26 April 2015

Ternyata, Ada Kafe yang Asyik di Cibinong!

22 comments :

Ketika pacar mengajak makan pada malam Minggu, (selalu) terjadi percakapan berikut ini :

"Ay, lapeeer. Makan yuk!"

"Yuk. Ke mana?"

"Hmm, terserah."

"Nasi goreng? Ayam tulang lunak? Pecel ayam? Nasi lengko?"

"Emm, gak deh. Bosen."

"Ke mana dong? Solaria? Pizza Hut?"

"Ihh, jangaaan! Junk Food! Tar kamu tambah gendooot!"

"Iyee, terus mau makan ke mana?"

"Terserah."

*garuk-garuk perut pake garpu*

Sementara, awan mendung malam itu tidak mendukung niat kami menjelajahi Bogor Kota, daerah yang menyediakan seribu angkot ragam wisata kuliner untuk memanjakan perut dan menambah koleksi foto instagram. Alhasil, makan ayam bakar bumbu rujak dan ayam siram asam manis di warung tenda Citeureup lagi.

Memang susah cari tempat makan enak di Cibinong. Tetapi Sabtu malam kemarin lain. Berbekal referensi dari internet, saya memutuskan menculik dia ke kafe di daerah Cibinong, tepatnya Cikaret, satu-satunya kafe di Bogor Coret yang punya konsep beneran kafe, bukan sekadar luarnya saja sok kafe tapi sajiannya biasa aja, gak lebih enak ketimbang warung tenda pinggir jalan.

Nama kafe asyik itu adalah Kafe Micasa, terletak di Jalan Cikaret Raya. Sayangnya lokasi kafe ini tidak terlalu mencolok sebab bukan berada di jalan Cikaret yang lebar, namun di percabangan menuju Karadenan-Sukahati masih lurus ke dalam lagi, menuju arah tembusan ke Depok. Patokannya adalah Masjid Al-Falah, jika teman-teman sudah melewati masjid pesantren tersebut, perlambat kendaraanmu sebab Kafe Micasa berada tidak jauh dan sejajar dengan masjid yang pada malam hari ramai oleh para santri yang mengaji tersebut.


Namanya juga hidup, sesampainya di sana saya sempat kecewa mendapati lapak parkir yang penuh dan nihil pula kursi yang kosong. Mana gerimis mulai turun, lengkap sudah, alamat gagal nih rencana makan enak. Beberapa saat kemudian, syukurlah kebetulan ada sekelompok pengunjung yang baru selesai makan dan hendak pulang. Kami langsung disambut pelayan (atau sekaligus pemilik ya?) yang sigap merapikan meja bekas pengunjung sebelumnya.

Menu sudah kami pesan, namun apa-apa juga selalu ada minusnya ya. Waktu tunggu makanan terhidang lumayan lama, lebih dari 20 menit, sampai-sampai si M pun beberapa kali meringis kelamaan nunggu, apalagi perutnya udah laper sejak sore. Dalam hati, saya memaklumi kekurangan ini, karena demikianlah ciri khas kafe yang membedakannya dengan restoran cepat saji atau warung soto atau warung mie ayam bangka. Menu yang beragam dari kafe merupakan tantangan bagi koki kafe yang harus meracik menu secara cepat dan tepat sesuai foto buku menu, susah broh, gak bisa cepet kayak bikin mie ayam atau soto kudus.

Tapi, alangkah baiknya Kafe Micasa segera mengakali nila setitik ini, misal dengan menambah koki, lantaran mayoritas penduduk Cibinong adalah karyawan pabrik, saban harinya stres sama target produksi, sehingga di luar pekerjaan, mereka gak mau nunggu lama, apalagi sekadar nunggu makanan, sering saya melihat orang suka marah-marahin pelayan di foodcourt Belanova dan Cibinong City Mall, kasian banget.

