30 June 2015

Canggih itu Nomor Sekian

2 comments :

Saya mengenal dunia instrumentasi seperti mengenal pacar. Empat tahun belajar instrument secara formal—anggap saja PDKT—dan lebih dari satu tahun langsung terjun di dunia industri sebagai teknisi instrument. Perihal skill, jauh dari kata jago, sebab sampai sekarang kalau colok-cabut kabel ke stop kontak, alih-alih keren like a pro, gestur jemari lentik saya lebih mirip ibu-ibu yang takut banget kesetrum. Tetapi setidaknya jika ada orang teknik yang bertanya tentang instrument kepada saya, saya takkan mengajaknya membincang tentang gitar, angklung, sasando rote.

Industri minuman, kertas, dan sekarang semen. Di tiga tempat itu ada instrumennya. Di industri minuman terdapat pengendali temperatur dan tekanan dalam bejana tekan, misal. Instrumentasi yang menonjol pada industri kertas adalah katup-katup mulai dari solenoid valve hingga control valve berbagai tipe dan ukuran, kemudian yang paling khas dari pabrik kertas adalah consistency transmitter. Sedangkan industri semen, nah ini dia yang sampai sekarang saya gak mudeng, masih agak aneh sama instrumentasi di ranah industri semen.

Instrumentasi umumnya lebih familiar diterapkan pada fluida liquid dan gas, bukan solid dengan gas apalagi solid dengan solid. Setidaknya penerapan empat parameter sakti (flow, level, temperatur, pressure) cukup mudah dan akrab ditangani oleh perangkat instrument yang banyak tersedia dalam berbagai brand, tinggal pandai-pandainya saja merayu orang accounting supaya mau pake thrusted brand, bukan merek abal-abal yang gampang rusak itu. Tapi di industri semen, in my opinion, instrumentasi digunakan ala kadarnya. Kasarnya, di seksi-seksi tertentu (kecuali seksi kritis semacam kiln di mana pembacaan temperatur secara real time dan gas analyzer wajib hukumnya), instrumentasi sebatas pelengkap, bukan jantung kehidupan pabrik sebagaimana perusahaan manufaktur atau industri proses berbasis liquid and gas.

Menurut pemikiran lugu saya, peran instrumentasi bisa dianggap vital ketika downtime departemen instrument (biasanya digabung dengan elektrik) paling besar dibanding departemen lain termasuk mekanik. Proses produksi bisa begitu saja terhenti gara-gara alat instrumentasi yang gak waras yang biang keroknya sebetulnya sepele, misal operator terlalu bergegas menaikkan bukaan katup yang mengalirkan gas panas. Demi keamanan mesin supaya menghindari breakdown secara mekanik yang serius, bukankah alat instrument di sana berperan? Biasanya, di sektor migas yang regulasi safety kendali mesinnya ketat, peran instrumentasi sungguh vital, cenderung dianakemaskan. Sementara di sektor lain, saban hari sering jadi sasaran empuk orang produksi yang maunya operasional jalan terus sehingga instrument dept. selalu meraih peringkat tertinggi dalam skor downtime.

Di industri semen sendiri, instrumentasi cenderung adem ayem. Tidak terlalu banyak interlock yang membuat jantung para teknisi berdebar di ruangan stand-by. SP fan, iya memang sangat kritikal, tapi bukankah itu masuk ke tanggung jawab elektrik (arus kuat), dengan asumsi fuse di panel DCS terpasang apik dan berfungsi semua? Weighing feeder pun demikian, selama kalibrasi dilakukan secara rutin, tepat, dan konsisten, maka pihak produksi tidak bisa menyalahkan kualitas yang melenceng dari standar baku yang telah ditetapkan kepada orang instrument. Karena bisa saja beltnya sobek pinggirannya (ini salah mekanik), atau memang kualitas bahan baku sedang jelek pada hari itu (ini harus diakali produksi dan QC), selama program PLC gak ada yang ngotak-atik dan load cell terkalibrasi rutin.

