31 May 2015

Roasting

2 comments :

Sehabis nonton Agung Hercules diroasting alias dikata-katain oleh tujuh komika SUCI 5 Kompas TV, jadi teringat saya sendiri. Bukan! Bodi saya tidak sesixack Agung Hercules kok. Lebih sixpack!

Boleh dibilang, saya terlahir dari ledekan, cacian. Sering disepelekan, diragukan, jenis kelamin saya pun sempat diragukan keabsahannya. Ah, udah biasalah dikata-katain doang mah. Ngapain ngurus begituan? Mending ngurus istri. Istri tetangga.

Memang tidak serta merta saya nerima dan sekarang malah ikut menertawakan diri sendiri. Semasih SD saya benci banget sama temen yang suka ngata-ngatain. Tega banget, padahal kan dulu saya putih, lucu, imut, kayak boboho. Saking nyelekitnya ledekan mereka, kadang sampe bikin saya nangis (akhirnya terkuak juga tampang ABRI begini nyatanya malah lebih cengeng dari barbie).

Malam-malam, saya sering berkeluh kesah sama Mamah. Temen-temen jahat, Mah. Cepy dibilang udah gendut, buntet. Dikatain boyot kalo lari gegara gendut. Dibilang ya iyalah rangking satu melulu, wong anak guru. Dikatain pelit gegara gak mau nyontekin THB. Dibilang tititnya kecil. Duh, yang terakhir paling menyakitkan.

Terus Mamah bilang gini. Udah bener kamu, jangan mau ya kalo dicontek! Biasanya yang disalahin sama guru justru yang ngasih contekannya loh. Kalo diledek, gak usah didenger. Atau kalo udah keterlaluan banget mah, ledek balik aja! Dan dengerin baik-baik, titit kamu gak kecil-kecil amat kok!

Tapi emang pada dasarnya saya gak pernah ngata-ngatain orang, jadinya gak pernah ahli dalam membully. Alhasil hari-hari selanjutnya saya tabah dalam posisi terledek, bukan peledek.

Masuk SMP, saya kira dengan berjumpa teman-teman baru, akan menolkan peluang untuk dibully. Ternyata sama aja, sampai STM, pun sampai sekarang, ledekan maupun keraguan selalu mewarnai kehidupan saya, yang membuat hidup lebih indah.

*

Takdir membawa saya untuk ngekos berempat saat kerja di Cikarang. Hidup berempat, makan, kentut, mandi di tempat yang sama berbulan-bulan. Pengalaman berinteraksi seharian, berbagi dengkur bersama orang lain itu sungguh memengaruhi kepribadian saya. Perlahan mulai toleran sama orang. Menyadari bahwa pola pikir setiap orang itu beda-beda, dan tidak ada orang yang sempurna. Termasuk saya sendiri.

Misal, ketiga teman itu menanak nasi bareng di magic com, tapi saya males karena merasa lebih praktis kalo makan mending beli sekalian sama nasinya aja di warteg. Mereka menghormati keputusan sepele saya barusan. Contoh lain, ketiganya merokok, sedangkan saya tidak. Tapi saya tak pernah melarang mereka merokok, menceramahinya perihal hidup sehat. Udah gede, pasti udah sama-sama konsekuen sama pilihan masing-masing. Dan masih banyak contoh lain, yang jika dibedah mungkin bakal lebih seru dari buku Anak Kos Dodol. Setidaknya seru menurut saya sendiri.

Sesuatu paling berkesan pada masa itu adalah ledekan. Setiap saat, ketiganya hobi banget meledek saya, menyingkap kekurang-kekurangan saya baik fisik maupun kebiasaan, tidak mengenal tempat. Di tempat kerja, di kosan, dalam perjalanan, di mana pun. Tidak mengenal waktu, sebelum tidur, mereka akan membuat saya susah tidur karena perut sakit gegara tertawa terpingkal-pingkal bersama mereka. Ketika saya bangun tidur pun mereka sudah siap dengan roast-roast terbaru. Gak bikin bosen! Iya, lama-lama saya malah menikmati aneka cemoohan teman-teman saya itu dan turut tertawa bersama.

Kemudian saya mulai terinspirasi untuk membuat candaan halus maupun ledekan pedas, dan akhirnya bisa meledek balik dengan cara yang sama-sama jenaka, meskipun takkan pernah sejenaka roast-roast mereka lantaran mereka ahlinya. Suatu hari mereka bilang, saya ini jarang bercanda dan meledek, tapi sekalinya meledek pasti tajam dan kadang nyelekit. Tapi mereka nerima-nerima aja, berkat saling roast ini justru membuat hubungan pertemanan kami berempat semakin akrab.

Everyone has the right to roast.