Begitu pelayan dateng membawa pesanan kami, saya puas menatap penampilan makanan yang eye catchy, dan foto-foto di buku menu tadi gak bohong, malahan melebihi ekspektasi saya. Cara penyajiannya instagrammable banget! Maka dari itu, sebelum makan saya foto-foto dulu deh makanannya.

Biasanya, makanan yang tampak visualnya bagus, urusan rasa malah sebaliknya. Tapi, di Kafe Micasa ini, makanannya enak-enak! Seriusan! Kami memesan tiga menu. Nasi goreng yang digulung dengan telur dadar, mie goreng, dan pancake oreo. Untuk minumannya, kami memilih es teh manis dan es jeruk.


Rasa es teh manisnya rumahan banget! Gak kayak teh botol sosro. Menurut dugaan saya, gulanya asli, bukan gula biang, dan teh celupnya merek Tong Tji, hahaha. Kalo es jeruknya, gak tahu deh, saya lupa buat nyicip dari sedotan si M. Tapi dilihat kasat mata, kayaknya pake gula dan jeruk peras asli, bukan seduhan nutrisari tapi harganya kemahalan kayak di beberapa kafe yang pernah kami kunjungi.


Terus, saya nyicipin nasi goreng gulung si M. Rasanya enak banget. Walaupun kafe ini mendaulat dirinya sebagai nasi goreng ndeso pada buku menunya, menurut saya urusan rasa maupun visual gak kalah dengan nasi goreng di hotel-hotel. Yang pasti, enakan nasi goreng ini daripada nasi goreng Waroeng Taman yang udah mah dikit, rasanya biasa aja, harganya kemahalan pula. Oh ya, porsinya juga banyak, tapi ajaib, dalam hitungan menit si M berhasil melumat habis nasi goreng pesanannya. Entah doyan apa laper.



Menghadapi pesanan sendiri, saya dibuat terkesan oleh mie goreng yang tersaji dalam wajan mini. Menggugah nafsu. Mie gorengnya punya tekstur kering, gak berlumuran minyak. Dilengkapi bakso, sosis, dan telur yang berbaur merata dalam mienya, berpadu dengan bumbu khas mie goreng jawa. Penampilan oke, rasa mantap, dan porsinya yang banyak, berhasil memuaskan hasrat perut dan lidah saya.


Jangan tanya rasa pancake oreo. Errr.. legit! Meskipun ide menu ini sederhana, semisal dilengkapi sebatang wafer stick dan oreo, kemudian sausnya sekadar susu cokelat, tapi entah kenapa kok bisa sih pancakenya enak banget. Beneran.


Pelayan yang saya duga merangkap pemilik Kafe Micasa melayani kami dengan ramah, beberapa kali melontar maaf karena terlalu lama menyajikan pesanan kami. Uniknya, usai melihat kami—termasuk pengunjung lain—selesai makan, ia minta izin memotret kami untuk diunggah ke instagram @kafemicasa. Strategi marketing yang fresh dan membuat pengunjung kafe merasa dihargai, patut dicontoh kafe-kafe lain termasuk pelayan kafe di Bogor Kota yang kebanyakan pada jutek.

Harganya pun worthed banget buat mahasiswa tua semacam saya. Lima item yang kami pesan : nasi goreng gulung+ mie goreng + pancake oreo + es jeruk + es teh manis = 59 ribu saja. Waw... pantesan kafe ini rame sama para abege Cibinong dan sekitarnya, termasuk saya yang masih (merasa) abege hahaha.

Kesimpulannya, meskipun kami memesan menu yang sebenarnya mainstream semacam nasi goreng dan mie goreng, namun kami terkesan sebab kafe tersebut menggarap sajiannya dengan oke, baik interior kafe, rasa, maupun penampilan. Termasuk pancake oreo yang terhidang apik. Selain menu yang kami pesan, masih banyak menu menarik yang harus kami coba lain waktu semacam burger, hotdog, ramen, sandwich, aneka pancake dan waffle, yang dari foto di menunya juga menggugah syahwat, hingga makanan Indonesia banget semacam sop iga dan soto ayam.