Selama temperatur ruang panel dan workstation senantiasa terjaga, kemudian program DCS dan PLC atau PCS tidak ada yang ngobrak-ngabrik, bisa dipastikan teknisi-teknisi instrument bisa duduk manis sambil main COC di ruangan. Seraya sesekali ngobrolin gaji yang segitu-gitu aja, atau saling berbagi info lowongan di migas.

Sementara di industri minuman (manufaktur), orang elektrik (anggap saja sama dengan instrument karena di sana elektrik ngurus PLC dan sensor-sensor juga, instrument cuma anak departemen) jungkir balik benerin sensor yang ketabrak pallet, kalibrasi flow transmitter yang ngaco, dan sering banget ngotak-atik program PLC Simatic S5 yang GUI-nya retro itu hingga Simatic S7-300 dan 400. Di industri proses perilaku demikian adalah hal yang mendekati haram dilakukan karena bisa mengganggu kualitas produk hingga rentan andai tak sengaja mereset program DCS. Padahal toh PLC S7 pun tidak terlalu murah sepertinya untuk diotak-atik atau main jumper-jumper sama teknisi.

Adapun di pabrik semen yang setiap jamnya memutar keuntungan masif dan bermain dalam proyek-proyek strategis di negara kita, masih digunakan kontroler sederhana bermerek Honeywell. Itu, yang displaynya masih seven segmen, layaknya counter-down lampu merah perempatan dan jika dilihat tampak belakang lebih mirip radio.

Dulu semasa STM kami sekelas tak pernah selesai mendebatkan mana yang lebih bagus antara PLC, SCADA, dan DCS, mana yang lebih canggih dan high tech di antara mereka? Eh, begitu kerja, ternyata “kontroler eceran” masih dipake, bahkan kontroler analog pun ada yang masih berfungsi meski kaca mikanya pecah! Mereka punya solusi yang ampuh lagi murah: kanibal kontroller eceran dan dikomunikasikan dengan PLC atau SCADA. Fenomena yang mustahil kami bayangkan terjadi ketika masih berdebat canggih-canggihan di sekolah dulu, dengan pikiran masing-masing yang lugu.

Saya baru sadar, perusahaan tidak butuh mesin beserta seperangkat sistem kontrol yang canggih. Mereka cuma butuh alat yang durable dan… yang terpenting adalah costnya rendah alias murah. Kalo bisa initial cost dan operational cost-nya sama-sama murah! Ya iyalah! Kalo selalu memperbaharui alat yang canggih dan paling mutakhir mana bisa ngegaji kalian dan ngasih THR berlipat-lipat gaji, mungkin gitu kata mereka, dan karyawan pun cuma manggut-manggut sambil lanjut menservis kontroler dengan jarum merah dan hitam di meja workshop.

Di ranah industri, toh improvement pun harus ada manfaatnya. Sekali lagi, manfaat, tentu saja dalam bentuk efisiensi, penghematan, istilah kasarnya ujung-ujungnya duit. Gak mungkin iseng improvement penggantian damper cyclone dengan positioner control valve. Kemahalan dan pasti gampang rusak! Atau modifikasi rapping system di EP berdasarkan besar miliampere, bukan sekadar interval waktu. Apaan tuh? Helooo, sekarang udah 2015 keleees. EP kan kalah efisien sama bag filter? Gak produktif banget (baca: gak ada duitnya).

