06 April 2015

Pizza Kayu Bakar: Nyatanya, Tak Hanya Jagung yang Dibakar

No comments :


Pizza kayu bakar. Tak selamanya, kayu itu dipaku. Nyatanya, hari ini, dibakar.

Udah lama pengen nyobain pizza ini, lantaran terkenal banget gan! Bersama dengan macaronni panggang dan pia apple pie, pizza kayu bakar seolah jadi ikon kuliner kota hujan yang kudu banget disambangin saat Anda liburan di kota ini atau sekadar pulang piknik dari Kebun Raya Bogor. Kedai Kita nama kafenya. Bukan Kedai Kami ya. Kami mah apah atuh, rakyat gak jelas, wahai Yang Mulia Bapak Presiden.

Gue dan M ke sini dengan perjuangan yang maksi. Berangkat jam empat sore dari Citeureup, dikejar-kejar hujan, kemudian akhirnya menyerah dan memutuskan berteduh terlebih dulu di Kedai Surabi Duren Pomad. Hujan makin deres, bersyukurlah kami udah duduk manis menanti surabi duren, surabi telur dan roti bakar cokelat susu. Duh, appetizer orang Indonesia ya gini, sama aja kayak makan besar ya hahaha.

Menjelang magrib, ketika hujan tinggal menyisakan gerimis, gue putuskan buat mencari masjid di sekitar Pomad, setelah itu baru deh lanjut pergi ke destinasi yang perjuangannya berlinang hujan petang ini.

Setelah magriban, baru aja jalan beberapa menit, hujan turun lagi. Kami kembali berteduh di pom bensin, yang untungnya gak terlalu penuh oleh orang-orang yang meneduh. Mungkin karena bukan malam minggu, sehingga gak banyak pasangan-pasangan yang berteduh di pom bensin atau sembarangan di pinggir jalan sehingga lalu lintas pun lancar karenanya. Anda mungkin tahu, salah satu nestapa tinggal di kota adalah terjebak di jalanan yang dilanda kemacetan ditambah kehujanan. Apalagi kegalauan.

Ternyata hujan sudah lelah dengan kami, buktinya sebentar saja ia pergi. Lagi-lagi kami lanjut blusukan ke Jalan Pangrango nomor dua satu, ke Kedai Kita itu. Sesampainya di sana, tukang parkir menyambut kami. Parkiran mobil penuh, karena memang pelataran parkirnya agak sempit. Untung kami naek motor dan pengunjung yang bermotor cuma sedikit.

Kami masuk ke dalam, di mana interiornya mengusung gaya vintage ala kolonial Belanda, kurang lebih tergambar oleh foto pertama di atas. Hmm, sayangnya... tiada sambutan yang berarti dan menyenangkan hati seperti di Restoran Braga Permai tempo hari itu. Biasa-biasa aja. Bahkan untuk memesan menu pun, gue harus nyamperin pramusajinya, bukan pramusaji yang nyamperin gue. Kurang baik apa coba. Harusnya pramusaji yang ngasih tips ke gue ya hahaha.

Memindai menu satu per satu. Lumayan banyak menunya, tapi gak sebingung memilih menu di Braga Permai karena di sini alhamdulillah masih gampang dipahami meskipun nama menunya campur-campur English Indonesia. Memecah kepenasaran, kami memesan pizza kayu bakar Smoked Chicken Fungi. Minumnya cukup aqua botol dan es jeruk sebab udah kenyang minum yang manis-manis di kedai surabi sebelumnya (baca: lagi hemat).

Gak sampe sepuluh menit, pesanan terhidang di meja kami. Kok cepet sih? Gue malah curiga, bakarnya pake oven gas biasa aja, bukan pake kayu bakar seperti namanya. Ah, daripada suuzan, sebelum makan dan berdoa, gue foto dulu dong pizza kita ini biar kekinian.


Menggugah syahwat

Rasanya? Hmm.. jujur... biasa aja, selain rasa kejunya yang enak. Ayamnya sedikit, rasanya cenderung tawar. Begitupun dengan jamur atau funginya itu. Mungkin karena biasanya makan pizza itu ya pizza hut, dan itu adalah junk food yang kadar garam dan lemaknya tinggi sehingga menimbulkan puas di lidah namun perut yang begah, jadi lidah gue gak menemukan sesuatu spesial pada sepotong pizza kayu bakar ini. Pun beda banget sama pizza dari Braga Permai, yang setiap gigitannya menimbulkan sensasi-sensasi menyenangkan di dalam otak, entah stimulus apa itu. Sementara pizza kayu bakar, saya rasa standar. Maaf ya, Kedai Kita. Mungkin kita bukan jodoh. Kita temenan atau adek-kakakan aja ya.

Selain itu, gue menyayangkan perihal penyajiannya yang juga standar. Malah.. di bawah. Piring cuma satu itu aja, gak dikasih pisin (piring kecil), itu pun baru dikasih setelah gue minta (setengah maksa) sama dua pramusaji yang berbeda. Garpu dan pisau pun sepasang doang. Entahlah, mungkin gara-gara pengunjung kedainya membludak, jadi pada kelimpungan melayani satu demi satu pemesan, gue mencoba berprasangka baik. Dan gara-gara itu, sebenarnya bukan bermaksud untuk romantis-romantisan, alhasil kami makan gantian suap-suapan. Dia satu suap, gue lima suap.

Tangan Penyuap :3

Tapi sebenarnya gue masih penasaran mencoba menu lain yang bejibun dari Kedai Kita. Gue lihat, orang-orang banyak yang memesan Pangsit Goreng, Steak Sapi Lada Hitam dan menu makanan sejuta umat: Nasi Goreng. Mungkin itu recommended menunya ya. Bukan hanya pizza kayu bakar. Nanti kapan-kapan ke sini lagi ah.

Bagi Anda yang masih penasaran dan hendak ke Kedai Kita, bila Anda datang dari arah Warung Jambu, lurus terus, kemudian ambil kanan ke arah Jalan Salak, di perempatan di mana sebelah kiri Anda adalah MB-IPB. Sesudah belok kanan, kemudikan kendaraanmu pelan-pelan, hingga ada petunjuk belok kiri menuju Kedai Kita, tepat di depan Taman Kencana. Bagi Anda yang datang dari Baranang Siang, Tugu Kujang lurus terus menuju Jalan Pajajaran, sampai ketemu perempatan McD. Di perempatan McD Anda ambil kiri, kemudian ambil kanan karena gak jauh dari situ adalah Jalan Pangrango, surganya ikon kuliner di Bogor di mana Kedai Kita tersebut pun bermarkas. Jalan Pangrango emang kecil sih, mirip gang-gang gitu, agak susah buat dilacak dengan mata batin, harus dengan mata nafsu kelaparan. Jadi perhatikan dengan saksama petunjuk-petunjuk jalan berwarna hijau itu, atau GPS (Gunakan Penduduk Sekitar) adalah pilihan yang paling bijak bin mujarab.

Liburan kejepit selesai nih gan, gue ucapkan selamat berhari Senin kembali ya![]

Skor Pizza Kayu Bakar Pangrango - Bogor :
Rasa : 8
Tempat : 7,5
Pelayanan : 7
Harga : 7
Instagramable : 8

No comments :

Post a Comment