Sejatinya setiap orang punya celah hitam yang empuk untuk bahan ledekan. Jokowi, Mamah Dedeh pun punya kans sama untuk diroast. Di sekitar kita, biasanya santapan paling empuk adalah fisik. Gendut. Pesek. Item. Keriting. Kontet. Monyong. Dan sebagainya. Selanjutnya terserah kita. Mau sensi? Minder? Nangis? Emosi? Nangis? Atau malah berantem? Kalo saya, lebih suka ikutan tertawa bersama.

Saya bisa seperti sekarang, salah satunya barangkali berkat ledekan-ledekan masa lalu. Ledekan serius, mungkin tidak terbukti lantas bisa saya buktikan dengan tangan dingin (meskipun sungguh tidak mudah). Ledekan yang beneran candaan murni, sudah saya anggap hiburan yang mahal harganya. Sudah saatnya kita menerima keadaan diri kita apa adanya. Minder adalah masa lalu. Mudah tersinggung adalah memalukan. Tertawa sendiri itu gila. Sedangkan menertawakan diri sendiri itu bikin bahagia. Pilih yang mana?[]

25 May 2015

Rumah yang Ada Halamannya

2 comments :

Dari dulu saya pengin banget punya rumah yang ada halamannya. Kampung halaman saya barangkali berbeda dengan anggapan sebagian besar orang yang bilang bahwa rumah di kampung halaman itu udah pasti asri, pekarangannya luas, kamar mandinya luas dan baknya bisa dipakai berendam sama anak-anak. Sama sekali tidak seperti itu. Kampung halaman saya di pinggiran Bandung terletak di permukiman padat, yang sekarang semakin padat saja oleh pendatang. Lingkungan rumah orangtua saya terdiri dari gang-gang sempit, tanjakan dan turunan yang pendek tapi curam, serta tikungan 90 derajat.

Jadi rumah kami di Bandung tidak punya halaman, hanya menyisakan sedikit tanah di belakang untuk jemuran. Selebihnya, ketika kita membuka pintu ruang tamu di depan langsung ketemu teras dan pagar mini.

Makanya saya agak sungkan mengajak teman yang dari Bogor bertandang ke rumah yang di Bandung. Khawatir ekspektasi mereka tentang Bandung mengacu kepada kesuksesan Ridwan Kamil saja. Ekspektasi tentang kampung halaman adalah ekspektasi kebanyakan, kampung yang beneran ada halamannya.

Misal udah jauh-jauh ngebis dari Bogor selama empat jam, sepanjang jalan mereka terus berkhayal nanti mau rebahan di atas tanah rumput yang ada bunga-bunga indah nan eksotik, metik stroberi langsung dari pohonnya di belakang rumah, metik duren langsung dijatuhin dari pohon ke kepala masing-masing. Eh ujung-ujungnya dijamin kecewa saat tiba di rumah saya yang ternyata sama aja dengan rumah di permukiman Citeureup. Rumah yang menyempil di dalam rimba gang-gang, rumah yang saling lekat satu sama lain.

Berbeda dengan rumah di Bandung, rumah orangtua yang baru dibeli setahun yang lalu di Bogor berada di perumahan. Namanya perumahan, otomatis di sini tersedia akses jalan dari gerbang utama yang lebarnya lumayan untuk dua mobil berjalan beriringan, tidak sesempit rumah kami di Bandung yang hanya masuk satu motor. Selain itu rumah kami di sini punya carport dan halaman walaupun, yah tidak luas-luas amat. Lebih dari cukup untuk menanam bunga-bunga dan pohon sawo mini.

Sawo mini yang buahnya masih sangat mini

Setahun ini saya senang sekali bisa tinggal di rumah yang ada halamannya. Tapi dasar manusia, lambat laun mesti ada hal-hal yang dikeluhkan. Capek mangkas rumput minimal tiga minggu sekali. Kadang malas untuk menyiram tanaman minimal sehari sekali pada pagi atau sore hari. Saya pun sempat sedih ketika kamboja jepang yang masih kecil itu hampir mati gegara dikerubuti batalyon semut kebun, akibatnya sampai pagi ini tak pernah berbunga lagi. Jujur deh, ini aneh banget. Emang kamboja jepang itu manis ya? Manisan mana sama Le Minerale?


Kamboja jepang, atau orang lebih ngeh dengan nama adenium

Bagaimanapun alam tak pernah berkhianat. Jika kita berbuat baik terhadapnya, alam akan melimpahkan lebih banyak kebajikan kepada kita. Aneka bunga dan tanaman di halaman kami juga demikian, yang perlahan tumbuh indah di atas tanah yang gak subur-subur amat karena bukan tanah asli alias tanah urugan. Meskipun lelah, memangkas rumput itu menyenangkan. Segar rasanya menyiram tanaman pada setiap pagi. Sekadar memandangi pun udah seger. Apalagi saat mendapati bunga asoka warna merah jambu yang kuntum-kuntumnya tampak menyembul, hendak mekar. Rasanya kayak ada manis-manisnya.