Sepulang dari Kafe Micasa, saya masih belum percaya ternyata ada kafe yang seru buat seru-seruan di Cibinong. Jangan cepet bangkrut ya Kafe Micasa, maju terus! Saya yakin pengunjung dari Bogor Kota pun tertarik buat icip-icip di sini. Dan semoga semakin banyak kafe berkonsep macam ini di daerah Bogor Coret tercinta, jangan cuma Capuccino Cincau dan Ayam Kremes doang yang menjamur dong.[]

PS. Ini bukan artikel bayaran, sekadar ungkapan kepuasan saya pribadi terhadap Kafe Micasa. Kalo memang isinya bombastis, harap maklum broh. Saya udah lebay sejak dini. Perutnya apalagi.

Skor Kafe Micasa - Cibinong :
Rasa : 8,5
Tempat : 8
Pelayanan : 8
Harga : 9
Instagramable : 9

21 April 2015

Memotret Sempur pada Minggu Pagi

5 comments :


Usai menambatkan sepeda ke tepian jalan Sempur, saya duduk di trotoar mengamati orang-orang dari ragam kalangan berbalut pakaian yang juga berbagai. Dengan aneka rupa cara, masing-masing memeriahkan suasana Car Free Day pada Minggu pagi di kawasan tersebut. Ada yang mengikuti lomba lari, gerak jalan sehat, fun bike, lengkap dengan properti olahraga kekinian. Ada pula yang ke sana sekadar beralaskan sandal jepit bersama keluarga kecilnya, menimang bayi, tak sedikit yang tengah bersabar membasmi rengekan buah hati yang merajuk dibelikan balon Doraemon.


Selain kota Hujan, saya bingung menjuluki kota Bogor dengan apa, namun dengan segala hormat izinkan saya untuk mengistilahkan Bogor sebagai kota Satelit. Saya beralasan demikian karena sebagian besar warga Bogor menghabiskan kariernya di Planet Jakarta. Hanya pada Sabtu dan Minggu mereka berkesempatan untuk menginjak tanah di mana aneka tanaman tumbuh subur di sini, terutama umbi-umbian talas dan singkong. Termasuk tanaman-tanaman beton berwujud ruko yang seolah tidak mau membiarkan tanah kosong, terutama di perbatasan antara kabupaten dan kota.



Saban harinya menghadapi keramaian dan kesibukan yang tiada bersudah, mengapa justru pada saat libur mereka memilih keluyuran ke tempat keramaian juga, bukan kedamaian? Pada Minggu pagi, bukankah lebih damai untuk menyesap secangkir teh di sofa, sembari menonton berita pagi yang dikemas secara santai ala akhir pekan? Seperti di iklan-iklan.

***

Semasa kecil, saya sulit diajak keluar rumah, orangtua kadang membujuk setengah memaksa supaya saya mau bermain di luar, dan Anda pasti tahu jawaban saya. Entahlah, rasa malu bercampur sempurna dengan takut, seakan tetangga atau teman sebaya adalah monster yang harus dihindari, kalau perlu ditumpas oleh Ultraman. Saya lebih suka di dalam rumah, bermain robot-robotan dan lego, menonton serial Jiban dan ninja Jiraiya di televisi. Juga membaca tumpukan buku cerita terbitan perpustakaan sekolah SD Inpres yang dikepalai Ayah, sehingga saya bisa leluasa membaca buku secara cuma-cuma.


Sampai pada suatu hari yang membosankan, sepulang sekolah saya diajak empat teman sekolah ke lapangan bulutangkis yang berjarak satu kali bersin dari rumah untuk main tetepakan (bermain bulutangkis secara tidak serius, jaring net berwujud angan-angan, jarak antar pasang pemain pun cukup tujuh langkah besar bocah). Namun baru setengah jam kami tetepakan, datang enam bocah sebaya dari RT sebelah, mengajak kami bermain bola plastik. Dengan senang hati salah seorang teman kami menerima tawaran bagus itu, sedangkan saya agak malas sebab sama sekali tidak becus bermain bola.


