21 April 2015

Memotret Sempur pada Minggu Pagi

5 comments :


Usai menambatkan sepeda ke tepian jalan Sempur, saya duduk di trotoar mengamati orang-orang dari ragam kalangan berbalut pakaian yang juga berbagai. Dengan aneka rupa cara, masing-masing memeriahkan suasana Car Free Day pada Minggu pagi di kawasan tersebut. Ada yang mengikuti lomba lari, gerak jalan sehat, fun bike, lengkap dengan properti olahraga kekinian. Ada pula yang ke sana sekadar beralaskan sandal jepit bersama keluarga kecilnya, menimang bayi, tak sedikit yang tengah bersabar membasmi rengekan buah hati yang merajuk dibelikan balon Doraemon.


Selain kota Hujan, saya bingung menjuluki kota Bogor dengan apa, namun dengan segala hormat izinkan saya untuk mengistilahkan Bogor sebagai kota Satelit. Saya beralasan demikian karena sebagian besar warga Bogor menghabiskan kariernya di Planet Jakarta. Hanya pada Sabtu dan Minggu mereka berkesempatan untuk menginjak tanah di mana aneka tanaman tumbuh subur di sini, terutama umbi-umbian talas dan singkong. Termasuk tanaman-tanaman beton berwujud ruko yang seolah tidak mau membiarkan tanah kosong, terutama di perbatasan antara kabupaten dan kota.



Saban harinya menghadapi keramaian dan kesibukan yang tiada bersudah, mengapa justru pada saat libur mereka memilih keluyuran ke tempat keramaian juga, bukan kedamaian? Pada Minggu pagi, bukankah lebih damai untuk menyesap secangkir teh di sofa, sembari menonton berita pagi yang dikemas secara santai ala akhir pekan? Seperti di iklan-iklan.

***

Semasa kecil, saya sulit diajak keluar rumah, orangtua kadang membujuk setengah memaksa supaya saya mau bermain di luar, dan Anda pasti tahu jawaban saya. Entahlah, rasa malu bercampur sempurna dengan takut, seakan tetangga atau teman sebaya adalah monster yang harus dihindari, kalau perlu ditumpas oleh Ultraman. Saya lebih suka di dalam rumah, bermain robot-robotan dan lego, menonton serial Jiban dan ninja Jiraiya di televisi. Juga membaca tumpukan buku cerita terbitan perpustakaan sekolah SD Inpres yang dikepalai Ayah, sehingga saya bisa leluasa membaca buku secara cuma-cuma.


Sampai pada suatu hari yang membosankan, sepulang sekolah saya diajak empat teman sekolah ke lapangan bulutangkis yang berjarak satu kali bersin dari rumah untuk main tetepakan (bermain bulutangkis secara tidak serius, jaring net berwujud angan-angan, jarak antar pasang pemain pun cukup tujuh langkah besar bocah). Namun baru setengah jam kami tetepakan, datang enam bocah sebaya dari RT sebelah, mengajak kami bermain bola plastik. Dengan senang hati salah seorang teman kami menerima tawaran bagus itu, sedangkan saya agak malas sebab sama sekali tidak becus bermain bola.


Kami memulai bermain bola dengan gawang dua pasang sandal jepit. Saya bertindak sebagai pemain bertahan—Anda mafhum, dalam suatu tim sepakbola bocah, biasanya ada anak bawang yang ditaruh di belakang bersama kiper, itulah saya. Kami bermain cenderung keras dan kasar, acap kali saya jatuh di atas lapangan berlantai semen itu, namun ajaib, tiada amarah yang mengemuka menjadi perkelahian di antara kami kendati benturan demi benturan terjadi, justru uluran tangan lawan sering saya peroleh kala terjerembap jatuh. Tidak seperti induk organisasi sepakbola kita.

Pada suatu kesempatan, saya melihat kelengahan pemain belakang lawan yang kesemuanya maju ke wilayah kami. Bola lawan dengan mudah saya rebut, saya melesat ke depan—sampai sekarang saya masih heran mengapa saat itu saya bisa begitu cepat berlari—hingga tiba di depan gawang, tinggal berhadapan dengan kiper lawan yang lututnya gemetar menatap orang segembrot saya bersiap menendang bola di hadapannya. Bug! Tanpa perhitungan, saya menendang bola, namun bola dengan cerdik menempatkan dirinya ke pojok gawang. Gol!

Teman-teman serentak memeluk, menepuk-nepuk perut saya, padahal biasanya, pemain bola sungguhan yang berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan yang ditepuk adalah kepalanya. Ada letupan-letupan energi-energi yang mengisi sekujur anggota tubuh saya, membuat saya semakin bersemangat untuk bermain. Selepas peristiwa itu saya baru ngeh, bermain di luar tidak semenyeramkan yang saya khawatirkan sebelumnya. Yang saya rasakan justru hanya satu: kegembiraan.


Fragmen-fragmen kenangan masa kecil di Bandung pun nyata terhampar kembali di depan mata, di lapangan Sempur kota Bogor, namun dengan pemain-pemain yang berbeda, pagi itu saya hanya sebagai penonton. Masing-masing kelompok bocah maupun remaja ada yang bermain bola dengan bertelanjang kaki, bergawangkan sandal jepit dan tas sekolah, mirip sekali dengan kelakuan masa kecil saya dan teman-teman. Semuanya bergembira. Jatuh bangun pun mereka tetap tertawa. Ah, lagi-lagi saya ketularan bahagia.