Untung aja saya gak kuliah instrument. Jika iya, paling banter topik skripsinya tentang kalibrasi gas analyzer, kalibrasi weighing feeder, atau yang agak nehnik barangkali evaluasi konversi sistem kontrol dari DCS ABB ke PLC/PCS Siemens Cemat. Sementara pabrik lebih butuh penelitian yang pasti-pasti aja, yang kasat di depan mata semacam kebocoran dan emisi berlebih. Sistem kontrol yang canggih mah nomor sekian. Yang penting operasional lancar, Cung![]

28 June 2015

Super Cadangan

No comments :

Manakala Beckham dan Giggs nyaris frustasi sebab bertubi-tubi umpan dari kaki keduanya dengan mudah dimentahkan Lothar Matthäus dan kawan-kawan, ternyata Manchester United cukup membutuhkan Ole Gunnar Solskjaer untuk bisa mengangkat trofi Liga Champions kedua kalinya pada 1999 setelah lama berpuasa sejak George Best mempersembahkan trofi perdana pada 1968. Di dunia ini, kadang pemain cadangan yang mengubah sejarah. Namun sekali lagi kadang, tak sering.

Supersub
, demikian media kerap menjuluki pemain macam demikian. Biasanya, bangku dingin cadangan selalu dihangati oleh mereka. Mereka baru menginjak rumput lapangan ketika stamina dan mental pemain inti sudah centang-perenang. Cukup bermain 10 menit lebih sedikit oleh injury time sudahlah hebat dan membuat mereka bersyukur bisa merumput malam itu untuk sedikit menambah jam terbang sebelum pindah ke klub liga lain yang levelnya sedikit lebih rendah.


Jika permainan ia tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil pertandingan, itu tak mengapa sebab memang ia sekadar cadangan. Jika ia mencetak gol atau bahkan membalikkan skor sebagai kemenangan, mungkin itu adalah keajaiban. The Miracles of Supersub. Super Cadangan yang bertaji. Namun sayang sekali, biasanya sampai akhir kariernya, pemain tersebut tetaplah cadangan meskipun selama di sana sudah berkorban super ekstra serta mental yang super. Fenomena demikian sahih dibuktikan oleh Solskjaer di Manchester United, hingga julukan Baby Face Assasin melekat pada dirinya.

*

Ngomong-ngomong cadangan, saya jadi ingat empat tahun lalu. Waktu itu saya diundang untuk membubuhkan tanda tangan kontrak ihwal beasiswa pendidikan, bersama empat teman lain. Sepulang dari sana, saya menanyakan ke mana gerangan belasan calon mahasiswa lain, apakah memang dipanggil bertahap seperti ini, ataukah bagaimana?

“Yang lain udah dipanggil beberapa minggu lalu.”

“Iya, kita cuma cadangan. Katanya dari 30 orang ada hampir 8 orang yang mengundurkan diri. Kitalah yang menggantikan mereka yang ragu-ragu itu. Sedih ya kita? Cadangan doang...”

Saya sempat membesarkan hati empat orang teman itu (dan tentu saja membesarkan hati diri sendiri), mengatakan bahwa mungkin memang pihak perusahaan bermaksud memanggil secara bertahap. Tapi akhirnya saya terdiam tersadar, mungkin memang kami hanya pengganti calon mahasiswa yang ragu-ragu banyak pilihan sebab biasanya orang pandai punya banyak pilihan. Dalam hati saya terus mengupahi, setidaknya kami bukan tergolong orang seperti mereka, yang kumeok samemeh dipacok. Kalah sebelum bertanding.

Ajaibnya, dua-tiga hingga empat tahun kemudian, satu di antara pemain cadangan itu adalah langganan peraih IP/IPK tertinggi di kelas. Bukan hanya langganan, selalu sepertinya. Satu orang lain daya analisisnya sangat kuat dan mendalam, serta kalimat yang meruntut dari mulutnya sedemikian terstruktur dan sistematis. Satu orang lain sangat piawai dalam berpresentasi. Satu orang lain kesungguhan dan komitmennya tingkat dewa. Saya sendiri, hmm, yah mungkin cuma saya yang benar-benar pantas tersebut sebagai cadangan, selamanya.