Kami memulai bermain bola dengan gawang dua pasang sandal jepit. Saya bertindak sebagai pemain bertahan—Anda mafhum, dalam suatu tim sepakbola bocah, biasanya ada anak bawang yang ditaruh di belakang bersama kiper, itulah saya. Kami bermain cenderung keras dan kasar, acap kali saya jatuh di atas lapangan berlantai semen itu, namun ajaib, tiada amarah yang mengemuka menjadi perkelahian di antara kami kendati benturan demi benturan terjadi, justru uluran tangan lawan sering saya peroleh kala terjerembap jatuh. Tidak seperti induk organisasi sepakbola kita.

Pada suatu kesempatan, saya melihat kelengahan pemain belakang lawan yang kesemuanya maju ke wilayah kami. Bola lawan dengan mudah saya rebut, saya melesat ke depan—sampai sekarang saya masih heran mengapa saat itu saya bisa begitu cepat berlari—hingga tiba di depan gawang, tinggal berhadapan dengan kiper lawan yang lututnya gemetar menatap orang segembrot saya bersiap menendang bola di hadapannya. Bug! Tanpa perhitungan, saya menendang bola, namun bola dengan cerdik menempatkan dirinya ke pojok gawang. Gol!

Teman-teman serentak memeluk, menepuk-nepuk perut saya, padahal biasanya, pemain bola sungguhan yang berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan yang ditepuk adalah kepalanya. Ada letupan-letupan energi-energi yang mengisi sekujur anggota tubuh saya, membuat saya semakin bersemangat untuk bermain. Selepas peristiwa itu saya baru ngeh, bermain di luar tidak semenyeramkan yang saya khawatirkan sebelumnya. Yang saya rasakan justru hanya satu: kegembiraan.


Fragmen-fragmen kenangan masa kecil di Bandung pun nyata terhampar kembali di depan mata, di lapangan Sempur kota Bogor, namun dengan pemain-pemain yang berbeda, pagi itu saya hanya sebagai penonton. Masing-masing kelompok bocah maupun remaja ada yang bermain bola dengan bertelanjang kaki, bergawangkan sandal jepit dan tas sekolah, mirip sekali dengan kelakuan masa kecil saya dan teman-teman. Semuanya bergembira. Jatuh bangun pun mereka tetap tertawa. Ah, lagi-lagi saya ketularan bahagia.

***

Selain serunya permainan bola, saya pun mendapati lelaki paruh baya yang mengajak bermain anaknya dengan parasut-parasutan, balon sabun, atau sekadar digendong untuk mengenalkan anak-anak mereka terhadap heterogennya wajah masyarakat Indonesia minimal seminggu sekali, sehingga mudah-mudahan pada masa mendatang takkan kita temui disintegritas mulai dari lapisan bocah SD sampai lembaga sakral semacam kepolisian.


Betapa banyak pengamat sosial dan budayawan yang beropini dalam berbagai media bahwa anak-anak dan remaja zaman sekarang cenderung antisosial akibat dahsyatnya perkembangan teknologi akhir-akhir ini. Mereka mensinyalir remaja-remaja kini lebih memilih berfokus terhadap aneka gadget maupun permainan online di komputer ketimbang berbaur dengan sesamanya di luar rumah, demikian ungkap mereka prihatin.

Menyaksikan kabar-kabar tersebut saya hanya tertawa di dalam hati. Andai bertemu mereka, saya ingin bilang, bukan hanya saat ini, sedari dulu manusia diciptakan beragam, ada yang memang antisosial karena memang pemalu, pun sebaliknya yang periang, sebab saya sendiri sempat menjadi bocah demikian. Boleh jadi, justru mereka yang luput menganalisis gejala sosial pada Minggu pagi, tidak menyempatkan untuk keluar rumah, ke ruang publik semacam lapangan Sempur, memotret anak-anak kecil dengan ragam karakter bergembira bermain, berlari, menuntun anjing peliharaan lucunya di atas rumput basah.

