin dominan, hiks..

Baiklah, LifeHacking yang pertama adalah! *suara genderang bertalu-talu dari tepukan perut*

1. Yakini dirimu diciptakan berbeda. Setiap orang punya kelebihan masing-masing. Kelebihan orang lain mungkin pandai bergaul, lancar berbahasa alay, lihai maen parkour sambil makan seblak, sedangkan kelebihan kamu adalah kelebihan berat badan. Jadi mula-mula, camkan bahwa kamu punya hal-hal unik di balik gelambiran lemak yang juga berlipat-lipat biadab. Selulit, barangkali.

2. Perkara busana penting banget bagi orang gemuk. Setidaknya setelan pakaian yang match dapat sedikit mempersempit area pandang tubuh yang luas. Agak serba salah memang. Pake baju longgar, dikira pake gamis. Pake baju ketat, disangka pamer aurat. Pilihlah ukuran yang paling pas, meskipun saya yakin kamu kerap kesusahan memperoleh ukuran pas. Belilah baju di Factory Outlet yang menyediakan ukuran bule, jangan di emperan. Bukannya sok mengonsumsi produk luar, kalo di emperan biasanya paling banter ukuran terbesar cuma L atau XL pun XL banci. Ngetat banget broh.

Untuk warna pakaian, pilih warna gelap semacam hitam atau biru navy alias dongker. Tahu kan biar apa? Guna menciptakan efek tipuan optik. Konon seseorang tampak kurus bila memakai pakaian warna gelap. Maka dari itu saya suka sekali hitam. Jangan pink, nanti dikira babi. Jangan abu-abu tua, apalagi mengkilap, nanti disangka hippopotamus.

Daripada memberatkan dirimu sendiri, padahal hidupmu sudah sangat berat, berat sekali (I feel you, broh), maka urusan busana bagi orang gemuk lebih baik menginvestasikan daleman tinimbang luaran. Daleman toh tidak kena imbas tren fashion, di mana ketersediaan fashion yang ngetren selalu datang terlambat bagi orang gemuk. Gak ada celana dalam model baggy atau cingkrang. Atau singlet model V-neck maupun tank-top (singlet emang udah tank top keleuss).

Lagian sekekinian apa pun model daleman, toh gak bakal kelihatan orang-orang, kecuali kalau memang kamu berniat pamer aurat sama lawan jenismu, dan terkadang sesama jenis ikut-ikutan kesengsem terhadapmu. Selain itu, kegantengan pun berawal dari dalam kan?

3. Saya sadar keringat orang gemuk cenderung keluar secara lebay. Mungkin karena hari demi hari, pori-pori tubuhnya membesar akibat melarnya kulit berkat lemak yang berontak.

Sebesar inikah pori-pori kulit orang gemuk?

Ke mana-mana bawa handuk adalah perbuatan yang sangat saya sarankan. Setidaknya handuk kecil. Gapapa dipanggil Bajuri juga, moga-moga ketularan naik haji setelah jualan bubur. Bawa pula selalu deodoran ke mana pun kamu pergi. Walau gemuk seumur hidup, setidaknya kamu wangi sepanjang hari.

4. Untuk kebugaran tubuh, pilihlah olahraga yang ringan-ringan. Saya pernah cedera pergelangan kaki ketika bermain bulutangkis, akibat terlalu semangat, terlalu greget menghadapi lawan yang lebih kurus, dan lebih jagolah tentunya. Tiga minggu saya berjalan terpincang-pincang. Tanpa pijat Cimande, mungkin lebih lama kaki saya pulih waktu itu. Sejak peristiwa cedera dua tahun lalu, saya belum pernah memegang raket lagi. Trauma? Bukan. Karena emang saya gak punya raket. Dulu pinjem.

Asal mematuhi rambu-rambu jalan raya, bersepeda adalah olahraga yang risiko cederanya ringan. Cocok bingits bagi orang gemuk. Tidak seberisiko olahraga kompetisi macam sepakbola, futsal, dan bulutangkis. Selain pantat pegal atau paling banter sakit selangkangan karena setelan sadel kurang ergonomis bagi postur tubuhmu, bersepeda cukup recommended untukmu.

Alternatif selain sepeda, jogging juga olahraga yang bagus bagi orang gemuk. Sebab tempo dan ritme berlari dapat disesuaikan kemampuan, asalkan dijalani dengan istiqomah, kalau kata Eko. Tetapi pesan saya, jangan jogging sembari mengenakan kaus merah yang pusarnya keliatan di siang bolong. Nanti kamu dikira Winnie the Pooh, beruang madu yang sedang kelaparan di gurun Gobi. Terus dipalakin madu deh sama begal.

Tips lain dari saya. Kalau kamu masih gemuk, berolahragalah sewajarnya demi kebugaran, jangan diforsir, kawan. Tak usah dulu diniatkan untuk menurunkan berat badan. Percayalah, niatan sedemikian hanya akan berfungsi di awal-awal kamu berolahraga, selanjutnya kamu akan kelelahan luar biasa dan akhirnya kamu bakal memutuskan rihat panjang, selama-lamanya. Rihat dari olahraga maksudnya.