***

Selain serunya permainan bola, saya pun mendapati lelaki paruh baya yang mengajak bermain anaknya dengan parasut-parasutan, balon sabun, atau sekadar digendong untuk mengenalkan anak-anak mereka terhadap heterogennya wajah masyarakat Indonesia minimal seminggu sekali, sehingga mudah-mudahan pada masa mendatang takkan kita temui disintegritas mulai dari lapisan bocah SD sampai lembaga sakral semacam kepolisian.


Betapa banyak pengamat sosial dan budayawan yang beropini dalam berbagai media bahwa anak-anak dan remaja zaman sekarang cenderung antisosial akibat dahsyatnya perkembangan teknologi akhir-akhir ini. Mereka mensinyalir remaja-remaja kini lebih memilih berfokus terhadap aneka gadget maupun permainan online di komputer ketimbang berbaur dengan sesamanya di luar rumah, demikian ungkap mereka prihatin.

Menyaksikan kabar-kabar tersebut saya hanya tertawa di dalam hati. Andai bertemu mereka, saya ingin bilang, bukan hanya saat ini, sedari dulu manusia diciptakan beragam, ada yang memang antisosial karena memang pemalu, pun sebaliknya yang periang, sebab saya sendiri sempat menjadi bocah demikian. Boleh jadi, justru mereka yang luput menganalisis gejala sosial pada Minggu pagi, tidak menyempatkan untuk keluar rumah, ke ruang publik semacam lapangan Sempur, memotret anak-anak kecil dengan ragam karakter bergembira bermain, berlari, menuntun anjing peliharaan lucunya di atas rumput basah.

Jadi, siapa bilang generasi muda sekarang cuma tahu televisi dan gadget? Barangkali, generasi tua—macam saya—terlampau sensi sebab dulu belum lahir penemuan Capuccino Cincau.

***

Tidak bisa dimungkiri, mustahil zaman berjalan stagnan begitu-begitu saja sedari dulu sampai sekarang, zaman selalu berkembang. Di antara remaja yang bersukaria di Sempur, kerap saya melihat yang sedang berselfie, berlari kecil sembari menyelipkan earphone, atau berjalan berdua namun sepasang mata dan jempol fokus terhadap ponsel pintar masing-masing. Fenomena demikian bukan untuk kita khawatirkan, setiap era mempunyai keunikan perilaku masyarakat seiring pesatnya perkembangan teknologi.


Seyogianya gejala tersebut memperkaya peran kita sebagai masyarakat yang optimis menantang masa depan, bukan malah merisaukan. Jangan sampai kita salah fokus. Fenomena penguasalah yang sangat-amat-banget perlu kita awasi! Ruang publik terbuka seperti lapangan Sempur di Bogor rentan diintervensi oleh tamaknya kepentingan bisnis dan politik. Sehingga, diharapkan pada esok hari kita takkan meratapi lapangan Sempur ujug-ujug mewujud mal, hotel, menjelma tempat wisata yang kita harus membayar agar bisa masuk ke dalamnya, lantaran tempat seperti itu bukanlah ruang publik, namun arena rekreasi yang sudah diprivatisasi orang berduit. Jangan, jangan sampai!

Pukul sembilan pagi, saya memutuskan untuk kembali ke rumah. Baru saja hendak memancal pedal, saya turun menuntun sepeda lagi sebab melirik bapak bertongkat, berkalungkan baki berisi dagangan yang dibeli oleh dua-tiga orang. Saya dekati, dan barulah saya tahu bahwa bapak itu berjualan tisu seharga dua ribu. Tisu hanya tersisa dua di bakinya itu, keduanya saya beli dan senyum mengembang pada raut wajahnya diikuti seucap ungkapan terima kasih.

“Setiap hari jualan di Sempur, Pak?” saya antusias bertanya.

“Oh, kalo hari biasa saya di PMI, Dek. Petugas-petugas di sana udah maklum sama saya, ngijinin saya jualan di sana.”

PMI yang ia maksud adalah Rumah Sakit PMI di Jalan Pajajaran, seberang gerbang Kebun Raya.

“Sehari-hari saya tinggal di Musholla. Sudah pasrah sama Gusti Allah. Tapi saya pengin berusaha. Lagian, daripada saya gila meratapi nasib, lebih baik begini, Dek. Jualan di luar, ketemu sama orang yang baik-baik sama saya,” ungkapnya dengan senyum yang tulus.

Saya hanya manggut dan tersenyum, diam-diam menimbun malu, menyadari diri ini senantiasa dilimpahi nikmat tak tepermanai, namun masih saja menganggap bahwa hidup ini tidak adil.

“Saya duluan, Dek. Makasih udah jadi penglaris ya!”

“Oke. Hati-hati, Pak.”


Beberapa kejap, saya menunggu bapak penjual tisu itu berlalu, kemudian kembali mengayuh angan menuju rumah. Bahagia itu sederhana. Keluar rumah sejenak dan berjumpa dengan orang-orang baik pada Minggu pagi.[]

Foto-foto: Dokumentasi Pribadi

Artikel ini diikutsertakan dalam kontes blog yang diselenggarakan oleh @betteroutsideID

5 comments :