Asoka warna merah jambu

Selain kamboja jepang serta beberapa jenis bunga asoka yang warnanya macam-macam, di halaman mungil kami tumbuh bakung dan tanaman brokoli. Saya suka bentuk tanaman brokoli yang lucu. Selain itu tanaman brokoli gak pundungan, tahan terhadap perubahan cuaca maupun hama, tidak seperti kamboja jepang.

Bayi gelombang cinta yang masih ngendon di polybag

Tanaman brokoli. Enaknya dicapcay kali ya?

Ada pula gelombang cinta yang masih bayi, tricolor, melati biasa dan melati california. Saya tahu nama melati california dari abang-abang penjual kembangnya. Padahal dalam hati bertanya-tanya, emang di California ada melati? Bukannya di california mah adanya fried chicken? Sama halnya dengan pepaya California. Emang di sana pada doyan pepaya? Ah, apalah arti sebuah nama, apalagi nama bunga, yang penting enak dilihat.

Melati (katanya) california



Melati biasa, yang ditakuti sama temen saya karena bunga ini amat lekat dengan mitos

Pagi ini saya baru menyadari bahwa rumah yang paling ideal itu adalah rumah yang ada halamannya. Tak perlu luas-luas, cukup luangkan lahan sedikit saja untuk menanam bunga dan rumput. Yang saya rasakan, berkebun merupakan semacam kegiatan piknik yang paling murah.

Kita tahu, piknik itu bisa banget meluruhkan stres. Karena zaman sekarang, menghibur diri di dalam rumah takkan membuat kita terhibur. Nonton tv malah bikin emosi naik ngeliat dagelan politik yang tidak lucu, ftv trans tv yang berbau kdrt dan mistis melulu, masih mending ftv sctv yang selalu happy ending. Mau nimbrung niatnya buat happy-happyan di grup chatting, isinya malah ribut melulu, gak penting banget. Mau cari berita terkini maupun info-info ringan dari internet, bukannya bikin kita intelek dan menambah wawasan, malah mendorong kita buat ikutan perang komentar di artikel Sony Wakwaw Takut Naik Delman. Sungguh jauh dari sehat. Keluar rumahlah.


Sekarang saya punya cita-cita baru. Pengin jadi petani yang punya perkebunan luas, di mana rumahnya terletak di tengah perkebunan itu. Barangkali pada masa mendatang gak bakal lagi beredar beras dari plastik , karena perkebunan saya sudah bisa memenuhi pasokan beras seluruh Indonesia dengan harga terjangkau untuk segenap lapisan masyarakat. Pepaya asli Indonesia, bukan California. Apel asli Indonesia, bukan Fuji atau Washington. Durian Indonesia, bukan Bangkok. Haduh, mimpi macam apa ini... sudahlah, yuk berkebun![]

23 May 2015

Pengangguran Adalah Anugerah

No comments :

Di kala tugas numpuk, tugas kelompok gak kelar-kelar, sebentar lagi UAS. Sama sekali gak ada waktu buat maen, apalagi pacaran. Kantung mata kita sama, bergelayut hitam, entah akibat bergadang bermalam-malam atau kebanyakan pake maskara:

A: Tugas numpuk banget gilak! Pengen nonton tapi tar malem kelompokan, bete deh!
B: Kelompokan lagi? Udah hampir sebulan, loh!
C: Tega banget si Pak Anu. Ngasih tugas begini mepet UAS! Gak bakalan sempet buat belajar pasti nih! Sebel! Kalo gini rasanya gue pengen rebahan aja di rumah berhari-hari.

Ketika gak ada lagi kuliah karena jumlah SKS terpenuhi, kerja praktik pun kelar. Setiap hari adalah waktu luang:

A: Ih, kapan nih mulai garap skripsi? Bete ih di rumah mulu.
B: Iya. Males di rumah mulu. Tiap pagi disuruh ngepel sama Emak. Siangnya dimarahin kalo tiduran. Giliran gak tidur, eh diomelin gegara nangkring di depan komputer doang. Udah gitu, gak dibekelin lagi! Malesiiiinn!
C: Kangen sibuk-sibukan lagi ih. Bosen nganggur mulu. Gendut deh lama-lama. Huvt.

Gak berasa, udah dua bulanan aja saya nganggur. Terus, ngapain doang dong di rumah?

Ceritanya sih mikirin skripsi. Emang dasar skripsi itu bukan buat dipikirin, melainkan dikerjain, jadinya gak kelar-kelar. Bener. Tapi, mau ngerjain gimana kalo belom deal masalah topik, judul, dan sebagainya?