5. Untuk kesehatan hati, curhatlah di blog seperti saya. Setidaknya di blog orang takkan tahu tubuhmu sebesar apa, pipimu setembam bakpaukah, lingkar pinggangmu 50 hektar. Jarang ada yang mengomentari kegemukanmu di blog (jikapun ada yang komentar pun kamu harusnya mengucapkan alhamdulillah). Tidak ada yang berkomentar sinis tentang tubuhmu yang bohai. Paling banter juga yang komentar sembari spam promosi nomor togel atau jualan token listrik. Kamulah penguasa di blogmu masing-masing. Dan terkadang kamu jugalah yang berkomentar di blogmu sendiri.[]

01 November 2015

Warung Nasi Cianjur - Cibinong

4 comments :

Kalau kangen kampung halaman, hal pertama yang melintas di benak saya adalah makanan. Untung saja di Cibinong dan sekitarnya banyak spot yang menyediakan masakan sunda, mulai dari warung tenda hingga berupa rumah makan yang ada pajak restorannya. Salah satu rumah makan khas sunda di Cibinong yang saya rekomendasikan kepada teman-teman adalah Warung Nasi Cianjur.

Berlokasi di Jalan Raya Bogor-Jakarta, membuat keberadaan Warung Nasi Cianjur cukup strategis bagi teman-teman penyuka makanan sunda sambangi baik dari arah Depok maupun Bogor kota. Bila Anda datang dari arah Bogor, rumah makan ini berada sekisar 100 meter sehabis lampu merah simpang tiga Pemda Kab. Bogor. Patokan mudahnya terletak di setelah dan sejajar dengan Cibinong City Mall.

Banyak pilihan lauk-pauk di rumah makan yang "melitoteskan" namanya menjadi sekadar Warung Nasi. Mulai dari ayam goreng & bakar, aneka ikan, soto daging, urab, seabreg tumisan atau osengan (surga banget!), hingga tentu saja favorit penduduk bumi, apa lagi kalau bukan semur jengkol. Sayang sekali saya tidak suka dan belum pernah mencoba semur jengkol. Orang sunda yang gagal sepertinya.

Sementara di sini, sambal dan lalapan boleh Anda ambil sepuasnya. Tersedia pula beragam minuman semisal jus maupun softdrink bagi penyuka minuman manis, namun kita sudah disediakan minuman gratis berupa teh tawar hangat.



Kali ini saya memesan ayam bakar, urab daun pepaya, dan oseng cumi cabe hijau. Rasa ayam bakarnya cenderung manis, berasal dari manis kecap, khas ayam bakar priangan. Tekstur dagingnya lembut, empuk, dan tentu saja tidak gosong. Sementara urab daun pepayanya agak pahit, padahal setahu saya ada triknya loh supaya rasa pahit daun pepaya lenyap, sama sekali. Tapi saya tetap suka, apalagi serundengnya. Dan nasi pulen nan wangi khas Cianjur yang kesohor itu menyempurnakan kenikmatan dalam setiap suapan.


Saya paling suka dengan oseng cumi cabe hijau. Mulai dari penampilan yang komposisi warnanya pas, dan ternyata porsi juga rasanya pas. Cuminya segar, tidak berasa amis, dan kesegarannya bertambah berkat kehadiran tomat hijau. Pedes cabe hijaunya nampol, berduel dengan rasa asam dari irisan tomat hijau.

Oh ya, menurut saya sambalnya juga mantap. Apalagi dicicip berbarengan sama oseng cumi cabe hijau. Kemarin saya makan sembari bercucuran keringat. Lain kali bawa handuk lebih baik (emang kang bajaj, Cep).

Secara keseluruhan, tampilan seluruh menu di Warung Nasi Cianjur enak dipandang. Tidak seperti warung nasi ala jaman dulu yang menyajikan ala kadarnya, yang penting enak di lidah. Aneka tumisan maupun masakan lain semacam krecek tersaji rapi pada pisin-pisin putih, kemudian permukaannya dilapisi plastik elastis sehingga kehigienisan makanan terjaga.

Memasuki Warung Nasi Cianjur, kita tinggal mengambil pisin demi pisin lauk dan osengan yang diinginkan, lantas memindahkannya ke atas baki masing-masing. Setelah itu tagihan langsung kita bayar sebelum makan, serupa dengan metode pemesanan restoran cepat saji. Alhasil kita dapat makan dengan tenang, tanpa harus menghafal menu apa saja yang akan dan telah kita makan. Percayalah, itu merepotkan! Harus gitu sebelum makan nge-list pesanan dulu di Evernote?