Menjelang semester akhir, di mana segenap mahasiswa semestinya sudah menerapkan serta merelevansi teori yang melekat dalam otak kiri terhadap realita di industri sesungguhnya, saya masih saja galau. Pikiran saya masih tersekat-sekat antara menekuni hobi ataukah memaksakan diri mempelajari hal-hal yang sebenarnya kepikiran pun enggak, apalagi sempat dicita-citakan. Saya ketemu orang-orang baru dari bidang yang jauh dari disiplin ilmu saya, dan dengan lugu saya kepincut untuk ikut-ikutan menggandrungi, dan biasanya berakhir setelah saya merasa putus asa dan sadar bahwa semua bidang itu tak ada yang mudah. Demikian, saya tak pernah fokus untuk mempelajari apa yang seharusnya yang menjadi tugas utama saya: kuliah.

Praktik Kerja Lapangan memang sempat menyentil sanubari dan akal sehat nan realistis saya beberapa bulan silam. Namun layaknya sambal, sengatan itu timbul hanya sesaat, sesudahnya saya kembali melupakan semua hal-hal yang penting tersebut. Sengatan sambal itu kembali kemarin dan hingga detik ini pedasnya masih kentara setelah takdir membawa saya melakukan penelitian ke cabang perusahaan lain yang cukup jauh dari hingar bingar kota besar, tempat yang sudah sangat berhasil mengubah fokus saya dari bidang keilmuan yang semestinya saya tekuni ke bidang lain yang tidak penting.

Suasana di tempat baru benar-benar membuka pikiran saya, dan mudah-mudahan berhasil membuat saya tobat kembali ke track yang masuk akal.

Saya hanya bersama dua teman di sini. Laki-laki semua. Dulu, biasanya jika ada tugas kuliah berkelompok, perempuanlah yang dominan berperan. Laki-laki cukup jadi tukang beli gorengan, nasi lengko, sama pop ice saja. Tapi di sini, saya langsung berhadapan dengan Kepala Departemen yang bertindak sebagai penanggungjawab penelitian kami bertiga. Sementara otak saya kosong, menghadang mulut saya sehingga kata-kata yang keluar sungguh gak mutu. Nyaris tidak ada yang melekat selama empat tahun kuliah. Pada momen itu saya merasa jadi orang goblok sedunia. Entahlah dua teman saya di samping.

Sejak itu saya menyadari bahwa saya memang cadangan. Yang menggantungkan hidup kepada pemain-pemain inti atau belas kasih pelatih. Jika pemain inti sudah bermain cemerlang kemudian semakin cerlang, ya sudah saya tidak bermain. Jika kebetulan pemain inti cedera, saya bermain dengan kinerja seadanya. Penuh leha-leha. Seakan hidup segan mati tak mau.

Beberapa hari ini saya kemudian membaca kembali silinda-silinda kuliah tiap semester, dan brengseknya dari kesemua materi kuliah yang pernah saya terima sarat akan pengetahuan dan ilmu terapan sedalam-dalamnya. Dan sialnya yang kerap dibicarakan Kepala Departemen termasuk engineer-engineernya pun ada terselip di sana, dijelaskan secara mendetail pula. Ke mana aja sih otak saya empat tahun ini? Efektif sekali, ya, sangat efektif karena jarang dipakai sama sekali.

Kemudian saya unduh literatur dan jurnal-jurnal yang berhubungan dengan topik skripsi saya. Bergiga-giga materi yang dulu sekadar dicopy-paste, penuh sarang laba-laba, tidak pernah dibaca sama sekali kini saya baca, dan ternyata butuh waktu yang lama untuk memahaminya. Kenapa tidak belajar dari dulu sih? Andai saja dulu… ah dasar manusia. Di sela waktu luang di sini yang membosankan karena tidak ada televisi dan rumput halaman yang perlu dipangkas, saya sedikit-sedikit belajar simulasi CFD dari tutorial youtube, meskipun dengan memaksakan spesifikasi laptop abal-abal, tak apa, cukup prinsip dasarnya saja, biarlah untuk belajar lebih advancenya nanti setelah saya mampu beli laptop Alienware.