Jadi, siapa bilang generasi muda sekarang cuma tahu televisi dan gadget? Barangkali, generasi tua—macam saya—terlampau sensi sebab dulu belum lahir penemuan Capuccino Cincau.

***

Tidak bisa dimungkiri, mustahil zaman berjalan stagnan begitu-begitu saja sedari dulu sampai sekarang, zaman selalu berkembang. Di antara remaja yang bersukaria di Sempur, kerap saya melihat yang sedang berselfie, berlari kecil sembari menyelipkan earphone, atau berjalan berdua namun sepasang mata dan jempol fokus terhadap ponsel pintar masing-masing. Fenomena demikian bukan untuk kita khawatirkan, setiap era mempunyai keunikan perilaku masyarakat seiring pesatnya perkembangan teknologi.


Seyogianya gejala tersebut memperkaya peran kita sebagai masyarakat yang optimis menantang masa depan, bukan malah merisaukan. Jangan sampai kita salah fokus. Fenomena penguasalah yang sangat-amat-banget perlu kita awasi! Ruang publik terbuka seperti lapangan Sempur di Bogor rentan diintervensi oleh tamaknya kepentingan bisnis dan politik. Sehingga, diharapkan pada esok hari kita takkan meratapi lapangan Sempur ujug-ujug mewujud mal, hotel, menjelma tempat wisata yang kita harus membayar agar bisa masuk ke dalamnya, lantaran tempat seperti itu bukanlah ruang publik, namun arena rekreasi yang sudah diprivatisasi orang berduit. Jangan, jangan sampai!

Pukul sembilan pagi, saya memutuskan untuk kembali ke rumah. Baru saja hendak memancal pedal, saya turun menuntun sepeda lagi sebab melirik bapak bertongkat, berkalungkan baki berisi dagangan yang dibeli oleh dua-tiga orang. Saya dekati, dan barulah saya tahu bahwa bapak itu berjualan tisu seharga dua ribu. Tisu hanya tersisa dua di bakinya itu, keduanya saya beli dan senyum mengembang pada raut wajahnya diikuti seucap ungkapan terima kasih.

“Setiap hari jualan di Sempur, Pak?” saya antusias bertanya.

“Oh, kalo hari biasa saya di PMI, Dek. Petugas-petugas di sana udah maklum sama saya, ngijinin saya jualan di sana.”

PMI yang ia maksud adalah Rumah Sakit PMI di Jalan Pajajaran, seberang gerbang Kebun Raya.

“Sehari-hari saya tinggal di Musholla. Sudah pasrah sama Gusti Allah. Tapi saya pengin berusaha. Lagian, daripada saya gila meratapi nasib, lebih baik begini, Dek. Jualan di luar, ketemu sama orang yang baik-baik sama saya,” ungkapnya dengan senyum yang tulus.

Saya hanya manggut dan tersenyum, diam-diam menimbun malu, menyadari diri ini senantiasa dilimpahi nikmat tak tepermanai, namun masih saja menganggap bahwa hidup ini tidak adil.

“Saya duluan, Dek. Makasih udah jadi penglaris ya!”

“Oke. Hati-hati, Pak.”


Beberapa kejap, saya menunggu bapak penjual tisu itu berlalu, kemudian kembali mengayuh angan menuju rumah. Bahagia itu sederhana. Keluar rumah sejenak dan berjumpa dengan orang-orang baik pada Minggu pagi.[]

Foto-foto: Dokumentasi Pribadi

Artikel ini diikutsertakan dalam kontes blog yang diselenggarakan oleh @betteroutsideID

14 April 2015

Adakah Satu Hari Tambahan Sebelum Hari Senin?

