28 June 2015

Super Cadangan

No comments :

Manakala Beckham dan Giggs nyaris frustasi sebab bertubi-tubi umpan dari kaki keduanya dengan mudah dimentahkan Lothar Matthäus dan kawan-kawan, ternyata Manchester United cukup membutuhkan Ole Gunnar Solskjaer untuk bisa mengangkat trofi Liga Champions kedua kalinya pada 1999 setelah lama berpuasa sejak George Best mempersembahkan trofi perdana pada 1968. Di dunia ini, kadang pemain cadangan yang mengubah sejarah. Namun sekali lagi kadang, tak sering.

Supersub
, demikian media kerap menjuluki pemain macam demikian. Biasanya, bangku dingin cadangan selalu dihangati oleh mereka. Mereka baru menginjak rumput lapangan ketika stamina dan mental pemain inti sudah centang-perenang. Cukup bermain 10 menit lebih sedikit oleh injury time sudahlah hebat dan membuat mereka bersyukur bisa merumput malam itu untuk sedikit menambah jam terbang sebelum pindah ke klub liga lain yang levelnya sedikit lebih rendah.


Jika permainan ia tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil pertandingan, itu tak mengapa sebab memang ia sekadar cadangan. Jika ia mencetak gol atau bahkan membalikkan skor sebagai kemenangan, mungkin itu adalah keajaiban. The Miracles of Supersub. Super Cadangan yang bertaji. Namun sayang sekali, biasanya sampai akhir kariernya, pemain tersebut tetaplah cadangan meskipun selama di sana sudah berkorban super ekstra serta mental yang super. Fenomena demikian sahih dibuktikan oleh Solskjaer di Manchester United, hingga julukan Baby Face Assasin melekat pada dirinya.

*

Ngomong-ngomong cadangan, saya jadi ingat empat tahun lalu. Waktu itu saya diundang untuk membubuhkan tanda tangan kontrak ihwal beasiswa pendidikan, bersama empat teman lain. Sepulang dari sana, saya menanyakan ke mana gerangan belasan calon mahasiswa lain, apakah memang dipanggil bertahap seperti ini, ataukah bagaimana?

“Yang lain udah dipanggil beberapa minggu lalu.”

“Iya, kita cuma cadangan. Katanya dari 30 orang ada hampir 8 orang yang mengundurkan diri. Kitalah yang menggantikan mereka yang ragu-ragu itu. Sedih ya kita? Cadangan doang...”

Saya sempat membesarkan hati empat orang teman itu (dan tentu saja membesarkan hati diri sendiri), mengatakan bahwa mungkin memang pihak perusahaan bermaksud memanggil secara bertahap. Tapi akhirnya saya terdiam tersadar, mungkin memang kami hanya pengganti calon mahasiswa yang ragu-ragu banyak pilihan sebab biasanya orang pandai punya banyak pilihan. Dalam hati saya terus mengupahi, setidaknya kami bukan tergolong orang seperti mereka, yang kumeok samemeh dipacok. Kalah sebelum bertanding.

Ajaibnya, dua-tiga hingga empat tahun kemudian, satu di antara pemain cadangan itu adalah langganan peraih IP/IPK tertinggi di kelas. Bukan hanya langganan, selalu sepertinya. Satu orang lain daya analisisnya sangat kuat dan mendalam, serta kalimat yang meruntut dari mulutnya sedemikian terstruktur dan sistematis. Satu orang lain sangat piawai dalam berpresentasi. Satu orang lain kesungguhan dan komitmennya tingkat dewa. Saya sendiri, hmm, yah mungkin cuma saya yang benar-benar pantas tersebut sebagai cadangan, selamanya.

Menjelang semester akhir, di mana segenap mahasiswa semestinya sudah menerapkan serta merelevansi teori yang melekat dalam otak kiri terhadap realita di industri sesungguhnya, saya masih saja galau. Pikiran saya masih tersekat-sekat antara menekuni hobi ataukah memaksakan diri mempelajari hal-hal yang sebenarnya kepikiran pun enggak, apalagi sempat dicita-citakan. Saya ketemu orang-orang baru dari bidang yang jauh dari disiplin ilmu saya, dan dengan lugu saya kepincut untuk ikut-ikutan menggandrungi, dan biasanya berakhir setelah saya merasa putus asa dan sadar bahwa semua bidang itu tak ada yang mudah. Demikian, saya tak pernah fokus untuk mempelajari apa yang seharusnya yang menjadi tugas utama saya: kuliah.