Apakah pemain cadangan memang baru niat berkontribusi dan mengerahkan segenap kemampuannya ketika sudah mepet deadline? Menjelang jurang pertaruhan nasib tim maupun nasib masa depan dirinya? Bila demikian, pantas saja 16 tahun lalu Ole Gunnar Solskjaer mencetak gol pada menit 89. Sementara, pantaskah saya berharap seperti kemujuran Solskjaer? The Baby Face Assasin tidak mudah putus asa, ia adalah pekerja keras dan tak segan berkorban kendati ia cadangan sepanjang kariernya dan tidak kepincut pindah ke klub lain. Jika ingin menyamai Solskjaer, sepertinya kerja keras dan pengorbanan yang terbengkalai pada masa lalu harus saya rapel tiga bulan ini. (Im)possible? Tidak ada yang tidak mungkin. Mungkin.[]

21 June 2015

Postingan Ke-200: Ngeblog dari Cirebon

2 comments :
Seminggu sudah saya meninggalkan kota Bogor tercinta. Kangen doclang. Kangen mi glosor. Kangen temen-temen di sana. Kangen hujan-hujanan sama pacar malem-malem.

Ceritanya begini. Saya kebetulan ditugaskan menggarap skripsi di pabrik cabang Cirebon sampai 30 September mendatang. Lokasi tepatnya adalah Palimanan. Lebih tepatnya Gempol. Entah apa pertimbangan mereka mengirim kami bertiga ke sini. Apa pun alasannya, saya legowo saja, barangkali supaya saya nyicipin lagi hidup mandiri di kosan, bukan sekadar sendirian di rumah orangtua.

Ngomong-ngomong tentang Cirebon.Sebelum saya ke sini, saya dengar banyak orang yang bilang Cirebon itu panas, gersang, sepi dan lain-lain. Begitu tiba di sini, pada Minggu sore pekan lalu, udaranya bersih, begitupun trotoar dan jalanannya. Jalan rayanya lengang banget. Langit biru bersih dengan sedikit awan. Hujan jarang turun, nyaris belum pernah selama seminggu saya tinggal di sini.

Memang, satu setengah jam ke arah barat, memasuki Palimanan kemudian Desa Gempol, daerah di mana pabrik semen yang saya tuju berada, suasananya agak berbeda dengan di kota. Jauh lebih sepi dan gersang. Namun dibandingkan dengan Citeureup sih jauh. Pepohonan besar masih mendominasi kiri kanan jalan. Gang permukiman masih masuk truk kecil ke dalam, setiap rumah masih tersisa halaman, yang ditanami pohon mangga yang buahnya baru pentil-pentil tapi banyak. Katanya bibit Indramayu. Di belakang kampung terhampar luas pesawahan yang di atasnya melintas jalan tol Palimanan.

Secara keseluruhan, daerah Gempol masih asri. Mungkin karena di sini cuma ada dua plant pabrik, maka emisi gas buang tidak terlalu ngefek. Selain itu jarak kedua plant pun cukup jauh dengan permukiman penduduk. Jika boleh berlebay-lebay, luas dua plant di sini kurang lebih sama dengan luas sembilan plant di Citeureup. Well, silakan bayangkan perbedaan emisi debunya, jelas jauh berbeda.

Oh ya. Sebagian besar penduduk sekitar hanya tahu nama pabrik semen Gempol, atau bahkan pabrik semen saja. Tidak tahu-menahu brand semen dimaksud.

Kendala di sini adalah warung makan dan minimarket. Kemarin-kemarin saya sering menyindir secara satir Alfamart dan Indomaret yang membeludak di Bogor. Akan tetapi di sini, di Gempol, saya malah kangen sama keduanya. Untuk menuju minimarket kembar tersebut, kami mesti jalan kaki sekitar 1-2 kilometer. Kalau mau naik angkot, sayang ongkos. Sedangkan motor masih terparkir di Bogor, belum diboyong  ke sini (atau mungkin tidak akan dibawa ke sini). Jadilah saya mengakrabkan diri lagi dengan warung kelontong jaman dulu serta warung nasi yang saban saat dikerubuti kontraktor dan sopir truk Pantura. Hanya dua warung itu penolong di kala perut lapar maupun pencukup kebutuhan hidup lain kami di sini.