Oke, barusan cuma alesan. Sebenernya bisa aja mulai April lalu saya ngubek-ngubek referensi ke perpus pabrik, ke perpus UI (karena kampus kami ruang kelas pun gak punya, apalagi perpus). Diskusi secara komprehensif sama praktisi semen (karena kampus kami gak punya dosen tetap, dosen dari UI kontraknya udah habis). Saya bisa menyebutkan pemisalan kegiatan produktif secara lengkap, tapi kesemuanya gak saya lakukan. Sepertinya saya ganteng (baca: MALESSSSS).

Bukan. Dibilang males, gak juga ah, saya sempet kok mampir ke perpus (buat ngerumpi). Dibilang rajin juga jauh panggang dari api. Kok? Labilkah?

Saya mikirnya gini. Selagi dikasih waktu dan "hari-hari kosong", yang bisa kita manfaatkan untuk istirahat, kenapa gak kita terima aja? Malah harusnya terima kasih. Ada loh orang yang udah jauh-jauh hari request cuti, tapi gak kunjung di-acc sama atasannya lantaran si bos khawatir produksi terhambat gegara anak buahnya berkurang satu selama sepekan. Alih-alih cuti, libur Sabtu-Minggu pun jarang, lebih sering lembur ngurus pabrik orang.

Orang lain ada yang tiap minggunya lantaran tuntutan kerjaan mesti ke luar kota, ke luar pulau, tapi bukan buat liburan. Orang bersangkutan kerap mengeluh kalo dia cuma bisa ngiler menyaksikan orang berjemur dan bersenang-senang di Bali, sedangkan dia seharian selama dua hari berkutat sama dokumen dan seminar, yang pastinya berlangsung di dalam ruangan dong. Bukan di banana boat.


Kuliah tujuh semester sungguh menyita pikiran, dompet, emosi, dan yang paling krusial adalah waktu. Waktu tidak bisa di-pause dan di-rewind. Selalu 24 jam, bergulir ke depan. Tapi anehnya, walaupun bilangan jam setiap harinya sama, pada masa genting semacam menyelesaikan tugas mendekati deadline, waktu seakan bukan bergulir, melainkan melesat cepat. Sama halnya ketika mengerjakan UTS dan UAS, waktu adalah musuh utama, selain rumus-rumus dan metode njelimet. Rumus-rumus dan metode bisa kita contek, sayangnya waktu tidak.

Maka dari itu, saya menganggap momen menganggur ini adalah kesempatan untuk mengkalibrasi waktu. Menyesuaikan seluruh raga dan pikiran terhadap detik demi detik. Zero dikembalikan ke posisi ideal. Atur set point. Diharapkan ke depannya takkan terjadi error yang menyebabkan kenyataan malah melenceng jauh dari set point harapan.


Dua bulan ini saya kembali pada kegemaran-kegemaran dahulu pada masa awal-awal kuliah. Ngeblog. Blogwalking ke temen-temen blog lama, tapi saya kecewa karena kebanyakan pada gak update lagi. Belajar memotret pake kamera prosumer. Sedikit jalan-jalan ke pantai. Belajar hal-hal baru, salah satunya nekat ngegambar di corel draw dan ngotak-atik tipografi, yang sedari dulu belum berani saya ulik karena saat itu sedang kukuh belajar menulis yang baik, tapi sampai sekarang tetep jelek. Nasib.

Sementara waktu, dunia fiksi saya tinggalkan, karena saya tak sanggup membaca dan menulis yang berat-berat, tekanan psikologis saya sedang kurang baik akhir-akhir ini. Selain itu, fiksi mulai sakral bagi saya, tidak bisa diperlakukan secara asal-asalan, apalagi cuma asal dapet duit. Sekarang, saya sedang menikmati menulis tentang perburuan makanan enak yang harganya terjangkau (bagi saya), dan keseharian yang sangat biasa, tapi selalu ada aja ide-ide baru yang gak bakalan habis sampai kapan pun, selama ada waktu luang untuk merekam cuplikannya. Waktu luang...

Ah, lagi-lagi menyalahkan waktu.

Di antara kegemaran di atas, saya paling heran sama kegiatan ngeblog. Tiga tahun lalu, semangat saya menggebu-gebu buat merintis blog dari nol besar. Perlahan blog makin rame, tapi gak lama kemudian malah galau dan mencoba meninggalkan karena ingin menulis bagus di Microsoft Word saja. Tapi, semakin dicuekin, blog malah semakin dekat dengan saya. Saya tak pernah luput menulis setidaknya satu kali dalam sebulan, padahal url blogger dot com selalu berusaha saya skip. Padahal saya sedang jenuh kemarin-kemarin. Sebab gak ada lagi hal baru yang saya temukan dari kegiatan ngeblog.