No comments :


Semasih sekolah SD dulu, saya suka mengkhayalkan cara menghentikan waktu pada Minggu sore, mengatur hari sekehendak hati oleh tombol pause, rewind, forward pada tombol remote VCD merek Sinko (abal-abalnya dari merek Sony) yang Bokap baru beli. Supaya Senin tidak dengan cepat menjelang, sehingga saya masih bisa bermain di luar rumah sama sepupu dan tetangga. Khayalan memang sekadar khayalan. Esoknya, saya harus mengikuti upacara Senin pagi, sebagai pembawa map Pancasila atau pembaca UUD 45.

Hari demi hari berlalu, sampai tiba Sabtu sore sepulang latihan Pramuka, betapa senangnya saya menyambut malam Minggu, karena bisa menonton televisi dan tidur agak malam.

Saya sempat bekerja dan kuliah, dan memang, sekarang hari libur bertambah dengan Sabtu, tidak seperti saat sekolah yang cuma Minggu. Namun, saya rasa dua hari tersebut berlalu lebih cepat dua kali lipat. Apalagi, ada-ada saja acara yang harus ditunaikan pada Sabtu dan Minggu. Undangan pernikahan teman, sepupu, tetangga, rekan kerja, dan sebagainya. Pacaran atau nongkrong sama temen-temen pada malam Minggu. Esoknya, Minggu sudah menghidangkan acara kumpul komunitas, pergi piknik keluar bersama keluarga besar. Niat tidur siang yang sudah direncanakan semenjak Senin pun tinggal rencana yang mahal harganya.

Sekarang, esensi akhir pekan bukanlah hari yang benar-benar libur—hari untuk istirahat. Sabtu dan Minggu tidak berbeda dengan Senin sampai Jumat, adalah hari yang sama-sama sarat oleh rutinitas tersendiri. Pada Senin hingga Jumat kita bermacet-macet menuju tempat kerja, sedangkan Sabtu-Minggu kita pun suka tidak suka harus bermacet-macet menyisir destinasi wisata di dalam maupun luar kota.

Azrul Ananda, pada rubrik Happy Wednesday di harian Jawa Pos mengatakan demikian. Menurutnya, di kehidupan "modern" ini, weekend bukan waktu istirahat, melainkan telah menjelma sebagai dua hari penuh obligasi, yang belum tentu membuat kita segar lagi sebelum menghadapi kembali Senin dan seterusnya. Jalan-jalan keluar kota, menemani anak-anak (yang sejak bangun tidur pada Sabtu pagi merengek) bermain ke mal. Kondangan, segala macam reuni, dan kumpul aneka komunitas pun sudah menjadi budaya baru yang biasa terselenggara pada akhir pekan.

Berbeda dengan saya yang cuma bisa berandai-andai ada satu hari tambahan sebelum hari Senin, Bos Jawa Pos itu mengakali ganasnya hari-hari dengan cara bersepeda (road bike) pada Rabu sejak pukul empat sampai setengah sembilan pagi bersama teman-teman gilanya, menempuh jarak sekitar 101 kilometer. Rute bersepeda yang seram dan porsi latihan yang berat dari akhir pekan. Seusainya, Azrul kembali pada kesibukan, dengan raga dan pikiran yang kembali segar. Ia mengistilahkan kegiatannya tersebut sebagai "Rabu Pemecah", "Rabu Ceria", atau "Happy Wednesday".

Selain bersepeda, menurut Azrul, kalau kita suka membaca, mengapa tidak mencoba menuntaskan buku dalam satu hari. Atau membaca semua huruf yang ada di majalah mulai sampul depan sampai sampul belakang. Apa saja yang kita sukai bisa dilakukan pada Rabu, pada pagi atau sepulang kerja, demi memecah kepenatan hari-hari, melakukannya dengan intens, sambil keluar dari zona nyaman.