Terlebih bulan puasa seperti sekarang. Bisa sahur dengan roti seribuan pun sudah alhamdulillah, karena tidak ada warung yang buka. Magic com adalah investasi paling hip jika ingin bertahan hidup di sini. Karena pada hari kerja, mulai pagi hingga sore kami harus muter-muter pabrik, memahami dan mendalami karakteristik dua plant semen Gempol. Alhasil kemarin kami naik turun tangga dan inspeksi dua pabrik seharian sekadar dengan tenaga sahur wafer nabati. Gapapalah biar greget.

Ah, jadi pengen mi glosor sama kroket bumbu kacang nih, hiks... []

07 June 2015

Mampir ke Mie Apollo Jambu Dua

4 comments :

Saat ini di Bogor banyak menjamur kedai-kedai mie ayam, mie bangka, atau ragam istilah lain namun memiliki konsep inti yang sama-sama sederhana: mie yang dilengkapi ayam berbumbu, sawi, dan taburan daun bawang atau seledri.
Di Bogor sendiri terdapat kedai mie bangka yang terkenal sejak lama. Mie Apollo namanya. Pertama kali berdiri di Pasar Anyar, namun sampai sekarang sudah membuka beberapa cabang, salah satunya di foodcourt lantai dasar Plaza Jambu Dua. Di cabang inilah saya pertama kali mengenal Mie Apollo ketika bersama orangtua berkunjung ke rumah kakak di Jalan Ahmad Yani, dulu. Biasanya pada sore hari, kakak saya mengajak kami ke Jambu Dua, bukan untuk beli hape, melainkan ngantre beli mie ayam.

Mengantre? Ya, dulu kedai itu memang selalu ramai oleh pengunjung tua maupun muda. Mungkin karena belum banyak pusat perbelanjaan pada masa itu. Botani Square belum ada, adapun Plaza Pangrango sering kebakaran, jadi Jambu Dua adalah tempat yang lumayan strategis untuk menghabiskan akhir pekan bagi sebagian besar masyarakat Bogor, termasuk anak muda saat itu. Karena selain ratusan gerai ponsel, di Jambu Dua pun terdapat Ramayana, aneka macam restoran Fastfood, salon, dan gerai-gerai lain. Jambu Dua adalah one stop shopping, pada masanya. Termasuk Mie Apollo yang cukup kuat bertahan di tengah persaingan usaha kuliner yang kian greget di Bogor.

Beberapa hari lalu saya ke sana. Tidak terlampau ramai seperti dulu, namun tetap ada saja yang bergantian berkunjung ke kedai itu. Saya memesan mie ayamnya, minumnya cukup teh botol karena saya rasa tidak ada minuman yang sangat spesial di sini. Metode pemesanan di Mie Apollo masih mengusung cara jadul; pelayan meneriakkan kode atau singkatan menu ke koki atau petugas racik. Misalnya, kode menu mie ayam adalah nomor 1. Teh botol disingkat tehbot. Jadi setelah saya memesan, pelayan langsung berteriak: "Satu plus tehbot." Begitupun dengan kwetiau atau nasi tim, disebutkan kode berupa nomor maupun singkatan. Kurang lebih seperti itu.


Pesanan datang dengan cepat dan segera saya sikat. Emm.. porsinya tetap banyak, rasanya masih seperti dulu. Mie Apollo mempunyai tekstur yang khas, lembut dan tidak terlalu kenyal. Mie ini mempunyai keunikan yang membedakan dengan kedai mie bangka lain. Baksonya pun empuk, terasa daging asli bukan sekadar lemak. Di dalam kuah bakso terdapat pula irisan sawi asin dan tahu.