Kejenuhan itu pulalah yang membuat saya membiarkan domain cepyhr.com expired begitu aja. Saya udah gak peduli sama personal branding. Hidup ini udah ribet, makin ribet dengan membranding-brandingkan diri, sambil membanding-bandingkan branding kita dengan branding orang lain. Btw kalimat barusan bisa dibikin tongue twister tuh buat yang cadel macam saya.

Eh, ternyata makin ditinggalkan, malah bikin kangen banget. Kembalilah saya ke blog dengan semangat sesegar pertama kali menyentuh blog dahulu. Saya buat domain blogspot baru. Basa basi pagi. Filosofi namanya? Saya lebih sering ngeblog pagi-pagi karena kuota internet setelah jam 12 siang cuma seiprit. Namanya basa basi pagi, biar gampang diketik aja, karena huruf-huruf yang merangkai basa basi pagi itu berdekatan. Cobain deh.

Selain itu, dunia memang sekadar basa-basi. Gak usah terlalu ngoyo, terlalu serius. Seriusnya ditabung aja banyak-banyak dalam ibadah, karena kehidupan yang serius itu nanti. Nanti...[]

22 May 2015

Mayoritas Masyarakat Indonesia adalah Perokok

2 comments :


Anda bukan perokok? Pernah gak ngerasa salting ketika nyempil sendirian di antara perokok yang dengan bahagianya mengepulkan asap rokok ke udara, atau justru tak jarang menerpa wajah kita? Bahkan lama-lama Anda malah merasa bersalah karena Anda tidak merokok?

Sejak kecil saya akrab dengan asap rokok. Bapak saya perokok. Kakak sulung saya perokok tingkat militan. Hari ini, keduanya sudah lama berhenti merokok. Saya sebagai laki-laki ketiga dalam keluarga, bukan seorang perokok. Apakah saya anak yang tertukar?

Jujur sih, dulu pernah iseng nyalain puntung rokok sisa Bapak di asbak, kemudian mengisapnya, istilah lebih tepat yaitu mengemutnya seperti permen. Rasanya, kayak ada manis-manisnya. Le Minerale aja kalah manis. Walaupun manis, saya tidak telanjur penasaran mengisap sebatang rokok utuh seperti teman-teman saya. Selain karena Bapak saya galak, saya lebih seneng ditraktir telor gulung dan maen gimbot di mamang-mamang daripada dikasih rokok sama temen. Kenyang, happy, dan bikin kegembrotan konsisten.

Semanis kamuh

Pas kerja di Cikarang, saya ngekos berempat bareng temen sealmamater. Tiga teman saya adalah perokok. Enam bulan makan, mandi, kentut bersama-sama mereka, lama-lama saya penasaran dengan persamaan ketiganya: sama-sama perokok. Saya ingin memulai untuk konsisten merokok sebagaimana mereka. Ya, harus konsisten! Sampai mati! (bener-bener salah gaul, ampuni saya Ya Allah)

Sepulang kerja saya diam-diam membeli Sampoerna Mild, ceritanya biar agak keren, bukan kretek cap kotak ajaib supaya gak terkesan kayak kakek-kakek yang baru belajar merokok. Langsung saya nyalakan sebatang di kosan. Cara saya memantik api sungguh kaku, maklum, perkara nyalain api, paling-paling nyetrekin pemantik gas elpiji kalau disuruh Mamah. Dua-tiga isapan terlampaui, akhirnya saya berhasil merokok! Yeay!

Kemudian datanglah tiga teman saya yang terkejut melihat mulut saya terselip rokok. Mereka mendukung niat dan tekad saya sambil meminta rokok saya. Sebagai perokok amatir, tentu saya harus memberi amunisi kepada suhu-suhu dengan penuh takzim, masing-masing satu (ngekos rame-rame itu kadang harus pelit).

***

Esok paginya, saya ngerasa ada yang aneh. Bibir kering. Napas memburu, dan kayak ada kelereng yang mengganjal di tenggorokan (atau kerongkongan ya?). Bangun tidur pagi itu perasaan pengin buru-buru minum yang manis-manis, makan yang banyak, dan merokok. Usai merokok, kerongkongan saya pulih lagi seharian itu, saya pun dapat bekerja sebagaimana mestinya. Namun esok pagi, kejadian sebelumnya terulang kembali. Sungguh menyiksa, setiap pagi jadi pengin segera minum yang seger-seger dan makan yang gurih-gurih. Padahal dulu gaji saya tak seberapa, UMR lebih dikit, alamat pemborosan nih kalau dilanjut.

Kamu lebih cocok kerja di sungai. Nyari batu akik.

Muak menjalani penderitaan saban pagi, pada hari keenam saya memutuskan untuk berhenti jadi perokok. Perokok delapan batang, perokok lima hari. Sisa rokoknya tidak saya lirik-lirik lagi, teman saya menanyakan di mana, saya sudah tak peduli. Tapi akhirnya teman saya menemukan bungkusnya dan menghabiskan sisa Sampoerna Mild tersebut sambil bilang, “Ah, gak laki lu.” Bodo amat. Yang penting masih suka sama cewek, meskipun kala itu gak ada cewek yang suka sama saya sih.