Warung Nasi Cianjur cocok untuk teman-teman kunjungi pada akhir pekan bersama keluarga kecil, keluarga besar, keluarga besar-besar (seperti keluarga saya). Bagaimanapun lidah tidak bisa dibohongi oleh selera: selera kampung halaman kita.[]

Skor Warung Nasi Cianjur - Cibinong :
Rasa : 9
Tempat : 8,5
Pelayanan : 8
Harga : 8
Instagramable : 9

27 October 2015

Blog Seumuran Anak TK

10 comments :

Blog bagi saya sudah seperti... apa ya. Diibaratkan seperti anak, saya belum punya anak. Sebagai adik, saya tidak punya adik. Seperti pacar.. nanti si M marah dong kalo dia segala disamain sama blog.

Blog sebagai pelarian, mungkin dapat dibilang demikian. Di saat tak lagi ada telinga yang saya percayai untuk berbagi kegalauan. Setidaknya dengan menuliskannya, saya dapat menumpahkan uneg-uneg tanpa harus turut menambah beban hidup orang lain. Dan memang tidak semua orang ikhlas membuka layanan curhat 24 jam. Iya sih gak ngebebanin orang, tapi kan menambah beban kuota internet? Ah, tidak seberapa, teman, dibanding manfaatnya yang besar bagi kesehatan pikiran dan hati saya.

Sejalan dengan waktu dan pengalaman ngeblog, ada suatu masa saya mulai menyadari untuk menyaring sampah pikiran secara ketat. Perlukah disebarkan? Pentingkah diudarakan? Gimana kalau ada yang nyinyir sama postingan sampah saya? Gimana kalau ada haters, terus mengadukan konten blog saya ke Kemenkominfo! Gak bakalan mewekkah saya disidang aparat terhormat andai kejeblos UU ITE? Saking kebanyakan mikir, saya jadi batal melulu memperbaharui blog padahal waktu luang berlimpah banget tahun 2014 lalu (bilang aja males, Cep).

Kini saya mulai mendedikasikan blog ini untuk diri sendiri, seperti halnya beranda rumah yang merupakan relung pribadi sang pemilik. Sebagai tuan rumah, kita yang harus mawas diri agar selektif menaruh perabotan maupun hiasan tertentu di selasar beranda sesuai estetika dan etika. Tentu, saya akan melayani siapa pun tamu yang datang termasuk teman-teman yang mampir ke blog ini seramah yang saya mampu.

Tapi jujur aja setahun belakangan pengunjung blog mulai sepi nih, teman... hiks. Terutama sehabis peralihan domain dari cepyhr.com ke basabasipagi.blogspot.com, dan sekarang ganti domain lagi ke cepy.web.id. Blogger hejo tihang pantaslah tersemat pada diri saya. Selain itu satu per satu blogger mulai meninggalkan blog masing-masing, kebanyakan lebih memilih Path sebagai medium berbagi yang praktis dan jauh lebih personal.

Sebelum sibuk bekerja nanti (doakan dong, teman, supaya saya lekas direkrut), sebisa mungkin saya konsisten mengisi blog ini dengan topik apa adanya, dengan bahasa yang sederhana. Saya lagi suka ngepost tentang makanan di sekitar rumah. Cibinong, daerah di mana saya bermukim, perkembangannya pesat. Baru ditinggal empat bulan, tiba-tiba udah ada lampu merah di pertigaan Karadenan. Perbaikan jalan di mana-mana, padahal tumben loh, Desember masih dua bulanan lagi.

Menurut saya, salah satu parameter kepesatan suatu daerah adalah munculnya satu demi satu destinasi pemanja lidah kekinian. Kesejahteraan perlahan meningkat. Kebutuhan utama penduduk setempat sudah terpenuhi berkatnya, kemudian mereka mulai memperhatikan kebutuhan selera lidah. Meski tidak sedikit yang baru-baru itu lekas tenggelam, takluk oleh kejamnya pasar dan selera masyarakat yang sukar ditebak, akan tetapi lekas digantikan tempat-tempat makan baru lain.

Oh ya. Kesalahan terbesar saya selama ini adalah jarang blogwalking. Padahal teman-teman di dunia maya itu sama pentingnya dengan teman di dunia nyata, terkadang malah lebih loyal. Guna menebus dosa-dosa masa lalu, saya mulai mengoptimalkan aplikasi Feedly dalam genggaman supaya tidak ketinggalan postingan blog terkini dari teman-teman sekalian. Boleh dong share di sini url blognya, nanti akan saya unggah ke content lists Feedly.

Selamat merayakan hari blogger nasional 2015, teman-teman, tahun yang berat. Saya sudah menginjak tahun ke lima berkelana di blogosphere, kurang lebih seumuran anak TK, lagi lucu-lucunya loh hahaha. Apa aja hal-hal yang kamu kangenin dari awal-awal masa ngeblog? Kalau saya, kangen terjebak di blog yang dihujani salju, kursor kelap-kelip, template anime Naruto yang riweuh, kemudian mengalun lagu D'Bagindaz tanpa permisi. Tiba-tiba Mozilla Firefox crash.[]