Kita tak bisa menyalahkan entah siapa filsuf yang sudah mempartisikan hari menjadi tujuh, mengapa tidak delapan saja, supaya ada hari lain sebelum hari Senin. Senin akan selalu menjadi Senin yang dibenci. Selasa akan selalu menjadi Selasa. Jumat belum tentu TGIF. Sabtu dan Minggu belum tentu istirahat total dari rutinitas, bahkan bisa jadi lebih berat dari rutinitas Senin sampai Jumat.[]

06 April 2015

Pizza Kayu Bakar: Nyatanya, Tak Hanya Jagung yang Dibakar

No comments :


Pizza kayu bakar. Tak selamanya, kayu itu dipaku. Nyatanya, hari ini, dibakar.

Udah lama pengen nyobain pizza ini, lantaran terkenal banget gan! Bersama dengan macaronni panggang dan pia apple pie, pizza kayu bakar seolah jadi ikon kuliner kota hujan yang kudu banget disambangin saat Anda liburan di kota ini atau sekadar pulang piknik dari Kebun Raya Bogor. Kedai Kita nama kafenya. Bukan Kedai Kami ya. Kami mah apah atuh, rakyat gak jelas, wahai Yang Mulia Bapak Presiden.

Gue dan M ke sini dengan perjuangan yang maksi. Berangkat jam empat sore dari Citeureup, dikejar-kejar hujan, kemudian akhirnya menyerah dan memutuskan berteduh terlebih dulu di Kedai Surabi Duren Pomad. Hujan makin deres, bersyukurlah kami udah duduk manis menanti surabi duren, surabi telur dan roti bakar cokelat susu. Duh, appetizer orang Indonesia ya gini, sama aja kayak makan besar ya hahaha.

Menjelang magrib, ketika hujan tinggal menyisakan gerimis, gue putuskan buat mencari masjid di sekitar Pomad, setelah itu baru deh lanjut pergi ke destinasi yang perjuangannya berlinang hujan petang ini.

Setelah magriban, baru aja jalan beberapa menit, hujan turun lagi. Kami kembali berteduh di pom bensin, yang untungnya gak terlalu penuh oleh orang-orang yang meneduh. Mungkin karena bukan malam minggu, sehingga gak banyak pasangan-pasangan yang berteduh di pom bensin atau sembarangan di pinggir jalan sehingga lalu lintas pun lancar karenanya. Anda mungkin tahu, salah satu nestapa tinggal di kota adalah terjebak di jalanan yang dilanda kemacetan ditambah kehujanan. Apalagi kegalauan.

Ternyata hujan sudah lelah dengan kami, buktinya sebentar saja ia pergi. Lagi-lagi kami lanjut blusukan ke Jalan Pangrango nomor dua satu, ke Kedai Kita itu. Sesampainya di sana, tukang parkir menyambut kami. Parkiran mobil penuh, karena memang pelataran parkirnya agak sempit. Untung kami naek motor dan pengunjung yang bermotor cuma sedikit.

Kami masuk ke dalam, di mana interiornya mengusung gaya vintage ala kolonial Belanda, kurang lebih tergambar oleh foto pertama di atas. Hmm, sayangnya... tiada sambutan yang berarti dan menyenangkan hati seperti di Restoran Braga Permai tempo hari itu. Biasa-biasa aja. Bahkan untuk memesan menu pun, gue harus nyamperin pramusajinya, bukan pramusaji yang nyamperin gue. Kurang baik apa coba. Harusnya pramusaji yang ngasih tips ke gue ya hahaha.

Memindai menu satu per satu. Lumayan banyak menunya, tapi gak sebingung memilih menu di Braga Permai karena di sini alhamdulillah masih gampang dipahami meskipun nama menunya campur-campur English Indonesia. Memecah kepenasaran, kami memesan pizza kayu bakar Smoked Chicken Fungi. Minumnya cukup aqua botol dan es jeruk sebab udah kenyang minum yang manis-manis di kedai surabi sebelumnya (baca: lagi hemat).