***

Walaupun sampai hari ini saya nyaman dan merasa sehat sebagai bukan perokok, sesekali suka merasa gak enak hati juga. Beginilah hidup, jadi perokok gak enak badan, bukan perokok, gak enak hati.

Gak enak hatinya tuh begini. Momen paling awkward bagi kaum bukan perokok adalah pada saat nongkrong bareng temen-temen cowok, apalagi sama bapak-bapak. Serba salah. Mau ngehindar dan pulang duluan, takut disangka ogah berbaur dan dicap antisosial. Mau tetep nimbrung di situ, pengapnya minta ampun. Dan lagi, mau tetep di situ pun mau ngapain? Bengong doang ngisep asep? Ikutan ngobrol? Hmm, gak tahu kenapa, kadang malah suka rendah diri kalo ngobrol sama perokok di mana saya sendiri gak ngerokok. Guna menggantikan rokok, supaya gak nganggur, paling-paling saya ngemil, itu pun kalau camilannya ada. Kalo gak ada pilihan lain, mau ikut-ikutan ngerokok? Nah, ini pernah saya lakukan, akan tetapi sekarang tindakan tersebut enggan saya ulangi karena sungguh memalukan

Jadi perokok, gak enak badan. Bukan perokok, gak enak hati.

Beberapa tahun lalu lebih dari separuh temen cowok di kampus adalah perokok, sekarang beberapa sudah ada yang berhenti. Suatu malam ada acara bakar-bakar di rumah temen. Sembari membakar ayam di pekarangan rumah, sebagian besar cowok pada ngerokok ria. Beberapa jenak saya cuma bengong, ngemil jagung bakar, tiba-tiba teringat masa lalu di mana saya pernah merokok selama lima hari, kemudian gagal. Demi menjaga harga diri, saya pun menerima tawaran sebatang rokok dari mereka, kemudian menyalakannya dengan tingkah seperti biasanya, rikuh ala amatiran.

Sedikit demi sedikit, saya mengisapnya dengan metode sendiri yang menurut saya sih oke-oke aja. Tapi…

“Beuh, Si Cepy. Ngerokok kayak niup lilin ulang tahun.”

“Rokok itu diisep loh, Cep! Bukan ditiup!”

Semuanya cekakak-cekikik. Ingin rasanya menyeka bara di pucuk rokok ke hidung mereka satu per satu. Sialan, belum tahu mereka saya pun dulu pernah jadi perokok! Perokok delapan batang dalam lima hari!

“Lihat dong Si Reja, menghayati banget. Keren. Kayak di iklan-iklan djarum super pas scene camping di gunung.”

Memang, Reja, temen saya yang juga pembaca setia blog ini sejak bernama tanah, air dan udara, cepyhr doctrine, cepybreak, hingga nama yang sekarang (sudah saatnya engkau beranjak dari lingkaran kesesatan gue, Ja), waktu itu ikutan merokok juga. Dasar emang dari sononya gerak-gerik dia udah keren sih. Cara dia merokok yang tampak profesional justru menuai pujian dari segenap perokok senior. Padahal dia bukan perokok. Sama seperti saya. Tapi mengapa nasib Reja sungguh bertolak belakang? Di situ kadang saya merasa gendut.

Apalagi temen-temen penulis di @kelasanggit. Bah. Cuma dua cowok yang gak merokok. Demi menjaga harga diri, yaudah saya cuek aja, dengan manis menyimak pelajaran kursus setiap sore yang gak pernah ngebosenin sih, selalu ada hal baru, tapi di lain pihak, jujur, makin petang pasokan udara di dalam paru-paru semakin menipis, Bos! Oksigen oksigen!!

***

Sekarang, aneka peringatan mengenai dampak, akibat, bahaya merokok sudah dikemas kian terstruktur, masif, sistematis. Secara tersirat maupun tersurat. Bungkus rokok makin serem gambarnya, kayak di luar negeri. Film bioskop yang diputar di tv, adegan merokoknya disensor. Iklan leher bolong akibat kanker macam-macam pun ditayangkan dalam commercial break maupun secarik advertorial surat kabar. Kurang serem apa coba.

Tapi kenapa kok masih banyak yang merokok? Ya iyalah, habitat perokok tuh di luar, nongkrong outside. Makanya pada jarang nonton tv, baca majalah, sumpek katanya kalo di dalem rumah melulu ngisep asep sendiri. Masalah bungkus rokok yang menyeramkan, itu sih tergantung mindset masing-masing. Simpelnya, ya beli aja bungkus rokok yang terbuat dari kaleng, terus buang deh bungkus kardus horornya. Well done.