Praktik Kerja Lapangan memang sempat menyentil sanubari dan akal sehat nan realistis saya beberapa bulan silam. Namun layaknya sambal, sengatan itu timbul hanya sesaat, sesudahnya saya kembali melupakan semua hal-hal yang penting tersebut. Sengatan sambal itu kembali kemarin dan hingga detik ini pedasnya masih kentara setelah takdir membawa saya melakukan penelitian ke cabang perusahaan lain yang cukup jauh dari hingar bingar kota besar, tempat yang sudah sangat berhasil mengubah fokus saya dari bidang keilmuan yang semestinya saya tekuni ke bidang lain yang tidak penting.

Suasana di tempat baru benar-benar membuka pikiran saya, dan mudah-mudahan berhasil membuat saya tobat kembali ke track yang masuk akal.

Saya hanya bersama dua teman di sini. Laki-laki semua. Dulu, biasanya jika ada tugas kuliah berkelompok, perempuanlah yang dominan berperan. Laki-laki cukup jadi tukang beli gorengan, nasi lengko, sama pop ice saja. Tapi di sini, saya langsung berhadapan dengan Kepala Departemen yang bertindak sebagai penanggungjawab penelitian kami bertiga. Sementara otak saya kosong, menghadang mulut saya sehingga kata-kata yang keluar sungguh gak mutu. Nyaris tidak ada yang melekat selama empat tahun kuliah. Pada momen itu saya merasa jadi orang goblok sedunia. Entahlah dua teman saya di samping.

Sejak itu saya menyadari bahwa saya memang cadangan. Yang menggantungkan hidup kepada pemain-pemain inti atau belas kasih pelatih. Jika pemain inti sudah bermain cemerlang kemudian semakin cerlang, ya sudah saya tidak bermain. Jika kebetulan pemain inti cedera, saya bermain dengan kinerja seadanya. Penuh leha-leha. Seakan hidup segan mati tak mau.

Beberapa hari ini saya kemudian membaca kembali silinda-silinda kuliah tiap semester, dan brengseknya dari kesemua materi kuliah yang pernah saya terima sarat akan pengetahuan dan ilmu terapan sedalam-dalamnya. Dan sialnya yang kerap dibicarakan Kepala Departemen termasuk engineer-engineernya pun ada terselip di sana, dijelaskan secara mendetail pula. Ke mana aja sih otak saya empat tahun ini? Efektif sekali, ya, sangat efektif karena jarang dipakai sama sekali.

Kemudian saya unduh literatur dan jurnal-jurnal yang berhubungan dengan topik skripsi saya. Bergiga-giga materi yang dulu sekadar dicopy-paste, penuh sarang laba-laba, tidak pernah dibaca sama sekali kini saya baca, dan ternyata butuh waktu yang lama untuk memahaminya. Kenapa tidak belajar dari dulu sih? Andai saja dulu… ah dasar manusia. Di sela waktu luang di sini yang membosankan karena tidak ada televisi dan rumput halaman yang perlu dipangkas, saya sedikit-sedikit belajar simulasi CFD dari tutorial youtube, meskipun dengan memaksakan spesifikasi laptop abal-abal, tak apa, cukup prinsip dasarnya saja, biarlah untuk belajar lebih advancenya nanti setelah saya mampu beli laptop Alienware.


Apakah pemain cadangan memang baru niat berkontribusi dan mengerahkan segenap kemampuannya ketika sudah mepet deadline? Menjelang jurang pertaruhan nasib tim maupun nasib masa depan dirinya? Bila demikian, pantas saja 16 tahun lalu Ole Gunnar Solskjaer mencetak gol pada menit 89. Sementara, pantaskah saya berharap seperti kemujuran Solskjaer? The Baby Face Assasin tidak mudah putus asa, ia adalah pekerja keras dan tak segan berkorban kendati ia cadangan sepanjang kariernya dan tidak kepincut pindah ke klub lain. Jika ingin menyamai Solskjaer, sepertinya kerja keras dan pengorbanan yang terbengkalai pada masa lalu harus saya rapel tiga bulan ini. (Im)possible? Tidak ada yang tidak mungkin. Mungkin.[]

No comments :

Post a Comment