Oh ya. Jika di tempat lain mie ayam mula-mula disajikan polos dengan racikan bumbu tertentu, di kedai Mie Apollo mie yang tersaji sudah diaduk pula dengan kecap oleh kokinya, kemudian mie ditabur suwiran ayam dan seledri. Di Bandung, mie manis model demikian dikenal sebagai mie yamin. Jadi mie yang terhidang sudah manis secara default (emangnya pengaturan hape), kita tidak perlu menambahkan kecap manis lagi, kecuali jika teman-teman menyukai makanan yang super manis dan super pedas seperti saya, tambah lagi saja dengan sambal dan kecap banyak-banyak.


Meskipun sudah punya nama dan sejarah yang cukup panjang, harga Mie Apollo tetap bersaing dengan kedai mie bangka lain. Untuk mie ayam plus teh botol, di depan kasir saya cukup merogoh kocek 20 ribu.

Sepulang berburu smartphone baru di Jambu Dua, tak ada salahnya teman-teman mampir sejenak ke Mie Apollo di area foodcourt lantai bawah. Pelayan serta pemiliknya melayani kita dengan ramah, rasa mie atau menu-menu lain tetap terjaga sedari dulu, tidak berubah. Dan semoga popularitas Plaza Jambu Dua tidak lekas tergusur sia-sia oleh mal-mal lain yang lebih kekinian.[]

Skor Mie Apollo Cabang Jambu Dua :
Rasa : 9
Tempat : 7,5
Pelayanan : 8
Harga : 8
Instagramable : 8

02 June 2015

Kakek Marie

2 comments :

Pernah penasaran gak sih, dari mana asal-usul nama Marie pada kue Marie? Siapa sih Marie?

Gara-gara Pak Irvan Karta, saya jadi diingatkan kembali tentang kue Marie, sebangun tidur tadi langsung beli ke minimarket. Entah gimana sejarah tepatnya kenapa kue Marie bisa sampai ke Indonesia. Besar kemungkinan berkat priayi-priayi yang disekolahin ke Belanda, dan kalau pulang kampung menenteng oleh-oleh kue Marie. Maklum, kebiasaan orang Indonesia kalau pulang dari bepergian suka bawa oleh-oleh buat keluarga, kerabat, sahabat. Dipalakin oleh-oleh lebih tepatnya.

Nama Marie berawal dari peringatan pernikahan Duke of Edinburgh dengan Grand Duchess Maria of Austria. Yang pernah baca Three Musketeers pasti tahu. Jadi kue Marie terlahir dari pernikahannya londo Inggris, Maria, kemudian disesuaikan dengan dialek Inggris menjadi Marie. Mungkin bakal lain halnya andai pernikahan itu terjadi di daerah Priangan. Jadinya kue Nyai. Atau kue Ceu Popong.

Semasa kecil, belum sekolah waktu itu, saya sudah mengenal kue Marie. Selepas azan subuh, sementara Mamah masih tidur dan Bapak baru selesai mandi kemudian menyeduh kopi, kala itu saya biasa menyeberang ke rumah Kakek (ayahnya Bapak) yang letaknya tepat di samping rumah saya. Duduk di jojodog (bangku pendek) menemani Nenek yang sedang menanak nasi, menunggu Kakek pulang dari masjid.

Setibanya Kakek, sesuai kebiasaannya berpuluh tahun, sudah mesti Nenek menghidangkan segelas susu untuk menemani beliau menonton televisi. Dan karena saban harinya saya merecoki keromantisan mereka, akhirnya saya pun dibikinin susu dalam gelas kecil. Selain susu, satu item yang selalu hadir di depan televisi adalah kue Marie! Kue londo Inggris! Layaknya keluarga Dodit, keluarga kami pun memegang erat budaya Eropa.