Mayoritas perokok adalah laki-laki. Kata cewek, laki-laki selalu salah. Tapi sekarang, cewek pun banyak ah yang merokok. Jadi, kesimpulannya? Saya perokok yang gagal.[]

08 May 2015

Siomay Paling Enak di Bogor

14 comments :

Ada yang gak doyan siomay? Sayang sekali kalau ada, padahal ada siomay yang paling enak di Bogor.

Sejak kecil saya suka banget sama street food satu ini. Di Bandung, kehadiran makanan yang lebih dikenal masyarakat setempat dengan "baso tahu" ini ada di mana-mana. Di warung baso tahu yang sudah punya nama. Dijajakan mamang-mamang yang lewat depan rumah. Apa lagi di sekolahan, siomay adalah jajanan wajib pengganjal perut kala bel istirahat berbunyi.

Di Bogor, keberadaan siomay bukannya tidak ada. Kalau kita memperhatikan, jumlah penjual siomay di sini lebih banyak dari Bandung—yang notabene daerah asalnya. Namun terdapat perbedaan antara siomay di sini dengan siomay asli Bandung. Siomay di Bogor berukuran mungil, lebih kecil dari bola bekel, terbuat dari adonan tapioka dan ikan tenggiri maupun ikan jenis lain. Sedangkan siomay yang saya kenal sejak kecil adalah adonan tapioka dan ikan atau gaji sapi yang dibalut oleh pangsit. Adapun item lain seperti tahu putih, kol, kentang dan lain-lain kurang lebih sama.

Setelah tinggal di Bogor, saya suka iseng nyicipin siomay yang mangkal di depan sekolahan. Rasanya biasa saja. Masih penasaran, saya mencoba siomay di kafe-kafe, rumah makan, di Sop Buah Pak Ewok, namun demikian saya masih kecewa karena rasanya tidak lebih enak dari siomay abang-abang yang keliling naik sepeda, harganya doang yang 2-3 kali lipat.

Sampai detik ini, menurut saya, setidaknya cuma ada satu siomay yang paling enak di Bogor.

*

Semasih sekolah, saya suka menghabiskan liburan semesteran ke rumah kakak di Bogor. Setiba di rumahnya, kakak saya sering menyuguhkan siomay yang dibelikan oleh suaminya sepulang kerja. Rasanya enak! Kadar enak di sini kurang lebih setara dengan siomay yang ada di Bandung. Waktu itu saya belum penasaran dan tidak bertanya lebih lanjut ihwal muasal siomay enak yang kerap ia suguhkan tersebut. Hingga kini setelah empat tahun belakangan menetap di Bogor, saya masih penasaran, belum ada siomay yang mengalahkan kadar enak siomay tersebut.


Berdasarkan petunjuk kakak saya, ternyata lokasi siomay paling enak di Bogor itu berada di kawasan LIPI, Kabupaten Bogor. Penduduk sekitar lebih mengenal LIPI dengan Bakos atau Bakosurtanal (sekarang, nama Bakosurtanal telah berubah nama menjadi Badan Geospasial). Roda siomay lengkap dengan tenda terpal dihelat di bawah keteduhan pohon rindang, berbagi lapak bersama pedagang mie ayam bakso.

Hanya saja kini pohon rindang itu sudah raib, konon hendak disulap menjadi kantor baru. Sekarang lokasi tenda siomay tersebut tidak lagi di dalam kawasan LIPI namun berpindah ke depan, masih di bawah pohon rindang, tepatnya di pinggir jalan raya Bogor-Jakarta. Jika kita berangkat dari arah Cibinong, maka tenda siomay itu terletak di kiri jalan, sebelum dan tidak terlampau jauh dari gerbang LIPI.


Selain siomay, turut hadir pula batagor (pangsit berisikan adonan tapioka + ikan yang digoreng) yang rasanya sama-sama legit. Garing di luar, empuk di dalam. Porsi standar siomay terdiri dari dua siomay, satu tahu, satu kentang, satu kol, ditambah satu butir telur. Tapi saya lebih suka memesan tiga siomay, dua batagor, dan dua tahu. Jangan lupa tambahkan acar timun dan wortel segar yang dipotong dadu.




Jika ditilik-tilik, bentuk siomay LIPI ini mirip dimsum, berbentuk kotak agak besar, disertai tekstur bergelombang dari sembulan adonan tapioka semakin menggugah selera saya. Rasanya gurih, takaran ikannya pas, tidak kalah dengan dimsum. Mengenai harga, sangat terjangkau. Dengan delapan ribu rupiah, kita bisa menyantap tiga potong siomay dan dua keping batagor. Dijamin kenyang, karena ukuran masing-masing lumayan besar, tidak sekecil siomay yang suka dijajakan naik sepeda.


