10 March 2015

Sepeda Minor

2 comments :

Bersepeda—setidaknya pada “jaman batu” seperti sekarang ini—adalah sejenak mengenakan peran sebagai minoritas. Wajah berjerawat gue langsung berkontak dengan angin bertoping debu jalanan, melaju pelan di aspal maupun jalan terjal bebatuan, diklaksonin mobil demi mobil, motor demi motor berulang-ulang.

Reaksi gue, gak jarang menyumpah-nyumpahi kelakuan mereka dengan aneka nama binatang, bahkan nama buah-buahan. Kesemek salah satunya, bukan buah dada, sebab buah dada hanya untuk balita, sangat berbahaya untuk anak alay yang baru aja akil baligh dengan tunggangan satria f berknalpot pipa kiloan hasil nyicil dari madura.

Pada hari biasa, sebenernya gue sama aja: salip sana salip sini, gak sabaran kalo ada mobil dan truk gandeng yang merangkak pelan gegara macet di perempatan. Suatu sore gue pernah nendang bumper angkot yang nyantai banget menepi di tengah jalan, bukan di pinggir jalan. Gue tendang bokong angkot itu pake sepatu safety. “Bug!” Setelah itu gue kabur, baru kepikiran, gimana kalo sopir angkot itu adalah Haji Lulung yang menyamar. Bisa kurus dan ganteng mendadak gue.

Gue sangat menikmati ketika telapak kaki memancal pedal, napas ngos-ngosan plus urat-urat betis yang menegang di tanjakan. Menahan beban tubuh oleh cengkeraman tangan pada saat sepeda meluncur di turunan. Kalau kuat, pengen rasanya gue bersepeda lebih dari tiga jam setiap Sabtu, tapi sayangnya pantat gue udah berkontraksi minta pulang. Sepertinya luas permukaan pantat gue didesain dengan range toleransi cukup lebar, demikian pula beban tubuh ini yang seberat kurs rupiah terhadap dollar.

Yang bikin gue berkesan, yang bikin gue ketagihan bersepeda, adalah momen ketika gue berpapasan dengan pesepeda-pesepeda yang melesat berlawanan arah. Gue gak kenal orang-orang "tak bernama" itu, dan siapalah gue ini, mana mungkin mereka kenal sama gue. Tapi nyaris 97,5% (2,5% buat zakat) pesepeda yang berpapasan dengan gue, pasti melontarkan senyum dan kalo sepeda mereka dilengkapi bel, mereka bakal mendentangkan belnya: “Kring! Kriiing!” atau “Cuit cuit!” kemudian diikuti dengan, “Mari, Mas, saya (kami) duluan.”

Jika tak sempat bertegur sapa tersebab kondisi kami yang sedang sama-sama meluncur agak laju, paling tidak kami saling mengangguk samar. Mau sepedanya Giant, Thrill, framenya Mosso atau Specialized, Forknya merek FOX, Federal asli Jepang, maupun sepeda Evergreen karatan, gue rasa hampir semua pesepeda bersikap ramah, padahal gue cuma gowes pake Pacific Exotic dengan lite upgrade fork RST Blaze 400 ribuan dari honor cerpen.

Jika sudah demikian, gue merasa tersanjung. Jarang-jarang pagi-pagi udah dikasih senyum aja oleh orang asing. Jangankan orang asing, setiap pagi, gue berangkat dan ketemu tetangga secara tidak sengaja, tetangga gue pelit banget buat senyum. Untuk mendapatkan balasan senyum dari mereka, sepertinya gue mesti nyicil 38 tahun, belum termasuk bunga dan asuransi.

Sebagaimana aktivitas bersepeda, gue pun baru merasa sebagai manusia saat bertemu dengan orang yang “sependeritaan” dengan gue. Senasib sepenanggungan. Gue seneng banget ketika ketemu orang yang sama-sama gendut, dan ternyata cerita masa lalu kami hampir sama. Sama-sama dibully dan sama-sama terus berjuang membuktikan diri hingga kini.

Sebagaimana halnya orang Indonesia yang malas buat sekadar ikut kerja bakti—kegiatan yang terdengar asing di jaman batu kini—tatkala berada di kampungnya sendiri, namun sontak berubah 180 derajat menjadi saling peduli ketika berada di luar negeri. Ketemu orang senegara dan sekampung, kemudian pada akhirnya rutin saling bertamu dan menjamu satu sama lain di negeri orang.

Bagaimana gue pernah merasa nikmaaaat banget berbuka puasa dengan beberapa orang di antara lingkungan yang bukan mayoritas beragama Islam, kalaupun ada yang Islam, mereka kebanyakan gak berpuasa karena merasa gak mampu akibat kerasnya kerja lapangan. Terus.. apa lagi ya?

Perlukah menjadi minoritas dulu supaya bersatu padu? Perlu gitu cucu-cucu Adam dibuang lagi ke planet lain di galaksi sekian supaya kembali akur? Padahal, mau item, mau sipit, mau kaya, mau kere, toh manusia bakal kembali ke asalnya: tanah. Dan gue baru sadar, kodrat tanah itu diinjak-injak. Gue, kalo pengen membuktikan diri sebagai manusia seutuhnya, harus kuat diinjak-injak. Semakin diinjak, seharusnya gue semakin kuat, semakin padat, seperti tanah. Dan emang kenyataannya gue dari tanah, kan? Bukan dari batu bacan.[]

2 comments :

  1. Eh ayo sepedahan bareeeng. Biar cepet kurusnyaaa... Hahaha. Kalau kamu temenan sama ornag gendut juga, ya gak kurus2 hahahah... Pacar kurus gak? enggak ya? hahahah

    DI mana2 sama ya, adab pesepeda kalau bertemu slaing sapa dengan bel sepeda kring kring. Bonus senyum tulus. Tapi setelah itu biasanya mata langsung melihat sepeda mereka. Kalau lebih bagus, langsung minder, kalau lebih jelek langsung sombong. hahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahaha temen cowok saya orangnya kurus kok, berat badannya 47 kg doang :D tapi tetep aja nih haha

      ah iya juga sih. diengga engga juga pasti ada rasa minder atau rasa sombong dalam waktu bersamaan -___-

      Delete