Gak sampe sepuluh menit, pesanan terhidang di meja kami. Kok cepet sih? Gue malah curiga, bakarnya pake oven gas biasa aja, bukan pake kayu bakar seperti namanya. Ah, daripada suuzan, sebelum makan dan berdoa, gue foto dulu dong pizza kita ini biar kekinian.


Menggugah syahwat

Rasanya? Hmm.. jujur... biasa aja, selain rasa kejunya yang enak. Ayamnya sedikit, rasanya cenderung tawar. Begitupun dengan jamur atau funginya itu. Mungkin karena biasanya makan pizza itu ya pizza hut, dan itu adalah junk food yang kadar garam dan lemaknya tinggi sehingga menimbulkan puas di lidah namun perut yang begah, jadi lidah gue gak menemukan sesuatu spesial pada sepotong pizza kayu bakar ini. Pun beda banget sama pizza dari Braga Permai, yang setiap gigitannya menimbulkan sensasi-sensasi menyenangkan di dalam otak, entah stimulus apa itu. Sementara pizza kayu bakar, saya rasa standar. Maaf ya, Kedai Kita. Mungkin kita bukan jodoh. Kita temenan atau adek-kakakan aja ya.

Selain itu, gue menyayangkan perihal penyajiannya yang juga standar. Malah.. di bawah. Piring cuma satu itu aja, gak dikasih pisin (piring kecil), itu pun baru dikasih setelah gue minta (setengah maksa) sama dua pramusaji yang berbeda. Garpu dan pisau pun sepasang doang. Entahlah, mungkin gara-gara pengunjung kedainya membludak, jadi pada kelimpungan melayani satu demi satu pemesan, gue mencoba berprasangka baik. Dan gara-gara itu, sebenarnya bukan bermaksud untuk romantis-romantisan, alhasil kami makan gantian suap-suapan. Dia satu suap, gue lima suap.

Tangan Penyuap :3

Tapi sebenarnya gue masih penasaran mencoba menu lain yang bejibun dari Kedai Kita. Gue lihat, orang-orang banyak yang memesan Pangsit Goreng, Steak Sapi Lada Hitam dan menu makanan sejuta umat: Nasi Goreng. Mungkin itu recommended menunya ya. Bukan hanya pizza kayu bakar. Nanti kapan-kapan ke sini lagi ah.

Bagi Anda yang masih penasaran dan hendak ke Kedai Kita, bila Anda datang dari arah Warung Jambu, lurus terus, kemudian ambil kanan ke arah Jalan Salak, di perempatan di mana sebelah kiri Anda adalah MB-IPB. Sesudah belok kanan, kemudikan kendaraanmu pelan-pelan, hingga ada petunjuk belok kiri menuju Kedai Kita, tepat di depan Taman Kencana. Bagi Anda yang datang dari Baranang Siang, Tugu Kujang lurus terus menuju Jalan Pajajaran, sampai ketemu perempatan McD. Di perempatan McD Anda ambil kiri, kemudian ambil kanan karena gak jauh dari situ adalah Jalan Pangrango, surganya ikon kuliner di Bogor di mana Kedai Kita tersebut pun bermarkas. Jalan Pangrango emang kecil sih, mirip gang-gang gitu, agak susah buat dilacak dengan mata batin, harus dengan mata nafsu kelaparan. Jadi perhatikan dengan saksama petunjuk-petunjuk jalan berwarna hijau itu, atau GPS (Gunakan Penduduk Sekitar) adalah pilihan yang paling bijak bin mujarab.

Liburan kejepit selesai nih gan, gue ucapkan selamat berhari Senin kembali ya![]

Skor Pizza Kayu Bakar Pangrango - Bogor :
Rasa : 8
Tempat : 7,5
Pelayanan : 7
Harga : 7
Instagramable : 8