Dulu pedagang siomay bernama Andri, namun dua tahun belakangan sampai hari ini ia digantikan oleh kakaknya yang saya tidak tahu namanya. Katanya, Andri membuka tenda siomay lain di daerah Cilodong, semacam ekspansi bisnis kecil-kecilan. Sekalipun berganti tangan dan kepribadian, tidak ada perubahan dalam segi rasa dan penyajian, mungkin masing-masing sudah khatam menggeluti resep keluarga.


Tenda siomay ini semakin ramai saat memasuki jam istirahat makan siang. Mayoritas pelanggannya adalah pegawai LIPI maupun para pegawai sub-lembaganya. Tidak ada salahnya teman-teman mampir ke sini, icip-icip siomay di bawah pohon rindang, bersama-sama para pegawai LIPI. Dengan sering makan semeja bersama mereka, barangkali kita bisa ketularan pintar.[]

Skor Siomay LIPI Cibinong :
Rasa : 8,5
Tempat : 7
Pelayanan : 8
Harga : 9
Instagramable : 8

06 May 2015

Sadisnya Mafia Nasi Goreng

2 comments :

Sudah lama saya penasaran sama nasi goreng satu ini. Nasi goreng mafia namanya, merupakan nasi goreng yang sudah tak asing saya dengar di Bandung, sebab teman-teman semasa sekolah sering check in di kedai nasi goreng unik ini yang berada di kawasan Setiabudhi. Saya senang sekali ketika akhir tahun lalu Nasi Goreng Mafia membuka cabang di Bogor, tepatnya di kawasan Ruko VIP daerah Bantarjati.

Sepulang cuci mata dari Botani Square Bogor Kota, saya mampir dulu ke sini karena dari siang belum makan nasi. Dan hampir saya lupa, kemudian pasrah pas inget menu nasi goreng di Mafia pake sistem level. Intinya, pedes! Karena tengsin kalau pesan level nol, saya memesan level 2 plus toping telur mata sapi, kemudian berdoa semoga maag tidak kambuh.


Ada beberapa varian menu dengan nama unik yang relevan sesuai konsepnya, seperti God Father, Bandit, Preman, Gangster, maupun Badboyz, Yakuza. Yang berbau mafia-mafiaan gitu deh. Saya memilih Preman, nasi goreng yang diracik dengan rempah kencur dan kangkung. Membaca nama rempah satu ini, saya jadi ingat dulu Ibu saya kadang suka menambahkan kencur kalo bikin nasi goreng pagi-pagi, dan rasanya memang khas. Nah, mari kita bandingkan dengan racikan koki Mafia.


Preman pun terhidang di meja, saya segera menyantapnya. Suapan pertama, hangat. Suapan kedua, ketiga dan seterusnya, mulut serasa dibakar. Pemadam kebakaran! Ah, untung ada teteh teh manis.


Saya sempat rehat dulu guna mengembalikan temperatur di mulut kembali ke ambang normal. Seruput es teh manis. Santap lagi. Hangat lagi. Dan Kebakaran lagi. Ah, langsung sikat saja tanpa henti sampai habis.

Rasa rempahnya menggigit di lidah, bikin saya pengin nyuap lagi dan lagi, padahal pedesnya neraka untuk level 2 saja. Ada rasa unik yang belum pernah saya temukan dari nasi goreng di tempat lain, bukan hanya kencur, namun barangkali ada rempah rahasia lain yang bercampur sempurna dengan nasinya. Hmm, ke sini sih lebih seru sama temen-temen, jadi bisa jail bisikin ke kokinya supaya yang gak suka pedes dikasih level 5 ahahaha.



Lokasi Nasi Goreng Mafia cabang Bogor ini memang tidak terlalu besar, seukuran lokal ruko standar. Dihiasi interior sederhana dan open kitchen sebagimana nasi goreng pinggir jalan. Kabarnya kalau malam apa lagi malam Minggu, kursi-kursinya penuh mayoritas sama anak muda. Kebetulan saja kemarin sore datangnya, jadi cuma saya tamu yang datang untuk disandera Mafia.

Keunggulan Nasgor Mafia adalah rasanya khas dengan aroma rempah-rempah yang dominan, penyajian cepat serta pelayanannya ramah banget. Sedangkan minusnya, nasinya kebagusan, terlalu pulen, ada segelintir orang yang lebih suka penggunaan nasi pera dalam hal nasi goreng. Kemudian harganya kalau bisa diturunin seribu-dua ribu, pasti kedainya tambah ramai dan cepet balik modal. Jadi Nasgor Mafia bisa buka cabang baru lebih banyak (modus banget).[]

Skor Nasi Goreng Mafia Cabang Bogor :
Rasa : 8
Tempat : 8
Pelayanan : 7
Harga : 7
Instagramable : 7