Kue gepeng legendaris itu kami cicipi bersama-sama setiap subuh. Merek kue yang biasa Kakek beli adalah Marie Tunggal yang punya tekstur agak keras (sehingga tidak mudah hancur saat dicelup) dibanding Marie Roma yang renyah (baca: gampang bubuk) ataupun Regal yang kerasa banget susunya tapi kerasa juga mahalnya. Sempat pula beliau beli merek Regal, legenda Marie Indonesia itu, namun rupanya lidah—dan mungkin pula dompet—Kakek lebih condong pada Marie Tunggal. Merek Marie yang pabriknya berada tidak terlalu jauh dari rumah, Jl. Jenderal Sudirman, perbatasan antara Kota Bandung dan Cimahi.

Kakek punya kebiasaan yang unik dalam memperlakukan kue Marie, yang kemudian saya tiru dan tunaikan sampai sekarang. Marie dicelupkan separuh ke permukaan susu, sekejap saja, kemudian beliau memamahnya segera. Pertama kali melihat, saya spontan meniru beliau, tapi rupanya saya terlalu lama mencelupnya, sehingga kue Marie keburu lumer dan terpisah dari bagian lain yang tidak tercelup susu. Alhasil separuh kue Marie itu pun kembali berbaur dengan nenek moyangnya setelah lama dipisahkan tuntutan industri: susu.


Seiring waktu, jam terbang saya dengan kue Marie semakin tinggi, keahlian mencelupkannya ke dalam susu kian terasah. Kadang, sepupu saya yang tinggal serumah dengan Kakek ikutan gabung bersama kami penganut sekte kue Marie dicelupin ke susu. Namun subuh demi subuh saya lebih sering menikmati segelas susu dan kue Marie bertiga saja dengan Kakek dan Nenek, sambil menonton Hikmah Fajar RCTI.

Beberapa tahun kemudian, semenjak mengenyam sekolah TK, entah kenapa saya tiba-tiba absen kemudian resign dalam pertemuan sekte kue Marie dicelupin ke susu. Mungkin lantaran mulai timbul perasaan malu karena selama ini saya telah banyak menggerogoti stok kue Marie Tunggal beliau.


Sesekali, kalau kangen momen waktu itu, saya suka menyeduh susu sendiri di rumah kemudian mencelupkan kue Marie ke dalamnya. Sampai sekarang juga. Tapi rasanya beda. Tidak senikmat segelas kecil susu yang diseduh oleh mendiang Nenek, dan selegit kue Marie yang tercelup kepadanya pada subuh hampir dua puluh tahun silam. Bener banget, momen mengesankan takkan pernah berulang, hanya bisa dipanggil dari memori, itu pun kalau kapasitas ingatan saya masih kuat, terutama kuat dalam menahan haru.

Sampai sekarang, Kakek masih ada. Usianya sudah hampir 90. Panjang umur. Mungkin selain berkat rajin minum susu, rahasianya adalah beliau rajin gerak jalan (termasuk gerak jalan ke masjid 5 waktu), senam sehat di halaman kantor kabupaten, dan rajin silaturahmi kepada siapa pun. Usia tidak berbohong, memang. Postur beliau mulai membungkuk, jalannya melamban. Dan semeninggalnya Nenek, beliau tinggal sendirian di rumah kesayangannya yang terletak di samping rumah orangtua saya itu.

Karena usia semakin lanjut, semenjak Desember tahun lalu, Kakek bermukim di rumah anak keduanya yang perempuan—adapun Bapak saya adalah anak pertama. Sesekali saja beliau pulang ke rumah tuanya itu untuk mengecek halaman depan maupun pekarangan belakang yang semakin ramai oleh belukar, yang di sana tersembunyi ular-ular. Atau barangkali bernostalgia di dalam rumah, memungut remah-remah kue Marie masa lalu, semasih ada Nenek yang selalu setia menyeduhkan beliau susu setiap subuh.

Semoga Kakek Marie sehat selalu.[]