30 June 2015

Canggih itu Nomor Sekian

2 comments :

Saya mengenal dunia instrumentasi seperti mengenal pacar. Empat tahun belajar instrument secara formal—anggap saja PDKT—dan lebih dari satu tahun langsung terjun di dunia industri sebagai teknisi instrument. Perihal skill, jauh dari kata jago, sebab sampai sekarang kalau colok-cabut kabel ke stop kontak, alih-alih keren like a pro, gestur jemari lentik saya lebih mirip ibu-ibu yang takut banget kesetrum. Tetapi setidaknya jika ada orang teknik yang bertanya tentang instrument kepada saya, saya takkan mengajaknya membincang tentang gitar, angklung, sasando rote.

Industri minuman, kertas, dan sekarang semen. Di tiga tempat itu ada instrumennya. Di industri minuman terdapat pengendali temperatur dan tekanan dalam bejana tekan, misal. Instrumentasi yang menonjol pada industri kertas adalah katup-katup mulai dari solenoid valve hingga control valve berbagai tipe dan ukuran, kemudian yang paling khas dari pabrik kertas adalah consistency transmitter. Sedangkan industri semen, nah ini dia yang sampai sekarang saya gak mudeng, masih agak aneh sama instrumentasi di ranah industri semen.

Instrumentasi umumnya lebih familiar diterapkan pada fluida liquid dan gas, bukan solid dengan gas apalagi solid dengan solid. Setidaknya penerapan empat parameter sakti (flow, level, temperatur, pressure) cukup mudah dan akrab ditangani oleh perangkat instrument yang banyak tersedia dalam berbagai brand, tinggal pandai-pandainya saja merayu orang accounting supaya mau pake thrusted brand, bukan merek abal-abal yang gampang rusak itu. Tapi di industri semen, in my opinion, instrumentasi digunakan ala kadarnya. Kasarnya, di seksi-seksi tertentu (kecuali seksi kritis semacam kiln di mana pembacaan temperatur secara real time dan gas analyzer wajib hukumnya), instrumentasi sebatas pelengkap, bukan jantung kehidupan pabrik sebagaimana perusahaan manufaktur atau industri proses berbasis liquid and gas.

Menurut pemikiran lugu saya, peran instrumentasi bisa dianggap vital ketika downtime departemen instrument (biasanya digabung dengan elektrik) paling besar dibanding departemen lain termasuk mekanik. Proses produksi bisa begitu saja terhenti gara-gara alat instrumentasi yang gak waras yang biang keroknya sebetulnya sepele, misal operator terlalu bergegas menaikkan bukaan katup yang mengalirkan gas panas. Demi keamanan mesin supaya menghindari breakdown secara mekanik yang serius, bukankah alat instrument di sana berperan? Biasanya, di sektor migas yang regulasi safety kendali mesinnya ketat, peran instrumentasi sungguh vital, cenderung dianakemaskan. Sementara di sektor lain, saban hari sering jadi sasaran empuk orang produksi yang maunya operasional jalan terus sehingga instrument dept. selalu meraih peringkat tertinggi dalam skor downtime.

Di industri semen sendiri, instrumentasi cenderung adem ayem. Tidak terlalu banyak interlock yang membuat jantung para teknisi berdebar di ruangan stand-by. SP fan, iya memang sangat kritikal, tapi bukankah itu masuk ke tanggung jawab elektrik (arus kuat), dengan asumsi fuse di panel DCS terpasang apik dan berfungsi semua? Weighing feeder pun demikian, selama kalibrasi dilakukan secara rutin, tepat, dan konsisten, maka pihak produksi tidak bisa menyalahkan kualitas yang melenceng dari standar baku yang telah ditetapkan kepada orang instrument. Karena bisa saja beltnya sobek pinggirannya (ini salah mekanik), atau memang kualitas bahan baku sedang jelek pada hari itu (ini harus diakali produksi dan QC), selama program PLC gak ada yang ngotak-atik dan load cell terkalibrasi rutin.

Selama temperatur ruang panel dan workstation senantiasa terjaga, kemudian program DCS dan PLC atau PCS tidak ada yang ngobrak-ngabrik, bisa dipastikan teknisi-teknisi instrument bisa duduk manis sambil main COC di ruangan. Seraya sesekali ngobrolin gaji yang segitu-gitu aja, atau saling berbagi info lowongan di migas.

Sementara di industri minuman (manufaktur), orang elektrik (anggap saja sama dengan instrument karena di sana elektrik ngurus PLC dan sensor-sensor juga, instrument cuma anak departemen) jungkir balik benerin sensor yang ketabrak pallet, kalibrasi flow transmitter yang ngaco, dan sering banget ngotak-atik program PLC Simatic S5 yang GUI-nya retro itu hingga Simatic S7-300 dan 400. Di industri proses perilaku demikian adalah hal yang mendekati haram dilakukan karena bisa mengganggu kualitas produk hingga rentan andai tak sengaja mereset program DCS. Padahal toh PLC S7 pun tidak terlalu murah sepertinya untuk diotak-atik atau main jumper-jumper sama teknisi.

Adapun di pabrik semen yang setiap jamnya memutar keuntungan masif dan bermain dalam proyek-proyek strategis di negara kita, masih digunakan kontroler sederhana bermerek Honeywell. Itu, yang displaynya masih seven segmen, layaknya counter-down lampu merah perempatan dan jika dilihat tampak belakang lebih mirip radio.

Dulu semasa STM kami sekelas tak pernah selesai mendebatkan mana yang lebih bagus antara PLC, SCADA, dan DCS, mana yang lebih canggih dan high tech di antara mereka? Eh, begitu kerja, ternyata “kontroler eceran” masih dipake, bahkan kontroler analog pun ada yang masih berfungsi meski kaca mikanya pecah! Mereka punya solusi yang ampuh lagi murah: kanibal kontroller eceran dan dikomunikasikan dengan PLC atau SCADA. Fenomena yang mustahil kami bayangkan terjadi ketika masih berdebat canggih-canggihan di sekolah dulu, dengan pikiran masing-masing yang lugu.

Saya baru sadar, perusahaan tidak butuh mesin beserta seperangkat sistem kontrol yang canggih. Mereka cuma butuh alat yang durable dan… yang terpenting adalah costnya rendah alias murah. Kalo bisa initial cost dan operational cost-nya sama-sama murah! Ya iyalah! Kalo selalu memperbaharui alat yang canggih dan paling mutakhir mana bisa ngegaji kalian dan ngasih THR berlipat-lipat gaji, mungkin gitu kata mereka, dan karyawan pun cuma manggut-manggut sambil lanjut menservis kontroler dengan jarum merah dan hitam di meja workshop.

Di ranah industri, toh improvement pun harus ada manfaatnya. Sekali lagi, manfaat, tentu saja dalam bentuk efisiensi, penghematan, istilah kasarnya ujung-ujungnya duit. Gak mungkin iseng improvement penggantian damper cyclone dengan positioner control valve. Kemahalan dan pasti gampang rusak! Atau modifikasi rapping system di EP berdasarkan besar miliampere, bukan sekadar interval waktu. Apaan tuh? Helooo, sekarang udah 2015 keleees. EP kan kalah efisien sama bag filter? Gak produktif banget (baca: gak ada duitnya).

Untung aja saya gak kuliah instrument. Jika iya, paling banter topik skripsinya tentang kalibrasi gas analyzer, kalibrasi weighing feeder, atau yang agak nehnik barangkali evaluasi konversi sistem kontrol dari DCS ABB ke PLC/PCS Siemens Cemat. Sementara pabrik lebih butuh penelitian yang pasti-pasti aja, yang kasat di depan mata semacam kebocoran dan emisi berlebih. Sistem kontrol yang canggih mah nomor sekian. Yang penting operasional lancar, Cung![]

2 comments :

  1. Yang jelas kalau alat ukurnya rusak, harganya muahal banget. Saya kerja di manufaktur, nanya satu alat ukur temperatur harganya bisa setahun gaji hahaha.

    ngomong2 anak instrumentasi ya? detail banget soal alat ukurnya hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget. harga flow transmitter aja 30 jutaan lah paling murah.

      wih, blog baru ya bayu?

      Delete